6. Shorof : Fi’il Tsulatsi (Mujarrod) Bab ketiga

Mei 23, 2011

 وَيَجِيْءُ عَلَى وَزْنِ يَفْعَلُ بِفَتْحِ الْعَيْنِ إِذَا كَانَ عَيْنُ فِعْلِهِ أَوْ لاَمُهُ حَرْفاً

 مِنْ حُرُوْفِ الْحَلْقِ وَهِيَ سِتَّةٌ الهَمْزَةُ وَاْلهاَءُ وَاْلعَيْنُ وَاْلحاَءُ وَاْلغَيْنُ

وَاْلخاَءُ نَحْوُ سَأَلَ يَسْأَلُ وَمَنَعَ يَمْنَعُ وَأَبىَ يَأْبىَ شَاذٌّ.

Fi’il Mudhari (Dari Fi’il Madhi Tsulatsi Mujarrad yg ‘Ain fi’ilnya berharakat Fathah) juga datang dengan wazan

يَفْعَلُ 

(Yaf-’A-Lu) dg Fathah ‘Ain Fi’ilnya. Ini bilamana ‘Ain Fi’il atau Lam Fi’ilnya berupa huruf dari salahsatu huruf-huruf Halaq. Yaitu :

ء – هـ – ع – ح – غ – خ

(Hamzah, Ha’, ‘Ain, Ha, Ghain, Kha)

contoh :

سَأَلَ يَسْأَلُ 

Sa-A-La ; Yas-A-Lu,

 مَنَعَ يَمْنَعُ

Ma-Na-’A ; Yam-Na-‘U

sedangkan contoh

 أَبىَ يَأْبىَ

A-Baa ; Ya’-Baa, adalah syadz.

(Note :  Syad, menyalahi dari asal serta kiasaannya)


5. Shorof : Fi’il Tsulatsi Mujarrod Bab pertama dan kedua

Januari 22, 2011

أَمَّا الثُّلاَثِيُّ الْمُجَرَّدُ : فَإِنْ كَانَ مَا ضِيْهِ عَلَى وَزْنِ فَعَلَ مَفْتُوْحَ الْعَيْنِ

    .فَمُضَارِعُهُ يَفْعُلُ أَوْ يَفْعِلُ بِضَمِّ الْعَيْنِ أَوْ كَسْرِهَا نَحْوُ ;

    نَصَرَ يَنْصُرُ ; وَضَرَبَ يَضْرِبُ

Adapun fi’il tsulatsi mujarrod : yaitu (Bab 1 / Bab 2) jika pada fi’il madhi-nya berwajan fa-‘a-la yang difatahkan ‘ain fi’ilnya, maka pada fi’il mudhari’nya ikut wazan yaf-‘u-lu atau yaf-‘i-lu dengan didhommahkan ‘ain fi’ilnya atau dikasrahkan ‘ain fi’ilnya.

Contoh :

نَصَرَ – يَنْصُرُ

Na-sho-ro (Dia seorang laki2 telah menolong) ; Yan-shu-ru (Dia seorang laki2 akan/sedang menolong), dan

 ضَرَبَ  –  يَضْرِبُ

Dho-ro-ba (Dia seorang laki2 telah memukul) ; yadh-ri-bu (Dia seorang laki2 akan/sedang memukul)

Contoh2 Tsulatsi Mujarrod Bab 1 Klik : http://nahwusharaf.wordpress.com/belajar-ilal/wazan-fiil/fi%e2%80%99il-tsulatsi-mujarrad/contoh-tashrif-fiil-tsulatsi-mujarrad-wazan-bab-1/

(Ref. Al-Kailani ; 3)

——————

Glossary :

Fiil Tsulatsi Mujarrod = Jenis kata kerja yg berasal dari tiga huruf  dengan tdk menerima tambahan. Merupakan salah satu dari pembagian bentuk fi’il yg terdiri atas beberapa bab.

Fi’il Madhi : Kata kerja yg menunjukan makna yg terjadi pada waktu yg telah lewat. Wazan Tashrifnya ada 14. Binanya ada 6.

Fi’il Mudhore : Kata kerja yg menunjukkan makna waktu yg sedang terjadi (Hal) dan yg akan datang (Mustaqbal). (Akan/sedang). Wazan Tashrifnya ada 14. Binanya ada 12.

Wazan = Timbangan, Ukuran, Cetakan, Acuan, Referensi. Istilah yg dipakai dalam ilmu shorof untuk mengetahui perubahan fungsi dan makna kata seperti pada posisi : Fi’il Madhi, Fi’il Mudhore, Masdar, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Fi’il Amar, Fi’il Nahyi, Isim Makan/Zaman, Isim Alat.


Hikmah : Tawadhu, Rahasia Al-fiyah Bet 5, 6, 7.

Januari 11, 2011

  بسـم الله الرحمن الرحيم

Bait 5 :

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ  #  فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Maka ia menuntut keridhoan tanpa kemarahan (ketekunan dan kesabaran dalam mempelajarinya) # Ia telah mencakup Kitab Alfiyah karangan Ibnu Mu’thi (Imam Abu Zakariya Yahya putra Imam Mu’thie).

Qouluhu wa taqtadhie : Dalam bait 5 muqoddimah ini, Kyai Mushonnif  Syeikh Al-‘alamah Imam Ibnu Malik menyampaikan pesan  khusus muatan kitab al-fiyahnya. Ia menuntut kepada keridloan ; dari Alloh SWT, pengarang dan dari yang mempelajarinya. Tekun dan sabar mempelajarinya dengan tidak disertai amarah. Alfiyah ini gaya bahasanya tidaklah sulit, mudah dicerna. Mampu mendekatkan pengertian yang jauh dalam ilmu nahwu dengan ungkapan yang ringkas. Kepadatan materinya dapat menjabarkan pengertian yang luas. Juga menyampaikan iklan bahwa karangan Al-fiyah kami (Kata Kyai Mushonif), sudah mencakup dan lebih unggul daripada alfiyah karangan Imam Ibnu Mu’thie.

Qouluhu Faiqotan : Bait ini disebutnya ‘Mutahharok’, -rubah ujung-, sebab asal lengkapnya, ‘faa ieqotan minha bi alfi baeti’.

Diceritakan bahwa setelah Kyai Mushonif selesai mengarang bait ini, mendadak semua karangan Al-fiyahnya hilang dari ingatan, mendadak menjadi lupa. Syahdan sampai 2 tahun lamanya, serta Kyai Mushonif sempat tidak sadarkan diri.

Dalam tidak sadarkan diri, syahdan Kyai Mushonif bermimpi jumpa dengan seseorang yang sudah sepuh. Kemudian orang tsb mengajukan pertanyaan kepada Kyai Mushonif :

“Bukankah engkau mengarang Al-fiyah, sudah sampai dimana ?”. Lantas orang tsb memberikan bait berikut,

“Wal hayyu qod yaghlibu alfa mayyiti”. (Dan adapun seorang yang hidup, terkadang dapat mengalahkan seribu orang yang telah meninggal).

Adapun orang yang dijumpai dalam mimpi tersebut tiada lain adalah Syaikh Al-‘alamah Imam Abu Zakariya Yahya ibnu Imam Mu’thie, ulama yang telah terlebih dahulu mengarang alfiyah.

Setelah bermimpi seperti itu, Syeikh Ibnu Malik terbangun, dan dapat mengingat kembali karangan Al-fiyahnya seperti sedia kala. Lantas Ibnu Malik introspeksi dan memohon permintaan maaf  atas kemasgulan karangannya serta kekhilafannya, kurang tawadhu dan telah su’ul adab kepada Imam Ibnu Mu’thie dengan menyampaikan bait 6 berikut :

Bait 6 :

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً  #  مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Dan sebab lebih dulu sebetulnya beliaulah yang berhaq memperoleh keutamaan # dan  mewajibkan sanjungan indahku (untuknya).

Yang maksudnya, jadi karena Syeikh Ibnu Mu’thie sudah terlebih dahulu dalam zamannya, maka lebih utama mendapat  keunggulan, serta layak jika Ibnu Malik mengakui dan memberikan sanjungan keutamaan kepada kitab karangan Ibnu Mu’thie serta pribadinya. Adapun Ibnu Mu’thie, lahir tahun 564 H, wafat tahun 628 H (Berusia 64 tahun).

Sebagaimana ada ungkapan bahwa ; “Al-fadhlu lil mutaqoddimiena”. (Adapun keutamaan itu, tetap kepada rupa2 orang yang terdahulu). Seperti Imam dengan Ma’mum, Mubtada dengan Khobar, Jar dengan Majrur, Orang tua dengan Anak, dsb. Lantas Ibnu Malik berdo’a kepada Alloh SWT. dengan bait 7 berikut :

Bait 7 :

وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ #  لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan pemberian-pemberian yang sempurna # untuku dan untuknya didalam derajat-derajat akhirat.

Tanbih : Lafad “Wallohu yaqdhie” umpama menurut ilmu ma’ani termasuk kepada lafad khobar, maknanya du’a. Adapun yang dimaksudnya adalah ; “bi hibbati wafiroh”, yaitu “Tsubuutul iman wal islam” (Tetapnya iman dan islam).

I’lam : Tapi menurut sebagian ulama, bait ini kurang tepat, yang bagusnya adalah : “Wallohu yaqdhie bir-ridlo’a warrohmah # Lie wa lahu wa li jamie-iel ummah”. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1).

 


Shorof : Bentuk / Bina Fi’il (Lanjutan Pembagian Fi’il)

Januari 6, 2011

Ref. : http://iqbal1.wordpress.com/2010/10/07/ilmu-shorof-pembagian-fiil/

Dan Bentuk Fi’il terbagi lagi kepada :

1. Bina Salim, artinya bentuk fi’il yg selamat pada asal huruf-hurufnya daripada huruf Illat, Hamzah, dan Tadh’if .

2. Bina Ghair Salim, artinya bentuk fi’il yg tidak selamat pada asal huruf-hurufnya daripada huruf Illat, Hamzah, dan Tadh’if .

” وَنَعْنِيْ بِالسَّالِمِ مَا سَلِمَتْ حُرُوْفُهُ اْلاَصْلِيَّةُ الَّتِيْ تُقَابَلُ بِالْفَاءِ وَالْعَيْنِ وَالاَّمِ مِنْ حُرُوْفِ الْعِلَّةِ وَالْهَمْزَةِ وَالـتَّضْعِيْفِ “.

“Dan kami mengartikan tentang Fi’il Salim : adalah kalimat yang huruf-huruf aslinya yang terdiri dari Fa’ Fi’il, ‘Ain Fi’il, dan Lam Fi’il, selamat dari huruf-huruf ‘Illat, Hamzah, dan Tadh’if ” – (Al-Kailanie, Litashriefil-Izzie : 2 – 3). 

Contoh Bina Salim, seperti :

نَصَرَ – ضَرَبَ – فَتَحَ

Contoh Ghair Salim, seperti :

مَدَّ – سَأَ لَ  – قَالَ  – رَمَى 

*****

Glossary :

Huruf Hamzah, ialah kalimah yang asal huruf-huruf aslinya ada huruf hamzah pada Fa, ‘Ain, dan Lam fi’ilnya (Mahmuz).
Apabila posisi huruf hamzah menempati Fa’ Fi’il, maka dinamakan Bina’ Mahmuz Fa’.
Contoh : أ َمَلَ
Apabila huruf hamzah berada pada ‘Ain Fi’il, dinamakan Bina’ Mahmuz ‘Ain.
Contoh : سَأ َلَ
Apabila huruf hamzah menempat posisi Lam Fi’il, maka disebut Bina’ Mahmuz Lam.
Contoh : قَر َأَ

Huruf ‘Illat, artinya sebab atau penyakit. Dinamakan demikian lantaran huruf2 ilat itu sering jadi sebab buat memanjangkan lain huruf. Dan juga sering dibuang dari satu kalimat lantaran tidak perlu sebagaimana dibuangnya sesuatu yg berpenyakit. Hurup ‘Illat ; ialah  Ya, Wawu, dan Alif.

Huruf Tadh’if, ialah huruf-huruf kembar/ganda/dobel (Fi’il Dobel) yang beridghom seperti Farro, ‘Adda, dsb. Idghom itu artinya memasukkan satu huruf kepada satu huruf seperti Faroro dijadikan Farro. Bentuk fi’il ini bisa merupakan fi’il Goer Salim, karena huruf asalnya tidak sebanding dg fa, ain dan lam pada wazan fa-a-la.

  • Maksud tadh’if  disini adalah jika pada Fi’il Tsulatsiy, yaitu jika ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya terdiri dari huruf yang sejenis. Misalnya “Ro-d-da” :

  رَدَّ

  • Dan maksud tadh’if dari Fi’il Ruba’iy, yaitu jika fa’ fi’il dan lam fi’il pertama sejenis. Juga ‘ain fi’il dan lam fi’il kedua sejenis. Misalnnya “Za-l-za-la”, “Sa-l-sa-la” :

 زَلْزَلَ  –  سَلْسَلَ 

Tadh’if, mujarodnya dho’afa, artinya lemah. Setelah didobel / ditambah, artinya jadi melemahkan. Wallohu a’lam. (***)


Tamsil : Setangkai Mawar Putih dan Sang Burung

November 25, 2010

Suatu hari ada seekor burung yang jatuh cinta pada mawar putih.

Burung pun berusaha ungkapkan perasaannya.
Tapi mawar putih berkata ; “Aku tidak akan pernah bisa mencintai kamu”.
Burung pun tidak menyerah.
 
Setiap hari dia datang untuk menemui mawar putih.
Akhirnya mawar putih berkata ; “Aku akan mencintai kamu, jika kamu dapat mengubahku menjadi mawar merah !”.

Dan suatu hari burung pun datang kembali.
Dia memotong sayapnya dan menebarkan darahnya pada mawar putih.
Hingga mawar putih berubah menjadi mawar merah.

Mawar putih pun sadar seberapa besar burung mencintai dirinya.
Tapi semua terlambat.
Karena sang burung tak akan pernah kembali lagi ke dunia.

Hargailah siapapun yang mencintaimu. Sebelum dia pergi jauh untuk meninggalkanmu.

(syair dari seorang teman)

Itu adalah buah karya sastra yang cukup menyentuh. Tamsil legenda dari dua orang yang saling mengasihi. Syahdan, tamsil cerita romantisme seperti itu diabadikan juga oleh Ibnu Malik dalam Maha Karya Sya’ir Alfiyahnya.

Dalam beberapa satarnya di Bab Fi’il At-ta’ajjub  dapat ditemukan seperti bait berikut (Bait 475) :

وَتِلوَ أَفْعَلَ انْصِبَنَّهُ كَمَا # أَوفَى خَلِيْلَيْنَا وَأَصْدِقْ بِهِمَا

(Nashabkanlah lafadh yang mengikuti wazan af’ala, seperti dalam contoh ; Maa Aufaa Kholielaenaa dan Ashdiq Bihimaa. Artinya : Alangkah setianya dua orang kekasihku itu ; dan alangkah setianya keduanya itu). 

Atau contoh ungkapan  sya’ir lain :

“Kholielayyaa Maa Ahroo Bi Dzillubbi An Yuroo ; Shobuuron Wa Laakin Laa abiela Ilaash-shobri”.

Wahai kedua kekasihku, alangkah pantasnya bagi orang yang memiliki akal bila ia bersikap sabar. Akan tetapi tidak ada jalan untuk bersabar.  Wallohu a’lam.*** (Iqbal1)


Wacana : Karakter Pemimpin Ideal, Telaah Analogis Alfiyah Ibnu Malik

November 11, 2010

Dalam sebuah organisasi, posisi seorang pemimpin memiliki peran sangat vital sekali, karena ia bagaikan hati dalam jiwa, ia adalah mesin bagi sebuah kendaraan, ia laksana makanan bagi setiap makhluq yang bernyawa, ia adalah imam bagi ma`mumnya, ia bagaikan bapak bagi ibu dan anaknya, ia adalah presiden bagi bangsa dan negaranya, gubernur bagi wilayahnya, bupati bagi daerahnya, wali kota bagi kotanya, ia pula laksana direktur disebuah perusahaan ataupun lembaga, ialah satu-satunya diantara sekian banyak orang yang ada dalam struktur organisasi tertentu yang akan menjadikan organisasi itu maju atau justru sebaliknya, ia urat nadi kehidupan, mesin motor yang menggerakkan, dialah yang oleh Ibnu Malik dikonsepsikan sebagai Mubtada` dalam maha karyanya, Alfiyah Ibn Malik

Mubtada` menurut ibn Malik dalam nadzam Alfiyah ialah seorang pemuka sebuah organisasi dengan kecakapan dan keterampilan memimpin melebihi yang lain (zaidun), penuh kasih dan sayang, bersifat pema`af (`adzir) terhadap bawahannya (khabar) dan berkarakter jiwa mulia dalam menjabat sebagai pimpinan disetiap badan yang terorganisir, sebagaimana ditegaskan dalam bait nadzam Alfiyah yang menerangkan kriteria mubtada-khabar (Mubtada`un zaidun wa`adzirun khabar – in qulta zaidun `adirun mani`tadar), artinya, bahwa standard ideal seorang pemimpin haruslah berjiwa pema`af (`adirun mani`tadzar), tetapi tidak untuk semua hal yang melanggar aturan tetap dalam organisasi harus dima`afkan dengan serta-merta karena dalih berjiwa pema`af, seperti contoh pelanggaran terhadap AD/ART, aturan atau ketetapan lain yang berkekutan hukum hampir sepadan dengannya yang dalam gramatikal arab semua itu dikenal dengan sebutan kaidah-kaidah lazimah, seperti mubtada` harus dibaca rafa`,  fi`il madi maftuhul akhir abadan illa idza kana muttashilan bi ta`iddomir almutaharrik, ila ghairi dzalik…

Hal-hal yang demikian itu harus diadakan pengkajian lebih mendalam lagi melalui tahapan prosedural yang jelas, jika tidak, maka keganjilan demi keganjilan yang akan terjadi kemudian, itulah yang kita sebut nadir, langka, jarang terjadi atau bahkan syad, keluar dari frem yang telah menjadi garis keniscayaannya.

Kendati seorang pemimpin dituntut berjiwa lembut, pengasih dan penyayang yang oleh Ibn Malik disederhanakan bahasanya dalam kemasan sifat kemanusiaan yaitu `adzir (pema`af), namun aturan yang telah disepakati dalam sebuah organisasi harus pula diikuti oleh setiap komponen yang ada di dalamnya, maka, jika ada pelanggaran terhadap AD/ART sebuah organisasi (kaidah-kaidah lazim dalam gramatika Arab) di setiap tingkatan keorganisasian, mulai dari tingkat desa, kota, daerah, wilayah atau bahkan dalam skala yang lebih besar, yaitu negara sekalipun.

Jika terjadi penyalahgunaan wewenang oleh para pejabat misalnya, penyelewengan kekuasaan atasnama instansi tertentu, inkonsistensi dalam berorganisasi, ambivelen, dan sifat inkonstitusional lainnya yang menjadikan buramnya visi misi sebuah organisasi, maka menegakkan aturan hukum yang berlaku untuk hal itu harus segera diterapkan dan dilaksanakan sebagai tahapan sanksi dalam organisasi, sementara idealisasi seorang pemimpin yang dituntut berjiwa pema`af  harus diproporsikan maknanya sesuai dengan tingkat kekuasaannya serta seberapa besar pelanggaran yang dilakukan oleh bawahannya, dari sisi inilah, kiranya perbedaan cara pemimpin dalam mema`afkan kesalahan bawahannya

Wal Hal, pemimpin (mubtada) ideal adalah manusia yang berakal sempurna (al ism al marfu`) dan menjadikan akalnya sesuai fungsi dasar dari akal tersebut (al `ari `anil awamilil lafdziyah). Hal itu bisa didapat jika orang yang menjadi pemimpin (mubtada) tersebut memiliki kecakapan lebih dalam banyak disiplin ilmu pengetahuan, berhati ikhlas serta berjiwa pema`af, untuk tidak mengucapkan bersifat arrahman-arrahim, karena sifat itu lazim dinisbatkan kepada Allah azza wajalla.

Dalam konteks berhati ikhlas serta berjiwa pema`af (`adzir mani`tadzar), Ibn Malik memilih menjadikan hal itu sebagai kriteria yang sangat penting dan paling asasi dalam karakter pemimpin ideal, mengingat sifat manusia yang sedang menjadi penguasa (pemimpin) sering kali lupa akan sifat dasar kemanusiaannya, ia seakan manusia tanpa lupa, alpa dan dosa. Bertaming kekuasaannya, ia bisa saja menjadikan orang lain yang sedang berada di bawah kuasanya, sebagai manusia yang tidak berdaya bahkan menjadikan lebih tidakberdaya lagi, sifat itu, justru sering muncul dari perasaan seorang manusia yang sedang menjadi pemimpin (mubtada) yang tidak berkenan mema`afkan kesalahan orang lain, dalam istilah kepemimpinan lebih dikenal dengan term diktator (istibdadi).

Pemimpin (mubtada) dengan model diktator tersebut, tidak segan-segan hanya mencukupkan dirinya sendiri secara pribadi dan tidak memasang khabar sebagai wakil tetap dalam upaya kelengkapan dan kesempurnaan semua kerja organisasinya, justru ia lebih percaya kepada pihak lain (fa`il, mitra kerja) untuk menggantikan posisi khabar yang semestinya, kehadiran fa`il dipasang sebagai mitra kerja pengganti khabar, dalam term gramatikal arab disebut  fa`il sadda masaddal khabar yang merupakan bagian kedua dari pembagian mubtada (pemimpin), seperti dipertegas dalam Syarah Alfiyah ibn Malik karya ibn Aqil, menurutnya, mubtada dapat dibagi menjadi dua bagian, pertama mubtada (pemimpin) yang memiliki khabar (wakil) dan kedua mubtada (pemimpin)yang memposisikan fa`il sebagai sadda masaddal khabar (mitra kerja)

Khulasatul kalam. Dalam Alfiyahnya Ibn Malik, bab al mubtada wal khabar, beliau menyiratkan arti kandungan sya`irnya, bahwa karakter pemimpin ideal adalah manusia yang berjiwa agung, memiliki kompetensi dan disiplin ilmu pengetahuan yang luas (Zaidun), berjiwa mulia dan berkenan mema`afkan kesalahan pihak lain yang bersifat haqqul adami (`Adzir mani`tadzar).

Teori kepemimpinan dengan jiwa pema`af (`adzir) ini, selaras dan sejalan dengan apa yang digambarkan oleh Abdurrahman Addiba`i dalam madahnya menyikapi gaya kepemimpinan  Nabi Muhammmad Saw.

Addiba`i mengungkapkannya dalam gubahan bahasa indah penuh mutiara arti “in udziya ya`fu wala yu`aqib”,  Jika beliau(Nabi Muhammad Saw.) disakiti, beliau berkenan mema`afkan dan tidak membalasnya.

Tipe seorang pemimpin seperti beliau Nabi Muhamad Saw. Itulah yang tergambar dalam nadzam ibn Malik, karena dengan kemurahan jiwanya yang mulia dan dengan bahasanya yang indah, santun dalam mema`afkan kesalahan ummatnya, beliau dianalogikan laksana air di tengah gersangnya padang pasir, bak angin semilir yang mendinginkan keringat panas mengalir, kehadirannya di muka bumi seperti awan yang melindungi panasnya terik mentari, bahkan beliau disebut Assyafi` sang Nabi yang memberikan pertolongan kepada ummat manusia di dunia dan di akhirat nanti, ketika para nabi tidak mampu melindungi ummatnya dari kebingungan yang melanda seluruh manusia di alam mahsyar

Suasana alam mahsyar yang dalam bahasa al Qur`an disebut sebagai “yauma la yanfa`u malun wala banun, illa man atallaha biqalbin salim”. Itulah yang menegaskan posisi kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. berbeda dengan para nabi lainnya, beliau laksana terangnya cahaya yang memancarkan sinar kecintaannya kepada setiap manusia, beliaulah panutan ummat sepanjang masa, pemimpin agung sehidup semati, the great leader in world, pahlawan yang gagah berani, dialah Nabi Muhammad Saw. Bahkan ketika beliau bersujud dihadapan Allah sang pemilik raja diraja untuk kepentingan ummat manusia, dengan mudahnya Allah mengabulkan permohonannya, sebagaimana disebutkan dalam riwayat hadits, Ya Muhammad, Irfa` ra`sak wasal tu`tha, wasyfa` tusyaffa`, wahai Muhammad, angkatlah kepalamu, mintalah engkau, niscaya akan kuberikan, dan berilah syafa`at, niscaya akan kuberi syafa`at pertolongan

Sungguh namamu akan selalu indah dan dikenang dalam hati nurani setiap manusia, sikap dan tindakanmu adalah hujjah abadi bagi setiap pemimpin sejati, Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi wasallim, semoga kita menjadi ummat Muhammad yang setia mengikuti jejak langkah kebenarannya, Rabbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhirati hasanah wa qina adzabannar, Amin. *** (Iqbal1)

(Sumber : Umamelsamfani, Alumnus Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur / Mahasiswa Al Ahqaff  University Hadramaut Yaman).


Ilmu Shorof : Kitab Amtsilatu Tashrifiyyah

November 9, 2010

Al-Amtsilah At-Tashrifiyyah (Karya KH. M. Ma’shum bin Ali)

Kitab ini menerangkan ilmu sharaf. Susunannya sistematis, sehingga mudah difaham dan dihafal bagi para pelajar. Hampir di seluruh lembaga pendidikan Islam baik di Indonesia atau pun negara luar, kitab ini menjadi salah satu bidang study yang tetap dikaji. Saking masyhurnya, kitab ini mempunyai julukan “Tasrifan Jombang”.

Keagungan kitab ini tak hanya terletak pada ilmu sharaf. Bila diteliti ternyata memuat makna filosofi tinggi.

Pada contoh fi’il tsulasi mujarrad misalnya, keenam kalimat tersebut memiliki filososfi bahwa “pada awalnya sang santri ditolong oleh orang tuanya (nashara), sesampainya di pesantren ia dipukul/dididik (dlaraba). Kemudian setelah tersakiti, hatinya akan terbuka (fataha). Barulah ia akan pintar (‘alima) dan menuntutnya agar berbuat baik (hasuna). Ia berharap masuk surga di sisi Allah (hasiba).

Kitab yang terdiri dari 60 halaman ini, telah diterbitkan oleh banyak penerbit. Jadi kita tidak akan kesulitan mendapatkannya. Pada halaman pertama tertera sambutan berbahasa arab dari mentri Agama RI (Waktu Itu) , KH. Saifuddin Zuhri, dan di terbitan baru ada pengantar dari Nyai Hj. Abidah Ma’shum, Kwaron.*** (Iqbal1)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.