Opini : Optimalisasi Funggsi Lembaga Peradilan

Januari 26, 2010

Oleh : Iqbal Istiqlal

(Tulisan ini telah muat di Harian Pagi “Radar Bandung”, pada halaman Opini ; Selasa, 26 Januari 2010)

Mafia hukum adalah virus yang menjalar hampir di sekujur tubuh peradilan negeri tercinta. Cengkramannya dinilai kuat dan melekat sehingga merekayasa bentuk peradilan dan kebenaran. Mafia hukum menyulap yang bengkok menjadi lurus, mendekor berita acara pemeriksaan yang benar menjadi salah sesuai kehendak. Sungguh kejahatan yang mengerikan.

Survei LP3ES, 14-15 November 2009, mengindikasikan, jika tahun 2005 tingkat kepuasan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum mencapai 51 persen, tahun 2009 melorot menjadi 19 persen. Rekaman pembicaraan seorang mafia hukum yang diperdengarkan kepada publik secara terbuka di Mahkamah Konstitusi (MK) adalah bukti kuat yang menunjukkan betapa bobroknya mentalitas aparat penegak hukum. Seorang Anggodo bisa mereka-reka berita acara pemeriksaan agar disesuaikan dengan keinginannya.

Kekecewaan yang demikian hebat terhadap dunia penegakan hukum itulah yang kemudian dapat membangunkan bahasa hati publik serta bisa membebaskan Bibit-Candra dari rekayasa yang dikendalikan seorang mafia hukum yang bernama Anggodo. Bibit dan Candra akhirnya dimenangkan di luar pengadilan. Publik pun mengingatkan Presiden untuk mengambil langkah yang lebih tegas terhadap mafia hukum yang merongrong, terutama pada dua lembaga yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden, yaitu kejaksaan dan kepolisian.

SBY pun tunduk, maka dibentuklah sebuah lembaga ekstra di bawah Presiden yang diberi nama Satuan Petugas Pemberantas Mafia Hukum yang diketuai oleh Kuncoro Mangkusubroto dengan sekertaris Deni Indrayana yang dalam kesehariannya mereka adalah Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) dan Staf Khusus Presiden di bidang hukum. Turut menjadi anggota, Wakil Jakgung Darmono, Ketua PPATK Yunus Husein, Staf Ahli Kapolri Irjen Pol Herman Efendi dan mantan Pelaksana Tugas Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa. Satgas ini adalah yang kesekian kalinya dibentuk pemerintah untuk melawan korupsi dan mafia peradilan.

Kritik untuk Satgas

Dari zaman Orde Baru sampai zaman reformasi telah dibentuk banyak lembaga sejenis dan semuanya gagal. Gagal lantaran campur tangan mafia hukum telah memasuki buku-buku hukum demikian hebatnya. Satgas ini benar secara fungsional, tetapi keliru memilih bentuk. Lembaga-lembaga penegakan hukum ada dan lengkap di Republik Indonesia, tetapi kita selalu tergoda untuk membentuk lembaga baru hanya karena lembaga yang ada tidak fungsional.

Semua itu memperlihatkan sebuah kelemahan yang sangat serius dalam soal fungsionalisasi kelembagaan di negara kita. Ketika polisi dan kejaksaan tidak berfungsi, dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sekarang ketika KPK mulai loyo, dibentuklah lagi Satgas. Sepertinya bangsa ini belum lepas dari kebiasaan dikelola oleh lembaga-lembaga yang begitu banyak, tumpang tindih dan kurang berfungsi serta memakan biaya yang tidak sedikit.

Keterlibatan oknum kejaksaan, kepolisian, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di dalam tubuh Satgas menjadi pertanyaan. Keterlibatan 3 lembaga ini dalam tim membuka peluang kepentingan. Bagaimana memberantas mafia yang mengerogoti kejaksaan dan kepolisian kalau yang mengusut dan yang memeriksa adalah polisi sendiri dan jaksa sendiri. Selain itu, kewenangan eksekusi yang tidak dimiliki Satgas. Kita semua juga tahu, sebuah lembaga yang tidak memiliki kewenagan eksekusi mungkin akan mandul.

Bahasa hati

Tentu bangsa ini merasa dihianati jika pejabat publik, seperti polisi dan jaksa yang semestinya dekat dengan bahasa hati rakyat justru menjauhi publik yang seharusnya dilayaninya. Situasi inilah yang melatarbelakangi terjadinya perlawanan terhadap dua lembaga penegak hukum tersebut.

Meski kepuasan masyarakat terhadap kinerja penegak hukum merosot, tidak berarti upaya menegakkan keadilan terhenti, karena keadilan adalah kebutuhan kemanusian sepanjang masa. Bahasa hati inilah yang merebak keseluruh tanah air serta akan menjadi bom waktu timbulnya ledakan perlawanan rakyat terhadap lemahnya hukum di Indonesia yang dirasa hanya galak kepada kalangan miskin, tidak berani kepada kalangan elite.

Sekarang sudah masanya republik ini membenahi hati aparatnya agar senantiasa terhindar dari kekotoran yang menyebabkan reformasi tertatih-tatih. Jangan sampai saat orang lain berlari kita masih bingung menggunakan celana. Satu pernyataan yang wajib dihindari adalah “rakyat sendiri yang harus turun tangan dan menentukan keputusannya”. Pelajaran penting bagi negeri ini adalah memberikan perlindungan hukum dan keadilan bagi masyarakat secara komprehensif dan merata. Semoga.*** (Iqbal1, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Bdg).


Muqoddimah Alfiyah Ibnu Malik

Januari 16, 2010

بسم الله الرحمن الرحيم

مقدمة

قال محمد هو ابن مالك  #  احمد ربي الله خير مالك

Muhammad anak lelakinya Malik berkata  #  Aku memuji Allah Tuhanku Sebaik-baiknya Raja

مصليا على الرسول المصطفى  #  و ا له المستكملين الشرفا

Dengan membaca sholawat atas Rasul yang Terpilih # dan keluarganya yaitu orang-orang yang sempurna lagi mulia.

واستعين الله في الفية  #  مقاصد النحو بها محوية

Dan aku minta tolong pada Allah didalam menyusun Kitab Alfiyah # yang denganya , maksud-maksud ilmu nahwu telah tercakup.

تفرب الأقصى بلفظ موجز  #  وتبسط البذل بوعد منجز

(Alfiyah) mendekatkan/menjangkau pengertian yang jauh/mendalam dengan lafazh yang singkat # dan meluaskan pemberian/pemahaman yang banyak dengan janji yang kontan (waktu yang cepat)

وتقتضى رضا بغير سخط  #  فائقة ألفية ابن المعطى

Maka ia menuntut keridhoan tanpa kemarahan (ketekunan dan kesabaran dalam mempelajarinya) # Ia telah mencakup Kitab Alfiyah karangan Ibn Mu’thi.

وهو بسبق حائز تفضيلا  #  مستوجب ثنائي الجميلا

Dan sebab lebih dulu sebetulnya beliaulah yang berhaq memperoleh keutamaan # dan  mewajibkan pujian baiku (untuknya).

والله يقضى بهبات وافرة  #  لي وله في درجات الأخرة

Semoga Allah menetapkan pemberian-pemberian yang sempurna # untuku dan untuknya didalam derajat-derajat akhirat.

—————

Ref. :

  • http://umarein.yolasite.com/alfiyah
  • Hasyiyah Al-Alamah Ibnu Hamdun ‘Ala Syarah Al-Makudie Li Alfiyah Ibnu Maalik ; h-8.

Ijtihad Politik Guru Bangsa

Januari 15, 2010

Oleh : Karim Suryadi  (Guru Besar Komunikasi Politik di Universitas Pendidikan Indonesia, Bdg.)

KEPERGIAN mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau akrab dikenal dengan nama Gus Dur telah menyisakan rasa kehilangan yang mendalam bagi warga Nahdliyin dan bangsa Indonesia. Namun demikian, Gus Dur meninggalkan warisan dan keteladanan dalam membangun umat, menata negara-bangsa, dan menawarkan berbagai alternatif solusi atas masalah yang dihadapi bangsa ini.

Keluasan ilmu, komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat –termasuk di dalamnya masyarakat minoritas– dan sensitivitas terhadap budaya, menggenapkan kelebihan Abdurrahman Wahid dari segi nasab. Kelebihan-kelebihan inilah yang membuat cucu Kiai Hasyim Asy’ari ini menjadi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) paling menonjol pada masa ini.

Gus Dur adalah salah seorang tokoh pionir dalam menabur benih-benih demokrasi. Di bawah kepemimpinannya, NU mulai menggarap kekuatan civil society, sebuah kekuatan masyarakat yang semula terpinggirkan, namun kemudian terbukti menjadi kekuatan prodemokrasi yang konstan.

Meski hanya menjadi presiden selama 21 bulan, banyak hal telah dilakukan Gus Dur. Dari perspektif komunikasi politik, tiga hal menjadi warisan fenomenal Gus Dur ketika yang bersangkutan menjadi presiden, yakni bingkai wacana, informalitas komunikasi politik, dan pilihan bahasa politik itu sendiri.

Demokrasi dan penguatan masyarakat sipil menjadi dasar pemerintahan Gus Dur. Hal ini terlihat dari wacana dan langkah-langkah politik yang dilakukannya selama 21 bulan memimpin negara ini.

Ide membangun kemandirian masyarakat sehingga tidak bergantung sepenuhnya kepada negara (otonomi relatif warga negara), menjadi gagasan besar Gus Dur. Gagasan tadi diterjemahkan ke dalam wacana supremasi sipil, kemerdekaan pers dan kebebasan berbicara, pembelaan hak minoritas, penguatan posisi masyarakat di hadapan negara, supremasi hukum, dan deformalisasi Islam.

Selain mengembangkan wacana di atas, Gus Dur pun melakukan “ijtihad” dalam hal hubungan penguasa dan rakyatnya.

Kepala negara yang sebelumnya “sulit disentuh”, dicitrakan sebagai sosok yang terbuka dan dekat dengan rakyat. Hal ini paling tidak terlihat dari tindakannya dengan mengubah citra sakral istana negara. Perubahan citra istana negara menjadi sesuatu yang dekat dengan rakyat itu tidak pernah terjadi sebelumnya, dan nyaris tidak pernah terulang lagi hingga saat ini.

Komunikasi politik pun dibuat menjadi informal. Informalitas komunikasi politik itu ditunjukkan Gus Dur baik dalam penataan konteks maupun pilihan bahasa politik.

Di dalam era pemerintahannya muncul frase yang sangat populer “gitu aja kok repot”. Ungkapan ini digunakan Gus Dur untuk menanggapi berbagai kritik dan sindirian yang ditujukan kepadanya.

Selain frase tadi, guyonan menjadi ciri khas komunikasi politik Abdurrahman Wahid. Guyonan khas ala pesantren, bukan hanya digunakan ketika Gus Dur berbicara dengan pendukung fanatiknya (yang umumnya warga Nahdliyin), tetapi juga ketika berkomunikasi dengan kalangan luas. Beragam anekdotnya terkesan main-main, meski bila dikaji tidak selamanya hanya guyonan. Ketika desakan untuk mundur mulai kencang, Abdurrrahman Wahid menanggapinya dengan santai, “jangankan mundur, wong maju saja saya tidak bisa.”

Di atas segala pilihan bahasa politiknya, Gus Dur lah yang mengangkat istigasah sebagai sikap politik. Sebuah sikap yang merefleksikan keyakinan dalam berpolitik dan kesalehan sekaligus.

Terobosan lainnya yang dilakukan Gus Dur adalah membawa manajemen bergaya pesantren ke lingkungan istana negara. Selain membuka dialog dengan berbagai elemen masyarakat, Gus Dur sering tampil apa adanya. Dia mencitrakan dirinya sebagai prototipe pemimpin bercorak solidarity makers.

Selama masa hidupnya, Gus Dur telah memberi banyak pelajaran. Gus Dur telah berijtihad, dan berusaha keras mewujudkan gagasannya tentang masyarakat yang baik. Kita percaya akan kata-kata Gus Dur bahwa tak mudah mewujudkan kebaikan itu, namun Allah SWT akan memberi pahala yang berlipat.*** (Iqbal1 Inmemoriam Gus Dur ; Ref. Opini HU Pikiran Rakyat, 31/12/2009).


Opini : Menimbang Peran Kyai

Januari 14, 2010

Oleh : Iqbal Istiqlal

(Tulisan ini telah Muat di Harian Pagi “Radar Bandung”, pada halaman Opini, Kolom Gagasan ; Rabu, 13 Januari 2010).

Dinamika, pergumulan dan panggung politik di Indonesia (mayoritas penduduknya beragama Islam), tidak lepas dari peran keterlibatan organisasi-organisasi Islam yang tumbuh di dalamnya. Bila dilihat dari gerakan orientasi garis besarnya, organisasi Islam terbesar di nusantara dipegang oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Kedua organisasi yang berdiri sebelum Indonesia meneguk segarnya kemerdekaan ini telah banyak memberikan kontribusi bagi reformasi sistemik dalam negri yang terjadi dalam beberapa fase semenjak masih berkuasanya negara-negara kolonial, yaitu : pertama, fase sejarah gerakan pembaharuan pemikiran dalam Islam pada awal abad ke-20, kedua, fase sejarah gerakan pembaharuan dalam Islam pada pertengahan abad ke-20, dan ketiga, fase sejarah gerakan pembaharuan dalam Islam menjelang berakhirnya abad ke-20.

Gerakan pembaharuan ini terjadi terutama didasarkan pada satu asumsi bahwa Islam merupakan agama yang memiliki landasan yang tegas dan bersumber dari beberapa isyarat naqliyyah, yang tersurat maupun tersirat terangkum baik dalam firman-firman-Nya maupun yang tertuang dalam sabda-sabda utusan-Nya. Sebab al-Quran dengan sendirinya telah membentuk sebuah konstitusi bangunan yang aktual (Fazlur Rahman, 1987:47).

Bukan hanya sekedar itu saja, keberhasilan peradaban modern yang telah kita rasakan sekarang ini -terlepas dari terjadinya pembelokan etos yang dialami ummat Islam-  tidak lepas dari peran kharismatik para pemuka-pemuka Islam atau lebih akrab dipanggil kyai. Mereka memiliki komitmen memperjuangkan kemaslahatan ummat yang disertai dengan sifat tawakal, wara’, tawadla dan tanpa pamrih. Sepak terjang mereka seolah menebarkan suasana damai dan memberikan pencerahan bagi setiap kendala yang dihadapi negara baik yang menyangkut masalah internal maupun eksternal dengan bertitik tolak pada usaha menjalankan proses mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Lalu mengapa peran seorang kyai cenderung efektif, paling tidak bagi kalangan komunitasnya?. Jawabannya sangat sederhana, mereka merupakan sosok komunikator dengan tingkat kredibilitas kharismatik yang melekat pada eksistensi kehidupannya. Di kalangan ummat wejangannya, seorang kiyai menjadi pusat kepentingan (center of interest), mereka menjadi rujukan pengambil keputusan bukan hanya dalam masalah religius saja tetapi juga sosial, politik, kesehatan, ekonomi dan kebudayaan baik yang mengikat kepentingan individual maupun kolektif.

Selain itu, jika dilihat dari fungsi sosiologisnya, menurt Geertz yang dikutip dan diterjemahkan oleh Asep. S Muhtadi, kyai dapat dilihat sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Mereka menyaring setiap informasi dan budaya yang masuk ke dalam lingkungan kaum santri, menularkan apa yang dianggapnya berguna dan membuang apa yang dianggapnya merusak bagi mereka. Menurut pemimpin pesantren al-Falaahiyyah, Sumedang, KH. Ado Murtado peran kyai sangat kuat dalam melakukan regulasi, seleksi dan filterisasi atas informasi, nilai-nilai dan sikap-sikap positif yang seharusnya dikembangkan oleh masyarakat. Dengan demikian, mereka ikut berperan dalam merumuskan skala prioritas sendiri atas perubahan yang mungkin terjadi dalam masyarakat. Keengganannya terhadap urusan formal kenegaraan, pengaruh mereka juga memberikan kekuasaan moral yang luar biasa, sekaligus mempersembahkan kedudukan kepada mereka sebagai suatu kelompok intelektual yang bermoral. Mereka mempunyai perasaan kemasyarakatan tingkat tinggi dan selalu melandaskan sesuatu melalui kesepakatan.

Akan tetapi sering sekali mereka yang tidak mempunyai pemahaman baik, mengkultuskan kyai sebagai biang feodalisme dalam beragama (religio feodalism). Padahal jika ditelusuri, sejatinya bukan praktik feodalisme yang  diterapkan melainkan pendidikan yang tegak lurus dengan pemahaman-pemahaman hukum Islam. Sebagai contoh ketika seorang santri hendak bersalaman dengan gurunya yang juga seorang kyai, mereka senantiasa mencium tangan gurunya. Pada saat yang bersamaan, kyai itu pun tidak boleh membiarkan orang lain mencium tangannya jika sifat takabur akan tumbuh di dalam hatinya.

Salah satu bukti konkrit mengenai kesuksesan keikutsertaan kyai dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara adalah ketika KH. Abdurrahman Wahid (alm) terpilih sebagai presiden RI. Bahkan proses terpilihnya beliau sebagai presiden adalah proses Pemilu yang paling dermokratis sepanjang sejarah kekuasaan di Indonesia. Tidak sampai di situ, jajaran kabinet kementrian dan kursi-kursi di lembaga lain tidak pernah tidak diisi oleh sosok kyai.

Catatan mengenai analisis Ramage (1995:87), ketika Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 yang menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas yang diberlakukan, NU sebagai ormas Islam yang terkenal didukung oleh kalangan tradisionalis segera menyambut dan menerimanya, mendahului Muhammadyah yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya kaum Islam modernis. Pemerintah pun saat itu tampak semakin bersikap kooperatif. “In the Cabinet and government, all doors were open to NU and Abdurrahman Wahid”.

Seiring dengan kemajuan zaman, perkembangan pesantren kurang mendapatkan dukungan yang memadai dari pemerintah. Keterpurukan malah dialami pesantren ketika para santri dan kyai yang ada di lingkungan tersebut harus didata karena isu teroris. Kaca mata masyarakat umumnya memandang kultur dan latar belakang pesantren sebagai jalan pintas juga alternatif terakhir dan ortodok. Jika anak-anak mereka sakit, terhambat biaya atau mengalami kelainan, tujuan pendidikan yang mereka pilih adalah pesantren. Padahal sudah terbukti bahwa lulusan pesantren telah banyak mencetak anak bangsa yang berkwalitas.

Keberadaan sosok kyai semakin lama semakin langka. Mereka seperti bahan bakar minyak yang tidak dapat diperbaharui, jika sudah ditambang maka akan habis persediannya. Padahal dari 3 milyar lebih penduduk dunia, mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Di lain pihak perusahaan pencetak kader-kader kiyai (pesantren) lambat laun akan mengalami kerusakan sistemik yang diakibatkan berbagai masalah yang kompleks dan rumit. Sekaranglah saatnya bagi generasi muda menerima tongkat estafet dari para pendahulunya serta mengemban tugas meneruskan perjuangan yang telah mereka lakukan dengan mempertaruhkan harta, tenaga, pikiran dan waktu. Mereka akan merasa bangga jika tapak tilas mereka yang tersisa saat ini bisa dikembangkan. Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.*** (Iqbal1, Inmemoriam Gus Dur, 30/12/09).


Kisah : Keajaiban Shalawat

Januari 8, 2010

Seusai acara pembacaan maulid nabi, Darmaji melirik pada Kiai Munawi yang sedang menyimak sebuah kitab. Lalu ia menggeser duduknya lebih mendekat kepada sang Kiai.

“Kitab apa itu, Kiai?. Sepertinya Kiai serius membacanya”.

“Ini kitab Simthud-Durar fi Akhbari Maulid Khairi Basyar wa Mashlahu Akhlaq wa Aushafi Shiyar, karya Al-Habib Al-Imam Al-Alamah bin Muhammad Al-Habsyi. Isinya tentang maulid nabi. Ada 201 nama atau julukan untuk mengagungkan dan memuliakan Kangjeng Nabi. Ada 22 model shalawat nabi yang masing-masing punya faedah.

“Wah, hebat juga ya, Kiai. Sebenarnya, untuk apa sih kita menghormati Kangjeng Nabi? Sampai orang-orang disini tadi saat berdiri pada melengking-lengking dan nangis semua. Saya jadi kikuk. Heran. Bingung. Memang baru kali ini saya ikut shalawatan. Itupun karena diajak temen saya itu si Basri. Apa musti saya harus ikut menangis, Kiai?. Tapi saya tidak bisa”.

“Memang, mereka yang menangis itu telah menyaksikan kehadiran Kangjeng Nabi saat berdiri tadi. Coba ya, kubacakan dulu terjemahan dari kutipan syi’ir ini :

Telah sampai kepada kami dalam sejumlah hadits masyhur bahwa sesuatu yang pertama diciptakan oleh Allah ialah nur yang tersimpan dalam pribadi ini. Nur insan tercinta inilah yang pertama muncul di alam semesta. Kemuliaannya memercik menjadi seluruh wujud. Ciptaan demi ciptaan. Yang baru datang atau sebelumnya. Sejak berpaut pada mutiara cemerlang yang terjaga ini. Alangkah luapan cahaya ini tak terkira. Di pagi hari maupun di kala senja. Saat terbit pelita penerang ini. Demikian pula yang dirasakan semua pandangan mata. Menatap bersama menanti kelahirannya. Embun kerinduan merekah bagai permata baiduri. Dan ketika hampir tiba saat kelahiran insani terkasih ini, gema hangat nan sejuk ucapan selamat datang berkumandang di lelangit dan bumi. Hujan kemurahan ilahi tercurah atas penghuni semesta. Lidah para malaikat bergemuruh bertasbih, bertahmid dan bertakbir. Dengan kekuasaan-Nya, Allah menyingkap rahasia tabir tersembunyi, mencurahi terbitnya nur sempurna ini.

“Nah, begitulah. Ini hanya sebagian saja. Mereka sudah sangat mencintai tradisi shalawat sehingga dengan kuasa Allah, mata batin mereka dibukakan sehingga dapat menyaksikan kehadiran Rasulullah”.

“O, begitu Kiai. Matur nuwun atas penjelasannya”.

Acara makan-makan pun digelar. Jajan-jajan dikeluarkan. Aneka minuman disuguhkan. Semuanya kenyang. Satu persatu jama’ah shalawat berpamit pada tuan rumah. Sebelum menyalami si tuan rumah, Kiai Munawi menghampiri Basri.

“Bas, temanmu yang baru ikut shalawatan tadi siapa namanya, kok aku lupa ya?.”

“Teman baru yang mana, Kiai?. Saya tidak ngajak siapa-siapa?. Emang ada apa?”.

Kiai Munawi tersentak hebat. Ia menarik Basri agak kasar ke sudut ruang tamu. Menanyakannya lagi. Lagi. Dan lagi. Jawaban Basri tetap sama. Berhari-hari kemudian, sang Kiai tak bisa tidur, tak berselera makan. Sejak kejadian itu, setiap Kiai Munawi mengikuti acara shalawatan, ia tak bisa menangis lagi. Dan tak pernah menceritakan apapun ihwal keistimewaan shalawat kepada siapapun. *** (Iqbal1 : Geger Kiai, Catatan Mistis sang Kembara ; Fahrudin Nasrulloh ; Pustaka Pesantren, 2009).


Humor : Nikah di Internet

Januari 6, 2010

Kumpulan humor “Gus Dur” yang bisa membuat orang tertawa lepas…. :

“Akad nikah lewat internet itu sah kata Gus Dur. Tapi kelonane  juga harus lewat internet, …” ujar Ketua PBNU KH Said Aqil Syirodj yang segera membuat hadirin yang hadir tertawa saat menyampaikan testimoni di Jl Warungsila, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (5/1/2009) malam. – (fb ; detik.com)

‘ala hadza niyyah, …… wa bibarokati ummul qur’an ; al-faatihaah…


Opini : Etika Dalam Jejaring Sosial

Januari 2, 2010

Oleh : Iqbal Istiqlal

(Tulisan ini telah Muat di Harian Umum “Radar Bandung”, pada halaman Opini, Kamis 31 Desember 2009).

Konflik hangat yang menyita banyak perhatian mengenai pernyataan isi hati di dunia maya kembali terjadi. Berita yang tengah di gembor-gemborkan di media saat ini adalah kasus Luna Maya yang dianggap telah mencemarkan nama baik wartawan Infotainment. Sejumlah nama lain dari kalangan artis juga pernah mengalami perseteruan dengan para kuli tinta tersebut. Sebut saja Tora Sudiro dan Parto Patrio yang aksinya pernah menggegerkan kanca dunia infotainment.

Kondisi fisik yang lelah karena bermain sinetron atau manggung di sejumlah daerah memang tidak jarang membuat para artis naik pitam. Belum lagi berita-berita miring bersifat pribadi yang mengemuka tanpa sepengetahuan dan klarifikasi dari mereka. Hal ini juga yang diduga menjadi pemicu kekesalan kekasih Ariel itu, sehingga ia memuntahkannya di sebuah akes jejaring sosial.

Padahal sebelumnya ada beberapa kasus yang terkait dengan aktivitas di dunia maya. Azhari bersaudara, Sarah dan Rahma Azhari pernah jadi korban dunia maya. Beberapa foto vulgar mereka pernah beredar di sejumlah situs.

Prita Mulyasari bahkan sempat merasakan dinginnya lantai ruang penjara akibat aktivitasnya di dunia maya. RS Omni Internasional melaporkan Prita karena mengeluhkan layanan rumah sakit ini dalam layanan situs internet. Akibat layanan ini, Prita sempat ditahan selama 21 hari, dia juga diharuskan membayar ganti rugi sebesar Rp 204 juta.

Lain Prita, lain juga halnya dengan masalah yang dialami oleh Evan Brimob. Curhat on line-nya dikecam banyak pihak. Evan yang seorang Bintara di satuan Brimob Polda Sumatra Selatan menceritakan kegusarannya di situs facebook. Akibatnya, Evan menjadi sasaran hujatan pengguna facebook simpatisan KPK.

Kelebihan Internet

Internet telah mengambil peran revolusi komunikasi yang kian kompleks. Ia telah mampu mengatasi ruang dan waktu proses penyebaran informasi di dunia ini. Apalagi internet kemudian diintegrasikan dengan media massa lain seperti televisi, radio, dan media cetak, bahkan media massa selain internet itu pada akhirnya membutuhkan internet sebagai alat penyebaran informasi pula.

Mencurahkan isi hati lewat situs ini memang sedang trend. Akan tetapi, harus pula disadari bahwa apapun yang dimuat bisa disaksikan oleh pengguna situs di seluruh dunia. Terlebih undang-undang informasi dan transaksi elektronik pasal 22 ayat 3 memungkinkan mereka yang merasa nama baiknya tercemar akibat berita seseorang di dunia maya, bisa dikenakan pasal ini.

Sementara itu, pengguna internet di Indonesia, www.internetwordstar.com menyebutkan pertumbuhan pengguna internet berkisar 1000 persen selama 10 tahun terakhir. Tahun 2008, total pengguna internet mencapai 25 juta. Jumlah ini sesungguhnya masih terbilang kecil jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia yang mencapai 237,8 juta jiwa atau berkisar 10 persen.

Prilaku di Dunia Maya

Kata orang bijak, ucapan dan perbuatan mencerminkan pikiran si pengucap. Kotor ucapannya, maka seperti itulah pikirannya. Jika para bloger atau pengguna jejaring sosial ini ingin menggunakan fasilitas internet, sebaiknya mereka terlebih dahulu memahami etika, etiket dan norma ketika menggunakannya. Karena ketiga hal itu secara konvensional dapat mengatasi masalah perbuatan atau tingkah laku manusia, mana yang dapat dinilai baik dan mana yang jahat.

Sebagaimana telah diketahui bersama bahwa perkembangan teknologi komunikasi hususnya di bidang internet berdampak pada pemupukan sifat individu. Perkembangan tersebut akan membawa masyarakat ke dalam koridor pluralitas, padahal kodrat manusia sesungguhnya mahluk sosial. Tanpa adanya etika, etiket dan norma manusia tidak akan mempunyai ‘pegangan’ hidup bermasyarakat dan dikhawatirkan menjadi ‘pemangsa’ bagi sesamanya.

Bagi para bloger atau facebooker serta pengguna situs internet lain, sebaiknya memperhatikan etika berprilaku baik dalam berselancar di dunia maya. Etika berprilaku buruk di dunia maya tak hanya beresiko mengundang sanksi pidana atau perdata di dunia nyata, seperti dijauhi atau dihapus pertemanannya.*** (Iqbal1)


Muhasabah : Santri, dan stigmanya…

Desember 19, 2009

Alhamdulillah, seorang lagi santri “Khozinaturrohmah” yang mengikuti pendidikan di sekolah formal berhasil menyelesaikan studinya di perguruan tinggi umum dalam jurusan Manajemen Informatika dan Komputer.  Mudah-mudahan hal ini senantiasa menjadi pendorong untuk kepentingan yang lebih luas. Mendatangkan nilai tambah, berkah ilmu dan kemanfatannya untuk diri sendiri dan lingkungannya. Sebagai sesama santri dan ikut menjadi mentornya, tentu sangat bersuka cita dan gembira atas keberhasilan ini, dan patut dijadikan contoh akan luasnya wacana peluang santri. Sedikitnya  ini sebagai akuntabilitas kepada orang tua santri yang selama ini menaruh kepercayaan terhadap prosesi belajar di “Khozinaturrohmah”.

Menjadi ‘santri’, atau belajar ‘ala Pesantren salafiyah untuk menunjukkan rasa cinta akan ke-Islaman, kadang dipandang remeh atau sebelah mata, karena dianggap tidak prestisius atau tidak menjanjikan masa depan. Padahal tantangan zaman senantiasa sangat membutuhkan generasi yang mampu menguasai ilmu2 ke-Islaman. Dianggap mundur karena ikut menjadi kaum sarungan seperti ‘anak dikhitan’ atau penyakitan. Padahal cara ini hanyalah sebagai salah satu alat proteksi saja. Mana mungkin seorang santri yang mempunyai tugas utama belajar, akan keluyuran dengan bersarung. Tidak sedikit pula konotasi lainnya, bahwa hanya anak2 yang ‘nakal’ lah yang belajar ‘ala Pesantren itu. Orang tua dengan sangat terpaksa memasukkan seseorang anaknya ke Pesantren sebagai ‘penyembuhan’. Padahal belajar salafiyah ‘ala pesantren sangat membutuhkan ‘otak cerdas’, sehat dan dinamis ; ibarat bibit unggul tidak penyakitan. Prestisius anak2 potensial seperti ini tenggelam akibat infrastruktur dan ‘bad governance goverment’.

Atau ada juga yang menganggap belajar ‘ala Pesantren hanya untuk anak2 miskin yang tidak mampu sekolah, karena massivenya kebersahajaan, ketiadaan fasilitas, kumuh, kotor serta jauh dari kesadaran hygienis, dan kurang beruntung. Padahal pesantren ini merupakan voluntir, empaty atau ‘action item’ nyata agar mereka yang ‘tidak beruntung’ itu, tidak terlantarkan. Sama2 berkesempatan dapat meraih harapan masa depan yang baik sesuai dengan kadar kemampuan yang ada.

Konon pula, belajar ‘ala pesantren penuh dengan penderitaan. Segala sesuatu kebutuhan harus dikerjakan sendiri. Jauh dengan orang tua tercinta atau sanak saudara2 yang kerap bercengkerama berbagi kasih penuh kehangatan. Tidur hanya beralaskan sehelai tikar, berteman dingin dan dengan dengingan nyamuk. Makan minum serba kekurangan dan dengan minim gizi. Padahal dengan cara seperti ini terlatih tegar, tidak kolokan. Berangkat tinggal belajar di pesantren bukan untuk pindah tidur atau makan, tetapi bersemangat baja berjuang untuk ’tholabul ilmi’, dengan konsekuensi mengurangi makan dan tidur. Atau Bahkan kini ada anggapan lain, pesantren harus diwaspadai karena menjadi sarang teroris. Ini terlalu, karena kekerasan bukanlah budaya seluruh ummat Islam.

Semua asumsi kurang bagus di atas memang akan selalu menjadi  stigma, dan mesti menjadi perhatian untuk diatasi. Anggapan2 minor yang timbul, sejatinya muncul dari ketidak tahuan, guyon, su-udzon, sentiment atau bisa saja menjadi  ‘caracter santri assation’. Lalu, bagaimanakah sebenarnya. Betulkah seperti itu kondisinya. Jawabannya susah memang jika hanya dengan retorika saja.

Sebenarnya pengalaman mengikuti belajar sebagai santri di Pesantren sangat menyenangkan. Penuh kebersamaan, solidaritas dan kekeluargaan. Ada tantangan, membuka kesempatan. Mempunyai nuansa ilahiyah. Memuaskan kebutuhan intelektual dan spiritual, serta didikan diri menjadi mandiri mengatasi ketergantungan dan keterbatasan. Yang terpenting memiliki ilmu yang sangat berguna untuk bekal kehidupan.

Secara khusnudzon, anggapan2 satiris yang ada itu bisa saja menjadi masukkan positif untuk perbaikan. Walaupun sebenarnya banyak sudah terbantahkan keminorannya. Bahwa tidak sedikit bukti empirik, fakta-fakta ilmiah atau hasil riset intelektual yang telah menjawabnya. Membuktikan jati diri pesantren tersebut secara hakiki. Termasuk prosesi belajar di dalamnya serta output yang dihasilkannya, genuine. Contoh kecil disini, lihatlah itu tumpukan2 kitab kuning. Bukankah itu sangat ilmiyah. Tulisan spektakuler yang dihasilkan oleh kalangan yang berlatar belakang santri.

Yang jelas memang, untuk meraih sesuatu, cita-cita misalnya, memang perlu berkeringat. Perjuangan keras, pengorbanan material-spiritual, fisik-mental, dan tak jarang deraian air mata. Apalagi untuk sesuatu yang besar ; kemuliaan Islam dan kaum muslimin.

Atau memang harus diakui, seandainya yang dituju hanya pemenuhan kebutuhan duniawiyah, hedonis, materialistis atau sekular, maka masuk mengikuti pendidikan ‘ala pesantren adalah akan jadi kesalahan fatal dan kontradiktif. Tentu bukan begini kan ;) .

Selamat tahun baru 1 Muharram 1431 Hijriyah, ayo bangkit dari keterpurukan. Santri bertransformasi dari stigmanya. Memperbaiki yang belum baik, mempertahankan yang sudah baik. Muhasabah menjadi suatu keniscayaan untuk senantiasa istiqoomah dalam tafaqquh fiddien. Semoga**. (Iqbal1).


Teladan : Kiyai Nawawi Al-Bantani dan Muridnya

Desember 10, 2009

Sebagai seorang syaikh (guru besar) di Masjidil Haram – Mekah, nama Kiyai Nawawi Banten memang sangat popular. Terutama karena pengajian yang diberikan serta kitabnya yang tersebar di seluruh Dunia Islam.

Pada tahun 1870 ulama Jawi yang popularitasnya menjangkau ke seluruh dunia Islam itu mendapat undangan ke Universitas Al-Azhar untuk mempresentasikan pikirannya secara langsung.

Ketika menghadiri undangan itu Kiyai Nawawi tidak ingin mendapat sambutan yang berlebihan, yang disiasati dengan cara menyamar sebagai orang biasa yang berpakaian Jawa. Sementara muridnya disuruh berpakaian syaikh. Memang ‘si murid’ mendapatkan penghormatan luar biasa, layaknya seorang alim besar. Sementara Kiyai Nawawi hanya duduk di kursi belakang.

Ketika acara dimulai, ‘si murid’ yang berperan sebagai Syaikh itu berpidato singkat, karena alasan sakit ia minta diwakili oleh santrinya, yaitu Kiyai Nawawi.

Dalam ceramahnya Kiyai Nawawi yang asli itu menguraikan berbagai persoalan keilmuan yang dihadapi dunia Islam secara rinci dan mendalam, dengan sikap yang tenang dan bahasa yang nyaris sempurna serta mampu menjawab berbagai pertanyaan yang diajukan oleh para mahasiswa dengan sangat akurat.

Penampilannya yang elegan itu mampu memukau para pendengarnya. Karena itu ia mendapatkan sambutan yang sangat istimewa, dengan mengatakan ; “Masyaallah asistennya saja sebegitu mengagumkan kealimannya. Apalagi Syekh Nawawi sendiri, tentu lebih pandai.”.

Melihat gelagat itu Kiyai Nawawi menyuruh santrinya yang menyamar segera menyingkir agar penyamarannya tidak terbongkar. Langkahnya itu semata untuk mengukur konsistensi para ulama dan mahasiswa Al-Azhar, yang tidak hanya mengagumi popularitas orang, tetapi juga mengagumi kemampuan seseorang. Tidak peduli ia seorang santri, atau asisten kiyai, kalau memang isi ceramahnya yang berbobot, tetap dihormati setingkat seorang syaikh.** (HB Wicaksono dari Gus Arland ; Thu Jun 9, 2005 9:49 am.)


Ubudiyyah : Hari Raya di Hari Jum’at

November 30, 2009

Sebetulnya tidak ada pembahasan khusus terkait hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, yang jatuh pada hari Jum’at. Hari raya adalah satu hal, dan hari Jum’at adalah hal lain. Akan tetapi ketika kita membicarakan seorang yang rumahnya sangat jauh dari masjid, apakah ia harus kembali lagi untuk menunaikan shalat Jum’at setelah di pagi harinya ia telah menunaikan shalat hari raya?

Seperti di zaman awal Islam, ada sahabat yang jarak rumahnya dengan Madinah sejauh 4 km, bahkan lebih dari itu, dan harus ditempuh melewati padang pasir dan ditempuh dengan jalan kaki. Apakah ia harus kembali lagi ke Madinah tanpa kendaraan untuk menunaikan shalat Jum’at? Kalaulah ia harus kembali menempuh perjalanan dari rumah ke masjid dan sebaliknya, sungguh melelahkan. Pertanyaan berikutnya apakah Islam tidak memberikan solusi?

Di sinilah kemudian timbul perbedaan pendapat. Pendapat pertama mengatakan, tidak perlu kembali ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Shalat Jum’atnya dapat dikerjakan di rumah dan menggantinya dengan shalat Dzuhur. Ini termasuk rukhshah atau keringanan dalam beragama.

Pendapat kedua mengatakan, kasus di Madinah di awal Islam itu bisa dijadikan alasan, tetapi apakah kita di Indonesia benar-benar mengalami nasib seperti itu? Bagi kaum Muslimin di Indonesia yang mayoritas NU, hampir di setiap dusun ada masjid, rata-rata kurang dari 1 km dan tidak melewati padang pasir.

Pendapat kedua inilah yang dipilih sebagian besar orang NU. Karena itu seorang Muslim harus kembali ke masjid untuk mengerjakan shalat Jum’at setelah paginya menunaikan shalat hari raya atau shalat Id.

Meskipun demikian, tidak sedikit yang mengikuti jejak golongan pertama. Dengan mengajukan kasus di Madinah, tidak perlu mengajukan alasan apapun seperti perbedaan geografis dan cuaca suatu negara. Yang jelas rukhshah itu patut disambut.

Imam Syafii seperti dikutip dalam Al-Mizan lis Sya’rani Juz I, mengatakan, jika kebetulan hari raya bertepatan dengan hari Jum’at maka bagi penduduk perkotaan kewajiban menjalankan shalat Jum’at tidak gugur dikarenakan telah menjalankan shalat Id. Lain halnya dengan penduduk desa (yang amat jauh), kewajibannya mengerjakan shalat Jum’at gugur, mereka diperbolehkan untuk tidak Jum’atan.

Dalam kitab yang sama disebutkan, pendapat Imam Syafii ini sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sedang Imam Ahmad mengatakan, tidak wajib Jumatan bai penduduk desa maupun kotadan gugurlah kewajiban Jum’atan sebab mereka telah mengerjakan shalat Id, hanya saja mereka tetap wajib mengerjakan shalat dzuhur. Malah menurut Imam Atha’ Jum’atan dan shalat dzhuhurnya gugur sekaligus, dan pada hari itu tidak ada shalat setelah shalat Id kecuali shalat ashar.

Hadits tentang rukhsah ini diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam berikut ini:

قال: صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَصَ فِي الْجُمْعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Rasulullah menjalankan shalat Id kemudian memberikan rukhshah untuk tidak menjalankan shalat Jum’at, kemudian beliau bersabda,” Siapa ingin shalat Jum’at, Silakan!” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ad-Darami serta Ibnu Khazimah dan Al-Hakim).

Oleh : KH Munawir Abdul Fattah, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (Persoalan ini diulas oleh penulis dalam buku “Tradisi Orang-orang NU”)


Negeri Kita : Skandal Hukum ?

November 25, 2009

 

Oleh : A. Mustofa Bisri

Luar biasa. Ada yang mengelus dada, menahan perasaan. Astaghfirullah. Ada yang geleng-geleng kepala, tak percaya. Masya Allah. Itulah kira-kira reaksi orang-orang Indonesia yang waras saat mendengarkan rekaman telpon yang diputar dalam sidang MK.

Terdengar suara seorang cukong yang begitu ‘berwibawa’ terhadap beberapa orang yang diduga uknum-uknum aparat penegak hukum. Juga suara sang cukong dengan perempuan yang diduga isterinya sedang membicarakan tokoh-tokoh yang diduga pejabat tinggi. Anggaran yang diduga suap dibicarakan begitu rupa seolah-olah komunikasi perniagaan. Tawar-menawar untuk melecehkan hukum berlangsung laiknya dagang sapi. Terdengar percakapan yang benar-benar menjijikkan.

Walhasil saya benar-benar terguncang. Saya ingin tidak mempercayai apa yang saya dengar. Sakit sekali rasanya mendengar hukum di negeri ini dipermainkan seperti itu. Sakit sekali rasanya mendengar orang-orang yang dipercaya membawa amanat, begitu mudah mempersetankan kepercayaan rakyat.

Inilah skandal penegakan –maksud saya pelecehan– hukum yang luar biasa memalukan. Atau sebenarnya ini sudah lazim; hanya saja baru sekarang publik mengetahuinya. Anggodo atau Anggoro hanyalah satu dari sekian banyak cukong penguasa uknum-uknum pejabat miskin negeri ini. Kita jadi tidak heran sekarang, mengapa Edy Tansil dan maling-maling kakap lainnya sering kabur atau tak karuan urusannya. Ternyata diduga banyak sekali uknum penegak hukum yang benar-benar miskin sekaligus tamak.

Terus terang saja, semula saya kurang setuju dengan pemutaran rekaman itu. Namun mendengar rekaman yang begitu dahsyat, saya jadi kepingin mendengar terus rekaman-rekaman serupa yang jangan-jangan lebih dahsyat lagi tentang cecunguk–cecunguk republik ini.

Saya membayangkan alangkah shocknya presiden SBY mendengar rekaman yang menggambarkan dengan gamblang kebobrokan bagian paling penting dalam kehidupan penegakan hukum Negara yang dipimpinnya. Lalu saya menghayal, setelah mendengarkan itu, presiden langsung bertindak tegas; mencanangkan pembersihan dan penataan kehidupan hukum sebagai prioritas perhatian 100 harinya. Menindak tegas uknum-uknum yang diduga terlibat dalam persekongkolan pelecehan hukum, termasuk yang mencatut namanya.

Kalangan Kejaksaan dan Polri saya bayangkan malu sekali mendengar lembaga mereka dijadikan bahan tertawaan dan permainan cukong; uknum-uknum pejabat mereka ketahuan sangat miskin dan tamak. Lalu saya hayalkan mereka masing-masing dengan penuh amanah, mengambil kebijaksanaan dan bertindak tegas melakukan pembersihan serta penataan dilembaga masing-masing. Membebaskan Bibit dan Chandra. Memecat mereka yang telah dan akan mencoreng nama baik lembaga-lembaga mereka sekaligus Negara mereka.

Khusus Polri, mengingat kesuksesan Densus 88 yang terbukti telah berhasil dengan gemilang memburu dan menumpas teroris; saya berpikir mengapa tidak dibentuk Densus lain –Densus 99 atau apa namanya—yang bertugas khusus memburu dan menumpas koruptor. Soalnya madharat dan kerusakan yang diakibatkan oleh ulah koruptor tidak kalah hebat dibanding yang diakibatkan oleh teroris. Apalagi korupsi seperti terkesan dari rekaman KPK , sepertinya sudah merupakan hal yang lazim dan ini tidak hanya terjadi di pusat.

Bila disepakati, Densus ini unsur-unsurnya bisa terdiri dari KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan. Dengan demikian tidak akan ada persaingan di antara lembaga-lembaga tersebut seperti yang terkesan selama ini.

Diterima atau tidak usul saya itu, yang penting korupsi harus benar-benar diperangi . Tidak hanya dalam wacana belaka. Kalau tidak, saya khawatir dengan negeri yang rentan musibah ini akan menjadi lebih parah lagi. (Gusmus ; 09/11/2009. 10:22:17)


Wacana : Ibnu Shuja, Ahli Hitung Terkemuka dari Mesir

November 15, 2009

Ibnu suja - Iqbal1“Ahli hitung dari Mesir”, begitulah masyarakat Mesir di era keemasan Islam menjuluki Ibnu Shuja. Ahli matematika Muslim pada abad ke-10 M itu begitu populer. Ia sangat berjasa dalam mengembangkan matematika. Buah pikirnya dalam ilmu hitung sangat berpengaruh baik di dunia Islam maupun Barat.

Ilmuwan Muslim terkemuka dari negeri piramida itu bergelar al-Hasib al-Misri. Nama lengkapnya adalah Abu Kamil Shuja Ibnu Aslam Ibnu Muhammad Ibnu Shuja. Meski pengaruhnya dalam bidang matematika sungguh sangat besar, sosok Ibnu Shuja tak sepopuler ahli matematika Muslim lainnya. Tak banyak sejarawan yang mengisahkan perjalanan hidup sang ilmuwan. Para sejarawan hanya memperkirakan, Ibnu Shuja lahir sekitar 850 M dan wafat sekitar 930 M. Ia merupakan penduduk asli Mesir. Ia dikenal sebagai penerus al-Khawarizmi (780-850 M). Ibnu Shuja hidup sebelum era Ali bin Ahmad Imrani (955-956 M).

Sebagai penerus al-Khawarizmi, Ibnu Shuja adalah matematikus Muslim yang berupaya menyempurnakan Aljabar karya al-Khawarizmi. Ia juga mempelajari karya al-Khawarizmi lain tentang matematika, seperti determinasi dan konstruksi, persamaan akar kuadrat, perkalian dan pembagian jumlah aljabar, penambahan dan pengurangan akar-akar. “Ibnu Shuja merupakan orang pertama yang menyelesaikan angka irasional sebagai objek aljabar,” papar Sejarawan Matematika, JJ O’Connor dan Edmud F Robertson, dalam karyanya bertajuk “Arabic Mathematics : Forgotten Brilliance?”.
Jacques Sesiano dalam karyanya Islamic Mathematics, menyebut Ibnu Shuja sebagai orang pertama yang menerima angka irasional (seringkali dalam bentuk akar kuadrat, akar pangkat tiga atau akar pangkat empat) sebagai solusi untuk persamaan kuadrat atau sebagai koefisien dalam equation. “Ia juga orang yang pertama memecahkan persamaan tiga non-linear bersamaan dengan tiga variabel yang tidak diketahui,” imbuh J Lennart Berggren, dalam karyanya Mathematics in Medieval Islam”.
Ibnu Shuja juga dikenal sebagai ahli aljabar tertua setelah pendahulunya al-Khawarizmi. “Meskipun kami tidak tahu kehidupan Ibnu Shuja, tapi kami memahami sesuatu tentang peranan Ibnu Shuja l dalam pengembangan aljabar,” imbu J J O’Connor dan Robertson.
O’Connor dan Robertson menambahkan, sebelum al-Khawarizmi, para sejarawan matematika tak memiliki informasi tentang proses perkembangan aljabar di Semenanjung Arab.
Peran Ibnu Shuja dinilai penting sebagai salah seorang penenus al-Khawarizmi. Bahkan Ibnu Shuja menekankan bahawa al-Khawarizmi-lah “penemu dari aljabar”. Ibnu Shuja sangat yakin bahwa aljabar merupakan buah pemikiran yang dilahirkan al-Khawarizmi. Keyakinannya itu dituliskan Ibnu Shuja dalam kitabnya yang membahas tentang ”Bapak Aljabar” itu.
Berikut pernyataan Ibnu Shuja tentang sosok al-Khwarizmi, “…seseorang yang pertama kalinya berhasil menulis Kitab Aljabar yang memelopori dan menemukan semua prinsip-prinsip di dalamnya.” Ia menambahkan, “Saya telah membuat, dalam kedua buku, bukti kewenangan al-Khawarizmi dalam aljabar”.

Sebagai seorang ilmuwan terkemuka, Ibnu Shuja telah melahirkan sederet karya dalam bidang matematika dan aljabar. Maka tidaklah salah, jika para sejarawan matematika memasukan sosok Ibnu Shuja sebagai salah seorang ahli matematika terbesar pada abad pertengahan Islam. Pemikirannya mampu mempengaruhi sederet ilmuwan terkemuka baik dari dunia Islam maupun barat, seperti ; Abu Bakar ibnu Muhammad ibnu al-Husayn al-Karaji (953 – 1029 M) serta ilmuwan Kristiani dari Barat, Leonardo da Pisa atau akrab disapa Fibonacci, (1170 -124 M). Melalui Fibonancci serta pengikut-pengikutnya yang lain, Ibnu Shuja telah memberikan pengaruh besar pada perkembangan aljabar di Eropa. Tulisan-tulisannnya tentang geometri pun memberikan pengaruh dan konstribusi yang besar terhadap geometri Barat, terutama uraian-uraian aljabar terhadap soal-saol geometrik.

Kontribusi Sang Ilmuwan Sepanjang hidupnya, Ibnu Shuja telah menghasilkan begitu banyak karya. Bahkan, dalam salah satu karya kompilasi Ibnu an-Nadim yang diterbitkan sekitar 988 M bertajuk al-Fihrist atau (Indeks), yakni sebuah daftar buku-buku tentang matematika dan astrologi, nama Ibnu Shuja pun tercatat.

Al-Fihrist memberikan laporan lengkap tentang literatur Arab yang tersedia pada abad ke-10 M dan menjelaskan dengan ringkas beberapa pengarang dalam literatur ini. Dalam al-Fihrist disebutkan sejumlah karya Ibnu Shuja, seperti ; Book of Fortune, Book of the Key to Fortune, Book on Algebra, Book on Surveying and Geometry, Book of the Adequate, Book on Omens, Book of the Kernel, Book of the Two Errors, dan Book on Augmentation and Diminution.

Di antara sekian banyak karya Ibnu Shuja, yang hingga kini masih bertahan dan sering dibahas antara lain ; Book on Algebra, Book of Rare Things in the Art of Calculation, dan Book on Surveying and Geometry.

Karya Ibnu Shuja kerap dibahas dan diperbincangkan para ahli matematika, sejak F Woopeke mencoba memperkenalkan Kitab fi al-Jam wa at-Tafrik, karya Ibnu Shuja pada 1863 M. Ia menerjemahkannya ke dalam bahasa Latin dengan judul Augmentum et Diminuti yang terdapat dalam buku Liber Augmenti Diminutionis dan Histoire des Sciences Mathematiques et Italie. Karya-karya Ibnu Shuja yang tercatat dalam al-Fihrist Hampir diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Kitab at-Ta’arif, misalnya, telah diterjemahkan dan dikomentari oleh H Suter ke dalam buku berjudul “Das Buch der Sletenheiten der Rechenkunst von Abu Kamil Al-Misri”. Buku tersebut menawarkan penyelesaian-penyelesaian integral terhadap persamaan-persamaan tak tentu. At-Ta’arif juga mempunyai versi bahasa Yahudi yang alih bahasakan oleh Mordekhai Finzi dari Montua pada 1460 M. Fizi juga menerjemahkan beberapa risalah Ibnu Shuja tentang aljabar. Kitab at-Ta’arif Al-Hisab karya Ibnu Shuja masih tersimpan di Leiden, Belanda, meski tak lagi lengkap. Banyak terjemahan lengkap dalam bahasa Latin tentang risalah ini di Paris.

Selain itu, ada pula karya Ibnu Shuja yang diterjemahkan oleh G Sachendote, meski bukan berasal dari buku aslinya yang berbahasa Arab, melainkan lewat bahasa Spanyol. Kitab al-Jabr (Book on Algebra) yang ditulis sang matematikus tersedia dalam berbagai manuskrip seperti di Istanbul dan Berlin, dan juga dalam aneka bahasa dan terjemahan lain seperti bahasa Ibrani, Jerman, dan Inggris.
Dalam risalahnya tentang al-Jabar, Ibnu Shuja menekuni suatu bab mengenai al-Jabar dengan membentuk analisis dan menyusun beberapa metode yang menakjubkan. Ia juga menjabarkan mengenai analisis inderteminasi yang disebut dalam bagian akhir buku al-Khawarizmi.

Ibnu Shuja mencetuskannya, sebelum Diophantus menerjemahkan Arithmetica ke dalam bahasa Arab. Segera setelah Arithmetica diintroduksikan, dilakukanlah penafsiran besar-besaran terhadap karya Diophantes tersebut. Buah pikir Ibnu Shuja tentang Aljabar lebih dikenal dalam bahasa Latin dan Yahudi. Dalam banyak hal, Ibnu Shuja masih berkiblat pada pemikiran al-Khawarizmi. Namun dalam banyak pula, dia justru mampu mengungguli pendahulunya itu. Bahkan ia berani mengadakan penambahan dan pengurangan dari akar-akar kuadrat yang hanya melibatkan bilangan-bilangan irasional, yang tak dilakukan oleh matematikus-matematikus sebelumnya.
Ibnu Shuja juga menulis tentang turunan dari rata-rata akar, turunan dari rata-rata aljabar, risalah pengukuran lahan/tanah, pengukuran dan geometri, penyatuan dan pemisahan.

Pengaruh Ibnu Shuja terhadap Barat

Karya-karya yang dicapai Ibnu Shuja pada abad ke-10 M merupakan suatu kemajuan yang amat penting. Sacherdote menunjukan bahwa Leonard da Pisa atau Fibonanci sangat hafal betul risalah geomteri karya Ibnu Shuja, dan menyebarkan penggunaannya lewat karyanya “Practica geometriae” atau “Practice of Geometry”.
Leonard da Pisa merupakan salah seorang dari Eropa yang mengelana ke berbagai pusat ilmu pengetahuan Arab pada abad ke-13 M. Ketika kembali ke negaranya, ia menulis dan menterjemahkan buku-buku pengetahuan Arab, termasuk matematika karya Al-Khwarizmi dan Ibnu Shuja. Leonmard da Pisa inilah yang termasuk salah satu penyebar pengetahuan tentang lembaga bilangan Hindu-Arab ke Eropa lama.
Dengan dasar berhitung menurut Ibnu Shuja dan Al-Khawarizmi, Leonard da Pisa berhasil menyusun bukunya Liber Abaci pada 1202 M, yang kemudian disempurnakan pada 1228 M dan menyebar di seluruh Eropa. **
(By Republika Newsroom Senin, 03 Agustus 2009 pukul 10:25:00 ; she/dya)


Ahlak : Sebarkan Salam…

November 2, 2009

assalamualaikum-iqbal1

:)


Wacana : Kapitalisme Media dan Masa Depan Internet

Oktober 30, 2009

Rumah Batu-2-Kaum Aad-Peradaban Purba-InkarOleh : Rachmah Ida**

“GELIAT* Tiongkok dalam kancah internasional mulai semakin serius dan terarah. Paling tidak, lewat forum World Media Summit, 9-12 Oktober lalu, Sang Naga mengirim pesan kuat mengenai intensinya untuk memperluas dan memperdalam penetrasi kehadiran medianya dalam persaingan global.

Pada kesempatan yang dihadiri top executive dari 170 media dunia itu, Presiden Hu Jintao memaparkan visi ke depan media Tiongkok yang akan ”jujur, terbuka, komprehensif, dan objektif”.

Hal itu tidak bisa dilepaskan dari kenyataan parahnya cara penanganan /public relations/ masalah dalam negeri Tiongkok beberapa tahun terakhir. Dengan dukungan kekuatan keuangan yang tangguh, Tiongkok siap membelanjakan USD 7,17 miliar untuk ekspansi multi medianya.

Tetapi, dalam forum itu, justru pemilik  News Corp Rupert Murdoch yang menjadi pusat perhatian ketika menyatakan perang terhadap penyedia jasa website yang dia anggap mencuri content dari berbagai media di bawah kelompok News Corp.

Searchengine penyedia informasi gratis semacam Google dan Yahoo,yang disebutnya sebagai ”vampires” dan ”tapeworms”, dia nilai telah melakukan plagiarisme dan diharuskan untuk membayar kepada perusahaan-perusahaan media News Corp yang memasok news content.

Murdoch menekankan bahwa penyedia informasi gratis yang dilabeli sebagai kleptomaniacs itu sebentar lagi tak boleh dengan seenaknya informasi yang ada di News Corp. Pertanyaan yang mengedepan adalah apakah konsekuensi yang muncul dengan gagasan Murdoch itu? Dan, masa depan internet dengan free flow of information?

Sebagai kapitalis murni, Murdoch memegang teguh jargon no freelunch/ sehingga setiap pengambilan content informasi dari media yang dia miliki harus dibayar oleh penggunanya. Bahkan, saat ini Murdoch telah membentuk global team di New York, London, dan Sydney untuk mendesain sistem paid contentatau konten yang berbayar.

Ambisi itu sebenarnya diilhami oleh keberhasilan The Wall Street Journal (WSJ) -diakuisisi Murdoch beberapa tahun lalu- yang saat ini mengalami booming pelanggan online. Dari situ Murdoch yakin bahwa khalayak akan memahami dan tidak keberatan jika harus membayar setiap informasi yang diakses dari media-media milik News Corp.

Bagi Murdoch, model bisnis WSJ adalah contoh yang bisa dijadikan benchmark untuk menerapkan kebijakan charging access, yang rencananya dimulai setahun lagi.

Namun, yang Murdoch lupa (atau terlalu antusias), WSJ adalah media finansial yang memang sangat dibutuhkan para pembacanya. Setiap informasi dalam WSJ sangat komprehensif dan berarti bagi investor untuk mengikuti perkembangan terkini pasar finansial. Kebergantungan kepada WSJ sebelum mengambil keputusan finansial. Itulah yang membuat para pengakses tidak pernah keberatan untuk membayar.

Tetapi, apakah mungkin khalayak media mau membayar informasi yang hanya berisi gosip di kalangan selebriti Hollywood, seperti dalam koran the Sun?

Global Team yang dikepalai Richard Freudenstein dalam paparan hasil riset awal, yang mereka lakukan terhadap khalayak media di US, UK, dan Australia, menegaskan bahwa /News Corp/ sangat yakin bahwa pengguna media akan bersedia membayar jika medianya mampu membuat produk/konten yang bagus dan /delivery system/ yang tepat.

Namun, CEO Fairfax/ /Digital Jack Matthews merasa tidak yakin bahwa konsumen media akan mau membayar berita-berita umum. Dia juga tidak yakin bahwa bisnis media akan mampu bertahan seandainya hanya mengandalkan sirkulasi berita umum (/general news/) sebagai sumber utama dari khalayak pengakses.

Pendapatnya itu didukung oleh hasil riset yang dipublikasikan /Harris Poll/ di Inggris bahwa hanya 5 persen responden menyatakan bersedia membayar konten media jika /website/ lembaga pemberitaan favorit mereka akan mengenakan biaya dari setiap akses berita yang dilakukan oleh konsumennya.

/Poll/ Radio ABC Australia pada Rabu (15/10) juga menunjukkan hasil yang tidak banyak berbeda bahwa 90 persen responden lebih memilih tidak melakukan akses /online/ kalau harus membayar.

***

Terpaan badai krisis keuangan dunia memang membuat banyak perusahaan terguncang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang mengalami kebangkrutan. /News Corp/ juga mengalami kerugian dan penurunan keuntungan hingga 47 persen atau USD 755 juta.

Pendapatan dari iklan media cetak dan televisi di bawah kendali /News Corp/ juga berkurang cukup signifikan. Pendapatan iklan media /News Corp/ di Inggris menurun hingga 21 persen tahun ini. Pendapatan televisinya secara global merosot tajam dari USD 419 juta menjadi USD 4 juta. Alhasil dari menurunnya pendapatan kapitalis media itu , tahun lalu 3.000 pekerja /News Corp/ harus dirumahkan.

Kondisi semacam itu sering menjadi katalis bagi para kapitalis untuk mencari jalan pintas tercepat dalam memperbaiki keuangan perusahaannya.

Dalam konteks tersebut, beberapa pengamat juga menengarai adanya keterkaitan antara kondisi perusahaan dan upaya mencari penghasilan yang efektif..

Tetapi, terlepas dari kegeraman Murdoch terhadap mesin penyedia informasi gratis, susah dibayangkan adanya negara yang bersedia membuat UU atau peraturan yang mendukungnya. Pilihan yang paling mungkin adalah menyerahkan kepada mekanisme kapitalis pasar bahwa kebutuhan khalayak media yang akan menjadi penentu eksistensi sistem tersebut.

Hanya, yang perlu digarisbawahi adalah media internet berbeda dengan media cetak. Arus informasi global dan /borderless/ media /online/ tidak lagi mungkin di bendung. Bahkan, banyak pengguna internet diuntungkan dengan mesin pencari informasi gratis.

Jika pernyataan Murdoch mengenai era internet segera berakhir, ”/the current days of the internet will soon be over”/ benar, arus informasi akan dikuasai kapitalisme media dan tidak ada lagi informasi gratis bagi khalayak media umum. Bersediakah masyarakat kita membeli informasi ketika kebutuhan perut setiap hari masih lebih penting dipikirkan?

Kita hanya bisa sabar menunggu reaksi para pemilik dan CEO media massa di dunia, akankah mereka segeram direktur ABC Australia yang secara terbuka menyerang keinginan Murdoch tersebut, atau justru melompat ”ke gerbong Murdoch”, mengingat potensi pendapatan dan keuntungan yang cukup signifikan. (RI/Iqbal1)

** Rachmah Ida, dosen Komunikasi UNAIR, saat ini Visiting Research Fellow, the University of  Western, Australia. http : //jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=95915 Posted at 3:40 am by ahmadsamantho


Ilmu Tauhid Awam : Kitab Nurudh-Dholam, Mengasah Spiritual Jiwa

Oktober 24, 2009

Syeikh-Nawawi-Iqbal1-1Dangkalnya pemahaman akidah generasi penerus panji-panji Islam sekarang ini banyak disebabkan menjamurnya paham-paham baru yang diusung oleh sekulerisme. Paham sekulerisme berupaya membelokkan akidah Islam dengan berbagai cara lewat pembaharuan ; dan menggeser nilai-nilai moral yang mereka sesuaikan dengan ajaran Islam.

Yang perlu dicermati dari lahirnya paham-paham tersebut, yakni sebuah kontribusi yang menginginkan komunitas Islam terpecah belah dan rapuh !. Para pelakunya menodai kemurnian akidah Islam dengan meracuni jiwa umat Islam yang berorientasi pada pemurnian tauhid yang didasari gaya hidup modern non-Islami. Sehingga banyak dari kaum muslimin yang telah menanggalkan keimanan.

Kitab penting “Aqiidaatul Awaam”, matan Ilmu Tauhid buah karya Syaikh Ahmad Marzuqi yang disusun dan biasa disampaikan dalam bentuk Syair, telah disyarah oleh Syaikh Muhammad Nawawi Asy-Syafi’i (Al-Bantani Al-Jawi) dengan judul “Nurudh Dholam”. Disajikan dengan penjelasan serta faidah tiap baitnya melalui bahasa yang indah dan lugas sehingga mudah dipahami. Beliau Syaikh Nawawi yang digelari Sayyid Ulama Hijaz ini, berusaha mengasah jiwa spiritual kaum muslimin dengan memaparkan siapa yang wajib kita imani, dan membangun kembali nilai-nilai keimanan kaum muslimin yang mulai pudar serta menangkal kekuatiran di atas.

Mempelajari dan paham terhadap ilmu tauhid sendiri, berhukum fardhu ‘ain kepada setiap kaum muslimin mukallap sepanjang akalnya mampu. Mempunyai keyakinan dengan mengemukakan dalil2nya secara ijmali (Garis Besar) maupun tafsili (Terperinci). Berdasar hukum aqli maupun naqli. Dapat memiliki iman secara ma’rifat atau tidak sekedar hanya taklid saja. Kaum muslimin yang taqlid dalam tauhid, imannya sangat disangsikan. Hal ini bisa terjadi, karena iman taqlid senantiasa dihinggapi keragu-raguan, goyah tidak kokoh. Akibatnya, semua peribadahan menjadi sia-sia. Kata qoidah ; “Wa Kullu Man Qolaada Fie Tauhiedi, Imanuhu Lam Yahtali Tardidi ; Saha Jalma Taqlid Dina Patekadan, Imana Teh Teu Suwung Ti Pacengkadan”. Firman Alloh SWT ; “Yaa Ayyuhannasu A’buduu Robbakumul ladzie Kholaqokum.. ; He Manusa, Kudu Taohid Aranjeun Kabeh Ka Pangeran Anu Geus Nyiptakeun Anjeun”. (Q. S.2 ; A.21).

Awwalu wajibin ‘alal insaani ma’rifatulloohi bis tiqooni ; yang pertama kali wajib kepada manusia adalah ma’rifat kepada Alloh SWT dengan sebenar-benarnya (Zubad, Ibnu Ruslan).

 Nadhomnya ;

 Pangheulana Wajib Ka Jalma Ibadah,

 Nyaho Nu Diibadahan Ulah Salah,

Nyaeta Alloh Anu Kapersipatan,

Kasampurnaan Moal Bisa Nyebutan.

Nu Beresih Tina Sakabeh Kakurangan,

Tina Lobana Moal Bisa Milangan.

Dst..