Ilmu Nahwu : Kitab Jurrumiyah

jurumiyah-cover1Matan kitab “Aj-jurrumiyah” ; merupakan kitab dasar dalam fan ilmu nahwu, karangan Abu Abdulloh Muhammad bin Muhammad bin Dawud Ash-Shinhajie Rohimahulloh (Ada yang menyebut Imam Shonhaji).

Kitab ini salah satu matan yang biasa dipakai oleh kalangan pesantren untuk pembelajaran dasar-dasar ilmu nahwu bagi pemula, dalam mengawali pembelajaran fan ilmu alat lebih lanjut.

Dalam setiap sorogan, santri dituntut paham dan mampu menghapal tiap kaidah-kaidahnya, agar memudahkan pemahaman materi selanjutnya.

Al-kisah diceritakan, Syeikh Imam Al-Sinhaji pengarang kitab ini ; tatkala telah rampung menulis kaidah-kaidah ilmu nahwu dengan menggunakan sebuah tinta, beliau mempunyai azam untuk meletakkan karyanya tersebut di dalam air. Dengan segala sifat kewara’annya dan ketawakkalannya yang tinggi, beliau berkata dalam dirinya : “Ya Allah jika saja karyaku ini akan bermanfaat, maka jadikanlah tinta yang aku pakai untuk menulis ini tidak luntur di dalam air”. Ajaib, ternyata tinta yang tertulis pada lembaran kertas tersebut tidak luntur.

Dalam riwayat lain disebutkan, ketika beliau merampungkan karya tulisnya tersebut, beliau berazam akan menenggelamkan tulisannya tersebut dalam air mengalir, dan jika kitab itu terbawa arus air berarti karya itu kurang bermanfaat. Namun bila ia tahan terhadap arus air, maka berarti ia akan tetap bertahan dikaji orang dan bermanfaat. Sambil meletakkan kitab itu pada air mengalir, beliau berkata : “Jurrumiyah, jurrumiyah” (mengalirlah wahai air ! ). Anehnya, setelah kitab itu diletakkan pada air mengalir, kitab yang baru ditulis itu tetap pada tempatnya.

Itulah kitab matan “Jurrumiyah” yang masih dipelajari hingga kini. Sebuah kitab kecil dan ringkas namun padat yang berisi kaidah-kaidah ilmu nahwu dan menjadi kitab rujukan para pemula dalam mendalami ilmu nahwu di berbagai dunia. Selain ringkas, kitab mungil ini juga mudah dihafal. (Wallohu ‘Alam) – ;)

Materi lengkap kitab klik PDF :  8-alajorromiyyah

About these ads

75 Balasan ke Ilmu Nahwu : Kitab Jurrumiyah

  1. qibty mengatakan:

    ustad, bisa tolong jelaskan kenapa dhomir yang kembali pada lafdl jalalah selalu berbentuk mudzakkar, padahal Allah tdk laki2 n jg tdk perempuan?
    lagi bingung nich.

    salam kenal..

  2. iqbal1 mengatakan:

    Sebab Alloh SWT mempunyai persifatan segala sifat kesempurnaan. Yang dapat mewakili kepada kesempurnaan adalah mudzakkar, tetapi bukan berarti hakikatnya mudzakkar. Roje’-nya mesti mudzakkar. (Ref. Ibnu Hamdun, Syarah Alfiyah Ibnu Malik). Tks.

  3. qibty mengatakan:

    syukron, barakallohu fik…. boleh tolong disebutkan bab n halaman brapa?
    afwan ya, kakakku punya kitabnya tapi aku bingung mencarinya, coz masih blm begitu mahir baca kitab nich, masih suka pusing n mata jadi ngantuk kalau lama2 melototi kitab gundul. he he

    • iqbal1 mengatakan:

      Alfiyah ; Bet 54 – 61 ; (Hal. 46 – 49 ; Bab Isim Nakiroh dan Isim Ma’rifat).

      Adanya Ma’na Lafadz Hakekat dan Mazaj, lihat dalam “Jauhar Maknun”, Fan Kedua Ilmu Bayyan – Bab Kedua ; “Hakekat dan Mazaj” ; Hal. 145, baris 33 – Dst…

      Atau dalam “Uqudz-Dzuman” ; Fan Ilmu Bayyan ; Juz 2 – Hal. 39, baris 36 – Dst…

      Contoh perbincangan ulama terhadap ‘dhomir mudzakkar’ yang mewakili ‘lafadz jalalah’, ‘asma’ul khusna’, dll., diutarakan juga dalam “Kitab Is-‘aadurrofieq” ; Hal. 5, Baris 25 – 27, – Dst… (Huwa / dhomir munfasil mudzakkar mufrod ghoib, menjadi ujung dalam isyarat / Wa huwa an-nihaayatu fil isyaroti).

      Qibty, semuanya perlu ditaqrir, karena mazaj… Kalau ada waktu, seneng membincangkan disini. Tetapi karena ada kesibukan dan hal lain, ma’af jadi tidak sempat menuangkan disini.. Belajar terus.. meski harus terkantuk-kantuk ..hehe…

  4. nafisah mengatakan:

    asss,,, ustad saya ingin meminTa bisakah kitab nadhom imrithi bisa di publikasikan beserta artinnya semua?? karena saya merasa kesulitan menerjemahkannya karena saya dalam tahap pembelajaran,,atau ustad tau alamat dari kitab imrithi?? thank’s

    • Iqbal mengatakan:

      Permintaan bagus. Tetapi ma’af jika tdk dapat semuanya dipenuhi. Maklum menuliskan terjemahannya disini tdk selancar atau semudah penuturan lisan ana seperti dalam sorogan atau bandongan. Lebih mudah di hapalan. Mudah2an di kesempatan yad matan nadhom imrithi tsb dapat ana scan-kan disini, walaupun hanya Cover atau beberapa lembar saja. Kalau mau berusaha sedikit, nadhom matan ini banyak di toko kitab, bahkan yg CD-nya (Nadhom Al-Imriethie, ‘Alaa Matan Al-Ajjuruumiyyah ; Karya Al-Mu’allamah Syeikh Syarifuddin Yahyaa Al-Imriethie). Kalau ingin bisa, kerja keraslah mempelajarinya. Thanks.

  5. Cinta Ilmu mengatakan:

    Ass wr wb.,
    Mohon ma’af sebelumnya, dibawah ini ada beberapa informasi penting melengkapi yg berkaitan dg ‘Kitab Jurumiyah’ ini, mohon ijin dicopykan disini seperti yg tertulis di sumbernya (Republika Online).
    Sbg bahan belajar dlm bhs. populer, kita dapat mengklik tautan di kolom Blog Roll seblh kanan ; “Belajar Dasar Bhs. Arab”. Jazakallohu..
    Wass.,
    ——-
    Matan Al-Ajurumiyah Kiat Mengenal Tata Bahasa Arab

    KITAB

    Berbahasa Arab menjadi tak lengkap tanpa menguasai ilmu nahwu. Bagi santri pondok pesantren (ponpes) Salafiyah (dahulu, tradisional), tentu sudah tidak asing dengan kitab Matan al-Ajurumiyah karya Syeikh Abu Abdillah Muhammad bin Dawud al-Shanhaji, yaitu sebuah kitab yang membahas ilmu tata bahasa Arab. Namun, kini, kitab tersebut juga banyak diajarkan di ponpes khalaf (terkini, modern).
    Kitab ini menjadi pedoman bagi setiap santri ataupun bagi yang ingin mempelajari bahasa Arab secara lebih mendalam. Sebab, di dalamnya berisi tentang pengetahuan mengenai kedudukan sebuah kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Dalam bahasa Arab, istilah tata bahasa Arab ini disebut dengan ilmu nahwu. Begitu pentingnya ilmu nahwu sehingga di kalangan santri muncul istilah, “Kalau mau pandai atau menguasai bahasa Arab, dia harus paham ilmu nahwu.”
    Istilah tersebut bukannya tanpa alasan. Sebab, banyak orang yang bisa berbicara dalam bahasa Arab (muhadatsah) dengan rekannya (conversation), namun tidak menguasai ilmu tata bahasa Arab, terutama ilmu nahwu ini. Akibat tidak menguasai tata bahasa Arab dengan baik, seseorang yang hanya menguasai muhadatsah kemudian berbicara dengan orang yang menguasai tata bahasa Arab akan ditertawakan. Pasalnya, tata bahasa Arab yang digunakan itu menyimpang dari kaidah yang sesungguhnya sehingga menjadi kacau.
    Memang, secara harfiah, mungkin bisa dipahami maksudnya. Namun, dalam penulisan yang benar, terdapat kesalahan dalam menempatkan kaidah-kaidah tata bahasa Arab. Kalimat yang seharusnya dipergunakan untuk kemarin malah dipakai untuk kondisi sekarang.
    Karena itulah, seorang santri yang terbiasa berbicara bahasa Arab, seperti di pondok pesantren yang mewajibkan santrinya menggunakan bahasa Arab sebagai pengantar, masih mungkin banyak kesalahan dalam menggunakan kaidah bahasa Arab dibandingkan santri tradisional yang rutin mempelajari ilmu ini. Sebaliknya, bagi santri yang begitu hati-hatinya dalam menggunakan tata bahasa Arab, justru terkadang kesulitan saat melakukan muhadatsah (percakapan).
    Seperti bahasa Inggris yang menggunakan grammar untuk tata bahasa, dalam bahasa Arab sangat banyak tata bahasanya. Ada ilmu nahwu, sharaf, balaghah, mantiq, dan sebagainya. Masing-masing ilmu itu saling berkaitan dalam penggunaan bahasa Arab yang baik. Karena itu, seseorang yang bisa berbahasa Arab belum tentu bisa menerjemahkan sebuah tulisan dalam bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia dengan baik tanpa memiliki ilmu tersebut.
    Huruf Arab adalah huruf yang dipergunakan sebagai ejaan dalam bahasa Arab. Huruf Arab dipergunakan untuk menulis sebuah kata atau kalimat dalam bahasa Arab. Huruf-huruf Arab ini bisa disebut dengan huruf hijaiyah. Mengenai jumlah hurufnya, banyak ulama yang mengelompokkannya secara berbeda-beda, ada yang menyebut jumlahnya 28, 29, dan 30.
    Kitab Ajurumiyah ini sengaja disusun untuk memudahkan seseorang mempelajari tata bahasa Arab. Dengan menguasai kitab ini, akan mudah bagi seseorang dalam menerjemahkan buku-buku atau kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab sesuai dengan makna yang diinginkan oleh pengarangnya. Begitu juga untuk memahami isi dan kandungan Alquran serta hadis Nabi Muhammad SAW yang menggunakan bahasa Arab. ”Sesungguhnya, kami menjadikan Alquran dalam bahasa Arab supaya kamu memahaminya.” (QS Alzukhruf (43): 3).

    Bahasan kitab
    Kitab Matan al-Ajurumiyah ini dimulai dengan kalimat Al-Kalamu huwa al-Lafzhu al-Murakkabu al-Mufidu bi al-Wadl’i (Kalimat (dalam bahasa Arab) adalah sebuah lafaz yang tersusun dan yang memberi makna (faedah) dalam bahasa Arab).
    Kitab ini kemudian menjelaskan pembagian sebuah kalimat dalam bahasa Arab. Kalimat yang dijelaskan dalam kitab ini terbagi tiga, yaitu isim, fi’il, dan huruf.
    Isim (kata benda) adalah kata yang menunjukkan benda, namanya, atau sifatnya. Dari segi lafaz, kata isim ditandai dengan kata yang dapat diawali dengan Alif-Lam (alif dan lam) atau diakhiri dengan tanwin atau harakat (baris) bawah (kasrah). Contohnya, Al-Madrasatu, Muhammadun, atau Lil-Muslimin.
    Yang termasuk kategori kata isim adalah kata ganti benda, kata ganti penunjuk, dan penghubungnya serta isim mashdar (kata kerja yang dibendakan) (Hidayat dkk, 1994). Isim dari segi jenisnya dibedakan menjadi dua, yaitu mu’annats (untuk menunjukkan perempuan atau nama benda yang sifatnya biasanya ditandai dengan ta’ marbuthah). Isim lainnya adalah mudzakkar (untuk menunjukkan jenis laki-laki). Dan, dilihat dari segi jumlah benda, isim ini dibedakan dalam tiga macam, yakni isim mufrad (jumlah tunggal), mutsanna (dua), dan jamak (lebih dari dua).
    Selain isim, kitab Matan al-Ajurumiyah ini juga membahas fi’il (kata kerja). Fi’il ini dibagi lagi menjadi tiga macam, yaitu fi’il madli (bentuk lampau, past tense), fi’il mudlari’ (sekarang dan sedang terjadi, continuous tense), dan fi’il amr (akan datang). Fi’il amr ini adalah kata kerja yang menunjukkan perintah.
    Selanjutnya, kitab ini membahas huruf. Huruf adalah kata selain isim dan fi’il, yaitu kata yang tidak memiliki pengertian tertentu, kecuali setelah dihubungkan dengan isim atau fi’il.
    Selain membahas isim, fi’il, dan huruf, kitab ini juga membahas kedudukan masing-masing kalimat, seperti fa’il, mubtada’, khabar, na’at wa man’ut (sifat dan yang mengikutinya), maf’ul (bih, muthlaq, min ajlih, dan ma’ah), athaf, badal, zharaf, badal, dan lainnya. Setidaknya, terdapat 24 bab yang dibahas dalam Matan al-Ajurumiyah ini.
    Begitu pentingnya kitab ini sehingga banyak ulama yang kemudian memberikan syarah-nya serta mengembangkan berbagai kedudukan kalimat dalam bahasa Arab. Salah satunya adalah kitab Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik. Khusus Alfiyah Ibnu Malik, dimuat sedikitnya 1000 nazam. Dan, kitab Alfiyah ini bisa dipakai oleh santri yang sudah menguasai Ajurumiyah atau Imrithi.

    Ibnu Ajurum: Ulama dari Maghribi

    Pengarang kitab Matan Al-Ajurumiyah ini bernama lengkap Al-Syaikh Abu Abdillah Muhammad bin Dawud al-Shanhaji. Ia masyhur (terkenal) dengan sebutan Ibnu Ajurum, yang dalam bahasa barbar berarti seorang fakir lagi sufi. Beliau lahir pada tahun 672 H (1273 M) di Kota Fas (Fes), Maroko (Maghribi), dan meninggal pada tahun 723 H (1322 M). Ibnu Ajurum dimakamkan di Bab al-Jadid.

    Di Kota Fas, Ibnu Ajurum juga dikenal dengan nama Akram (yang mulia), Ustadz, dan al-Ghassani. Ia adalah seorang ulama besar. Hal ini terbukti dengan banyaknya karya tulis yang ia buat.
    Dalam masalah keagamaan, Ibnu Ajurum menguasai beberapa bidang ilmu, seperti ilmu faraid (waris), hisab (matematika), sastra, nahwu (tata bahasa Arab), dan qiraah (seni baca Alquran). Dari semua bidang itu, yang paling mahir adalah ilmu nahwu (tata bahasa Arab). Dilihat dari isi kitab Muqaddimah-nya dapat dipahami bahwa Ibnu Ajurum adalah ulama nahwu mazhab Kufah.
    Kepakaran Ibnu Ajurum diakui ulama-ulama mutaqaddimin (terdahulu) hingga sekarang (mutaakhirin). Salah seorang muridnya yang bernama Muhammad bin Ali bin Umar al-Ghassani mengatakan, pada tahun 682 H (kira-kira masih berusia 10 tahun), Ibnu Ajurum sudah mengajar ilmu nahwu.
    Salah seorang pensyarah kitab Matan al-Ajurumiyah, Syaikh Muhammad bin Muhammad Ar-Ra’aini, menyebutkan, kitab tersebut dikarang oleh Ibnu Ajurum dengan senantiasa menghapal Kabah Al-Syarifah. Kemudian, ditulis tangan oleh Ibnu Maktum. Kemudian, Ibnu Ajurum tinggal di Kota Fas (Fes), Maroko, dan mengajar ilmu-ilmunya pada penduduk kota tersebut hingga tahun 719 H. Ibnu Ajurum juga memiliki banyak karya, baik dalam bentuk kitab maupun nazam.
    Beberapa ulama banyak memberikan syarah (komentar) terhadap karya Ibnu Ajurum ini. Di antaranya adalah karya Abdul Malik bin Jamaluddin Al-Isfiraini (1037 H), Ahmad Abdul Qadir Al-Kuhani, Hassan bin Ali Al-Kafrawi (1202 H), Khalid bin Abdullah Al-Azhari (905 H), Ahmad bin Zaini Dahlan (1304 H), Abdurahman bin Ali Sahalih Al-Makudi (801 H), Mushtafa As-Saqa, dan banyak lagi. (**sya)

  6. firman mengatakan:

    Ass Wr Wb

    Mau tanya? Bisa diterangkan penjelasan nahwu untuk QS.33:40, QS.62:3, QS.61:6

    Wassalam

  7. firman mengatakan:

    Bisa dijelaskan secara terperinci tata bahasa ayat tsb (QS.33:40, QS.62:3, QS.61:6)?

    • Iqbal mengatakan:

      Ref. : Tafsier Showie, hasyiyah atas tafsier Jalalain , yaitu :

      1. QS.32 : 40 = Al-Ahzab, Juz 22, ayat 40. Diterangkan di Jilid 2 ; Hal. 345, Baris 23.

      Maa Kaana Muhammadun..
      Ma = Lafadz Nafi
      Kaana = Fiil Madhi (Pekerjaan yg sudah lewat)
      Muhammadun = Fa’il Kaana, dan fail itu wajib dibaca rofa (dlommah tanwin).

      Abaa ahadin min rijaalikum..
      Abaa ahadin = Menjadi khobar kaana
      Min = Haraf Jar
      Rijaalikum = Menjadi Majrur dari Min, lafadnya jama taksier dari mufrod rojulun.

      Wa laakin rosuu lalloohi..
      Wa laakin = Istidroq (Tetapi), Wa ; haraf Athof
      Rosuulalloohi = Menjadi khobarnya kaana yg tersimpan

      Wa khootaman-nabiyyiena..
      Susunan idhofah, terdiri dari mudhof, yaitu lafadz khotama, dan mudhof ileh lafadz nabiyyiena.
      Wa sendiri sbg huruf athof,
      khotaman nabiyyiena = ma’thuf (Lafadz yg mengikuti)
      Dalam bab athof, ada istilah ma’thof dan ma’thof aleh.

      Wa kaanalloohu bi kulli syaein ‘aliema.
      Wa = huruf athap
      Kaana = Fi’il Madhi
      Alloohu = Menjadi Fa’il kaana
      Bi = Huruf jer ‘ba’
      Kullin syaein = Majrur (Makna kuliyah)
      Alieman = khobarnya kaana, yg wajib dibaca nashab, sesuai kaidah ; tarfa’ul isma wa tan shibul khobar / merofakan isim dan menasabkan khobar.

      2. QS.62 : 3 = Al-Jumu’ah, Juz. 28, Ayat 3.
      Diterangkan di Jilid 4 ; Hal. 265 ; Baris 15

      3. QS.61 : 6 = Ash-shaf, Juz 28, Ayat 6.
      Diterangkan di Jilid 4 ; Hal. 261 ; Baris 27

      Untuk pertanyaan tsb, disini ana tdk dapat menjawab sesederhana pertanyannya, … akan sangat panjang.. yg lainnya seperti itu..
      Ini langkah yg tepat untuk memahami maksud kandungan di dalamnya kemudian..
      Wallohu ‘alam bish-showab…

      Salam,
      Iqbal

  8. mujib mengatakan:

    saya kebingungan tentang biografi pengarang Kitab Maniyah al-Faqir wa Syairoh al-Murid al-Mutafarid al-Munjarid (Syaih Abdul Qodir ibn Ahmad al-Quhani). siapa sih sebenarnya. tolong penjelasanya.

    • Iqbal mengatakan:

      Silakan Mas Mujib (KI) jika mau menjelaskannya… Seperti Kitabnya dulu.. dst…
      Emailnya bodong ya…

  9. rahmat mengatakan:

    terima kasih banyak atas penjelasannya Mas Iqbal . Hanya saja saya tidak faham penjelasan bapak:
    2. QS.62 : 3 = Al-Jumu’ah, Juz. 28, Ayat 3.
    Diterangkan di Jilid 4 ; Hal. 265 ; Baris 15

    3. QS.61 : 6 = Ash-shaf, Juz 28, Ayat 6.
    Diterangkan di Jilid 4 ; Hal. 261 ; Baris 27

    apa sudah disediakan link download kitabnya di blognya mad Iqbal? jika ya boleh tahu linknya?

  10. rahmat mengatakan:

    Maaf Mas Iqbal rahmat itu saya sendiri yaitu “firman”

  11. firman mengatakan:

    Maaf saya sudah mengerti ttg 2. QS.62 : 3 = Al-Jumu’ah, Juz. 28, Ayat 3.
    Diterangkan di Jilid 4 ; Hal. 265 ; Baris 15

    3. QS.61 : 6 = Ash-shaf, Juz 28, Ayat 6.
    Diterangkan di Jilid 4 ; Hal. 261 ; Baris 27

    Hal terdapat dlm Tafsier Showie, hasyiyah atas tafsier Jalalain

  12. iqbal1 mengatakan:

    Ikut menampilkan apresiasi peran ‘kitab kuning’ (Nahwu Shorof) dari Mas Zein’s ;
    (http://zainulhaza.wordpress.com/2009/05/04/kitab-kuning/) ;

    Kalangan serta ‘praktisi’ pesantren tentunya amat sangat familiar dengan kitab kuning. Demikianlah terminologi kitab ini, biasa disebut berdasarkan perwujudan fisiknya. Tentu bukan covernya yang kuning, tetapi kertas yang digunakan untuk menuliskan isi dan ’substansi’ kitabnya yang berwarna kuning. Bukan kuning muda cerah, tetapi kuning tua kecoklatan.

    Ada kitab kuning, tentunya ada kitab yang tidak kuning. Dalam masa sekarang, sudah banyak penerbit yang mencetak kitab-kitab kuning mengunakan kertas putih pada umumnya. Sebenarnya, sebutan kitab kuning juga dalam rangka memudahkan para santri dalam memilah salah satu bidang yang dipelajari di pesantren yaitu mempelajari kitab yang kertasnya kuning dan jumlahnya sangat banyak serta ‘harus ditekuni’. Kitab kuning merupakan hasil karya dan pemikiran ulama-ulama salaf, sehingga kandungan isi dari kitab kuning sangat menggambarkan bagaimana konklusi-konklusi klasik yang difatwakan oleh para penulisnya. Uniknya, konklusi tersebut seperti tak lekang dimakan waktu, yang bahkan sudah berabad-abad, sampai saat inipun mengacu kepada kitab salaf masih mempunyai relefansi yang kuat.Banyak hal yang bisa dipelajari (biasanya di pesantren dengan metode sorogan) dalam kitab-kitab kuning, mulai nahwu sharaf, fiqh, ta’lim muta’alim maupun tafsir.

    Metode belajar kitab kuning sebenarnya ‘given by condition’, kenapa, karena semua kitab kuning ditulis dengan huruf hijaiyyah tanpa harokat alias gundul. Dengan demikian, step pertama metode belajar kitab kuning adalah mempelajari tata bahasa (grammar) Arab, yang substansinya telah disediakan di dalam kitab-kitab nahwu sharaf, seperti Jurumiyyah, Imrithi, Alfiyah, dan lain-lain. Hanya memang step pertama inilah yang sangat berat, mengenal, belajar, dan mengerti dilakukan dalam satu langkah. Hal ini dikarenakan kitab-kitab nahwu sharaf pun, ditulis dengan huruf arab gundul, sehingga respon pertama santri atau pelajar adalah mengenal bagaimana tulisan arab gundul itu. Kemudian dilanjutkan cara membacanya, meskipun belum tahu hukum-hukum bacaannya (karena ini adalah proses mempelajari hukum-hukum tersebut). Setelah ‘hafal’ (harus hafal, karena belum paham hukum bacaan) cara membacanya, bisa dilanjutkan dengan memahami isi kitab nahwu tersebut.

    Hasil dari ‘pemahaman’ kitab-kitab nahwu sharaf inilah yang menjadi landasan dalam mempelajari kitab-kitab kuning yang berisi bidang lain, selain nahwu sharaf. Sebuah great advantages dari pemahaman ini adalah kemudahan dalam memahami kitab-kitab, baik yang gudul apalagi yang ‘berharokat’. Demikianlah hal yang spesifik dalam belajar kitab kuning.

    Hal lain yang bisa kita observe dari kultur ‘belajar kitab kuning’ ini adalah pelaku yang telah lulus. Banyak tokoh di Indonesia yang mempunyai background ‘belajar kitab kuning’ dan beliau-beliau ini mampu menyediakan ‘outcomes’ pemikiran yang ‘based on’ kitab-kitab salaf, satu hal yang luar biasa, mengingat kompleksitas permasalahan di jaman sekarang.

    Wallahu a’lamu bis showab.

  13. budi anduk mengatakan:

    Ustad saya ingin tahu apa arti dari bab alamat rofa’,nashob,khofd dan jazm dlm pelajaran imriti?
    saya harap ustad bisa membantu.
    thanks

    • iqbal1 mengatakan:

      Tks kunjungannya…
      Semua itu merupakan kaidah2 dalam Bab I’rab (5 Bab), yaitu mengubah syakal tiap-tiap akhir kalimah disesuaikan dengan fungsi amil yang memasukinya, baik perubahan itu tampak jelas lafazhnya atau hanya secara diperkirakan saja keberadaannya.

      Kata nadhom ; (I’roobuhum tag-yieru aakhiril kalim : Taqdieeron ao lafdhon li ‘aamilin ulim) , dst,,, – I’rab menurut mereka (Ahli Nahwu) ialah perubahan akhir kalimah, baik secara perkiraan maupun secara lafazh karena ada amil masuk yang dapat diketahui keberadaannya.

      1. Arti bab alamat Rofa’ (Imrithie) ;
      I’rab rofa’ mempunyai empat alamat, yaitu dhammah, wawu, alif ; Demikian pula nun tsabit (tetap) yang tidak dihilangkan.
      Dhommah menjadi tanda rafa’ pada isim mufrad, contohnya seperti ‘ahmadu’ ; Pada jama taksir, contohnya seperti a’budun asalnya ‘abdu.
      Pada jama muannats salim, contohnya seperti muslimaatun ; Dan pada semua fi’il mu’rab / mudhari’, contohnya seperti ya’tie (yaqro-u).
      Wawu pada jamak mudzakkar2 salim (menjadi alamat rafa’) ; Seperti dalam contoh ‘ash-sholihuuna hum uulul makaarim..
      Perihalnya sama dengan yang dikemukakan pada asmaul khamsah ; Yaitu yang akan disebutkan secara berturut-turut.
      Lafadz abun, hamun, akhun, fuu dan dzuu ketentuan I’rabnya ; Semua di-mudhaf-kan atau di-idhafat-kan dalam keadaan mufrad atau tunggal (bukan mutsanna dan bukan pula jamak) dan dalam keadaan mukabbarah (bukan mushagh-gharahm.
      Dan pada mutsanna (isim tatsniyah) dengan memakai alif, contoh zaidaani (dua zaid) (alifnya adalah alamat rofa’) ; Dan nun pada fi’il mudhori’ yang telah diketahui (menjadi alamat I’rab rafa’).
      Yaitu dengan wazan yaf’alaani, taf’aalani (dhammir mukhatabah) ; Dan yaf’aluuna, taf’aluuna besertai yaf’alaani dan taf’alaani.
      Demikian pula taf’aliina seperti halnya perkataan’ tarhamiina haalin’ (Kamu – seorang perempuan – kasih sayang kepada keadaannku) ; Wazan-wazan tersebut terkenal dengan sebutan af’aalul khamsah,

      2. Dst… segitu dulu…
      Untuk Bab Alamat Nashob, Khofad dan Jazm mohon ma’af tdk keburu menulisnya disini karena sangat panjang menerjemahkan, penjelasan dan contoh2nya (3 Bab)…

      Mudah2an bermanfaat, mohon ma’af atas kekurangannya… (Lihat juga di tulisan “Filsafat Ilmu Nahwu”)

  14. aliya mengatakan:

    assalamu’alaikum…
    ustadz, kami lagi kebingungan mohon dijawab kebingungan kami,
    – kenapa nama yang selalu dipakai dalam conto matan
    jurumiyah adalah lafadz zaed dan ‘amrun
    – kenapa dalam masalah isim ‘adad dan ma’dud ciri
    kemu’anatsan dan kemudzakara seperti terbalik contoh:
    tsalatsatu awqotin
    terima kasih sebelumnya.wassalam

    • iqbal1 mengatakan:

      - Karena lafad Zaed dan Amrun lebih mewakili contoh2 Bhs. Arab ; lebih pas, lebih gampang untuk diingat. Zaed dan Amrun salah satu nama-nama dari Ulama Nahwu yang banyak berjasa dalam Ilmu Nahwu (Amrun, kalau tdk salah nama lain dari Imam Sibaweh ; Amrun Bin Utsman Bin Qonbar/Abu Basyar).
      – Isim ‘adad (bilangan) dan ma’dud (yang dibilang) kaidahnya memang ada ihtilaf dari ulama kufah dengan bashrah. Tetapi menurut qoidah Al-Fiyah Ibnu Malik dalam Bab ‘Adad, Bait I dikemukakan :
      “Tsalaa-tsatun bitaa-i qul lil-asyrot ; Fie ‘Addi maa ahaaduhu mudzakkarot. Fidh-dhi jarrid….”
      “Ucapkan dari bilangan 3 sampai 10 (untuk mudzakkar) dengan memakai Ta’ dalam menghitung yang mufrodnya mudzakkar (Tsalatsatun, arba’atun, khomsatun, dst). Buang Ta’ jikalau sebaliknya dari Mudzakkar (yaitu Muannats)…
      Uraian lain, contoh dalam kalimat (dalam al-qur’an, S. Al-Haqqoh, ayat 7) ; lihat Syarah Al-Asmuni ‘Ala Alfiyah Ibnu Malik ; hal. 173 ; Bab Al-‘addad.
      Cukup dulu ya…

  15. tafudz mengatakan:

    assalaa’mu alaikum Wr. Wb.
    ta’aruf pa’ustad iqbal hamba yang arif da budiman saya tafudz langsung saja saya ingin menayakan surat al-baqoroh ayat 2 pada kata hudan
    apakah dia sebagai hal apakah sebagai muftada dan tanda nashob dan rofanya apa dan lil muttaqiinnya sebagai apa,
    Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.

    • iqbal mengatakan:

      Tks atas kunjungannya.

      (Wa ma’nahu wallohu ‘alam) ; Kata ‘Hudan’ dalam pertanyaan di atas tidak tepat sebagai ‘Hal’ ataupun ‘Mubtada’ :
      1. Tdk tepat sebagai ‘Hal’, karena lafadz ‘Hudan’ adalah “Masdar”, bukan isim sifat.
      2. Tdk tepat sebagai “Mubtada”, karena tidak ada “Khobarnya”.

      Tepatnya, “Hudan” adalah sebagai “Khobar Tsani / Khobar yang Kedua” dari “Mubtada” lafadz “Dzaalikal Kitaabu”.
      Adapun “Khobar Pertamanya” adalah sejumlahnya lafadz “Laa Roiba Fih” – dari satu mubtada “Dzaalikal Kitaabu”.

      Alasannya, Ibnu Malik membolehkan “Satu Mubtada mempunyai Beberapa Khobar”. Disebutkan dalam Kaidah Alfiyah, Bab Mubtada Khobar, Bait Terakhir ; “Wa Akhbaruu Bits-naeni Ao Bi Aktsaroo – An Wahidin…”
      “Dan Pada Membuat Khobar (Ulama Ahli Nahwu) dengan Dua Khobar, atau Dengan Yang Lebih Banyak – Dari Satu Mubtada…” (Ibnu Hamdun, Hal. 88).

      Serta Lihat Tafsir Surat Al-Baqoroh Ayat 2 dalam “Khasiyah Showi ‘ala Tafsier Jalalain, Hal. 22-23″.

      Jika “Hudan” menjadi “Khobar Kedua”, maka i’rabnya adalah rofa’. Lalu ciri alamat i’rabnya adalah “Dhommah Muqoddaroh”, karena “Ta-addur” (ditukar dan dibuang) ; Ditukar huruf ‘Ya’ kepada ‘Alif’. Alifnya dibuang karena ‘Iltiqo’u Sakinaeni’.
      (Bertemunya dua huruf yang sukun, yaitu ‘Alif’ yang berasal dari ‘Ya’ dan ‘Tanwin’, seperti Nun Sukun).

      “Lil Muttaqiena”, adalah ‘Lil Ilati’ (penjelas) Hudan.
      Terdiri dari 2 kalimat ;
      1. Haraf Jar, yaitu ‘Lil’
      2. Isim, yaitu ‘Al-Muttaqiena’ (Jama Mudzakkar Salim).
      Haraf Jar ‘Lil’ mempunyai ‘Muta’allaq’ kepada lafadz ‘Hudan’. Sedangkan ‘Muttaqiena’ menjadi ‘Majrur’ (yang dijarkan oleh haraf jar). Alamat jarnya yaitu “Ya” sebagai pengganti dari ‘Kasrah’.

      Barokallohu fiek.

  16. nandang mengatakan:

    Assalamu’alaikum wr.wb.
    salam kenal buat ikhwan semua

    saya mau minta bantuan kepada ikhwan semua terkait dengan penyusunan skripsi saya yang membahasa ttg ilmu nahwu dan sharaf, saya membutuhkan refferensi tentang metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran ilmu nahwu dan sharaf.

    bagi yang bisa membantu saya, saya ucapkan banyak terima kasih.

    • iqbal1 mengatakan:

      Ass wr wb.,
      Ana ikut berdo’a, semoga skripsi ikhwan dapat lancar ; mudah2an ada bahan dari blog yang sederhana ini dapat diambil manfaatnya. Idealnya ikhwan dapat melakukan riset literatur di berbagai perpustakaan2.
      Kalau boleh tahu, konsentrasi studi ikhwan ini apa, dimana ; serta perumusan masalah, lokus dan fokusnya apa sehingga memudahkan penggunaan grand teori yang akan dipakainya. Kalau mungkin sudah ada berbentuk TOR rencana skripsi ini.
      Wass.,

  17. rupi mengatakan:

    assalamu’alaikum bapak ustad yang guanteng tolong tampilkan nadhom nahwu jurumiyyah secara lengkap disertai dengan keterangannya makacieh buanget jika dipenuhi permintaan q

  18. Idan mengatakan:

    Rasa2nya permintaan2 seperti ini sudah mendapat komentar Kang Iqbal, serta dipenuhi. Antum bisa coba klik judul ‘Ilmu Nahwu : Nadhom Imriethie’, serta simak penjelasan2nya.

    Di bawahnya sudah dimuat source untuk mengakses tampilan teks lengkap kitab imriethei dalam bentuk Portable Data File.. (Nadhom nahwu jurumiyyah ?).
    Ada keterangan intsruksi ; “Silakan yang memerlukan PDF Muqoddimah / Matan Ajurumiyyah / Imrithi Klik Disini : muqoddimah-ajjurumi-imrithie” –
    Tinggal klik saja :’^

    Syukron akhie…

  19. Ahmad Mukhlis Saputra mengatakan:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Pak Ustadz saya masih sangat pemula dan mau bertanya:
    1. Apa artinya mabni jazm pada fi’il amr ?(jurumiyyah, bab fi’il)
    2. apa saja yang termasuk ‘amil nashob dan ‘amil jazm?
    3. Saya belum mengerti tentang bab isim munshorif dan ghoer munshorif

    trims. wassalamu’alaikum wr.wb

  20. Iqbal mengatakan:

    1. Ialah ; “Wal amru majzuumun abadan”. (Fi’il amar selamanya dipastikan/dijazmkan huruf akhirnya).
    Fi’il amar terbagi 2 ;
    a. Fi’il amar shoheh akhir ; dimabnikan dg ciri (1) Sukun, (2) Buang Nun.
    b. Fi’il amar mu’tal akhir ; dimabnikan dg ciri (1) Buang haraf illat, (2) Buang Nun.
    Mabni adalah ; Tetapnya satu bentuk pada setiap ahir kalimat. (Wa huwa luzuumu awakhiril kalimi haalatan waahidatan).

    2. Amil nashab menurut shonhaji ada 10, sedangkan amil jawazim ada 18. (Semuanya sudah jelas dalam bab al-af’aal, jurumiyyah).

    3. Antum mesti memahami dahulu jenis2 tanwin yg terdapat dalam kalimat isim. Maka dg sendirinya perbedaan keduanya (munshorif dan ghoer munshorif) akan terlihat jelas. Tanwin tamkin, tankir, muqoobalah, iwad, taronnum, ziyadah, dst…

    Wallohu ‘alam, semga Alloh SWT memberi manfaat pada semua ilmu yg kita peroleh. Amin.

    Tks.

  21. misbahulmunir mengatakan:

    tentang kalam,
    apakah jumlah kalam itu juga jumlah mufidah

  22. Idan mengatakan:

    Jumlah mufidah (kalam), merupakan susunan kata yang memberikan makna yang lengkap.
    Ketiga komposisi isim, fi’il, huruf, apabila digabungkan, akan membentuk kalimat yang sempurna atau jumlah mufidah (kalam).

    Kalam, kalim, kalimah mempunyai ta’rif sendiri2 ya…

  23. Muhsin mengatakan:

    الْكَلِمَةُ

    Al-Kalimah (kata) adalah lafaz yang mempunyai makna ;

    A. Isim

    Kata yang menunjukkan atas suatu makna, dimana kata tersebut tidak terikat dengan waktu.

    Contoh:

    كِتَابٌ ـ بَيْتٌ ـ دِيْنٌ ـ بَابٌ ـ أسْتَاذٌ ـ شَجَرَةٌ

    B. Fi’il

    Kata yang menunjukkan atas suatu makna, dimana kata tersebut terikat dengan waktu.

    Contoh:

    نَصَرَ ـ كَتَبَ ـ ضَرَبَ ـ جَلَسَ ـ قَتَلَ ـ أَكَلَ

    C. Huruf

    Kata yang tidak mempunyai makna yang sempurna kecuali setelah bersambung dengan kata yang lain.

    Huruf yang dikategorikan sebagai al-kalimah adalah huruf-huruf ma’any.

    ======

    الجُمْلَةُ المُفِيْدَةُ / اَلْكَلاَمُ

    Jumlah mufidah adalah susunan kata yang dapat memberikan faedah yang sempurna.

    Contoh:

    عَلِيٌّ مَِرْيضٌ

    رَجَعَ عَلِيٌّ

    Adapun susunan kata yang tidak memberikan faedah yang sempurna tidak dinamakan sebagai Jumlah Mufidah.

    Contoh:

    إِنْ رَجَعَ عَلِيٌّ

    إِنْ رَجَعَ عَلِيٌّ فَأَكْرِمْهُ

  24. Idan mengatakan:

    Mohon ijin menambahkan catatan ini, tambah melengkapi catatan yg belum termuat, yg diambil dari ;

    http://ocessss.wordpress.com/category/nahwu-shorof/

    Kitab Gramatikal Bahasa Arab “al-Muqaddimah al-Âjurrûmiyyah”July 12, 2009 at 4:59 am (Nahwu Shorof)
    Oleh : Abdullah Abdulkarim Lc.

    Biography Pengarang

    Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhâji, dengan mengkasrahkan shod , bukan dengan memfathahkannya seperti yang sering disebutkan oleh sebagian kalangan. Kalimat Al-Shinhâji ini seperti yang diriwayatkan oleh Al-Hamîdi dinisbatkan kepada salah satu kabilah yang berada di Negeri Maroko yaitu kabilah Shinhâjah.Nama ini kemudian dikenal sebagai Ibnu Âjurrûm.

    Kata Âjurrûm menurut Ibnu ‘Imad Al-Hanbaly dalam kitab Syadzarât al-Dzahab formulasinya dengan memfathahkan alif mamdûdah, mendhommahkan huruf jim dan mentasydidkan huruf ro’.

    Syeikh Shalih Al-Asmary telah menyebutkan dalam kitabnya Îdhôh Al-Muqaddimah Al-Âjurrûmiyyah, bahwa kata Âjurrûm ini setidaknya memiliki lima aksen yang berbeda dalam memformulasikan kelima huruf hijaiyah ini.

    Pertama, riwayat Ibnu ‘Anqô’ yang dikuatkan oleh Imam Suyuthi dalam Bughyat al-Wu’ât yaitu dengan memfathahkan alif mamdûdah, mendhommahkan huruf jim dan mentasydidkan huruf ro’, dibaca Âjurrûm.

    Kedua, aksen yang diriwayatkan dari al-Jamal al-Muthoyyib yaitu dengan memfathahkan huruf jim, jadi dibaca Âjarrûm.

    Ketiga, pendapat yang dinukil oleh Ibnu Âjurrûm sendiri yang ditulis oleh Ibnu al-Hajjaj dalam kitab al-Aqdu al-Jauhary dengan formulasi hamzah tanpa dipanjangkan yang difatahkan, huruf jim yang disukunkan dan huruf ro’ tanpa syiddah jadi dibaca Ajrûm.

    Keempat, Aksen yang ditulis oleh Ibnu Maktum dalam Tadzkirohnya yaitu Akrûm, bukan dengan huruf jim melainkan dengan huruf kaf.

    Kelima, yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Anqô’ bahwa banyak orang membacanya dengan menghapus hamzahnya sehingga dibaca Jurrûm.

    Kata Âjurrûm ini, seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Anqô’ dan dikuatkan oleh Imam Shuyuthi dan Ibnu al-Hâj berasal dari bahasa Barbarian, – sebuah bangsa yang mayoritas kabilahnya menempati pegunungan di wilayah Afrika bagian selatan – yang berarti al-Faqîr al-Shûfy.

    Ibnu Âjurrûm dialhirkan di kota Fasa, -sebuah kota besar di Negara Maroko – pada tahun 672 H yaitu tahun wafatnya Imam Malik dan wafat di kota itu hari Senin ba’da Dzuhur tanggal 20 Shafar Tahun 723 H.

    Beliau menimba ilmu di Fasa, kampung halamannya, hingga pada suatu hari beliau bermaksud untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Ketika melewati Mesir, beliau singgah di Kairo dan menuntut ilmu kepada seorang ulama nahwu termasyhur asal Andalusia, yaitu Abû Hayyân pengarang kitab al-Bahru al-Muhith sampai mendapat restu untuk mengajar dan dinobatkan sebagai salahsatu imam dalam ilmu gramatikal bahasa arab atau ilmu nahwu.

    Selain terkenal sebagai ulama nahwu, beliau juga terkenal sebagai ahli fikih, sastrawan dan ahli matematika, di samping itu beliau menggeluti ilmu seni lukis, kaligrafi dan tajwid. Karya yang dipersembahkannya berupa kitab-kitab yang ia karang dalam bentuk arjuzah, bait-bait nadzam dalam ilmu qiro’at dan lain sebagainya. Dua diantara karyanya yang terkenal adalah kitab Farâ’id al-Ma’âni fî Syarhi Hirzi al-Amâni dan kitab ini Al-Muqaddimah Al-Âjurrûmiyyah.

    Identitas Kitab
    Pengarang kitab ini yang tidak lain adalah Ibnu Ajurrum tidak memberikan nama khusus untuk kitabnya. Dalam penamaannya kitab ini dikenal dengan nama yang dinisbatkan kepada pengarangnya, sehingga kitab ini dikenal dengan nama al-Âjurrûmiyyah atau al-Jurmiyyah. Sebagaimana tatacara penisbatan dalam gramatikal bahasa arab bahwa murokkab idhofi atau kata kompleks yang disandarkan seperti kata Ibnu Âjurrûm pada bab nisbat biasanya dihapus awal katanya dan dinisbatkan pada kata kedua.(lihat Alfiah Ibnu Malik, Bab Nasab bait 870-871).

    Kitab ini dikenal juga dengan nama Al-Muqaddimah Al-Âjurrûmiyyah atau Muqaddimah Ibnu Âjurrûm.Dinamakan Muqaddimah karena bentuk karangannya adalah muqaddimah atau dalam bahasa indonesianya bentuk karangan prosa bukan berupa bait-bait nadzam.

    Selain tidak memberi nama khusus pada kitabnya, Ibnu Ajurrum juga tidak menyebutkan kapan kitab ini dikarang sehingga para penulis biography tidak mengetahui secara pasti kapan kitab ini disusun. Hanya saja Ibnu Maktum yang sejaman dengan Ibnu Ajurrum dalam Tadzkirahnya menyebutkan bahwa kitab itu dikarang sekita tahun 719 H.

    Adapun tempat penulisan kitab ini, Al-Râ’i, Ibnu al-Hâj dan al-Hamîdy meriwayatkan bahwa Ibnu Ajurrum mengarang kitab ini sepanjang perjalanan beliau menuju Makkah.

    Metode penulisannya terfokus pada judul-judul besar ilmu nahwu dan pembahasan-pembahasan pokok, sehingga kitab ini dikenal sebagai kitab yang ringkas dan padat. Imam Suyuthy dalam Bughyat al-Wu’ât menyebutkan bahwa Ibnu Ajurrum berkiblat pada ulama Kufah dalam karangan nahwunya. Hal ini dibuktikan dalam pembahasan asma’ al-khamsah yang merupakan pendapat ulama Kufah, sedang ulama Bashrah menambahkannya menjadi asma’ al-sittah. Hal lain yang mengindikasikan ke-Kufah-annya adalah dengan memasukan “kaifama” dalam jawazim , adalah hal yang ditentang oleh ulama Bashrah.

    Kitab ini mendapat apresiasi yang sangat besar baik dari kalangan para ulama maupun para murid. Bentuk apresiasi ini terlihat dari munculnya para ulama yang menciptakan bait-bait nadzam, syarah dan komentar dari kitab ini.

    Pengarang kitab Kasyfu al-Dzunûn menyebutkan bahwa diperkirakan lebih dari sepuluh kitab yang menjadi nadzam, syarah, dan komentar dari kitab ini.

    Diantara yang menciptakan bait-bait nadzam dari kitab ini adalah Abdul Salam al-Nabrâwy, Ibrahim al-Riyâhy, ‘Alâ al-Dîn al-Alûsy dan yang paling terkenal adalah kitab Matnu al-Durrah al-Bahiyyah karangan Syarafuddin Yahya al-‘Imrîthy.

    Adapun kitab-kitab yang menjadi syarah kitab ini diantaranya adalah,

    1. Kitab al-mustaqill bi al-mafhumiyyah fi Syarhi Alfadzi al-Âjurrûmiyyah yang dikarang oleh Abi Abdillah Muhammad bin Muhammad al-Maliky yang dikenal sebagai al-Ra’î al-Andalusy al-Nahwy al-Maghriby.

    2. Kitab al-Durrah al-Nahwiyyah fî Syarhi al-Âjurrûmiyyah karangan Muhammad bin Muhammad Abi Ya’lâ al-Husainy al-Nahwy.

    3. Kitab al-Jawâhir al-Mudhiyyah fî halli Alfâdz al-Âjurrûmiyyah karangan Ahmad bin Muhammad bin Abdul Salam.

    4. Kitab al-Nukhbah al-‘Arabiyyah fî halli Alfâdz al-Âjurrûmiyyah karangan Ahmad bin Muhammad bin Abdul Salam.

    5. Kitab al-Duror al-Mudhiyyah karangan Abu Hasan Muhammad bin ‘Ali al-Maliky al-Syâdily.

    6. Kitab al-Kawâkib al-Dhauiyyah fî halli Alfâdz al-Âjurrûmiyyah karangan Syeikh Syamsuddin Abil Azam Muhammad bin Muhammad al-Halâwy al-Muqoddasy.

    7. Kitab al-Jawâhir al-Sunniyyah fî Syarhi al-Muqaddimah al-Âjurrûmiyyah karangan Syeikh Abu Muhammad Abdillah yang terkenal dengan sebutan Ubaid bin Syeikh Abul Fadly bin Muhammad bin Ubaidillah al-Fâsy

    8. Kitab Syarhu al-Syeikh Khalid al-Azhary ‘alâ Matni al-Âjurrûmiyyah.

    9. Kitab Syarhu al-Syeikh Yazîd Abdurrahman bin Ali al-Makûdiy al-Nahwy.

    10. Kitab Al-Tuhfah al-Sunniyyah karangan Syeikh Muhammad Muhyiddin Abdulhamid.

    11. Kitab Syarah milik Syeikh Hasan al-Kafrawy al-Syafi’î al-Azhary

    12. Kitab Hâsyiat al-Âjurrûmiyyah karangan Abdurrahman bin Muhammad bin Qosim al-Najdy.

    13. Kitab Îdhôh al-Muqaddimah al-Âjurrûmiyyah karangan Syeikh Shalih bin Muhammad bin Hasan al-Asmary.

    14. Kitab Al-Ta’lîqât al-Jaliyyah ‘alâ Syarhi al-Muqaddimah al-Âjurrûmiyyah karangan Muhammad Shalih al-‘Utsaimîn.

    Al-hamidy dalam hasyiahnya menceritakan bahwa Ibnu Ajurrum setelah selesai mengarang kitab ini, beliau melemparkan kitabnya ke laut dan berkata : “Jika kitab ini murni karena mengharap ridha Allah maka ia tidak akan basah”, dan kitab itu tetap kering. Wallahu a’Lam

  25. saya mengatakan:

    jos tenan kok

  26. aku mengatakan:

    kk mp3 imriti nya mana butuh nih

  27. jovianandas mengatakan:

    Hi, colleague! I like your blog, it’s so interesting! I think it’s pretty popular, isn’t it?

  28. Abdul Majid mengatakan:

    sip,bagus banget

  29. Assyifa mengatakan:

    Apa arti NAHWU yg sebenarnya.

    • iqbal1 mengatakan:

      Arti yang sebenarnya, wallohu ‘alam !.
      Nahwu artinya Contoh. Maksudnya tidak akan mengerti kepada bahasa arab, kecuali memakai contoh dengan bahasa arab lagi.

  30. den moch sibly mengatakan:

    saya lagi kebingungan mencari biografi pengarang kitab jauhar maknun? apakah anda tau ? kalo mema tau tolong kasih tau saya ok?

  31. baha mengatakan:

    assalmualaikum… salam ta’aruf … ust . ane minta jadwal shoro yang samaa’i lengkap ya ane tunggu …..

  32. abdullahi yussuph mengatakan:

    i am here for reqesting for some arabic book

  33. djabil mengatakan:

    asslm…..ikhwan..mengapa di dalam imriti adanya kok asmaul alkhomsah.. tapi kalo di dalam alfiah asmau assittah….

    • idan mengatakan:

      Ref. :

      http://iqbal1.files.wordpress.com/2008/11/mutamimmah_jurumiyah.pdf

      http://nahwusharaf.wordpress.com/2010/10/09/aksen-bahasa-arab-untuk-lafazh-%d8%a7%d8%a8%d8%8c-%d8%a3%d8%ae%d8%8c-%d8%ad%d9%85-dan-%d9%87%d9%86-menghasilkan-i%e2%80%99rob-itmam-naqsh-dan-qashr-%c2%bb-alfiyah-bait-29-30/

      Karena, Lafadz “Hanu” yg masuk kedalam jenis isim 6 di alfiyah, dianggap lemah/kurang/cacat (Naqish) memenuhi syarat/ketentuan i’rab isim jenis ini, sehingga hanya dimasukkan ada 5 di jurumiyah.
      Isim 5 : Abun, akhun, hamun, fun dan du.
      Isim 6 : Abun, akhun, hamun, fun, hanu, dan du.

      ‘Irab lafad “Hanu” menurut pendapat yg fasih, dibaca naqish, yaitu dg membuang huruf akhirnya (Wawu bila dalam keadaan Rafa’, Alif bila dalam keadaan Nashab, dan Ya bila dalam keadaan Jar). Sedangkan ketentuan ‘irab lafad “Hanu” dengan memakai harokat (Yg jelas) di atas nun.
      Contoh :
      Hadzaa Hanuka = Ini Farjimu
      Roaetu Hanaki = Aku tlh melihat farjimu
      Marortu bi Hanika = Aku melihat farjimu.

      Karena itu, penulis kitab jurumiyah dan lainnya tdk memasukkan pada isim-isim ini, dan mereka menjadikannya sebagai 5 isim saja.

      Untuk diketahui saja, Ajjurumiyah bermadzhab Kufah, Alfiyah bermadhab Basrah. Sebagai jembatan / penyempurna ilmu nahwu antara jurumiyah dg alfiyah, ada “Mutamimmah Ajjurumiyah”.

      ***

      Catatan : هن (hanu) sebutan/kinayah untuk suatu yg jelek menyebutnya, ada mengartikan kemaluan, ada juga mengartikan sosok manusia dsb, tergantung konteks kalimat. Contoh Lafadz Hanu yg terdapat dalam Hadits, Rosulullah saw bersabda :

      مَنْ تَعَزَّى بِعَزَاءِ الْجَاهِليَّةِ فَأَعِضُّوهُ بِهَنِ أَبِيْهِ وَلاَ تَكْنُوْا

      Barang siapa bangga menisbatkan/menjuluki dirinya dengan penisbatan Jahiliyah, maka gigitkanlah ia pada anunya bapaknya (istilah Indonesia : kembalikan ke rahim ibunya). Dan janganlah kalian memanggil dengan julukan itu!.

      Contoh di-I’rob Itmam (Sempurna memakai huruf illat) yang jarang dipakai untuk lafazh Hanu:

      هَذَا هَنُوْهُ وَرَأَيْتُ هَنَاهُ وَنَظَرْتُ إلَى هَنِيْهِ

      Ini Anunya. Aku melihat Anunya. Aku memandang pada Anunya.

      Pendapat Imam Abu Zakariya Al-Farra’ beliau mengingkari terhadap kebolehan I’rab Itmam untuk lafazh “Hanu”, namun ini ditangkis oleh hujah Imam Sibawaehi dengan hikayah orang-orang Arab yang meng-itmamkan lafazh “Hanu” tsb. Demikian juga hujah para Ulama nahwu lain yang memelihara terhadap aksen Bahasa Arab tentang Hanu dengan di-Itmam.

      Kesimpulan pembahasan : bahwa lafazh (اب، أخ، حم) terdapat tiga aksen/logat. Yang paling masyhur adalah di-I’rab Itmam, kemudian di-I’rab Qashr, dan terakhir paling jarang digunakan dii’rab Naqsh. Dan untuk lafazh (هن) terdapat dua aksen/logat, paling masyhur dengan I’rab Naqsh dan paling jarang dii’rab Itmam.

      Wallohu alam..

    • iqbal1 mengatakan:

      Alhamdulillah…..
      Perkara asmaul khomsah dengan asmaus sittah, selain dg uraian di atas, persifatannya tdk jauh berbeda. Ini tentang alamat ‘irab.

      Ta’rifnya : Tiap2 isim yang akhirnya huruf elat guna kemaslahatan kepada i’rob. (kullusmin aakhiruhu harfu ‘ilatin shoolihatin lil-‘iroobi).
      Yaitu jenis2 isim yg disebut sbg tempat alamat i’rob rofa untuk harokat dhommah sebagai pengganti oleh haraf wawu, alamat nashab untuk fatah oleh alif, serta alamat khofad dg kasrah oleh ya.

      Sudah mafhum, alamat ‘irob ini ada yg dg huruf dan ada yg dg harokat. -lafdhon ao taqdieron-.

      Menurut Ibnu Maalik :

      وَارْفَعْ بِــوَاوٍ وَانْصِبَنَّ بِالأَلِفْ
      وَاجْرُرْ بِيَاءٍ مَا مِنَ الأَسْمَا أَصِفْ

      Rofa’kanlah dengan Wau, Nashabkanlah dengan Alif, dan Jarrkanlah dengan Ya’, untuk Isim-Isim yang akan aku sifati disebutkan.

      (Isim2 yg akan disebutkan itu adalah asmaus-sittah ; Abun, akhun, hamun, famun, dzuu maalin, dan hanun).

      Ada beberapa syarat yg harus dipenuhi, ringkasnya :
      1. Mesti di-idhofat-kan. (Kalau tdk mudhof, tetap dibaca dhommah/terang), 2. Di-idhofatkan-nya jangan kepada ya mutakallim. (Kalau ke ya mutakallim, menjadi muqoddaroh/diperkirakan), 3. Mesti mufrod. (Kalau tastniyah atau jamak, kembali memakai ciri tastniyah atau jamak), 4. Mesti mukabbar, jangan musagh-ghar, 5. Lafadz dzuu bi makna shohib (memiliki), bukan Thaiyah (maoshul / Al-ladzi), 6. Dzuu mesti idhofatnya kepada isim jenis, 7. Lafad famun mesti dipisahkan mim-nya.

  34. Kang Atok mengatakan:

    maaf mo tanya, kenapa lafadz asmaul khomsah yang dipake kok hanya itu, dan kenapa hanya itu? kenapa semisal Ummun tidak tercantum (ikut)?

    • iqbal1 mengatakan:

      Kang Atok, ma’ap ana belum tau. Karena ini bhs arab, bagaimana kata orang arab aja begitu. Jurumiyah memang sangat ringkas (Muhtasar Jiddan).

      Al-alamah Sayidi Ahmad Zaeni Dahlan memberikan Syarah atas asma’ul khomsah di Kitab Ibnu Aj-juruumi ini pada Bab Alamat ‘Irab ; untuk wawu sbg alamat ‘irob rofa atas lafad abun, akhun, hamun, famun, dan dzuu yg mudhof kpd lafad lain (Seperti fuuka, abuuka, hamuuka / ki -Dhomir muttashil yg nempel dgn kalimah isim asma’ul khomsah adalah mufrod mu’anasah mukhotobah-, dzuu maali). Jika tdk diidhofatkan, maka ‘irob rofanya memakai harokat yg jelas, yaitu dhommah. Tetapi jika idhofatnya kepada mutakallim wahdah seperti akhie, hamie, famie, abie maka ‘irob rofanya bukan dg wawu, melainkan dg dhommah yg diperkirakan (muqoddaroh) pada ya mati (ie) yg disukunkan.
      Syeikh Syarafuddin Yahya Al-imrithie pun sepakat dg ini seperti dalam nadhamnya : “Abun akhun hamun wa fuu wa dzuu jaroo ; Kullun mudhoofan mufrodan mukabbaron”. (Lafad abun, hamun, akhun, fuu dan dzuu ketentuan i’rob rofanya semua dimudhofkan, atau diidhofatkan dalam keadaan mufrod (tunggal, bukan mutsanna dan bukan jamak) dan dalam keadaan mukabbaroh (Bukan mushagh-gharoh).

      Klik : http://iqbal1.files.wordpress.com/2009/02/8-alajorromiyyah.pdf

      Tks. Wallohu ‘alam.

  35. Idan mengatakan:

    Rahasia “Asmaul Khomsah” (lima nama) ada yg mengaitkan dengan peristiwa di karbala :

    Ishaq Al-Ahmar bertanya kepada Al-Hujjah tentang firman Allah : كَهَيْعصِ Beliau (Al-Hujjah) kemudian menjelaskan, bahwa huruf-huruf tersebut sebagai berita ghoib dari Allah SWT yang ditunjukkan kepada hamba-Nya Zakaria.

    Allah SWT menceritakan kepada Nabi Muhammad SAW, bahwa hal ini berkaitan dengan permohonan Zakaria kepada Allah SWT, untuk diajarkan Asmaul Khomsah (lima nama).

    Kemudian Jibril turun dan mengajarkan kepada Zakaria tentang rahasia huruf-huruf tersebut. Kemudian, setiap Zakaria menyebut nama Muhammad, Ali, Fatimah, Al-Hasan, maka hilanglah kesusahan yang dirasakan Zakaria, dan bila beliau menyebut nama Al-Husein, beliau termenung dan menarik napas panjang.

    Kemudian Zakaria berkata: “Ilahi, bila aku menyebut nama empat orang dari mereka (Muhammad, Ali, Fatimah dan Al-Hasan), aku merasa terhibur dari kesedihan, dan jika aku menyebut Al-Husein, berlinanglah air mataku dan muncul keberanianku.”

    Allah SWT kemudian menceritakan kejadian yang menimpa Al-Husein. Allah berfirman :

    “ﺺﻌﻴﻬﻜكَهَيْعصِ” huruf ﻙ (kaf) adalah nama Karbala, huruf ﻩ (ha’) adalah pembantaian keturunan Muhammad SAWW, huruf ﻱ (ya’) adalah nama Yazid yang menganiaya Al-Husein, huruf ﻉ (‘ain) adalah kehausan Al-Husein, sedangkan huruf ﺹ (shod) adalah ketabahan (kesabaran) Al-Husein.”

    Ketika Zakaria menerima penjelasan ini, beliau tidak keluar dari masjid selama tiga hari, dan beliau enggan untuk bertemu siapa pun. Beliau menangis tersedu-sedu seraya mengucapkan : “Ilahi, apakah Engkau menjadikan tragedi (kedukaan) pada sebaik-baik mahlukMu berupa maut yang menyedihkan pada putranya? Ilahi apakah Engkau memberi pakaian pada Ali dan Fathimah berupa pakaian musibah ini ?. Ilahi, apakah bencana tersebut menjadi suratan untuk mereka berdua?.”

    Kemudian Zakaria berdoa : “Ya Allah berilah di usia tuaku ini seorang putra yang menyejukkan mata, dan jadikan dia sebagai pewaris yang diridhoi, serta disisi-Mu mempunyai kedudukan sama dengan Al-Husein. Bila Engkau sudah memberi rezeki (berupa seorang putra), maka ujilah aku, kemudian timpakanlah padaku dengan kedukaan karena aku sangat mencintainya, kemudian timpalah aku dengan kedukaan yang menimpa dirinya, sebagaimana Engkau timpakan kedukaan pada kekasih-Mu Muhammad SAW yang berduka karena putranya (Al-Husein).”

    Tak lama kemudian, Allah memberikan rezeki kepada Zakaria –seorang putra- yang bernama Yahya, dan menjadikan beliau berduka karenanya.
    Usia Yahya di dalam kandungan ibunya selama 6 (enam) bulan, sama seperti usia Al-Husein di dalam kandungan.
    Yahya wafat disembelih sebagaimana wafatnya Al-Husein. Langit dan bumi tidak pernah menangis kecuali disebabkan wafatnya mereka berdua (Al-Husein dan Yahya).

    Ref. Abu Thurab ; (dinukil dari “Sayyidah Fatimah Az-Zahra’ wa ibnaahimaa” – jilid III karya Ibn Ruwaisy).

    Wallohu ‘alam bish-sowab.

    • iqbal1 mengatakan:

      Ayat ( كَـــهَـــيْـــعـــصِ ) , Surat Maryam, ayat 1. Termasuk mutasyabihat, maknanya wallohu ‘alam bil murhodih. Sama halnya seperti Alif-Lam-Mim dlm Al-Baqoroh 1 (Tafsir Ath-thobari, jld 7, hal 5445-5450). Tentu para ulama mufassirin mempunyai dasar yg kuat atas berbedanya uraian tsb.

      Tragedi di Karbala telah terjadi, dan atas qudrot dan irodhat Alloh SWT, Imam Ali Zainal Abidin putra Imam Ats-tsaqilaen Sayidina Husein ra yg saat itu masih kecil dan sedang sakit panas, hanya satu2nya yg berhasil selamat dari keganasan pasukan Yazid bin Mua’wiyah, yg saat itu menduduki kursi khalifah menggantikan Muawwiyah, memburu Sayidina Husein ra yg tdk bersedia baiat kepada Yazid. Pengangkatan Yazid dianggap menyalahi ketentuan. Disinilah sebenarnya awal berubahnya daulah islamiyah ke monarki. Tentu dengan berbagai argumentasinya.

      Seandainya mengambil qiyas atas Imam Ali Zainal Abidin yg bertanya, siapakah korban2 dalam peristiwa karbala. Maka jawabannya adalah ; Bapakmu (Abuuka), Ahuuka (Saudaramu), Hamuuki (bibimu), Fuuka (Mulutmu), wa Dzuamaali (Dan yg engkau miliki). Ini semua lafad2 asmaul khomsah.

      Seandainya menurut ilmu bilagah pun, asmau’ul khomsah ini ada yg menganggap kurang fasehat, sebab terdapat lafad yg dianggagp lemah/cacat, yaitu ‘irob rofa wawu untuk kalimat ‘hamuuka’, yg tarkibnya mesti ‘hamuki’, sebab idhofatnya dhomir muttashil mufrod mua’annasah mukhotobah.

      Bagi ana khususnya, atau kita yg awam, peristiwa ini menjadi pelajaran yg sangat berharga.

      Ana teringat saja, bahwa ayat ( كَـــهَـــيْـــعـــصِ ) dapat dijadikan sebagai lafad du’a2 khusus, hijib misalnya. Di tataran pasundan, terdapat du’a dari asma’ul khomsah ini untuk anak yg sedang sakit panas supaya cepat dingin, sbb. :

      Sakit Panas, Pasti Pepes, Ku lima landong nu matih, Hiji Kangjeng, dua Ali, Hasan Husein jeung Fathimah.
      (Ya robbie bil mushtofa, baligh maqoo shidana, waghfir lanaa mamadho, ya wasi’al karomi).

      Tks atas semua perhatian ikhwan yg telah menyimak, semoga bermanfaat.
      Wallohu ‘alam.

  36. mulya mengatakan:

    ass….ku mau nanya ni pak antara mudaf dan mudafunilaih mksud umum kusus wajihen tu pa?

    • iqbal1 mengatakan:

      Sahabat Mulya, ini tentang Bab Idhofah, ringkasnya :
      Antara mudhof dan mudhof ilaih Tarkibnya (susunannya) tidak boleh terpisah.

      Dalam pembagian idhofah ada dua, yaitu idhofah Mahdhoh (Ma’nawi), bilamana idhofah menghasilkan makna min, lam dan fie.
      Dan idhofah Ghoer Mahdhoh (Lafdhiyah), yaitu idhhofatnya isim fa’il (subjek).

      Maksud faidah idhofah ada 2, umum dan khusus :
      Faidah idhofah Lit-tah-shis, bilamana mudhof isim nakiroh, mudhof ilehnya juga isim nakiroh.
      Faidah idhofah Lit-ta’-rief, bilamana mudhof isim nakiroh, mudhof ilehnya isim ma’rifah.

      Ta’rief Idhofah mnrt istilah : Dhommusmin ilaasmin biqosh-dittakh-shish awit-ta’rief. (Mengumpulkan isim kepada isim dengan maksud tah-shis atau ma’rifah).

      Adapun hukum idhofah, yaitu mudhof ileh selamanya di-jar-kan / kasroh.

      —–
      Ref. Bab Idhofah Alfiyah Ibnu Maalik ;
      Dan lihat uraiannya di postingan komentar Sahabat Idan di bawah, cukup. Atau klik ini :
      http://nahwusharaf.wordpress.com/terjemah-alfiyah-ibnu-malik/bab-idhofah/

  37. idan mengatakan:

    Mohon ijin mempostingkan, tentang mudhof dan mudhof ilaih dlm uraian idhofah yg lebih lengkap dari Ikhwan Al-Ghifariyah, semoga bermanfaat :

    TARKIB IDHOFI

    Pengertian Tarkib Idhofi : Menurut Mustafa dalam bukunya yang berjudul Jaami’u Ad-Durus Al-‘Arobiy menyatakan bahwa yang dimaksud dengan tarkib idhofiy adalah Apa-apa yang terdiri atau tersusun dari kata yang disandarkan (mudhof) dan kata yang disandari (mudhof ilaih).[1]

    Jadi, tarkib idhofiy atau idhofah itu adalah dua kata atau lebih yang bergandengan, dimana dua kata tersebut tersusun dari dua unsur dan dua kata atau lebih tersebut menjadi satu makna. Dua unsur tersebut, antara lain adalah :

    (1) Mudhof

    Yang dimaksud dengan mudhof ialah Kata yang disandarkan kepada kata lainnya, sehingga membentuk satu makna.[2]

    (2) Mudhof Ilaih

    Mudhof ilaih dapat di artikan sebagai kata yang disandari olah kata lainnya.[3]

    Hukum Idhofah :

    Karena idhofah itu terdiri dari dua unsur yakni unsur mudhof dan mudhof ilaih, maka hukum idhofah juga terbagai mennjadi 2 bagian, antara lain:

    (1) Hukum mudhof

    Dalam hukum mudhof tergantung pada kedudukan kata mudhof yang terdapat dalam kalimat. Jika kata mudhof kedudukannya menjadi subek maka hukum mudhof tersebut menjadi marfu’ dan jika ia menjadi objek maka hukum mudhof tersebut menjadi mansub dan begitu seterusnya harus disesuaikan dengan kedudukannya dalam suatu kalimat.

    (2) Hukum mudhof ilaih

    Di dalam kitab jaami’u Ad-duruus Al-‘Arobiy, hukum mudhof ilaih selamanya adalah majrur. Tanda majrurnya tergantung kata tersebut, jika ia mufrod atau jamak taksir atau jamak mu’annats salim maka tanda majrurnya dengan harakat kasroh. Sedangkan apabila ia mutsanna atau jamak mudzakkar salim maka tanda majrurnya dengan ya mati (يْ).

    Cara Membentuk Idhofah :

    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa salah satu ciri isim adalah adanya alif lam (ال) atau tanwin ( ً ٍ ٌ ) dan tidak boleh dalam suatu isim ada dua ciri tersebut, yakni alif lam dan tanwin. Sehingga harus pilih salah satu, kalau ingin menggunakan alif lam, maka tanwin tidak boleh digunakan. Contoh : اَلْمَسْجِدُ . Namun, jika ingin menggunakan tanwin maka tidak boleh menggunakan alif lam. Contoh : مَسْجِدٌ.

    Di dalam buku yang berjudul Al-Muwajjih yang disusun oleh Harun menyatakan bahwa berdasarkan proses pembentukannya, ada dua cara dalam membentuk idhofah atau mudhof dan mudhof ilaih, di antaranya adalah :[4]

    (1) Pada kata pertama yang berstatus sebagai mudhof wajib membuang alif lam dan tanwin, dan pada kata keduannya yakni yang berstatus sebagai mudhof ilaih wajib membuang salah satunya, yakni membuang tanwin. Kemudian kata yang berunsur mudhof ilaih diberi harokat kasroh.

    Contoh: بابُ المسجدِ

    (2) Pada kata pertama yang berstatus sebagai mudhof wajib membuang alif lam dan tanwin, dan pada kata keduannya yakni yang berstatus sebagai mudhof ilaih wajib membuang salah satunya, yakni membuang alif lam. Kemudian kata yang berunsur mudhof ilaih diberi harokat kasrohtain.

    Contoh: بابُ مسجدٍ

    Selain itu, berdasarkan jumlah bentukan katanya ada 3 macam cara membentuk idhofah atau mudhof mudhof ilaih, antara lain:[5]

    (1) Membentuk mudhof mudhof ilaih dengan menggabungkan 2 kata benda.

    الكتابُ + الأستاذُ

    Mudhof Ilaih Mudhof
    Selalu jar dan tanda jar-nya dengan kasroh Membuang alif lam (ال)
    كتابُ الأستاذِ

    (2) Membentuk mudhof mudhof ilaih dengan menggabungkan 3 kata benda sekaligus.

    كتابُ الأستاذِ + المعهد

    Mudhof Ilaih Mudhof 1 dan 2
    I’robnya selalu jar dan tanda jarnya adalah kasroh. Membuang alif lam (ال) pada kata الأستاذ dan kata tersebut tetap dikasroh karena dia tetap menjadi mudhof ilaih dari kata كتاب
    كتابُ أستاذِ المعهدِ

    (3) Membentuk mudhof mudhof ilaih dengan menggabungkan 4 kata benda sekaligus.

    كتابُ أستاذِ المعهدِ + الإسلامُ

    Mudhof Ilaih Mudhof 1, 2, dan 3
    I’robnya selalu jar dan tanda jarnya adalah kasroh. Membuang alif lam (ال) pada kata الأستاذ dan المعهد dan dua kata tersebut tetap dikasroh karena dia tetap menjadi mudhof ilaih dari isim sebelumnya.
    كتابُ أستاذِ معهد الإسلامِِ

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa setiap mudhof baik mudhof yang pertama, kedua, ataupun yang ketiga, ketiga mudhof tersebut harus dibuang alif lam (ال) yang dimilikinya dan setiap mudhof ilaih baik yang pertama, kedua maupun yang ketiga wajib dijar dengan tanda jar-nya adalah harakat kasroh pada huruf terakhirnya.

    Fungsi Idhofah :

    Menurut Manshur dalam bukunya yang berjudul Al-Muharrar fi An-Nahwi Al-Mujalladu Al-Awwal menyatakan bahwa secara struktur atau sintaksis ada dua fungsi dalam idhofah, yaitu:[6]

    (1) Lit Ta’rif

    Yang dimaksud dengan fungsi ini adalah apabila suatu mudhof disandarkan atau diidhofahkan kepada isim ma’rifah atau dapat dikatakan bahwa mudhof ilaihnya itu berbentuk ma’rifah.

    Sebagaimana yang kita ketahui bahwa ada dua jenis isim, salah satunya adalah isim ma’rifah. Yang dimaksud isim ma’rifah dalam buku yang berjudul Al-Qowaaid Al-‘Arobiyah Al-Muyassaroh adalah:[7]

    الاسم المعرفة هو يدلّ ّعلى شيء محدّد و معروف.

    “Isim ma’rifah adalah isim yang menunjukkan kepada sesuatu yang dibatasi dan sudah dikenal.”

    Di dalam bahasa Indonesia istilah isim diartikan sebagai kata benda. Jadi, yang dimaksud dengan isim ma’rifah adalah kata benda yang menunjukkan kekhususan, dalam arti kata benda yang sudah dikenal. Dalam bahasa Indonesia disebut juga sebagai kata khusus.

    Selain itu, isim ma’rifah mempunyai karakteristik tersendiri, yaitu sebagai berikut:[8]

    Isim yang bersambung dengan alif lam (المعرف بأل)
    Isim ‘alam, yaitu isim yang menunjukkan nama orang, nama tempat, atau sesuatu yang lain. (اسم العلم)
    Isim yang sudah dikenal yang bersambung dengan idhofah (المعرف بالإضافة)
    Kata ganti (الضمير)
    Kata tunjuk (اسم الإشارة)
    Kata sambung (السم الموصول)
    Jadi, dalam fungsi ini, kata yang berunsur sebagai mudhof disandarkan atau diidhofahkan kepada mudhof ilah yang berbentuk isim ma’rifah. Contohnya, adalah:

    مثل: أقرأ كتاب القواعدِ في مكتبة الجامعة كلَّ يوم الاثنين

    (2) Lit Takhshiish

    Yang dimaksud dengan fungsi ini adalah bahwa apabila ada suatu mudhof yang disandarkan atau diidhofahkan kepada isim nakiroh atau dengan kata lain bahwa mudhof ilaihnya itu berbentuk isim nakiroh. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa isim nakiroh merupakan salah satu jenis isim dari dua jenis isim lainnya.

    Yang dimaksud isim nakiroh dalam buku yang berjudul Al-Qowaaid Al-‘Arobiyah Al-Muyassaroh adalah:

    الاسم النكرة هو لا يدل ّعلى شيء محدّد و معروف.

    “Isim nakiroh adalah isim yang tidak menunjukkan kepada sesuatu yang dibatasi dan sudah dikenal.”

    Di dalam bahasa Indonesia istilah isim diartikan sebagai kata benda. Jadi, yang dimaksud dengan isim nakiroh adalah kata benda yang tidak menunjukkan kekhususan, dalam arti kata benda yang belum dikenal. Dalam bahasa Indonesia disebut juga sebagai kata umum, yaitu maknanya masih umum sehingga belum jelas.

    Jadi, dalam fungsi ini, kata yang berunsur sebagai mudhof disandarkan atau diidhofahkan kepada mudhof ilah yang berbentuk isim ma’rifah. Contohnya, adalah:

    مثل: أقرأ كتاب قواعدِ في مكتبة جامعةِ كلَّ يوم الاثنين

    Dua fungsi di atas memang secara sintaksis mempunyai perbedaan struktur yang berbeda. Namun, secara semantik sama-sama membentuk makna yang khusus, dalam arti makna yang sudah dikenal meskipun secara struktur berbeda, yang satu disandarkan kepada ma’rifah dan yang satu lagi disandarkan kepada nakiroh.

    Susunan Idhofah :

    (1) Susunan Mudhof :

    Di dalam buku Al-Muwajjih yang dikarang oleh Harun, beliau menyebutkan bahwa ada 3 jenis susunan mudhof, antara lain:

    Mufrad (مفرد) :
    Hukum mudhof jika dia dalam keadaan mufrod maka disesuaikan dengan kedudukannya dalam kalimat.

    Jika mudhof bertempat sebagai subjek, maka hukumnya menjadi marfu’ dengan harakat dhommah.
    Jika mudhof bertempat sebagai objek, maka hukumnya menjadi mansub dengan harakat fathah.
    Jika mudhof bertempat sebagai isim majru, maka hukumnya menjadi majrur dengan harakat kasroh.
    Dan lain sebagainya.
    Contoh:

    مثل: رأيتُ حقيبة الأستاذِ.

    Mutsanna (مثنّى) :
    Hukum mudhof jika dia dalam keadaan mutsanna maka disesuaikan dengan kedudukannya dalam kalimat.

    Jika mudhof bertempat sebagai subjek, maka hukumnya menjadi marfu’ dengan alif dan nun yang terletak setelahnya wajib dibuang.
    Jika mudhof bertempat sebagai objek, maka hukumnya menjadi mansub dengan ya mati dan nun yang terletak setelahnya wajib dibuang.
    Jika mudhof bertempat sebagai isim majru, maka hukumnya menjadi majrur dengan ya mati dan nun yang terletak setelahnya wajib dibuang.
    Dan lain sebagainya.
    Contoh:

    مثل: يصلّي طالبَا المسلمِ في المسجد.

    تصلّي طالبتاَ المسلمةِ في البيتِ.

    Jamak (جمع) :

    1- Jamak Mudzakkar salim

    Hukum mudhof jika dia dalam keadaan jamak mudzakkar salim maka disesuaikan dengan kedudukannya dalam kalimat.

    Jika mudhof bertempat sebagai subjek, maka hukumnya menjadi marfu’ dengan waw mati dan nun yang terletak setelahnya wajib dibuang.
    مثل: قام مجاهدُوْ الإسلامِ في المعركة.

    Jika mudhof bertempat sebagai objek, maka hukumnya menjadi mansub dengan ya mati dan nun yang terletak setelahnya wajib dibuang.
    مثل: رأيتُ مجاهدِيْ الإسلامِ في المعركة.

    Jika mudhof bertempat sebagai isim majru, maka hukumnya menjadi majrur dengan ya mati dan nun yang terletak setelahnya wajib dibuang.
    مثل: مررتُ بمجاهدِيْ الإسلامِ في المعركة.

    Dan lain sebagainya.

    2- Jamak Mu’annats salim

    Hukum mudhof jika dia dalam keadaan jamak mu’annats salim maka disesuaikan dengan kedudukannya dalam kalimat.

    Jika mudhof bertempat sebagai subjek, maka hukumnya menjadi marfu’ dengan harakat dhommah.
    Jika mudhof bertempat sebagai objek, maka hukumnya menjadi mansub dengan harakat kasroh.
    Jika mudhof bertempat sebagai isim majru, maka hukumnya menjadi majrur dengan harakat kasroh.
    Dan lain sebagainya.
    Contoh:

    مثل: طالباتُ الجامعةِ صائماتٌ.

    3- Jamak Taksir

    Hukum mudhof jika dia dalam keadaan jamak taksir maka disesuaikan dengan kedudukannya dalam kalimat.

    Jika mudhof bertempat sebagai subjek, maka hukumnya menjadi marfu’ dengan harakat dhommah.
    Jika mudhof bertempat sebagai objek, maka hukumnya menjadi mansub dengan harakat fathah.
    Jika mudhof bertempat sebagai isim majru, maka hukumnya menjadi majrur dengan harakat kasroh.
    Dan lain sebagainya.
    Contoh:

    مثل: يفحص أطبّاءُ المستشفى المرضى.

    (2) Susunan Mudhof Ilaih :

    Di dalam buku Al-Muwajjih yang dikarang oleh Harun, beliau menyebutkan bahwa ada 3 jenis susunan mudhof ilaih, antara lain:

    Mufrad (مفرد)
    Hukum mudhof ilaih jika dia dalam keadaan mufrod maka wajib majrur dengan harakat kasroh selamanya.

    Contoh:

    مثل: كتاب المدرّسِ

    Mutsanna (مثنّى)
    Hukum mudhof ilaih jika dia dalam keadaan mutsanna maka wajib majrur dengan ya mati selamanya tanpa membuang nun.

    Contoh:

    مثل: كتاب المدرّسَيْنِ

    Jamak (جمع)
    1- Jamak Mudzakkar salim

    Hukum mudhof ilaih jika dia dalam keadaan jamak mudzakkar salim maka wajib majrur dengan ya mati selamanya tanpa membuang nun.

    Contoh:

    مثل: كتاب المدرّسِيْنَ

    3- Jamak Mu’annats salim

    Hukum mudhof ilaih jika dia dalam keadaan jamak mu’annats salim maka wajib majrur dengan harakat kasroh selamanya.

    Contoh:

    مثل: كتاب المدرساتِ

    3- Jamak Taksir

    Hukum mudhof ilaih jika dia dalam keadaan jamak taksir maka wajib majrur dengan harakat kasroh selamanya.

    Contoh:

    مثل: كتاب الأساتذةِ

    4- Dhomir

    Hukum mudhof ilah jika ia dalam bentuk dhomir maka dia tidak berubah (mabni), namun dia berada ditempat majrur sehingga dhomir tersebut dapat dikatakan sebagai mudhof ilaih.

    مثل: الكتابُ لأحمدَ و كتابُهُ جميلٌ

    Pembagian Idhofah :

    Menurut Manshur dalam bukunya yang berjudul Al-Muharrar fi An-Nahwi Al-Mujalladu Al-Awwal, beliau membagi idhofah menjadi 2 macam berdasarkan makna yang terkandung di dalamnya, yaitu:[9]

    (1) Idhofah Mahdhoh (الإضافة المحضة)

    Yaitu idhofah yang maknanya masih murni. Maksudnya, makna bentukan idhofahnya pada asalnya atau aslinya. Atau bisa juga dikatakan idhofah yang masih memiliki dua fungsi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, yaitu yang berfungsi sebagai lit ta’rif dan lit takhshiish. Idhofah mahdhoh ini terbagi lagi menjadi z jenis, antara lain:

    Idhofah yang menyisipkan makna lam (ل), yaitu idhofah yang menunjukkan makna kepunyaan atau kepemilikan. Dalam kitab Alfiyah, istilah idhofah ini disebut juga dengan idhofah lamiyah.
    مثل: أعطي ثوبي إليك.

    أذهب إلى الجامعة بسيّارة الأستاذ.

    Pada contoh pertama (أعطي ثوبي إليك) seolah-olah pada kata ثوبي disisipi makna lam(ل), sehingga makna kata tersebut menjadi baju kepunyaaku .(ثوب لي)

    Pada contoh kedua juga (أذهب إلى الجامعة بسيّارة الأستاذ) seolah-olah pada kata سيّارة الأستاذ disisipi makna min (من), sehingga makna kata itu menjadi mobil kepunyaan ustadz سيّارة للأستاذ)).

    Idhofah yang menyisipkan makna min (من), yaitu idhofah yang menunjukkan makna penjelasan dan terbuat dari. Jadi, dalam idhofah ini terdapat dua makna, yaitu:
    Makna penjelasan
    مثل: نشكر على نعمة الايمان.

    Pada contoh di atas, bahwa kata نعمة الايمان seolah-olah disisipi makna min (من) yang berfungsi sebagai penjelas, yakni kata الايمان menjelaskan kata نعمة, sehingga contoh kalimat tersebut bermakna bahwa kami mensyukuri nikmat dimana nikmat yang kami maksud adalah nikmat iman.

    Makna terbuat dari
    مثل: تعطي خاتم الفضّة إليّ.

    Pada contoh di atas, bahwa kata خاتم الفضّة seolah-olah disisipi makna min (من) yang menyatakan terbuat dari, sehingga contoh kalimat tersebut bermakna bahwa kamu memberikan cincin yang terbuat dari perak kepadaku.

    (2) Idhofah Ghoir Mahdhoh (الإضافة غير المحضة)

    Yaitu idhofah yang maknanya tidak murni. Maksudnya, makna bentukan idhofahnya tidak bermakna pada asalnya atau pada aslinya. Atau bisa juga dikatakan idhofah yang tidak memiliki dua fungsi, seperti yang dijelaskan sebelumnya, yaitu yang tidak berfungsi sebagai lit ta’rif dan lit takhshiish. Namun, idhofah ini hanya berfungsi sebagai takhfif yang artinya meringankan. Maksudnya meringankan bacaannya agar menjadi lebih mudah dibaca lafadz idhofahnya.

    Contohnya pada kalimat: هذا ضاربُ زيدٍ (أصله) هذا ضاربٌ زيدًا. Pada contoh tersebut, terjadi takhfif dalam kata idhofah. Aslinya, pada kata ضاربٌ yang merupakan isim faa’il yang dapat beramal sebagai fi’il sehingga kata setelahnya wajib mansub sehingga menjadi ضاربٌ زيدً. Namun, dalam pengucapan lafadz tersebut agak sulit diucapkan, maka lafadz tersebut ditakhfif (diringankan) agar dalam pengucapannya lebih mudah. Sehingga bentukan lafadz yang tadinya terdiri dari isim faa’l dan maf’ul bih menjadi bentukan lafadz idhofah, yaitu ضاربُ زيد.

    ——————–

    Sumber Bacaan :

    [1] Musthafa Al-Gholaayanii, Jaami’u Ad-Durus Al-‘Arobiy, (Mesir: Daar Ibnu Al-Jauzi, 2009), hal. 9.

    [2] Manshur, Al-Muharrar fi An-Nahwi Al-Mujalladu Ats-Tsaanii, (Mesir: Daar As-Salam), hal 937.

    [3] Ibid.,

    [4] Harun Rasyid Belaga, Al-Muwajjih Cara Mudah Belajar Bahasa Arab Bagi Pemula, (Bogor: Jami’iyyah Al-Wafa Al-Islamiyyah), hal. 16.

    [5] Ibid., hal. 102.

    [6] Manshur, Al-Muharrar fi An-Nahwi Al-Mujalladu Al-Awwal, (Mesir: Daar As-Salam), hal 246-247.

    [7] Mahmud Ismail shiiniy, Al-Qowaaid Al-‘Arobiyah Al-Muyassaroh Al-Kitabu Al-Awwal, (Ar-Riyadh: ‘Imadatu syu’uuni Al-Maktabat, 2454 H), hal. 45.

    [8] Ibid.,

    [9] Manshur, Al-Muharrar fi An-Nahwi Al-Mujalladu Ats-Tsaanii, (Mesir: Daar As-Salam), hal 937-942.

    (alghifariyah)

  38. tev riztia mengatakan:

    jazakallohu khoeru……
    semoga Alloh merahmati dan menjadi penerang di alam kubur kelak.. amiin…

    —–

    Amien… Tks.

  39. agus mengatakan:

    assalamualaikum,mhon dong kiat caranya belajar alat biara bisa baca kitab .pertama yang harus dilakukan apa dulu ya ?

    Sorogkan kitab alat ini kepada guru yg faham. Hapalkan definisi2nya. Pahami maksudnya. Latihan dg contoh2. Mutholaah. Ikuti petunjuk2 guru ini.

  40. ahmad mengatakan:

    assalamualaikum….
    afwan jiddan menurut kitab al jurumiyah …
    bukan imam al sinhaji tapi imam shonhaji

    —–

    wa ‘alaikumussalam,
    boleh juga aksennya begitu, tapi bisa juga dibaca dengan meng-kasrahkan ‘shod’ nya ; shinhaji, sbg indikasi muasal pengarang dari kabilah shinhajah. nama lain terkenal beliau adalah juga ibnu ajjurum. adapun nama aslinya adalah Abi Abdillah Muhammad bin Muhammad bin Dawud Al-Shinhaji. Atau biasa kita kenal pula imam shonhaji, dg mem-fatah-kan ‘shodnya’. tks.

  41. ridho mengatakan:

    saya ingin imiriti tpi dalam format mp3

  42. ihsanuddin1 mengatakan:

    syukron…..! jazaka allahu khoiron…

  43. Syukron atas izin Downloadnya Kitab Jurumiah dan kitab2 lainya

    —-

    Semoga bermanfaat … :)

    Salam,

  44. kholis mengatakan:

    Tolong jelaskan tentang lafadh yang dibaca shilah dan imalah

  45. mughn mengatakan:

    ass..
    kenapa kok isim isyaroh itu harus hadza, hadzaani haa ulaa’i… dst..

    • idan mengatakan:

      Bisa baca ini :

      اِسْم إِشَارَة
      ISIM ISYARAH (Kata Tunjuk)

      Untuk lebih memahami penggunaan Mudzakkar dan Muannats, serta Mufrad, Mutsanna dan Jamak dalam pengelompokan Isim, kita akan mempelajari tentang Isim Isyarah atau Kata Tunjuk dan Isim Maushul atau Kata Sambung.

      Pertama, Isim Isyarah. Pada dasarnya, ada dua macam Kata Tunjuk:

      1) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang dekat: هَذَا (=ini).
      Contoh dalam kalimat: هَذَا كِتَابٌ (= ini sebuah buku)
      2) Isim Isyarah atau Kata Tunjuk untuk yang jauh: ذَلِكَ (=itu).
      Contoh dalam kalimat: ذَلِكَ كِتَابٌ (= itu sebuah buku)

      Bila Isim Isyarah itu menunjuk kepada Isim Muannats maka:

      1) هَذَا menjadi: هَذِهِ (=ini). Contoh: هَذِهِ مَجَلَّةٌ (= ini sebuah majalah)

      2) ذَلِكَ menjadi: تِلْكَ (=itu). Contoh: تِلْكَ مَجَلَّةٌ (= itu sebuah majalah)

      Adapun bila Isim yang ditunjuk itu adalah Mutsanna (Dual), maka:

      1) هَذَا menjadi هَذَانِ. Contoh: هَذَانِ كِتَابَانِ (= ini dua buah buku)

      2) هَذِهِ menjadi هَتَانِ. Contoh: هَتَانِ مَجَلَّتَانِ (= ini dua buah majalah)

      3) ذَلِكَ menjadi ذَانِكَ. Contoh: ذَانِكَ كِتَابَانِ (= itu dua buah buku)

      4) تِلْكَ menjadi تَانِكَ. Contoh: تَانِكَ مَجَلَّتَانِ (= itu dua buah majalah)

      Sedangkan bila Isim yang ditunjuk itu adalah Jamak (lebih dari dua):

      1) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah tidak berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَذِهِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan تِلْكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
      هَذِهِ كُتُبٌ(= ini buku-buku); هَذِهِ مَجَلاَّتٌ (= ini majalah-majalah)
      تِلْكَ كُتُبٌ (= itu buku-buku); تِلْكَ مَجَلاَّتٌ (= itu majalah-majalah)

      2) Bila Isim yang ditunjuk itu adalah berakal, maka baik Isim Mudzakkar maupun Isim Muannats, menggunakan: هَؤُلاَءِ (=ini) untuk menunjuk yang dekat dan أُولَئِكَ (=itu) untuk menunjuk yang jauh. Contoh dalam kalimat:
      هَؤُلاَءِ طُلاَّبٌ (= ini siswa-siswa); هَؤُلاَءِ طَالِبَاتٌ (= ini siswi-siswi)
      أُولَئِكَ طُلاَّبٌ (= itu siswa-siswa); أُولَئِكَ طَالِبَاتٌ (= itu siswi-siswi)

    • hiban mengatakan:

      supaya tidak berat.
      di mutamimmah disebutkan, ada kaol hijaz, ada kaol bani tamimi.
      dasarnya, asal mufrodat isim isyaroh ini -dza, dzihi, atau uulaai (ada mad)-.
      kedalamnya boleh memasukkan kata tanbih/huruf penambah -haa- menjadi -haa dza, haa dzihi, haa ulaa’i-.

      di alfiyah dikatakan begini :

      بِذَا لِمُفْــــــرَدٍ مُذَكَّــــــرٍ أَشِـــــــرْ # بِذِي وَذِهْ تِي تَا عَلَى الأنْثَى اقْتَصِرْ

      Menunjuklah kamu! dengan menggunakan

      ذَا

      untuk kata tunjuk mufrad mudzakkar.
      Dan ambil cukupkanlah! dengan menggunakan

      ذي – ذه – تي

      – dan

      تا

      untuk kata tunjuk mufrad mu’annats.

      Kecuali untuk kata tunjuk jauh ;

      Penggunaan Kata Tunjuk Jauh

      بِالْكَافِ حَرْفَاً دُوْنَ لاَمٍ أَوْ مَعَهْ # وَالَّلامُ إنْ قَدَّمْـــتَ هَـا مُمْتَنِـــعَهْ

      Dengan menambah huruf Kaf dengan tanpa Lam atau menyertainya (menjadi)

      داك

      atau

      ذالك

      Penggunaan tambahan Lam itu dicegah apabila kamu mendahulukan dengan huruf Tanbih

      هَا

      menjadi :

      هَذَاكَ

      tidak boleh

      هَذَالِكَ

      selanjutnya bisa berubah tergantung pada kata yg dimasukinya ; dst.

      tks sahabat2…

  46. solikin mengatakan:

    sukron kasiron ya akhi jawabuhu,.,.
    (terima kasih atas jawabannya)

  47. awal mengatakan:

    ms mau tanya apa yg di maksud dengan bina’ dan bina’ itu di bagi mnjadi brapa and sbutkan

  48. ahmad mu'allam mengatakan:

    ust.
    bisa jelaskan tetntag khobar yang harus muthobiq dg mubtada’nya??
    di al-imrithy kan di jelaskan
    walkhobarusmundzurtifa’in usnida..
    muthobiqinfilafdzihililmubtada..
    yang intinya khobar harus mencocoki mubtadak sebelumnya.. bila dia mudzakkar, khobar pun dmikian, mubtada’ mufrod khobar juga harus mufrod dan seterusnya

    tapi ada contoh dalam sebuah kitab seperti ini…

    al-‘ilmu ilmaani….
    (ta’limul muta’alim)
    nah itu kan jelas khobar tidak muthobiq dgan mubtada’nya,.,…
    bisa di jelaskan…
    mungkin ada pengecualian tersendiri gitu???
    ‘afwan

    (mazkaamani@ymail.com)

  49. yusuf mengatakan:

    se’tau saya jurumiyah itu arti nya adalah tata bahasa atau grammer,

  50. H. Nasruddin mengatakan:

    Ass.Wr.Wb.
    saya agak risi mendengar kalo ada orang menjatuhkan kekafiran Abu thalib padahal beliau adalah paman kesayangan Rasulullah. saya kepingin paham ulasan syekh Zaini Dahlan dalam kitabnya Asnal matholib fi najati Abu thalib. Tanya ada enggak sih terjemahannya ? supaya saya jelas duduk soalnya
    Saya sangat mengapresiasi mas iqbal boleh di cantumkan bio datanya
    Wass.Wr.Wb
    Terimakasih.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: