Bertayamum Untuk Sekali Shalat Fardhu

Maret 16, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ وَيُصَلِّى بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَاشَاءَ مِنَ النَّوَافِلِِ ؛ التذهيب

Bertayamum (sekali) untuk sekali shalat fardhu 1) ; dan dengan sekali tayammum dapat mengerjakan shalat-shalat sunat sekehendaknya. ***

Penjelasan :

1). Al-Baihaqi dengan isnad yang shoheh meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. katanya :

َيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَاِنْ لَمَْ يُحْدِثِِْ

“Bertayammum (sekali) untuk setiap sekali shalat, walaupun belum berhadats”. Wallohu a’lam *** (Matan Taqrib/Attadzhieb).


Mengusap Pembalut (Perban)

Maret 15, 2012

Lanjutan bab Thoharoh :

وَالصَّاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّى وَلاَ اِعَادَةَ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ ؛ التذهيب

Orang yang berpembalut, cukup mengusap pembalutnya, dan bertayammum lalu shalat. Dan tidak wajib baginya mengulangi shalatnya, apabila pemasangan pembalut dilakukan dalam keadaan suci 1). *** (Matan Taqrib).

Penjelasan :

1). Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Jabir ra. ia berkata : Kami keluar untuk suatu perjalanan. Tiba-tiba salah seorang di antara kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian ia berihtilam (mimpi dan mengeluarkan mani), lalu bertanya kepada kawan-kawannya ; “Apakah kalian tahu adakah rukhsah bertayamum untukku ?”. Kawan-kawan menjawab ; “Kami tidak menemukan rukhsah untuk engkau karena engkau masih bisa memakai air”. Maka ia pun lalu mandi, dan ternyata meninggal. Maka ketika kami datang kepada Rasululloh SAW dan mengkhabarkan hal itu kepada beliau, beliau bersabda :

 قَتَلُوْهُ فَتَعَلَهُمُ اللهُ اَلاََ سَأََلُواْ اِذاَ لَمْ يَعْلَمُواْ ؟ ـ فَاِنَّمَا شِفَاءُالُعِيِّ السُّؤَالُ. اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ اَوْيَعْصِبَ جُرْحَهُ ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهِ ـ وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ـ

“Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan membunuh mereka. Kenapa mereka tidak menanyakan kalau memang belum mengetahui ?. Bahwasanya obat dari kebingungan adalah bertanya. Bahwasanya ia cukup dengan bertayammum dan membalut lukanya, kemudian mengusapnya, dan menyiram seluruh bagian tubuhnya yang lain”.  Wallohu a’lam. *** (Taqrieb / Attadzhieb).


Yang Membatalkan Tayamum

Maret 14, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ ؛ مَاأَبْطَلَ الْوُضُوْءَ وَرُؤْيَةُ الْمَاءِ  ِفيْ غَيْرِوَقْتِ الصَّلاَةِ وَالرِِّّدََةُ ؛ التذهيب

Perkara-perkara yang membatalkan Tayammum ada 3. Yaitu : Segala yang membatalkan wudhu ; Melihat air di luar waktu sholat 1) ; Dan Murtad. *** (Matan Taqrieb).

Penjelasan :

1). Yakni dalam keadaan tidak sedang menjalankan shalat, dan belum melakukannya. Berdasar riwayat Imam At-Turmudzi dan lain-lain dari Abu Dzar ra. bahwa Rasululloh SAW bersabda :

اِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُالْمُسْلِمِ وَاِنْ لَمْ يَجِدْ المَاءَ عَسْرَسِنِيْنَ فَاِذاَ وَجَدَالْماَءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَاِنَّ ذَالِكَ خَيْرٌ

“Sesunggunya tanah yang baik (suci) adalah alat pembersih bagi orang Islam, walaupun ia tidak menemukan air dalam sepuluh tahun. Namun bila ia menemukan air, maka berwudhulah. Karena sesungguhnya yang demikian itu lebih baik”.

Hadits ini menunjukkan bahwa Tayammumnya menjadi batal demi melihat air.  Walohu a’lam. *** (Matan Taqrieb /  Attadzhieb).


Fardu dan Sunat-sunat Tayamum

Maret 13, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَفَراَئِضُهُ أَرْبَعَةُ أَشْيَاءَ ؛ اَلنِّيَةُ وَمَسْحِ الْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ مَعَ الْمِرْفَقَيْنِ وَالتَّرْتِيْبُ ~ وَسُنَنُهُ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءُ ؛ اَلتَّسْمِيَةُ وَتَقْدِيْمُ الْيَمْنَى عَلَى الْيْسْرَى وَالْمُوَالاَةُ ؛ التذهيب

Fardhu Tayamum ada 4. Yaitu : Niat ; Mengusap muka. Mengusap kedua tangan sampai siku. Dan tartib 1).

Sunat-sunat Tayamum ada 3. Yaitu : Membaca basmalah. Mendahulukan anggota yang kanan daripada yang kiri. Beruntun 2).

Penjelasan :

1). Berdasarkan Firman Alloh Ta’ala :

فَتَيَمَّمُواْ صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ؛ المائدة ٦

“Maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (suci). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu”. (QS. Al-Maidah 6).

2). Disamakan dengan -wudhu-, karena memang gantinya. *** (Ref. Matan Taqrieb / Syarah Attadzhieb).


Thoharoh : Syarat Tayamum

Maret 12, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

 فَصْلٌ ؛ وَشَرَائِطُ التَّيَمُمِّ خَمْسَةُ اَشياَءَ ؛ وُجُوْدُ الْعُدْرِ بِسَفَرِ اَوْ مَرَضٍ وَدُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَطَلَبُ الْمَاءِ وَتَعَذُّرِاسْتِعْمَالِهِ وَاِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ ؛ وَالتُّرَبُ الطَّاهِرُ لَهُ غُيَارٌ. فَاِنْ خَالَطَهُ جِصّ ٌ اَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجِزْ ؛ التذهيب

(Adapun ini adalah sebuah Fasal/Pemisah buat menerangkan perkara Tayamum). Syarat-syarat tayamum ada 5. Yaitu : Adanya udzur karena bepergian atau sakit 1). Telah masuk waktu shalat dan telah berusaha mencari air 2). Berhalangan memakai air 3). Berhajat memakai air (untuk keperluan makan, minum dan lain-lain) setelah memperoleh air 4). Tanah (yang dipakai untuk  bertayamum) suci dan berdebu. Apabila debu bercampur dengan kapur atau pasir, tidak cukup memenuhi syarat 5). *** (Matan Taqrieb/Syarah At-tadzhieb). 

Penjelasan :

1). Firman Alloh Ta’ala :

وَاِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى اَوْ عَلىَ سَفَرٍ اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ اَوْ لاَمَسْتُمُ النِِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَاءً فَتَيَمَّمُواْ ؛ المائدة ٦

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah”. (Q.S. Al-Maidah 6).

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran bin Husin ra. ia berkata. Kami ada bersama-sama Rasululloh SAW dalam suatu perjalanan. Maka beliaupun lalu shalat bersama para sahabat. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang memisahkan diri. Lalu sabda beliau : “Apa yang mencegah engkau melakukan shalat?”. “Saya janabah, dan tidak ada terdapat air (untuk mandi)”.  jawabnya. Sabda beliau :

عَلَيْكَ بِااصَّعِيْدِ فَاِنَّهُ يَكْفِيْكَ

“Ambillah debu, sesungguhnya debu itu mencukupi engkau”.

2). Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda :

 وَجُعِلَتْ لِيَ الاََرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوْراً فَاَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ اُمَّتِيْ اَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ قَلْيُصَلِّ. وعند احمد ؛ اَيْنَمَااَدْرَكَتْنِيْ الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَيْتُ

“Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan mensucikan. Maka siapa saja dari umatku menjumpai (waktu) shalat, maka shalatlah !”. Dan dalam riwayat Ahmad : “Di mana saja aku menjumpai shalat, maka aku mengusap dan shalat”.

Dua riwayat di atas menunjukkan tayammum dan shalat dilakukan bila tidak menemukan air, setelah masuk waktu shalat. Wallohu a’lam *** (Iqbal1 ).


Lanjutan : Batas Waktu dan Perbatalannya Mengusap Sepatu

Desember 23, 2011

Batas Waktu :

وَيَمْسَحُ الْمُقِيْمُ يَوْمًا وَلَيْلَةً وَالْمُسَافِرُ ثَلَاثَةَ اَيَّامٍ بِلَيَالِيْهِنَّ وَابْتِدَاءُ الْمُدَّةِ مِنْ حِيْنِ يُحْدِثُ بَعْدَ لُبْسِ الْحُفَيْنِ فَاِنْ مَسَحَ فِي الْحَضَرِ ثُمَّ سَافَرَ اَوْ مَسَحَ فِي السَّفَرِ ثُمَّ اَقَامَ اَتَمَّ مَسْحَ مُقِيْمٍ ؛ التذهيب , ص ٢٩~٢٨

(Lanjutan Fasal Mengusap Sepatu) : Orang yang mukim (tidak bepergian) dapat mengusap satu hari satu malam ; Sedang musafir (batas waktu boleh mengusap) tiga hari tiga malam 1). Permulaan batas waktu dihitung sejak berhadas (yang pertama) setelah memakai sepatu. Bila telah mengusap di rumah, kemudian bepergian, atau telah mengusap dalam bepergian kemudian mukim, maka ia harus menyempurnakan pengusapan (sebagai orang yang) mukim.

Penjelasan :

1). Imam Muslim dan lain-lain meriwayatkan dari Syuraih bin Hani, ia berkata : Aku datang kepada Aisyah ra. untuk menanyakan tentang mengusap sepatu. Kata Aisyah : Datanglah kepada Ali, ia lebih tahu tentang hal ini daripada aku. Ia pernah bepergian bersama Rosululloh SAW. Maka akupun lalu bertanya kepadanya. Dan jawabnya : “Rosululloh SAW menentukan tiga hari tiga malam untuk musafir, dan sehari semalam untuk orang yang mukim.

***

Perbatalan Mengusap Sepatu :

وَيَبْطُلُ الْمَسْحُ بِثَلَاثَةِ اَشْيَاءَ ؛ بِخَلْعِهِمَا وَانْقِضَاءِ اْلمُدَّةِ وَمَا يُوْجِبُ الْغُسْلَ ؛

Pengusapan (sepatu) menjadi batal karena tiga hal : Karena dilepas, Telah habis batas waktunya ; Dan karena adanya hal yang mewajibkan mandi 2).

Penjelasan :

2). Imam At-turmudzi meriwayatkan dari Shafwan bin “Asal ra, ia berkata : Adalah Rosululloh SAW memerintahkan kami bila kami bepergian agar mengusap sepatu-sepatu kami dan tidak perlu melepaskannya selama 3 hari, dari buang air besar, kencing dan tidur. Kecuali dari janabah (hadas besar). Wallohu a’lam. :)


Fiqih : Mengusap Muzah / Dua Sepatu (Khuffaen) dalam Berwudu

Desember 22, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فَصْلٌ ؛ وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَيْنِ جَائِزٌ بِثَلاَثَةِ شَرَائِطَ ؛ اَنْ يَلْبَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ وَاَنْ يَكُوْنَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ غَسْلِ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ وَاَنْ يَكُوْنَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا ؛ التذهيب ٢٧~٢٨

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mengusap sepatu -khuffaen/muzah- dalam berwudu) ; Mengusap sepatu (sebagai ganti membasuh kaki dalam berwudu) hukumnya adalah boleh 1), dengan tiga syarat : Mulai memakai (sepatu) nya setelah dalam keadan suci yang sempurna 2) ; Sepatu (yang dipakai) menutupi seluruh bagian kaki yang wajib di basuh (dalam wudu) ; Dan sepatu tersebut terbuat dari bahan yang memungkinkan (kuat) untuk berjalan terus-menerus.

Penjelasan :

1). Dalil diperbolehkannya mengusap sepatu ini adalah dari banyak hadits, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Sohabat Jarir ra, bahwasanya beliau kencing, lalu wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki). Dan ketika ditanyakan kepadanya. “Kenapa engkau berbuat seperti ini ?”. Jawabnya ; “Ya, saya pernah melihat Rosululloh SAW kencing, kemudian wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki)”.

Hasan Al-Bashri berkata : “Yang meriwayatkan tentang mengusap sepatu ini ada tujuh puluh orang. Baik berupa perbuatan atau ucapan”.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sohabat Al-Mughiroh bin Syu’bah ra, ia berkata : Saya ada bersama Rosululloh SAW pada suatu malam dalam perjalanan. Saya menyiramkan air untuk beliau dari bejana, kemudian beliau membasuh mukanya, kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Kemudian ketika aku berjongkok hendak melepas sepatunya, beliau bersabda :

دَعْهُمَا ؛ فَاِنِّيْ اَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

“Biarlah, karena ketika aku memakainya dalam keadaan telah suci”.

Lalu beliaupun mengusap kedua sepatunya.

Keterangan : Muzah ialah pakaian semacam kaos kaki yang lazim dipakai, tetapi bahannya dibuat  dari kulit. Perkataan Kyai Mushonif “Jaiz” / Boleh itu memberikan pengertian, bahwa sesungguhnya membasuh -kedua kaki itu- adalah lebih baik daripada mengusapnya. Syarat, rukun, perbatalan dan ketentuan2 lainnya tentang fasal ini sebagaimana diuraikan dalam syarah fathul qorieb. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1 ; Taqrib ; Attadzhieb 27~28).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 48 pengikut lainnya.