Opini : Menimbang Peran Kyai

Oleh : Iqbal Istiqlal

(Tulisan ini telah Muat di Harian Pagi “Radar Bandung”, pada halaman Opini, Kolom Gagasan ; Rabu, 13 Januari 2010).

Dinamika, pergumulan dan panggung politik di Indonesia (mayoritas penduduknya beragama Islam), tidak lepas dari peran keterlibatan organisasi-organisasi Islam yang tumbuh di dalamnya. Bila dilihat dari gerakan orientasi garis besarnya, organisasi Islam terbesar di nusantara dipegang oleh Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Kedua organisasi yang berdiri sebelum Indonesia meneguk segarnya kemerdekaan ini telah banyak memberikan kontribusi bagi reformasi sistemik dalam negri yang terjadi dalam beberapa fase semenjak masih berkuasanya negara-negara kolonial, yaitu : pertama, fase sejarah gerakan pembaharuan pemikiran dalam Islam pada awal abad ke-20, kedua, fase sejarah gerakan pembaharuan dalam Islam pada pertengahan abad ke-20, dan ketiga, fase sejarah gerakan pembaharuan dalam Islam menjelang berakhirnya abad ke-20.

Gerakan pembaharuan ini terjadi terutama didasarkan pada satu asumsi bahwa Islam merupakan agama yang memiliki landasan yang tegas dan bersumber dari beberapa isyarat naqliyyah, yang tersurat maupun tersirat terangkum baik dalam firman-firman-Nya maupun yang tertuang dalam sabda-sabda utusan-Nya. Sebab al-Quran dengan sendirinya telah membentuk sebuah konstitusi bangunan yang aktual (Fazlur Rahman, 1987:47).

Bukan hanya sekedar itu saja, keberhasilan peradaban modern yang telah kita rasakan sekarang ini -terlepas dari terjadinya pembelokan etos yang dialami ummat Islam-  tidak lepas dari peran kharismatik para pemuka-pemuka Islam atau lebih akrab dipanggil kyai. Mereka memiliki komitmen memperjuangkan kemaslahatan ummat yang disertai dengan sifat tawakal, wara’, tawadla dan tanpa pamrih. Sepak terjang mereka seolah menebarkan suasana damai dan memberikan pencerahan bagi setiap kendala yang dihadapi negara baik yang menyangkut masalah internal maupun eksternal dengan bertitik tolak pada usaha menjalankan proses mendekatkan diri kepada Allah SWT.

 Lalu mengapa peran seorang kyai cenderung efektif, paling tidak bagi kalangan komunitasnya?. Jawabannya sangat sederhana, mereka merupakan sosok komunikator dengan tingkat kredibilitas kharismatik yang melekat pada eksistensi kehidupannya. Di kalangan ummat wejangannya, seorang kiyai menjadi pusat kepentingan (center of interest), mereka menjadi rujukan pengambil keputusan bukan hanya dalam masalah religius saja tetapi juga sosial, politik, kesehatan, ekonomi dan kebudayaan baik yang mengikat kepentingan individual maupun kolektif.

Selain itu, jika dilihat dari fungsi sosiologisnya, menurt Geertz yang dikutip dan diterjemahkan oleh Asep. S Muhtadi, kyai dapat dilihat sebagai “makelar budaya” (cultural broker). Mereka menyaring setiap informasi dan budaya yang masuk ke dalam lingkungan kaum santri, menularkan apa yang dianggapnya berguna dan membuang apa yang dianggapnya merusak bagi mereka. Menurut pemimpin pesantren al-Falaahiyyah, Sumedang, KH. Ado Murtado peran kyai sangat kuat dalam melakukan regulasi, seleksi dan filterisasi atas informasi, nilai-nilai dan sikap-sikap positif yang seharusnya dikembangkan oleh masyarakat. Dengan demikian, mereka ikut berperan dalam merumuskan skala prioritas sendiri atas perubahan yang mungkin terjadi dalam masyarakat. Keengganannya terhadap urusan formal kenegaraan, pengaruh mereka juga memberikan kekuasaan moral yang luar biasa, sekaligus mempersembahkan kedudukan kepada mereka sebagai suatu kelompok intelektual yang bermoral. Mereka mempunyai perasaan kemasyarakatan tingkat tinggi dan selalu melandaskan sesuatu melalui kesepakatan.

Akan tetapi sering sekali mereka yang tidak mempunyai pemahaman baik, mengkultuskan kyai sebagai biang feodalisme dalam beragama (religio feodalism). Padahal jika ditelusuri, sejatinya bukan praktik feodalisme yang  diterapkan melainkan pendidikan yang tegak lurus dengan pemahaman-pemahaman hukum Islam. Sebagai contoh ketika seorang santri hendak bersalaman dengan gurunya yang juga seorang kyai, mereka senantiasa mencium tangan gurunya. Pada saat yang bersamaan, kyai itu pun tidak boleh membiarkan orang lain mencium tangannya jika sifat takabur akan tumbuh di dalam hatinya.

Salah satu bukti konkrit mengenai kesuksesan keikutsertaan kyai dalam menata kehidupan berbangsa dan bernegara adalah ketika KH. Abdurrahman Wahid (alm) terpilih sebagai presiden RI. Bahkan proses terpilihnya beliau sebagai presiden adalah proses Pemilu yang paling dermokratis sepanjang sejarah kekuasaan di Indonesia. Tidak sampai di situ, jajaran kabinet kementrian dan kursi-kursi di lembaga lain tidak pernah tidak diisi oleh sosok kyai.

Catatan mengenai analisis Ramage (1995:87), ketika Undang-undang Nomor 8 Tahun 1985 yang menetapkan Pancasila sebagai satu-satunya asas yang diberlakukan, NU sebagai ormas Islam yang terkenal didukung oleh kalangan tradisionalis segera menyambut dan menerimanya, mendahului Muhammadyah yang dikenal sebagai tempat berkumpulnya kaum Islam modernis. Pemerintah pun saat itu tampak semakin bersikap kooperatif. “In the Cabinet and government, all doors were open to NU and Abdurrahman Wahid”.

Seiring dengan kemajuan zaman, perkembangan pesantren kurang mendapatkan dukungan yang memadai dari pemerintah. Keterpurukan malah dialami pesantren ketika para santri dan kyai yang ada di lingkungan tersebut harus didata karena isu teroris. Kaca mata masyarakat umumnya memandang kultur dan latar belakang pesantren sebagai jalan pintas juga alternatif terakhir dan ortodok. Jika anak-anak mereka sakit, terhambat biaya atau mengalami kelainan, tujuan pendidikan yang mereka pilih adalah pesantren. Padahal sudah terbukti bahwa lulusan pesantren telah banyak mencetak anak bangsa yang berkwalitas.

Keberadaan sosok kyai semakin lama semakin langka. Mereka seperti bahan bakar minyak yang tidak dapat diperbaharui, jika sudah ditambang maka akan habis persediannya. Padahal dari 3 milyar lebih penduduk dunia, mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Di lain pihak perusahaan pencetak kader-kader kiyai (pesantren) lambat laun akan mengalami kerusakan sistemik yang diakibatkan berbagai masalah yang kompleks dan rumit. Sekaranglah saatnya bagi generasi muda menerima tongkat estafet dari para pendahulunya serta mengemban tugas meneruskan perjuangan yang telah mereka lakukan dengan mempertaruhkan harta, tenaga, pikiran dan waktu. Mereka akan merasa bangga jika tapak tilas mereka yang tersisa saat ini bisa dikembangkan. Wallaahul Muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.*** (Iqbal1, 30/12/09).

3 Balasan ke Opini : Menimbang Peran Kyai

  1. ariefmas mengatakan:

    pekerjaan rumah selanjutnya setelah estafet per-kyai-an ialah bagaimana memberdayakan ekonomi santri.
    sebagian besar tingkat kehidupan mereka bisa tergolongkan ekonomi lemah.
    ada pendapat ?

    • iqbal1 mengatakan:

      Tks. Itu slh satu penunjang penting dan muskil ; ada 2 faktor besar yg mutlak mesti diatasi ; Kemiskinan Struktural dan Kultural.
      Solusi jangka pendek al. mendorong kemandirian mereka dg tambahan membekali ilmu & ketrampilan yg menunjang ekonomi atau pendapatan.

      Mudah2an harapan nyata ke arah ini membuahkan hasil, dg kiprah semua fihak tentunya…

      Ada lagi masukan dr yg lain ? – Tks.

  2. Idan mengatakan:

    Meningkatkan ekonomi santri yg lemah ini, sangat berat jika harus dipikul sendirian oleh penggiat santri / penyelenggara pesantren. Kenyataan ini potret negeri kita ; kelemahan ekonomi, kemiskinan serta kebodohan. Bagian dari krisis multidimensi yg sukar dipecahkan.
    Memperbaiki kelemahan ekonomi santri, sama dg memperbaiki taraf ekonomi rakyat negeri kita.

    Aktivasi pemenuhan ekonomi santri rata2 di sektor non-formal ; swasta, wirausaha, dagang, pertukangan, petani, peternak, nelayan, buruh, dll. Mayoritas lemah memang untuk skala modern.
    Karena hambatan kompetensi dan formalitas, aktivasi santri sedikit yg di sektor formal, birokrasi, teknokrat, financiring, jasa modern, dll. Lahan yg biasa disebut kuat secara ekonomi.

    Untuk belajar ilmu2 agama di pesantren dengan baik saja bagi santri sudah cukup berat. Apabila kemudian harus ditambah mengikuti pendidikan formal dan atau keterampilan yg juga memakan waktu dan biaya ; tentu menambah beban berat bagi yg tdk siap. Tetapi bukan tdk mungkin dilakukan.

    Kembali kepada santri sendiri, agar mereka mempunyai nilai kompetisi ekonomi bernilai tambah dan sikap tdk kebergantungan dg memiliki ilmu & keterampilan, serta adanya empaty dari yg memberi kesempatan kpd mereka seandainya peluang ada.

    Secara teoritis untuk membincangkan pengentasan kelemahan ekonomi ini sangat menarik dan terbuka sangat lebar dan senantiasa wajib kita lakukan. Istilah memberantas kemiskinan perlu diperbaiki, karena kemiskinan bukanlah kejahatan.

    Di Blog Mas Ariefs, ada kegiatan farming, beternak puyuh, dll., ini bisa jadi satu kegiatan yang sangat bisa diambil contoh baik. Perlu ditularkan kepada para santri untk mengangkat kelemahan ekonominya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: