Kisah : Sunan Geseng, Lilo-Lilo…

Pada suatu siang yang terik, Sunan Kalijaga berjalan melewati pepohonan siwalan (Enau, Nira, Kawung). Di atas pohon tersebut ada seorang lelaki tua bernama Cokrojoyo dari Desa Gesing sedang men-deres buah siwalan (Mengambil sari siwalan untuk dibuat gula nila ; Nyadap Kawung). Sambil melepas lelah di bawah pohon itu, Sunan Kalijaga mendengar Cokrojoyo menyanyikan sebuah tembang ;

“Lilo-lilo … lilo-lilo … lilo-lilo …”

Berulang kali tembang itu dinyanyikannya. Sang Sunan menikmatinya dengan seksama dan penuh pesona. Hingga si pen-deres turun dari pohon siwalan.

“Lilo-lilo … gerangan tembang apakah itu, Kek?”.

“Alah, kisanak, tiap hari aku bekerja seperti ini, sebagai buruh pen-deres siwalan. Agar hidup yang susah ini tidak terasa susahnya, ya tak lilo-lilo (Ya disabar-sabarkan, menyabarkan diri)”.

“Bisakah diganti dengan yang lebih baik, Kek?”.

“Diganti yang bagaimana, Kisanak ?”.

“Laa ilaaha illallooh”.

Sejak itu, Cokrojoyo menjadi murid Sang Sunan dengan gelar Sunan Geseng,- (***).

(Konon menurut ceritanya ; Setelah perjumpaan yang singkat itu, keduanya berpisah. Sekian waktu kemudian, Cokrojoyo bertekad untuk berguru kepada sang Sunan. Suatu saat mereka bertemu. Sunan Kalijaga lalu menancapkan sebatang bambu di depan Cokrojoyo dan sebelum meninggalkannya, ia memintanya untuk menjaga batang bambu tersebut hingga kembali. Cokrojoyo pun mematuhi perintah gurunya itu dan menungunya hingga batang bambu tersebut menjadi “barongan” (Rerimbun pohon bambu). Sekian lama kemudian, kembalilah Sunan Kalijaga dan mendapati Cokrojoyo masih setia di tempat itu. Lalu, sang Sunan membakar barongan itu hingga lantak. Tubuh Cokrojoyo hangus seperti arang, namun tidak terbakar. Sejak itu, Cokrojoyo berjuluk Sunan Geseng. Hingga kini, makam Sunan Geseng masih berkabut misteri ; ada yang di Pakah Gesing Tuban, ada yang di Tirto Magelang, juga di Grabak Magelang).*** (Sumber : Geger Kiai, Catatan Mistis sang Kembara ; 98-99).

About these ads

19 Balasan ke Kisah : Sunan Geseng, Lilo-Lilo…

  1. rw021 mengatakan:

    Subhanalloh ;

    SEBUAH catatan atas fenomena –seremeh apa pun– tentu bukanlah sebuah kejadian yang sia-sia. Tuhan telah menciptakan fenomena tersebut sebagai pelajaran berharga bagi kehidupan. Sekecil apapun, di sana terdapat hikmah bagi manusia-manusia yang terbuka mata hatinya. Kepada umatnya, nabi pernah bersabda, “Hikmah adalah barang yang hilang dari perbendaharaan kaum muslim. Barang siapa yang menemukannya, dia lebih berhak memungutnya.”

    Buku “GEGER KIAI ; Catatan Mistis Sang Kembara, Penulis Fahruddin Nasrullah, Penerbit Pustaka Pesantren Yogyakarta ; menawarkan kepada siapa pun untuk memungut hikmah-hikmah yang tercecer itu, baik dari cerita lisan, pengalaman pribadi, ataupun lainnya. Wallohu ‘alam.

    • pulung djati p mengatakan:

      setuju sekali, sampaikan pengetahuan dan kebenaran itu walau seayat, saya mendukung sekali, buat siapa saja yg dapat menggali dan menguak sejarah, karna bangsa yg besar adalah bangsa yg menghargai jasa para pahlawan, wali dan pendahulunya sekian terima kasih banyak….

  2. gus cus mengatakan:

    tiada mustahil didunia ini jika kita beriman dan bertakwa

  3. pulung djati p mengatakan:

    sunan geseng atau raden mas cokro joyo aslinya adalah dari desa bagelen purworejo jateng, karna beliau masih turunan nyai ageng bagelen bangsawan dari mojopahit, dan mataram hindu, karna pusat mataram hindu dulunya ada di bagelen,kec, bagelen purworejo jateng ada jga tinggalannya mesjid tua tiban sunan geseng di bagelen beserta makam makam hindu tua jawa tengah. tidak percaya silahkan disurvey ok.

    • iqbal1 mengatakan:

      Tks telah menyimak dan memberi masukan, semoga bermanfat.
      Syahdan Nyai Ageng Bagelen ini bernama Nyai Sarinten (Ratu Roro Rengganis), lokasinya sebelah timur kali Bogowonto – Kec. Bagelen – Kab. Purworejo. Dari namanya ini menunjukkan kebangsawanan asal Majapahit. Dalam versi ini, Bagelen (Pegelan) menjadi asal muasal Purworejo. Sunan Geseng (Cokrojoyo), mengadopsi budaya setempat (Tantularisme) -sebagaimana Sunan Kalijaga- untuk internalisasi Islam di Bagelen.
      Sunan Kalijaga sendiri (Bersama aulia lainnya) dikenal pula yg mengislamkan bangsawan2 turunan terakhir Majapahit, berujung dg pendirian Kerajaan Islam Demak, Pajang, Mataram, dst.
      Wallohu a’lam.

  4. pulung djati p mengatakan:

    terima kasih mas iqbal, saya sangat senang sekali, jika anda ada info2 yang menguatkan sejarah bagelen, sunan geseng, mohon ditampilkan, mungkin sangat berguna untuk pengetahuan sejarah bagi rakyat indonesia umumnya, purworejo kususnya, mohon di infokan jika punya data2 yang akurat, terima kasih banyak wassalam.

  5. anas mengatakan:

    ceritanya yng lengkap donk

  6. sabur mengatakan:

    Mohon izin untuk saya bagikan di facebook

  7. ida widayanti mengatakan:

    bolehkah saya mendapatkan informasi/buku mengenai cerita selengkapnya para sunan yang ada di Indonesia tanks untuk informasinya

    • iqbal1 mengatakan:

      Sekedar pengantar silakan baca buku “Legenda & Sejarah Lengkap Wali Songo”, editor MB Rahimsah, penerbit “Amanah” – Surabaya.

      Informasi keberadaan Walisongo atau sunan yg lainnya, di berbagai literatur banyak versinya dan tak jarang ada juga kontroversinya, semisal dalam “Babad Tanah Jawi”.

      Meski ada kontroversi, kisah2 nya cukup menarik hati. Banyak sekali hikmah yg dapat dipetik dalam strategi penyebaran agama Islam oleh para aulia tsb. Hingga Islam diterima dan dianut oleh kalangan jelata, bangsawan sampai raja-raja di Jawa khususnya, dan Nusantara ini umumny.

      Baik juga dibaca/dipelajari tentang ajaran dan sejarah Islam, semisal buku “Sirah Nabawiyah”, atau yg lainnya secara komprehensif. Karena ada benang merah yg berkaitan. Sebagai faktanya, ternyata para sunan di Nusantara ini mempunyai keterkaitan, baik langsung atau tdk langsung sebagai duriyah Rasululloh SAW.

      Di tataran Pasundan, Banten, Cirebon serta sekitarnya di Jawa bagian Barat, keberadaan Walisongo diterima keberadaannya, antara lain fakta adanya peninggalan Sunan Gunung Jati pendiri Kasultanan Cirebon, dan Kasultanan Banten.

      Semoga bermanfaat, serta tks atas kunjungan serta komentarnya disini.

  8. agus mufrodi mengatakan:

    klo boleh tw apa ada sejarahnya yg lengkap
    sinuhun eyang cokrojoyo soenan geseng yg di tuban
    mtrsuwun

  9. abu hanan mengatakan:

    assalamualaikum
    suatu hari ketika melintas di kawasan tuban,terbesit niat utk memotong jalan dari pantai ke arah babat.Kemudian perasaan lain menghampiri saya kemudian menoleh ke kanan dan terbaca tulisan makam Sunan Gesing.Alkisah,beliau adalah murid dari Sunan Maulana Malik Ibrahim Gresik.Benarkah demikian?
    Wallahu’alam.
    wassalam

    ———-

    Wa’ alaikumussalam ;

    Tks telah berkunjung serta menyimak dan memberikan komentar di blog ana ; Mas Abu Hanan… semoga silaturahmi ini terjalin adanya…

    Makam Sunan Geseng, legendanya ada beberapa tempat mas. Konon, hingga kini, masih berkabut misteri ; antara lain ada yang di Pakah Gesing Tuban, ada yang di Tirto Magelang, juga di Grabak Magelang (Sumber : Geger Kiai, Catatan Mistis sang Kembara ; 98-99).

    Tentang hubungan para sunan yg tergabung dalam walisongo atau auliya yg lainnya, memang sangat erat, geneologis, kekerabatan atau patron. Dapat sebagai orang tua kandung, menantu, saudara, teman atau murid/santri, pengikut, atau lainnya. Antara yg satu dg yg lainnya berhubungan erat. Hanya, kronologis waktu yg kadang belum akurat.

    Pengalaman ana sendiri, mendapat ijazah du’a ausil kepada walisongo dari beberapa sumber yg sangat punya otoritas, cukup menjadi sanad. Waktu ziarah ke Ampel, atau beberapa tempat lainnya, semuanya tambah jelas adanya dan bukan hanya cerita atau mitos.

    Mudah2an kecintaan umat Islam kepada para ulama auliya Alloh SWT yg mempunyai derajat mulya disisi-Nya, senantiasa menjadikan hatinya dekat kepada-Nya. Atas washilah serta jasa para ulamalah kita mengenal Islam, ajaran agama yang diridloi-Nya. Ingin mengais kebahagiaan yg hakiki fiddunya wal akhiroh.. Amien.
    Walloohu subhaana wa ta ‘alaa bil a’lam.

    Ini ada sedikit sumber dari wikipedia, klik http://id.wikipedia.org/wiki/Walisongo

    Wassalam,
    Iqbal.

  10. m ags mfrd mengatakan:

    nderek matur. menaw� boten lepat. wonten jolo sutro. pesarean soenan geseng tjokrojoyo . ugi wonten. matur suwun

    Inggih kang mas, matur suwun. :)

  11. umar subekti mengatakan:

    di kediri jawa timur juga terdapat makam sunan geseng dan kebetulan saya pribadi juga beberapa kali singgah di tempat itu, mohon informasinya jika pembaca ada yang tahu apakah makam sunan geseng yang dikediri juga makam orang yang sama dg yang dimaksud penulis di atas

  12. veri ceme mengatakan:

    makam sunaN geseng wonten ing jolo sutro pandean kec.piungan kab.bantul D.I.YOGYAKARTA

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: