Kisah : Aku Kota Ilmu, Ali Pintunya

Februari 18, 2013

Kisah pertama :

Teriakan seorang wanita muda terdengar dari jauh. Tangannya dipegang secara kasar oleh suaminya. Hidungnya berdarah dan mukanya babak belur karena dipukuli. Ia didorong maju secara kuat kehadapan khalifah Umar bin Khattab ra. Ia tersangka telah berbuat zina.

Suaminya marah bukan kepalang. Sambil dilempar di hadapan khalifah Umar, laki laki itu berkata : “Ya Amirul Muminin, perempuan ini telah berzina”. Khalifah Umar pun bertanya : “Apa sebenarnya yang telah terjadi terhadap istrimu ini?”. Dengan sewot ia menjawab : “Ya Amirul Muminin, rajamlah wanita ini. Sesungguhnya ia telah berzina. Aku baru saja kawin 6 bulan, masa sekarang sudah punya anak ?!”.

Setelah perkara itu diselidiki secara seksama, teliti dan semua persyaratan hukum telah dipenuhi, Khalifah Umar bin Khattab pun dengan tegas memutuskan bahwa hukum rajam bagi wanita tadi harus segera dilaksanakan.

Pada saat itu kebetulan Imam Ali bin Abi Thalib ra sedang duduk di samping khalifah Umar ra. Beliau melihat semua yang terjadi terhadap diri wanita itu. beliau pun telah mendengar keputusan yang telah diputuskan khalifah Umar untuk merajamnya. Adapun menurut beliau wanita itu tidak sewajarnya untuk dirajam karena ia tidak bersalah. Maka dengan penuh keberanian, Sayyidina Ali ra berkata kepada khalifah Umar ra “Tunggu dulu ya Amirul Mu’mini, jangan terburu buru memutuskan suatu hukum sebelum mempunyai dalil yang kuat. Sesungguhnya wanita itu tidak bersalah dan tidak berzina”.

Mendengar ungkapan Imam Ali bin Abi Thalib ra, beliau merasa bersalah terburu-buru memutuskan hukuman tanpa bermusyawarat terlebih dahulu kepada para sahabat. Lalu beliau berkata “Ya Aba al-Hasan, bagaimana kamu tahu hukumnya bahwa wanita itu tidak berzina?”.

Dengan lantang Imam Ali pun menjelaskan : “Bukankah Allah berfirman dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 yang berbunyi ; “mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan”, sedangkan di surat lainya yaitu surat Luqman ayat 14 Allah berfirman : “Dan menyapihnya dalam dua tahun”. Umar bin Khattab ra pun membenarkan penjelasan Imam Ali. Kemudian beliau melanjutkan penjelasanya “Jika masa kandungan dan penyapihan 30 bulan dikurangi masa penyapihan 24 bulan, maka wanita bisa melahirkan anak dalam waktu 6 bulan”.

Mendengar uraian Imam Ali tadi, khalifah Umar menganggukan kepalanya tanda salut atas keputusan beliau. Lalu berkata “Tanpa Ali, Umar bisa binasa”

Kisah kedua :

Suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab ra sedang duduk dengan para sahabat diantaranya ada Imam Ali bin Abi Thalib. Tiba tiba seorang laki-laki yang tak dikenal datang kepada beliau, parasnya enak dipandang, bersih dan berwibawa. Sambil duduk ia tak henti-hentinya bertasbih dan berdoa.

Melihat tindak tanduk orang tadi Khalifah Umar menjadi penasaran untuk menyapanya. “Apa kabarmu di pagi hari ini?”. Orang itupun menjawab “Alhamdulillah pagi ini aku menyukai fitnah, membenci kebenaran (hak), sholat tanpa wudhu, dan saya memiliki di dunia apa yang tidak dimiliki Allah di langit”.

Wajah khalifah Umar berobah mendengar uraian tamu tadi. Beliau marah bukan kepalang, lalu bangun dari tempat duduknya dan segera memegangnya dengan keras. Imam Ali yang berada di majlis itu tersenyum melihat kelakuan khalifah Umar ra. Beliau pun berkata kepadanya : “Ya Amirul Muminin sabar dulu, apa yang telah dikatakan orang ini sesungguhnya benar”.

Medengar uraian Imam Ali, beliau pun merasa tidak enak karena telah meperlakukan tamu tadi secara kasar. Lalu beliau memandang wajah Imam Ali seraya berkata dengan suara yang agak lunak : “Dapatkan kau terangkan kepadaku kebenarnya?”.

Imam Ali ra bangun dari tempat dukuknya, lalu berkata : “Pertama, ia menyukai fitnah berarti ia menyukai harta benda dan anak, bukankah Allah berfirman dalam ayat Nya surat al Anfal ayat 28 “Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak anakmu itu hanyalah fitnah?”.

Kedua, ia membenci kebenaran atau hak. artinya ia membeci kematian. Allah berfirman dalam surat qaf 19 : “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar benarnya (hak). Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”.

Ketiga, ia sholat tanpa wudhu, yaitu sholat kepada Rasulallah saw. Orang yang bershalawat kepada Rasulallah saw tidak wajib harus berwudhu. Adapun yang keempat, ia memiliki di dunia apa yang tidak dimiliki Allah di langit. Maksudnya ia memiliki di dunia anak dan istri yang tidak dimiliki Allah karena Allah adalah Maha Esa, tidak beristri, tidak beranak, dan tidak diperanakan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.

Khalifa Umar ra menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar uraian Imam Ali ra. Lalu berkata : “Seburuk buruknya majlis adalah majlis yang tidak ada abu Al-Hasan (Imam Ali ra).

**

Dari dua kisah di atas jelas sekali kita bisa mengambi suatu bukti bahwa Imam Ali ra memiliki gudang ilmu yang tidak dimiliki para sahabat lainya. “Aku kota ilmu dan Ali pintunya”. Itulah sabda Rasulallah saw yang dicetuskan beliau kepada para sahabat. Alasanya, ketika beliau menerima wahyu, Sayyidina Ali ra adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu tesebut setelah istri beliau, Khadijah ra. Pada waktu itu Ali ra masih berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Imam Ali ra banyak belajar langsung dari Rasulallah saw karena sebagai misanan dan sekali gus merangkat sebagai anak asuh, beliau selalu mendapat kesempatan dekat dengan Rasulallah saw. Hal ini berlanjut sampai belau menjadi menantu Rasulallah saw. Jadi banyak pelajaran pelajaran tertentu yang diajarkan Rasulallah saw kepada beliau yang tidak diajari kepada sahabat sahabat yang lain.

Didikan langsung dari Rasulallah saw kepada imam Ali ra dalam semua ilmu agama baik secara zhahir (syariah) atau secara bathin (tasawuf), banyak menggembleng beliau menjadi seorang pemuda yang sangat cerdas, berani dan bijak. Salah satu dari kecerdasan, keberanian dan kebijaksanaan beliau kita bisa lihat dari kisah kisah di atas tadi.

Wallahua’lam

Sumber : hasanalsaggaf.wordpress.com


Catatan : Sholawat Munfarijah

Januari 21, 2013

Sholawat Nariyah / Munfarijah :

أللّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَد وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

“Ya Allah, semoga Engkau mencurahkan rahmat yang sempurna dan keselamatan yang sempurna atas Nabi Muhammad SAW, yang menjadi sebab terlepasnya kerumitan dan hilangnya kesusahan, terpenuhinya segala hajat, dan tercapai segala yang disukai serta husnul-khatimah, dan turunnya hujan dari awan, berkat keagungan dan kemuliaan Nabi Muhammad SAW dan kepada para keluarga dan para sahabatnya pada setiap mata melirik dan jiwa bernafas, sejumlah setiap yang Engkau ketahui.”


Du’a Memasuki Bulan Rajab

Mei 22, 2012

Du’a memasuki bulan Rajab :

اللهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان

Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan”.

Selamat memasuki bulan Rajab 1433 H, 22 Mei 2012. Semoga Alloh SWT senantiasa memberkahi kita semua, Amin.


Insert : “Rumah Tanpa Pintu”

April 24, 2012

Abul ‘Ulaa alias Asy’ab nama aslinya Syu’aib bin Jubair, dulunya budak milik ‘Aisyah binti ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian dimerdekakan. Ia lantas hidup bergantung pada pemberian atau bersiasat nebeng makanan orang, sampai-sampai dijadikan “ikon” ketamakan. Tamak adalah watak cenderung tergiur pada apa yang ada di tangan orang lain.

Asy’ab memang teramat miskin. Dan tidak berkurang kemiskinannya hingga beristri dan beranak. Suatu hari ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya ketika bertemu dengan serombongan orang mengusung jenazah ke kuburan.

“Lihatlah jenazah itu, Nak!” Asy’ab ingin memanfaatkan momentum untuk mendidik anaknya, “mereka membawanya ke rumah yang tak berpintu, tanpa tempat tidur, tanpa makanan, tak ada roti maupun air”.

“Ya ampun, Abah!” anaknya berseru kaget, “jadi mereka akan membawanya ke rumah kita?”.  *** (Terong Gosong).


Insert : Sholat Hadiyah untuk Mayit

Maret 21, 2012

Kematian bagi makhluk hidup adalah suatu kemestian. Meskipun berbeda cara dan penyebabnya sakit, tua, kecelakaan, dan seterusnya. Jasadnya pun, bisa dimana saja, atau musnah sama sekali tanpa bekas. Kematian lambat atau cepat adalah mutlak bagi makhluk termasuk manusia.

Manusia adalah makhluk yang terbebani tanggung jawab dalam hayatnya, terutama terhitung sejak baligh. Perbuatan manusia akan dibalas menurut baik dan buruknya. Pertanggungjawaban mereka akan dihisab kelak di hari Kiamat. Allah sebagai hakim yang adil, takkan keliru dalam menghitung dan mengadili amal setiap orang. Namun, sebelum pembalasan hari Kiamat, nikmat dan siksa kubur benar adanya. Manusia yang telah terpisah jiwa dari raganya, akan didatangi malaikat untuk pertanyaan tentang Tuhan, rasul, pedoman hidup dan seterusnya. Malaikat ini akan bersikap sesuai perintah. Menyiksa dan memberikan nikmat bagi mayit.

Manusia, kecuali para rasul, dalam hidupnya tak lepas dari dosa. Dosa inilah yang lalu mesti ditebus dengan siksa kubur oleh yang bersangkutan. Jerit pedih mereka yang sudah mati memang tak didengar oleh manusia yang hidup. Dalam keterangan Rasulullah, hanya hewan hidup lah yang mendengar jeritan mayit yang tersiksa. Mayit pun harus menanggung kelakuan buruknya di dunia. Mereka hanya bisa menerima siksa tanpa bisa melakukan sesuatu apapun.

Mengingat itu, kita yang masih hidup mesti mengambil satu langkah agar dapat meringankan siksa kubur mayit. Lebih istimewa lagi, kita lakukan terhadap orang yang kita kenal, cintai atau yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, orang tua, guru, atau kiai.

Diantaranya dengan memberikan hadiah kepada mayyit. Hadiah itu bisa berupa shalat dua rakaat atau berupa sedekah yang pahalanya ditujukan kepada mayyit. Seperti yang diterangkan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام : اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور

Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda ; “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah. Siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat Alfatihah 1 kali, Ayat Kursi 1 kali, surat Attaktsur 1 kali, dan surat Al-ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, -“Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahummab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan (sebut nama mayit yang kita maksud)”-, Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud). Niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 malaikat. Tiap malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang akan menghibur mayit sampai hari Kiamat tiba.”  [Syekh Nawawi Albantani, Nihayatuz Zain, (Bandung, Almaarif) Hal. 107].

Hadiah semacam ini dalam tradisi Islam Nusantara dikenal dengan berbagai sebutan sesuai kaedah local masing-masing. Ada yang menyebutnya ‘tahlilan’, ada yang menyebutnya arwahan, ada yang menyebut samadiahan dan lain sebagainya. Semua itu merupakan perilaku terpuji yang telah me-tradisi dalam wacana Islam Nusantara. Begitu pula dengan shalat hadiah dua rakaat untuk mayit, yang kesunnahannya dilakukan saat malam pertama mayit meninggal. Walaupun taka apa pula jika dilakukan setelah jauh-jauh hari sepeninggal si mayit.

Pahala dari berbagai hadiah itu juga mengalir bagi kita yang masih hidup dan melakukannya, seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits :

أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه أنه لا يخرج من الدنيا حتى يرى مكانه فى الجنة

“Siapa saja yang melakukan sedekah atau sembahyang itu, akan mendapat pahala yang besar. Di antaranya, ia takkan meninggalkan dunia sampai melihat tempatnya di surga kelak.”

Sejumlah ulama menganjurkan akan baiknya sembahyang 2 raka‘at ini. Ringan dan mudah dilakukan, “Beruntunglah orang yang melakukan sembahyang ini setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk mayit kaum muslimin.”

Sebagai umat Islam, kita dipanggil untuk peduli dan menanam bibit kasih sayang terhadap alam, hewan dan manusia baik hidup maupun sudah meninggal. Hanya saja, bentuk kasih yang dipersembahkan mesti disesuaikan bagi penerimanya. Untuk saudara kita yang sudah meninggal, kita bisa melakukan sedekah dan sembahyang 2 raka‘at di atas.

Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW para ulama dan kiai mengawetkan ajaran luhur Rasulullah dengan menuliskan, mengajarkan, menyontohkannya kepada masyarakat luas. Dengan demikian, ajaran Nabi Muhammad SAW akan lestari hingga hari akhir kelak.

Semoga salinan tulisan ini bermanfaat untuk memperbanyak amal kita.  Wallohu a’lam *** (Ref. Nihayatu Zein).


Nasihat Luqman kepada Anaknya

Maret 9, 2012

Tafsir Indonesia Surat Luqman 13

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Terjemah (Ma’nahu walloohu subhaana wa ta’alaa bil a’lam) : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya : “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.  (QS. 31 : 13).

Allah SWT memperingatkan kepada Rasulullah SAW nasihat yang pernah diberikan kepada putranya, waktu ia memberi pelajaran kepada putranya itu. Nasihat itu ialah : “Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah itu adalah kelaliman yang sangat besar”.

Mempersekutukan Allah dikatakan kelaliman, karena perbuatan itu berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yaitu menyamakan sesuatu -yang melimpahkan nikmat dan karunia itu-. Dalam hal ini menyamakan Allah SWT sebagai sumber nikmat dan karunia dengan patung-patung yang tidak dapat berbuat sesuatupun.

Dikatakan bahwa perbuatan itu adalah kelaliman yang besar, karena yang disamakan itu ialah Allah SWT Pencipta dan Penguasa semesta alam, yang seharusnya semua makhluk mengabdi dan menghambakan diri kepada Nya.

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Ibnu Masud, ia berkata : tatkala turun ayat :

الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون

Artinya : Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. Al An’am : 82).

Maka timbullah keresahan di antara para sahabat Rasulullah SAW karena mereka berpendapat bahwa amat beratlah rasanya tidak mencampur adukkan keimanan dan kelaliman. Lalu mereka berkata kepada Rasulullah SAW : “Siapakah di antara kami yang tidak mencampur adukkan keimanan dan kelaliman?. Maka Rasulullah SAW menjawab : “Maksudnya bukan demikian, apakah kamu tidak mendengar perkataan Luqman : -Hai anakku, jangan kamu memperserikatkan sesuatu dengan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah kelaliman yang besar-“.

Dari ayat ini dipahami bahwa di antara kewajiban ayah kepada anak-anaknya ialah memberi nasihat dan pelajaran, sehingga anak-anaknya itu dapat menempuh jalan yang benar, dan menjauhkan mereka dari kesesatan. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT :

يا أيها الذين آمنوا قوا أنفسكم وأهليكم نارا وقودها الناس والحجارة

Artinya :  “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu”. (Q.S. At Tahrim : 6).

Jika diperhatikan susunan kalimat ayat ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Sayidina Luqman sangat melarang anaknya melakukan syirik. Larangan ini adalah suatu larangan yang memang patut di sampaikan Sayidina Luqman kepada putranya karena mengerjakan syirik itu adalah -suatu perbuatan dosa yang paling besar-.

***

Anak adalah -senantiasa yang menghidupkan harapan-. Sambungan hidup dari orang tuanya, cita-cita yang tidak mungkin dapat dicapai orang tua selama hidup di dunia diharapkan anak-nya lah yang akan mencapainya. Demikian pula kepercayaan yang dianut orang tuanya di samping budi pekerti yang luhur sangat diharapkan agar anak-anaknya menganut dan memiliki semuanya itu di kemudian hari.

Seakan-akan dalam ayat ini diterangkan bahwa Sayidina Luqman telah melakukan tugas yang sangat penting kepada anaknya. Yaitu telah menyampaikan agama yang benar dan budi pekerti yang luhur. Cara Sayidina Luqman menyampaikan pesan itu wajib dicontoh oleh setiap orang tua yang mengaku dirinya muslim. Semoga dari tulisan ini ada manfaat. Wallohu a’lam *** (iqbal1).


Nuansa Maulid : Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren An-najah, Cihuni.

Februari 13, 2012

This slideshow requires JavaScript.

 

Pengajian rutin bulanan di pesantren dan majlis ta’lim “An-najah” Cihuni, Desa Nanjung Jaya – Kec. Kersamanah, Kab. Garut bagi jamaah kaum muslimin yang biasa dilaksanakan setiap hari minggu pertama di awal setiap bulan, pada kesempatan bulan mulud / 12 Rabbi’ul Awwal 1433 H atau bertepatan dengan tanggal 05 Februari 2012 ini bertambah semarak.

Yaitu sebagai -Bulan Akbar- dan -momentum kebangkitan-  melalui takdhiman, wa tasyrifan, wa ta’liman, wa tadzkiran atas junjunan alam Nabi Besar Muhammad SAW yang datang diutus oleh Alloh SWT membawa risalah Islam kepada seluruh ummat manusia. Menjadi rahmat kepada seluruh alam melalui proses -kelahirannya- yang jatuh pada hari Senin, tanggal 12, bulan Rabbi’ul Awwal, tahun Gajah, di Mekah dari ibunda Sayyidah Siti Aminah dan ayahanda Sayyid Abdulloh.

Maulid Nabi SAW ini merupakan karunia paling besar bagi umat Islam. Sangat dianjurkan bergembira menyambutnya sebagai rasa syukur. Ekspresinya boleh dengan berbagai bentuk sepanjang tidak bertentangan dengan syariat agama.

Serta pengajian bulanan kali ini bersamaan dengan khaul ke 35 Almaghfirlah Hadratusy syeikh KHR. Ahmad Djawari Bin KHR. Ahmad Djunaedi Bin KHR. Zarkasih sebagai figur-figur yang telah mendedikasikan seluruh kehidupannya dalam penyebaran agama Islam, khususnya melalui pengelolaan pesantren di kawasan utara Garut ini.

Materi acara meliputi :

Sabtu Siang 04/02/2012 : Pembacaan ayat suci  Al-qur’an 30 Juz, dan munajat du’a serta tahlil dan hadiah pahlanya dalam rangka Khaul Almaghfirlah Hadratusy Syeikh KHR. Ahmad Djawari, pendiri pesantren An-najah ini.

Sabtu Malam : Lailatul ijtima dengan para alumni serta bahtsul masaa’il dan mudharosah rutin kitab tafsir al-qur’anil adhiem “Jalalen” karya Imam Jalaluddin As-suyuthi dan Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Dilanjutkan dengan -marhaba- dan pembacaan kitab -iqdul jawahir- atau barjanji dalam rangkaian -imtihan santri- bersama samrah.

Minggu Pagi 05/02/2012 Tabligh Akbar Maulid : Uraian Keutamaan Maulid, bersama Habib Hamid Naufal Bin ‘Alwy Al-Kaff. Du’a dan Tawasul   serta Istighosah untuk kemaslahatan ummat. Manaqib / Pembacaan Biographi Hadratusy Syeikh KHR. Ahmad Djawari serta tabligh dan taushiah mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh beberapa Kiayi Alumni An-najah dari Bandung, Tasikmalaya, Limbangan, Garut, dskt. serta dengan Tabligh Umum oleh KHR. Nuh Addawami pengasuh Pesantren Cisurupan, Garut yang juga sebagai Wakil Ro’is Syuriyah PW NU Jawa Barat.

Kegiatan seperti ini senyatanya sangat efektif dan antusias dihadiri jamaah kaum muslimin dari berbagai peloksok serta mampu menghadirkan kegiatan syi’ar agama Islam supaya tidak meredup. Upaya meng-hidup2-kan kejayaan Islam dan kaum muslimin dalam tatanan baldatun thoyyibatun wa robbul ghofur.

Insya Alloh nuansa maulid Nabi SAW ini menjadi wasilah membawa turunnya berkah dan keridhoan dari Alloh SWT kepada kita sekalian yang percaya dan senantiasa merindukan keselamatan di dunia dan akhirat. Khususnya mendapatkan -syafatul udhma- dari Rasululloh SAW di -yaumil jaza-. Amin.

Selamat dan ucapan terimakasih kami sampaikan kepada santri2 dan panitia serta semua pihak yang telah urun rembug atas terselenggaranya kegiatan yang tertata apik ini. -Allohumma sholli wasallim wa baarik alaih-. Wallohu ‘alam :) *** (Iqbal1).


Nuansa Maulid : Bergembira atas Kelahiran Nabi SAW

Februari 2, 2012

Kita dianjurkan untuk bergembira atas rahmat dan karunia Allah SWT kepada kita. Termasuk kelahiran Nabi Muhammad SAW yang membawa rahmat kepada alam semesta. Allah SWT berfirman :

قُلْ بِفَضْلِ اللّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُواْ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ

“Katakanlah !, dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.’  (QS.Yunus : 58).

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari. Hadits itu menerangkan bahwa pada setiap hari senin, Abu Lahab diringankan siksanya di Neraka dibandingkan dengan hari-hari lainnya. Hal itu dikarenakan bahwa saat Rasulullah saw lahir, dia sangat gembira menyambut kelahirannya sampai-sampai dia merasa perlu membebaskan (memerdekakan) budaknya yang bernama Tsuwaibatuh Al-Aslamiyah.

Jika Abu Lahab yang non-muslim dan Al-Qur’an jelas mencelanya, diringankan siksanya lantaran ungkapan kegembiraan atas kelahiran Rasulullah SAW. Maka bagaimana dengan orang yang beragama Islam yang gembira dengan kelahiran Rasulullah SAW ?.

Jika sebagian umat Islam ada yang berpendapat bahwa merayakan Maulid Nabi SAW adalah bid’ah yang sesat karena alasan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah saw sebagaimana dikatakan oleh beliau :

إِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. رواه أبو داود والترمذي

Hindarilah amalan yang tidak ku contohkan (bid`ah), karena setiap bid`ah menyesatkan. (HR Abu Daud dan Tarmizi)

Maka selain dalil dari Al-Qur’an dan Hadits Nabi tersebut, juga secara semantik  (lafzhi) kata ‘kullu’ dalam hadits tersebut tidak menunjukkan makna keseluruhan bid’ah (kulliyah). Tetapi ‘kullu’ di sini bermakna sebagian dari keseluruhan bid’ah (kulli) saja. Jadi, tidak seluruh bid’ah adalah sesat karena ada juga bid’ah hasanah, sebagaimana komentar Imam Syafi’i :

المُحْدَثَاتُ ضَرْباَنِ مَاأُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتاَباً أَوْسُنَّةً أَوْأَثَرًا أَوْإِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضَّلاَلِ وَمَاأُحْدِثَ مِنَ الخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئاً مِنْ ذَالِكَ فَهِيَ مُحْدَثَةٌ غَيْرَ مَذْمُوْمَةٍ

Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) ada dua macam : Sesuatu yang diada-adakan (dalam agama) bertentangan dengan Al-Qur’an, Sunnah Nabi SAW, prilakuk sahabat, atau kesepakatan ulama maka termasuk bid’ah yang sesat ; adapun sesuatu yang diada-adakan adalah sesuatu yang baik dan tidak menyalahi ketentuan (al Qur’an, Hadits, prilaku sahabat atau Ijma’) maka sesuatu itu tidak tercela (baik). (Fathul Bari, juz XVII: 10).

Juga realitas di dunia Islam dapat menjadi pertimbangan untuk jawaban kepada mereka yang melarang maulid Nabi SAW. Ternyata fenomena tradisi maulid Nabi SAW itu tidak hanya ada di Indonesia, tapi merata di hampir semua belahan dunia Islam.

Kalangan awam diantara mereka barangkali tidak tahu asal-usul kegiatan ini. Tetapi mereka yang sedikit mengerti hukum agama berargumen bahwa perkara ini tidak termasuk bid`ah yang sesat karena tidak terkait dengan -ibadah mahdhah- atau ritual peribadatan dalam syariat.

Buktinya, bentuk isi acaranya bisa bervariasi tanpa ada aturan yang baku. Semangatnya justru pada momentum untuk menyatukan semangat dan gairah ke-islaman. Mereka yang melarang peringatan maulid Nabi SAW sulit membedakan antara -ibadah- dengan -syi’ar Islam-. Ibadah adalah sesuatu yang baku (given/tauqifi) yang datang dari Allah SWT. Tetapi syi’ar adalah sesuatu yang  ijtihadi, kreasi umat Islam dan situasional serta mubah.

Perlu dipahami, sesuatu yang mubah tidak semuanya dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Imam As-Suyuthi mengatakan dalam menananggapi hukum perayaan maulid Nabi SAW :

وَالجَوَابُ عِنْدِيْ أَنَّ أَصْلَ عَمَلِ المَوْلِدِ الَّذِيْ هُوَ اِجْتِمَاعُ النَّاسِ وَقِرَأَةُ مَاتَيَسَّرَ مِنَ القُرْآنِ وَرِوَايَةُ الأَخْبَارِ الوَارِدَةِ فِيْ مَبْدَأِ أَمْرِالنَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مَاوَقَعَ فِيْ مَوْلِدِهِ مِنَ الاَياَتِ ثُمَّ يَمُدُّ لَهُمْ سِمَاطٌ يَأْكُلُوْنَهُ وَيَنْصَرِفُوْنَهُ مِنْ غَيْرِ زِيَادَةٍ عَلَى ذَالِكَ مِنَ البِدَعِ الحَسَنَةِ الَّتِيْ يُثَابُ عَلَيْهَا صَاحِبُهَا لِمَا فِيْهِ مِنْ تَعْظِيْمِ قَدْرِ النَّبِيْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِظْهَارِالفَرَحِ وَالِاسْتِبْشَارِ بِمَوْلِدِهِ الشَّرِيْفِ

Menurut saya, asal perayaan Maulid Nabi SAW, yaitu manusia berkumpul, membaca al-Qur’an dan kisah-kisah teladan Nabi SAW sejak kelahirannya sampai perjalanan hidupnya. Kemudian dihidangkan makanan yang dinikmati bersama, setelah itu mereka pulang. Hanya itu yang dilakukan, tidak lebih. Semua itu tergolong bid’ah hasanah (sesuatu yang baik). Orang yang melakukannya diberi pahala karena mengagungkan derajat Nabi SAW, menampakkan suka cita dan kegembiraan atas kelahiran Nabi Muhamad saw yang mulia. (Al- Hawi Lil-Fatawa, juz I, h. 251-252)

Pendapat Ibnu Hajar Al-Haithami : “Bid’ah yang baik itu sunnah dilakukan, begitu juga memperingati hari maulid Rasulullah SAW.”

Pendapat Abu Shamah (guru Imam Nawawi) : ”Termasuk hal baru yang baik dilakukan pada zaman ini adalah apa yang dilakukan tiap tahun bertepatan pada hari kelahiran Rasulullah saw. dengan memberikan sedekah dan kebaikan, -menunjukkan rasa gembira dan bahagia-, sesungguhnya itu semua berikut menyantuni fakir miskin adalah tanda kecintaan kepada Rasulullah SAW dan penghormatan kepada beliau, begitu juga merupakan bentuk syukur kepada Allah atas diutusnya Rasulullah SAW kepada seluruh alam semesta”.

Untuk menjaga agar perayaan maulid Nabi SAW tidak melenceng dari aturan agama yang benar, sebaiknya perlu diikuti etika-etika berikut :

  1. Mengisi dengan bacaan-bacaan shalawat kepada Rasulullah SAW.
  2. Berdzikir dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.
  3. Membaca sejarah Rasulullah SAW dan menceritakan kebaikan-kebaikan dan keutamaan-keutamaan beliau.
  4. Memberi sedekah kepada yang membutuhkan atau fakir miskin.
  5. Meningkatkan silaturrahim.
  6. Menunjukkan rasa gembira dan bahagia dengan merasakan senantiasa kehadiran Rasulullah SAW di tengah-tengah kita.
  7. Mengadakan pengajian atau majlis ta’lim atau tabligh yang berisi anjuran untuk kebaikan dan mensuri-tauladani Rasulullah SAW.

***

Sesunggunya, perayaan maulid itu sudah ada dan telah lama dilakukan oleh umat Islam. Benihnya sudah ditanam sendiri oleh Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadits diriwayatkan:

عَنْ أبِي قَتَادَةَ الأنْصَارِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ اْلإثْنَيْنِ فَقَالَ فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ – صحيح مسلم

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa Senin. Maka beliau menjawab, “Pada hari itulah aku dilahirkan dan wahyu diturunkan kepadaku”. (HR Muslim)

Betapa Rasulullah SAW begitu memuliakan hari kelahirannya. Beliau bersyukur kepada Allah SWT pada hari tersebut atas karunia Tuhan yang telah menyebabkan keberadaannya. Rasa syukur itu beliau ungkapkan dengan bentuk puasa.

Paparan ini menyiratkan bahwa merayakan kelahiran (maulid) Nabi Muhammad SAW termasuk sesuatu yang boleh dilakukan. Apalagi perayaan maulid itu isinya adalah bacaan shalawat, baik Barzanji atau Diba’, sedekah dengan beraneka makanan, pengajian agama dan sebagainya, yang merupakan amalan-amalan yang memang dianjurkan oleh Syari’ at Islam.  Wallohu a’lam *** (iqbal1).

(Ref. Madaarijussu’ud ; Ianatuth tholibin, dan Berbagai Sumber).

Klik : http://iqbal1.wordpress.com/2010/02/27/maulid-memuliakan-hari-kelahiran-nabi-muhammad-saw/


Maulid : Telah Datang Kepadamu Seorang Rasul (Q.S : At-Taubah : 128)

Februari 1, 2012

لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌعَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (QS : 9 : 128).

Ayat ini sekalipun khusus ditujukan kepada bangsa Arab di masa Nabi, tetapi juga ditujukan kepada seluruh umat manusia.

Semula ditujukan kepada orang Arab di masa Nabi, karena kepada merekalah Al-quran mula-mula disampaikan, karena Al-quran itu dalam bahasa Arab. Tentulah orang Arab yang paling dapat memahami dan merasakan ketinggian ayat-ayat Al-quran itu. Dengan demikian mereka mudah pula menyampaikan kepada orang-orang selain bangsa Arab. Jika orang-orang Arab sendiri tidak mempercayai Muhammad dan Al-quran, tentu orang-orang selain orang Arab lebih sukar mempercayainya.

Ayat ini seakan-akan mengingatkan orang-orang Arab sebagaimana bunyinya : Hai orang-orang Arab, telah diutus seorang rasul dari bangsamu sendiri yang kamu mengetahui sepenuhnya asal-usul kepribadiannya. Kamu lebih mengetahuinya dari orang-orang lain.

Sebagian mufassirin menafsirkan perkataan “rasulun min anfusikum” dengan hadis :

قال صلى الله عليه وسلم : إن الله اصطفى كنانة من ولد إسماعيل واصطفى قريشا من كنانة واصطفى بني هاشم من قريش واصطفاني من بني هاشم

Artinya : Bersabda Rasulullah SAW : “Sesungguhnya Allah telah memilih Bani Kinanah dari keturunan Ismail, dan memilih suku Quraisy dari Bani Kinanah, dan memilih Bani Hasyim dari suku Quraisy, dan Allah telah memilihku dari Bani Hasyim.” (H.R. Muslim dan Tirmizi dari Wasilah bin Asqa’).

Dari ayat dan hadis di atas dapat dipahami tentang kesucian keturunan Nabi Muhammad SAW yang berasal dari suku-suku pilihan dari suku-suku bangsa Arab. Dan orang-orang Arab mengetahui benar tentang hal ini. Nabi Muhammad SAW berasal dari keturunan orang-orang yang baik dan terhormat. Mempunyai sifat-sifat yang tinggi dan agung pula, yaitu :

1. Dia merasa tidak senang jika umatnya ditimpa sesuatu yang tidak diingini, seperti ditimpa kehinaan karena dikuasai dan diperhamba oleh musuh-musuh kaum muslimin. Sebagaimana ia tidak senang pula melihat umatnya ditimpa azab yang pedih di akhirat nanti.

2. Sangat menginginkan agar umatnya mendapat taufik dari Allah, bertambah kuat imannya dan bertambah baik keadaannya. Keinginan beliau ini dilukiskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya :

إِنْ تَحْرِصْ عَلَى هُدَاهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ يُضِلُّ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ

Artinya : Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong. (Q.S. An Nahl: 37).

Dan Allah berfirman :

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

Artinya : Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman walaupun kamu sangat menginginkannya. (Q.S. Yusuf: 103).

3. Sangat belas kasihan dan amat penyayang kepada kaum muslimin. Keinginannya ini tampak pada tujuan risalah yang disampaikannya, yaitu agar manusia hidup berbahagia di dunia dan di akhirat nanti. Dalam ayat ini Allah memberikan dua macam sifat kepada Nabi Muhammad saw. yang kedua sifat itu merupakan sifat-Nya sendiri, termasuk di antara “asmaulhusna”, yaitu sifat “rauf” (amat belas kasihan) dan sifat “rahim” (penyayang) sebagai tersebut dalam firman-Nya :

إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Artinya : Sesungguhnya Allah benar-benar amat Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (Q.S. Al-Baqarah: 143).

Pemberian kedua sifat ini kepada Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa Allah SWT menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai rasul yang dimuliakan-Nya.

***

Ref. Tafsir Indonesia / Jalalain / Surah At Taubah 128 :

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

(Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri) dari kalangan kalian sendiri, yaitu Nabi Muhammad SAW. (berat terasa) dirasa berat (olehnya apa yang kalian derita) yaitu penderitaan kalian, yang dimaksud ialah penderitaan dan musibah yang menimpa diri kalian (sangat menginginkan bagi kalian) hidayah dan keselamatan (lagi terhadap orang-orang mukmin amat belas kasihan) sangat belas kasihan (lagi penyayang) ia selalu mengharapkan kebaikan bagi mereka.

***

Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (Al-Anbiya : 107). Wallohu Subhaana Wa Ta’alaa Bil A’lam *** (Iqbal1)


Catatan : Sya’ir Al-i’tiraf Abu Nawas (Oleh Gus Dur)

Desember 10, 2011

الاعْتِرَافُ

إِِلَهِِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

إِِلَهِِيْ عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ  # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

——–

Pengakuan :

Wahai Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli surga # Tapi aku pun tidak kuat masuk kedalam api neraka

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku # Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dosaku bagaikan bilangan pasir # Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

Dan umurku ini berkurang setiap hari # Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Wahai Tuhanku, Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu # Mengakui atas segala dosa dan sebenar-benarnya telah memohon kepada Mu

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun # Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

—–

Klik : Liric yg disampaikan Gus Dur

(Note : Gubahan Abu Ali Al-Hasan ibnu Hani Al-Hakami, dengan nama samaran Abu Nawas.  Ulama besar termasyhur masa Khalifah Abasiyah Harun Al-Rasyid ).


Fadilah : Ada Banyak Keutamaan di Bulan Muharram

Desember 10, 2011

Bulan muharam adalah salah satu dari bulan-bulan yang dimulyakan Alloh SWT. Sebagaimana termaktub dalam Al-Quran :

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ : التوبة : 36

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

وقد قال النبي –صلى الله عليه وسلم-: ( السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ، ثلاث متواليات : ذو القعدة ، وذو الحجة ، والمحرم ، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان ) رواه البخاري (4662)، ومسلم (1679) من حديث أبي بكرة – رضي الله عنه-.

Bersabda Baginda Rosul SAW: “Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, ada 4 bulan yang dimuliakan, tiga bulan di antaranya berurutan yaitu; Dzul Qo’dah, Dhu’l-Hijjah, serta Muharram. Dan Rajab yang ada di antara Jumada dan Sya’ban (Bukhari: 4662 dan Muslim 1679).

Bulan yang satu ini dinamakan Muharam (diharamkan) karena Alloh melarang adanya peperangan (Abi Syuja’, Al-Iqna’ (1): 150). Ulama lain berpendapat (dalam penamaan Muharam) bahwa di bulan ini Iblis La’natulloh diharamkan memasuki surga (I’anah Ath-Tholibin).

Penting untuk diketahui bahwa para ulama dalam menentukan kemuliaan dan disyari’atkannya berpuasa di bulan Muharam ini berdasar pada Quran, Hadits, dan Ijma’. Imam Ibnu al-‘Arobi dalam menafsirkan surat al-Fajr: 2, lafadz (وَلَيَالٍ عَشْر), menerangkan bahwa yang dimaksud redaksi ayat tersebut adalah hari ke sepuluh di bulan Muharam (dalam tafsir ath-Thobari). Dikatakan pula oleh ulama lain, bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan, bahkan ada pula yang berpendapat 10 hari yang disempurnakan Alloh untuk Nabi Musa AS dalam miqatnya kala ia bermunajat.

Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa di bulan yang mulia ini, dianjurkan bagi kaum muslim berpuasa. Hukum syari’at ini hadir karena hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abi Hurairah RA :

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم ; رواه مسلم ; 1163

“Ibadah puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharam (Imam Muslim: 1163).

Pun, terdapat hari yang mulia di dalam bulan ini. Asyura, tanggal ke-10 bulan Muharam. Abdullah bin al-‘Abbas meriwayatkan hadits; “Kala itu hari ‘Asyura (10 Muharam), Baginda Rasul SAW tengah berpuasa, dan beliau memerintahkan kami juga berpuasa. Kami bertanya: “Ya Rasul, bukankah hari ini adalah hari yang diagung-agungkan kaum Yahudi dan Nasrani?”. Lantas beliau SAW menjawab: “Jika saja tahun yang baru akan datang. Insya Allah, aku akan berpuasa dari hari yang ke 9”. Tahun baru belum kunjung datang kembali, Allah berkehendak terlebih dahulu memanggil Baginda Rasul” (Fathul Bari (4): 770).

Anjuran puasa di hari asyura diperkuat (menjadi sunnah muakkad) kembali oleh hadits Nabi SAW yang lain. Sabda Imam Bukhari: “Aku belum pernah melihat Rasul SAW melaksanakan puasa sehari yang ia unggulkan dari hari-hari lain, kecuali hari Asyura dan bulan ini (Ramadhan)” (Imam Bukhari (2006), Imam Muslim (1132).

Adapun puasa ‘arofah (9 dzulhijjah) mengkifarati (dosa) untuk dua tahun (satu tahun ke belakang dan satu tahun ke depan), sementara puasa ‘asyuro mengkifarati untuk satu tahun kebelakang saja, itu karena puasa ‘arofah adalah hari Nabi kita Muhammad SAW., sementara puasa ‘asyuro adalah hari para Nabi AS. selain Nabi Muhammad SAW. Dimana Nabi kita Muhammad SAW. adalah afdlolul anbiya, (dengan keunggulan itu) maka harinya (‘arofah) sebanding untuk dua tahun. (dan juga kenapa puasa ‘arofah punya nilai lebih daripada puasa ‘asyuro yang notabene puasa ‘asyuro memiliki beberapa kelebihan menyangkut kisah para Nabi) karena kelebihan (pada diri para Nabi) tidak menuntut (berimplikasi) kepada kefadlihan (yang bisa mengalahkan kefadlihan Nabi Muhammad SAW) (I’anah ath-Tholibin (2): 268).

Dihikayatkan, bahwa tatkala perahu Nabi Nuh AS. sudah berlabuh (siap digunakan) pada hari Asyuro, beliau berkata kepada kaumnya: “kumpulkanlah semua perbekalan yang ada pada diri kalian!”. Lalu beliau menghampiri (mereka) dan berkata: “(ambillah) kacang fuul (semacam kedelai) ini sekepal, dan ‘adas (biji-bijian) ini sekepal, dan ini dengan beras, dan ini dengan gandum dan ini dengan jelai (sejenis tumbuhan yg bijinya/buahnya keras dibuat tasbih)”. Kemudian Nabi Nuh berkata: “Pasaklah semua itu oleh kalian!, niscaya kalian akan senang dalam keadaan selamat”. Dari peristiwa ini maka kaum muslimin (terbiasa) memasak biji-bijian. Dan kejadian di atas merupakan praktik memasak yang pertama kali terjadi di atas muka bumi setelah kejadian topan. Dan juga peristiwa itu dijadikan (inspirasi) sebagai kebiasan setiap hari Asyuro.

وللحافظ ابْن حجر شعر من الرجزفِي الْحُبُوب الَّتِي طبخها نوح عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام فِي يَوْم عَاشُورَاء سبع تهترس * بر شعير ثمَّ ماش وعدس وحمص ولوبيا والفول * هَذَا هُوَ الصيح وَالْمَنْقُول

Diambil dari sebagian Afadlil , bahwa amal-amal pada hari ‘asyuro ada dua belas macam amal :

  1. Sholat, dan yang paling utama adalah sholat tasbih
  2. Puasa
  3. Sodaqoh
  4. Memberi keleluasaan kepada keluarga (seperti dengan memberi nafkah lebih dari hari-hari biasanya)
  5. Mandi
  6. Mengunjungi orang ‘alim yang solih
  7. Menengok orang sakit
  8. Mengusap kepala anak yatim
  9. Bercelak
  10. Memotong kuku
  11. Membaca QS. Al ikhlash 1000 kali
  12. Silaturahim

Imamul muhadditsin Ibnu Hajar Al-‘Asqolany dalam syarah Al bukhory mengatakan : “(ada) beberapa kalimat (dzikir) yang barang siapa membacanya pada hari ‘Asyuro, maka hatinya tidak akan mati”. Kalimat tersebut :

سُبْحَانَ الله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش

1. SUBHAANALLOH MIL-AL MIIZAANI WA MUNTAHAL ‘ILMI WA MABLAGHOR RIDLOO WA ZINATAL ‘ARSYI.

Maha suci Alloh dengan sepenuh timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya ‘arasy.

وَالْحَمْد لله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش

2. WALHAMDULILLAH MIL-AL MIIZAANI WA MUNTAHAL ‘ILMI WA MABLAGHOR RIDLOO WA ZINATAL ‘ARSYI.

Dan Segala puji bagi Alloh dengan sepenuh timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya ‘arasy.

وَالله أكبر ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش

3. WALLOHU AKBAR MIL-AL MIIZAANI WA MUNTAHAL ‘ILMI WA MABLAGHOR RIDLOO WA ZINATAL ‘ARSYI.

Dan Maha besar Alloh dengan sepenuh timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya ‘arasy.

لَا ملْجأ وَلَا منجا من الله إِلَّا إِلَيْهِ

4. LAA MALJA-A WALAA MANJAA MINALLOH ILLAA ILAIHI.

Tidak ada perlindungan dan tidak ada keselamatan dari Alloh kecuali kepadanya.

سُبْحَانَ الله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا

5. SUBHAANALLOH ‘ADADASY SYAF’I WAL WATRI WA ‘ADADA KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI KULLIHAA

Maha suci Alloh dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Alloh yang semuanya sempurna.

وَالْحَمْد لله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا

6. WALHAMDULILLAH ‘ADADASY SYAF’I WAL WATRI WA ‘ADADA KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI KULLIHAA

Dan Segala puji bagi Alloh dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Alloh yang semuanya sempurna.

وَالله أكبر عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا

7. WALLOHU AKBAR ‘ADADASY SYAF’I WAL WATRI WA ‘ADADA KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI KULLIHAA

Dan Maha besar Alloh dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Alloh yang semuanya sempurna.

أَسأَلك السَّلامَة بِرَحْمَتك يَا أرْحم الرَّاحِمِينَ وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم

8. AS-ALUKAS SALAAMATA BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROOHIMIIN WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM

Aku memohon keselamatan kepadamu dengan rohmatmu, wahai dzat yang pengasih diantara para pengasih!, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali oleh Alloh yang maha tinggi dan agung.

وَصلى الله على سيدنَا مُحَمَّد وعَلى آله وَصَحبه أَجْمَعِينَ وَالْحَمْد لله رب الْعَالمين

9. WASHOLLALLOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WA SHOHBIHII AJMA’IIN WALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘AALAMIIN

وَنقل سَيِّدي عَليّ الأَجْهُورِيّ أَن من قَالَ يَوْم عَاشُورَاء سبعين مرّة حسبي الله وَنعم الْوَكِيل نعم الْمولى وَنعم النصير كَفاهُ الله تَعَالَى شَرّ ذَلِك الْعَام

Sayyid ‘Aly Al-Ajhuri menuqil, bahwa orang yang membaca “HASBIYALLOHU WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULAA WANI’MAN NASHIIR” sebanyak 70 kali pada hari ‘asyuro, maka Alloh akan mencegah darinya kejelekan yang ada pada tahun itu. (Nihayah az-Zain: 195-197 pasal saum tathowu’ dan Ihya Ulumuddin, jilid 2).

Para ulama mengatakan bahwa hari asyuro memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan hari-hari yang lain, yaitu :

  1. Diciptakannya Nabi Adam AS di dalam surga
  2. Diterimanya taubat Nabi Adama AS di dalam surge
  3. Naik dan sejajarnya perahu Nabi Nuh AS dengan bukit Juudy
  4. Terbelahnya laut untuk Nabi Musa AS
  5. Tenggelamnya Fir’aun di dasar laut
  6. Dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari peruta ikan
  7. Dikeluarkannya Nabi Yusuf AS dari sumur
  8. Diterimanya taubat umat Nabi Yunus AS
  9. Dilahirkannya Nabi Ibrohim AS
  10.  Selamatnya Nabi Ibrohim AS dari api
  11. Dilahirkannya Nabi Isa AS
  12. Diangkatnya Nabi Isa AS ke langit
  13. Dikembalikannya penglihatan Nabi Ya’qub AS
  14. Dibuka (dihilangkan) nya madlorot yang mendera Nabi Ayyub AS
  15. Diampuninya Nabi Dawud AS

Dan yang ke tiga adalah puasa hari -Tasu’a-, yaitu hari ke Sembilan dari bulan Muharam. Sebagaimana telah disinggung pada awal keterangan.

Mudah-mudahan bermanfaat, Jaazakumullohh.  Wallohu a’lam *** (Iqbal1).


Selamat Tahun Baru Hijriyah 1433

November 26, 2011

السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1433

Para sahabat pengunjung yang senantiasa mengaharap rohmat Alloh SWT ;

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan lahir serta batin oleh Alloh SWT dalam memasuki setahun ke depan dengan rupa-rupa amal kebajikan, khususnya menegakkan ‘izzul islam wal muslimin’, serta senantiasa berada dalam rido dan maghfiroh Alloh subhaana wa ta’ala… Amien.

و السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته

———–

Catatan :

Ini doa akhir tahun, yang dibaca sesudah sholat ‘Ashar (sebelum Maghrib) :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم ; اللهم ما عملت في هذه السنة مما نهيتني عنه فلم اتب منه ولم ترضه ولن تنسه وحملت علي بعد قدرتك على عقوبتي ودعوتني الى التوبة منه بعد جراءتي على معصيتك ; اللهم اني استغفرك فاغفر لي وما عملته فيها مما ترضاه ووعدتني عليه الثواب فاسئلك اللهم يا كريم يا ذاالجلال والاكرام ان تتقبله مني ولا تقطع رجائي منك يا كريم ; وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Bismillaahirroĥmaanirroĥiim ; Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi wa shoĥbihi wa sallam. Allaahumma maa ‘amiltu fii haadzihis sanati mimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu wa lam tardlohu wa lam tansahu wa ĥamilta ‘alayya ba’da qudrotika ‘alaa ‘uquubatii wa da’autanii ilat taubati minhu ba’da jaroo-atii ‘alaa ma’shiyyatika Allaahumma innii astaghfiruka faghfir lii. Wamaa ‘amiltuhu fiihaa mimmaa tardloohu wawa’adtanii ‘alaihits tsawaaba fa-as-aluka Allaahumma yaa Kariimu yaa Dzal Jalaali wal Ikroomi an tataqobbalahu minnii wa laa taqtho’ rojaa-ii minka yaa Kariim. Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi washoĥbihi wa sallam. Walĥamdu lillaahi robbil ‘aalamiin.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya ; Ya Allah, apa pun yang hamba perbuat selama tahun ini dari hal-hal yang Paduka larang dan hamba belum bertobat darinya sedangkan Paduka tidak rela dan tidak melupakannya dan Paduka bebankan atas hamba dengan kekuasaan Paduka untuk menghukum hamba dan Paduka memerintahkan hamba untuk bertobat darinya sesudah hamba terlanjur berma’shiyat kepada Paduka, Yaa Allah, hamba sungguh mohon ampun kepada Paduka maka ampunilah hamba ; Dan apa pun yang hamba lakukan selama tahun ini dari hal-hal yang Paduka redlai dan Paduka janjikan untuk hamba pahala atas amal itu, maka hamba mohon kepada Paduka, Yaa Allah, Wahai Yang Maha Pemurah, Wahai Yang Empunya Keagungan dan Kemuliaan, agar Paduka menerimanya dari hamba dan tidak memupus harapan hamba dari paduka, Waha Yang Maha Pemurah ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Segala puji bagi Allah, tuhan sarwa sekalian alam.

——-

Ini doa awal tahun, yang dibaca sesudah sholat Magrib :

بسم الله الرحمن الحيم : وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله و صجبه وسلم : اللهم انت الابدي القديم الاول وعلى فضلك العظيم وجودك المعول وهذا عام جديد قد ادبل نسئلك العصمة فيه من الشيطان واوليائه وجنوده والعون على هذه النفس الامارة بالسوء والاشتغال بما يقربني اليك زلفى يا ذالجلال والاكرام : وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.

Bismillaahirroĥmaanirroĥiim ; Washollallaahu ‘alaa Sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi washoĥbihii wa sallam. Allaahumma Antal Abadiyyul Qodiimul Awwal wa ‘alaa fadl-likal ‘adhiimi wa juudikal mu’awwal. Wa haadzaa ‘aamun jadiidun qod aqbal. Nas-alukal ‘ishmata fiihi minasy syaithooni wa auliyaa-ihi wa junuudihi wal ‘auna ‘alaa haadzihin nafsil ammaaroti bis suu-i wal isytighoola bimaa yuqorribunii ilaika zulfaa yaa Dzal Jalaali wal Ikroom. Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi washoĥbihi wa sallam. Walĥamdu lillaahi robbil ‘aalamiin.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya ; Yaa Allah, Paduka kekal, tak berawal dan Yang Mula-mula. Dan Paduka menetapi keutamaan Paduka yang agung dan kemurahan Paduka yang menjadi tumpuan harapan akan pertolongan. Ini tahun baru yang datang. Hamba mohon dari Paduka perlindungan selama tahun ini dari syaitan dan teman-temannya dan pasukan-pasukannya dan hamba mohon pertolongan untuk menaklukkan nafsu ini, yang gemar menyuruh berbuat buruk, dan hamba mohon Paduka jadikan sibuk dengan hal-hal yang mendekatkan hamba kepada Paduka dengan sedekat-dekatnya, Wahai Empunya Keagungan dan Kemuliaan ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Segala puji bagi Allah, tuhan sarwa sekalian alam. Wallohu a’lam *** (iqbal1 :) ).


Insert : Sekitar Ilmu Tasawwuf

November 21, 2011

Sekitar Ilmu Tasawwuf dan ahli tasawwuf

Ilmu tasawwuf merupakan salah satu cabang dari lmu-ilmu Islam yang utama dan cukup penting meliputi diantara yang lainnya. Yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu ahlak. (KH. Siradjuddin Abbas : 3 ; 30).

Ilmu tauhid bertugas membahas soal-soal i’tiqod, seperti i’tiqod mengenai ketuhanan, kerasulan, hari akhirat, dlsb. Ilmu fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji, dlsb. Ilmu tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti ; bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu, muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. dlsb.

Ringkasnya, tauhid takluk kepada i’tiqod, fiqih takluk kepada amal ibadat, dan tasawuf takluk kepada ahlak. Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya ber-i’tiqod sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid, supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih, dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawwuf.

Sudah mafhum difahami adanya ilmu-ilmu tersebut dalam agama kita.

Tentang dalil atau dasar-dasar landasan bahwa ilmu tasawwuf sebagai ilmu atau bagian dari tradisi islam awal (masa rasululloh SAW dan para sahabat), antara lain dapat diketahui dari mabadi :

1. Adanya ulama-ulama besar yang menjadi tokoh dalam ilmu ini, seperti Syeikh Hasan Bashri (wafat 110 H), Syeikhah Rabiah Adawiyah (wafat – 135 H), Syeikh Sufyan Tsauri (wafat – 161 H), Syeikh Ibrahim bin Adam (wafat – 161 H), Syeikh Syaqiq Al Balkhi (wafat – 195 H), Syeikh Ma’ruf Karkhi (wafat – 200 H), Syeikh Siri Siqthi (wafat – 297 H), Syeikh Dzin Nun Al-mishri (wafat 245 H), Syeikh Junaidi Al-baghdadi (wafat 297 H), Syeikh Abu Yazid Al-bushtomi, Syeikh Abu Thalib Al-makki (wafat 386 H), Syeikh Al-qusyaeri (wafat 465 H), Hujatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al-ghozali (wafat 505 H), dll.

Beliau-beliau ini yang menggodog, merumuskan dan langsung membukukan ilmu2 ini secara sistimatik. Serta sesudah kewafatan beliau2, munculah ulama2 islam yang mengikuti jejak beliau2 itu dengan mengarang buku2 atau kitab2 yang bertalian. Sehingga sampai  sekarang kita dapat menikmati karya beliau2 itu dengan membaca kitab2nya dan mempelajari pendapat2nya.

2. Sanad atau guru-guru tokoh tsb tiada lain dari masa tabi’in adalah dari para shohabat seperti sayidina Ali KW, Sayidina Utsman ibnu Affan ra, Sayidina Umar ibnu Khotob ra, Sayidina Abu Bakar ra, dll,  dari Rosululloh SAW, dari Malaikat jibril dan dari Alloh SWT.

3. Adanya kitab-kitab yang tersiar dalam bidang ilmu tasawuf yang mu’tabar, al : Ihya ‘Ulumuddin (Imam Ghozali), Mukhtasar Ihya ‘Ulumuddin (Al-Qasimi), Risalah Al-Qusyairiyah (Al-Qusyaeri), Al-Hikam (Ibnu Atho’illah), dll.

4. Adanya -pengamal- atau pengikut ajaran ilmu tasawwuf ini yang sangat ta’at. Antara lain yang mengikuti faham ahlussunnah wal jamaah dalam hal i’tiqod, syari’ah dan ahlak.

5. Bidang kajian teori ilmu ini seperti yang disebutkan di atas adalah bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti. Bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu, muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. dlsb. Landasan nya tiada lain Al-qur’an dan sunnah Nabi SAW (Aqwal/hadits. Af’al, dan Taqrirot) serta atsar sohabat.

6. Hakekat Ilmu tasawwuf antara lain seperti yang dikemukan Syeikh Ahmad Amin (Dzuhrul Islam IV ; 151), yang mengutif pendapat Ibnu Khaldun (wafat 1406 M), beliau berkata ; “Asal pokok dari ajaran tasawwuf itu adalah bertekun beribadat, berhubungan langsung kepada Tuhan, menjauhkan diri dari kemewahan dan kemegahan duniawi, tidak suka pada harta dan tuah/pengaruh yang diburu orang banyak, dan bersunyi-sunyi diri dalam melaksanakan ibadat kepada Tuhan”.

Dari keterangan Ibnu Khaldun yg ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang tasawwuf itu adalah orang yang :

  1. Tetap bertekun beribadat kepada Tuhan
  2. Memutuskan pergantungan hatinya selain kepada Alloh taala
  3. Menjauhkan diri dari kemewahan-kemewahan duniawi
  4. Menjauhkan diri dari berfoya-foya dengan harta benda dan pengaruh/tuah
  5. Berkhalwat atau bersunyi-sunyi dalam melaksanakan ibadat.

Lalu Ibnu khaldun melanjutkan keterangannya : “Hal ini dilaksanakan oleh sahabat-sahabat Nabi SAW dan orang-orang Salaf, tetapi kemudian pada kurun ke 2 hijriyah, setelah orang-orang berebut-rebutan mengejar dunia, dan orang2 sudah enak-enak dalam masyarakat keduniaan, maka orang2 yang tetap tekun beribadat sebagai sediakala dinamai dengan orang-orang Tasawwuf”.

Dari pandangan Ibnu Khaldun yang diberikannya secara global ini dapat diambil kesimpulan dan beberapa pengertian :

  1. Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau beramal atau berbudi pekerti sesuai dengan Tasawuf dan bahkan amal dan akhlak orang Tasawuf bersumber kepada amal Nabi dan sahabat-sahabat beliau.
  2. Ajaran dalam Tasawuf adalah ajaran-ajaran yang berdasarkan Qur’an dan Hadits dan amal-amal sahabat Nabi, tidak ada yang menyimpang dari itu.
  3. Dan pada kurun ke 2 H –orang-orang Islam boleh dikatakan sudah ada yang lupa daratan, sudah mewah-mewah, sudah berfoya-foya, sudah menumpuk-numpuk harta, sudah sombong menyombongkan diri, sudah banyak yang takabur-.
  4. Sebagai reaksi dari keadaan itu banyak pula orang-orang Islam ingin tetap sebagai sediakala, sebagaimana yang diwariskan dari zaman Nabi SAW dan zaman sahabat-sahabat, yakni kehidupan sederhana.
  5. Orang-orang inilah yang dinamakan orang Tasawuf atau orang sufiyah.

Ilmu tasawwuf itu tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan Sunnah Nabi, dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya. Juga tidak bertentangan dengan syari’at lahir, tetapi berlainan lapangan. Andaikata ada kelihatan orang2 tasawwuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke masjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang tasawuf. Tetapi tasawuf pura-pura, kalau tidak akan dikatakan orang sinting.

Berkata  Dzun Nun Al-Mishri : “Ciri-ciri orang yang mencintai Alloh ialah siapa yang mengikuti kekasih Alloh Nabi Muhammad SAW dalam ahlak, perbuatan, suruhan dan sunnah beliau“. (Risalah Qusyairiyyah ; 8).

“Kalau kamu melihat seseorang yang diberi karomah sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”. (Risalah Qusyairiyyah ; 14).

Maka ahli Sufi yang tulen mesti menuruti ahlak, perbuatan, dan sunnah Nabi SAW. Andaikata kelihatan seorang Sufi melanggar syari’at, maka ia bukanlah ahli sufi. Ajaran ilmu tasawwuf sudah jelas, tiada lain yaitu meliputi tiga hal unsur penting ; Islam, Iman dan Ihsan / ahlak. Landasannya sebagaimana sabda Nabi SAW ;

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ  : رواه مسلم

Artinya : Dari Sayidina Umar bin Khottob ra, beliau berkata : “Pada suatu hari ketika kami bersama-sama Rasululloh SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak bahwa ia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu. Ia duduk berhadapan dengan Nabi SAW dengan mengadu lututnya dengan lutut Nabi SAW dan meletakkan tangannya di atas pahanya. Lalu ia bertanya ; Hai Muhammad, coba ceritakan kepadaku tentang Islam, Nabi menjawab ; Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad itu Rasululloh, engkau kerjakan sholat, engkau tunaikan zakat, engkau lakukan puasa bulan ramadhan, engkau naik haji kalau kuasa. Laki-laki itu menjawab, benar. Kami heran, kata Umar bin Khottob ra, Ia bertanya dan ia pula yang membenarkan.

Lalu ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tentang Iman!, Nabi menjawab ; Iman ialah supaya engkau percaya kepada Alloh, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, hari akhirat dan percaya dengan takdir buruk baiknya. Ia menjawab, benar. Ia bertanya lagi ; Apa ihsan itu ?. Nabi menjawab ; Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka IA melihat akan engkau. Ia bertanya lagi ; Kapan hari kiyamah ?. Nabi menjawab ; Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya. Ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tanda-tandanya!. Kalau sudah melahirkan budak akan tuannya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si penggembala kambing yang miskin.

Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Sayidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami : hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu ?. Jawab saya ; Tuhan Alloh dan rasul-Nya yang lebih tahu. Nabi menjelaskan ; Itulah Malaikat Jibril, ia datang untuk mengajarkan agamamu’. (HR Imam Bukhari dan Muslim ; Syarah Muslim 1 ; 157-160).

Dalam memberi komentar Hadits ini, Imam Bukhari mengatakan bahwa ketiga-tiganya, yakni Islam, Iman dan Ihsan adalah Agama. (Kitab Hadits Bukhari 1 ; 15). Hadits ini mengisyaratkan pada tiga unsur yang terdapat dalam agama Islam, yaitu Islam, Iman dan Tasawuf. Porsi Ihsan adalah ajaran muroqobah, tahalli, tajalli ; yang ada dalam tasawwuf. Upaya mensucikan diri, jiwa dan pikiran agar senantiasa dekat dicintai Alloh SWT.

***

Beberapa ajaran tasawuf menurut Imam Al-Qusyaeri dalam risalah Al-Qusyaeriyyah diantaranya : Taubat (menyesal atas kesalahan2). Mujahadah (ber-sungguh2 beribadah), Khalwat dan Uzlah (ber-sunyi2 dalam melaksanakan ibadat), Taqwa (bertakwa kepada Tuhan), Wara’ (menjauhkan diri dari maksiyat dan subhat), Zuhud (anti keduniaan yang ber-lebih2an), Shamat (pendiam), Khauf (takut kepada siksa Alloh), Roja’ (mengharap rohmat Tuhan), Hazan (membiasakan berduka-cita), Ju’wa Tarkus Syahwat (membiasakan lapar dan menahan syahwat), Khusyu’ dan Tawadhu (tenang hati dan berendah diri), Mukhalafatun nafsi (melawan hawa nafsu), Qana’ah (mencukupkan yang ada), Tawakkal (hanya bergantung kepada Tuhan), Syukur (berterimakasih kepada Tuhan), Yakin (keyakinan yang teguh), Sabar (tahan menderita), Muroqobah (berhadapan dengan Tuhan), Ridho (senang hati menerima ketentuan Alloh), Ubudiyah (mengabdi kepada Alloh), Iradah (kemauan), Istiqomah (tetap), Ikhlash (ihlas karena dan untuk Alloh), Shiddiq (benar), Haya (pemalu), Dzikir (ingat Alloh), Al-futuwah (mempersiapkan diri untuk berkorban), Firasah (firasat), Khulq (ahlak yg baik), Jud was sakha (pemurah tdk kikir), Gairah (cemburu), Wilayah (kewalian), Du’a (mohon kepada Tuhan), Fiqr (kemiskinan), dll.

Untuk salah satu contoh ajaran tasawuf nomor satu ialah Taubat : 1. Menyesal diri atas dosa yang telah dibuat, 2. Menghentikan perbuatan maksiat itu kalau sedang dikerjakan, 3. Berjanji dengan Tuhan bahwa dosa itu tidak akan diperbuat lagi, 4. Menyelesaikan apabila ada masalah yang  berkaitan dengan hak adami, 5. Seketika berubah dg memperbanyak amal ibadah, 6. Dikerjakan sebelum meninggal.

Firman Alloh ta’ala ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Terjemah : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Alloh sebenar-benarnya taubat (Taubatan Nashuha)”. (At-tahrim / QS : 66 ; 8).

Contoh taubat ini dilakukan oleh Nabi SAW sendiri. Walaupun beliau ma’shum, yakni tidak pernah berbuat dosa, tetapi beliau senantiasa taubat juga kepada Alloh SWT ;

وَعَنِ الاََ ءغَرِابْنِ يَسَارٍالْمُزَنِّيِّ رضي الله عنه قَالَ ؛ قَالَ رَسُوْلُ الله ص م ؛ يَاَيُّهَاالنَّاس تُوْ بُواْ إِلىَ اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَاءِنِّيْ اَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِاءَةَ مَرَّةٍ ؛ رواه مسلم ~ دليل الفالحين ١ ص ٨٣

Artinya : Dari Sohabat Agar bin Yassar Al-Muzannie ra beliau berkata. Berkata Rosululloh SAW ; “Hai Manusia, taubatlah kamu dan minta ampunlah kepada Alloh ta’ala. Sayapun tobat 100 kali dalam sehari”. (HR Imam Muslim, dalilul falihin 1 ; 83).

Ada gubahan sya’ir dari ulama ahli tasawwuf yang amat populer diamalkan tiap ba’da sholat jum’at dalam masalah pertaubatan ini :  

الهي لست للفردوس أهلا ~ ولا أقوى على نار الجحيم
فهب لي توبة واغفرذنوب ~ فإنك غافرالدنب العظيم

(Contoh Audionya Dapat Klik di teksnya/Lirik oleh Gus Dur)

Artinya (Kira-kira) : Ya Tuhanku, rasanya aku tak pantas menjadi masuk ahli surga ; Tetapi rasanya akupun tak kuat masuk neraka jahim. Maka oleh sebab itu terimalah taubat dan ampunilah dosa saya ; Maka sesungguhnya Engkau ya Tuhanku yang sanggup mengampuni dosa bagaimanapun juga besarnya. (Nihayatuz-zein / Ka Syifatu Sajaa ; h 93 ; b 26-27).

Nasihat : 

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوا لَايَسْخَرْقَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Terjemah : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang meremehkan (merendahkan) kumpulan yang lain. Boleh jadi yang diremehkan itu lebih baik dari yang meremehkan” (Al-hujurat / QS 49 ; 11).

يا أيها الذين امنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فان تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

Terjemah : “Wahai orang-orang yang beriman patuhlah kalian kepada Alloh, dan patuhlah kalian kepada Rosul serta Ulil amri diantara kamu sekalian. Kemudian  jika kalian berselisih paham tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika kamu sekalian benar-benar beriman kepada hari kemudian. Yang demikian ini lebih utama dan lebih baik akibatnya. (An-nisa / QS : 4 ; 59). –Walloohu subhaana wa ta’alaa bil a’lam– *** (Iqbal1).


Tasawwuf : Hakikat Wali

November 18, 2011

Dalam tradisi keilmuan Nusantara, dikenal istilah wali. Diantara kata wali yang paling populer adalah ‘walisanga’ yang berarti wali sembilan sebagai penyebar Islam pertama di Nusantara. Wali juga biasa diidentikkan dengan seseorang yang memilki kelebihan (karomah). Sebagian dari masyarakat muslim mempercayai keberadaan dan ‘kelebihan’ yang dimiliki para wali dan sangat menaruh hormat kepada mereka.

Kepercayaan itu diungkapkan dalam bentuk mengunjungi maqbaroh untuk bertawassul kepada mereka. Akan tetapi sebagian masyarakat yang lain tidak percaya dengan keberadaan wali bahkan menganggap para wali sebagai sarang ke-bid’ah-an. Hal ini terjadi karena miskinnya pengetahuan atau seringnya pemaknaan kata wali yang merujuk pada hal-hal negatif.

Menurut bahasa, kata wali itu kebalikan dari ‘aduw, musuh. Bisa jadi berarti sahabat, kawan atau kekasih. Umumnya wali Allah diartikan kekasih Allah.

Menurut istilah ahli hakikat, wali mempunyai dua pengertian. Pertama, orang yang dijaga dan dilindungi Allah, sehingga dia tidak dan tidak perlu menyandarkan diri dan mengandalkan pada dirinya sendiri. Seperti dalam al-Qur’an surah al-A’raf 196 ;

Artinya : Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah menurunkan Al Kitab (Al Quran) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh.

Kedua, orang yang melaksanakan ibadah kepada Allah dan menanti-Nya secara tekun terus menerus tak pernah kendur dan tidak diselingi dengan berbuat maksiat, maka Allah pun mencintainya.

Kedua-duanya merupakan syarat kewalian. Wali haruslah orang yang terpelihara (mahfudz) dari melanggar syara’ dan karenanya dilindungi oleh Allah, sebagaimana nabi adalah orang yang terjaga (ma’shum) dari berbuat dosa dan dijaga oleh-Nya. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan penanda bagi wali Allah ;

a.    Himmah atau seluruh perhatiannya hanya kepada Allah
b.    Tujuannya hanya kepada Allah
c.    Kesibukannya hanya kepada Allah

Ada juga yang mengatakan tanda wali Allah adalah senantiasa memandang rendah dan kecil kepada diri sendiri serta khawatir jatuh dari kedudukannya (di mata Allah) di mana ia berada. (baca Jamharatul Auliya wa A’lamu Ahlit Tatsawwuf, hal 73-110).

Kalau menurut al-Qur’an, ini tentu saja paling benar, wali Allah adalah orang-orang mu’min yang senantiasa bertakqwa dan karenanya mendapat karunia tidak mempunyai rasa takut (kecuali kepada Allah) dan tidak pernah bersedih. Seperti dalam al-Qur’an surah Yunus : 62-63 ;

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ ﴿٦٢﴾ الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ

Artinya: Ketahuilah sesungguhnya wali-wali Alloh tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati, (Yaitu mereka) adalah orang-orang yang beriman dan mereka senantiasa bertaqwa.

Atau dengan kata lain, wali Allah adalah orang mu’min yang senantiasa mendekat (taqarrub) kepada Allah dengan terus mematuhi-Nya dan mematuhi Rasul-Nya. Sehingga akhirnya dia dianugrahi karomah, semacam ‘sifat ilmu linuwih’ (Seperti mukjizat Nabi. Bedanya, mu’jizat nabi melalui pengakuan –dan sebagai bukti- kenabian ;  sedang karomah wali tidak mengikuti pengakuan kewalian).

Dalam sebuah hadits qudsi (hadits Nabi saw. yang menceritakan firman Allah) yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Shahabat Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda :

إن الله تعالى قال: من عادى لي وليا فقد أذنته بالحرب وما تقرب إلـي عبدى بشيئ أحب إلـي مما افترضته عليه ولايزال عبدى يتقرب الـي بالنوافل حتى احبه فاذا احببته كنت سمعه الذى يسمع به وبصره الذى يبصربه ويده التى يبطش بها ورجله التى يمشى بها وإن سألنى لأعطينه وإن استعاذنـي لأعيذنه

Artinya : Allah Ta’ala telah berfirman: Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku benar-benar mengumumkan perang terhadapnya. Hamba-Ku tidak berdekat-dekat, taqarrub, kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku sukai melebihi apa yang telah aku fardhukan kepadanya. Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekat-dekat kepada-Ku dengan melaksanakan kesunahan-kesunahan sampai Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Akulah pendengarannya dengan apa ia mendengar. Akulah penglihatannya dengan apa ia melihat. Akulah tangannya dengan apa ia memukul. Akulah kakinya dengan apa ia berjalan. Dan jika ia meminta kepada-Ku, Aku akan memberinya, jika ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku akan melindunginya.

Boleh saja orang mempunyai ‘sifat linuwih’ misalnya bisa membaca pikiran orang, bisa berkomunikasi dengan binatang atau orang yang sudah mati, bisa berjalan di atas air, atau kesaktian-kesaktian lainnya, tetapi tentu saja dia tidak otomatis bisa disebut wali. Sebab dajjal, dukun, tukang sihir, ‘ahli hikmah’ tukang sulap atau paranormal pun bisa memperlihatkan kesaktian semacam itu.

Sebaliknya bisa saja seorang wali dalam kehidupannya sama sekali tidak tampak lain dari orang-orang biasa. Lihat saja dari kesembilan wali Tanah Jawa, yang terkenal punya kesaktian hanya Sunan Kalijogo yang mempunyai kesaktian membuat soko guru masjid Demak dari tatal dan Sunan Bonang yang mengubah buah pinang tampak menjadi emas. Jadi kewalian seseorang tidak diukur dengan keanehan dan kesaktiannya, perilaku ataupun pakaiannya melainkan kedekatan dan ketakwaan kepada Allah. *** (Sumber : Fikih Keseharian Gus Mus / NU Online).


Menambah Lafad Sayidina

Oktober 12, 2011

قال الشمس الرملى فى شرح المنهاج  الافضال الا ثيان بلفظ السيادة لان فيها الا تيان بما امرنا و زيادة الاحبار بالواقع الذي هو ادب  فهو افضل من تركه  وقال السحيمي ايضا ولا يقال امتثال الا مر افضل من الادب لانا نقول فى الادب امتثال الامر وزيادة والظاهر ان الافضل ذكره قى غيرنبينا ايضا. انتهى  وا كمل الصلاة على النبي وافضلها سواء في الصلاة و خرجها كما نص على ذلك الرملى  اللهم صل على سيدنا محمد و على ال سيدنا محمد …. الخ

امام الحظرمى ؛ كالشفةالسجا في الشرح سفنةالتجا ؛ صحفة  ٦١

Perkara menambah lafad –sayidina- sebelum menyebut nama Nabi Muhammad SAW, perlu juga diutarakan supaya memahami duduk persoalan. Menghindarkan kekwatiran akibat tidak mafhum. Menjadi menimbulkan pertanyaan atau ragu-ragu dalam beramal.

Telah mengemukakan Imam Syamsu Ar- Romli dalam Syarah Al-Minhaj, bahwa  yang lebih utama, -yaitu ketika menyebutkan nama Nabi Muhammad SAW-  adalah mendatangkan kepada lafad –siyadah- (kepemimpinan/sayidina). Sebab sesungguhnya dalam lafad –siyadah- terkandung  beberapa faktor sesuatu perkara yang telah diperintahkan kepada kita semua memenuhinya.

Perkara menambahkan lebih terhadap sesuatu –ahbar-, yaitu konteks penyebutan Nabi Muhammad SAW dari buktinya dengan mendatangkan lafad –sayidina- merupakan tatakrama yang benar. Memakai tatakrama, adalah lebih utama daripada meninggalkannya.

Telah mengemukakan juga Imam Suhaemi, bahwa jangan diungkapkan melaksanakan perintahan itu lebih utama daripada tatakrama. Sebab kita semua telah berpendapat tetap dalam tatakrama melaksanakan perintahan, dengan menambahkan kelebihan atas –ahbar- dari buktinya. Sesungguhnya utama juga menyebutkan sayidina kepada selain nabi kita.

Kesimpulan : Adalah lebih sempurna dalam sholat dan di luar sholat, seperti perkara yang sudah di –nash- oleh Imam Romli atas kelebihan penambahan –ahbar- sebagai tatakrama. Yaitu menambahkan sayidina di depan nama Nabi Muhammad SAW seperti berikut : “Allohumma SholIi  ‘aala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aali Sayyidina Muhammad. Kama shollaeta ‘alaa Sayyidina Ibrohiem, wa ‘alaa aali Sayyidina Ibrohiem, dst…. (Lihat Kitab Kassyifatus-saja Fie Syarhi Safinatun-najaa, Imam Hadhromi, Halaman 61).

Ketiadaan lafad –sayidina- dalam konteks matan hadits, mesti disikapi sebagai keengganan Kangjeng Nabi Muhammad SAW menyombongkan atau membanggakan diri. Tetapi hal ini bukan menunjukan sebagai larangan menyebut nama beliau dengan sayidina.

Nabi sendiri dalam beberapa hadits yang lain menyebut dengan jelas dirinya sebagai -sayidina- ; “Ana -sayyidu- waladi aadama yaomal qiyamati” (Hr Muslim) ; “Ana -sayyidul- mursalien wa khotamien nabiyyien”. “Ana -sayyidu- waladil aadama wa laa fahroo”.  (Lihat Hasyiyah Bajurie, hal 14).

Dalam pendapat Madhab Imam Syafii telah mu’tamad menambah lafad sayidina ketika menyebut nama Nabi Muhammad SAW sebagai -afdhol-. Menyebut dalam sholat ataupun di luar sholat. Sebagaimana dikukuhkan -nash- hukumnya oleh Imam Syamsu Ar-Romlie atas perkara itu ; “Allohummaa shollie ‘alaa sayidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad, kama sholaita ‘ala sayidina ibroohiem wa ‘alaa aali sayidina ibroohiem .. dst.. ” ; sebagai bacaan takhiyat akhir dalam sholat.

Keterangan lihat Kitab Imam Hadromi, Kasysyifaatus Sajaa fie syarh Safinatunn najaa, halaman 61. Penjelasan ini ditashih juga ashab-ashab kaol Imam Syafii yang lainnya, seperti dalam Kitab Hasyiyah Bajurie. Ada juga dalam Taqrieb. Atau Kitab Ghoyatul Ihtisar, atau At-Tadhib. Hukumnya sudah begini jadi nash qoth’i.

Syeikh Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri menyatakan :

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

Yang lebih utama adalah mengucapkan sayidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau). (Hasyisyah Al-Bajuri, Juz I, Hal 156).

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW :

عن أبي هريرة قا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at. (Shahih Muslim, 4223).

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani :

Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits -‘saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat’-. Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat. (Dalam kitabnya Manhaj As-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayidina di dalam shalat ?.

لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

Janganlah kalian mengucapakan sayidina kepadaku di dalam shalat

Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak sinkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan   سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ  , Sehingga tidak bisa dikatakan  لَاتُسَيِّدُوْنِي

Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayidina dalam shalat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menambahkan lafad sayidina ketika membaca, menulis sholawat, dsb. kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.