Insert : Sholat Hadiyah untuk Mayit

Maret 21, 2012

Kematian bagi makhluk hidup adalah suatu kemestian. Meskipun berbeda cara dan penyebabnya sakit, tua, kecelakaan, dan seterusnya. Jasadnya pun, bisa dimana saja, atau musnah sama sekali tanpa bekas. Kematian lambat atau cepat adalah mutlak bagi makhluk termasuk manusia.

Manusia adalah makhluk yang terbebani tanggung jawab dalam hayatnya, terutama terhitung sejak baligh. Perbuatan manusia akan dibalas menurut baik dan buruknya. Pertanggungjawaban mereka akan dihisab kelak di hari Kiamat. Allah sebagai hakim yang adil, takkan keliru dalam menghitung dan mengadili amal setiap orang. Namun, sebelum pembalasan hari Kiamat, nikmat dan siksa kubur benar adanya. Manusia yang telah terpisah jiwa dari raganya, akan didatangi malaikat untuk pertanyaan tentang Tuhan, rasul, pedoman hidup dan seterusnya. Malaikat ini akan bersikap sesuai perintah. Menyiksa dan memberikan nikmat bagi mayit.

Manusia, kecuali para rasul, dalam hidupnya tak lepas dari dosa. Dosa inilah yang lalu mesti ditebus dengan siksa kubur oleh yang bersangkutan. Jerit pedih mereka yang sudah mati memang tak didengar oleh manusia yang hidup. Dalam keterangan Rasulullah, hanya hewan hidup lah yang mendengar jeritan mayit yang tersiksa. Mayit pun harus menanggung kelakuan buruknya di dunia. Mereka hanya bisa menerima siksa tanpa bisa melakukan sesuatu apapun.

Mengingat itu, kita yang masih hidup mesti mengambil satu langkah agar dapat meringankan siksa kubur mayit. Lebih istimewa lagi, kita lakukan terhadap orang yang kita kenal, cintai atau yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, orang tua, guru, atau kiai.

Diantaranya dengan memberikan hadiah kepada mayyit. Hadiah itu bisa berupa shalat dua rakaat atau berupa sedekah yang pahalanya ditujukan kepada mayyit. Seperti yang diterangkan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام : اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور

Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda ; “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah. Siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat Alfatihah 1 kali, Ayat Kursi 1 kali, surat Attaktsur 1 kali, dan surat Al-ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, -”Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahummab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan (sebut nama mayit yang kita maksud)”-, Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud). Niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 malaikat. Tiap malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang akan menghibur mayit sampai hari Kiamat tiba.”  [Syekh Nawawi Albantani, Nihayatuz Zain, (Bandung, Almaarif) Hal. 107].

Hadiah semacam ini dalam tradisi Islam Nusantara dikenal dengan berbagai sebutan sesuai kaedah local masing-masing. Ada yang menyebutnya ‘tahlilan’, ada yang menyebutnya arwahan, ada yang menyebut samadiahan dan lain sebagainya. Semua itu merupakan perilaku terpuji yang telah me-tradisi dalam wacana Islam Nusantara. Begitu pula dengan shalat hadiah dua rakaat untuk mayit, yang kesunnahannya dilakukan saat malam pertama mayit meninggal. Walaupun taka apa pula jika dilakukan setelah jauh-jauh hari sepeninggal si mayit.

Pahala dari berbagai hadiah itu juga mengalir bagi kita yang masih hidup dan melakukannya, seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits :

أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه أنه لا يخرج من الدنيا حتى يرى مكانه فى الجنة

“Siapa saja yang melakukan sedekah atau sembahyang itu, akan mendapat pahala yang besar. Di antaranya, ia takkan meninggalkan dunia sampai melihat tempatnya di surga kelak.”

Sejumlah ulama menganjurkan akan baiknya sembahyang 2 raka‘at ini. Ringan dan mudah dilakukan, “Beruntunglah orang yang melakukan sembahyang ini setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk mayit kaum muslimin.”

Sebagai umat Islam, kita dipanggil untuk peduli dan menanam bibit kasih sayang terhadap alam, hewan dan manusia baik hidup maupun sudah meninggal. Hanya saja, bentuk kasih yang dipersembahkan mesti disesuaikan bagi penerimanya. Untuk saudara kita yang sudah meninggal, kita bisa melakukan sedekah dan sembahyang 2 raka‘at di atas.

Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW para ulama dan kiai mengawetkan ajaran luhur Rasulullah dengan menuliskan, mengajarkan, menyontohkannya kepada masyarakat luas. Dengan demikian, ajaran Nabi Muhammad SAW akan lestari hingga hari akhir kelak.

Semoga salinan tulisan ini bermanfaat untuk memperbanyak amal kita.  Wallohu a’lam *** (Ref. Nihayatu Zein).


Bertayamum Untuk Sekali Shalat Fardhu

Maret 16, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ وَيُصَلِّى بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَاشَاءَ مِنَ النَّوَافِلِِ ؛ التذهيب

Bertayamum (sekali) untuk sekali shalat fardhu 1) ; dan dengan sekali tayammum dapat mengerjakan shalat-shalat sunat sekehendaknya. ***

Penjelasan :

1). Al-Baihaqi dengan isnad yang shoheh meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. katanya :

َيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَاِنْ لَمَْ يُحْدِثِِْ

“Bertayammum (sekali) untuk setiap sekali shalat, walaupun belum berhadats”. Wallohu a’lam *** (Matan Taqrib/Attadzhieb).


Mengusap Pembalut (Perban)

Maret 15, 2012

Lanjutan bab Thoharoh :

وَالصَّاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّى وَلاَ اِعَادَةَ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ ؛ التذهيب

Orang yang berpembalut, cukup mengusap pembalutnya, dan bertayammum lalu shalat. Dan tidak wajib baginya mengulangi shalatnya, apabila pemasangan pembalut dilakukan dalam keadaan suci 1). *** (Matan Taqrib).

Penjelasan :

1). Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Jabir ra. ia berkata : Kami keluar untuk suatu perjalanan. Tiba-tiba salah seorang di antara kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian ia berihtilam (mimpi dan mengeluarkan mani), lalu bertanya kepada kawan-kawannya ; “Apakah kalian tahu adakah rukhsah bertayamum untukku ?”. Kawan-kawan menjawab ; “Kami tidak menemukan rukhsah untuk engkau karena engkau masih bisa memakai air”. Maka ia pun lalu mandi, dan ternyata meninggal. Maka ketika kami datang kepada Rasululloh SAW dan mengkhabarkan hal itu kepada beliau, beliau bersabda :

 قَتَلُوْهُ فَتَعَلَهُمُ اللهُ اَلاََ سَأََلُواْ اِذاَ لَمْ يَعْلَمُواْ ؟ ـ فَاِنَّمَا شِفَاءُالُعِيِّ السُّؤَالُ. اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ اَوْيَعْصِبَ جُرْحَهُ ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهِ ـ وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ـ

“Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan membunuh mereka. Kenapa mereka tidak menanyakan kalau memang belum mengetahui ?. Bahwasanya obat dari kebingungan adalah bertanya. Bahwasanya ia cukup dengan bertayammum dan membalut lukanya, kemudian mengusapnya, dan menyiram seluruh bagian tubuhnya yang lain”.  Wallohu a’lam. *** (Taqrieb / Attadzhieb).


Yang Membatalkan Tayamum

Maret 14, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ ؛ مَاأَبْطَلَ الْوُضُوْءَ وَرُؤْيَةُ الْمَاءِ  ِفيْ غَيْرِوَقْتِ الصَّلاَةِ وَالرِِّّدََةُ ؛ التذهيب

Perkara-perkara yang membatalkan Tayammum ada 3. Yaitu : Segala yang membatalkan wudhu ; Melihat air di luar waktu sholat 1) ; Dan Murtad. *** (Matan Taqrieb).

Penjelasan :

1). Yakni dalam keadaan tidak sedang menjalankan shalat, dan belum melakukannya. Berdasar riwayat Imam At-Turmudzi dan lain-lain dari Abu Dzar ra. bahwa Rasululloh SAW bersabda :

اِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُالْمُسْلِمِ وَاِنْ لَمْ يَجِدْ المَاءَ عَسْرَسِنِيْنَ فَاِذاَ وَجَدَالْماَءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَاِنَّ ذَالِكَ خَيْرٌ

“Sesunggunya tanah yang baik (suci) adalah alat pembersih bagi orang Islam, walaupun ia tidak menemukan air dalam sepuluh tahun. Namun bila ia menemukan air, maka berwudhulah. Karena sesungguhnya yang demikian itu lebih baik”.

Hadits ini menunjukkan bahwa Tayammumnya menjadi batal demi melihat air.  Walohu a’lam. *** (Matan Taqrieb /  Attadzhieb).


Fardu dan Sunat-sunat Tayamum

Maret 13, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَفَراَئِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ ؛ اَلنِّيَةُ وَمَسْحِ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ ~ وَسُنَنُهُ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءُ ؛ اَلتَّسْمِيَةُ وَتَقْدِيْمُ الْيَمْنَى عَلَى الْيْسْرَى وَالْمُوَالاَةُ ؛ التذهيب

Fardhu Tayamum ada 4. Yaitu : Niat ; Mengusap muka. Mengusap kedua tangan sampai siku. Dan tartib 1).

Sunat-sunat Tayamum ada 3. Yaitu : Membaca basmalah. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri. Beruntun 2).

Penjelasan :

1). Berdasarkan Firman Alloh Ta’ala :

فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ؛ المائدة ٦

“Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al-Maidah 6).

2). Disamakan dengan -wudhu-, karena memang gantinya. *** (Ref. Matan Taqrieb / Syarah Attadzhieb).


Thoharoh : Syarat Tayamum

Maret 12, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

 فَصْلٌ ؛ وَشَرَائِطُ التَّيَمُمِّ خَمْسَةُ اَشياَءَ ؛ وُجُوْدُ الْعُدْرِ بِسَفَرِ اَوْ مَرَضٍ وَدُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَطَلَبُ الْمَاءِ وَتَعَذُّرِاسْتِعْمَالِهِ وَاِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ ؛ وَالتُّرَبُ الطَّاهِرُ لَهُ غُيَارٌ. فَاِنْ خَالَطَهُ جِصّ ٌ اَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجِزْ ؛ التذهيب

(Adapun ini adalah sebuah Fasal/Pemisah buat menerangkan perkara Tayamum). Syarat-syarat tayamum ada 5. Yaitu : Adanya udzur karena bepergian atau sakit 1). Telah masuk waktu shalat dan telah berusaha mencari air 2). Berhalangan memakai air 3). Berhajat memakai air (untuk keperluan makan, minum dan lain-lain) setelah memperoleh air 4). Tanah (yang dipakai untuk  bertayamum) suci dan berdebu. Apabila debu bercampur dengan kapur atau pasir, tidak cukup memenuhi syarat 5). *** (Matan Taqrieb/Syarah At-tadzhieb). 

Penjelasan :

1). Firman Alloh Ta’ala :

وَاِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى اَوْ عَلىَ سَفَرٍ اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ اَوْ لاَمَسْتُمُ النِِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَاءً فَتَيَمَّمُواْ ؛ المائدة ٦

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah”. (Q.S. Al-Maidah 6).

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran bin Husin ra. ia berkata. Kami ada bersama-sama Rasululloh SAW dalam suatu perjalanan. Maka beliaupun lalu shalat bersama para sahabat. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang memisahkan diri. Lalu sabda beliau : “Apa yang mencegah engkau melakukan shalat?”. “Saya janabah, dan tidak ada terdapat air (untuk mandi)”.  jawabnya. Sabda beliau :

عَلَيْكَ بِااصَّعِيْدِ فَاِنَّهُ يَكْفِيْكَ

“Ambillah debu, sesungguhnya debu itu mencukupi engkau”.

2). Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda :

 وَجُعِلَتْ لِيَ الاََرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوْراً فَاَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ اُمَّتِيْ اَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ قَلْيُصَلِّ. وعند احمد ؛ اَيْنَمَااَدْرَكَتْنِيْ الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَيْتُ

“Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan mensucikan. Maka siapa saja dari umatku menjumpai (waktu) shalat, maka shalatlah !”. Dan dalam riwayat Ahmad : “Di mana saja aku menjumpai shalat, maka aku mengusap dan shalat”.

Dua riwayat di atas menunjukkan tayammum dan shalat dilakukan bila tidak menemukan air, setelah masuk waktu shalat. Wallohu a’lam *** (Iqbal1 ).


Catatan : Cara dan Do’a Shalat Istikharah

Januari 13, 2012

Istikharah menurut Imam Nawawi dalam kitab al-adzkar sangat dianjurkan (sunnah) pada semua perkara yang memiliki beberapa alternatif. Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Sayidina Jabir Ibn Abdillah ra bersabda :

اذا هم أحد كم بالأمر فليركع ركعتين ثم ليقل : أللهم … الخ ; رواه البخاري  

Jika diantara kalian hendak melakukan perkara/urusan, maka rukuklah (shalatlah) dua rakaat : kemudian berdoa… (HR. Bukhori).

Redaksi dalam hadits tersebut menggunakan kata ‘al-amr’  yang berarti perkara atau urusan yang mengandung makna umum. Meski demikian berbagai perkara wajib tidak perlu di-istikharahi. Sebab kita tidak punya pilihan lain. Yakni yang wajib harus dilakukan dan yang haram harus ditinggalkan. Tidak perlu istikharah apakah akan mengerjakan shalat atau tidak misalnya. Demikian juga dengan mencuri, berzina dan sejenisnya.

Istikharah adalah upaya memohon kepada Allah swt agar memberikan pilihan terbaik kepada kita akan hal-hal yang memang kita punya hak untuk memilih antara mengerjakan dan meninggalkan. Seperti pekerjaan misalnya, kita diperbolehkan bekerja sebagai pedagang, petani, pengusaha dan sebagainya.

Shalat istikharah sangat mudah, yaitu shalat dua rakaat dengan niat istikharah :

أصلى سنة الإستخارة ركعتين لله تعالى

Aku berniat shalat istikharah dua raka’at karena Allah Ta’ala

Rakaat pertama setelah membaca surat al-Fatihah memabaca surat al-Kafirun. Dan rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas. Kemudian setelah salam membaca do’a :

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini -(orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya)- lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”

Setelah shalat istikharah, biasanya di dalam hati timbul rasa tenang dan mantap terhadap salah satu alternative yang ada. Bisa juga hasil istikharah diketahui lewat mimpi, dengan isyarat dan simbol-simbol tertentu. Kalau masih ragu, istikharah dapat diulang dua atau tiga kali. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1 ; Al-Adzkar).

Sumber : KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat.


Lanjutan : Batas Waktu dan Perbatalannya Mengusap Sepatu

Desember 23, 2011

Batas Waktu :

وَيَمْسَحُ الْمُقِيْمُ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَالْمُسَافِرُ ثَلَاثَةَ اَيَّامٍ بِلَيَالِيْهِنَّ وَابْتِدَاءُ الْمُدَّةِ مِنْ حِيْنِ يُحْدِثُ بَعْدَ لُبْسِ الْحُفَيْنِ فَاِنْ مَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ اَوْ مَسَحَ فِي السَّفَرِ ثُمَّ اَقَامَ اَتَمَّ مَسْحَ مُقِيْمٍ ؛ التذهيب , ص ٢٩~٢٨

(Lanjutan Fasal Mengusap Sepatu) : Orang yang mukim (tidak bepergian) dapat mengusap satu hari satu malam ; Sedang musafir (batas waktu boleh mengusap) tiga hari tiga malam 1). Permulaan batas waktu dihitung sejak berhadas (yang pertama) setelah memakai sepatu. Bila telah mengusap di rumah, kemudian bepergian, atau telah mengusap dalam bepergian kemudian mukim, maka ia harus menyempurnakan pengusapan (sebagai orang yang) mukim.

Penjelasan :

1). Imam Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata : Aku datang kepada Aisyah ra. untuk menanyakan tentang mengusap sepatu. Kata Aisyah : Datanglah kepada Ali, ia lebih tahu tentang hal ini daripada aku. Ia pernah bepergian bersama Rosululloh SAW. Maka akupun lalu bertanya kepadanya. Dan jawabnya : “Rosululloh SAW menentukan tiga hari tiga malam untuk musafir, dan sehari semalam untuk orang yang mukim.

***

Perbatalan Mengusap Sepatu :

وَيَبْطُلُ الْمَسْحُ بِثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ ؛ بِخَلْعِهِمَا وَانْقِضَاءِ اْلمُدَّةِ وَمَا يُوْجِبُ الْغُسْلَ ؛

Pengusapan (sepatu) menjadi batal karena tiga hal : Karena dilepas, Telah habis batas waktunya ; Dan karena adanya hal yang mewajibkan mandi 2).

Penjelasan :

2). Imam At-turmudzi meriwayatkan dari Shafwan bin “Asal ra, ia berkata : Adalah Rosululloh SAW memerintahkan kami bila kami bepergian agar mengusap sepatu-sepatu kami dan tidak perlu melepaskannya selama 3 hari, dari buang air besar, kencing dan tidur. Kecuali dari janabah (hadas besar). Wallohu a’lam. :)


Fiqih : Mengusap Muzah / Dua Sepatu (Khuffaen) dalam Berwudu

Desember 22, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فَصْلٌ ؛ وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَيْنِ جَائِزٌ بِثَلاَثَةِ شَرَائِطَ ؛ اَنْ يَلْبَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ وَاَنْ يَكُوْنَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ غَسْلِ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ وَاَنْ يَكُوْنَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا ؛ التذهيب ٢٧~٢٨

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mengusap sepatu -khuffaen/muzah- dalam berwudu) ; Mengusap sepatu (sebagai ganti membasuh kaki dalam berwudu) hukumnya adalah boleh 1), dengan tiga syarat : Mulai memakai (sepatu) nya setelah dalam keadan suci yang sempurna 2) ; Sepatu (yang dipakai) menutupi seluruh bagian kaki yang wajib di basuh (dalam wudu) ; Dan sepatu tersebut terbuat dari bahan yang memungkinkan (kuat) untuk berjalan terus-menerus.

Penjelasan :

1). Dalil diperbolehkannya mengusap sepatu ini adalah dari banyak hadits, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Sohabat Jarir ra, bahwasanya beliau kencing, lalu wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki). Dan ketika ditanyakan kepadanya. “Kenapa engkau berbuat seperti ini ?”. Jawabnya ; “Ya, saya pernah melihat Rosululloh SAW kencing, kemudian wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki)”.

Hasan Al-Bashri berkata : “Yang meriwayatkan tentang mengusap sepatu ini ada tujuh puluh orang. Baik berupa perbuatan atau ucapan”.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sohabat Al-Mughiroh bin Syu’bah ra, ia berkata : Saya ada bersama Rosululloh SAW pada suatu malam dalam perjalanan. Saya menyiramkan air untuk beliau dari bejana, kemudian beliau membasuh mukanya, kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Kemudian ketika aku berjongkok hendak melepas sepatunya, beliau bersabda :

دَعْهُمَا ؛ فَاِنِّيْ اَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

“Biarlah, karena ketika aku memakainya dalam keadaan telah suci”.

Lalu beliaupun mengusap kedua sepatunya.

Keterangan : Muzah ialah pakaian semacam kaos kaki yang lazim dipakai, tetapi bahannya dibuat  dari kulit. Perkataan Kyai Mushonif “Jaiz” / Boleh itu memberikan pengertian, bahwa sesungguhnya membasuh -kedua kaki itu- adalah lebih baik daripada mengusapnya. Syarat, rukun, perbatalan dan ketentuan2 lainnya tentang fasal ini sebagaimana diuraikan dalam syarah fathul qorieb. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1 ; Taqrib ; Attadzhieb 27~28).


Fiqih : Mandi-mandi yang Disunatkan

Desember 20, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

 فَصْلٌ ؛ وَالاِْغْتِسَالاََتُ الْمَسْنُوْنَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلاً ؛ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَالْعِيْدَيْنِ وَالاٍْسْتِسْقَاءِ وَالْخُسُوْفِ وَالْكُسُوْفِ وَالْغُسْلُ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ وَالْكَافِرُ اِذاَ اَسْلَمَ وَالْمَجْنُوْنُ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ اِذَا افَاقَا وَالْغُسْلُ عِنْدَالاِْحْرَامِ وَلِدُخُوْلِ مَكَّةَ وَلِلْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ وَلِلْمَبِيْتِ بِمُزْدَلِفَةَ وَلِرَمْيِ الْجِمَارِ الثَّلاَثِ وَلِلطَّوَافِ وَلِلسَّعْيِ وَلِدُخُوْلِ مَدِيْنَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ اَلتَّذْهِيْبُ فِيْ اَدَلَّةِ مَتْنِ الْغَايَةِ وَالتَّقْرِيْب ؛ ٢٥~٢٧

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mandi-mandi yang disunatkan) ; Mandi-mandi yang disunatkan itu ada 17 (tujuh belas) macam mandi ; Mandi Jum’at 1), mandi dua hari raya 2), mandi istisqo, mandi karena adanya gerhana bulan/matahari 3), mandi setelah memandikan mayat 4), mandinya orang kafir ketika masuk Islam 5), mandinya orang gila dan orang pingsan ketika sadar/siuman 6), mandi ketika ihrom 7), mandi untuk memasuki Mekah 8), untuk wukuf di Arofah 9), untuk bermalam di Muzdalifah 10), untuk melempar tiga jumroh, untuk thowaf 11), untuk sa-i’, dan untuk memasuki Madinatur Rosul SAW.

Penjelasan :

1). Imam Bukhori dan Muslim serta yang lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata : Bersabda Rosululloh SAW ;

اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ اِلىَ الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ؛ ولمسلم اِذَا اَرَادَ اَحَدُكُمْ اَنْ ياَتِيَ….

“Bila seseorang diantara kalian datang menuju Jum’at, maka mandilah”. Dalam riwayat Muslim, “Bila seseorang di antara kalian hendak mendatangi……”

Perintah di atas bukan perintah wajib, berdasar hadits At-turmudzi ;

مَنْ تَوَضَّا يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ اَفْضَلُ

“Barang siapa wudu pada hari Jum’at, maka ia telah mengamalkan sunnah, dan sebaik-baik sunnah. Dan barang siapa yang mandi, maka mandi itu lebih utama/afdhol”.

2). Imam Malik dalam Al-Muwatha meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Umar ra mandi pada hari Iedul Fitri sebelum berangkat ke mushalla.

Iedul Adha diqiaskan dengan Iedul Fitri.

3). Saya tidak mendapatkan dalil naqli yang menjadi dasar disunatkannya tiga macam mandi ini. Mungkin saja para ulama mensunatkannya mengkiyaskan dengan mandi Jum’at dan mandi Hari Raya. Karena ada kesamaan dalam pelaksanaan salat, yaitu dianjurkan dilakukan dengan berjama’ah, dimana kemudian orang-orang berkumpul untuk melaksanakannya.

4). Diriwayatkan dari Abu Huraeroh ra dari Nabi SAW beliau bersabda :

 مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّاءْ

“Barangsiapa memandikan mayat, maka mandilah. Dan barangsiapa yang mengusung mayat, maka berwudulah” (HR Khamsah, dianggap Hasan oleh At-turmudi.

Perintah di atas tidak wajib, beradsar hadits riwayat Al-Hakim

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فَيْ غُسْلٌ اِذَا غَسَّلْتُمُوْهُ

“Tidak ada keharusan mandi atas kalian, dalam memandikan mayat bila kalian memandikannya”.

5). Abu Daud dan At-turmudi meriwayatkan dari Qais bin Ashim ra, ia berkata ; Aku datang kepada Rasululloh SAW untuk masuk Islam. Maka Rosululloh memerintahkan agar aku mandi dengan air dan daun bidara”.

Berkata At-turmudi setelah meriwayatkan haditsnya : Bagi Ahli Ilmu hendaknya berbuat demikian itu, menganjurkan seseorang yang baru masuk Islam agar mandi dan mencuci pakaiannya.

Namun mandi disini tidak diwajibkan, karena tidak semua orang yang masuk Islam diperintahkan oleh beliau SAW agar mandi.

6). Berdasar hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra, ia berkata : Ketika sakit Rosululloh SAW telah parah, beliau bertanya :”Apakah orang-orang telah shalat”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rosululloh ?!”. Lalu sabdanya : “Tuangkanlah untukku air dalam baskom”. Kata Aisyah : Maka akupun melaksanakan, dan beliau lalu mandi, kemudian beranjak bangkit dengan susah payah, dan pingsan. Setelah siuman, beliau bertanya ; “Apakah orang-orang telah salat”. Kami menjawab ; “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rosululloh ?!”. Sabdanya ; “Tuangkan untukku air dalam baskom”. Kata Aisyah pula : “Aku melaksanakannya, dan beliaupun mandi. Lalu beranjak bangkit dengan susah payah, dan pingsan. Kemudian siuman kembali…. Dst”.

Gila dalam hal ini diqiyaskan dengan pingsan. Karena dalam keduanya ada persamaan dalam hal ketidak sadarannya. Bahkan gila lebih parah.

7). At-turmudi meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra, bahwasanya dia melihat Nabi SAW mengerjakan ihram semata-mata ; dan beliau mandi (untuk itu).

8). Imam Bukhori dan Muslim dengan redaksinya, meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwasanya dia tidak datang ke Mekah kecuali bermalam di Dzi-Thuwa sampai pagi hari, dan mandi terlebih dahulu, kemudian baru memasuki Mekah pada siang harinya. Ia menyebutkan dari Rosululloh SAW bahwa beliau SAW dahulu berbuat seperti itu.

9). Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar ra, adalah ia (Ibnu Umar) mandi untuk melakukan ihramnya sebelum memulai ihram, dan (mandi) untuk memasuki Mekah, juga untuk wukuf malam di Arofah.

10). Pendapat yang lebih shoheh adalah bahwa mandi di sini tidak disunatkan. (Nihayah).

11). Menurut pendapat yang Mu’tamad bahwasannya mandi untuk (melakukan) thawaf tidak disunatkan. (Al-Iqna). Faslun ; wallohu a’lam. (Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb ; 25~27).


Resensi : Kitab Taqrib dan At-Tadzhieb

Desember 16, 2011

بسم الله الر حمن الر حيم ؛ الحمد لله وحده القائل في كتابه ؛ فَلَوْ لاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا في الِّديْنِ ؛ اتوبة ١٢٢ ؛ والصلاة والسلام علي من لا نبي بعده القائل فيما أوتي من جوامع الكلم ؛ (مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ) متفق عليه ؛ وعلي اله وصحبه ومن تبعهم باحسانِ ففقه في دين الله عزوجل فعلم و علّم ؛ و بعد ؛

Segala puji hanya bagi Alloh saja, Dzat yang telah berfirman dalam Kitab-Nya :

فَلَوْ لاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama …” (QS. At-Taubah : 122).

Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan pada Nabi yang tiada lagi Nabi sesudahnya, yang sabdanya selalu ringkas dan padat :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Alloh menghendakinya menjadi orang baik, maka akan diberi ia kefahaman dalam ilmu agama”. (HR Muttafaq Alaih).

Mudah-mudahan shalawat dan salam itu terlimpahkan pula kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, juga orang-orang yang mengikuti dengan baik keteladanannya. Mereka yang diberi kefahaman tentang agama Alloh Azza Wa Jalla, yang mengetahui dan mengajarkan. Amma ba’du ;

Adalah Kitab At-Tadzhieb Fi Adillati Matnil Ghayati Wat Taqrib, karangan Syeikh Dr Mushthofa Diebul Bigha, seorang Doktor dalam bidang Hukum Islam. Kitab ini merupakan penjelasan terhadap kitab Matan Taqrib dengan mencantumkan ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits yang mendasarinya. Atau dengan kata lain, merupakan pendalilan terhadap kitab Matan Taqrib.

Disusun sedemikian rupa sehingga dapat membuktikan bahwa apa yang dinyatakan dalam Taqrib adalah bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalil-dalilnya adalah bagaikan benang emas yang mengikat dan menyelempangi hukum-hukum syar’i.

Kitab Taqrib

Adapun kitab Taqrib itu sendiri (“Matnul Ghoyat Wat Taqrib), adalah tergolong kitab terbaik dalam Madzhab Imam Syafi’i. Susunan seorang Ulama besar ; Imam Abu Syuja’, seorang Menteri dan Hakim di Isfahan dengan nama lengkapnya Imam Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Asfahani, yang hidup pada abad V sampai VI Hijriyah (Lahir tahun 434 H, wafat tahun 593 H). Kitab ini termasuk klasifikasi Kitab Fiqih, dan memuat rumusan-rumusan praktis untuk pegangan kaum muslimin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bentuk dan kandungannya dalam format yang tipis, kecil, tetapi segala bab, segala hukum dan segala masalah-masalah fiqih, baik tentang ibadah, mu’amalah maupun yang lain, semuanya tercakup di dalamnya. Kalimat-kalimatnya cukup singkat, padat, jelas dan lugas.

Taqrib mendapat perhatian yang besar dari para Ulama sesudah Imam Abu Syuja’, sehingga lahir beberapa syarah (penjelasan dan komentar) atasnya, antara lain :

  1. Fatkhul Qorieb, oleh Imam Al-Ghazzie,
  2. Al-Iqna’, oleh Syekh Syarbini Al-Khathib,
  3. Bujairimie Syarah Iqna’, oleh Syekh Sualiaman Al-Bujairimie.

Dan tentu saja, At-tadzhieb ini.

Di kalangan umat Islam, Taqrib sangat amat terkenal, dan tidak ketinggalan di Indonesia, sehingga tiada satu pesantrenpun yang tidak mengajarkan. Beberapa penulis dan Kyai telah pula menerjemahkan, baik kedalam bahasa Indonesia maupun bahasa Daerah. Taqrib diajarkan secara rutin hampir di setiap masjid dan langgar/surau di berbagai tempat di Indonesia, bahkan juga dihapalkan teksnya sebagaimana menghapalkan bacaan shalat. Demikianlah Taqrib telah membudaya di kalangan kaum Muslimin Indonesia.

Pentingnya kehadiran At-tadzhieb

Berbicara tentang umat Islam Indonesia, rupanya kini tengah meniti proses perkembangannya lebih lanjut. Tampak gejala-gejala gerak-kembangnya umat dari –status kuantitas- menuju -status kualitas-, sehingga pada saatnya nanti, Insya Alloh umat Islam Indonesia menjadi umat yang tinggi kuantitas sekaligus kualitasnya. Setinggi Islam itu sendiri, sebagai suatu agama tertinggi yang tiada apapun melebihi ketinggiannya.

Karena tuntutan kualitas itulah, maka dituntut untuk dapat menampilkan kitab-kitab semacam Taqrib ini secara lebih segar dan meyakinkan. Apa yang telah dihasilkan oleh Dr Mushthofa Diebul Bigha dengan At-tadzhieb ini, kiranya dapat kita hargai sebagai ihtiar memenuhi tuntutan tersebut. At-tadzhieb ini menjadi sebuah kitab yang dihiasi dengan manik-manik dalil, yang khusus disusun pengarangnya untuk  memenuhi -kehausan- kaum pelajar atau yang memperdalam ilmu fiqih. Menjadi bashirah dalam agama, menambah yakin dalam syari’at, memantapkan aqidah dan keteduhan di dalam ibadah, serta lurus dalam laku dan gaul.

“At-tadzhieb Fie Adillati Matnil Ghoyah Wat Taqrib”, memberikan isyarah bahwa dalil-dalil adalah bagai benang emas yang mengikat dan menyelempangi hukum-hukum syar’i. Selesai disusun beliau Malam Ahad, 12 Muharram 1398 H / 1 Februari 1978 M.

Walaupun, sebetulnya pembuktian akan benarnya isi muatan kitab-kitab bermadhab Syafi’i itu (Taqrib) bukanlah sesuatu yang luar biasa ; karena dalam beliau2 menyusun madzhabnya telah terlebih dulu mengkaji sedalam-dalamnya terhadap Al-Qur’an, Sunnah Nabi maupun Atsar Sohabat, dan juga ajaran para Ulama sebelum beliau. Sehingga ajaran madzhabnya terjamin kebenarannya dan kesesuaiannya dengan Nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Tetapi, penelusuran dari suatu kitab sampai kepada Nash Al-Qur’an maupun Sunnah yang mendasarinya seperti ini, adalah hal patut dihargai serta dicontoh semua pihak serta layak digunakan.

Demikianlah tentang Taqrib dan Attadzhieb.

Akhirnya kita memohon kepada Alloh SWT berkenanlah kiranya mengampuni dosa-dosa kita, Ibu-bapak kita dan orang2 yang mempunyai hak atas kita, mengkaruniakan keikhlasan dalam melakukan kajian kitab ini, dan menerimanya sebagai amal sholeh, sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat, lil Islam wal Muslimin Fid–dunya wal akhirah. Amin.  Wallohu a’lam *** (Iqbal1).

Ref. : Fatkhul Qorieb ; Dalil Taqrib ; Matnul Ghoyat Wat Taqrib ; Attadzhieb Fi Adillati Matnil Ghayati Wat Taqrib.


Fiqih : Sunat-sunat Mandi

Desember 15, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

َوَ سُنَتَهُ خَمْسَةُ اَشْيَاءُ ؛ اَلتَّسْمِيَةُ وَالْوُضُوْءُ قبْلَهُ وَاِمُرَارُالْيَدِ عَلَى الْجَسَدِ وَالْمُوَالاَةُ وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَىْ عَلَىَ الْيُسْرَىْ ؛ التَّذْهِيْب ص ٢٤~٢٥

Sunat-sunat mandi ada 5 (lima) perkara, yaitu : Membaca Basmalah. 1) ; Wudu (terlebih dahulu sebelum mandi). 2) ; Menjalankan (menggosok-gosokan) tangan ke seluruh tubuh. 3) ; Beruntun. 4) ; Dan mendahulukan anggota badan yang kanan dari pada yang kiri. 5).

Penjelasan :

1). Berdasar hadits :

كُلُّ اَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَاءُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ اَقْطَعُ

“Segala perkara yang bagus (menurut syara) yang tidak didahului di dalamnya dengan Bismillaahirrohmaanirrohiem, maka akan terputuslah (berkahnya)”.

2). Berdasar adits Siti Aisyah ra yang lalu (pada bab sebelum ini, hadits no. 2).

3). Menghindari pertentangan pendapat orang yang mewajibkannya, yaitu pendapat Ulama Madzhab Imam Maliki.

4). Sebagaimana keterangan yang telah lalu, pada bab wudu, Madzhab Maliki mewajibkan hal ini.

5). Yakni mendahulukan bagian tubuhnya yang kanan. Berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah ra, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يُعْجِيُهُ التَّيَمُنُّ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَ فِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ

“Adalah Nabi SAW menyukai mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci (mandi/wudu), dan dalam segala halnya”.

Wallohu a’lam *** (Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb, Sh. 24~25).


Fiqih : Fardunya Mandi

Desember 14, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فصل ؛ وفرائض الغسل ثلاثة اشياء ؛ النية وازالة النجاسة ان كانت علي بدنه وايصال الماء الي جميع الشعر والبشرة ؛ التذهيب ص ٢٣~٢٤

(Ini adalah sebuah Fasal untuk menerangkan perkara Fardunya Mandi) ; Fardunya mandi ada 3 (tiga) perkara ; Niat 1) ; Menghilangkan najis, jika terdapat dalam tubuhnya 2) ; Dan meratakan air ke seluruh rambut dan kulit 3).

Penjelasan :

1). Berdasarkan hadits Nabi SAW :

انماالاعمال بالنيات

“Bahwasanya amal itu tergantung niat-niatnya”.

2). Berdasar hadits riwayat Imam Bukhori dari Maimunah ra, tentang mandinya Rasululloh SAW , beliau membasuh kemaluannya dan bagian tubuh yang terkena najis/kotoran. Keterangan di atas dibenarkan oleh An-Nawawi dalam beberapa kitabnya. Katanya : “Adalah cukup satu kali siraman untuk menghilangkan hadats dan najis”. Itulah pendapat yang mu’tamad. Dari itu menghilangkan najis sebelum menyiramkan air adalah sunat adanya. (Al-Iqna).

3). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi SAW, bila mandi janabah (junub), beliau memulai dengan membasuh keduan tangannya, kemudian wudu, sebagaimana wudunya ketika hendak shalat. Kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan menyela-nyelai pangkal rambutnya. Lalu menuangkan air di atas kepalanya tiga kali dengan cidukan kedua tangannya. Kemudian mengalirkan air ke seluruh kulit (tubuh) nya.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Sayidina Ali ra, ia berkata : Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda :

من ترك موضع شعرة من جنابة لم يصبها الماء فعل الله به كذا وكذا من النار

“Barangsiapa yang meninggalkan tempat seutas rambut dari janabah, yang air tidak mengenainya, maka karena sebab itu Alloh SWT akan membuat begini, begini dari api neraka”.

Sayidina Ali ra berkata : “Dari itu aku memusuhi rambutku”.

Adalah Sayidina Ali KRW selalu mencukur rambutnya. *** Wallohu a’lam (Iqbal1 ; Ref. Atadzhieb 23~24).


Fiqih : Perkara yang Mewajibkan Mandi

Desember 13, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فصل ؛ والذي يو جب الغسل ستة اشياء ؛ ثلاثة تشترك فيها الرجل والنساء ؛ وهي التقاء الختانين وانزال المني والموت ؛ وثلاثة تختص بها النساء ؛ وهي الحيض والنفاس والولادة ؛ التذهيب ص ٢١~٢٣

(Adapun ini adalah sebuah Fasal untuk Menerangkan Perkara yang Mewajibkan Mandi) ; Adapun hal-hal yang mewajibkan mandi ada 6 (enam) perkara. Tiga diantaranya bersamaan ada pada beberapa laki-laki dan perempuan, yaitu ; Bertemunya dua kemaluan/senggama 1), Keluarnya sperma/mani 2), dan Mati 3). Sedangkan tiga perkara lagi adalah khusus ada pada perempuan, yaitu ; Haid 4), Nifas 5), dan Melahirkan 6).

Penjelasan :

1). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Huraeroh ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda :

اذا جلس بين شعبها الاربع ثم جهدها فقد وجب عليه الغسل ؛ وفي رواية مسلم وان لم ينزل

“Bila seseorang duduk diantara empat anggota tubuh wanita (dua paha dan dua  betis) kemudian menggerak-gerakannya, maka wajib baginya mandi”. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan : “Walaupun tidak sampai mengeluarkan (mani)”.

Hadits di atas menunjukkan wajibnya mandi karena persetubuhan itu sendiri, walaupun belum sampai mengeluarkan sperma ;  sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Muslim.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, ia berkata : Ummu Sulaim datang kepada Nabi SAW katanya : “Wahai Rasululloh, sesungguhnya Alloh tidak malu terhadap barang yang haq. Apakah wajib bagi wanita bila ia bermimpi (mimpi disetubuhi) ?”. Bersabda Rasululloh SAW :

نعم ؛ اذا رات الماء

“Ya (wajib mandi), bila ia melihat (telah mengeluarkan) air”.

Yakni air mani, yaitu cairan yang keluar dari kemaluan wanita saat ia bersenggama.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata. Rasululloh SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang menemukan basah-basah (pada pakaiannya), dan ia tidak ingat/merasa bermimpi ?. Sabda beliau : “Ia (harus) mandi”.

Dan ketika beliau ditanya tentang seorang lelaki bermimpi tetapi tidak menemukan “basah-basah” pada pakaiannya. Sabda beliau : “Ia tidak wajib mandi”.

Ummu Sulaim bertanya : “Bila seorang wanita melihat yang demikian itu, apakah ia wajib mandi ?”. Sabda Nabi SAW

نعم ؛ النساء شقا ئق الرجال

”Ya, wanita adalah bagian dari orang-orang lelaki”.

Maksudnya, wanita adalah sama dengan lelaki dalam bentuk dan tabiatnya. Sepertinya mereka dibentuk dari potongan-potongan lelaki.

3). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyyah Al-anshoriyah ra. Ia berkata : Rasululloh SAW datang kepada kami ketika putri beliau meninggal, sabdanya :

اغسلنها ثلاثا

“Mandikanlah ia tiga kali…”

Imam Bukhori dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Adalah seorang lelaki dilemparkan oleh untanya dan terinjak lehernya (sampai mati). Dan saat itu kami ada bersama-sama Rosululloh SAW sedang berihrom. Lalu Nabi SAW bersabda :

اغسلوه بماء وسدر؛ وكفنوه في ثوبين

“Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah ia dengan dua lapis pakaian”.

4). Firman Alloh Ta’ala :

فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتي يطهرن ؛ فاذا تطهرن فأتوهن من حيث امركم الله ؛ ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين ؛ البقرة ~ ٢٢٢

“….. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci *). Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS ; Al-Baqoroh 222).

*) ia sudah mandi

Imam Bukhori meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasululloh SAW bersabda kepada Fathimah binti Abu Hubaisy ra :

اذا اقبلت الحيضة فدعي الصلاة ؛ واذا ادبرت فاغتسلي وصلي

“Apabila haid (datang bulan) datang, maka tinggalkanlah shalat. Dan bila haid telah pergi (habis), maka mandilah dan shalatlah”.

5). Diqiaskan dengan haid, karena pada hakekatnya darah nifas adalah darah haid yang terkumpul.

6). Karena anak/bayi yang keluar itu adalah bentukan dari air mani. Dan biasanya keluarnya disertai darah.

(Note :) : Mohon maaf apabila ada istilah yg seperti vulgar, seperti itulah fiqih membahas permasalahan thoharoh. Jazakallohu khoeron katsiro. Wallohu a’lam *** Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb 21~23).


Fadilah : Ada Banyak Keutamaan di Bulan Muharram

Desember 10, 2011

Bulan muharam adalah salah satu dari bulan-bulan yang dimulyakan Alloh SWT. Sebagaimana termaktub dalam Al-Quran :

 إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ : التوبة : 36

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

وقد قال النبي –صلى الله عليه وسلم-: ( السنة اثنا عشر شهراً منها أربعة حرم ، ثلاث متواليات : ذو القعدة ، وذو الحجة ، والمحرم ، ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان ) رواه البخاري (4662)، ومسلم (1679) من حديث أبي بكرة – رضي الله عنه-.

Bersabda Baginda Rosul SAW: “Dalam satu tahun terdapat 12 bulan, ada 4 bulan yang dimuliakan, tiga bulan di antaranya berurutan yaitu; Dzul Qo’dah, Dhu’l-Hijjah, serta Muharram. Dan Rajab yang ada di antara Jumada dan Sya’ban (Bukhari: 4662 dan Muslim 1679).

Bulan yang satu ini dinamakan Muharam (diharamkan) karena Alloh melarang adanya peperangan (Abi Syuja’, Al-Iqna’ (1): 150). Ulama lain berpendapat (dalam penamaan Muharam) bahwa di bulan ini Iblis La’natulloh diharamkan memasuki surga (I’anah Ath-Tholibin).

Penting untuk diketahui bahwa para ulama dalam menentukan kemuliaan dan disyari’atkannya berpuasa di bulan Muharam ini berdasar pada Quran, Hadits, dan Ijma’. Imam Ibnu al-‘Arobi dalam menafsirkan surat al-Fajr: 2, lafadz (وَلَيَالٍ عَشْر), menerangkan bahwa yang dimaksud redaksi ayat tersebut adalah hari ke sepuluh di bulan Muharam (dalam tafsir ath-Thobari). Dikatakan pula oleh ulama lain, bahwa yang dimaksud ayat tersebut adalah 10 hari terakhir bulan Ramadhan, bahkan ada pula yang berpendapat 10 hari yang disempurnakan Alloh untuk Nabi Musa AS dalam miqatnya kala ia bermunajat.

Sebagaimana telah dimaklumi bersama bahwa di bulan yang mulia ini, dianjurkan bagi kaum muslim berpuasa. Hukum syari’at ini hadir karena hadits Nabi SAW yang diriwayatkan Imam Abi Hurairah RA :

أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم ; رواه مسلم ; 1163

“Ibadah puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharam (Imam Muslim: 1163).

Pun, terdapat hari yang mulia di dalam bulan ini. Asyura, tanggal ke-10 bulan Muharam. Abdullah bin al-‘Abbas meriwayatkan hadits; “Kala itu hari ‘Asyura (10 Muharam), Baginda Rasul SAW tengah berpuasa, dan beliau memerintahkan kami juga berpuasa. Kami bertanya: “Ya Rasul, bukankah hari ini adalah hari yang diagung-agungkan kaum Yahudi dan Nasrani?”. Lantas beliau SAW menjawab: “Jika saja tahun yang baru akan datang. Insya Allah, aku akan berpuasa dari hari yang ke 9”. Tahun baru belum kunjung datang kembali, Allah berkehendak terlebih dahulu memanggil Baginda Rasul” (Fathul Bari (4): 770).

Anjuran puasa di hari asyura diperkuat (menjadi sunnah muakkad) kembali oleh hadits Nabi SAW yang lain. Sabda Imam Bukhari: “Aku belum pernah melihat Rasul SAW melaksanakan puasa sehari yang ia unggulkan dari hari-hari lain, kecuali hari Asyura dan bulan ini (Ramadhan)” (Imam Bukhari (2006), Imam Muslim (1132).

Adapun puasa ‘arofah (9 dzulhijjah) mengkifarati (dosa) untuk dua tahun (satu tahun ke belakang dan satu tahun ke depan), sementara puasa ‘asyuro mengkifarati untuk satu tahun kebelakang saja, itu karena puasa ‘arofah adalah hari Nabi kita Muhammad SAW., sementara puasa ‘asyuro adalah hari para Nabi AS. selain Nabi Muhammad SAW. Dimana Nabi kita Muhammad SAW. adalah afdlolul anbiya, (dengan keunggulan itu) maka harinya (‘arofah) sebanding untuk dua tahun. (dan juga kenapa puasa ‘arofah punya nilai lebih daripada puasa ‘asyuro yang notabene puasa ‘asyuro memiliki beberapa kelebihan menyangkut kisah para Nabi) karena kelebihan (pada diri para Nabi) tidak menuntut (berimplikasi) kepada kefadlihan (yang bisa mengalahkan kefadlihan Nabi Muhammad SAW) (I’anah ath-Tholibin (2): 268).

Dihikayatkan, bahwa tatkala perahu Nabi Nuh AS. sudah berlabuh (siap digunakan) pada hari Asyuro, beliau berkata kepada kaumnya: “kumpulkanlah semua perbekalan yang ada pada diri kalian!”. Lalu beliau menghampiri (mereka) dan berkata: “(ambillah) kacang fuul (semacam kedelai) ini sekepal, dan ‘adas (biji-bijian) ini sekepal, dan ini dengan beras, dan ini dengan gandum dan ini dengan jelai (sejenis tumbuhan yg bijinya/buahnya keras dibuat tasbih)”. Kemudian Nabi Nuh berkata: “Pasaklah semua itu oleh kalian!, niscaya kalian akan senang dalam keadaan selamat”. Dari peristiwa ini maka kaum muslimin (terbiasa) memasak biji-bijian. Dan kejadian di atas merupakan praktik memasak yang pertama kali terjadi di atas muka bumi setelah kejadian topan. Dan juga peristiwa itu dijadikan (inspirasi) sebagai kebiasan setiap hari Asyuro.

وللحافظ ابْن حجر شعر من الرجزفِي الْحُبُوب الَّتِي طبخها نوح عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَام فِي يَوْم عَاشُورَاء سبع تهترس * بر شعير ثمَّ ماش وعدس وحمص ولوبيا والفول * هَذَا هُوَ الصيح وَالْمَنْقُول

Diambil dari sebagian Afadlil , bahwa amal-amal pada hari ‘asyuro ada dua belas macam amal :

  1. Sholat, dan yang paling utama adalah sholat tasbih
  2. Puasa
  3. Sodaqoh
  4. Memberi keleluasaan kepada keluarga (seperti dengan memberi nafkah lebih dari hari-hari biasanya)
  5. Mandi
  6. Mengunjungi orang ‘alim yang solih
  7. Menengok orang sakit
  8. Mengusap kepala anak yatim
  9. Bercelak
  10. Memotong kuku
  11. Membaca QS. Al ikhlash 1000 kali
  12. Silaturahim

Imamul muhadditsin Ibnu Hajar Al-‘Asqolany dalam syarah Al bukhory mengatakan : “(ada) beberapa kalimat (dzikir) yang barang siapa membacanya pada hari ‘Asyuro, maka hatinya tidak akan mati”. Kalimat tersebut :

سُبْحَانَ الله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش

1. SUBHAANALLOH MIL-AL MIIZAANI WA MUNTAHAL ‘ILMI WA MABLAGHOR RIDLOO WA ZINATAL ‘ARSYI.

Maha suci Alloh dengan sepenuh timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya ‘arasy.

وَالْحَمْد لله ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش

2. WALHAMDULILLAH MIL-AL MIIZAANI WA MUNTAHAL ‘ILMI WA MABLAGHOR RIDLOO WA ZINATAL ‘ARSYI.

Dan Segala puji bagi Alloh dengan sepenuh timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya ‘arasy.

وَالله أكبر ملْء الْمِيزَان ومنتهى الْعلم ومبلغ الرِّضَا وزنة الْعَرْش

3. WALLOHU AKBAR MIL-AL MIIZAANI WA MUNTAHAL ‘ILMI WA MABLAGHOR RIDLOO WA ZINATAL ‘ARSYI.

Dan Maha besar Alloh dengan sepenuh timbangan dan (sampai) dengan puncak ilmu dan (sampai) dengan batas akhir ridlo dan dengan beratnya ‘arasy.

لَا ملْجأ وَلَا منجا من الله إِلَّا إِلَيْهِ

4. LAA MALJA-A WALAA MANJAA MINALLOH ILLAA ILAIHI.

Tidak ada perlindungan dan tidak ada keselamatan dari Alloh kecuali kepadanya.

سُبْحَانَ الله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا

5. SUBHAANALLOH ‘ADADASY SYAF’I WAL WATRI WA ‘ADADA KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI KULLIHAA

Maha suci Alloh dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Alloh yang semuanya sempurna.

وَالْحَمْد لله عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا

6. WALHAMDULILLAH ‘ADADASY SYAF’I WAL WATRI WA ‘ADADA KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI KULLIHAA

Dan Segala puji bagi Alloh dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Alloh yang semuanya sempurna.

وَالله أكبر عدد الشفع وَالْوتر وَعدد كَلِمَات الله التامات كلهَا

7. WALLOHU AKBAR ‘ADADASY SYAF’I WAL WATRI WA ‘ADADA KALIMAATILLAHIT TAAMMAATI KULLIHAA

Dan Maha besar Alloh dengan (sebanyak) bilangan genap dan ganjil dan dengan (sebanyak) bilangan kalimat-kalimat Alloh yang semuanya sempurna.

أَسأَلك السَّلامَة بِرَحْمَتك يَا أرْحم الرَّاحِمِينَ وَلَا حول وَلَا قُوَّة إِلَّا بِاللَّه الْعلي الْعَظِيم

8. AS-ALUKAS SALAAMATA BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROOHIMIIN WALAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAHIL ‘ALIYYIL ‘AZHIIM

Aku memohon keselamatan kepadamu dengan rohmatmu, wahai dzat yang pengasih diantara para pengasih!, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali oleh Alloh yang maha tinggi dan agung.

وَصلى الله على سيدنَا مُحَمَّد وعَلى آله وَصَحبه أَجْمَعِينَ وَالْحَمْد لله رب الْعَالمين

9. WASHOLLALLOHU ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMADIN WA ‘ALAA AALIHI WA SHOHBIHII AJMA’IIN WALHAMDULILLAHI ROBBIL ‘AALAMIIN

وَنقل سَيِّدي عَليّ الأَجْهُورِيّ أَن من قَالَ يَوْم عَاشُورَاء سبعين مرّة حسبي الله وَنعم الْوَكِيل نعم الْمولى وَنعم النصير كَفاهُ الله تَعَالَى شَرّ ذَلِك الْعَام

Sayyid ‘Aly Al-Ajhuri menuqil, bahwa orang yang membaca “HASBIYALLOHU WANI’MAL WAKIIL NI’MAL MAULAA WANI’MAN NASHIIR” sebanyak 70 kali pada hari ‘asyuro, maka Alloh akan mencegah darinya kejelekan yang ada pada tahun itu. (Nihayah az-Zain: 195-197 pasal saum tathowu’ dan Ihya Ulumuddin, jilid 2).

Para ulama mengatakan bahwa hari asyuro memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan hari-hari yang lain, yaitu :

  1. Diciptakannya Nabi Adam AS di dalam surga
  2. Diterimanya taubat Nabi Adama AS di dalam surge
  3. Naik dan sejajarnya perahu Nabi Nuh AS dengan bukit Juudy
  4. Terbelahnya laut untuk Nabi Musa AS
  5. Tenggelamnya Fir’aun di dasar laut
  6. Dikeluarkannya Nabi Yunus AS dari peruta ikan
  7. Dikeluarkannya Nabi Yusuf AS dari sumur
  8. Diterimanya taubat umat Nabi Yunus AS
  9. Dilahirkannya Nabi Ibrohim AS
  10.  Selamatnya Nabi Ibrohim AS dari api
  11. Dilahirkannya Nabi Isa AS
  12. Diangkatnya Nabi Isa AS ke langit
  13. Dikembalikannya penglihatan Nabi Ya’qub AS
  14. Dibuka (dihilangkan) nya madlorot yang mendera Nabi Ayyub AS
  15. Diampuninya Nabi Dawud AS

Dan yang ke tiga adalah puasa hari -Tasu’a-, yaitu hari ke Sembilan dari bulan Muharam. Sebagaimana telah disinggung pada awal keterangan.

Mudah-mudahan bermanfaat, Jaazakumullohh.  Wallohu a’lam *** (Iqbal1).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.