Du’a Memasuki Bulan Rajab

Mei 22, 2012

Du’a memasuki bulan Rajab :

اللهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان

Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan”.

Selamat memasuki bulan Rajab 1433 H, 22 Mei 2012. Semoga Alloh SWT senantiasa memberkahi kita semua, Amin.


Nuansa Maulid : Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren An-najah, Cihuni.

Februari 13, 2012

This slideshow requires JavaScript.

 

Pengajian rutin bulanan di pesantren dan majlis ta’lim “An-najah” Cihuni, Desa Nanjung Jaya – Kec. Kersamanah, Kab. Garut bagi jamaah kaum muslimin yang biasa dilaksanakan setiap hari minggu pertama di awal setiap bulan, pada kesempatan bulan mulud / 12 Rabbi’ul Awwal 1433 H atau bertepatan dengan tanggal 05 Februari 2012 ini bertambah semarak.

Yaitu sebagai -Bulan Akbar- dan -momentum kebangkitan-  melalui takdhiman, wa tasyrifan, wa ta’liman, wa tadzkiran atas junjunan alam Nabi Besar Muhammad SAW yang datang diutus oleh Alloh SWT membawa risalah Islam kepada seluruh ummat manusia. Menjadi rahmat kepada seluruh alam melalui proses -kelahirannya- yang jatuh pada hari Senin, tanggal 12, bulan Rabbi’ul Awwal, tahun Gajah, di Mekah dari ibunda Sayyidah Siti Aminah dan ayahanda Sayyid Abdulloh.

Maulid Nabi SAW ini merupakan karunia paling besar bagi umat Islam. Sangat dianjurkan bergembira menyambutnya sebagai rasa syukur. Ekspresinya boleh dengan berbagai bentuk sepanjang tidak bertentangan dengan syariat agama.

Serta pengajian bulanan kali ini bersamaan dengan khaul ke 35 Almaghfirlah Hadratusy syeikh KHR. Ahmad Djawari Bin KHR. Ahmad Djunaedi Bin KHR. Zarkasih sebagai figur-figur yang telah mendedikasikan seluruh kehidupannya dalam penyebaran agama Islam, khususnya melalui pengelolaan pesantren di kawasan utara Garut ini.

Materi acara meliputi :

Sabtu Siang 04/02/2012 : Pembacaan ayat suci  Al-qur’an 30 Juz, dan munajat du’a serta tahlil dan hadiah pahlanya dalam rangka Khaul Almaghfirlah Hadratusy Syeikh KHR. Ahmad Djawari, pendiri pesantren An-najah ini.

Sabtu Malam : Lailatul ijtima dengan para alumni serta bahtsul masaa’il dan mudharosah rutin kitab tafsir al-qur’anil adhiem “Jalalen” karya Imam Jalaluddin As-suyuthi dan Imam Jalaluddin Al-Mahalli. Dilanjutkan dengan -marhaba- dan pembacaan kitab -iqdul jawahir- atau barjanji dalam rangkaian -imtihan santri- bersama samrah.

Minggu Pagi 05/02/2012 Tabligh Akbar Maulid : Uraian Keutamaan Maulid, bersama Habib Hamid Naufal Bin ‘Alwy Al-Kaff. Du’a dan Tawasul   serta Istighosah untuk kemaslahatan ummat. Manaqib / Pembacaan Biographi Hadratusy Syeikh KHR. Ahmad Djawari serta tabligh dan taushiah mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh beberapa Kiayi Alumni An-najah dari Bandung, Tasikmalaya, Limbangan, Garut, dskt. serta dengan Tabligh Umum oleh KHR. Nuh Addawami pengasuh Pesantren Cisurupan, Garut yang juga sebagai Wakil Ro’is Syuriyah PW NU Jawa Barat.

Kegiatan seperti ini senyatanya sangat efektif dan antusias dihadiri jamaah kaum muslimin dari berbagai peloksok serta mampu menghadirkan kegiatan syi’ar agama Islam supaya tidak meredup. Upaya meng-hidup2-kan kejayaan Islam dan kaum muslimin dalam tatanan baldatun thoyyibatun wa robbul ghofur.

Insya Alloh nuansa maulid Nabi SAW ini menjadi wasilah membawa turunnya berkah dan keridhoan dari Alloh SWT kepada kita sekalian yang percaya dan senantiasa merindukan keselamatan di dunia dan akhirat. Khususnya mendapatkan -syafatul udhma- dari Rasululloh SAW di -yaumil jaza-. Amin.

Selamat dan ucapan terimakasih kami sampaikan kepada santri2 dan panitia serta semua pihak yang telah urun rembug atas terselenggaranya kegiatan yang tertata apik ini. -Allohumma sholli wasallim wa baarik alaih-. Wallohu ‘alam :) *** (Iqbal1).


Catatan : Sya’ir Al-i’tiraf Abu Nawas (Oleh Gus Dur)

Desember 10, 2011

الاعْتِرَافُ

إِِلَهِِيْ لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

ذُنُوْبيِ مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ # فَهَبْ ليِ تَوْبَةً يَاذاَالجَلاَلِ

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فيِ كُلِّ يَوْمٍ # وَذَنْبيِ زَئِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِ

إِِلَهِِيْ عَبْدُكَ العَاصِي أَتَاكَ # مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَا أَهْلٌ  # فَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

——–

Pengakuan :

Wahai Tuhanku, aku tidaklah pantas menjadi ahli surga # Tapi aku pun tidak kuat masuk kedalam api neraka

Maka berilah aku taubat (ampunan) dan ampunilah dosaku # Sesungguhnya engkau Maha Pengampun dosa yang besar

Dosaku bagaikan bilangan pasir # Maka berilah aku taubat wahai Tuhanku yang memiliki keagungan

Dan umurku ini berkurang setiap hari # Sedang dosaku selalu bertambah, bagaimana aku menanggungnya

Wahai Tuhanku, Hamba Mu yang berbuat dosa telah datang kepada Mu # Mengakui atas segala dosa dan sebenar-benarnya telah memohon kepada Mu

Maka jika engkau mengampuni, maka Engkaulah ahli pengampun # Jika Engkau menolak, kepada siapakah lagi aku mengharap selain kepada Engkau?

—–

Klik : Liric yg disampaikan Gus Dur

(Note : Gubahan Abu Ali Al-Hasan ibnu Hani Al-Hakami, dengan nama samaran Abu Nawas.  Ulama besar termasyhur masa Khalifah Abasiyah Harun Al-Rasyid ).


Telisik : Syekh Jumadil Kubro (Penyebar Islam dan Teori Keturunannya)

Desember 7, 2011

Syekh Jumadil Kubro

Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Terdapat beberapa versi babad yang meyakini bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Martin van Bruinessen (1994) menyatakan bahwa ia adalah tokoh yang sama dengan Jamaluddin Akbar (lihat keterangan Syekh Maulana Akbar di bawah).

Sebagian babad berpendapat bahwa Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. Hal tersebut menyebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek yang dominan di Asia Tengah, selain kemungkinan lainnya yaitu etnis Persia, Gujarat, ataupun Hadramaut.

Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.[2]

Syekh Maulana Akbar

Syekh Maulana Akbar adalah adalah seorang tokoh di abad 14-15 yang dianggap merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama lainnya ialah Syekh Jamaluddin Akbar dari Gujarat, dan ia kemungkinan besar adalah juga tokoh yang dipanggil dengan nama Syekh Jumadil Kubro, sebagaimana tersebut di atas. Hal ini adalah menurut penelitian Martin van Bruinessen (1994), yang menyatakan bahwa nama Jumadil Kubro (atau Jumadil Qubro) sesungguhnya adalah hasil perubahan hyper-correct atas nama Jamaluddin Akbar oleh masyarakat Jawa.[3]

Silsilah Syekh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar) dari Nabi Muhammad SAW umumnya dinyatakan sebagai berikut: Sayyidina Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Jalal Syah, dan Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar).

Menurut cerita rakyat, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan atau berasal dari keturunan Syekh Maulana Akbar ini. Tiga putranya yang disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara; adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar kakek Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai, dan Zainal Alam Barakat.

Penulis asal Bandung Muhammad Al Baqir dalam Tarjamah Risalatul Muawanah (Thariqah Menuju Kebahagiaan) memasukkan beragam catatan kaki dari riwayat-riwayat lama tentang kedatangan para mubaligh Arab ke Asia Tenggara. Ia berkesimpulan bahwa cerita rakyat tentang Syekh Maulana Akbar yang sempat mengunjungi Nusantara dan wafat di Wajo, Makasar (dinamakan masyarakat setempat makam Kramat Mekkah), belum dapat dikonfirmasikan dengan sumber sejarah lain. Selain itu juga terdapat riwayat turun-temurun tarekat Sufi di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa Syekh Maulana Akbar wafat dan dimakamkan di Cirebon, meskipun juga belum dapat diperkuat sumber sejarah lainnya.

Syekh Quro

Syekh Quro adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu pesantren Quro di Tanjungpura, Karawang pada tahun 1428.[4]

Nama aslinya Syekh Quro ialah Hasanuddin. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama} asal Mekkah, yang berdakwah di daerah Karawang. Ia diperkirakan datang dari Champa atau kini Vietnam selatan. Sebagian cerita menyatakan bahwa ia turut dalam pelayaran armada Cheng Ho, saat armada tersebut tiba di daerah Tanjung Pura, Karawang.

Syekh Quro sebagai guru dari Nyai Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa penguasa Cirebon. Nyai Subang Larang yang cantik dan halus budinya, kemudian dinikahi oleh Raden Manahrasa dari wangsa Siliwangi, yang setelah menjadi raja Kerajaan Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Pangeran Kian Santang yang selanjutnya menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Makam Syekh Quro terdapat di desa Pulo Kalapa, Lemahabang, Karawang.

Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih markas di pelabuhan Muara Jati, yaitu kota Cirebon sekarang. Ia bernama asli Idhafi Mahdi.

Majelis pengajiannya menjadi terkenal karena didatangi oleh Nyai Rara Santang dan Kian Santang (Pangeran Cakrabuwana), yang merupakan putra-putri Nyai Subang Larang dari pernikahannya dengan raja Pajajaran dari wangsa Siliwangi. Di tempat pengajian inilah tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Makam Syekh Datuk Kahfi ada di Gunung Jati, satu komplek dengan makam Sunan Gunung Jati.

Syekh Khaliqul Idrus

Syekh Khaliqul Idrus adalah seorang muballigh Parsi yang berdakwah di Jepara. Menurut suatu penelitian, ia diperkirakan adalah Syekh Abdul Khaliq, dengan laqob Al-Idrus, anak dari Syekh Muhammad Al-Alsiy yang wafat di Isfahan, Parsi.

Syekh Khaliqul Idrus di Jepara menikahi salah seorang cucu Syekh Maulana Akbar yang kemudian melahirkan Raden Muhammad Yunus. Raden Muhammad Yunus kemudian menikahi salah seorang putri Majapahit hingga mendapat gelar Wong Agung Jepara. Pernikahan Raden Muhammad Yunus dengan putri Majapahit di Jepara ini kemudian melahirkan Raden Abdul Qadir yang menjadi menantu Raden Patah, bergelar Adipati Bin Yunus atau Pati Unus. Setelah gugur di Malaka 1521, Pati Unus dipanggil dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. [5]

Teori Keturunan Hadramaut

Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Walisongo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh daripada merupakan asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif. Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya Thariqah Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Walisongo adalah keturunan Hadramaut.

L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien (1886)[6] mengatakan :

”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”

Van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204) :

”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang-orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”

Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad spesifik kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga Hadramaut lainnya.

* Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.
* Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi’i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait ; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.
* Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.

Teori Keturunan Cina

Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Walisongo adalah keturunan Tionghoa Indonesia.[rujukan?] Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa Walisongo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru sempat melarang terbitnya buku tersebut.[rujukan?]

Referensi-referensi yang menyatakan dugaan bahwa Walisongo berasal dari atau keturunan Tionghoa sampai saat ini masih merupakan hal yang kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademik yang berasal dari Slamet Muljana, yang merujuk kepada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarawan, misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C. van den Berg. Sejarawan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin van Bruinessen, bahkan tak pernah sekalipun menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries adalah yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain, seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan [7].

Sumber tertulis tentang Walisongo

1. Terdapat beberapa sumber tertulis masyarakat Jawa tentang Walisongo, antara lain Serat Walisanga karya Ranggawarsita pada abad ke-19, Kitab Walisongo karya Sunan Dalem (Sunan Giri II) yang merupakan anak dari Sunan Giri, dan juga diceritakan cukup banyak dalam Babad Tanah Jawi.
2. Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
3. Dalam penulisan sejarah para keturunan Bani Alawi seperti al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran, ‘Umdat al-Talib oleh al-Dawudi, dan Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur; juga terdapat pembahasan mengenai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Gresik.

Diambil dari Blogsport Sohiblagi

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) penganut madzhab Hanafi yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur’an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik”.

Sebagian cerita menyatakan bahwa pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syekh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, Sebab  Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah.

Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali  KRW, menantu Rasulullah SAW.

Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat). Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Hasanuddin rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.

Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.

Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.

Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur’an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya.

Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa “Bintang Saketi”, yaitu simbol dari “tasbih” yang berada di Negeri Makkah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Mesjid Agung sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.

Pernikahan di musholla yang senantiasa menganggungkan asma ALLAH SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di sekitarnya. Nyai Subang Larang sebagai isteri seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari ulama besar yang bernama Syekh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Raden Rara Santang sewaktu di Makkah diperistri oleh Sultan Mesir yang bernama Syarif Abdullah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama Raden Sangara atau Pangeran Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Muballigh untuk menyebarkan agama Islam di daerah Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi oleh Syekh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.

Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh para ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk “joglo” beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah “menyalakan pelita Islam”, sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/ XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.

Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro. Wallohu a’lam *** (Dirangkum oleh Pa’e Daffa dari berbagai sumber. Ref. Bayt Al-Hikmah Institute). 


Kang Said ; Tudingan Bid’ah dan Syirik Jadi Bibit Terorisme

Desember 6, 2011

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menekankan, sejak awal NU menolak paham ekstrem yang sering mengkafirkan kelompok lain dan menyulut perang saudara diantara umat Islam sendiri.

Lebih dari itu, kebiasaan suka menuding orang lain dengan sebutan bid’ah, syirik dan sebagainya, lanjutnya, merupakan bagian dari ideologi radikal yang menjadi bibit terorisme. “Kalau sudah menuduh orang lain bid’ah, musyrik atau kafir, maka orang akan menghalalkan darah orang lain. Siapapun bisa dibunuh oleh mereka,” katanya.

Ketua Umum PBNU menyampaikan hal itu di hadapan ribuan warga Nahdliyin dalam acara peringatan hari lahir (Harlah) ke-85 NU yang digerlar Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Kecamatan Gunungpati, Sabtu (23/4) kemarin di Lapangan Banaran, samping kampus Unnes, Gunungpati, kemarin.

Kang Said, panggilan akrab KH Said Aqil Siroj, juga menjelaskan bahwa Islam bisa mengubah Arab yang jahiliyah menjadi berperadaban maju. Generasi umat Islam terdahulu merintis berbagai karya di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun anehnya, lanjut Kang Said, beberapa kelompok kalangan Islam di zaman modern ini hendak menghancurkan semua itu dengan mengharamkan segala ilmu dan hasil karya para ulama. *** (NU-Online).


Selamat Tahun Baru Hijriyah 1433

November 26, 2011

السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته

SELAMAT TAHUN BARU HIJRIYAH 1433

Para sahabat pengunjung yang senantiasa mengaharap rohmat Alloh SWT ;

Semoga kita senantiasa diberi kekuatan lahir serta batin oleh Alloh SWT dalam memasuki setahun ke depan dengan rupa-rupa amal kebajikan, khususnya menegakkan ‘izzul islam wal muslimin’, serta senantiasa berada dalam rido dan maghfiroh Alloh subhaana wa ta’ala… Amien.

و السّلام عليكم و رحمة الله و بركاته

———–

Catatan :

Ini doa akhir tahun, yang dibaca sesudah sholat ‘Ashar (sebelum Maghrib) :

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ : وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم ; اللهم ما عملت في هذه السنة مما نهيتني عنه فلم اتب منه ولم ترضه ولن تنسه وحملت علي بعد قدرتك على عقوبتي ودعوتني الى التوبة منه بعد جراءتي على معصيتك ; اللهم اني استغفرك فاغفر لي وما عملته فيها مما ترضاه ووعدتني عليه الثواب فاسئلك اللهم يا كريم يا ذاالجلال والاكرام ان تتقبله مني ولا تقطع رجائي منك يا كريم ; وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين

Bismillaahirroĥmaanirroĥiim ; Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi wa shoĥbihi wa sallam. Allaahumma maa ‘amiltu fii haadzihis sanati mimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu wa lam tardlohu wa lam tansahu wa ĥamilta ‘alayya ba’da qudrotika ‘alaa ‘uquubatii wa da’autanii ilat taubati minhu ba’da jaroo-atii ‘alaa ma’shiyyatika Allaahumma innii astaghfiruka faghfir lii. Wamaa ‘amiltuhu fiihaa mimmaa tardloohu wawa’adtanii ‘alaihits tsawaaba fa-as-aluka Allaahumma yaa Kariimu yaa Dzal Jalaali wal Ikroomi an tataqobbalahu minnii wa laa taqtho’ rojaa-ii minka yaa Kariim. Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi washoĥbihi wa sallam. Walĥamdu lillaahi robbil ‘aalamiin.

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya ; Ya Allah, apa pun yang hamba perbuat selama tahun ini dari hal-hal yang Paduka larang dan hamba belum bertobat darinya sedangkan Paduka tidak rela dan tidak melupakannya dan Paduka bebankan atas hamba dengan kekuasaan Paduka untuk menghukum hamba dan Paduka memerintahkan hamba untuk bertobat darinya sesudah hamba terlanjur berma’shiyat kepada Paduka, Yaa Allah, hamba sungguh mohon ampun kepada Paduka maka ampunilah hamba ; Dan apa pun yang hamba lakukan selama tahun ini dari hal-hal yang Paduka redlai dan Paduka janjikan untuk hamba pahala atas amal itu, maka hamba mohon kepada Paduka, Yaa Allah, Wahai Yang Maha Pemurah, Wahai Yang Empunya Keagungan dan Kemuliaan, agar Paduka menerimanya dari hamba dan tidak memupus harapan hamba dari paduka, Waha Yang Maha Pemurah ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Segala puji bagi Allah, tuhan sarwa sekalian alam.

——-

Ini doa awal tahun, yang dibaca sesudah sholat Magrib :

بسم الله الرحمن الحيم : وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله و صجبه وسلم : اللهم انت الابدي القديم الاول وعلى فضلك العظيم وجودك المعول وهذا عام جديد قد ادبل نسئلك العصمة فيه من الشيطان واوليائه وجنوده والعون على هذه النفس الامارة بالسوء والاشتغال بما يقربني اليك زلفى يا ذالجلال والاكرام : وصلى الله على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم والحمد لله رب العالمين.

Bismillaahirroĥmaanirroĥiim ; Washollallaahu ‘alaa Sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi washoĥbihii wa sallam. Allaahumma Antal Abadiyyul Qodiimul Awwal wa ‘alaa fadl-likal ‘adhiimi wa juudikal mu’awwal. Wa haadzaa ‘aamun jadiidun qod aqbal. Nas-alukal ‘ishmata fiihi minasy syaithooni wa auliyaa-ihi wa junuudihi wal ‘auna ‘alaa haadzihin nafsil ammaaroti bis suu-i wal isytighoola bimaa yuqorribunii ilaika zulfaa yaa Dzal Jalaali wal Ikroom. Wa shollallaahu ‘alaa sayyidinaa Muĥammad wa ‘alaa aalihi washoĥbihi wa sallam. Walĥamdu lillaahi robbil ‘aalamiin.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya ; Yaa Allah, Paduka kekal, tak berawal dan Yang Mula-mula. Dan Paduka menetapi keutamaan Paduka yang agung dan kemurahan Paduka yang menjadi tumpuan harapan akan pertolongan. Ini tahun baru yang datang. Hamba mohon dari Paduka perlindungan selama tahun ini dari syaitan dan teman-temannya dan pasukan-pasukannya dan hamba mohon pertolongan untuk menaklukkan nafsu ini, yang gemar menyuruh berbuat buruk, dan hamba mohon Paduka jadikan sibuk dengan hal-hal yang mendekatkan hamba kepada Paduka dengan sedekat-dekatnya, Wahai Empunya Keagungan dan Kemuliaan ; Semoga Allah melimpahkan sholawat dan salam atas junjungan kita Muhammad dan keluarganya dan sahabat-sahabatnya. Segala puji bagi Allah, tuhan sarwa sekalian alam. Wallohu a’lam *** (iqbal1 :) ).


Ushul Fiqih : Hierarki Hukum Islam

September 14, 2011

Dalam menyelesaikan persoalan hukum, golongan ahlussunnah wal-jama’ah berpedoman kepada al-Quran dan hadits sebagai sumber utama kemudian didukung dengan ijma’ dan qiyas.

Empat dalil ini yang harus menjadi rujukan setiap muslim dalam mengambil sebuah keputusan hukum. Pedoman ini dipetik dari firman Alloh SWT :

 يا أيها الذين امنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فان تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

“Wahai orang-orang yang beriman patuhlah kalian kepada Alloh, dan patuhlah kalian kepada Rosul serta Ulil amri diantara kamu sekalian. Kemudian  jika kalian berselisih paham tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika kamu sekalian benar-benar beriman kepada hari kemudian. Yang demikian ini lebih utama dan lebih baik akibatnya. (An-nisa / QS : 4 ; 59).

Penjelasan Singkat :

يريد بهم أمراء المسلمين في عهد الرسول صلى الله عليه وسلم وبعده ، ويندرج فيهم الخلفاء والقضاة وأمراء السرية . أمر الناس بطاعتهم بعدما أمرهم بالعدل تنبيهاً على أن وجوب طاعتهم ما داموا على الحق . وقيل علماء الشرع لقوله تعالى :  وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرسول وإلى أُوْلِي الامر مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الذين يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُم

Menjelaskan ayat ini, Syaikh Abdul Wahhab Kholaf menyatakan bahwa, Perintah untuk taat kepada Alloh dan Rosul merupakan perintah untuk mengikuti al-Quran dan hadits.

Sedangkan perintah untuk mengikuti Ulil amri, merupakan anjuran untuk mengikuti hukum-hukum yang telah disepakati (ijma’) oleh para mujtahid. Sebab merekalah yang menjadi Ulil amri dalam masalah hukum agama bagi kaum muslim.

Dan perintah untuk mengembalikan semua perkara yang masih diperselisihkan kepada Alloh dan Rosul berarti perintah untuk mengikuti qiyas ketika tidak ada dalil nash. (Abdul Wahhab Kholaf ; ‘Ilm Ushul).

Ketika memutuskan suatu persoalan hukum, empat dalil ini digunakan secara berurutan. Hierarki ini sesuai dengan orisinalitas serta tingkatan kekuatan dalilnya.

Imam Saifuddin Ali bin Muhammad al-Amidiy menjelaskan dalam al-Ihkam fi Ushul al-Ahkam ; bahwa yang asal dalam dalil syar’i adalah al-Quran, sebab ia datang dari Alloh swt sebagai musyarri’. Urutan kedua adalah sunnah, sebab ia berfungsi sebagai penjelas dari firman dan hukum Alloh dalam al-Quran. Dan setelah itu ada ijma’ selalu berpijak pada dalil al-Quran dan sunnah. yang terakhir adalah qiyas, sebab proses qiyas selalu berpedoman pada nash.

Dari sini dapat diketahui bahwa sumber hukum Islam tidak hanya terbatas pada al-Quran dan hadits. Masih ada ijma’ dan qiyas yang digunakan terutama untuk menjawab persoalan yang tidak dijelaskan secara langsung dalam al-Quran dan hadits sebagai nash (dalil utama). Wallohu a’lam. *** (Iqbal1)

Ditukil dari Kitab Sab’ah al-Kutub Mufiidah ; Ijazah kitab dari Syaikhuna KHR. Aang Ridwan, Pst. Cibeureum, Goal Para – Sukabumi.


Akhlak : Nikmat Persaudaraan Muslim

September 9, 2011

Di antara nilai-nilai sosial ke¬manusiaan yang ditekankan oleh Islam adalah persaudaraan (ukhuwah). Bahwa hendaknya manusia hidup di masyarakat saling mencintai dan menolong dan diikat oleh perasaan layaknya anak-anak dalam satu keluarga. Mereka saling mencintai, saling memperkuat, sehingga benar-benar terasa bahwa kebahagiaan saudara adalah kebahagiaannya, dan persoalan saudara adalah persoalannya.

Al-Qur’an telah menjadikan hidup bersaudara itu suatu kenikmatan yang terbesar. Allah SWT berfirman yang artinya :“… Dan ingatlah akan nikmat Allah SWT kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah SWT mempersatukan hatimu, kemudian menjadikan kamu karena nikmat Allah SWT orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran / 3 : 103).

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا

 وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ

 يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Terjemah Tafsir Singkat :

Dan hendaklah mereka berpegang teguh kepada Allah dan ajaran Nya dan selalu mengingat nikmat yang dianugerahkan Nya kepada mereka.

Dahulu di masa jahiliah mereka bermusuh-musuhan sehingga timbullah perang saudara yang beratus-ratus tahun lamanya, seperti perang antara kaum `Aus dan Khazraj.

Maka Allah telah mempersatukan hati mereka dengan datangnya Nabi Muhammad SAW dan mereka telah masuk ke dalam agama Islam dengan berbondong-bondong.

Allah telah mencabut dari hati mereka sifat dengki dan memadamkan dari mereka api permusuhan sehingga jadilah mereka orang-orang yang bersaudara saling cinta mencintai menuju kebahagiaan bersama.

Juga karena kemusyrikan, mereka berada di tepi jurang neraka, hanya terhalang oleh maut saja. Tetapi Allah telah menyelamatkan mereka. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat Nya, agar kaum muslimin mendapat petunjuk dengan sebaik-baiknya dan mensyukuri nikmatnya agar supaya nikmat itu terpelihara. Wallohu ‘alam. ***


Wilujeng Boboran Shiyam 1432 H

September 5, 2011

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى  -   وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى

Wanci nu dianti urang papag ku sora dulag,

Didanding ku sora takbir,

Hapunten samudaya kalelepatan lahir tumekaning bathin,

Mugia muka lawang rasa pikeun urang silih hampura.

Taqobbolallohhu minnaa wa minkum taqobbal ya kariem. Wa ja’alnalloohu minal aiedzin wal faa idzien.

Wilujeng Boboran Siyam 1432 H / 2011 M.


Humor Santri : Mengajar Anak-anak Kecil

Juni 28, 2011

Oleh : Yahya C. Staquf

“Aku pengen ketemu Kyai Salam”, kata Kyai Hasyim Asy’ari. Kyai Nawawi pun mengantarkan. Kyai Abdussalam rahimahullah adalah ayahanda dari Kyai Abdullah Salam dan kakek dari Kyai Sahal Mahfudh.

Sampai di kediaman Kyai Salam, didapati tuan rumah sedang mengajar anak-anak kecil mengaji. Kyai Hasyim serta-merta menahan langkah, menyembunyikan diri dari pandangan Kyai Salam, dan menunggu. Setelah semua anak-anak kecil itu selesai ngajinya, barulah Kyai Hasyim mengucap salam, yang lantas disambut dengan suka-cita luar biasa.

Meninggalkan kediaman Kyai Salam, Kyai Hasyim kelihatan ngungun. Air matanya mengambang.

“Ada apa, ‘Yai?” Kyai Nawawi keheranan.

Kiyai Hasyim mengendalikan tangisnya, menghela napas dalam-dalam.

“Aku punya cita-cita sudah sejak sangat lama… tapi sampai sekarang belum mampu melaksanakan… Kyai Salam malah sudah istiqomah… Aku iri…”

“Cita-cita apa, ‘Yai?”

“Ta’liimush shibyaan…” (Mengajar anak-anak kecil).

***

Kyai Ali Ma’shum seorang ‘allaamah (sangat banyak dan dalam ilmunya) dan adiib (ahli sastra Arab) sejak remaja. Beliau diambil menantu oleh Kyai Muhammad Munawwir, Krapyak, Yogya, yang mengkhususkan diri dengan pengajaran Al Quran. Kyai Abdullah Munawwir, kakak ipar Kiyai Ali, mementingkan datang ke Lasem untuk memohon kepada Kyai Ma’shum agar Kyai Ali diijinkan tinggal di Krapyak. Mbah Ma’shum meluluskan.

Tapi setelah tinggal di Krapyak, ternyata Kyai Ali sudah “tidak kebagian santri”. Semua santri sudah disibukkan dengan kegiatan mengaji kepada guru masing-masing sehingga tak ada waktu lagi untuk mengaji kepada Kyai Ali. Selama beberapa waktu Kyai Ali “menganggur”, dan alangkah tidak nyamannya itu bagi seorang yang menanggung begitu banyak ilmu dalam dirinya.

Ditengah waktu-waktu kosong yang membosankan itu, Kiyai Ali mengamati anak-anak kecil yang asyik bemain-main, berlarian di halaman Pondok. Kyai Ali memanggil anak-anak itu, mengajak mereka bercengkerama, membagi-bagikan penganan, lalu membujuk mereka agar mau diajari mengaji. Maka mulailah Kyai Ali dengan pelajaran membaca dan menulis huruf hija’iyyah. Seiring dengan perkembangan usia, lama-kelamaan mereka siap diajari berbagi macam ilmu dan kitab-kitab, hingga akhirnya anak-anak yang tadinya berkeliaran tak karuan itu menjadi orang-orang ‘alim yang unggul ilmunya. Diantara mereka adalah junjungan-junjunganku, adik-adik ipar Kyai Ali sendiri, yaitu Kiyai Zainal Abidin Munawwir dan Kiyai Ahmad Warson Munawwir.

Menceritakan semua itu kepadaku dengan mata berkaca-kaca, Kyai Warson akhirnya berujar ; “Berjuang, yang paling berat cobaannya itu mengajar. Sedangkan mengajar, yang paling berat cobaannya itu mengajar anak-anak kecil. Lha mengajar anak-anak kecil, yang paling berat cobaannya itu mengajar… KAMU !!!. *** (terong_gosong).


Telisik : Sunda, Priangan, dan Jawa Barat

Mei 5, 2011

Penulis : Mumuh M. Zakaria

Istilah Sunda, Priangan, dan Jawa Barat seringkali diidentikkan. “Sunda adalah Jawa Barat, Jawa Barat adalah Sunda”. Demikian juga dengan Priangan. Sejatinya, ketiga istilah tersebut memiliki latar sejarahnya sendiri-sendiri. Perkembangan selanjutnya pun berjalan masing-masing. Tulisan ini mencoba melacak akar historisnya.

Sunda

Secara etimologis, kata sunda berasal dari bahasa Sanskerta sund atau suddha yang berarti bersinar, terang, putih. Dalam bahasa Kawi dan bahasa Bali pun terdapat kata sunda yang berarti: bersih, suci, murni, tak bernoda, air, tumpukan, pangkat, dan waspada. Ptolemaues (90 – 168 M.), ahli geografi berkebangsaan Yunani, dianggap sebagai orang pertama yang menyebut Sunda sebagai nama tempat. Kata ini digunakannya untuk menunjuk suatu wilayah yang terletak di sebelah timur India.

Terinspirasi oleh Ptolemaeus, para geolog Eropa generasi-kemudian menamai Sunda untuk suatu dataran bagian barat-laut India Timur, sedangkan bagian tenggaranya dinamai Sahul. Selanjutnya, sejumlah pulau yang terbentuk di dataran Sunda diberi nama “Kepulauan Sunda Besar” dan “Kepulauan Sunda Kecil”. Istilah yang pertama mengacu pada himpunan pulau yang berukuran besar yang terdiri atas pulau-pulau Sumatera, Jawa. Madura, dan Kalimantan. Istilah yang kedua mengacu pada gugusan pulau-pulau Bali, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, dan Timor.

Selanjutnya, Sunda menjadi nama kerajaan di bagian barat Pulau Jawa, Kerajaan Sunda, yang berdiri pada abad ke-7 dan berakhir pada tahun 1579 M, yang beribukota di Pakuan Pajajaran. Sejak keruntuhan kerajaan itu, nama Sunda terutama yang mengacu pada pengertian geografis tidak begitu menonjol. Istilah Sunda mengemuka lagi pada awal abad ke-20 melalui kelahiran organisasi Paguyuban Pasundan (1914). Perkumpulan ini bertujuan meningkatkan derajat, harkat, martabat, dan kesejahteraan orang Sunda. Organisasi ini pernah mengusulkan kepada Pemerintah Kolonial Belanda agar nama Province West Java yang dibentuk pada tahun 1926 diubah namanya menjadi Provinsi Pasundan. Usulan tersebut disetujui oleh pemerintah kolonial, sehingga ketetapan tentang pembentukan provinsi ini berbunyi: “…West Java, in inheemsche talen aan te duiden als Pasoendan, ….” (Jawa Barat, dalam bahasa pribumi [bahasa Sunda] menunjuk sebagai Pasundan) (Ekadjati, 1995: 3 – 4).

Priangan

Kata priangan berasal dari kata parahyangan. Akar kata parahyangan adalah hyang atau rahyang kemudian mendapat awal “para-“ dan akhiran “-an” atau awalan “pa-“ dan akhiran “-an”. Pengertian kata ini adalah “daerah yang menjadi tempat tinggal tuhan atau dewa (hyang) yang harus dihormati” atau “daerah yang menjadi tempat tinggal leluhur yang harus dihormati” (Ayatrohaedi, 1969). Selain itu, ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kata priangan itu berasal dari kata prayangan, yang berarti ”menyerah dengan hati yang tulus”. Pengertian yang kedua ini dikaitkan pada peristiwa sejarah, yaitu menyerahnya Pangeran Suriadiwangsa (Raja Sumedanglarang) kepada Sultan Agung Mataram pada tahun 1620.

Pada pendapat yang kedua ini terdapat kelemahan, karena ia mengesankan bahwa kata priangan baru muncul pada tahun 1620. Padahal jauh sebelum itu, yakni pada akhir abad-ke 16, kata “priangan” sudah muncul dan menjadi judul sebuah naskah “Carita Parahyangan”. Naskah ini disusun sekitar akhir abad ke-16, pada masa akhir Kerajaan Sunda. Dalam naskah ini diceritakan sejarah Kerajaan Sunda sejak awal hingga akhir. Di dalamnya dikemukakan daftar raja Sunda berikut lama masa pemerintahannya dan peristiwa-peristiwa yang terjadi serta masalah yang muncul pada masa pemerintahan tiap-tiap Raja Sunda. Isi naskah ini diakhiri oleh cerita mengenai kemunduran Kerajaan Sunda dan masuknya pengaruh Islam ke wilayah kerajaan.

Akan tetapi, memang, nama parahyangan yang menjadi judul naskah tersebut tidak menunjukkan nama wilayah geografis. Oleh karena itu, boleh jadi pemberian nama priangan untuk wilayah geografis bekas Kerajaan Sunda itu terilhami oleh judul naskah itu. Priangan sebagai nama wilayah geografis di bagian barat Pulau Jawa ini terjadi pada tahun 1620. Selanjutnya, nama Priangan terus digunakan pada periode-periode berikutnya.

Nama Priangan resmi menjadi nama keresidenan terjadi pada tahun 1815 sewaktu Pulau Jawa dikuasai oleh Pemerintahan Interregnum Inggris pimpinan Thomas Stamford Raffles (1811 – 1816). Pada periode ini Keresidenan Priangan meliputi lima kabupaten: Cianjur, Bandung, Sumedang, Sukapura, dan Parakanmuncang. Batas-batas administratif wilayah Keresidenan Priangan waktu itu adalah sebelah utara Keresidenan Batavia dan Cirebon, sebelah timur Keresidenan Cirebon dan Banyumas, sebelah selatan dan barat daya adalah Samudera Hindia, dan sebelah barat adalah Keresidenan Banten. Batas-batas alam wilayah ini adalah sebelah utara rangkaian pegunungan Salak-Gede dan Burangrang-Tangkubanparahu; sebelah timur Sungai Citanduy; sebelah barat adalah Pelabuhanratu (Wijnkoopsbaai) dan Ciletu (Zandbaai), sebelah tenggara Selat Pananjung, dan di sebelah selatan dan tenggara adalah Cilauteureun.

Setelah kemerdekaan, Keresidenan Priangan meliputi lima kabupaten dan satu kotapraja, yaitu: Kabupaten Bandung, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Ciamis, dan Kotapraja Bandung. Pada tahun 1964 status keresidenan dihapus, dan diganti dengan istilah wilayah. Provinsi Jawa Barat terdiri atas lima wilayah, salah satunya adalah Wilayah V Priangan.

Jawa Barat

Provinsi Jawa Barat dibentuk tanggal 1 Januari 1926. Pembentukan provinsi ini dituangkan dalam Staatsblad (Lembaran Negara) Tahun 1925 Nomor 378 tanggal 14 Agustus. Masyarakat Sunda waktu itu menyebutnya Provinsi Pasundan. Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi yang pertama kali dibentuk. Kemudian menyusul dibentuk Provincie Oost Java (Provinsi Jawa Timur) pada tahun 1928, dan Provincie Midden Java (Provinsi Jawa Tengah) tahun 1929. Provinsi Jawa Barat pada awal pembentukannya meliputi lima keresidenan dan enam kotapraja (stadsgemeente). Kelima keresidenan itu adalah Banten, Batavia (Jakarta), Buitenzorg (Bogor), Priangan, dan Cirebon; dan keenam kotaptaja itu adalah: Batavia, Meester Cornelis, Buitenzorg, Bandung, Cirebon, dan Sukabumi. Dalam perkembangan selanjutnya, Batavia keluar dari Provinsi Jawa Barat, disusul oleh Banten pada tahun 2000.

Simpulan

Sunda lebih merupakan identitas kultural dengan ciri-cirinya tersendiri, lepas dari aspek administratif-geografis. Priangan menunjuk pada ciri kultural dan administratif-geografis. Melekat pada kata Priangan adalah ciri kultur kesundaan dan sekaligus menjadi salah satu keresidenan di Provinsi Jawa Barat. Sedangkan Jawa Barat adalah nama yang merujuk pada aspek geografis-administratif. Secara geografis, Jawa Barat terletak di bagian barat Pulau Jawa; secara administratif Jawa Barat merupakan level pemerintahan provinsi. Memang, secara historis dan realitasnya etnis mayoritas penghuni Provinsi Jawa Barat adalah Sunda, kultur dominannya pun Sunda. Akan tetapi, Jawa Barat tidak identik dengan Sunda atau Priangan. *** (Sumber :  http://blogs.unpad.ac.id/mumuhmz/category/lalangse-hate/).

 


Profile : RA Lasminingrat

Mei 5, 2011

Warta : Garut Usulkan Lasminingrat Sebagai Pahlawan Nasional.

TEMPO Interaktif, Garut – Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengusulkan Raden Ajoe Lasminingrat sebagai pahlawan nasional. Pengajuan gelar pahlawan ini telah dilakukan dua kali oleh pemerintah daerah.

Pengajuan pertama dilakukan pada 2006 dan yang terakhir diajukan pada 2009 lalu. “Kami sangat berharap beliau menjadi pahlawan nasional,” ujar Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Garut, Dikdik Hendrajaya, di ruang kerjanya, Selasa (19/10).

Menurut Dikdik, sosok Lasminingrat cukup layak dijadikan pahlawan, karena dia merupakan salah satu figur langka yang berjuang di bidang pendidikan, sekaligus merupakan representasi kaum perempuan dalam memperjuangankan kesetaraan gender yang pada zamannya masih tertinggal. Dia juga dianggap sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia jauh sebelum lahir Kartini tahun 1879 dan Dewi Sartika tahun 1884.

Raden Ayu Lasminingrat lahir pada 1843. Dia merupakan putri seorang Ulama / Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda yang terkenal pada zamannya, yaitu Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Dia juga merupakan istri dari Rd. Adipati Aria Wiratanudatar VII, yang waktu itu Bupati Garut ke empat.

Kecerdasan yang dimiliki Lasminingrat ini bukan tanpa alasan. Dia dimasukan ke sekolah Belanda di daerah Sumedang. Di sana dia belajar membaca, menulis, dan juga mempelajari bahasa Belanda. Selama di Sumedang, Lasminingrat diasuh oleh teman Belanda ayahnya, Levyson Norman. Karena didikan Norman, Lasminingrat tercatat sebagai perempuan pribumi satu-satunya yang mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda pada masanya.

Perjuangan Lasminingrat dititik beratkan pada dunia kepenulisan/kepengarangan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Buah karyanya diantaranya mendirikan sekolah Kautamaan Istri yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah seperti sekarang. Selain itu, dia juga menulis beberapa buku berbahasa Sunda yang ditujukan untuk anak-anak sekolah, baik karangan sendiri maupun terjemahan.

Perjuangan Lasminingrat diawali dari dunia kepenulisan. Salah satu buah tangannya dengan menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid, pada 1875. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin.

Setelah karya tersebut, pada 1876 terbit Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I dalam aksara Jawa. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya. Jilid II buku ini terbit setahun kemudian, lalu mengalami beberapa kali cetak ulang, yakni pada 1887, 1909, dan 1912, dalam aksara Jawa dan Latin. “Dongeng yang dikarangnya memotivasi kita untuk mandiri,” ujar Dikdik yang mengaku telah membaca buku Carita Erman.

Setelah menjadi istri Bupati Garut, Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda. Kautamaan Istri merupakan sekolah pertama khusus perampuan yang didirikan pada tahun 1907 pada masa kolonial Belanda.

Ketika itu ia mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut. Siswa Kautamaan istri pertama kali hanya terbatas pada anak permepuan kaum menak di Garut saja. Mereka diajarkan membaca, menulis, dan berbagai hal yang harus dipelajari oleh seorang perempuan.

Perkembangan sekolah ini cukup pesat, pada 1911 jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.

Di sekolah Keutamaan Istri, murid-muridnya diajari cara memasak, merapikan pakaian, mencuci, menjahit pakaian, dan segala hal yang ada hubungannya dengan kehidupan berumah tangga. Tujuannya, supaya kelak saat dewasa dan menikah, mereka bisa membahagiakan suami dan anak, juga mengerjakan sendiri apa saja yang berhubungan dengan rumah tangga.

Lasminingrat dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap orang lain. Dalam catatan sejarah, ia merupakan salah seorang tokoh yang mendukung Dewi Sartika untuk mendirikan sekolah bagi kaum perempuan pada 1904.

Ini berawal saat Dewi Sartika kesulitan dalam meminta izin kepada Bupati Bandung RAA Martanagara untuk mendirikan sekolah. Bupati selalu menolak maksud Dewi Sartika tersebut. Bukan tanpa alasan Bupati Bandung menolak keinginan Dewi Sartika.

Menurut sejarawan Universitas Padjadjaran, Nina Herlina Lubis, dalam bukunya Kehidupan Kaum Menak Priangan, ayah Dewi Sartika diasingkan ke Ternate lantaran dituduh terlibat percobaan pembunuhan terhadap Bupati Bandung dan pejabat Belanda di Bandung, pada usianya yang baru sembilan tahun. Karena peristiwa itu, Bupati Bandung menganggap Dewi Sartika adalah anak musuh politiknya. Maka dari itu, permintaannya selalu ditolak.

Melihat hal ini, Lasminingrat turun tangan dengan bantuan suaminya. Ia meminta suaminya memberikan saran kepada Bupati Bandung agar maksud Dewi Sartika yang akan mendirikan sekolah terkabulkan. Setelah berbicara dengan RAA Wiratanudatar VIII, Bupati Bandung memberi izin kepada Dewi Sartika. Pada Januari 1904, Dewi Sartika akhirnya mendirikan Sakola Istri di Bandung. Lasminingrat dan Dewi Sartika memang sering kali berhubungan layaknya seorang ibu kepada anak. Mereka terutama saling memberikan dukungan perjuangan untuk memajukan kaum perempuan.

Lasminingrat meninggal pada 10 April 1948 dalam usia 105 tahun. Jenazahnya dimakamkan di belakang Mesjid Agung Garut, berdampingan dengan makam suaminya. Perjuangan Lasminingrat, kini mulai dikenalkan oleh perintah daerah kepada warganya. Bahkan dinas pendidikan setempat mulai mengenalan sejarah perjuangan RA Lasminingrat (1843 – 1948), sebagai perempuan intelektual pertama di Indonesia kepada siswa dari SD sampai SMA. *** (SIGIT ZULMUNIR / tempo.interaktif).


Ada Udang di Balik Sepakbola

April 11, 2011

Oleh : Muhammad Istiqlal P.

Kita mungkin masih ingat fenomena panggung drama sepakbola nasional akhir tahun lalu. Terkesima, tersihir, dan tersulut rasa nasionalisme begitu kita melihat perjuangan tim nasional (timnas) sepak bola di ajang Piala AFF. Nasionalisme dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang selama ini hilang bak tersapu angin, kini datang lagi saat kesebelasan Garuda menjamu kesebelasan Truksmenistan dalam laga pertama kualifikasi Pra-Olimpiade 2012 di Stadion Bumi Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (23/2).

Banyak ilmuan sosial menaruh perhatian kajian mereka pada sepak bola. Michael Novak (1976), mengatakan sepak bola mirip dengan “upacara keagamaan” karena mencakup tata cara yang dianggap suci dan harus dipatuhi. Terdapat lambang-lambang seperti bendera, lagu kebangsaan, kostum, tempat “suci” yang dikhususkan bagi pemain, pelatih, penonton, batasan waktu, dan sebagainya. Sebagai ritual keagamaan, tampaknya sepak bola juga menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan manusia, untuk memenuhi identitas diri sebagai individu, sekaligus sebagai anggota suatu komunitas (bangsa), dan sebagai salah satu unsur alam semesta (Deddy Mulyana, 2008).

Masa depan mereka sebagai bangsa bukanlah suatu yang nyata saat itu, melainkan dibangun oleh persepsi dan pikiran mereka. Pada titik ini, sepak bola menjadi sangat simbolik atau lebih tepatnya menjadi mistis yang berbeda atau bertentangan dengan parameter empiris-ilmiah. Memahami pendapat tokoh empirisme Inggris, John Locke (1632-1704), pada waktu menonton sepak bola seolah manusia tidak punya warna kecuali kecintaannya pada club yang dibelanya. Pengalaman ini secara psikologis berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Maka dari itu, sepak bola dianggap penting bagi mereka, bahkan supporter tak ayal melakukan tindakan pengrusakan dan anarkis jika tim mereka kalah atau dicurangi.

Televisi sebagai perantara sangat berperan aktif dalam menaruh pengaruhnya kepada khalayak, sehingga mereka dapat mendeskripsikan situasi gegap gempita di lapangan tanpa terjun langsung. Bahkan pengaruhnya sangat jelas ketika kita merasakan ada kegiatan pribadi, social, keagamaan, kuliah, bisnis, makan, bahkan aktivitas penting pejabat Negara harus ditunda atau dijadwalkan ulang. Ada kepuasan tersendiri ketika kita menonton kebolehan para pesepak bola saat menari-nari memainkan si kulit bundar di panggung hijau. Kekompakan kolektif tim juga terkadang membuat decak kagum khalayak. Bahkan tak jarang kekecwaan yang diperoleh dari lapangan mengundang tangis dan luka mendalam bagi para supporter.

Deddy juga menambahkan, peristiwa ritual tradisional juga kerap dilakukan di dalam atau di luar lingkungan fisik stadium. Kita mungkin belum lupa saat suatu ormas Islam mengadakan istighasah, memohon agar tim kebanggaan mereka bisa meraih kemenangan agar rasa nasionalisme bangsa ini bisa tetap kokoh terjaga. Makna dasarnya tetap sama, yakni aktivitas sakral yang mengaitkan para pesertanya dengan masa lalu historis mereka dengan posisi mereka di alam semesta. Bahkan sifat irasional kerap ditunjukkan, seperti kejadian Piala Dunia 2002 saat seorang warga korsel berumur 45 tahun yang membakar diri beberapa jam sebelum Korsel dan Portugal bertanding. Ia meninggalkan catatan kepada pecinta sepak bola Korsel : “Keringat dan air mata Gus Hiddink, teriakan gembira para pendukung, kegembiraan dalam kemenangan pertama, semuanya adalah hadiah ulang tahun terbaik bagi saya.”

Sepak bola juga menjadi ajang kampanye politik para kandidat atau partai yang tengah berupaya meraih hati publik. Fenomena ini terjadi lumrah di berbagai Negara. Sebagai contoh, mantan presiden AS George Waker Bush, kanselir Jerman Gerhard Schroeder yang rela bangun pagi dan mengatur ulang jadwalnya untuk menghadiri laga tim negaranya demi mendapatkan simpati publik.

Terlepas dari intrik politik yang kini sedang memanas di dalam tubuh PSSI, anak-anak muda berseragam merah putih ini mampu membuat gegap gempita anak-anak bangsa. Mereka mengajarkan banyak hal kepada kita. Pertama, arti penting nasionalisme. Kedua, kebanggaan sebagai bangsa muncul. Ketiga, mereka mengajarkan arti penting kerja keras tanpa lelah, tanpa pamrih. Keempat, kerjasama utuh telah mereka buktikan sebagai jalan terbaik untuk mencapai tujuan. Sulit dibayangkan jika tim ini tercerai-berai, sudah pasti tidak akan mampu melahirkan hasil terbaik, walaupun hasil akhir yang diperoleh masih belum memenuhi target. (***)


Rehat : NU Azali

April 8, 2011

Hadlratusy Syaikh Muhammad Hasyim bin Asy’ari Basyaiban adalah kyai semesta. Guru dari segala kyai di tanah Jawa. Beliau kyai paripurna. Apa pun yang beliau dhawuhkan menjadi tongkat penuntun seumur hidup bagi santri-santrinya, bahkan sesudah wafatnya.

Nahdlatul Ulama adalah warisan beliau yang terus dilestarikan hingga para cucu-santri dan para buyut-santri, hingga sekarang. Segerombol jama’ah dalam merek jam’iyyah yang kurang rapi, sebuah ikatan yang ideologinya susah diidentifikasi, identitas yang nyaris tanpa definisi… tapi toh begitu terasa balutannya… bagi mereka yang —entah kenapa— mencintainya…

Barangkali karena memang Nahdlatul Ulama itu ikatan yang azali, cap yang dilekatkan pada ruh sejak dari sononya, sebagaimana Hadlaratusy Syaikh sendiri mencandranya :

 بيني وبينكم في المحبة نسبة

 مستورة في سر هذا العالم

 نحن الذون تحاببت أرواحنا

 من قبل خلق الله طينة آدم

antara aku dan kalian ada tautan cinta

tersembunyi dibalik rah’sia alam

arwah kita sudah saling mencinta

sebelum Allah mencipta lempungnya Adam

Ke-NU-an sejati ada di hati, bukan nomor anggota. Kyai Abdul Karim Hasyim, putera Hadlratusy Syaikh sendiri, menolak ikut ketika NU keluar dari Masyumi.

Demikian pula salah seorang santri Hadlratusy Syaikh, Kyai Majid, ayahanda Almarhum Prof. Dr. Nurcholis Majid. Mereka berdua memilih tetap didalam Masyumi. Apakah mereka tak lagi NU?. Belum tentu.

Mereka memilih sikap itu karena berpegang pada pernyataan Hadlratusy Syaikh semasa hidupnya —NU keluar dari Masyumi sesudah Hadlratusy Syaikh wafat- : “Masyumi adalah satu-satunya partai bagi ummat Islam Indonesia!”. Apakah sikap pilihan mereka itu mu’tabar atau tidak, adalah soal ijtihadi. Tapi saya sungguh ingin mempercayai bahwa di hati mereka berdua tetap bersemayam ke-NU-an yang berpendar-pendar cahayanya.

Pada suatu hari di awal abad ke-20, salah seorang santri datang ke Tebuireng untuk mengadu. Santri itu Basyir namanya, berasal dari kampung Kauman, Yogyakarta. Kepada kyai panutan mutlaknya itu, santri Basyir mengadu tentang seorang tetangganya yang baru pulang dari mukim di Makkah, yang kemudian membuat odo-odo “aneh” sehingga memancing kontroversi diantara masyarakat kampungnya.

“Siapa namanya?” tanya Hadlratusy Syaikh.

“Ahmad Dahlan”

“Bagaimana ciri-cirinya?”

Santri Basyir menggambarkannya ; 

“Oh! Itu Kang Dahlan!”. Hadlratusy Syaikh berseru gembira.

Orang itu, beliau sudah mengenalnya. Teman semajlis dalam pengajian-pengajian Syaikh Khatib Al Minangkabawi di Makkah sana.

“Tidak apa-apa”, kata Hadlratusy Syaikh, “yang dia lakukan itu ndalan (ada dasarnya). Kamu jangan ikut-ikutan memusuhinya. Malah sebaiknya kamu bantu dia”. Santri Basyir patuh. Maka ketika kemudian Kyai Ahmad Dahlan medirikan Muhammadiyah, Kyai Basyir adalah salah seorang tangan kanan utamanya.

Apakah Kyai Basyir “tak pernah NU”?. Belum tentu. Puteranya, Azhar bin Basyir, beliau titipkan kepada Kyai Abdul Qodir Munawwir (Kakak ipar Kyai Ali Ma’shum) di Krapyak, Yogyakarta, untuk memperoleh pendidikan Al Quran dan ilmu-ilmu agama lainnya. Pengajian-pengajian Kyai Ali Ma’shum pun tak ditinggalkannya.

Belakangan, Kyai Azhar bin Basyir terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah menggantikan AR Fahruddin. Kepada teman sekombong saya, Rustamhari namanya, anak Godean yang menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UGM, saya gemar meledek, “Kamu nggak usah macam-macam”, kata saya waktu itu, “ketuamu itu ORANG NU!”. *** (Oleh Yahya C. Staquf ; Nahdliyin.Com)


Asror : Karim Suryadi dan Geng Motor

Oktober 1, 2010

GELAR ajengan atau kiai merupakan ungkapan rasa hormat masyarakat kepada seseorang yang dianggap saleh dan memiliki komitmen keagamaan yang kuat. Persoalannya, bagaimana kalau yang memberi gelar itu gerombolan geng motor yang akan membuat onar dan chaos?. Inilah yang dialami Prof. Dr. Karim Suryadi, M.Si. (40) saat pulang ke kediaman orang tuanya di Subang, Sabtu (25/9) malam lalu.

Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini, malam itu sedang melintas di Subang, tepatnya di perempatan depan Wisma Karya. Tiba-tiba, dia terjebak di antara dua gerombolan geng motor yang tengah kejar-kejaran. Beberapa anggota geng motor itu menunjuk-nunjuk wajah Karim sambil matanya melotot. Ia pun sempat panik, tidak tahu apa yang harus dilakukan, dan pasrah.

Maka, Karim pun diminta membuka kaca mobil depan. Dia berusaha tegar dan berteriak, “Aing mah urang dieu, rek balik (Saya orang sini, mau pulang),” ujar Karim.

Sesungguhnya, suara Karim tidak begitu terdengar keras, sebab dia sembari mengeraskan tape recorder di mobilnya yang sedang membaca murattal Alquran. Karena mendengar suara bacaan Kitab Suci ini, anggota geng motor justru mundur. “Ieu mah ajengan (Ini ajengan),” kata anggota geng motor itu sembari mendorong anggota geng motor lainnya agar memberi kesempatan kepada Karim agar memutar balik. Maka, setelah mobilnya memutar, Karim segera tancap gas.

“Saya bersyukur, kaset murattal yang saya beli saat berhaji tahun lalu ternyata bermanfaat. Kata para ajengan beneran, kalau menghadapi bahaya seperti itu, kita bisa membaca Shumun bukmun ’umyum fahum la yarji’uuuun…. Tetapi alhamdulillah, meskipun saya lupa membacanya, sudah berhasil kabur dan selamat,” kata Karim. (Wakhudin/”PR”) ***


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.