Humor : Tarbiyah, Do’a Kubur

Suatu ketika Kyai NU bertemu dengan seseorang yang tidak percaya kalau do’a yang dikirimkan kepada ahli kubur akan sampai. Kontan saja terjadi dialog antara ketua umum PBNU ini dengan orang tersebut yang diketahui tidak sepaham dengan orang NU.

“Kami tidak percaya akan do’a yang dikirimkan kepada ahli kubur, karena tidak akan sampai pada yang bersangkutan”, ujar orang tersebut kepada Kyai.

“Lho, bacaan itu untuk mendo’akan orang yang sudah wafat agar terhindar dari siksa kubur. Itu do’a baik” . Jelas Kyai.

“Tidak mungkin sampai, pak kyai. Masak orang mati bisa dikirimi do’a, jelas tidak akan bisa sampai”, bantah orang tadi ngotot.

Saking sulitnya orang tersebut mau menerima penjelasan dengan berbagai dalil-dalil yang ada, Kyai NU memberikan pemahaman dengan cara sederhana.

“Kalau sampeyan tidak percaya, sekarang orang tua sampeyan saya do’akan semoga mendapat siksa dari Allah SWT dan masuk neraka. Saya mendo’akan gini sampeyan tidak boleh marah lho, karena do’a itu tidak akan sampai”. Kata Kyai sedikit bergurau.

Sontak saja, orang tadi bingung dan akhirnya mempercayai akan do’a yang dikirimkan bagi ahli kubur. *** (NU-Online)

About these ads

12 Balasan ke Humor : Tarbiyah, Do’a Kubur

  1. ahmad mengatakan:

    sungguh bodoh… tidak ada muslim yang menolak bahwa doa kepada ahli mayyit akan sampai kepada ahli mayyit… yang banyak di tolak oleh para ulama adalah kiriman pahala dan bacaan al quran kepada ahli mayyit.. bacaan al fatihah.. yasin.. waqi’ah..dan sebagainya. keyakinan tertolaknya kiriman pahala ini diyakini oleh imam syafii dan pengikut madzhabnya diantaranya al imam ibnu katisr dalam tafsirnya dengan membuat kaidah ” lau kaana khoiron lasabaquunaa ilaih “…

    • iqbal1 mengatakan:

      He..3x ;) , humor, bisa sangat bodoh bagi yg tdk punya selera humor, bisa sangat cerdas bagi yg arif bijaksana. Fenomena perbedaan pendapat adalah keniscayaan, kecuali setelah adanya ketentuan yg qoth’i atau ijma atas ijtihadi.

      Istinbath tentang sampainya kiriman pahala dan bacaan al-qur’an kepada ahli mayyit, telah sepakat/ijma semua ulama madhab Imam Syafi’ie atas bermanfaatnya dan “Sampai” kepada mayit. Ditahsish Sunat dibacanya di samping kubur ybs, niat ditujukan kepada ybs dan di-du’akan untuk mayit tsb.

      Sedangkan segolongan ulama menginterpretasikan “Tidak sampai”, dalam kasus bila bacaan al-qur’an tdk dilakukan di hadapan mayit ybs., dan pembaca tdk berniat agar pahala bacaannya buat mayit. Atau dia berniat, tetapi tdk ber-do’a untuknya.

      Ini dg jelas disimpulkan seperti itu, Mu’tamad.
      (Lihat Fathul Mu’in -Bab Wasiat- ; Iaanatuth-thoolibien, Juz 3, hal. 220-222).

      Memang, dalam soal bacaan al-qur’an Imam Syafi’ie Rohimahulloh mempunyai dua fatwa, sekali beliau mengatakan pahala bacaan bisa sampai kepada mayit, dan sekali beliau mengatakan bahwa pahala bacaan ayat suci tidak bisa dihadiahkan. Tetapi kemudian ditahsish dg istinbath dan tashih seperti dalam keterangan Syarah Iaa-nah di atas.
      Pendapat yg menyatakan tdk dapat dihadiahkan, dinyatakan dho’if. Dan karenanya tidak dipakai dalam kalangan Ulama Madhab Imam Syafi’ie. (Qouluhu laa yashilu tsawabuhaa, dhoiefun. Wa qouluhu, wa qoola ba’dhu ash-habinaa yashilu, mu’tamadun. -Bujairomie- ; Ibid, 221).

      Tks atas komentarnya, mudah2an tdk ada distorsi. “Kullu ma’ruufin, shodaqotun”. Wallohu ‘alam.

  2. idan mengatakan:

    Pahala bacaan sampai kepada mayyit

    Yang seringkali diperdebatkan bukan masalah mendoakan orang mati, tetapi masalah pengiriman pahala ibadah orang yang masih hidup untuk di”transfer” kepada orang yang sudah mati.

    Sebagian ulama menyatakan bahwa pahala yang didapat seseorang dari Allah SWT karena dia melakukan suatu perbuatan baik, tidak bisa dipindah-pindahkan ke orang lain. Sebagian lagi membedakan antara pahala yang bersifat ibadah maliyah (terkait dengan harta) dengan yang bukan. Mereka mengatakan kalau ibadahnya bersifat maliyah, pahala bisa dipindah-pindakan kepada orang lain. Dan ulama lainnya mengatakan bahwa segala bentuk ibadah apapun, baik maliyah atau bukan, semua bisa dipindahkan kepada orang lain.

    Dengan adanya perbedaan pendapat di atas, maka urusan membaca Al-Quran dengan niat pahala dikirimkan kepada jenazah yang sudah wafat, otomatis menjadi masalah khilafiyah di kalangan para ulama. Sebagian mereka mengatakan tidak ada gunanya baca yasin, zikir dan tahlil bila diniatkan agar pahalanya bisa disampaikan kepada orang meninggal. Karena pahala tidak bisa ditransfer.

    Sedangkan yang lainnya mengatakan bisa disampaikan. Karena pahala adalah hak setiap orang, maka tiap orang berhak untuk memberikannya kepada siapa saja yang dikehendakinya.

    Wasiat Ibn Umar dalam kitab Syarh Aqidah Thahawiyah hal : 458

    نقل عن ابن عمر رضي الله عنه انه اوصى ان يقرأ على قبره وقت الدفن بفواتح سورة البقرة وخواتمها ونقل ايضا عن بعض المهاجرين قرائته سورة البقرة

    “diriwayatkan Ibn Umar ra. berwasiat agar dibacakan awal surat Al-Baqarah dan akhirnya di atas kuburnya seusai pemakaman. Demikian juga dinukil dari sebagian shahabat Muhajirin adanya pembacaan surat Al-Baqarah”.

    Hadist ini menjadi dasar pendapat Muhammad bin Hasan dan Ahmad bin Hambal padahal Imam Ahmad sebelumnya pernah mengingkari sampainya pahala dari orang yang hidup kepada orang yang sudah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang yang terpercaya tentang wasiat ibnu Umar, Beliaupun mencabut pengingkarannya. [Mukhtasar Tazkirah Qurtubi hal.25].

    Disebutkan imam Ahmad bin Hambal berkata : ” sampai kepada mayyit [ pahala ] setiap kebaikan karena adanya nash–nash yang menerangkannya dan juga kaum muslimin berkumpul di setiap negeri untuk membaca alquran dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal. Hal ini terjadi tanpa ada yang mengingkari ,maka jadilah ijma’ (Yas’aluunaka fid din wal hayat oleh Dr.Ahmad Syarbasi jilid III/423)

    Hadis dalam sunan Baihaqi dengan isnad hasan :

    أن ابن عمر إستحب أن يقرأ على القبر بعد الدفن أول سورة البقرة وخاتمها

    “sesungguhnya Ibnu Umar menganjurkan untuk dibacakan awal surat al-Baqoroh dan akhirnya diatas kuburan seusai pemakaman”

    Hadist ini mirip dengan wasiat Ibn Umar, bahkan di sini dinyatakan dianjurkan.

    Hadist riwayat Daruquthni :

    من دخل القبور فقرأ قل هو الله أحد إحدى عشرة مرة ثم وهب ثوابها للأموات أعطي من الأجر بعدد الأموات

    “barang siapa masuk ke pekuburan lalu membaca surat Al-Ikhlas 11 kali kemudian menghadiahkan pahalanya kepada para mayit (dikuburan itu) maka ia diberi pahala sebanyak orang yang mati di tempat itu“

    Hadist marfu’ riwayat Hafiz as-Salafi :

    من مر بالمقابر فقرأ قل هو الله إحدى عشرة مرة ثم وهب أجره للأموات أعطي من الأجر بعدد الأموات

    barang siapa melewati pekuburan lalu membaca surat Al-Ikhlas 11 kali kemudian menghadiahkan pahalanya kepada para mayit (dikuburan itu) maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu “ (mukhtasar Al-Qurtubi hal. 26)

    Syaikh Muhammad Makhluf, (mantan mufti mesir) berkata : “Tokoh-tokoh madzhab Hanafi berpendapat setiap orang melakukan ibadah baik sedekah atau bacaan al Qur’an atau lainnya dari macam-macam kebaikan, dapat dihadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahala itu akan sampai kepadanya”.

    Syaik Ali Ma’sum berkata : “dalam madzhab Maliki tidak ada khilaf akan sampainya pahala sedekah kepada mayyit. Namun ada khilaf pada bacaan al Qur’an untuk mayyit . Menurut dasar Madzhab hukumnya makruh. Para ulama’-ulama’ muta’akhirin berpendapat boleh melakukannya dan menjadi dasar untuk diamalkan. Dengan demikian maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayyit. Ibn Farhun menukil bahwa pendapat akhir inilah yang rojih dan kuat”. [Hujjatu ahlis sunnah Wal jama’ah hal.15]

    Dalam kitab Al-Majmu’ jilid 15/522 : “berkata Ibn Nahwi dalam syarah minhaj : dalam madzhb Syafi’I menurut qaul yang mashur, pahala bacaan tidak sampai, tapi menurut qaul yang muhtar, sampai apabila di mohonkan kepada Allah agar disampaikan bacaan tersebut”

    Imam Ibn Qoyyim al- Jauziyyah berkata “yang paling utama dihadiahkan kepada mayit adalah sedekah, istighfar, do’a untuknya dan haji atas namanya. Adapun bacaan al-Qur’an serta menghadiahkan pahalanya kepada mayit dengan cara sukarela tanpa imbalan, akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji sampai kepadanya.” [Yas’alunaka fid din wal-hayat jilid I/442]

    Ibn Taymiyyah pernah ditanya tentang bacaan Al-Qur’an untuk mayyit juga tasbih, tahlil, dan takbir jika dihadiahkan kepada mayyit, apakah sampai pahalanya atau tidak? Beliau menjawab sebagaimana tersebut dalam kitab beliau Majmu’ Fatawa jilid 24 hal. 324 : “sampai kepada mayyit bacaan Al-Qur’an dari keluarganya demikian tasbih, takbir serta seluruh dzikir mereka apabila mereka menghadiahkan pahalanya kepada mayyit akan sampai pula kepadanya”.

    سئل : عن قراءة اهل الميت تصل اليه ؟ والتسبيح والتحميد والتهليل والتكبير، اذا اهداه الى الميت يصل اليه ثوابها ام لا ؟ فأجاب : يصل الى الميت قراءة اهله، وتسبيحهم وتكبيرهم وسائر ذكرهم لله تعالى، اذا اهدوه الى الميت وصل اليه، والله اعلم

  3. mohamad faridudin mengatakan:

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Terima kasih atas dorongan morilnya. Semoga kita senantiasa dalam Lindungan dan Ridlo Allah SWT.

    Saya mohon ijin meng-Add link blog Bapak di blog saya, tujuannya tiada lain untuk Share dg yang lain.

    Hormat Saya
    Mohamad Faridudin

  4. husnimubarok mengatakan:

    asslmua’alkm… blhkah kami ikut bergabung….? karena pembahsan ini sangat penting, apalagi dikalangan zaman sekarang. orang awam kadang-kadang hanya mau membaca yang instan-instan…… dengan dicantumkannya referensi2 yang lebih banyak akan lebih mmprkuat kebenarannya..

    ———–

    Wa ‘alaikumussalam,
    Tks akhi husni telah berkunjung serta menyimak. Semoga ada manfaat yg dapat dipetik.
    wassalam,

  5. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,,, ajengan anom

    Humornya mantab,,,(ijin sy jadikan inspirasi, keknya ada kaitan dng postinga sy http://debu-semesta.blogspot.com/2011/03/boleh-ga-sih-ziarah-qubur.html)

    Ijinkan sy menganalisa statementnya kritis di atas,,,

    statemen 1 : sungguh bodoh… TIDAK ADA muslim YANG MENOLAK bahwa DOA KEPADA AHLI MAYYIT AKAN SAMPAI kepada ahli mayyit… yang banyak di tolak oleh para ulama adalah kiriman pahala dan bacaan al quran kepada ahli mayyit.. (koment kontradiktif)
    >>> Yang simple aja, kita berdo’a saja untuk ahli mayyit kepada Allah Ta’ala, “Ya Allah, pahala bacaan alqur’an yg sy baca, saya hadiahkan untuk si mayyit. Semoga Engkau meridhoi”. Kan kita dah sepakat DOA KEPADA AHLI MAYYIT AKAN SAMPAI. Kalo isi do’anya gitu, ga salah kan ?

    statement 2 : Yang seringkali diperdebatkan bukan masalah mendoakan orang mati, tetapi masalah pengiriman pahala ibadah orang yang masih hidup untuk di”transfer” kepada orang yang sudah mati. (juga kontradiktif)
    >>> Sama dng yang pertama, kita berdo’a saja agar “transfer” pahala tersebut dikabulkan Allah Azza Wa Jalla. Dikabulkan, alhamdulillah… ga dikabulkan ya sudah. Simple kan ?

    ——–

    Tks Mas Samaranji, Setuju ; Jazakallohu khoeron katsiro…
    Se-mata2 melaksanakan perintah-Nya, berdo’a saja ; “Allahummaghfirlana wali ikhwanina alladzina sabaquuna bil Iman ; ya Allah ampunilah kami, dan saudara-saudara kami yang beriman yang telah mendahului kami…”. (Al-Hasyr : 10).

    Adalah keutamaan iman, yaitu adanya hak setiap mukmin yg telah meninggal dunia mendapatkan pahala dari perbuatan mukmin yg masih hidup dengan menghadiahkan pahala kepadanya. Saling memberi manfaat, tanpa sedikitpun mengurangi pahala yg dihadiahkannya.

    Bolehnya transfer pahala ini, misalnya bacaan qur’an, telah disepakati oleh ulama di lingkungan Madhab Imam Syai’i r.a. dg memanjatkan do’a ; “Allohummaa ausil tsawaba ma qoro’tahu min aayatil qur’anil adhiem lil arwaahi… dst.”. (Iaanath-thoolibien ; 3 : 222)

    Salam,
    Iqbal.

    • iqbal mengatakan:

      Catatan : “Sabaquuna bil ieman”, maksudnya seperti dikemukan dalam Hasyiyah Showi ‘Alat-Tafsir Jalalen, Juz 4, hal. 247, yaitu :

      Alladziena sabaquuna bil ieman = Ae bil mauti alaihi. (Tegasnya saudara2 seagama yg telah terdahulu meninggal dunia dengan membawa iman).

      Fayanbagie likulli waa hidin minal qooiliena lihadzal qouli an yaqshida biman sabaqohu man intaqola qoblahu min zamanihi ‘ilaa ashrin nabiyyiena SAW, fayadkhulu jamie’u man taqoddamahu minal muslimien, laa khususil muhaajiriena wal anshori. (Wallohu ‘alam).

      Maka perlu untuk setiap seseorang dari yang mengucapkan akan du’a ini bermaksud terhadap orang2 yg mendahului, tegasnya orang2 yg telah pindah tempat (dari alam dunia ke alam barzah) / meninggal, sebelum dari zamannya sampai ke masa Nabi SAW. Maka masuk semua orang yg mendahului dari org2 islam, tdk khusus saja muhajirin dan anshor.

  6. idan mengatakan:

    Mohon ijin posting kembali uraian tentang kontroversi sampainya pahala yg dihadiahkan kpd mayit yg sudah meninggal oleh yg masih hidup. Semoga bermanfaat.

    Penjelasan QS. an-Najm 39 Oleh Ulama Syafi’i dan Imam Madzhab :

    Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i menyebutkan qaul Imam Syafi’i didalam tafsirnya terkait QS. An-Najm : 39 sebagai berikut :

    “Dan dari ayat ini, Imam asy-Syafi’i dan orang yang mengikutinya beristinbat bahwa bacaan al-Qur’an tidak sampai menghadiahkan pahalanya kepada mayyit, karena itu bukan dari amal mereka dan bukan usaha mereka”.[2]

    Masalah : apakah qaul Imam asy-Syafi’i ini mutlak bahwa pahala bacaan al-Qur’an tidak sampai kepada orang mati ? atau terkait situasi atau kondisi tertentu ? Bagaimana penjelasan para ulama Syafi’iyah terkait qaul Imam asy-Syafi’i ini ?.

    Perlu diketahui bahwa qaul Imam asy-Syafi’i yang diatas ini telah di istilahkan oleh pembesar madzhab Syafi’iyah yakni Imam an-Nawawi dan para imam lainnya sebagai qaul masyhur, sedangkan qaul yang menyatakan sampainya pahala bacaan al-Qur’an untuk orang mati diistilahkan sebagai qaul Mukhtar yakni pendapat yang muktamad (kuat) yang dipilih atau dijadikan sebagai fatwa Madzhab, pendapat inilah yang juga dipegang oleh Imam tiga (Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad bin Hanbal). [3]

    Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Muhaddits al-Baihaqi (Ahl hadits bermadzhab Syafi’i) didalam Ma’rifatus Sunani wal Atsar :

    “Imam asy-Syafi’i berkata : aku menyukai seandainya dibacakan al-Qur’an disamping qubur dan dibacakan do’a untuk mayyit” [4]

    Imam al-Mawardi asy-Syafi’i telah menyebutkan didalam al-Hawi al-Kabiir :

    “adapun membaca al-Qur’an disisi qubur maka sungguh Imam asy-Syafi’i telah berkata : “aku memandang orang yang berpesan agar dibacakan al-Qur’an disamping quburnya adalah hasan (bagus) menurut kami”.[5]

    Imam an-Nawawi juga telah menyebutkan didalam kitab al-Adzkar :

    “Imam asy-Syafi’i dan sahabatnya (ulama lainnya) berkata : “disunnahkan untuk membaca sesuatu dari al-Qur’an disamping kubur”, mereka berkata : “apabila mengkhatamkaan al-Qur’an seluruhnya maka itu bagus”. [6]

    Ini adalah qaul Imam asy-Syafi’i yang justru menganjurkan membaca al-Qur’an untuk orang mati di samping kuburan. Oleh karena itu, para ulama Syafi’iyah seperti Syaikhul Islam Imam Zakariyya al-Anshari (Imam bermadzhab Syafi’i) dalam menyikapi qaul masyhur mengomentari sebagai berikut :

    “Dan apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur dibawa atas pengertian apabila pembacaannya tidak di hadapan mayyit, tidak meniatkan pahala bacaannya untuknya atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya bahkan Imam as-Subkiy berkata ; “yang menunjukkan atas hal itu (sampainya pahala) adalah hadits berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila diqashadkan (ditujukan) dengan bacaannya akan bermanfaat bagi mayyit dan diantara yang demikian, sungguh telah di tuturkannya didalam syarah ar-Raudlah”. [7]

    Syaikhul Islam al-Imam Ibnu Hajar al-Haitami (Imam bermadzhab Syafi’i) didalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa:

    “dan perkataan Imam asy-Syafi’i ini (membaca al-Qur’an disamping qubur) memperkuat pernyataan ulama-ulama Mutaakhkhirin dalam membawa pendapat masyhur diatas pengertian apabila tidak dihadapan mayyit atau apabila tidak mengiringinya dengan do’a”. [8]

    Lagi, dalam Tuhfatul Muhtaj :

    “sesungguhnya pendapat masyhur adalah diatas pengertian apabila pembacaan bukan dihadapan mayyit (hadlirnya mayyit), pembacanya tidak meniatkan pahala bacaannya untuk mayyit atau meniatkannya, dan tidak mendo’akannya untuk mayyit”.[9]

    Oleh karena itu Syaikh Sulaiman al-Jumal (Imam bermadzhab Syafi’i) didalam Futuuhat al-Wahab (Hasyiyatul Jumal) mengatakan sebagai berikut :

    “dan tahqiq bahwa bacaan al-Qur’an memberikan manfaat bagi mayyit dengan memenuhi salah satu syarat dari 3 syarat yakni apabila dibacakan dihadapan (disisi) orang mati, atau apabila di qashadkan (diniatkan/ditujukan) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh, atau mendo’akan (bacaaannya) untuk orang mati walaupun jaraknya jauh juga. Intahaa”.[10]

    “(Cabang) pahala bacaan al-Qur’an adalah bagi si pembaca dan pahalanya itu juga bisa sampai kepada mayyit apabila dibaca dihadapan orang mati, atau meniatkannya, atau menjadikan pahalanya untuk orang mati setelah selesai membaca menurut pendapat yang kuat (muktamad) tentang hal itu,…. Frasa (adapun pembacaan al-Qur’an –sampai akhir-), Imam Ramli berkata : pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayyit apabila telah ada salah satu dari 3 hal : membaca disamping quburnya, mendo’akan untuknya mengiringi pembacaan al-Qur’an dan meniatkan pahalanya sampai kepada orang mati.”[11]

    Imam an-Nawawi asy-Syafi’i (Imam bermadzhab Syafi’i)rahimahullah:

    “Dan yang dipilih agar berdo’a setelah pembacaan al-Qur’an : “ya Allah sampaikan (kepada Fulan) pahala apa yang telah aku baca”, wallahu a’lam”.[12]

    Al-‘Allamah Muhammad az-Zuhri (Imam bermadzhab Syafi’i) didalam As-Siraaj :

    “’Ulama mutaakhkhirin berpendapat atas bermanfaatnya pembacaan al-Qur’an, dan sepatutnya mengucapkan : “ya Allah sampaikan apa apa yang kami baca untuk fulan”, bahkan ini tidak khusus untuk qira’ah saja tetapi juga seluruh amal kebaikan boleh untuk memohon kepada Allah agar menjadikan pahalanya untuk mayyit, sungguh orang yang bershadaqah untuk mayyit tidak mengurangi pahalanya dirinya”.[13]

    Dari beberapa keterangan ulama-ulama Syafi’iyah diatas maka dapat disimpulkan bahwa qaul masyhur pun sebenarnya menyatakan sampai apabila al-Qur’an dibaca hadapan mayyit termasuk membaca disamping qubur, juga sampai apabila meniatkan pahalanya untuk orang mati yakni pahalanya ditujukan untuk orang mati, dan juga sampai apabila mendo’akan bacaan al-Qur’an yang telah dibaca agar disampaikan kepada orang yang mati.

    IMAM ABU HANIFAH, IMAM MALIK DAN IMAM AHMAD

    Al-‘Allamah Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi menuturkan didalam kitab I’anatuth Thalibin :

    “Sesungguhnya pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada orang mati seperti Madzhab Imam tiga (Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Ahmad). Selesai. [14]

    Imam Syamsuddin al-Khathib asy-Syarbini pun menuturkan didalam Mughni al-Muhtaj :

    “Mushannif (pengarang) telah menceritakan didalam Syarah Muslim dan al-Adzkar tentang sebuah pendapat, bahwa pahala bacaan al-Qur’an sampai kepada mayyit seperti Madzhab Imam 3 (Abu Hanifah, Malik, dan Ahmad), dan jamaa’ah dari Ashhab (Syafi’i) telah memilihnya, diantaranya Ibnu Shalah, al-Muhib, ath-Thabari, Ibnu Abid Dam, shahibu adz-Dzakhair, Ibnu Abi ‘Ashrun serta dengannya manusia (umat Islam) beramal, dan apa yang dipandang oleh kaum Muslimin sebagai sebuah kebaikan maka disisi Allah itu baik,
    Imam As-Subki berkata : dan yang menunjukkan atas hal itu adalah khabar (hadits) berdasarkan istinbath bahwa sebagian al-Qur’an apabila di qashadkan (ditujukan) dengannya niscaya akan memberikan manfaat kepada mayyit (orang mati) serta meringankan (siksanya) dengan manfaat tersebut, apabila telah tsabit bahwa sudah al-Fatihah tatkala seorang qari’ mengqashadkannya maka memberikan manfaat kepada orang yang terkena sengatan, dan Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam taqrir (membolehkan) terhadap hal itu dengan sabdanya “siapa yang memberi tahu bahwa surah al-Fatihah adalah ruqiyah ?”, maka apabila memberikan manfaat kepada orang hidup dengan mengqashadkannya maka manfaat kepada orang mati dengan mengqashadkanya itu lebih utama” – Selesai.[15]

    Catatan Kaki :
    [1] Lihat : al-Mughni li-Ibni Qudamah [2/424]
    [2] Tafsirul Qur’an al-‘Adzim lil-Imam Ibnu Katsir asy-Syafi’i [7/431].
    [3] Tuhfatul Muhtaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [7/73] ; Mughni Muhtaj lil-Imam al-Khatib as-Sarbini [4/110] ; I’anathuth Thalibin lil-Imam al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/258].
    [4] Ma’rifatus Sunani wal Atsar lil-Imam al-Baihaqi No. 7743.
    [5] Lihat : al-Hawi al-Kabir fiy Fiqh Madzhab asy-Syafi’i (Syarah Mukhtashar Muzanni) [3/26]
    [6] Lihat : al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi
    [7] Lihat : Fathul Wahab bisyarhi Minhajit Thullab lil-Imam Zakariyya al-Anshari asy-Syafi’i [2/23].
    [8] Lihat : al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubraa lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [2/27].
    [9] Lihat : Tuhfatul Muhtaj fiy Syarhi al-Minhaj lil-Imam Ibn Hajar al-Haitami [7/74].
    [10] Lihat : Futuhaat al-Wahab li-Syaikh Sulailman al-Jamal [2/210].
    [11] Ibid [4/67] ; Hasyiyah al-Bujairami ‘alaa Syarhi al-Minhaj [3/286].
    [12] Lihat : al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [15/522].
    [13] Lihat : as-Sirajul Wahaj ‘alaa Matni al-Minhaj lil-‘Allamah Muhammad az-Zuhri [1/344]
    [14] I’anathuth Thalibin lil-Imam al-Bakri Syatha ad-Dimyathi [3/258].

  7. ashofa2 mengatakan:

    Alhamdulillah, sangat bermanfaat bagi lingkungan kami… Ikut menambahkan keterangan dari Tafsir Khozin : QS.59:10 ; termasuk yg dipuji Alloh SWT org yg datang kemudian mengikuti muhajirin dan anshor hingga hari kiyamah ; memintakan ampunan untuk dirinya dan saudaranya seagama yg telah terlebih dahulu meninggal dunia dg membawa iman, dst…
    (Keadaan mayit di alam kubur, seperti yang tengah tenggelam butuh pertolongan. Bermanfaat, mayit merasa senang mendapat permintaan ampunan dari saudara seagamanya ini).

    ….الحشر : ( 10 ) والذين جاؤوا من…
    والذين جاؤوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ولا تجعل في قلوبنا غلا للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ” ( قوله تعالى : ( والذين جاؤوا من بعدهم ( يعني من بعد المهاجرين والأنصار وهم التابعون لهم إلى يوم القيامة ) يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا بالإيمان ( أخبر أنهم يدعون لأنفسهم بالمغفرة ولإخوانهم الذين سبقوهم بالإيمان ) ولا تجعل في قلوبنا غلاًّ ( أي غشاً وحسداً وبغضاً ) للذين آمنوا ربنا إنك رؤوف رحيم ( فكل من كان في قلبه غل أو بغض لأحد من أصحاب رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) ولم يترحم على جميعهم فإنه ليس ممن عناه الله بهذه الآية لأن الله تعالى رتب المؤمنين على ثلاث منازل المهاجرين ثم من بعدهم التابعون الموصوفون بما ذكر فمن لم يكن من التابعين بهذه الصفة كان خارجاً من أقسام المؤمنين وليس له في المسلمين نصيب وقال ابن أبي ليلى الناس على ثلاثة منازل الفقراء المهاجرون والذين تبوءوا الدار والإيمان والذين جاؤوا من بعدهم فاجتهد أن لا تكون خارجاً من هذه
    ________________________________________
    صفحة رقم 65
    الثلاث منازل
    ( ق ) عن أبي سعيد الخدري قال : قال رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) ( لا تسبوا أصحابي فلو أن أحدكم أنفق مثل أحد ذهباً ما بلغ مد أحدهم ولا نصيفه ) ( م ) عن عروة بن الزبير قال قالت عائشة ( يا ابن أختي أمروا أن يستغفروا لأصحاب رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فسبوهم ) عن عبد الله بن مغفل قال سمعت رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) يقول ( الله الله في أصحابي لا تتخذوهم غرضاً بعدي فمن أحبهم فبحبي أحبهم ومن أبغضهم فبغضبي أبغضهم ومن آذاهم فقد آذاني ومن آذاني فقد آذى الله ومن آذى الله فيوشك أن يأخذه ) أخرجه الترمذي وقال مالك بن أنس : من انتقص أحداً من أصحاب رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) أو كان في قلبه غل عليهم فليس له حق في فيء المسلمين ثم تلا هذه الآية ) ما أفاء الله على رسوله من أهل القرى ( ” – إلى – ) والذين جاؤوا من بعدهم ( ” – إلى – ) رؤوف رحيم ( ” وقال مالك بن مغول قال الشعبي يا مالك تفاضلت اليهود والنصارى على الرافضة بخصلة سئلت اليهود من خير أهل ملتكم ؟ قالوا أصحاب موسى وسئلت النصارى من خير أهل ملتكم ؟ قال حواري عيسى وسئلت الرافضة من شر أهل ملتكم ؟ فقالوا أصحاب محمد رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) أمروا أن يستغفروا لهم فسبوهم والسيف مسلول عليهم إلى يوم القيامة لا تقوم لهم راية ولا يثبت لهم قدم ولا تجمع لهم كلمة كلما أوقدوا ناراً للحرب أطفأها الله بسفك دمائهم وتفريق شملهم وإدحاض حجتهم أعاذنا الله وإياكم من الأهواء المضلة.
    وروي عن جابر قال قيل لعائشة إن ناساً يتناولون أصحاب رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) حتى أبا بكر وعمر فقالت وما تعجبون من هذا انقطع عنهم العمل فأحب الله أن لا يقطع عنهم الأجر.
    وروي أن ابن عباس سمع رجلاً ينال من أصحاب رسول الله ( صلى الله عليه وسلم ) فقال له : من أمن المهاجرين الأولين أنت ؟ قال لا قال أفمن الأنصار أنت ؟ قال لا قال فأنا أشهد بأنك لست من التابعين لهم بإحسان.
    )

    الكتاب : تفسير الخازن المسمى لباب التأويل في معاني التنزيل ( موافق للمطبوع )
    المؤلف : علاء الدين علي بن محمد بن إبراهيم البغدادي الشهير بالخازن
    دار النشر : دار الفكر – بيروت / لبنان –
    1399 هـ /1979 م
    عدد الأجزاء / 7
    [ ترقيم الشاملة موافق للمطبوع ]

    ——–

    Tks sahabat, setuju….

  8. Jack De Pirates mengatakan:

    kalau emang bacaan qur’an itu bisa dikirimkan, tolong dong kepada admin untuk membacakan al-qur’an sampai khatam stiap hari kirimkan ke orang tua saya ya…

    • anonymouse mengatakan:

      seharus nya andalah sendiri yg mendo’akan orang tua anda sendiri, dari sini nampak sekali anda anak tidak berbakti kepada kedua orangtua :(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.