Wacana : Ranah Ulama

Ranah-Ulama2-IqbalULAMA (Arab : ’ulamaa’), adalah orang yang tahu atau memiliki pengetahuan ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT. Kata ulama merupakan bentuk jamak dari ‘alim yang keduanya berarti “yang tahu” atau “yang memiliki pengetahuan”.

Dalam Al Qur’an kata ulama ditemukan pada dua tempat. Pertama dalam surat Al Fatir ayat 28 yang artinya : “…sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNYA hanyalah ulama…”. Jika ayat ini dihubungkan dengan ayat sebelumnya, ayat 27, pengertian ulama pada ayat tersebut adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu ke-alam-an atau ilmu kauniyah. Kedua dalam surat Asy-Syu’ara ayat 196 dan 197, yang artinya : “Dan sesungguhnya Al Qur’an benar-benar (tersebut) dalam kitab-kitab orang dahulu. Apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?”. Di sini arti ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan agama.

Dari kedua ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa ulama adalah orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu ke-alam-an dan ilmu agama, dan pengetahuan yang dimilikinya itu dipergunakan untuk mengantarkannya pada rasa khasah (takut atau tunduk) kepada Allah SWT. Ada hadist yang diriwayatkan Imam Bukhari yang menyatakan: “Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi”. Meskipun Ibnu Hajar Al-Asqalani, ahli hadist meragukan keshahihan hadist ini, tetapi jiwa hadist ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Al Qur’an pada surat Al Fatir ayat 32 yang artinya : “Kemudian kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami…” . Ketika para nabi sudah tiada, maka tugas para nabi itu menjadi tugas para ulama, yaitu tabligh atau menyampaikan (surat Al Ma’idah ayat 67), tabyin atau menjelaskan (surat An-Nahl ayat 44), tahkim atau memutuskan perkara ketika ada persoalan di antara manusia (surat Al-Baqarah ayat 213), dan uswah atau contoh teladan (surat Al-Ahzab ayat 21).

Pada masa Al-Khulafaa-Ur-Rasyidin (empat khulafah pertama) tidak ada pemisahan antara orang yang memiliki pengetahuan agama, ilmu pengetahuan ke-alam-an, dan pemimpin politik praktis. Para sahabat Nabi Muhammad SAW umumnya memiliki pengetahuan keagamaan, pengetahuan kealaman, dan sekaligus mereka juga pelaku politik-politik praktis. Para sahabat terkemuka pada masa itu biasanya duduk dalam suatu dewan pertimbangan yang disebut Ahlul Halli wal-‘Aqdi. Oleh ulama, para sahabat ini kemudian disebut ulama salaf.

Baru pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan sesudahnya, istilah ulama lebih ditekankan kepada orang yang memiliki pengetahuan keagamaan saja. Bahkan karena ada pembidangan ilmu agama, istilah ulama lebih dipersempit lagi. Misalnya, ahli fiqih disebut fukaha, ahli hadist disebut Muhaddisin, ahli kalam disebut Mutakalim, ahli tasawuf disebut Mutasawuf, dan ahli tafsir disebut Mufasirin. Sementara itu orang yang memiliki pengetahuan tentang ilmu kealaman tidak lagi disebut sebagai ulama tetapi disebut ahli dalam bidangnya masing-masing. Tokoh-tokoh seperti Al-Khawarizmi, Al-Biruni, dan Ibnu Hayyan tidak disebut sebagai ulama, tetapi disebut sebagai ahli kauniyah.

Tokoh-tokoh itu baru disebut ulama jika merangkap memiliki ilmu pengetahuan keagamaan. Ahli filsafat juga tidak disebut ulama. Mereka disebut failasuf (filosof) atau hukama (orang-orang yang memiliki kebijaksanaan). Misalnya Al Khindi, Al Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan Ghazali. Kecuali jika mereka memiliki pengetahuan keagamaan, mereka bisa disebut ulama, misalnya Ibnu Rusyd, yang selain filosofi juga disebut sebagai ulama fikih karena keahliannya dalam bidang fikih sangat kuat dan Ghazali yang selain filosof juga dapat dikatakan sebagai ulama fikih, tasawuf, kalam dan ahli ilmu kealaman.

Di Indonesia, istilah ulama atau alim ulama yang semula dimaksudkan sebagai bentuk jamak, berubah pengertiannya menjadi bentuk tunggal. Pengertian ulama juga menjadi lebih sempit karena diartikan sebagai orang yang memiliki pengetahuan ilmu keagamaan dalam bidah fikih, di Indonesia ulama identik dengan fukaha, bahkan dalam pengertian awam sehari-hari, ulama adalah fukaha dalam bidang ibadah saja.

Betapapun semakin sempitnya pengertian ulama dari dahulu sampai sekarang, namun ciri khasnya tidak bisa dilepaskan, yakni ilmu pengetahuan yang dimilikinya itu diajarkan dalam rangka khasyyah, adanya rasa takut dan tunduk kepada Allah SWT. Memberi terang dalam kegelapan, bagai intan-berlian yang tiap sisinya memantulkan kemilau cahaya. Wallohu ‘alam bish-showab. *** (Iqbal1).

(Disadur dari judul “Ranah Politik Ulama dan Pesantren” ; Karya K.H. Nur Sodik ; Wakil Rois Syuriah PCNU – Kebumen ; Dalam http://pcnukebumen.wordpress.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: