Bertayamum Untuk Sekali Shalat Fardhu

Maret 16, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ وَيُصَلِّى بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَاشَاءَ مِنَ النَّوَافِلِِ ؛ التذهيب

Bertayamum (sekali) untuk sekali shalat fardhu 1) ; dan dengan sekali tayammum dapat mengerjakan shalat-shalat sunat sekehendaknya. ***

Penjelasan :

1). Al-Baihaqi dengan isnad yang shoheh meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. katanya :

َيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَاِنْ لَمَْ يُحْدِثِِْ

“Bertayammum (sekali) untuk setiap sekali shalat, walaupun belum berhadats”. Wallohu a’lam *** (Matan Taqrib/Attadzhieb).


Mengusap Pembalut (Perban)

Maret 15, 2012

Lanjutan bab Thoharoh :

وَالصَّاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّى وَلاَ اِعَادَةَ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ ؛ التذهيب

Orang yang berpembalut, cukup mengusap pembalutnya, dan bertayammum lalu shalat. Dan tidak wajib baginya mengulangi shalatnya, apabila pemasangan pembalut dilakukan dalam keadaan suci 1). *** (Matan Taqrib).

Penjelasan :

1). Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Jabir ra. ia berkata : Kami keluar untuk suatu perjalanan. Tiba-tiba salah seorang di antara kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian ia berihtilam (mimpi dan mengeluarkan mani), lalu bertanya kepada kawan-kawannya ; “Apakah kalian tahu adakah rukhsah bertayamum untukku ?”. Kawan-kawan menjawab ; “Kami tidak menemukan rukhsah untuk engkau karena engkau masih bisa memakai air”. Maka ia pun lalu mandi, dan ternyata meninggal. Maka ketika kami datang kepada Rasululloh SAW dan mengkhabarkan hal itu kepada beliau, beliau bersabda :

 قَتَلُوْهُ فَتَعَلَهُمُ اللهُ اَلاََ سَأََلُواْ اِذاَ لَمْ يَعْلَمُواْ ؟ ـ فَاِنَّمَا شِفَاءُالُعِيِّ السُّؤَالُ. اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ اَوْيَعْصِبَ جُرْحَهُ ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهِ ـ وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ـ

“Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan membunuh mereka. Kenapa mereka tidak menanyakan kalau memang belum mengetahui ?. Bahwasanya obat dari kebingungan adalah bertanya. Bahwasanya ia cukup dengan bertayammum dan membalut lukanya, kemudian mengusapnya, dan menyiram seluruh bagian tubuhnya yang lain”.  Wallohu a’lam. *** (Taqrieb / Attadzhieb).


Yang Membatalkan Tayamum

Maret 14, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ ؛ مَاأَبْطَلَ الْوُضُوْءَ وَرُؤْيَةُ الْمَاءِ  ِفيْ غَيْرِوَقْتِ الصَّلاَةِ وَالرِِّّدََةُ ؛ التذهيب

Perkara-perkara yang membatalkan Tayammum ada 3. Yaitu : Segala yang membatalkan wudhu ; Melihat air di luar waktu sholat 1) ; Dan Murtad. *** (Matan Taqrieb).

Penjelasan :

1). Yakni dalam keadaan tidak sedang menjalankan shalat, dan belum melakukannya. Berdasar riwayat Imam At-Turmudzi dan lain-lain dari Abu Dzar ra. bahwa Rasululloh SAW bersabda :

اِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُالْمُسْلِمِ وَاِنْ لَمْ يَجِدْ المَاءَ عَسْرَسِنِيْنَ فَاِذاَ وَجَدَالْماَءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَاِنَّ ذَالِكَ خَيْرٌ

“Sesunggunya tanah yang baik (suci) adalah alat pembersih bagi orang Islam, walaupun ia tidak menemukan air dalam sepuluh tahun. Namun bila ia menemukan air, maka berwudhulah. Karena sesungguhnya yang demikian itu lebih baik”.

Hadits ini menunjukkan bahwa Tayammumnya menjadi batal demi melihat air.  Walohu a’lam. *** (Matan Taqrieb /  Attadzhieb).


Fardu dan Sunat-sunat Tayamum

Maret 13, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَفَراَئِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ ؛ اَلنِّيَةُ وَمَسْحِ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ ~ وَسُنَنُهُ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءُ ؛ اَلتَّسْمِيَةُ وَتَقْدِيْمُ الْيَمْنَى عَلَى الْيْسْرَى وَالْمُوَالاَةُ ؛ التذهيب

Fardhu Tayamum ada 4. Yaitu : Niat ; Mengusap muka. Mengusap kedua tangan sampai siku. Dan tartib 1).

Sunat-sunat Tayamum ada 3. Yaitu : Membaca basmalah. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri. Beruntun 2).

Penjelasan :

1). Berdasarkan Firman Alloh Ta’ala :

فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ؛ المائدة ٦

“Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al-Maidah 6).

2). Disamakan dengan -wudhu-, karena memang gantinya. *** (Ref. Matan Taqrieb / Syarah Attadzhieb).


Thoharoh : Syarat Tayamum

Maret 12, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

 فَصْلٌ ؛ وَشَرَائِطُ التَّيَمُمِّ خَمْسَةُ اَشياَءَ ؛ وُجُوْدُ الْعُدْرِ بِسَفَرِ اَوْ مَرَضٍ وَدُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَطَلَبُ الْمَاءِ وَتَعَذُّرِاسْتِعْمَالِهِ وَاِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ ؛ وَالتُّرَبُ الطَّاهِرُ لَهُ غُيَارٌ. فَاِنْ خَالَطَهُ جِصّ ٌ اَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجِزْ ؛ التذهيب

(Adapun ini adalah sebuah Fasal/Pemisah buat menerangkan perkara Tayamum). Syarat-syarat tayamum ada 5. Yaitu : Adanya udzur karena bepergian atau sakit 1). Telah masuk waktu shalat dan telah berusaha mencari air 2). Berhalangan memakai air 3). Berhajat memakai air (untuk keperluan makan, minum dan lain-lain) setelah memperoleh air 4). Tanah (yang dipakai untuk  bertayamum) suci dan berdebu. Apabila debu bercampur dengan kapur atau pasir, tidak cukup memenuhi syarat 5). *** (Matan Taqrieb/Syarah At-tadzhieb). 

Penjelasan :

1). Firman Alloh Ta’ala :

وَاِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى اَوْ عَلىَ سَفَرٍ اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ اَوْ لاَمَسْتُمُ النِِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَاءً فَتَيَمَّمُواْ ؛ المائدة ٦

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah”. (Q.S. Al-Maidah 6).

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran bin Husin ra. ia berkata. Kami ada bersama-sama Rasululloh SAW dalam suatu perjalanan. Maka beliaupun lalu shalat bersama para sahabat. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang memisahkan diri. Lalu sabda beliau : “Apa yang mencegah engkau melakukan shalat?”. “Saya janabah, dan tidak ada terdapat air (untuk mandi)”.  jawabnya. Sabda beliau :

عَلَيْكَ بِااصَّعِيْدِ فَاِنَّهُ يَكْفِيْكَ

“Ambillah debu, sesungguhnya debu itu mencukupi engkau”.

2). Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda :

 وَجُعِلَتْ لِيَ الاََرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوْراً فَاَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ اُمَّتِيْ اَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ قَلْيُصَلِّ. وعند احمد ؛ اَيْنَمَااَدْرَكَتْنِيْ الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَيْتُ

“Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan mensucikan. Maka siapa saja dari umatku menjumpai (waktu) shalat, maka shalatlah !”. Dan dalam riwayat Ahmad : “Di mana saja aku menjumpai shalat, maka aku mengusap dan shalat”.

Dua riwayat di atas menunjukkan tayammum dan shalat dilakukan bila tidak menemukan air, setelah masuk waktu shalat. Wallohu a’lam *** (Iqbal1 ).


Lanjutan : Batas Waktu dan Perbatalannya Mengusap Sepatu

Desember 23, 2011

Batas Waktu :

وَيَمْسَحُ الْمُقِيْمُ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَالْمُسَافِرُ ثَلَاثَةَ اَيَّامٍ بِلَيَالِيْهِنَّ وَابْتِدَاءُ الْمُدَّةِ مِنْ حِيْنِ يُحْدِثُ بَعْدَ لُبْسِ الْحُفَيْنِ فَاِنْ مَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ اَوْ مَسَحَ فِي السَّفَرِ ثُمَّ اَقَامَ اَتَمَّ مَسْحَ مُقِيْمٍ ؛ التذهيب , ص ٢٩~٢٨

(Lanjutan Fasal Mengusap Sepatu) : Orang yang mukim (tidak bepergian) dapat mengusap satu hari satu malam ; Sedang musafir (batas waktu boleh mengusap) tiga hari tiga malam 1). Permulaan batas waktu dihitung sejak berhadas (yang pertama) setelah memakai sepatu. Bila telah mengusap di rumah, kemudian bepergian, atau telah mengusap dalam bepergian kemudian mukim, maka ia harus menyempurnakan pengusapan (sebagai orang yang) mukim.

Penjelasan :

1). Imam Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata : Aku datang kepada Aisyah ra. untuk menanyakan tentang mengusap sepatu. Kata Aisyah : Datanglah kepada Ali, ia lebih tahu tentang hal ini daripada aku. Ia pernah bepergian bersama Rosululloh SAW. Maka akupun lalu bertanya kepadanya. Dan jawabnya : “Rosululloh SAW menentukan tiga hari tiga malam untuk musafir, dan sehari semalam untuk orang yang mukim.

***

Perbatalan Mengusap Sepatu :

وَيَبْطُلُ الْمَسْحُ بِثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ ؛ بِخَلْعِهِمَا وَانْقِضَاءِ اْلمُدَّةِ وَمَا يُوْجِبُ الْغُسْلَ ؛

Pengusapan (sepatu) menjadi batal karena tiga hal : Karena dilepas, Telah habis batas waktunya ; Dan karena adanya hal yang mewajibkan mandi 2).

Penjelasan :

2). Imam At-turmudzi meriwayatkan dari Shafwan bin “Asal ra, ia berkata : Adalah Rosululloh SAW memerintahkan kami bila kami bepergian agar mengusap sepatu-sepatu kami dan tidak perlu melepaskannya selama 3 hari, dari buang air besar, kencing dan tidur. Kecuali dari janabah (hadas besar). Wallohu a’lam. :)


Fiqih : Mengusap Muzah / Dua Sepatu (Khuffaen) dalam Berwudu

Desember 22, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فَصْلٌ ؛ وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَيْنِ جَائِزٌ بِثَلاَثَةِ شَرَائِطَ ؛ اَنْ يَلْبَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ وَاَنْ يَكُوْنَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ غَسْلِ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ وَاَنْ يَكُوْنَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا ؛ التذهيب ٢٧~٢٨

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mengusap sepatu -khuffaen/muzah- dalam berwudu) ; Mengusap sepatu (sebagai ganti membasuh kaki dalam berwudu) hukumnya adalah boleh 1), dengan tiga syarat : Mulai memakai (sepatu) nya setelah dalam keadan suci yang sempurna 2) ; Sepatu (yang dipakai) menutupi seluruh bagian kaki yang wajib di basuh (dalam wudu) ; Dan sepatu tersebut terbuat dari bahan yang memungkinkan (kuat) untuk berjalan terus-menerus.

Penjelasan :

1). Dalil diperbolehkannya mengusap sepatu ini adalah dari banyak hadits, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Sohabat Jarir ra, bahwasanya beliau kencing, lalu wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki). Dan ketika ditanyakan kepadanya. “Kenapa engkau berbuat seperti ini ?”. Jawabnya ; “Ya, saya pernah melihat Rosululloh SAW kencing, kemudian wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki)”.

Hasan Al-Bashri berkata : “Yang meriwayatkan tentang mengusap sepatu ini ada tujuh puluh orang. Baik berupa perbuatan atau ucapan”.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sohabat Al-Mughiroh bin Syu’bah ra, ia berkata : Saya ada bersama Rosululloh SAW pada suatu malam dalam perjalanan. Saya menyiramkan air untuk beliau dari bejana, kemudian beliau membasuh mukanya, kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Kemudian ketika aku berjongkok hendak melepas sepatunya, beliau bersabda :

دَعْهُمَا ؛ فَاِنِّيْ اَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

“Biarlah, karena ketika aku memakainya dalam keadaan telah suci”.

Lalu beliaupun mengusap kedua sepatunya.

Keterangan : Muzah ialah pakaian semacam kaos kaki yang lazim dipakai, tetapi bahannya dibuat  dari kulit. Perkataan Kyai Mushonif “Jaiz” / Boleh itu memberikan pengertian, bahwa sesungguhnya membasuh -kedua kaki itu- adalah lebih baik daripada mengusapnya. Syarat, rukun, perbatalan dan ketentuan2 lainnya tentang fasal ini sebagaimana diuraikan dalam syarah fathul qorieb. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1 ; Taqrib ; Attadzhieb 27~28).


Fiqih : Mandi-mandi yang Disunatkan

Desember 20, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

 فَصْلٌ ؛ وَالاِْغْتِسَالاََتُ الْمَسْنُوْنَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلاً ؛ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَالْعِيْدَيْنِ وَالاٍْسْتِسْقَاءِ وَالْخُسُوْفِ وَالْكُسُوْفِ وَالْغُسْلُ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ وَالْكَافِرُ اِذاَ اَسْلَمَ وَالْمَجْنُوْنُ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ اِذَا افَاقَا وَالْغُسْلُ عِنْدَالاِْحْرَامِ وَلِدُخُوْلِ مَكَّةَ وَلِلْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ وَلِلْمَبِيْتِ بِمُزْدَلِفَةَ وَلِرَمْيِ الْجِمَارِ الثَّلاَثِ وَلِلطَّوَافِ وَلِلسَّعْيِ وَلِدُخُوْلِ مَدِيْنَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ اَلتَّذْهِيْبُ فِيْ اَدَلَّةِ مَتْنِ الْغَايَةِ وَالتَّقْرِيْب ؛ ٢٥~٢٧

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mandi-mandi yang disunatkan) ; Mandi-mandi yang disunatkan itu ada 17 (tujuh belas) macam mandi ; Mandi Jum’at 1), mandi dua hari raya 2), mandi istisqo, mandi karena adanya gerhana bulan/matahari 3), mandi setelah memandikan mayat 4), mandinya orang kafir ketika masuk Islam 5), mandinya orang gila dan orang pingsan ketika sadar/siuman 6), mandi ketika ihrom 7), mandi untuk memasuki Mekah 8), untuk wukuf di Arofah 9), untuk bermalam di Muzdalifah 10), untuk melempar tiga jumroh, untuk thowaf 11), untuk sa-i’, dan untuk memasuki Madinatur Rosul SAW.

Penjelasan :

1). Imam Bukhori dan Muslim serta yang lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata : Bersabda Rosululloh SAW ;

اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ اِلىَ الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ؛ ولمسلم اِذَا اَرَادَ اَحَدُكُمْ اَنْ ياَتِيَ….

“Bila seseorang diantara kalian datang menuju Jum’at, maka mandilah”. Dalam riwayat Muslim, “Bila seseorang di antara kalian hendak mendatangi……”

Perintah di atas bukan perintah wajib, berdasar hadits At-turmudzi ;

مَنْ تَوَضَّا يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ اَفْضَلُ

“Barang siapa wudu pada hari Jum’at, maka ia telah mengamalkan sunnah, dan sebaik-baik sunnah. Dan barang siapa yang mandi, maka mandi itu lebih utama/afdhol”.

2). Imam Malik dalam Al-Muwatha meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Umar ra mandi pada hari Iedul Fitri sebelum berangkat ke mushalla.

Iedul Adha diqiaskan dengan Iedul Fitri.

3). Saya tidak mendapatkan dalil naqli yang menjadi dasar disunatkannya tiga macam mandi ini. Mungkin saja para ulama mensunatkannya mengkiyaskan dengan mandi Jum’at dan mandi Hari Raya. Karena ada kesamaan dalam pelaksanaan salat, yaitu dianjurkan dilakukan dengan berjama’ah, dimana kemudian orang-orang berkumpul untuk melaksanakannya.

4). Diriwayatkan dari Abu Huraeroh ra dari Nabi SAW beliau bersabda :

 مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّاءْ

“Barangsiapa memandikan mayat, maka mandilah. Dan barangsiapa yang mengusung mayat, maka berwudulah” (HR Khamsah, dianggap Hasan oleh At-turmudi.

Perintah di atas tidak wajib, beradsar hadits riwayat Al-Hakim

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فَيْ غُسْلٌ اِذَا غَسَّلْتُمُوْهُ

“Tidak ada keharusan mandi atas kalian, dalam memandikan mayat bila kalian memandikannya”.

5). Abu Daud dan At-turmudi meriwayatkan dari Qais bin Ashim ra, ia berkata ; Aku datang kepada Rasululloh SAW untuk masuk Islam. Maka Rosululloh memerintahkan agar aku mandi dengan air dan daun bidara”.

Berkata At-turmudi setelah meriwayatkan haditsnya : Bagi Ahli Ilmu hendaknya berbuat demikian itu, menganjurkan seseorang yang baru masuk Islam agar mandi dan mencuci pakaiannya.

Namun mandi disini tidak diwajibkan, karena tidak semua orang yang masuk Islam diperintahkan oleh beliau SAW agar mandi.

6). Berdasar hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra, ia berkata : Ketika sakit Rosululloh SAW telah parah, beliau bertanya :”Apakah orang-orang telah shalat”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rosululloh ?!”. Lalu sabdanya : “Tuangkanlah untukku air dalam baskom”. Kata Aisyah : Maka akupun melaksanakan, dan beliau lalu mandi, kemudian beranjak bangkit dengan susah payah, dan pingsan. Setelah siuman, beliau bertanya ; “Apakah orang-orang telah salat”. Kami menjawab ; “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rosululloh ?!”. Sabdanya ; “Tuangkan untukku air dalam baskom”. Kata Aisyah pula : “Aku melaksanakannya, dan beliaupun mandi. Lalu beranjak bangkit dengan susah payah, dan pingsan. Kemudian siuman kembali…. Dst”.

Gila dalam hal ini diqiyaskan dengan pingsan. Karena dalam keduanya ada persamaan dalam hal ketidak sadarannya. Bahkan gila lebih parah.

7). At-turmudi meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra, bahwasanya dia melihat Nabi SAW mengerjakan ihram semata-mata ; dan beliau mandi (untuk itu).

8). Imam Bukhori dan Muslim dengan redaksinya, meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwasanya dia tidak datang ke Mekah kecuali bermalam di Dzi-Thuwa sampai pagi hari, dan mandi terlebih dahulu, kemudian baru memasuki Mekah pada siang harinya. Ia menyebutkan dari Rosululloh SAW bahwa beliau SAW dahulu berbuat seperti itu.

9). Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar ra, adalah ia (Ibnu Umar) mandi untuk melakukan ihramnya sebelum memulai ihram, dan (mandi) untuk memasuki Mekah, juga untuk wukuf malam di Arofah.

10). Pendapat yang lebih shoheh adalah bahwa mandi di sini tidak disunatkan. (Nihayah).

11). Menurut pendapat yang Mu’tamad bahwasannya mandi untuk (melakukan) thawaf tidak disunatkan. (Al-Iqna). Faslun ; wallohu a’lam. (Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb ; 25~27).


Resensi : Kitab Taqrib dan At-Tadzhieb

Desember 16, 2011

بسم الله الر حمن الر حيم ؛ الحمد لله وحده القائل في كتابه ؛ فَلَوْ لاَ نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا في الِّديْنِ ؛ اتوبة ١٢٢ ؛ والصلاة والسلام علي من لا نبي بعده القائل فيما أوتي من جوامع الكلم ؛ (مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْراً يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ) متفق عليه ؛ وعلي اله وصحبه ومن تبعهم باحسانِ ففقه في دين الله عزوجل فعلم و علّم ؛ و بعد ؛

Segala puji hanya bagi Alloh saja, Dzat yang telah berfirman dalam Kitab-Nya :

فَلَوْ لاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُواْ فِي الدِّينِ

“Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama …” (QS. At-Taubah : 122).

Sholawat dan salam semoga senantiasa terlimpahkan pada Nabi yang tiada lagi Nabi sesudahnya, yang sabdanya selalu ringkas dan padat :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Alloh menghendakinya menjadi orang baik, maka akan diberi ia kefahaman dalam ilmu agama”. (HR Muttafaq Alaih).

Mudah-mudahan shalawat dan salam itu terlimpahkan pula kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, juga orang-orang yang mengikuti dengan baik keteladanannya. Mereka yang diberi kefahaman tentang agama Alloh Azza Wa Jalla, yang mengetahui dan mengajarkan. Amma ba’du ;

Adalah Kitab At-Tadzhieb Fi Adillati Matnil Ghayati Wat Taqrib, karangan Syeikh Dr Mushthofa Diebul Bigha, seorang Doktor dalam bidang Hukum Islam. Kitab ini merupakan penjelasan terhadap kitab Matan Taqrib dengan mencantumkan ayat-ayat Al-Qur’an maupun hadits yang mendasarinya. Atau dengan kata lain, merupakan pendalilan terhadap kitab Matan Taqrib.

Disusun sedemikian rupa sehingga dapat membuktikan bahwa apa yang dinyatakan dalam Taqrib adalah bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW. Dalil-dalilnya adalah bagaikan benang emas yang mengikat dan menyelempangi hukum-hukum syar’i.

Kitab Taqrib

Adapun kitab Taqrib itu sendiri (“Matnul Ghoyat Wat Taqrib), adalah tergolong kitab terbaik dalam Madzhab Imam Syafi’i. Susunan seorang Ulama besar ; Imam Abu Syuja’, seorang Menteri dan Hakim di Isfahan dengan nama lengkapnya Imam Ahmad bin Husain bin Ahmad Al-Asfahani, yang hidup pada abad V sampai VI Hijriyah (Lahir tahun 434 H, wafat tahun 593 H). Kitab ini termasuk klasifikasi Kitab Fiqih, dan memuat rumusan-rumusan praktis untuk pegangan kaum muslimin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bentuk dan kandungannya dalam format yang tipis, kecil, tetapi segala bab, segala hukum dan segala masalah-masalah fiqih, baik tentang ibadah, mu’amalah maupun yang lain, semuanya tercakup di dalamnya. Kalimat-kalimatnya cukup singkat, padat, jelas dan lugas.

Taqrib mendapat perhatian yang besar dari para Ulama sesudah Imam Abu Syuja’, sehingga lahir beberapa syarah (penjelasan dan komentar) atasnya, antara lain :

  1. Fatkhul Qorieb, oleh Imam Al-Ghazzie,
  2. Al-Iqna’, oleh Syekh Syarbini Al-Khathib,
  3. Bujairimie Syarah Iqna’, oleh Syekh Sualiaman Al-Bujairimie.

Dan tentu saja, At-tadzhieb ini.

Di kalangan umat Islam, Taqrib sangat amat terkenal, dan tidak ketinggalan di Indonesia, sehingga tiada satu pesantrenpun yang tidak mengajarkan. Beberapa penulis dan Kyai telah pula menerjemahkan, baik kedalam bahasa Indonesia maupun bahasa Daerah. Taqrib diajarkan secara rutin hampir di setiap masjid dan langgar/surau di berbagai tempat di Indonesia, bahkan juga dihapalkan teksnya sebagaimana menghapalkan bacaan shalat. Demikianlah Taqrib telah membudaya di kalangan kaum Muslimin Indonesia.

Pentingnya kehadiran At-tadzhieb

Berbicara tentang umat Islam Indonesia, rupanya kini tengah meniti proses perkembangannya lebih lanjut. Tampak gejala-gejala gerak-kembangnya umat dari –status kuantitas- menuju -status kualitas-, sehingga pada saatnya nanti, Insya Alloh umat Islam Indonesia menjadi umat yang tinggi kuantitas sekaligus kualitasnya. Setinggi Islam itu sendiri, sebagai suatu agama tertinggi yang tiada apapun melebihi ketinggiannya.

Karena tuntutan kualitas itulah, maka dituntut untuk dapat menampilkan kitab-kitab semacam Taqrib ini secara lebih segar dan meyakinkan. Apa yang telah dihasilkan oleh Dr Mushthofa Diebul Bigha dengan At-tadzhieb ini, kiranya dapat kita hargai sebagai ihtiar memenuhi tuntutan tersebut. At-tadzhieb ini menjadi sebuah kitab yang dihiasi dengan manik-manik dalil, yang khusus disusun pengarangnya untuk  memenuhi -kehausan- kaum pelajar atau yang memperdalam ilmu fiqih. Menjadi bashirah dalam agama, menambah yakin dalam syari’at, memantapkan aqidah dan keteduhan di dalam ibadah, serta lurus dalam laku dan gaul.

“At-tadzhieb Fie Adillati Matnil Ghoyah Wat Taqrib”, memberikan isyarah bahwa dalil-dalil adalah bagai benang emas yang mengikat dan menyelempangi hukum-hukum syar’i. Selesai disusun beliau Malam Ahad, 12 Muharram 1398 H / 1 Februari 1978 M.

Walaupun, sebetulnya pembuktian akan benarnya isi muatan kitab-kitab bermadhab Syafi’i itu (Taqrib) bukanlah sesuatu yang luar biasa ; karena dalam beliau2 menyusun madzhabnya telah terlebih dulu mengkaji sedalam-dalamnya terhadap Al-Qur’an, Sunnah Nabi maupun Atsar Sohabat, dan juga ajaran para Ulama sebelum beliau. Sehingga ajaran madzhabnya terjamin kebenarannya dan kesesuaiannya dengan Nash Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Tetapi, penelusuran dari suatu kitab sampai kepada Nash Al-Qur’an maupun Sunnah yang mendasarinya seperti ini, adalah hal patut dihargai serta dicontoh semua pihak serta layak digunakan.

Demikianlah tentang Taqrib dan Attadzhieb.

Akhirnya kita memohon kepada Alloh SWT berkenanlah kiranya mengampuni dosa-dosa kita, Ibu-bapak kita dan orang2 yang mempunyai hak atas kita, mengkaruniakan keikhlasan dalam melakukan kajian kitab ini, dan menerimanya sebagai amal sholeh, sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat, lil Islam wal Muslimin Fid–dunya wal akhirah. Amin.  Wallohu a’lam *** (Iqbal1).

Ref. : Fatkhul Qorieb ; Dalil Taqrib ; Matnul Ghoyat Wat Taqrib ; Attadzhieb Fi Adillati Matnil Ghayati Wat Taqrib.


Fiqih : Sunat-sunat Mandi

Desember 15, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

َوَ سُنَتَهُ خَمْسَةُ اَشْيَاءُ ؛ اَلتَّسْمِيَةُ وَالْوُضُوْءُ قبْلَهُ وَاِمُرَارُالْيَدِ عَلَى الْجَسَدِ وَالْمُوَالاَةُ وَتَقْدِيْمُ الْيُمْنَىْ عَلَىَ الْيُسْرَىْ ؛ التَّذْهِيْب ص ٢٤~٢٥

Sunat-sunat mandi ada 5 (lima) perkara, yaitu : Membaca Basmalah. 1) ; Wudu (terlebih dahulu sebelum mandi). 2) ; Menjalankan (menggosok-gosokan) tangan ke seluruh tubuh. 3) ; Beruntun. 4) ; Dan mendahulukan anggota badan yang kanan dari pada yang kiri. 5).

Penjelasan :

1). Berdasar hadits :

كُلُّ اَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَاءُ فِيْهِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ اَقْطَعُ

“Segala perkara yang bagus (menurut syara) yang tidak didahului di dalamnya dengan Bismillaahirrohmaanirrohiem, maka akan terputuslah (berkahnya)”.

2). Berdasar adits Siti Aisyah ra yang lalu (pada bab sebelum ini, hadits no. 2).

3). Menghindari pertentangan pendapat orang yang mewajibkannya, yaitu pendapat Ulama Madzhab Imam Maliki.

4). Sebagaimana keterangan yang telah lalu, pada bab wudu, Madzhab Maliki mewajibkan hal ini.

5). Yakni mendahulukan bagian tubuhnya yang kanan. Berdasar hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Aisyah ra, ia berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه و سلم يُعْجِيُهُ التَّيَمُنُّ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَ فِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ

“Adalah Nabi SAW menyukai mendahulukan yang kanan dalam memakai sandal, menyisir rambut, bersuci (mandi/wudu), dan dalam segala halnya”.

Wallohu a’lam *** (Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb, Sh. 24~25).


Fiqih : Fardunya Mandi

Desember 14, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فصل ؛ وفرائض الغسل ثلاثة اشياء ؛ النية وازالة النجاسة ان كانت علي بدنه وايصال الماء الي جميع الشعر والبشرة ؛ التذهيب ص ٢٣~٢٤

(Ini adalah sebuah Fasal untuk menerangkan perkara Fardunya Mandi) ; Fardunya mandi ada 3 (tiga) perkara ; Niat 1) ; Menghilangkan najis, jika terdapat dalam tubuhnya 2) ; Dan meratakan air ke seluruh rambut dan kulit 3).

Penjelasan :

1). Berdasarkan hadits Nabi SAW :

انماالاعمال بالنيات

“Bahwasanya amal itu tergantung niat-niatnya”.

2). Berdasar hadits riwayat Imam Bukhori dari Maimunah ra, tentang mandinya Rasululloh SAW , beliau membasuh kemaluannya dan bagian tubuh yang terkena najis/kotoran. Keterangan di atas dibenarkan oleh An-Nawawi dalam beberapa kitabnya. Katanya : “Adalah cukup satu kali siraman untuk menghilangkan hadats dan najis”. Itulah pendapat yang mu’tamad. Dari itu menghilangkan najis sebelum menyiramkan air adalah sunat adanya. (Al-Iqna).

3). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi SAW, bila mandi janabah (junub), beliau memulai dengan membasuh keduan tangannya, kemudian wudu, sebagaimana wudunya ketika hendak shalat. Kemudian memasukkan jari-jarinya ke dalam air dan menyela-nyelai pangkal rambutnya. Lalu menuangkan air di atas kepalanya tiga kali dengan cidukan kedua tangannya. Kemudian mengalirkan air ke seluruh kulit (tubuh) nya.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Sayidina Ali ra, ia berkata : Aku mendengar Rasululloh SAW bersabda :

من ترك موضع شعرة من جنابة لم يصبها الماء فعل الله به كذا وكذا من النار

“Barangsiapa yang meninggalkan tempat seutas rambut dari janabah, yang air tidak mengenainya, maka karena sebab itu Alloh SWT akan membuat begini, begini dari api neraka”.

Sayidina Ali ra berkata : “Dari itu aku memusuhi rambutku”.

Adalah Sayidina Ali KRW selalu mencukur rambutnya. *** Wallohu a’lam (Iqbal1 ; Ref. Atadzhieb 23~24).


Fiqih : Perkara yang Mewajibkan Mandi

Desember 13, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فصل ؛ والذي يو جب الغسل ستة اشياء ؛ ثلاثة تشترك فيها الرجل والنساء ؛ وهي التقاء الختانين وانزال المني والموت ؛ وثلاثة تختص بها النساء ؛ وهي الحيض والنفاس والولادة ؛ التذهيب ص ٢١~٢٣

(Adapun ini adalah sebuah Fasal untuk Menerangkan Perkara yang Mewajibkan Mandi) ; Adapun hal-hal yang mewajibkan mandi ada 6 (enam) perkara. Tiga diantaranya bersamaan ada pada beberapa laki-laki dan perempuan, yaitu ; Bertemunya dua kemaluan/senggama 1), Keluarnya sperma/mani 2), dan Mati 3). Sedangkan tiga perkara lagi adalah khusus ada pada perempuan, yaitu ; Haid 4), Nifas 5), dan Melahirkan 6).

Penjelasan :

1). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Huraeroh ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda :

اذا جلس بين شعبها الاربع ثم جهدها فقد وجب عليه الغسل ؛ وفي رواية مسلم وان لم ينزل

“Bila seseorang duduk diantara empat anggota tubuh wanita (dua paha dan dua  betis) kemudian menggerak-gerakannya, maka wajib baginya mandi”. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan : “Walaupun tidak sampai mengeluarkan (mani)”.

Hadits di atas menunjukkan wajibnya mandi karena persetubuhan itu sendiri, walaupun belum sampai mengeluarkan sperma ;  sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Muslim.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, ia berkata : Ummu Sulaim datang kepada Nabi SAW katanya : “Wahai Rasululloh, sesungguhnya Alloh tidak malu terhadap barang yang haq. Apakah wajib bagi wanita bila ia bermimpi (mimpi disetubuhi) ?”. Bersabda Rasululloh SAW :

نعم ؛ اذا رات الماء

“Ya (wajib mandi), bila ia melihat (telah mengeluarkan) air”.

Yakni air mani, yaitu cairan yang keluar dari kemaluan wanita saat ia bersenggama.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata. Rasululloh SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang menemukan basah-basah (pada pakaiannya), dan ia tidak ingat/merasa bermimpi ?. Sabda beliau : “Ia (harus) mandi”.

Dan ketika beliau ditanya tentang seorang lelaki bermimpi tetapi tidak menemukan “basah-basah” pada pakaiannya. Sabda beliau : “Ia tidak wajib mandi”.

Ummu Sulaim bertanya : “Bila seorang wanita melihat yang demikian itu, apakah ia wajib mandi ?”. Sabda Nabi SAW

نعم ؛ النساء شقا ئق الرجال

”Ya, wanita adalah bagian dari orang-orang lelaki”.

Maksudnya, wanita adalah sama dengan lelaki dalam bentuk dan tabiatnya. Sepertinya mereka dibentuk dari potongan-potongan lelaki.

3). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyyah Al-anshoriyah ra. Ia berkata : Rasululloh SAW datang kepada kami ketika putri beliau meninggal, sabdanya :

اغسلنها ثلاثا

“Mandikanlah ia tiga kali…”

Imam Bukhori dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Adalah seorang lelaki dilemparkan oleh untanya dan terinjak lehernya (sampai mati). Dan saat itu kami ada bersama-sama Rosululloh SAW sedang berihrom. Lalu Nabi SAW bersabda :

اغسلوه بماء وسدر؛ وكفنوه في ثوبين

“Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah ia dengan dua lapis pakaian”.

4). Firman Alloh Ta’ala :

فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتي يطهرن ؛ فاذا تطهرن فأتوهن من حيث امركم الله ؛ ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين ؛ البقرة ~ ٢٢٢

“….. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci *). Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS ; Al-Baqoroh 222).

*) ia sudah mandi

Imam Bukhori meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasululloh SAW bersabda kepada Fathimah binti Abu Hubaisy ra :

اذا اقبلت الحيضة فدعي الصلاة ؛ واذا ادبرت فاغتسلي وصلي

“Apabila haid (datang bulan) datang, maka tinggalkanlah shalat. Dan bila haid telah pergi (habis), maka mandilah dan shalatlah”.

5). Diqiaskan dengan haid, karena pada hakekatnya darah nifas adalah darah haid yang terkumpul.

6). Karena anak/bayi yang keluar itu adalah bentukan dari air mani. Dan biasanya keluarnya disertai darah.

(Note :) : Mohon maaf apabila ada istilah yg seperti vulgar, seperti itulah fiqih membahas permasalahan thoharoh. Jazakallohu khoeron katsiro. Wallohu a’lam *** Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb 21~23).


Fiqih : Hal-hal yang Membatalkan Wudu

Desember 6, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فصل ؛ والذي ينقض الوضوء ستة اشياء ؛ ما خرج من السبيلين و النوم علي غير هيئة المتمكن و زوال العقل بسكر او مرض و لمس الرجل المراة الاجنبية من غير حائل و مس فرج الادمي بباطن الكف و مس حلقة دبره علي الجديد ؛ التذهيب ص ٢٠~٢١

(Adapun ini adalah sebuah Fasal) : Hal-hal yang membatalkan wudu ada 6, yaitu : (Karena adanya) Sesuatu yang keluar dari qubul dan dubur 1) ; Tidur dengan tanpa menetapkan (pantatnya)  2) ; Hilang akalnya, baik karena mabuk atau karena sakit 3) ; Bersentuhan kulit antara lelaki dengan wanita lain (bukan mahramnya) tanpa penghalang 4) ; Menyentuh kemaluan manusia dengan telapak tangan 5) ; Dan menyentuh lingkaran duburnya, menurut Qaul Jadid 6).

Penjelasan :

1). Firman Alloh Ta’ala ;

او جاء احد منكم من الغائط    ؛

“….  Atau kembali dari tempat buang air (kakus)” (Q.S Al-Maidah ; 6)

Yakni setelah kembali dari membuang hajatnya.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Sohabat Abu Hurairoh ra, ia berkata : Bersabda Nabi SAW ;

لا يقبل الله صلاة احدكم اذا احدث حتي يتوضاء

 “Alloh tidak akan menerima shalat seseorang diantara kalian bila ia telah berhadats sehingga berwudu”.

Seorang lelaki dari Hadramaut menanyakan : “Apakah hadats itu wahai Abu Hurairoh ?”. “Buang angin (kentut) yang tak berbunyi atau berbunyi” jawabnya.

Dari hal-hal di atas, diqiyaskan segala sesuatu yang keluar dari qubul atau dubur, walaupun suci.

2). Abu daud dan lain-lain, meriwayatkan dari Sayidina Ali ra, ia berkata ; Bersabda Rasululloh SAW :

وكاء السه العينان فمن نام فليتوضاء

“Benang pengikat pantat adalah kedua mata. Maka barang siapa tidur, berwudulah”.

Yakni, dalam keadaan bangun (tidak tidur) seseorang dapat menjaga segala yang ada di dalam perutnya tidak keluar ; dan bila seseorang tertidur maka ada kemungnkinan ada sesuatu yang keluar dari perutnya tanpa terasa.

Tidur yang menetapkan pantatnya, yaitu sekira tidak akan tersungkur/terjatuh bila tanpa bersandar sesuatu, tidak membatalkan wudu, karena ia akan merasa bila ada sesuatu yang keluar dari perutnya.

Hilang akal, dalam hal ini diqiyaskan dengan tidur.

3). Berdasarkan firman Alloh Ta’ala ;

 او لا مستم النساء   ؛

“….. atau menyentuh perempuan” (Q.S : Almaidah ; 6).

4). Al-Khamsah meriwayatkan, dan dishahihkan oleh At-Turmudzi dari Basrah binti Shafwan ra. Bahwa Nabi SAW bersabda :

من مس ذكره فلا يصلي حتي يتوضاء

“Barangsiapa menyentuh dzakarnya maka janganlah ia shalat sehingga berwudu (terlebuh dulu)”.

Dan dalam riwayat An-Nasai :

ويتوضاء من مس الذكر

“Dan wudu dari menyentuh dzakar).

Disini mengandung pengertian, baik dzakarnya sendiri maupun dzakar orang lain.

5). Dan dalam riwayat Ibnu Majah dari Ummu Habibah ra :

من مس فرجه فليتوضاء

“Barangsiapa menyentuh kemaluannya maka berwudulah”.

Disini mengandung arti farji (kemaluan) laki-laki dan perempuan, baik qubul maupun dubur.

6). Qaul Jadid adalah pendapat Imam Syafi’I ra. setelah berada di Mesir, baik yang berupa karangan maupun fatwa ; pendapat inilah yang diamalkan selamanya, kecuali dalam beberapa masalah yang ditarjih oleh beberapa Imam Madzhab dari Qaul Qadim. *** Wallohu a’lam (Iqbal1. Ref. Attadzhieb 20~21).


Tata Krama sewaktu Qodo Hajat (Adab Buang air besar atau buang air kecil)

Desember 2, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

و يجتنب استقبال القبلة و استدبارها في الصحراء و يجتنب البول و الغائط في الماء الراكد و تحت الشجرة و في الطريق والظل و الثقب و لا يتكلم علي البول و الغائظ و لا يستقبل الشمس و القمر و لا يستدبرهما ؛ التذهيب ص ١٨~٢٠

Dan (ketika sedang buang air, hendaknya) menghindari menghadap atau membelakangi kiblat (bila melakukannya di tempat terbuka 1). Dan hendaknya menjauhi kencing atau buang air besar pada air yang diam (tidak mengalir) 2), di bawah pohon yang berbuah, di jalanan, di tempat berteduh 3), atau di dalam lobang 4). ; Dan disaat sedang buang air besar atau kencing hendaknya jangan sambil bercakap-cakap 5), jangan menghadap matahari dan bulan, juga jangan membelakanginya 6).

Penjelasan :

1). Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Sohabat Ayyub Al-Anshory ra dari Nabi SAW, beliau bersabda :

ادا اتيتم الغائط فلا تستفبلوا القبلة و لا تستدبروها و لكن شرقوا او غربوا

“Bila kalian datang ke kamar kecil, maka jangan menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya. Akan tetapi menghadaplah ke timur atau barat”.

Larangan itu hanya berlaku bila dilakukan di tempat-tempat terbuka yang tidak bersatir (bilik). Berdasar hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim dan lain-lain, dari Ibnu Umar ra ia berkata : “Saya memanjat di atas rumah Hafsah untuk suatu keperluan. Dan dari sana aku melihat Rasululloh SAW sedang buang air dengan membelakangi kiblat dan menghadap syam (Syiria)”.

Dalil yang pertama dibelokkan untuk tempat-tempat tidak disediakan untuk buang air, atau tempat-tempat yang tidak bersatir (bertutup).

Sedang dalil ke dua, untuk tempat-tempat yang memang disediakan untuk buang air, dalam rangka mengkompromikan antara dalil-dalil tersebut. Dan pun demikian, makruh pula bila dilakukan di tempat yang tidak untuk buang air, walaupun terdapat satir.

2). Diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain dari Sohabat Jabir ra dari Nabi SAW bahwasanya beliau melarang kencing pada air yang diam (tidak mengalir).

Bila kencing saja dilarang, maka lebih-lebih buang air besar, tentu lebih dilarang. Larangan disini adalah hanya “Makruh”. Namun dari Imam Nawawi diriwayatkan, bahwa larangan itu adalah “Haram”. (Lihat Syarah Muslim III/187).

3). Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Abu Huraeroh ra bahwa Nabi SAW bersabda :

اتقواللعاتين قالوا و ما اللعانان يا  رسولالله ؟ ؛ قال الذي يتخلي في طريق الناس و في ظلهم

“Takutlah kalian pada dua hal yang mendatangkan laknat”. Para sohabat bertanya ; “Apakah dua hal yang mendatangkan laknat tersebut wahai Rasululloh ?”. Sabda beliau : “Adalah orang yang berhajat (Buang air besar atau buang air kecil) di jalan yang dilalui orang, atau di tempat mereka berteduh”.

4). Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Abdulloh bin Sirjis ra ia berkata : “Rasululloh SAW melarang kencing di lobang”. Yakni liang yang biasa ada di tanah.

5). Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwasanya ada seorang lelaki lewat ketika Rasululloh SAW sedang buang air kecil. Lelaki itu mengucapkan salam kepada beliau, tapi beliau tidak menyahut salamnya.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Abu Sa’id ra ia berkata, saya mendengar Rasululloh SAW bersabda :

لا يخرج الرجلان يضربان الغائط كاشفين عن عورتهما يحدثان فان الله عز و جل يمقت علي ذالك

“Janganlah dua orang keluar menuju kamar kecil dengan membuka auratnya serta bercakap-cakap. Sesungguhnya Alloh Azza wa Jalla murka terhadap hal yang demikian itu”.

6). Imam Nawawi dalam Al-Majmu (1/103) menuturkan, bahwa hadits yang menjadi dasar di sini adalah dhoif, bahkan bathil. Dan sesungguhnya menurut pendapat yang shahih dan masyhur adalah bahwasanya yang dimakruhkan adalah menghadapnya, bukan membelakanginya.

Al-Khatib dalam Al-Iqna (1/46) berkata : Inilah pendapat yang mu’tamad (bisa dipegang).

Faidah :

Bagi orang yang membuang hajat disunatkan membaca dzikir-dzikir dan doa-doa yang terdapat dari rasululloh SAW ; sebelum masuk kamar mandi, dan ketika keluar meninggalkan kamar mandi.

Sebelum masuk kamar mandi membaca :

بسم الله اللهم اني اعوذ بك من الحبث والخبائث

“Dengan nama Alloh , Ya Alloh, aku mohon perlindungan-Mu dari Syetan laki-laki dan syetan perempuan”.

Diambil dari riwayat Al-Bukhari, Muslim dan At-Turmudzi, dan ketika keluar membaca :

غفرانك الحمدلله الذي اذهب عني الاذي و عافاني الحمدلله الذي اذاقني لذته و ابقي في قوته و دفع عني اذاه

“Aku memohon ampunan-Mu (Ya Alloh), segala puji bagi Alloh yang telah menghilangkan kotoran dari tubuhku dan member kesejahteraan padaku. Segala puji bagi Alloh yang telah mengenyamkan rasa sedap, melestarikan kekuatan dalam tubuhku, dan menghilangkan kotoran dari padaku”.

Diambil dari riwayat-riwayat Abu Daud, At-Turmudzi, Ibnu Majah dan At-Thobroni. *** Wallohu a’lam (Iqbal1 ; Attadzhieb, shohifah 18~20)


Fiqih : Istinja (Bersuci dengan Batu)

November 29, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci) : Bersuci dengan Batu (Istinja)

فصل ؛ و الاستنجاء واجب من البول و الغائط و الافضل ان يستنجي بالاحجار ثم يتبعها بالماء و يجوز ان يقتصر علي الماء او علي ثلاثة احجار ينقي بهن المحل فاذا اراد الاقتصار علي احدهما فالماء افضل ؛ التذهيب

(Adapun ini adalah sebuah Fasal) ; Bersuci setelah buang air kecil (kencing) dan buang air besar adalah wajib. Dan yang afdhol adalah bila (seseorang) bersuci dengan beberapa buah batu, kemudian diikuti dengan air. Mencukupkan dengan air saja, atau dengan tiga buah batu yang bisa membersihkan tempat (keluarnya najis) adalah boleh. Namun bila hendak mencukupkan dengan salah satunya, yang lebih afdhol adalah dengan air 1).

Penjelasan :

1)     Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sayidina Anas bin Malik ra ia berkata : Adalah Rasululloh SAW masuk ke ‘kamar kecil’. Aku dan seorang teman sebayaku membawakan bejana air dan tombak kecil. Kemudian beliau beristinja (bersuci) dengan air. Al-Bukhari dan lain2 meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra ia berkata : “Bahwasannya Nabi SAW pergi menuju ‘kamar kecil’ dan memerintahkan agar aku membawakan tiga buah batu”.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasannya Rasululloh SAW bersabda :

اذا ذهب احدكم الي الغائط فليذهب معه بثلاثة احجار يستطيب بهن فانها تجزئ عنه

“Apabila seseorang di antara kalian pergi ke ‘kamar kecil’, hendaklah ia pergi dengan membawa serta tiga buah batu untuk beristinja (bersuci ; mehper). Sesungguhnya tiga buah batu itu telah mencukupi (untuk bersuci)”.

Semakna dengan batu adalah segala benda padat yang kering dan suci, serta bias menghilangkan dzat najis, seperti kertas, batu bata, dan lain-lain.

Diriwayatkan oleh Abu Daudm , At-Turmudzi dan Ibnu Majah dari Abu Huraeroh ra dari Nabi SAW beliau bersabda : “Ayat ini diturunkan pada Ahli Quba’  :

فيه رجال يحبون ان يتطهروا والله يحب المطهرين

“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Alloh menyukai orang-orang bersih”. (Q.S At-Taubah ; 108).

Sabda beliau pula : “Mereka (orang-orang Quba’) pada bersuci (beristinja) dengan air.  Lalu turunlah ayat ini di antara mereka”. *** Wallohu a’lam (iqbal1 ; Ref. Attadzhieb).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya.