Du’a Memasuki Bulan Rajab

Mei 22, 2012

Du’a memasuki bulan Rajab :

اللهم بارك لنا فى رجب و شعبان وبلغنا رمضان

Allaahumma baariklanaa fii Rajaba wa Sya’baana wa ballighna Ramadhana.

“Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban ini, dan sampaikanlah umur kami bertemu Ramadhan”.

Selamat memasuki bulan Rajab 1433 H, 22 Mei 2012. Semoga Alloh SWT senantiasa memberkahi kita semua, Amin.


Fiqih : Istinja (Bersuci dengan Batu)

November 29, 2011

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci) : Bersuci dengan Batu (Istinja)

فصل ؛ و الاستنجاء واجب من البول و الغائط و الافضل ان يستنجي بالاحجار ثم يتبعها بالماء و يجوز ان يقتصر علي الماء او علي ثلاثة احجار ينقي بهن المحل فاذا اراد الاقتصار علي احدهما فالماء افضل ؛ التذهيب

(Adapun ini adalah sebuah Fasal) ; Bersuci setelah buang air kecil (kencing) dan buang air besar adalah wajib. Dan yang afdhol adalah bila (seseorang) bersuci dengan beberapa buah batu, kemudian diikuti dengan air. Mencukupkan dengan air saja, atau dengan tiga buah batu yang bisa membersihkan tempat (keluarnya najis) adalah boleh. Namun bila hendak mencukupkan dengan salah satunya, yang lebih afdhol adalah dengan air 1).

Penjelasan :

1)     Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Sayidina Anas bin Malik ra ia berkata : Adalah Rasululloh SAW masuk ke ‘kamar kecil’. Aku dan seorang teman sebayaku membawakan bejana air dan tombak kecil. Kemudian beliau beristinja (bersuci) dengan air. Al-Bukhari dan lain2 meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra ia berkata : “Bahwasannya Nabi SAW pergi menuju ‘kamar kecil’ dan memerintahkan agar aku membawakan tiga buah batu”.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasannya Rasululloh SAW bersabda :

اذا ذهب احدكم الي الغائط فليذهب معه بثلاثة احجار يستطيب بهن فانها تجزئ عنه

“Apabila seseorang di antara kalian pergi ke ‘kamar kecil’, hendaklah ia pergi dengan membawa serta tiga buah batu untuk beristinja (bersuci ; mehper). Sesungguhnya tiga buah batu itu telah mencukupi (untuk bersuci)”.

Semakna dengan batu adalah segala benda padat yang kering dan suci, serta bias menghilangkan dzat najis, seperti kertas, batu bata, dan lain-lain.

Diriwayatkan oleh Abu Daudm , At-Turmudzi dan Ibnu Majah dari Abu Huraeroh ra dari Nabi SAW beliau bersabda : “Ayat ini diturunkan pada Ahli Quba’  :

فيه رجال يحبون ان يتطهروا والله يحب المطهرين

“Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan Alloh menyukai orang-orang bersih”. (Q.S At-Taubah ; 108).

Sabda beliau pula : “Mereka (orang-orang Quba’) pada bersuci (beristinja) dengan air.  Lalu turunlah ayat ini di antara mereka”. *** Wallohu a’lam (iqbal1 ; Ref. Attadzhieb).


Insert : Al-Kautsar

November 5, 2011

Tafsir Q.S. 108 : 1-3 (Al-Kautsar)

بِسْمِ اللهِ الرّ خْمنِ الرّ حِيْمِ

      1-إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak

Orang-orang musyrik di Mekah dan Orang-orang munafik di Madinah mencemoohkan dan mencaci-maki Nabi sebagai berikut :

a. Pengikut-pengikut Muhammad terdiri dari orang-orang biasa yang tidak mempunyai kedudukan, kalau agama yang dibawanya itu benar tentu yang menjadi pengikutnya pengikut-pengikutnya orang-orang mulia yang berkedudukan di antara mereka. Ucapan ini bukanlah suatu keanehan, karena kaum Nuh juga dahulu kala telah menyatakan yang demikian kepada nabi Nuh A.S. sebagaimana firman Allah :

فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما نراك إلا بشرا مثلنا وما نراك اتبعك إلا الذين هم أراذلنا بادي الرأي وما نرى لكم علينا من فضل بل نظنكم كاذبين

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan ‘kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. -Q.S. (Hud) : 27-.

Sunatullah yang berlaku di antara hamba-hamba-Nya, bahwa mereka yang cepat menerima panggilan para rasul adalah orang-orang biasa, orang lemah karena mereka tidak takut kehilangan, karena mereka tidak mempunyai pangkat atau kedudukan yang ditakuti hilang. Dari itu pertentangan terus-menerus terjadi antara mereka dengan para rasul, tetapi Allah senantiasa membantu para rasul Nya dan menunjang dakwah mereka.

Begitulah sikap penduduk Mekah terhadap dakwah Nabi SAW. pembesar-pembesar dan orang-orang yang berkedudukan tidak mau mengikuti Nabi karena benci kepada beliau dan terhadap orang-orang biasa yang menjadi pengikut beliau.

b. Orang-orang Mekah bila melihat anak-anak Nabi meninggal dunia, mereka berkata, “Sebutan Muhammad akan lenyap dan dia akan mati punah”. Mereka mengira bahwa kematian itu suatu kekurangan lalu mereka mengejek Nabi dan berusaha menjauhkan manusia dari Nabi SAW.

c. Orang-orang Mekah bila melihat suatu musibah atau kesulitan yang menimpa pengikut-pengikut Nabi, mereka bergembira dan bersenang hati serta menunggu kehancuran mereka dan lenyapnya sebutan mereka, lalu kembalilah kepada mereka kedudukan mereka yang semula, yang telah diguncangkan oleh agama baru itu.

Maka pada surah itu Allah menyampaikan kepada Rasul-Nya, bahwa tuduhan-tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang musyrik itu adalah suatu purbasangka yang tidak ada artinya sama sekali. Namun semua itu adalah untuk membersihkan jiwa-jiwa yang masih dapat dipengaruhi oleh isyu-isyu tersebut dan untuk mematahkan tipu daya orang-orang musyrik, agar mereka mengetahui bahwa perjuangan Nabi SAW., pasti akan menang dan pengikut-pengikut beliau pasti akan bertambah banyak.

Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah memberi Nabi-Nya nikmat dan anugerah yang tidak dapat dihitung banyaknya dan tidak dapat dinilai tinggi mutunya, walaupun (orang musyrik) memandang hina dan tidak menghargai pemberian itu disebabkan kekurangan akal dan pengertian mereka. Pemberian itu berupa kenabian, agama yang benar, petunjuk-petunjuk dan jalan yang lurus yang membawa kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ-2

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah

Dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi-Nya agar mengerjakan salat dan menyembelih hewan korban karena Allah semata-mata, karena Dia sajalah yang mendidiknya dan melimpahkan karunia-Nya.

Dalam ayat lain yang sama maksudnya Allah berfirman :

قل إن صلاتي ونسكي ومحياي ومماتي لله رب العالمين لا شريك له وبذلك أمرت وأنا أول المسلمين

Katakanlah : “Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. -Q.S. (Al An’am) : 162-163-.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ -3

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus

Sesudah Allah menghibur dan menggembirakan Rasul-Nya serta memerintahkan supaya mensyukuri anugerah-anugerah-Nya dan sebagai kesempurnaan nikmat-Nya, maka Allah menjadikan musuh-musuh Nabi itu hina dan tidak percaya. Siapa saja yang membenci dan mencaci Nabi akan hilang pengaruhnya dan tidak ada kebahagiaan baginya di dunia dan di akhirat .

Adapun Nabi dan pengikut-pengikutnya sebutan dan hasil perjuangannya akan tetap jaya sampai Hari Kiamat.

Orang-orang yang mencaci Nabi, bukanlah mereka tidak senang kepada pribadi Nabi, tetapi yang mereka benci dan tidak senang adalah petunjuk dan hikmah yang dibawa beliau, karena beliau mencela kebodohan mereka dan mencaci berhala-berhala yang mereka sembah serta mengajak mereka untuk meninggalkan penyembahan berhala-berhala itu.

Sungguh Allah telah menepati janji-Nya dengan menghinakan dan menjatuhkan martabat orang-orang yang mencaci Nabi, sehingga nama mereka hanya diingat ketika membicarakan orang-orang jahat dan kejahatannya.

Adapun kedudukan Nabi SAW. dan orang-orang yang menerima petunjuk beliau serta nama harum mereka diangkat setinggi-tingginya oleh Allah sepanjang masa. Ma’nahu wallohu subhaana wa ta’alaa bil a’lam. *** (Medio takbiran ‘iedul adha 1432 h ; ref. tafsir depag).


Fenomenal : Sikap Umat Islam terhadap Rokok

September 22, 2011

Merokok adalah kegiatan yang lumrah di kalangan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kegiatan ini dipandang jelek dan berbahaya oleh mereka yang memang tahu dampak dan bahaya yang ditimbulkan oleh asap dari tembakau tersebut. Tak ayal, kegiatan yang satu ini menjadi kontroversi yang hangat dan kasusnya sempat klimaks di kalangan masyarakat yang pro dan kontra. Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini?. Bagaimana Syari’at memandang kegiatan yang satu ini?.

Perlu kita ketahui bahwa hukum halal dan haram menggunakan dan atau memanfaatkan tembakau ini tidak termaktub dalam nash secara khusus dan shorih. Tidak ada dalam Quran, tidak termaktub juga di dalam hadits Rasululloh SAW. Lantaran tarikh munculnya tembakau ini menurut Al-Imam al-Syarif al-Syaikh ‘Abdulloh bin ‘Alawiy al-Haddad adalah menyimpang. Sedangkan tarikh mencuatnya tembakau digambarkan dalam syi’ir yang ditulis oleh Al-Imam al-Bakariy sebagai berikut :

يا خليلي عن الدخان أجنبي  -  قلت ما فرط الكتاب بشيء

هل له في كتابنا إيماءُ  -  ثم أرخت يوم تأتي السماءُ

Sahabat baikku, sepihak ulama untuk menjauhkannya dari asap (rokok) .  Apakah ada isyarat untuk asap dalam Kitab kita?.  Maka aku menjawab tidaklah akan sia-sia satupun apa yang ada di dalam Kitab. Kemudian aku mentarikhkan (jawabanku) di hari datangnya langit.

Tidak adanya ketetapan dari Nabi Muhammad SAW dalam menetapkan nash untuk menghukumi pemakaian tembakau ini adalah semata-mata karena rahmat bagi kita. Jika tidak demikian, maka Alloh ‘Azza wa Jalla pasti mengetahui akan perlunya kita mendapatkan nash yang jelas dalam memandang hukum tersebut. Rosul bersabda :

عن أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : إن الله فرض فرائض ، فلا تضيعوها ، وحد حدودا فلا تعتدوها ، وحرم أشياء ، فلا تنتهكوها ، وسكت عن أشياء رحمة لكم غير نسيان ، فلا تبحثوا عنها . حديث حسن ، رواه الدارقطني وغيره . 

 “Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla mewajibkan berbagai macam kefardluan. Oleh karena itu maka janganlah enkau mempersempitnya. Dan Alloh pula telah menjatuhkan berbagai macam batasan. Maka dari itu jangan pula engkau memperhitungkannya. Alloh telah melarang berbagai hal pula. Maka janganlah sampai engkau melanggarnya. Dan Alloh diam (tidak menyabdakan) beberapa hal untuk kalian bukan karena lupa. Maka dari itu janganlah membahas hal tersebut”.  (Hadits Hasan).

Makna diamnya Alloh , menurut Sayyid ‘Alawiy bin Ahmad al-Segaf adalah sesungguhnya Alloh tidak menurunkan nash shorih dalam menjelaskan hukum-hukum tersebut kepada Nabi kita Muhammad SAW. Sedangkan esensi diam itu rahmat bagi kita adalah sesungguhnya Alloh SWT menashkan haram suatu perkara karena disiksanya kita jika melakukannya. Dan Alloh SWT tidak menurunkan nash wajib suatu hal karena disiksanya kita jika meninggalkannya. Alloh juga tidak menashkan makruh karena akibatnya buruk untuk kita.

Apabila kita telah faham dan mengikrarkan hal tersebut maka perlu kita ketahui bahwa masalah hukum menggunakan tembakau – baik dihisap dan atau dicium baunya – adalah sebagian dari urusan-urusan musytabihat. Yaitu sebagaimana yang ditafsirkan oleh para ulama sebagai urusan yang belum jelas halal dan haramnya dikarenakan masih menjadi perselisihan dan perbedaan penarikan kesimpulan mereka terhadap makna-makna dan sebab-sebab yang melatar belakanginya.

Yang menjadi pangkal permasalahan dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imamain Bukhori dan Muslim dalam kedua kitab shohihnya ; 

عن أبي عبد الله النعـمان بن بشير رضي الله عـنهما قـال: سمعـت رسـول الله صلي الله عـليه وسلم يقول: إن الحلال بين وإن الحـرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعـلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات فـقـد استبرأ لديـنه وعـرضه ومن وقع في الشبهات… الحديث

Dari Nu’man bin Basyir ra, dari Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya beliau telah bersabda : “Sesungguhnya halal itu jelas (hukumnya) dan yang haram pun jelas, lalu yang diantara keduanya adalah perkara musytabihat yang kebanyakan manusia belum mengetahuinya”, bacalah keseluruhan haditsnya.

Begitulah para ulama menarik kesimpulan dalam menghukumi pemakaian tembakau, bahwa tembakau merupakan sebagian dari perkara musytabihat.

Dari natijah tersebut, terbagilah pendapat para ulama menjadi tiga bagian madzhab :

  1. Madzhab yang berpendapat mutlak mengharamkan pemakaian tembakau. Bagian ini, berdiri di bawah naungan para ulama pula. Mereka mentarjihkan (red. mengunggulkan) hukum tunggal (haram) dalam menanggapi pemakaian tembakau berdasarkan risalah-risalah yang mereka tetapkan di dalamnya pijakan-pijakan hukum haram. Perbincangan mengenai madzhab ini dipaparkan panjang lebar dalam ‘Alim al-Madinah al-Hadits al-Kabir Muhammad Hayat al-Sanadiy. Sebagian yang lainnya adalah Al-Sayyid al-Jalil Abu Bakar bin Qosim al-Ahdal, dan Al-Qodli al-‘Alim al-Kabir Husain al-Mahalla. Kebanyakan ulama ahli shufi memastikan keharamanny. Sebagian ulama yang berpendapat demikian adalah  Sayyid al-Imam al-Rabbaniy al-Sayyid ‘Abdulloh bin ‘Alawiy al-Haddad rohimahumulloh.
  2. Madzhab yang berpendapat pemakaian tembakau mutlak tidak haram. Bagian ini, berdiri di bawah naungan para ulama yang memiliki berbagai karangan dan ketetapan halal tanpa mengharamkan berdasarkan risalah-risalah yang berusaha menentang pendapat madzhab pertama. Makalah-makalah dan berbagai karangan tersebut adalah karangan dari Sayyid al-Jalil al-Imam al-Syahir Muhammad bin Isma’il, al-Amir al-Imam yang banyak tahu ilmu Ma’qulat dan Manqulat al-Syaikh ‘Abd al-Ghoniy al-Nabalisiy, Syaikh Muta-akhiriy al-Syafi’iyyah al-Jamal al-Zayadiy, dan al-Syaikh Maro’iy al-Hanbaliy rohimahumulloh
  3. Madzhab yang tidak berpendapat apapun, tidak haram maupun halal. Pendapat madzhab ini didasarkan pada wilayah tafshil (masih bisa diperinci). Mereka memandang qo’idah   ان الأطلاق للحكم في مقام التفصيل   ”sesungguhnya ithlaq  bagi hukum ada dalam hukum tafshil” adalah keliru. Mereka berpendapat bahwa hukum itu seluruhnya ada lima ; haram, makruh, wajib, sunat, dan ibahah. Yang lima ini berlaku dalam hukum menggunakan tembakau berdasarkan perincian qodliyah wad’iyyah dan qodliyah syari’ah. Maka dari itu, telah menjadi ketetapan Alloh SWT dalam setiap pekerjaan yang dikerjakan mukalaf, ada dua khitob yaitu ; khitob taklifiy seperti lima yang telah disebutkan tadi. Dan khitob wadl’i seperti mani’, sabab, dan syarat.

Kesimpulannya adalah, tidak ada ketetapan atau sifat-sifat dalam tembakau, juga tidak ada sifat aghlabiy dalam tubuh pengguna tembakau yang madarat secara pasti dan jelas. Seperti orang yang merokok meninggal seketika karena menghisap tembakau (seumpamanya), atau dalam tembakau terdapat zat yang diharamkan (najis, memabukkan, dll).

Karena itu, tidak ada jalan bagi siapa pun untuk menetapkan hukumnya kecuali telah nyata dan jelas khitob wadl’I dan taklifi-nya. Al-Imam al-Syafi’i dalam al-Risalah menyatakan, “seseorang tidak boleh mengatakan ini halal dan ini haram kecuali ia telah mengetahui dalilnya. Sedangkan mengetahui dalil itu didapat dari al-Quran, hadits, ijma’ atau qiyas. (al-Risalah: 36).

Jika kita gegabah dengan memastikan suatu hukum tanpa referensi dan dukungan nash yang soreh maka jangan-jangan kita termasuk kedalam sabda Alloh SWT :

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون  متاع قليل ولهم عذاب أليم

“Dan janganlah kamu mengatakan sesuatu menggunakan sifat lidahmu dengan bohong, ‘ini halal dan ini haram’ karena tujuan mengada-ada kepada Alloh dengan berbohong. Sesungguhnya orang yang mengada-ada berbohong kepada Alloh tidak akan bahagia dengan dan bagi mereka adzab yang pedih. (Al-Nahl ; 115).

Wallohu A’lam *** (Iqbal1).

Ref. : Kitab Sab’atu Al-Kutub Mufidah, keterangan lengkap lihat hal. 158.


Wacana : Kitab Pemecah Kode Al-Kindi

Mei 26, 2010

Kitab Pemecah Kode

Sebagai ilmuwan serba bisa, Al-Kindi tak cuma melahirkan pemikiran di bidang filsafat saja. Salah satu karyanya yang termasuk fenomenal adalah Risalah Fi Istikhraj al-Mu’amma. Kitab itu mengurai dan membahas kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam kitabnya itu, Al-Kindi memaparkan bagaimana kode-kode rahasia diurai.

Teknik-teknik penguraian kode atau sandi-sandi yang sulit dipecahkan dikupas tuntas dalam kitab itu. Selain itu, ia juga mengklasifikasikan sandi-sandi rahasia serta menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Yang paling penting lagi, dalam buku tersebut, A-Kindi mengenalkan penggunaan beberapa teknik statistika untuk memecahkan kode-kode rahasia.

Kriptografi dikuasainya, lantaran dia pakar di bidang matematika. Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern. Al-Kindi juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi

Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisa. Ia menjabarkannya dalam sebuah makalah, yang setelah dibawa ke Barat beberapa abad sesudahnya diterjemahkan sebagai Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages. ”Salah satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasannya adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah Pilah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya,” kata Al-Kindi.

Setelah itu, lanjut Al-Kindi, baru kemudian dilihat kepada teks rahasia yang ingin dipecahkan. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi simbol-simbolnya. ”Di situ kita akan menemukan simbol yang paling sering muncul, lalu ubahlah dengan catatan kejadian satu, dua, dan seterusnya itu, sampai seluruh simbol itu terbaca.” Teknik itu, kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.

Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama

”Al-Kindi adalah salah satu dari 12 pemikir terbesar di abad pertengahan,” cetus sarjana Italia era Renaissance, Geralomo Cardano (1501-1575). Di mata sejarawan Ibnu Al-Nadim, Al-Kindi merupakan manusia terbaik pada zamannya. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Dunia pun mendapuknya sebagai filosof Arab yang paling tangguh.

Ilmuwan kelahiran Kufah, 185 H/801 M itu bernama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’ats bin Qais Al-Kindi. Ia berasal dari sebuah keluarga pejabat. Keluarganya berasal dari suku Kindah  salah satu suku Arab yang besar di Yaman  sebelum Islam datang. Nenek moyangnya kemudian hijrah ke Kufah.

Ayahnya bernama Ibnu As-Sabah. Sang ayah pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era kepemimpinan Al-Mahdi (775-785) dan Harun Arrasyid (786-809). Kakeknya Asy’ats bin Qais kakeknya AL-Kindi dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya’rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.

Pendidikan dasar ditempuh Al-Kindi di tanah kelahirannya. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu.

Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809-813), Al-Ma’mun (813-833), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842-847) dan Mutawakil (847-861). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan.

Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah (House of Wisdom) yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani. Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan puteranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-Kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Dia secara khusus diangkat menjadi guru bagi puteranya.

Al-Kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-Kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan. Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-Kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-Kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam.

Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Buah pikir yang dihasilkannya begitu berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal dunia.

Al-Kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena dialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-Kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun dia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama.

Setelah era Khalifah AL-Mu’tasim berakhir dan tampuk kepemimpin beralih ke Al-watiq dan Al-Mutawakkil, peran Al-Kindi semakin dipersempit. Namun, tulisan kaligrafinya yang menawan sempat membuat Khalifah kepincut. Khalifah AL-Mutawakkil kemudian mendapuknya sebagai ahli kaligrafi istana. Namun, itu tak berlangsung lama.

Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, Al-Kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya. Jabatannya sebagai guru istana pun diambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler Al-Kindi. Friksi pun sempat terjadi, perpustakaan pribadinya sempat diambil alih putera-putera Musa. Namun akhirnya Al-Kindiyah – perpustakaan pribadi itu – dikembalikan lagi.

Sebagai penggagas filsafat murni dalam dunia Islam, Al-Kindi memandang filasafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab, melalui filsafat-lah, manusia bisa belajar mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama da merupakan sebab dari semua realitas lainnya.Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat, dalam pandangan Al-Kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.

Salah seorang penulis buku tentang studi Islam, Henry Corbin, menggambarkan akhir hayat dari sang filosof Islam. Menurut Corbin, pada tahun 873, Al-Kindi tutup usia dalam kesendirian dan kesepian. Saat itu, Baghdad tengah dikuasai rezim Al-Mu’tamid. Begitu dia meninggal, buku- buku filsafat yang dihasilkannya banyak yang hilang.

Sejarawan Felix Klein-Franke menduga lenyapnya sejumlah karya filsafat Al-Kindi akibat dimusnahkan rezim Al-Mutawakkil yang tak senang dengan paham Muktazilah. Selain itu, papar Klein-Franke, bisa juga lenyapnya karya-karya AL-Kindi akibat ulah serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang membumihanguskan kota Baghdad dan Baitulhikmah. Hingga kini, Al-Kindi tetap dikenang sebagai ilmuwan Islam yang banyak berjasa bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.

Filsafat Al-Kindi

Bagi Al-Kindi, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia. Filsafatnya tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Menurut dia, Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juz’iyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan).

Dalam pandangan filsafat Al-Kindi, Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan adalah Pencipta. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. AL-Kindi juga menolak pendapat yang menganggap sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak. Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indera.

Menurut Al-Kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut lain yang terpisah dengan-Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut haruslah tak terpisahkan dengan Zat-Nya. Jiwa atau roh adalah salah satu pembahasan Al-Kindi. Ia juga merupakan filosof Muslim pertama yang membahas hakikat roh secara terperinci. Al-Kindi membagi roh atau jiwa ke dalam tiga daya, yakni daya nafsu, daya pemarah, dan daya berpikir. Menurutnya, daya yang paling penting adalah daya berpikir, karena bisa mengangkat eksistensi manusia ke derajat yang lebih tinggi.

Al-Kindi juga membagi akal mejadi tiga, yakni akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas.Akal yang bersifat potensial, papar Al-Kindi, tak bisa mempunyai sifat aktual, jika tak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu, menurut Al-Kindi, masih ada satu macam akal lagi, yakni akal yang selamanya dalam aktualitas.  (Penulis : heri ruslan, Republika Online)


Catatan : Sistem Kriptografi

Mei 24, 2010

Kriptografi (Cryptography) adalah seni dan ilmu tentang cara-cara menjaga keamanan. Istilah-istilah yang digunakan dalam bidang kriptografi antara lain :

a. Plainteks, merupakan data atau pesan asli yang ingin dikirim.

b. Cipherteks, merupakan data hasil enkripsi.

c. Enkripsi, merupakan proses untuk mengubah plainteks menjadi chiperteks.

d. Deskripsi, merupakan proses untuk mengubah chiperteks menjadi plainteks atau pesan asli.

e. Key(Kunci), suatu bilangan yang dirahasiakan, dan digunakan untuk proses enkripsi dan deskripsi.

Pada intinya Kriptosistem (Cryptosystem) adalah sistem kriptografi yang meliputi algoritma, plainteks, cipherteks, dan key (kunci). Namun setiap teknologi tentu memiliki kelemahan. Kriptanalisis (Cryptanalysis) adalah ilmu dan seni dalam membuka ciphertext dengan memanfaatkan kelemahan yang ada pada kriptosistem tersebut berdasar Kriptologi (Ilmu matematika yang melatarbelakangi ilmu kriptografi dan ilmu kriptanalisis). Secara umum, kriptografi terdiri dari dua buah bagian utama yaitu bagian enkripsi dan bagian dekripsi. Enkripsi adalah proses transformasi informasi menjadi bentuk lain sehingga isi pesan yang sebenarnya tidak dapat dipahami, hal ini dimaksudkan agar informasi tetap terlindung dari pihak yang tidak berhak menerima. Sedangkan dekripsi adalah proses kebalikan enkripsi, yaitu transformasi data terenkripsi ke data bentuk semula. Proses transformasi dari plainteks menjadi cipherteks akan dikontrol oleh kunci. Peran kunci sangatlah penting, kunci bersama-sama dengan algoritma matematisnya akan memproses plainteks menjadi cipherteks dan sebaliknya. Adapun blok proses enkripsi-dekripsi secara umum dapat kita lihat pada gambar di bawah ini :

Secara matematis sederhana, proses enkripsi-dekripsi dapat dituliskan dengan persamaan sebagai berikut :

Dimana :

m = message / plainteks

c = cipherteks

D = fungsi Dekripsi

d = kunci dekripsi

E = fungsi Enkripsi

e = kunci enkripsi

Dari dua persamaan diatas dapat ditulis :

Sehingga terlihat pesan yang telah tersandi dapat dikembalikan menjadi pesan semula.

(Ref. : http://www.ittelkom.ac.id)


Info Teknologi : Ponsel Picu Kanker Otak?

Mei 19, 2010

Tempo – Selasa, 18 Mei :

TEMPO Interaktif , Jakarta – Jenewa – Sejumlah peneliti mempertanyakan anggapan bahwa penggunaan telepon selular berisiko memicu kanker otak. Penelitian dari World Health Organization International Agency for Research on Cancer menyebutkan, masyarakat memandang bahwa menggunakan telepon selular lebih dari 30 menit setiap hari dapat meningkatkan risiko glioma atau kanker otak.

Gangguan pada otak itu disebaban radiasi telepon selular. Sehingga, semakin lama anda berbicara melalui telepon selular, semakin besar risiko terkena kanker otak.

Sementara dalam survey yang dilakukan sejumlah peneliti terhadap 13 ribu responden menyebutkan tidak ada pemantik dari penggunaan telepon selular yang memicu tumbuhnya sel tumor atau kanker pada otak. Menurut para peneliti, ada beberapa faktor yang belum teruji dalam anggapan tadi. Misalnya, bagaimana jika pengguna telepon selular berbicara menggunakan pengeras suara (loudspeaker) atau perangkat handsfree.

Mereka juga menyarankan supaya dilakukan investigasi lebih lanjut mengenai hubungan antara radiasi dari telepon selular dengan kerja otak. Selain itu, para peneliti juga berencana menguji apakah penggunaan telepon selular meningkatkan risiko tumor pada telinga yang mempengaruhi syaraf pendengaran serta dampak penggunaan telepon selular pada anak-anak.

Penelitian ini nantinya akan dipublikasikan di International Journal of Epidemiology yang menggabungkan hasil penelitian dari 13 negara, seperti Inggris, Kanada, Perancis, Jerman dan Jepang. Dalam pernyataan resminya Forum Perusahaan Telepon Selular menyambut baik penelitian tersebut. Menurut Forum, industri telepon selular tentunya ingin menciptakan teknologi telepon selular yang aman dan berkomitmen dalam bidang penelitian ilmiah. (Rini K | AP – Yahoo.news)


Kisah : Ucapan Selamat Datang Kyai Khalil

Mei 14, 2010

Suatu Ketika Habib Jindan bin Salim berselisih pendapat dengan seorang ulama, manakah pendapat yang paling sahih dalam ayat ‘Maliki yaumiddin’, maliki-nya dibaca ‘maaliki’ (dengan memakai alif setelah mim), ataukah ‘maliki’ (tanpa alif).

Setelah berdebat tidak ada titik temu. Akhirnya sepakat untuk sama-sama datang ke Kyai Keramat ;  Kyai Khalil – Bangkalan.

Ketika itu Kyai yang jadi maha guru para kyai pulau Jawa itu sedang duduk di dalam mushala, saat rombongan Habib Jindan sudah dekat ke Mushola sontak saja kyai Khalil berteriak. Maaliki yaumiddin ya Habib, Maaliki yaumiddin Habib, teriak Kyai Khalil bangkalan menyambut kedatangan Habib Jindan.

Tentu saja dengan ucapan selamat datang yang aneh itu, sang Habib tak perlu bersusah payah menceritakan soal sengketa Maliki yaumiddin ataukah maaliki yaumiddin itu.

Demikian cerita Al Habib ketika menjelaskan perbendaan pendapat ulama dalam bacaan ayat itu pada Tafsir Thabari. (***Ref. http://www.habibluthfiyahya.net)


Wacana : Sayidah Fathimah, Wasilah Dzuriyah Nabi

Mei 13, 2010

Banyak pertanyaan kenapa keturunan Nabi SAW dari Sayidah Fathimah tidak diturunkan dari anak lelaki Nabi SAW.  Padahal nasab dihubungkan pada laki-laki. Apa dasarnya?. Pertama, Untuk menjawab jahiliatul arab ; ‘alladzi yatasaabun biauladiha’, mereka yang fanatik sekali terhadap anak lelakinya.

Untuk menjawab ini Rasulullah  SAW bersabda ; kulu bani anbiya yantami ila abihi, setiap keturunan nabi terhubung melalui ayahnya. Karena para nabi terdahulu tidak mengalami sebagaimana yang dialami oleh Rasulullah SAW. Maka dijadikan keturunan mereka dari lelaki. Dimana hidupnya Nabiyullah Zakaria, Nabiyullah Yahya, Nabiyullah Musa dan lain sebagainya, mereka tidak taasub, fanatik terhadap anak lelakinya.

Tapi berbeda dengan masyarakat Arab saat itu. Sehingga nilai seorang wanita sangat terpojok sekali. Ini dijawab oleh Allah, karena munculnya pendapat-pendapat orang  mengatakan :  “bahwa sayidah Fathimah adalah perempuan, tidak mungkin keturunan Rasulullah SAW dari perempuan, berarti kan putus. Rasulullah SAW dianggap abtar”.  Dijawab oleh Allah Taala apa?  ‘Inna ‘Athoinaka al Kautsar, fasholli lirabbika wanhar inna Syani’aka huwa al abtar’. Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (QS: AL Kautsar:1-3).

Kalimah “huwa al Abtar”,  dialah yang terputus (keturunannya), kepada siapa ? , Kaum jahiliyah yang menyerang dan menuduh Rasulullah : bahwa ‘Rasulullah tidak punya keturunan lelaki’. Jadi huwa, ‘dia’ (dialah yang terputus) dalam ayat terakhir itu kembali pada yang mengejek Rasulullah SAW.

Darisinilah Sayidah Fathimah’ melahirkan Al Hasan dan Al Husain. Dari asbat, keturunan inilah melahirkan tokoh-tokoh a’imah, para imam besar. Termasuk Imamuna Syafi’i sendiri diturunkan daripada ibu katurunan Sayidah Fathimah. Karena ibunya Imam Syafi’i adalah Hababah Fathimah binti Abdullah al Mahith Fathimah bin Hasan al Mutsana bin Hasan As sibthi bin Ali bin Abi Thalib.

Jadi Imam Syafi’i sendiri walaupun dari pihak perempuan masih ada tetesan darah  dari Musthofa Saw. Sampai Rasulullah SAW sendiri mengatakan : “Khairul qurun qorni… sampai hadis Wakhtarallahu min bani Adam Fulan …al Fulan, min bani Hasyim… sebelum Bani Hasyim Wakhtara al Quraisy”. Dari keturunan Adam Allah memilih Quraisy. Keturunan Quraisy siapa? Imam empat tidak terlepas al Quraisy, Khulafaur Rasyidin tidak terlepas dari al Quraisyi.

Banyak yang bertemu di Ka’ab. Rasulullah bin Abdullah bin Abdu Muthalib bin  Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushoy bin Kilab bin Ka’ab. Nah, dari sini ada yang ketemu di Luay ada yang bertemu di Abdi Manaf. Jadi Khulafaur Rasyidin termasuk dalam sabda Nabi ; Wahktara min Quraiysy, Waktara al Hasyimi.

Dari Quraisy dipilih lagi menjadi al Hasyimi dari al Hasyimi di pilih lagi Bani Muthalibi, sampai Bani Fathimah binti Rasulullah. “Jaalallahu Ahli Baiti min Fathimah wa Ali wa Ana ashobihima wa waliyuhumma”, Ya Allah jadikan ahli baitku dari Fathimah dan Ali, dan  Aku adalah kelompok  mereka dan pelindung mereka, Itu sabda Nabi.

Kedua, untuk menyatakan keturunan dari anak perempuan bisa lahir orang-orang yang hebat seperti al Hasan dan Husain. Ketiga, kalau siti Maryam sebagai wanita yang paling utama pada zamannya bisa melahirkan orang hebat: Isa bin Maryam, maka Sayidah Fathimah sebagai wanita yang paling utama fi jamanih, pada jamannya bisa melahirkan keturunan yang hebat pula : al Hasan dan Husain. Wallahu A’lam. (http://www.habibluthfiyahya.net)


Catatan : Ulama-ulama Indonesia Di Haromain, Embrio NU di Indonesia

Mei 13, 2010

Banyak diantara kita yang kepaten obor (Pareumeun obor), kehilangan sejarah, terutama generasi-generasi muda. Hal itupun tidak bisa disalahkan, sebab orang tua-orang tua kita, -sebagian jarang memberi tahu apa dan bagaimana sebenarnya Nahdlitul Ulama itu.

Karena pengertian-pengertian mulai dari sejarah bagaimana berdirinya NU, bagaimana perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan NU, bagaimana asal usul atau awal mulanya Mbah Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan NU dan mengapa Ahlus sunah wal jamaah harus diberi wadah di Indonesia ini.

Dibentuknya NU sebagai wadah Ahlu Sunah bukan semata-mata KH Hasyim Asy’ari ingin ber-inovasi, tapi memang kondisi pada waktu itu sudah sampai pada kondisi dloruri, wajib mendirikan sebuah wadah. Kesimpulan bahwa membentuk sebuah wadah Ahlus Sunah di Indonesia menjadi satu keharusan, merupakan buah dari pengalaman ulama-ulama Ahlu Sunah, terutama pada rentang waktu pada tahun 1200 H sampai 1350 H.

Pada kurun itu ulama Indonesia sangat mewarnai, dan perannya dalam menyemarakan kegiatan ilmiyah di Masjidil Haram tidak kecil. Misal diantaranya ada seorang ulama yang sangat terkenal, tidak satupun muridnya yang tidak menjadi ulama terkenal, ulama-ulama yang sangat tabahur fi ilmi Syari’ah, fi thoriqoh wa fi ilmi tasawuf, ilmunya sangat melaut luas dalam syari’ah, thoriqoh dan ilmu tasawuf. Dintaranya dari Sambas, Ahmad bin Abdu Somad Sambas. Murid-murid  beliau banyak yang menjadi ulama-ulama besar seperti Kyai Tholhah Gunung jati Cirebon.

Kiai Tholhah ini adalah kakek dari Kiai Syarif Wonopringgo, Pekalongan. Muridnya yang lain, Kiai Syarifudin bin Kiai Zaenal Abidin Bin Kiai Muhammad Tholhah. Beliau diberi umur panjang, usianya seratus tahun lebih. Adik seperguruan beliau diantaranya Kiai Ahmad Kholil Bangkalan. Kiai kholil lahir pada tahun 1227 H. Dan diantaranya murid-murid Syeh Ahmad sambas yaitu Syekh Abdul Qodir Al Bantan, yang menurunkan anak murid, yaitu Syekh Abdul Aziz Cibeber Kiai Asnawi Banten. Ulama lain yang sangat terkenal sebagai ulama ternama di Masjidil Harom adalah  Kiai Nawawi al Bantani.

Beliau lahir pada tahun 1230 H dan meninggal pada tahun 1310 H, bertepatan dengan meninggalnya mufti besar Sayid Ahmad Zaini Dahlan. Ulama Indonesia yang lainnya yang berkiprah di Masjidil Harom adalah Sayid Ahmad an Nahrowi Al Banyumasi, beliau diberi umur panjang, beliau meninggal pada usia 125. Tidak satupun pengarang kitab di Haromain; Mekah-Madinah, terutama ulama-ulama yang berasal dari Indonesia yang berani mencetak kitabnya sebelum ada pengesahan dari Sayidi Ahmad an Nahrowi Al Banyumasi.

Syekh Abdul Qadir Al Bantani murid lain Syekh Ahmad bin Abdu Somad Sambas, yang mempunyai murid Kiai Abdul Latif Cibeber dan Kiai Asnawi Banten. Adapun ulama-alama yang lain yang ilmunya luar biasa adalah Sayidi Syekh Ubaidillah Surabaya, beliau melahirkan ulama yang luar biasa yaitu Kiai Ubaidah Giren Tegal, terkenal sebagai Imam Asy’ari-nya Indonesia.

Dan melahirkan seorang ulama, auliya besar, Sayidi Syekh Muhammad Ilyas Sukaraja. Guru dari guru saya Sayidi Syekh Muhamad Abdul Malik. Yang mengajak Syekh Muhammad Ilyas muqim di Haromain yang mengajak adalah Kiai Ubaidah tersebut, di Jabal Abil Gubai, di Syekh Sulaiman Zuhdi. Diantaranya murid muridnya lagi di Mekah Sayidi Syekh Abdullah Tegal. Lalu Sayidi Syekh Abdullah Wahab Rohan Medan, Sayid Syekh Abdullah Batangpau, Sayyidi syekh Muhmmad Ilyas Sukaraja, Sayyidi Syekh Abdul Aziz bin Abdu Somad al Bimawi, dan Sayidi Syekh Abdullah dan Sayidi Syekh Abdul Manan, tokoh pendiri Termas sebelum Kiai Mahfudz dan sebelum Kiai Dimyati.

Dijaman Sayidi Syekh Ahmad Khatib Sambas ataupun Sayidi Syekh Sulaiman Zuhdi, murid yang terakhir adalah Sayidi Syekh Ahmad Abdul Hadi Giri Kusumo daerah Mranggen. Inilah ulama-ulama indonesia diantara tahun 1200 H sampai tahun 1350. Termasuk Syekh Baqir Zaenal Abidin jogja, Kyai Idris Jamsaren, dan banyak tokoh-tokoh pada waktu itu yang di Haromain. Seharusnya kita bangga dari warga keturunan banagsa kita cukup mewarnai di Haromain, beliau-beliau memegang peranan yang luar biasa. Salah satunya guru saya sendiri Sayyidi Syekh Abdul Malik yang pernah tinggal di Haromain dan mengajar di Masjidil Haram khusus ilmu tafsir dan hadits selama 35 tahun.

Beliau adalah  muridnya Syekh Mahfudz Al Turmidzi. Mengapa saya ceritakan yang demikian, kita harus mengenal ulama-ulama kita dahulu yang menjadi mata rantai berdirinya NU, kalau dalam hadits itu betul-betul tahu sanadnya, bukan hanya katanya-katanya saja, jadi kita harus tahu darimana saja ajaran Ahli Sunah Wal Jamaah yang diambil oleh Syekh Hasyim Asy’ari.

Bukan sembarang orang tapi yang benar-benar orang-orang tabahur ilmunya, dan mempunyai maqomah, kedudukan yang luar biasa. Namun sayang peran penting ulama-ulama Ahlu Sunah di Haromain pada masa itu (pada saat Syarif Husen berkuasa di Hijaz), khsusunya ulama yang dari Indonesia tidak mempunyai wadah. Kemudian hal  itu di pikirkan oleh kiai Hasyim Asy’ari disamping mempunyai latar belakang dan alasan lain yang sangat kuat sekali.

Menjelang berdirinya NU beberapa ulama besar kumpul di Masjidil Harom, -ini sudah tidak tertulis dan harus dicari lagi nara sumber-sumbernya, beliau-beliau menyimpulkan sudah sangat mendesak berdirinya wadah bagi tumbuh kembang dan terjaganya ajaran Ahlu Sunah Wal Jamaah. Akhirnya  di istiharohi oleh para ulama-ulama Haromain, lalu mengutus Kiai Hasyim Asy’ari untuk pulang ke Indonesia agar menemui dua orang di Indonesia, kalau dua orang ini mengiakan jalan terus kalau tidak, jangan diteruskan. Dua orang tersebut yang pertama Habib Hasyim bin Umar Bin Toha Bin Yahya Pekalongan, yang satunya lagi Mbah kholil Bangkalan.

Oleh sebab itu tidak heran jika Mukatamar NU yang ke 5 dilaksanakan di Pekalongan tahun 1930 M. Untuk menghormati  Habib Hasyim yang wafat pada itu. Itu suatu penghormatan yang luar biasa. Tidak heran kalau di Pekalongan sampai dua kali menjadi tuan rumah Muktamar Thoriqoh. Tidak heran karena sudah dari sananya, kok tahu ini semua sumbernya dari mana? Dari seorang yang soleh, Kiai Irfan. Suatu ketika saya duduk-duduk dengan Kiai Irfan, Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi. Kiai Irfan bertanya pada saya “kamu ini siapanya Habib Hasyim?”. Yang menjawab pertanyaan itu Kiai Abdul Fatah dan Kiai Abdul Hadi; “ini cucunya Habib Hasyim Yai”.

Akhirnya saya di beri wasiat, katanya; ‘mumpung saya masih hidup tolong catat sejarah ini. Mbah Kiai Hasyim Asy’ari datang ketempatnya Mbah Kiai Yasin, Kiai Sanusi ikut serta pada waktu  itu. Disitu diiringi oleh Kiai Asnawi Kudus, terus diantar datang ke Pekalongan, lalu bersama Kiai Irfan datang ke kediamannya Habib Hasyim. Begitu KH. Hasyim Asy’ari duduk,  Habib Hasyim langsung berkata, ‘Kyai Hasyim Asy’ari, silahkan laksanakan niatmu kalau mau membentuk wadah  Ahlu Sunah Wal Jamaah. Saya rela tapi tolong saya jangan ditulis’.

Itu wasiat Habib Hasyim, terus Kyai Hasyim Asy’ari merasa lega dan puas. Kemudin Kiai Hasyim Asy’ari menuju ke tempatnya Mbah Kiai Kholil Bangkalan, kemudian Mbah Kyai kholi bilang sama Kyai Hasyim Asyari laksanakan apa niatmu saya ridlo seperti ridlonya Habib Hasyim tapi saya juga minta tolong, nama saya jangan ditulis.’ Kata Kiai Hasyim Asy’ari ini bagaimana kyai, kok tidak mau ditulis semua. Terus mbah Kiai Kholil menjawab kalau mau tulis silahkan tapi sedikit saja. Itu tawadluknya Mbah Kyai Ahmad Kholil Bangkalan. Dan ternyata sejarah tersebut juga dicatat oleh Gus Dur.

Inilah sedikit perjalanan Nahdlotul Ulama. Inilah perjuangan pendiri Nahdlotul ulama. Para pendirinya merupakan tokoh-tokoh ulama yang luar biasa. Makanya hal-hal  yang demikian itu tolong ditulis, biar anak-anak kita itu tidak terpengaruh oleh yang tidak-tidak, sebab mereka tidak mengetahui sejarah. Anak-anak kita saat ini banyak yang tidak tahu, apa sih NU itu? Apa sih Ahlu Sunah itu? La ini permasalahan kita. Upaya pengenalan itu yang paling mudah dilakukan dengan memasang foto-foto para pendiri NU, khususnya foto Hadrotu Syekh Kiai Hasyim Asy’ari. (Disampaikan pada Harlah NU di Kota Pekalongan. Hly.net/ Nzr/Tsi/update-inkanzus)

http://www.habibluthfiyahya.net


Warta : Siyasah

Mei 10, 2010

Koalisi Transaksional, yang Rugi Rakyat

JAKARTA, KOMPAS.com – Pengamat politik dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) J Kristiadi berpendapat, perubahan konsep koalisi yang ditandai dengan pembentukan sekretariat gabungan partai koalisi hanya menunjukkan suatu konsep koalisi yang penuh transaksi-transaksi politik.

Dikatakan J Kristiadi usai menghadiri pemaparan survei CIRUS, di Hotel Atlet Century, Jakarta, Minggu (9/5/2010), perubahan konsep koalisi yang disepakati dalam pertemuan di Cikeas (6/5/2010) hanya akan menjurus pada bentuk koalisi yang oligarkis sehingga mempersempit dan mereduksi prinsip demokrasi.

“Saya kira kita harus mencermati dan mengawal agar koalisi ini tidak menjadi oligarki yang semakin mempersempit dan mereduksi demokrasi. Republik ini penuh dengan koalisi dugaan-dugaan transaksi politik. Yang rugi jelas masyarakat,” katanya.

Menurut Kristiadi, munculnya sekretariat gabungan partai koalisi dengan Aburizal Bakrie sebagai Ketua Hariannya menunjukkan kemenangan Golkar dalam menekan pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kristiadi juga menilai, penekanan-penekanan terhadap presiden tersebut terbukti dengan keputusan Presiden yang merelakan Menteri Keuangan Sri Mulyani meninggalkan Indonesia dengan menjadi Direktur Operasional Bank Dunia.

“Minggir karena apa? Karena tekanan. Yang menjadi misteri bagi saya, sampai presiden menerima tekanan seperti itu dan mengakomodasi kepentingan transaksional dengan mengorbankan orang yang berani mati untuk reformasi, melawan pengusaha-pengusaha yang tidak jujur soal perpajakan,” paparnya.

Dengan kondisi ini, J Kristiadi memperkirakan, besar kemungkinan pengganti Sri Mulyani adalah orang yang bisa diajak bernegosiasi dan bisa membawa kepentingan Golkar. “Itu sangat bisa (transaksi politik) kalau Ical sudah masuk itu sangat dekat,” katanya.

Konsep koalisi baru yang memungkinkan partai-partai koalisi ikut menentukan kebijakan-kebijakan pemerintah, menurutnya, tidak akan bertahan lama. “Koalisi ini paling lama sampai 2013 karen tidak ada platform jelas bagi meraka sebelumnya, hanya koalisi transaksional saja,” tambahnnya.

Seperti diberitakan, pascaterpilihnya Sri Mulyani sebagai Direktur Operasional Bank Dunia, Presiden mengumpulkan para ketua umum partai koalisi dan menghasilkan empat kesepakatan forum koalisi. Koalisi sepakat mengawal pemerintahan hingga 2014. Dalam kesepakatan tersebut, partai-partai koalisi membentuk sekretariat gabungan partai koalisi dengan Ketua Presiden, Ketua Harian Aburizal Bakrie, dan Sekretaris Syarif Hasan. (***Sender icha / Detikcom)


Insert : Karakter

Mei 8, 2010

Pemimpin yang Dipercaya
Oleh : Betti Alisyahbana

Tugas pertama seorang pemimpin adalah membangun rasa percaya. Ada dua faktor yang mempengaruhi rasa percaya masyarakat terhadap pemimpinnya : karakter dan kompetensi.

Karakter mencakup integritas dan niat baik. Sementara kompetensi mencakup kemampuan, ketrampilan, kinerja, dan rekam jejak.

Ketika seorang pemimpin mempunyai semuanya -integritas, niat baik, kemampuan, keterampilan, kinerja, dan rekam jejak— maka ia akan dipercaya oleh orang-orang yang dipimpinnya.

Pemimpin juga harus mempercayai timnya—bukan percaya buta tanpa ekspektasi dan akuntabilitas, melainkan percaya yang cerdas, yaitu dengan ekspektasi yang jelas dan sistem akuntabilitas yang dibangun terintegrasi ke dalam sistem organisasi. Pemimpin terbaik umumya memimpin dengan kecenderungan untuk mempercayai timnya.

Pemimpin yang baik sadar bahwa suasana saling percaya harus dibangun dan akan berpengaruh besar pada setiap hubungan, setiap komunikasi, setiap proyek, dan setiap kerja sama bisnis. Ketika saling percaya hadir, maka segalanya akan berjalan lebih cepat dan biaya pun akan lebih murah.

Suasana saling percaya perlu secara khusus dibangun, dimulai dari membuat diri kita sendiri bisa dipercaya.

Sifat-sifat baik seorang pemimpin yang akan membuatnya dipercaya antara lain adalah berbicara jujur, menghargai orang lain, membangun transparansi, memperbaiki hal-hal yang tidak benar, menghasilkan kinerja yang baik, bertanggung jawab, mendengarkan, menjaga komitmen, dan mempercai tim.

Saling percaya dalam organisasi bisa dibangun melalui struktur, sistem kerja, sistem akuntabilitas, serta insentif yang mendorong terbangunnya saling percaya. Ketika organisasi bekerja dengan kompak dan secara konsisten membangun reputasi yang baik, maka pasar pun akan percaya dan brand yang kuat pun akan terbangun.

Ketika di samping mempunyai reputasi usaha yang baik, organisasi kita pun memberikan kontribusi kepada masyarakat dengan turut memecahkan dan menjadi solusi bagi masalah-masalah nyata di masyarakat, maka organisasi kita tidak hanya dipercaya oleh para pegawai dan pasar, tetapi juga masyarakat.

Di era persaingan bebas kini, di mana persaingan terjadi semakin ketat, kecepatan dan kelincahan organisasi menjadi sangat penting. Untuk itu keterpercayaan perlu dibangun, ditumbuhkan, dan dijaga. Hanya pemimpin yang dipercaya yang bisa membangunnya.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana


Warta : Orang Barat Banyak Perdalam Pemahaman Islam

Mei 3, 2010

Ahad, 2 Mei 2010 14:35

Padang, NU Online. Berdasarkan penelitian menunjukkan orang-orang Barat di dunia kini banyak yang memperdalam pengetahuan mereka untuk memahami Islam.

Hal tersebut dikatakan Direktur International Institute of Islamic Thought (IIIT) South East Asia Drs Mohammad Siddik MA di sela seminar internasional “Islamic Epistemology and Education Reform”, di Kampus Unand Limau Manis Padang, Sabtu (1/5).

“Ini terjadi karena mereka tidak mampu mengatasi persoalan ekonomi dan sosial mereka, apalagi dalam menjawab ilmu alam,” katanya.

Sebagai pembicara dalam seminar tersebut adalah Prof Dr Mulyadhi Kartanegara dari Universitas Islam Jakarta, Prof Dr Said Ahmad dari universiti Putra Malyasia, dan Prof Dr Bustanuddin Agus MA dari Universitas Andalas.

Menurut Siddik, ilmu pengetahuan yang mereka gali dan kembangkan ternyata tidak semua bisa dipahami hanya dengan akal saja.

Penelitian yang dilakukan seorang ilmuwan asal Perancis hingga telah menulis sebuah buku tentang Bibel, dan Al-Qur’an dalam ilmu modern (khsusunya Al Islam), justru mengakui bahwa kandungan Al-Qur’an ternyata luar biasa memuat semua pengetahuan tentang alam.

“Bahkan banyak dari para peneliti itu yang masuk menjadi Muslim,” katanya, peristiwa demikian telah membuktikan bahwa Islam itu tidak mengenal dikotomi dalam bidang ilmu apa saja.

Siddik mengatakan, dengan dasar itu kini Islam makin berkembang di dunia, hingga di Amerika Serikat penganutnya kini sudah berdiri sebanyak 400 unit masjid yang sebelumnya hanya satu unit masjid. Warga Amerika Serikat berbondong-bondong masuk Islam, juga karena terjadinya kekosongan jiwa pada mereka.

Karena itu, katanya berharap, Universitas Andalas ke depan dapat menjadi pusat pengembangan Ilmu Islam.

Rektor Universitas Andalas, Musliar Kasim menyambut harapan Direktur IIIT itu, dan selanjutnya melakukan sejumlah persiapan antara lain digelarnya workshop “Islamic Epistemology and Education Reform” itu. (ant/sam)


Ketika Kiai Saling Nyantri

April 1, 2010

Adalah dua orang Kiai di Tanah Jawa yang sangat terkenal kealimannya pada awal abad ke-20, yaitu Kiai Cholil Bangkalan (wafat 1925) yang merupakan gurunya kiai setanah Jawa bahkan se Nusantara. Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Hasbullah adalah di antara para muridnya. Selain itu ada Kiai Muhammad Dahlan Jampes Kediri, seorang waliyullah yang menjadi guru para Kiai sezamannya dan yang menurunkan seorang ulama besar yaitu Kiai Ihsan Jampes penulis beberapa kitab seperti Sirajut Thalibin dan Manahijul Imdad yang terkenal di seluruh dunia.

Sebagai seorang ulama, maka semakin tinggi ilmunya semakin tawadlu sikapnya, walaupun usianya sudah lanjut dan kealimannya diakui semua ulama, maka tidak ada halangan bagi Kiai Dahlan untuk nyantri pada Kiai Cholil di Bangkalan Madura. Meski telah belajar ke berbagai kiai terkemuka di seluruh pesantren di tanah Jawa, tetapi rasanya kurang lengkap bagi Kiai Dahlan kalau tidak berguru kepada kiai Cholil dan ingin diakui sebagai murid dari waliyullah ini.

Dengan meninggalkan pesantren dan santrinya berangkatlah Kiai Dahlan ke Bangkalan untuk nyantri kepada Kiai Cholil. Di sana diterima sebagai santri biasa, sehingga sempat menghuni pesantren itu beberapa bulan. Setelah beberapa bulan berlangsung Kiai Cholil berkata kepada Kiai Dahlan agar segera pulang, sebab semua ilmu yang dimiliki sudah habis sudah diajarkan semua. Sebagai ketaatan pada guru maka setelah memperoleh ijazah dari Kiai kharismatik tersebut maka pulanglah Kiai Dahlan ke Pesantrennya, kembali mengajar para santri.

Betapa kagetnya Kiai Dahlan selang beberapa bulan kemudian Kiai Cholil datang ke pesantren Jampes Kediri dengan niat untuk berguru menjadi santri Kiai Dahlan, sebab ada beberapa ilmu penting yang belum dikaji Kiai Cholil dan ilmu itu hanya dimiliki Kiai Dahlan.

Setelah terjadi perbincangan lama, maka diterimalah Kiai Cholil sebagai santri mengkaji beberapa disiplin keilmuan di bawah bimbingan Kiai Dahlan. Hubungan keduanya menjadi berbalik yang semula kiai Cholil menjadi guru sekarang diperlakukan sebagai muridnya. Sementara Kiai Dahlan menjadi gurunya dan bertindak sebagai guru.

Setelah beberapa bulan belajar di pesantren itu, maka Kiai Dahlan memangggil Kiai Cholil dan mengatakan bahwa saat ini jumlah santri baru yang mendaftar semakin banyak, sehingga kamar pondok tidak lagi mencukupi, karena itu Kiai Cholil dipersilahkan agar segera pulang biar kamarnya bisa untuk menampung santri baru. Setelah memproleh ijazah dari Kiai Dahlan, maka pulanglah Kiai Cholil Bangkalan ke Pesantrennya di Bangkalan.

Dalam tradisi pesantren mencari ilmu memang tidak ada batasnya, meski telah lanjut usia, meski telah berada di puncak ketenaran. Bagi para ulama ilmu bukanlah popularitas, tetapi sarana menuju ketakwaan. Ilmu yang tidak menambah ketakwaan hanyalah kehampaan, ilmu yang mendekatkan kepada Allah adalah ilmu yang benar-benar manfaat, migunani, karena itu akan terus dicari sepanjang hayat. (NU-On;ine ; Abdul Mun’im DZ – Diceritakan Gus Irfan Masruhin, keluarga Kiai Ihsan Dahlan Jampes Kediri)


Inzet : Jurnalistik

Maret 24, 2010

Jurnalistik sudah berkembang sangat pesat. Tidak lagi sebatas jurnalistik media cetak, tapi juga telah merambah media elektronik radio dan televisi, bahkan kini sudah masuk ke dunia cyber media yang kita kenal dengan jurnalistik online.

Hakekatnya, Jurnalistik merupakan rangkaian proses pencarian data dan informasi, sumber dan peliputan berita, kemudian pengolahan dan penyebaran informasi tersebut di ekspos melalui surat kabar, majalah, radio, dan atau televisi.

Menjadi jurnalis, jelas harus menguasai beberapa teknik dasar seperti menulis, wawancara, liputan langsung (investigative), mempresentasikannya, serta kemampuan mengoperasikan perangkat kamera foto (foto jurnalistik) maupun kamera video.

Kini, disaat media cetak dan elektronik media cetak dan elektronik menjadi sebuah industri informasi, kebutuhan sumber daya manusia yang menguasai skill di bidang jurnalistik kian bertambah tinggi. Jelas, tampaknya ini merupakan peluang dan tantangan bagi para calon jurnalis muda. (**)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.