Opini : Optimalisasi Funggsi Lembaga Peradilan

Oleh : Iqbal Istiqlal

(Tulisan ini telah muat di Harian Pagi “Radar Bandung”, pada halaman Opini ; Selasa, 26 Januari 2010)

Mafia hukum adalah virus yang menjalar hampir di sekujur tubuh peradilan negeri tercinta. Cengkramannya dinilai kuat dan melekat sehingga merekayasa bentuk peradilan dan kebenaran. Mafia hukum menyulap yang bengkok menjadi lurus, mendekor berita acara pemeriksaan yang benar menjadi salah sesuai kehendak. Sungguh kejahatan yang mengerikan.

Survei LP3ES, 14-15 November 2009, mengindikasikan, jika tahun 2005 tingkat kepuasan masyarakat terhadap lembaga penegak hukum mencapai 51 persen, tahun 2009 melorot menjadi 19 persen. Rekaman pembicaraan seorang mafia hukum yang diperdengarkan kepada publik secara terbuka di Mahkamah Konstitusi (MK) adalah bukti kuat yang menunjukkan betapa bobroknya mentalitas aparat penegak hukum. Seorang Anggodo bisa mereka-reka berita acara pemeriksaan agar disesuaikan dengan keinginannya.

Kekecewaan yang demikian hebat terhadap dunia penegakan hukum itulah yang kemudian dapat membangunkan bahasa hati publik serta bisa membebaskan Bibit-Candra dari rekayasa yang dikendalikan seorang mafia hukum yang bernama Anggodo. Bibit dan Candra akhirnya dimenangkan di luar pengadilan. Publik pun mengingatkan Presiden untuk mengambil langkah yang lebih tegas terhadap mafia hukum yang merongrong, terutama pada dua lembaga yang langsung bertanggung jawab kepada Presiden, yaitu kejaksaan dan kepolisian.

SBY pun tunduk, maka dibentuklah sebuah lembaga ekstra di bawah Presiden yang diberi nama Satuan Petugas Pemberantas Mafia Hukum yang diketuai oleh Kuncoro Mangkusubroto dengan sekertaris Deni Indrayana yang dalam kesehariannya mereka adalah Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengendalian dan Pengawasan Pembangunan (UKP4) dan Staf Khusus Presiden di bidang hukum. Turut menjadi anggota, Wakil Jakgung Darmono, Ketua PPATK Yunus Husein, Staf Ahli Kapolri Irjen Pol Herman Efendi dan mantan Pelaksana Tugas Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa. Satgas ini adalah yang kesekian kalinya dibentuk pemerintah untuk melawan korupsi dan mafia peradilan.

Kritik untuk Satgas

Dari zaman Orde Baru sampai zaman reformasi telah dibentuk banyak lembaga sejenis dan semuanya gagal. Gagal lantaran campur tangan mafia hukum telah memasuki buku-buku hukum demikian hebatnya. Satgas ini benar secara fungsional, tetapi keliru memilih bentuk. Lembaga-lembaga penegakan hukum ada dan lengkap di Republik Indonesia, tetapi kita selalu tergoda untuk membentuk lembaga baru hanya karena lembaga yang ada tidak fungsional.

Semua itu memperlihatkan sebuah kelemahan yang sangat serius dalam soal fungsionalisasi kelembagaan di negara kita. Ketika polisi dan kejaksaan tidak berfungsi, dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Sekarang ketika KPK mulai loyo, dibentuklah lagi Satgas. Sepertinya bangsa ini belum lepas dari kebiasaan dikelola oleh lembaga-lembaga yang begitu banyak, tumpang tindih dan kurang berfungsi serta memakan biaya yang tidak sedikit.

Keterlibatan oknum kejaksaan, kepolisian, dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di dalam tubuh Satgas menjadi pertanyaan. Keterlibatan 3 lembaga ini dalam tim membuka peluang kepentingan. Bagaimana memberantas mafia yang mengerogoti kejaksaan dan kepolisian kalau yang mengusut dan yang memeriksa adalah polisi sendiri dan jaksa sendiri. Selain itu, kewenangan eksekusi yang tidak dimiliki Satgas. Kita semua juga tahu, sebuah lembaga yang tidak memiliki kewenagan eksekusi mungkin akan mandul.

Bahasa hati

Tentu bangsa ini merasa dihianati jika pejabat publik, seperti polisi dan jaksa yang semestinya dekat dengan bahasa hati rakyat justru menjauhi publik yang seharusnya dilayaninya. Situasi inilah yang melatarbelakangi terjadinya perlawanan terhadap dua lembaga penegak hukum tersebut.

Meski kepuasan masyarakat terhadap kinerja penegak hukum merosot, tidak berarti upaya menegakkan keadilan terhenti, karena keadilan adalah kebutuhan kemanusian sepanjang masa. Bahasa hati inilah yang merebak keseluruh tanah air serta akan menjadi bom waktu timbulnya ledakan perlawanan rakyat terhadap lemahnya hukum di Indonesia yang dirasa hanya galak kepada kalangan miskin, tidak berani kepada kalangan elite.

Sekarang sudah masanya republik ini membenahi hati aparatnya agar senantiasa terhindar dari kekotoran yang menyebabkan reformasi tertatih-tatih. Jangan sampai saat orang lain berlari kita masih bingung menggunakan celana. Satu pernyataan yang wajib dihindari adalah “rakyat sendiri yang harus turun tangan dan menentukan keputusannya”. Pelajaran penting bagi negeri ini adalah memberikan perlindungan hukum dan keadilan bagi masyarakat secara komprehensif dan merata. Semoga.*** (Iqbal1, Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi – Bdg).

Satu Balasan ke Opini : Optimalisasi Funggsi Lembaga Peradilan

  1. Tobroni Yusuf, MBa. mengatakan:

    Ass wr. wb.,

    Sesungguhnya bila dilihat dg pendekatan sistem, lembaga peradilan yg dijalankan mustinya kuat dalam arti positif guna menegakkan hukum di negeri ini. Semua unsur2, unit2, element2 berinteraksi dan saling bersinergi satu ikatan yg utuh untk memerangi segala bentuk kejahatan yg melanggar hukum di NKRI itu sendiri.
    Adalah para pakar administrasi dan manajemen pernah melontarkan, diantaranya Prof. Dr. Sondang P. Siagian ; “Administrasi dan manajemen suatu instansi akan dapat berjalan dan berhenti salah satu penyebab utama adalah pada faktor sumber daya manusia. Oleh karenanya bila dalam penempatan SDM-nya salah, maka akan berdampak kepada input, proses transpormasi dan output, outcome dan benefit. Opsi yg harus dilakukan oleh segenap instansi, terutama oleh Top Manajer adalah bagaimana menempatkan SDM yg tepat kepada tempat yg tepat, sehingga akhirnya akan dapat menjalankan administrasi dan manajemen instansi dengan baik pula”.

    Wasslam.
    Dari Jambi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: