Shorof : Al-Muqoobalatu (Fa fi-‘il ; ‘Ain fi’il ; dan Lam fi’il)

Mei 24, 2011

Al-muqoobalatu artinya ber-hadap2an atau mencocokkan. Sebagian besar dari fi-’il2 di dalam bahasa arab (Menurut Ilmu Shorof) asalnya tiga huruf. Seperti ma-na-‘a ; ka-ta-ba dll.

Contoh :

Ma-na-‘a dikatakan atas timbangan Fa-‘a-la (kiyas dari wazan Fa-‘a-la).

Jadinya begini ; Fa-‘a-la = Ma-na-‘a.

فَعَلَ = مَنَعَ

Oleh sebab Mim berhadapan atau berbetulan dengan fa dari fa-‘a-la, maka dikatakan Fa fi-‘il. Dan Nun itu oleh sebab berhadapan dengan ‘ain dari fa-‘a-la, maka dikatakan ‘Ain fi-‘il, dan ‘Ain itu lantaran berbetulan dengan lam dari fa-‘a-la, maka dikatakan Lam fi-‘il. Begitulah sekalian fi-‘il yang asalnya tiga huruf, yakni tiap2 fi-‘il yang asalnya tiga huruf itu, huruf yang pertama dikatakan fa fi-‘il, walaupun bukan fa. Dan yang kedua dinamakan ‘ain fi-‘il, walaupun bukan ‘ain. Dan yang ketiga disebut lam fi-‘il, walaupun bukan lam.

Kalau fi-‘il itu bertambah hurufnya seperti yam-na-‘u, yam-na-‘uuna atau im-ta-na-‘a umpamanya, maka huruf yang bertambah itu tidak dihitung, tetapi tetap kita berkata mim itu fa fi-‘il, nun itu ‘ain fi-‘il dan ‘ain itu lam fi-‘il. Selain dari itu dinamakan zaidah, yakni huruf tambahan.

Dan terkadang fi-‘il itu asalnya empat huruf seperti da-h-ro-ja atas timbangan fa-’-la-la, maka dal itu dikatakan fa fi‘il, ha itu ‘ain fi’il, serta ro lam fi’il yang pertama, jim itu lam fi’il yang kedua.

Kalau bertambah seperti mu-da-h-ri-jun atau mu-ta-da-h-ri-ja-tun, maka tambahan itu tidak dihitung, yakni tetap dikatakan dal itu fa fi-‘il ; ha itu ‘ain fi-‘il ; ro itu lam fi-‘il pertama dan jim itu lam fi-‘il yang kedua. Selain dari itu dikatakan huruf zaidah (tambahan).

Catatan ini mudah2-an berguna mengingatkan diri penulis sendiri yang lupa, atau belum berkesempatan memahami istilah yang digunakan tatkala melihat perubahan2 kalimah ke bentuk lain menurut wazannya – serta mauzunnya. Secara filosofis hal ini sangat penting ditegaskan untuk menghalangi (ma-na-‘a) kelancangan. Tanpa memahami posisi perubahan2 bangunan kalimah dalam bahasa arab, sulit diterima kemampuan seseorang yang coba menulis (ka-ta-ba), mengutarakan pendapat serta pemahamannya dengan terbuka kepada khalayak (tabligh) tentang Al-qur’anul kariem, sunnah nabi, qoul ulama, dll. yang nota bene tersurat dengan Bahasa Arab tersebut. Lebih baik menghalangi kesalahan, daripada keliru menggunakan ro’yu, atau berupaya sungguh-sungguh memahami fan ilmu alat / shorof  dahulu, karena riskan resikonya apabila menyalahi. Dengan contoh kecil beginilah ‘lidah-lidah’ dan tinta para ulama senantiasa basah laksana nan tak pernah kering berbuat (fa-‘a-la), menjaga originalitas atau keotentikan kalamulloh dan sunaturrosul. -Wallohu subhaana wa ta’alaa bil ‘alam- *** (Iqbal1).


8. Shorof : Fi’il Tsulatsiy (Mujarrod) Bab kelima

Mei 23, 2011

 وَاِنْ كَانَ مَاضِيْهِ عَلَى وَزْنِ فَعُلَ مَضْمُوْمَ الْعَيْنِ فَمُضَارِعُهُ

 يَفْعُلُ بِضَمِّ اْلعَيْنِ نَحْوُ حَسُنَ يَحْسُنُ وَأَخَوَاتِهِ

Jika fi’il madhinya berwazan

 فَعُلَ

Fa-’U-La, yang didhammahkan ‘ain fi’ilnya, maka fi’il mudhari’nya berwazan

 يَفْعُلُ

Yaf-“U-Lu ; dengan dhammah ‘ain fi’ilnya.

contoh :

 حَسُنَ يَحْسُنُ

Ha-Su-Na ; Yah-Su-Nu, dan saudara-saudaranya.

:) ————————————————-

Ringkasan Fiil Tsulatsi Mujarrod, dari bab 1 s/d 6 : Untuk catatan ilmu shorof ini,  diutarakan tentang fi’il Tsulatsi Mujarrod dan pembagian bab-nya.

Fi’il Tsulatsi Mujarrod adalah fi’il yang terdiri dari hanya tiga huruf asli. Terbagi menjadi enam bab, yaitu ; 
  1. Bab I. Fa’ala Yaf’ulu (فَعَلَ يَفْعُلُ). Bab pertama ini biasanya berlaku “muta’addi” seperti نصر زيد عمرا. Tapi terkadang juga berlaku “lazim” seperti خرج زيد. Muta’addi adalah fi’il yang butuh maf’ul, sedangkan lazim adalah fi’il yang tidak butuh maf’ul.
  2. Bab II. Fa’ala Yaf’ilu (فَعَلَ يَفْعِلُ). Bab yang kedua ini sama dengan bab yang pertama yaitu biasanya berlaku “muta’addi” seperti ضرب زيد عمرا. Dan terkadang juga berlaku “lazim” seperti جلس زيد.
  3. Bab III. Fa’ala Yaf’alu (فَعَلَ يَفْعَلُ). Bab yang ketiga ini juga sama dengan bab yang pertama yaitu biasanya berlaku “muta’addi” seperti فتح زيد الباب. Dan terkadang berlaku “lazim” seperti ذهب زيد. Bedanya pada bab ketiga ini, ain fi’il atau lam fi’il-nya harus berupa huruf Halaq, yaitu حاء, خاء, عين, غين, همزة, هاء
  4. Bab IV. Fa’ila Yaf’alu (فَعِلَ يَفْعَلُ). Bab yang keempat ini sama dengan bab-bab sebelumnya, yaitu biasanya berlaku “muta’addi” seperti علم زيد المسئلة. Dan terkadang juga berlaku “lazim” seperti وجل زيد.
  5. Bab V. Fa’ula Yaf’ulu (فَعُلَ يَفْعُلُ). Bab yang kelima ini berbeda dengan bab-bab sebelumnya, karena ia hanya berlaku lazimsaja seperti, حسن زيد
  6. Bab VI. Fa’ila Yaf’ilu (فَعِلَ يَفْعِلُ). Bab yang terakhir, yaitu bab yang keenam biasanya berlaku “muta’addi” seperti حسب زيد عمرا فاضلا. Tapi terkadang juga berlaku “lazim” seperti ورث زيد.  

Ref. : http://www.kangmahfudz.co.cc/2011/05/1-fiil-tsulatsi-mujarrod.html

Tabel : Klik » Contoh Tashrif Fi’il Tsulatsi Mujarrad ; Wazan Bab 1

Waallohu A’lam (Iqbal1).


7. Shorof : Fi’il Tsulatsi (Mujarrod) Bab keempat

Mei 23, 2011

وَإِنْ كَانَ مَاضِيْهِ عَلَى وَزْنِ فَعِلَ مَكْسُوْرَ اْلعَيْنِ فَمُضَارِعُهُ يَفْعَلُ

 بِفَتْحِ اْلعَيْنِ نَحْوُ عَلِمَ يَعْلَمُ إِلاَّ مَا شَذَّ مِنْ نَحْوِ حَسِبَ يَحْسِبُ

 وَأَخَوَاتِهِ.

Jika fi’il madhinya berwazan

 فَعِلَ

Fa-’I-La ; yang di kasrahkan ‘ain fi’ilnya, maka fi’il mudhari’nya berwazan

 يَفْعَلُ

Yaf-’A-Lu dengan fathah ‘ain fi’ilnya.

contoh :

 عَلِمَ يَعْلَمُ

‘A-Li-Ma ; Ya’-La-Mu, kecuali yang syadz dari contoh :

 حَسِبَ يَحْسِبُ

Ha-Si-Ba ; Yah-Sa-Bu, dan saudara-saudaranya.


6. Shorof : Fi’il Tsulatsi (Mujarrod) Bab ketiga

Mei 23, 2011

 وَيَجِيْءُ عَلَى وَزْنِ يَفْعَلُ بِفَتْحِ الْعَيْنِ إِذَا كَانَ عَيْنُ فِعْلِهِ أَوْ لاَمُهُ حَرْفاً

 مِنْ حُرُوْفِ الْحَلْقِ وَهِيَ سِتَّةٌ الهَمْزَةُ وَاْلهاَءُ وَاْلعَيْنُ وَاْلحاَءُ وَاْلغَيْنُ

وَاْلخاَءُ نَحْوُ سَأَلَ يَسْأَلُ وَمَنَعَ يَمْنَعُ وَأَبىَ يَأْبىَ شَاذٌّ.

Fi’il Mudhari (Dari Fi’il Madhi Tsulatsi Mujarrad yg ‘Ain fi’ilnya berharakat Fathah) juga datang dengan wazan

يَفْعَلُ 

(Yaf-’A-Lu) dg Fathah ‘Ain Fi’ilnya. Ini bilamana ‘Ain Fi’il atau Lam Fi’ilnya berupa huruf dari salahsatu huruf-huruf Halaq. Yaitu :

ء – هـ – ع – ح – غ – خ

(Hamzah, Ha’, ‘Ain, Ha, Ghain, Kha)

contoh :

سَأَلَ يَسْأَلُ 

Sa-A-La ; Yas-A-Lu,

 مَنَعَ يَمْنَعُ

Ma-Na-’A ; Yam-Na-‘U

sedangkan contoh

 أَبىَ يَأْبىَ

A-Baa ; Ya’-Baa, adalah syadz.

(Note :  Syad, menyalahi dari asal serta kiasaannya)


5. Shorof : Fi’il Tsulatsi Mujarrod Bab pertama dan kedua

Januari 22, 2011

أَمَّا الثُّلاَثِيُّ الْمُجَرَّدُ : فَإِنْ كَانَ مَا ضِيْهِ عَلَى وَزْنِ فَعَلَ مَفْتُوْحَ الْعَيْنِ

    .فَمُضَارِعُهُ يَفْعُلُ أَوْ يَفْعِلُ بِضَمِّ الْعَيْنِ أَوْ كَسْرِهَا نَحْوُ ;

    نَصَرَ يَنْصُرُ ; وَضَرَبَ يَضْرِبُ

Adapun fi’il tsulatsi mujarrod : yaitu (Bab 1 / Bab 2) jika pada fi’il madhi-nya berwajan fa-‘a-la yang difatahkan ‘ain fi’ilnya, maka pada fi’il mudhari’nya ikut wazan yaf-‘u-lu atau yaf-‘i-lu dengan didhommahkan ‘ain fi’ilnya atau dikasrahkan ‘ain fi’ilnya.

Contoh :

نَصَرَ – يَنْصُرُ

Na-sho-ro (Dia seorang laki2 telah menolong) ; Yan-shu-ru (Dia seorang laki2 akan/sedang menolong), dan

 ضَرَبَ  –  يَضْرِبُ

Dho-ro-ba (Dia seorang laki2 telah memukul) ; yadh-ri-bu (Dia seorang laki2 akan/sedang memukul)

Contoh2 Tsulatsi Mujarrod Bab 1 Klik : http://nahwusharaf.wordpress.com/belajar-ilal/wazan-fiil/fi%e2%80%99il-tsulatsi-mujarrad/contoh-tashrif-fiil-tsulatsi-mujarrad-wazan-bab-1/

(Ref. Al-Kailani ; 3)

——————

Glossary :

Fiil Tsulatsi Mujarrod = Jenis kata kerja yg berasal dari tiga huruf  dengan tdk menerima tambahan. Merupakan salah satu dari pembagian bentuk fi’il yg terdiri atas beberapa bab.

Fi’il Madhi : Kata kerja yg menunjukan makna yg terjadi pada waktu yg telah lewat. Wazan Tashrifnya ada 14. Binanya ada 6.

Fi’il Mudhore : Kata kerja yg menunjukkan makna waktu yg sedang terjadi (Hal) dan yg akan datang (Mustaqbal). (Akan/sedang). Wazan Tashrifnya ada 14. Binanya ada 12.

Wazan = Timbangan, Ukuran, Cetakan, Acuan, Referensi. Istilah yg dipakai dalam ilmu shorof untuk mengetahui perubahan fungsi dan makna kata seperti pada posisi : Fi’il Madhi, Fi’il Mudhore, Masdar, Isim Fa’il, Isim Maf’ul, Fi’il Amar, Fi’il Nahyi, Isim Makan/Zaman, Isim Alat.


Hikmah : Tawadhu, Rahasia Al-fiyah Bet 5, 6, 7.

Januari 11, 2011

  بسـم الله الرحمن الرحيم

Bait 5 :

وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ  #  فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي

Maka ia menuntut keridhoan tanpa kemarahan (ketekunan dan kesabaran dalam mempelajarinya) # Ia telah mencakup Kitab Alfiyah karangan Ibnu Mu’thi (Imam Abu Zakariya Yahya putra Imam Mu’thie).

Qouluhu wa taqtadhie : Dalam bait 5 muqoddimah ini, Kyai Mushonnif  Syeikh Al-‘alamah Imam Ibnu Malik menyampaikan pesan  khusus muatan kitab al-fiyahnya. Ia menuntut kepada keridloan ; dari Alloh SWT, pengarang dan dari yang mempelajarinya. Tekun dan sabar mempelajarinya dengan tidak disertai amarah. Alfiyah ini gaya bahasanya tidaklah sulit, mudah dicerna. Mampu mendekatkan pengertian yang jauh dalam ilmu nahwu dengan ungkapan yang ringkas. Kepadatan materinya dapat menjabarkan pengertian yang luas. Juga menyampaikan iklan bahwa karangan Al-fiyah kami (Kata Kyai Mushonif), sudah mencakup dan lebih unggul daripada alfiyah karangan Imam Ibnu Mu’thie.

Qouluhu Faiqotan : Bait ini disebutnya ‘Mutahharok’, -rubah ujung-, sebab asal lengkapnya, ‘faa ieqotan minha bi alfi baeti’.

Diceritakan bahwa setelah Kyai Mushonif selesai mengarang bait ini, mendadak semua karangan Al-fiyahnya hilang dari ingatan, mendadak menjadi lupa. Syahdan sampai 2 tahun lamanya, serta Kyai Mushonif sempat tidak sadarkan diri.

Dalam tidak sadarkan diri, syahdan Kyai Mushonif bermimpi jumpa dengan seseorang yang sudah sepuh. Kemudian orang tsb mengajukan pertanyaan kepada Kyai Mushonif :

“Bukankah engkau mengarang Al-fiyah, sudah sampai dimana ?”. Lantas orang tsb memberikan bait berikut,

“Wal hayyu qod yaghlibu alfa mayyiti”. (Dan adapun seorang yang hidup, terkadang dapat mengalahkan seribu orang yang telah meninggal).

Adapun orang yang dijumpai dalam mimpi tersebut tiada lain adalah Syaikh Al-‘alamah Imam Abu Zakariya Yahya ibnu Imam Mu’thie, ulama yang telah terlebih dahulu mengarang alfiyah.

Setelah bermimpi seperti itu, Syeikh Ibnu Malik terbangun, dan dapat mengingat kembali karangan Al-fiyahnya seperti sedia kala. Lantas Ibnu Malik introspeksi dan memohon permintaan maaf  atas kemasgulan karangannya serta kekhilafannya, kurang tawadhu dan telah su’ul adab kepada Imam Ibnu Mu’thie dengan menyampaikan bait 6 berikut :

Bait 6 :

وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً  #  مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ

Dan sebab lebih dulu sebetulnya beliaulah yang berhaq memperoleh keutamaan # dan  mewajibkan sanjungan indahku (untuknya).

Yang maksudnya, jadi karena Syeikh Ibnu Mu’thie sudah terlebih dahulu dalam zamannya, maka lebih utama mendapat  keunggulan, serta layak jika Ibnu Malik mengakui dan memberikan sanjungan keutamaan kepada kitab karangan Ibnu Mu’thie serta pribadinya. Adapun Ibnu Mu’thie, lahir tahun 564 H, wafat tahun 628 H (Berusia 64 tahun).

Sebagaimana ada ungkapan bahwa ; “Al-fadhlu lil mutaqoddimiena”. (Adapun keutamaan itu, tetap kepada rupa2 orang yang terdahulu). Seperti Imam dengan Ma’mum, Mubtada dengan Khobar, Jar dengan Majrur, Orang tua dengan Anak, dsb. Lantas Ibnu Malik berdo’a kepada Alloh SWT. dengan bait 7 berikut :

Bait 7 :

وَاللهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ #  لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ

Semoga Allah menetapkan pemberian-pemberian yang sempurna # untuku dan untuknya didalam derajat-derajat akhirat.

Tanbih : Lafad “Wallohu yaqdhie” umpama menurut ilmu ma’ani termasuk kepada lafad khobar, maknanya du’a. Adapun yang dimaksudnya adalah ; “bi hibbati wafiroh”, yaitu “Tsubuutul iman wal islam” (Tetapnya iman dan islam).

I’lam : Tapi menurut sebagian ulama, bait ini kurang tepat, yang bagusnya adalah : “Wallohu yaqdhie bir-ridlo’a warrohmah # Lie wa lahu wa li jamie-iel ummah”. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1).

 


Shorof : Bentuk / Bina Fi’il (Lanjutan Pembagian Fi’il)

Januari 6, 2011

Ref. : http://iqbal1.wordpress.com/2010/10/07/ilmu-shorof-pembagian-fiil/

Dan Bentuk Fi’il terbagi lagi kepada :

1. Bina Salim, artinya bentuk fi’il yg selamat pada asal huruf-hurufnya daripada huruf Illat, Hamzah, dan Tadh’if .

2. Bina Ghair Salim, artinya bentuk fi’il yg tidak selamat pada asal huruf-hurufnya daripada huruf Illat, Hamzah, dan Tadh’if .

” وَنَعْنِيْ بِالسَّالِمِ مَا سَلِمَتْ حُرُوْفُهُ اْلاَصْلِيَّةُ الَّتِيْ تُقَابَلُ بِالْفَاءِ وَالْعَيْنِ وَالاَّمِ مِنْ حُرُوْفِ الْعِلَّةِ وَالْهَمْزَةِ وَالـتَّضْعِيْفِ “.

“Dan kami mengartikan tentang Fi’il Salim : adalah kalimat yang huruf-huruf aslinya yang terdiri dari Fa’ Fi’il, ‘Ain Fi’il, dan Lam Fi’il, selamat dari huruf-huruf ‘Illat, Hamzah, dan Tadh’if ” – (Al-Kailanie, Litashriefil-Izzie : 2 – 3). 

Contoh Bina Salim, seperti :

نَصَرَ – ضَرَبَ – فَتَحَ

Contoh Ghair Salim, seperti :

مَدَّ – سَأَ لَ  – قَالَ  – رَمَى 

*****

Glossary :

Huruf Hamzah, ialah kalimah yang asal huruf-huruf aslinya ada huruf hamzah pada Fa, ‘Ain, dan Lam fi’ilnya (Mahmuz).
Apabila posisi huruf hamzah menempati Fa’ Fi’il, maka dinamakan Bina’ Mahmuz Fa’.
Contoh : أ َمَلَ
Apabila huruf hamzah berada pada ‘Ain Fi’il, dinamakan Bina’ Mahmuz ‘Ain.
Contoh : سَأ َلَ
Apabila huruf hamzah menempat posisi Lam Fi’il, maka disebut Bina’ Mahmuz Lam.
Contoh : قَر َأَ

Huruf ‘Illat, artinya sebab atau penyakit. Dinamakan demikian lantaran huruf2 ilat itu sering jadi sebab buat memanjangkan lain huruf. Dan juga sering dibuang dari satu kalimat lantaran tidak perlu sebagaimana dibuangnya sesuatu yg berpenyakit. Hurup ‘Illat ; ialah  Ya, Wawu, dan Alif.

Huruf Tadh’if, ialah huruf-huruf kembar/ganda/dobel (Fi’il Dobel) yang beridghom seperti Farro, ‘Adda, dsb. Idghom itu artinya memasukkan satu huruf kepada satu huruf seperti Faroro dijadikan Farro. Bentuk fi’il ini bisa merupakan fi’il Goer Salim, karena huruf asalnya tidak sebanding dg fa, ain dan lam pada wazan fa-a-la.

  • Maksud tadh’if  disini adalah jika pada Fi’il Tsulatsiy, yaitu jika ‘ain fi’il dan lam fi’ilnya terdiri dari huruf yang sejenis. Misalnya “Ro-d-da” :

  رَدَّ

  • Dan maksud tadh’if dari Fi’il Ruba’iy, yaitu jika fa’ fi’il dan lam fi’il pertama sejenis. Juga ‘ain fi’il dan lam fi’il kedua sejenis. Misalnnya “Za-l-za-la”, “Sa-l-sa-la” :

 زَلْزَلَ  –  سَلْسَلَ 

Tadh’if, mujarodnya dho’afa, artinya lemah. Setelah didobel / ditambah, artinya jadi melemahkan. Wallohu a’lam. (***)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.