Karya Anak Bangsa : Dirgantara Combat Helicopter “GANDIWA”

Atas kehormatan undangan dari Menejemen Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung kepada penulis untuk hadir dalam beberapa konferensi persnya beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah ada beberapa cuplikan yang  dapat penulis tuangkan disini.

Posting ini antara lain tentang Dirgantara Combat Helicopter “Gandiwa”. Sebuah sarana alat pertahanan keamanan berupa karya dari anak bangsa yang tergolong canggih. Bagi penulis ini sangat menarik dan perlu memberikan apresiasi, dan semoga bermanfaat bagi inspirasi pemerhati. Memang, cinta kepada bangsa dan tanah air dapat dilakukan dengan berbagai cara, -karya teknologi umpamanya-. Atas dedikasi tsb, publik mempunyai kepentingan mengetahui bagaimana akuntabilitasnya. Sebagaimana implementasi Undang-undang Kebebasan Informasi Publik (KIP).

Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA merupakan helikopter militer dengan peran utama sebagai pesawat/helikopter tempur, dengan kemampuan menyergap target di darat, seperti musuh infanteri dan kendaraan lapis baja. Dikarenakan helikopter ini dilengkapi dengan persenjataan berat, kadang disebut juga sebagai gunship helicopter. Karena helikopter ini juga dapat dipakai untuk melakukan penyerangan, maka biasa disebut juga sebagai helikopter serang (attackt helicopter).

Senjata yang digunakan pada helikopter tempur ini dapat mencakup autocannons, machine-guns, roket, dan peluru kendali seperti Hellfire. Selain itu helikopter ini juga mampu membawa rudal udara ke udara, meskipun sebagian besar untuk tujuan pertahanan diri.

Secara umum, Dirgantara Combat Helicopter memiliki dua tugas utama : Pertama, untuk memberikan dukungan udara secara langsung dan tepat bagi pasukan darat. Dan kedua, sebagai anti-tank, dimana tugasnya adalah menghancurkan kendaraan lapis baja miilik musuh.

Design Development

Helikopter tempur GANDIWA adalah helikopter dengan konfigurasi 2 orang crew (1 orang pilot dan 1 orang co-pilot/gunner) dengan posisi tandem. Helikopter ini memiliki dua buah engine dan satu buah dengan empat bilah composite bearingless rotor utama (main rotor) dan satu buah rotor ekor (tail rotor). Helikopter ini dilengkapi juga dengan wing pylon untuk mensupport persenjataan yang dibawanya.

Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA dikembangkan dengan memakai base helicopter Bell412. Modifikasi utama dilakukan dengan merubah konfigurasi dari konfigurasi side-by-side, menjadi konfigurasi tandem. Selain itu dilakukan desain support untuk senjata-senjata yang akan dibawa.

Main rotor, tail rotor, engine dan juga gearbox diusahakan tidak dilakukan perubahan besar dari basis helikopter. Avionik dan sistem diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan utama dari helikopter ini. Glass cockpit avionic system akan dipakai untuk memudahkan pilot dalam menjalankan misinya. Penambahan sistem senjata dan firing control juga menjadi hal utama yang dilakukan di dalam pengembangan helikopter ini.

Berat dan distribusi berat diusahakan tidak berubah banyak dari basis helikopter. Penumpang dan payload yang biasa dibawa oleh basis helikopter, diganti menjadi senjata dan amunisi pada helikopter tempur GANDIWA.

Sekilas Tentang “Gandiwa”

Andi_Ali_Syahbana_presentasi_Gandiwa_to_Menhan_Panglima_Alpahan_MabesNama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna.

Senjata panah sakti ini dilengkapi dengan tabung yang berisi panah yang tak terhingga jumlahnya.

Ctr. Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Dr. Andi Alisjahbana memberikan penjelasan ihwal “Gandiwa” ini kepada Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Para Kepala Staf Angkatan dan Petinggi TNI lainnya seusai Rapat Pimpinan TNI yang diikuti dengan Static Show Alat Pertahanan di Markas Besar TNI, Cilangkap .

Spesifikasi Teknis

Karakteristik umum

  • Crew: 2 (pilot, and co-pilot/gunner)
  • Length: 56 ft 1 in (17.1 m)
  • Rotor diameter: 46 ft 0 in (14.0 m)
  • Disc area: 1,662 ft² (154.4 m²)
  • Empty weight: 6,789 lb (3,079 kg)
  • Max takeoff weight: 11,900 lb (5,397 kg)
  • Powerplant: 2 × Pratt & Withney Canada. PT6T-3BE Twin Pac Turboshafts, 900 shp (671 kw) each
  • Fuselage length: 43 ft (13.1 m)

Performansi

  • Maximum speed: 140 knots (259 km/h)
  • Cruise speed: 122 knots (226 km/h)
  • Range: 402 nmi (745 km)
  • Service ceiling: 20,000 ft (6,096 m)
  • Rate of climb: 1,350 ft/min (6.86 m/s)
  • Power/mass: 0.2263 hp/lb (437 W/kg)

Persenjataan

  • Guns: 1× 30 × 113 mm (1.18 × 4.45 in) M230 Chain Gun with 1,200 rounds
  • Hardpoints: Four pylon stations on the stub wings.
  • Rockets: Hydra 70 70 mm, and CRV7 70 mm air-to-ground rockets
  • Missiles: Typically AGM-114 Hellfire variants; AIM-92 Stinger may also be carried.

(Iqbal1 ; Ref. Materi Pameran Alpahan dalam Rapim TNI, Cilangkap, Januari 2012 -dan di   Secapa-)

About these ads

7 Balasan ke Karya Anak Bangsa : Dirgantara Combat Helicopter “GANDIWA”

  1. Tototapalnise mengatakan:

    Semoga segera naik meja produksi sehingga prototype-nya bisa segera mengudara…mantap dah :D

    —–

    Tks mas atas kunjungannya … :)

    Salam,

  2. Siwi mengatakan:

    Spek teknisnya….. -___- ” ngaco apa ngasal?

    itu kan spek teknis dari helikopter apache bikinan US, kok bisa nyangkut ke gandiwa sih, jelas2 gandiwa itu pembangunannya di dasarkan heli bell 412 yg kelasnya jauh di bawah apache kok.

    di spek teknisnya jelas tertulis spek teknis itu untuk keluarga apache versi A-D(longbow)

    Tks atas perhatian anda :) . Design H/C Bell-412 tempur ‘Gandiwa’ versi ini speknya memamng seperti itu. Pengembangannya hasil kerjasama antara Direktorat Technology & Development PT. Dirgantara Indonesia (Persero) dengan Dislitbang TNI-AD.

    Semoga informasi -karya anak bangsa ini- bermanfaat.

    Salam,
    Iqbal, peserta konferensi Pers.

  3. Idan mengatakan:

    kami sangat bangga atas prestasi teknologi ‘gandiwa’ ; majulah gandiwa, kalahkan apache…

    Tks. Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA dikembangkan dengan memakai base helicopter Bell412. Modifikasi utama dilakukan dengan merubah konfigurasi dari konfigurasi side-by-side, menjadi konfigurasi tandem. Selain itu dilakukan desain support untuk senjata-senjata yang akan dibawa.

    Salam,

  4. Eka Erawansyah mengatakan:

    Mantap, coba hal ini dari dulu. Tapi perlu lebih ditekan lagi….agar lebih cepat produksi.

    —–

    Tks atas kunjungannya. Semoga lancar segala hal nya…

    salam, :)

  5. e triwulan mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokaatuh,

    Kami atas nama bidang promosi PT. Dirgantara Indonesia (Persero) mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya, serta menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas pemberitaan yang sangat bermanfaat seperti ini.

    Jazakallohu khoeron katsiro.

    Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokaatuh,

    Dra. Hj. E. Triwulaningsih / Bidang Promosi

    —-

    Sama-sama :)

    iqbal1

  6. idan mengatakan:

    Gandiwa: Heli Tempur Masa Depan Buatan Indonesia

    Bagi Indonesia punya program pesawat tempur masa depan macam KF-X/IF-X yang notabene masuk kategori jet tempur generasi 4,5 memang belum cukup. Maklumlah kebutuhan TNI akan alutsista tak hanya mentok pada urusan pesawat tempur. Sebagai contoh kebutuhan heli tempur dengan kemampuan serang sebagai “pelengkap” kehadiran pesawat tempur TNI juga sangat dibutuhkan dan semestinya tak boleh dilupakan. Apalagi jika yang dijaga adalah wilayah kepulauan seluas Indonesia. Kebutuhan itu tanpa melalui perdebatan panjang jelas wajib hukumnya.

    Kiat untuk menutupi kebutuhan heli serang bukannya tak pernah dilakukan. Bahkan karena kebutuhannya yang lumayan mendesak, PT Dirgantara Indonesia (PT DI) kemudian memodifikasi heli NBO-105 menjadi heli serang. Namun namanya juga heli hasil modifikasi, kemampuannya tak bisa di samakan dengan heli tempur murni. Selain itu heli serang ini lebih cocok untuk bantuan tembakan udara (close air support) bagi soft target seperti pasukan infanteri, truk militer, rantis dan ranpur ringan. Sedangkan untuk hard target macam tank lebih cocok diemban oleh heli tempur.

    Nah, berangkat dari kebutuhan heli tempur itulah PT DI berkreasi menciptakan konsep heli berkemampuan tempur sejati. Dengan kata lain PT DI sejak awal menggarap heli ini bagi keperluan tempur alias sebagai combat helicopter. Ini tentunya berbeda dengan helikopter-helikopter militer yang selama ini dibuat oleh PT DI. Karena heli buatan PT DI (sampai saat ini) sejatinya merupakan heli dengan tugas sebagai pengangkut pasukan bersenjata, seperti NAS-332 Super Puma. Sedangkan tugas sebagai pelahap tank praktis masih kosong.

    Dari Basis Bell-412

    Berbekal pengalaman mengutak-atik berbagai jenis helikopter melalui lisensi, dari tangan dingin para insinyur Indonesia inilah lahir konsep helikopter tempur bernama Gandiwa. Sama halnya dengan produk pesawat buatan PT DI lainnya yang mengambil nama dari cerita pewayangan, seperti CN-235 yang memiliki nama tetuko (nama kecil Gatotkaca) dan juga N-250 yang memiliki nama Gatotkaca. Gandiwa dalam cerita pewayangan merupakan senjata busur milik Arjuna yang berisi anak panah dalam jumlah tak terhingga yang merupakan pemberian dewa Baruna.

    Gandiwa yang basisnya diambil dari heli Bell-412 ini merupakan helikopter tempur dua awak berkonfigurasi tandem dengan kokpit bagian depan sebagai pos kopilot/penembak (gunner) sementara bagian belakang sebagai tempat pilot. Meski memakai basis Bell-412, heli ini sudah mengalami banyak perombakan sehingga dijamin bakal punya rasa berbeda. Perbedaan paling mencolok adalah konfigurasi kokpit yang dirombak habis-habisan. Berbeda dengan heli Bell-412 dimana posisi pilot dan kopilot yang berjumlah dua orang duduk berdampingan (side-by-side), pada Gandiwa posisi mereka dibuat duduk depan-belakang (tandem). Dengan rombakan kokpit macam ini sekilas sosok Gandiwa mirip dengan AH-1 Super Cobra yang merupakan heli andalan Korps Marinir AS.

    Selain itu tak ketinggalan bagian hidung Gandiwa mengalami sedikit perubahan. Tak lagi terlihat polos seperti Bell-412, tampilan hidung heli ini tampak garang dengan terpasangnya kubah kanon di bagian dagu yang dapat diputar ke kanan dan ke kiri untuk menambah fleksibilitas serangan. Perubahan lainnya juga terjadi pada bodi Gandiwa. Ruang kosong ditengah bodi yang biasanya digunakan untuk menggotong pasukan dieliminasi. Dengan begitu bentuk fisik Gandiwa menjadi lebih ramping ketimbang Bell-412. Kiat ini tak lain juga untuk mendongkrak manuver dan kecepatan heli saat melakukan serangan terhadap musuh. Selanjutnya dikanan-kiri bodi terpasang sayap kecil (stub wing) untuk mendongkrak daya angkat heli dan berfungsi sebagai cantelan senjata.

    Rampung urusan fisik, kini giliran bicara mesin penggeraknya. Untuk soal ini, Gandiwa direncanakan menggunakan dua buah mesin buatan Pratt and Whitney Canada PT6T-3BE yang masing-masing mesin mampu menghasilkan daya 900 shp. Selain itu, heli dengan empat rotor blade yang sepenuhnya terbuat dari komposit ini mampu digeber hingga kecepatan 259 km/jam.

    Beralih ke soal senjata. Daftar persenjataan yang dibawanya bervariatif, antara lain kanon laras tunggal kaliber 30 mm tipe M230 Chain Gun. Sementara pada stub wing terdapat empat cantelan senjata. Masing-masing cantelan mampu mengusung berbagai jenis senjata. Untuk roket misalnya, heli tempur ini mampu menggotong roket Hydra 70 dan CRV7 kaliber 70 mm. Kemudian soal rudal antitank, Gandiwa mampu membawa persenjataan seperti rudal anti-tank Hellfire.

    Jika melihat daftar persenjataan yang dibawanya, heli tempur Gandiwa sepertinya hendak meniru keampuhan AH-64 Apache-nya AS. Lihat saja kanon tipe M230 Chain Gun yang biasanya menjadi salah satu senjata andalan Apache. Bedanya, pada Apache kanon ini terletak dibawah badan dengan posisi diantara main landing gear. Kemiripan lainnya terletak pada senjata roket Hydra 70 dan CRV7 serta rudal Hellfire yang juga biasa diusung Apache.

    Terlepas dari kehadiran Gandiwa, sebenarnya keinginan untuk memiliki heli tempur pernah direalisasikan TNI melalui pembelian heli tempur buatan Rusia. Simak bagaimana kedatangan heli tempur Mi-35P tahun 2003 silam. Kala itu pembeliannya dilakukan bersamaan dengan jet tempur Sukhoi yang kemudian menjadi berita panas yang menjadi headline surat kabar nasional maupun daerah.

    Tapi toh namanya juga alutsista asing, kehadirannya tidak boleh selamanya jadi andalan angkatan bersenjata, terlebih bagi Indonesia yang sudah memiliki industri pesawat terbang sendiri. Bagaimanapun dengan perkembangan industri pertahanan nasional (dalam hal ini industri dirgantara), kehadiran Gandiwa—meskipun sampai saat ini konsepnya masih berada di atas kertas, bisa menjadi alternatif untuk mengurangi dominasi alutsista asing yang masih banyak mengisi armada tempur TNI.

    Bumblebee

    Sebenarnya kemunculan heli yang dirancang dengan kemampuan tempur bukan kali pertama ditampilkan oleh PT DI. Dalam pameran pertahanan Indodefence 2010, PT DI sudah terlebih dulu menampilkan miniatur helikopter serang ringan dengan nama Bumblebee-001. Bedanya heli ini basisnya diambil dari heli ringan serbaguna NBO-105. Tapi entah kenapa (mungkin karena minimnya pendanaan) konsep heli ini cuma berhenti diatas kertas.

    *** Sumber / Read more: http://www.aviasista.com/2012/05/gandiwa-heli-tempur-masa-depan-buatan.html#ixzz1whApM2Ib

    • Robot Gedeg mengatakan:

      Para pemerhati Alutsista TNI, untuk program Bumblebee tdk dilanjutkan krn sebagai perancangan awal akan helikopter tempur tdk memungkinkan penggunaan basis dasar hely NBO-105 yang minim kemampuan dan pabriknya sdh kolaps, Beberapa hari yang lalu sdh diputuskan di Badan Litbang Kemhan bahwa Helicopter Combat TNI akan berangkat dari Basic Propulsion, saya ulangi basic propulsion NBell-412, bukan basic structure Nbell-412 karena totaly diferent structurenya……silahkan tunggu tanggal mainnya…..Info A-1 from Robot Gedeg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: