Menghapus Dikotomi, Mengintegrasikan Ilmu

ina-winagsih-falaq(PESERTA Olimpiade Astronomi dan Astrofisika (IOAA) ke-2 2008 mengerjakan soal-soal dengan pengamatan langsung di Observatorium Bosscha di Lembang Kab. Bandung, Agustus 2008. Melalui integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu umum seperti pada bidang astronomi, kegiatan ini diharapkan menghasilkan pendidikan yang bersifat holistik dan terintegrasi sesuai dengan tujuan eksistensi manusia di dunia.* M. GELORA SAPTA/”PR”)

 

Dikotomi ilmu-ilmu agama versus ilmu umum, ilmu dunia versus ilmu akhirat, dan sejenisnya, pada praktiknya lebih banyak memberi dampak negatif daripada positif. Secara pribadi, hal ini cenderung mengarah pada terbentuknya kepribadian terbelah (split personality) dan secara komunal mengarah pada terciptanya disintegrasi kebudayaan dan peradaban. Bagaimana pandangan dunia tauhid mengintegrasikan kembali kedua jenis ilmu ini? Melalui penguasaan yang mendalam terhadap khazanah keilmuan klasik Islam ataupun modern Barat, penulis menawarkan langkah-langkah integrasi ilmu yang mencakup aspek-aspek:

– Landasan atau basis integrasi ilmu.

– Integrasi objek dan sumber ilmu.

– Integrasi bidang-bidang ilmu eksakta (matematika, fisika, biologi, kimia, dan sebagainya) dan sosial (filsafat, psikologi, psikologi sosial, sosiologi, antropologi, dan sebagainya).

– Integrasi metode dan penjelasan ilmiah.

– Integrasi ilmu-ilmu praktis dan teoretis.

Dengan demikian, melalui integrasi ilmu-ilmu agama dan ilmu umum diharapkan menghasilkan pendidikan yang bersifat holistik dan terintegrasi sesuai dengan tujuan eksistensi manusia di dunia ini, yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT dengan memikirkan ayat-ayat-Nya.

Dikotomi ilmu ke dalam ilmu agama dan nonagama, sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Islam telah mempunyai tradisi dikotomi ini lebih dari 1.000 tahun silam. Sekalipun dikotomi ini antara ilmu-ilmu agama dan nonagama itu telah dikenal dalam karya-karya klasik, seperti oleh Al-Ghazali dan Ibnu Khaldun, mereka tidak mengingkari, tetapi mengakui validitas dan status ilmiah tiap-tiap kelompok keilmuan tersebut.

Berbeda dengan dikotomi yang dikenal di dunia Islam, sains modern Barat sering menganggap rendah status keilmuan ilmu-ilmu keagamaan. Menurut mereka, ketika berbicara tentang hal-hal gaib, ilmu agama tidak bisa dipandang ilmiah karena suatu ilmu baru bisa dikatakan ilmiah apabila objek-objeknya bersifat empiris.

Ketika ilmu-ilmu sekuler positivistik diperkenalkan ke dunia Islam lewat imperialisme Barat, terjadilah dikotomi yang sangat ketat antara ilmu-ilmu agama, sebagaimana yang dipertahankan dan dikembangkan dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional (pesantren) di satu pihak, dan ilmu-ilmu sekuler yang diajarkan di sekolah-sekolah umum yang disponsori pemerintah di pihak lain. Dikotomi ini menjadi sangat tajam karena telah terjadi pengingkaran terhadap validitas dan status ilmiah yang satu atas yang lain.

Pihak kaum tradisional menganggap bahwa ilmu-ilmu umum itu bidah atau haram dipelajari karena berasal dari orang-orang kafir, sedangkan para pendukung ilmu-ilmu umum menganggap ilmu-ilmu agama sebagai pseudoilmiah, atau hanya sebagai mitologi yang tidak akan pernah mencapai tingkat ilmiah, karena tidak berbicara mengenai fakta, tetapi makna yang tidak bersifat empiris.

Pada saat ini, justru dikotomi seperti inilah yang terjadi dan telah menimbulkan berbagai problem yang akut dalam sistem pendidikan kita. Di sekolah-sekolah umum, kita masih mengenal pemisahan yang ketat antara ilmu-ilmu umum, seperti fisika, matematika, biologi, dan sosiologi dengan ilmu agama, seperti tafsir, hadis, dan fikih. Seakan-akan muatan religius itu hanya ada pada mata-mata pelajaran agama, sedangkan ilmu-ilmu umum semuanya adalah profan dan netral dilihat dari sudut religi. Padahal, dalam mempelajari fenomena-fenomena alam dan yang menjadi objek-objek ilmu umum, ilmu-ilmu agama dapat dengan mudah kita jumpai.

Dalam pandangan keilmuan Islam, fenomena alam tidaklah berdiri tanpa relasi dan relevansinya dengan kuasa Ilahi karena seperti dikatakan Muhammad Iqbal, ia merupakan medan kreatif Tuhan sehingga mempelajari alam akan berarti mempelajari dan mengenal dari dekat cara kerja Tuhan di alam semesta.

Dengan demikian, penelitian tentang alam semesta dapat mendorong kita untuk mengenal Tuhan dan menambah keyakinan kepada-Nya, bukan sebaliknya, seperti yang terjadi di Barat, ketika para ilmuwannya cenderung menolak Tuhan justru setelah mempelajari alam dengan saksama.

**

Seyyed Hossein Nasr mengatakan, ketika ilmuwan-ilmuwan Muslim mempelajari fenomena alam yang begitu kaya, mereka melakukannya bukan sekadar melunaskan rasa ingin tahu belaka, melainkan untuk mengamati dari dekat jejak-jejak Ilahi. Fenomena alam bukanlah realitas-realitas independen, melainkan tanda-tanda (signs/ayat) Allah, yang dengannya kita diberi petunjuk akan keberadaan Tuhan, kasih sayang, kebijaksanaan, dan kepintaran-Nya.

Di antara ilmu-ilmu agama dan umum seharusnya tidak ada klaim yang berlebihan, karena keduanya sama-sama menempati posisi yang mulia sebagai objek ilmu. Kenyataan ini pada gilirannya akan menyadarkan kita tentang derajat dan status ilmiah yang sama di antara ilmu-ilmu agama dan umum. Namun sayang, dalam kenyataannya, masyarakat kita masih sangat membedakan status ilmiah kedua kelompok tersebut. Tentu saja keadaan seperti ini tidak boleh dibiarkan, yang pada gilirannya akan menimbulkan masalah yang lebih besar dan serius lagi. Oleh karena itu, suatu upaya harus dilakukan untuk bisa mengatasi masalah dikotomi ilmu ke dalam suatu sistem yang integratif dan holistik.

Dikotomi yang begitu ketat antara ilmu-ilmu agama dan sekuler tentunya sangat disayangkan karena telah mengarah pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi antara keduanya, dan bahkan cenderung pada penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang juga sangat berbeda dengan sudut jenis dan prosedurnya. Demikian tegas pemisahan di antara mereka, sehingga kedua kelompok tersebut seakan-akan tak pernah bisa dipersatukan. Namun, saya melihat bahwa dalam sistem ilmu yang integral-holistik, pemisahan tersebut masih bisa diatasi dengan cara menemukan basis yang sama bagi keduanya.

Sumber utama ilmu-ilmu agama adalah Kitab Suci, yang diwahyukan secara langsung oleh Tuhan kepada nabi-nabi-Nya, dalam Islam kepada Nabi Muhamamad saw. Sementara sumber dari ilmu-ilmu umum adalah alam semesta yang terhampar luas di hadapan kita mulai galaksi-galaksi yang sangat luas sampai atom-atom yang sangat kecil dan juga diri kita sendiri sebagai manusia. Yang menarik adalah pernyataan Tuhan sendiri yang memandang, baik Alquran maupun alam semesta sebagai “tanda-tanda (ayat) Tuhan”.

Dengan demikian, jelas bahwa, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum sebenarnya sama-sama mengkaji “ayat-ayat Allah”, namun yang pertama mengkaji ayat-ayat bersifat qauliyah (qur`aniyyah), yang kedua ayat-ayat yang bersifat kauniyah (alam). Dan karena sama-sama ayat Allah, keduanya merujuk pada realitas sejati (The Ultimate Reality) yang sama, yaitu Allah sebagai sumber dari segala kebenaran. Dialah realitas yang menjadi objek penelitian setiap ilmu, baik yang bersifat naqliyah (agama) maupun aqliyah (akal/dalil rasional). Di sinilah basis integrasi ilmu-ilmu agama dan umum, yakni pada ayat-ayat Allah, yang berupa kitab di satu pihak, dan alam semesta di pihak lain.

Sumber ilmu adalah alat atau sesuatu dari mana manusia bisa mendapatkan informasi tentang objek-objek ilmu yang berbeda-beda sifat dasar (tabiat)-nya. Ketika sains Barat membatasi objeknya hanya pada entitas-entitas fisik, alat atau sumber yang mereka pakai untuk memperoleh pengetahuan tentang entitas-entitas fisik tersebut adalah indra-indra fisik (senses). Tentu saja indra merupakan alat yang canggih untuk memperoleh informasi tentang benda-benda fisik dari berbagai dimensi, yakni bentuk, suara, rasa, raba, dan bau.

Baik ilmuwan Barat maupun ilmuwan Muslim tidak berselisih paham tentang ini, yakni tentang pentingnya indra sebagai sumber ilmu. Hanya, karena objek-objek ilmu tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga nonfisik, tentunya perlu dicari alat (sumber) ilmu pengetahuan lain yang mampu menggali informasi tentang objek-objek nonindrawi. Dengan demikian, dalam epistemologi Islam, ilmuwan-ilmuwan Muslim mengakui tiga macam alat ilmu yang mampu menguak segala jenis objek ilmu, baik yang bersifat fisik maupun nonfisik, yaitu indra, akal, dan hati (intuisi).

Di saat para pemikir Barat hanya menggunakan metode observasi untuk meneliti objek kajian ilmiahnya dengan menggunakan panca indra (senses). Sementara itu, para pemikir Muslim menggunakan tiga macam metode sesuai dengan tingkat atau hierarki objek-objeknya, yaitu (1) metode observasi (sebagaimana yang digunakan di Barat) atau disebut tajribi, (2) metode logis atau demonstratif (burhani), dan (3) metode intuitif (irfani) yang masing-masing bersumber pada indra, akal, dan hati.

Metode observasi yaitu pengamatan indrawi (fisik) terhadap objek-objek yang ditelitinya, misalnya Al-Kindi yang menggunakan metode observasi di laboratorium kimia dan fisikanya. Metode demonstratif dipandang sebagai metode yang paling ilmiah, yang diharapkan dapat menangkap realitas dari objek-objek yang ditelitinya dengan tepat karena terhindar dari kekeliruan-kekeliruan logis, yaitu beberapa cara/prosedur yang keliru dalam pengambilan kesimpulan dari premis-premisnya–dalam filsafat dikenal dengan silogisme–karena itu dapat menghambat atau menghalangi akal untuk menangkap realitas dengan benar. Meskipun begitu, akal bukan satu-satunya alat yang bisa kita gunakan untuk menangkap realitas-realitas nonfisik. Pasalnya, selain akal, manusia juga dikaruniai hati “qalb” atau intuisi, yang bisa digunakan untuk tujuan tersebut.

Meskipun akal dan hati sama-sama mampu menangkap objek-objek nonfisik, keduanya menggunakan pendekatan dan cara (metode) yang berbeda. Suhrawardi menyebut pendekatan akal dengan (bahtsi) atau diskursif, sedangkan hati dengan (dzauqi) atau eksperensial. Dalam pendekatan bahtsi, objek-objek ilmu diketahui melalui penalaran akal atau logis, yakni menggunakan silogisme. Dengan demikian, objek-objek akal diketahui secara tidak langsung melalui proses pengambilan kesimpulan dari yang telah diketahui menuju ke yang diketahui. Oleh karena itu, pendekatan ini disebut juga pendekatan inferensial.

Berbeda dengan pendekatan rasional, pendekatan intuitif (dzauqi) disebut presensial karena objek-objeknya hadir dalam jiwa seseorang, dan karena itu modus ilmu seperti itu disebut ilmu hudhuri (knowledge by presence). Karena objek-objek yang ditelitinya hadir dalam jiwa, kita bisa mengalami dan merasakannya, dan dari sinilah istilah dzauqi (rasa) timbul. Selain itu, objek-objek itu juga bisa diketahui secara langsung, karena tidak ada lagi jurang yang memisahkan peneliti dengan objek penelitiannya, dan karena di sini telah terjadi kesatuan antara subjek dan objek, antara yang mengetahui (knower) dan yang diketahui (knowledge).

**

Para filsuf Muslim telah lama membagi ilmu pada dua jenis, yaitu teoretis dan praktis. Pembagian ini tentu terkait erat dengan pembagian akal oleh mereka ke dalam akal teoretis dan akal praktis. Perbedaan fundamental antara ilmu-ilmu teoretis dan praktis dari sudut objeknya adalah bahwa objek-objek ilmu teoretis berupa benda/entitas (baik fisik maupun nonfisik), sedangkan objek-objek ilmu praktis adalah tindakan volunter (bebas) manusia. Sementara dari sudut tugasnya, tugas utama akal teoretis adalah mendirikan bangunan ilmiah ilmu yang komprehensif, sedangkan tugas utama akal praktis adalah mengelola nafsu-nafsu manusia, sehingga akal praktis oleh mereka disebut sebagai mudabbir, manajer.

Dalam tradisi filsuf Islam, pengetahuan teoretis dan praktis–sesekali pun bisa dibedakan menurut objek dan tugasnya–tidak bisa dibedakan secara tegas tanpa menimbulkan disintegrasi pemahaman kita.

Dengan demikian, integrated science (ilmu-ilmu yang diintegrasikan) sangat diperlukan dalam dunia pendidikan Indonesia, mulai dari tingkat dasar sampai jenjang yang lebih tinggi agar tidak akan ada lagi dikotomi yang ekstrem di antara ilmu-ilmu agama dan umum, tetapi sebaliknya menjadi suatu kesatuan yang saling melengkapi dan menguatkan bahkan saling menyempurnakan satu sama lain.

Cara itu dapat dilakukan dengan terus memperbaharui dan merevisi kurikulum pendidikan sehingga siswa di semua jenjang pendidikan akan terbiasa dengan istilah integrated sciences dalam mengkaji suatu fenomena, baik fisik maupun metafisik. (Prof. Dr. Hj. Nina Winangsih Syam, Dra., M.S., Guru Besar Ilmu Komunikasi Unpad – Sumber : Pikiran Rakyat Online)***

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: