Opini : Pansus Kehilangan Arah

Oleh: Iqbal Istiqlal

Jika konstruksi dan kesimpulan publik berbeda dengan rekomendasi Pansus, maka kepercayaan rakyat terhadap DPR akan semakin merosot.

Kasus angket Century kini mempunyai wajah baru. Seluruh hiruk-pikuk gempita Pansus berangsur redup. Yang mulai menonjol adalah semangat koalisi, hasil akhir Pansus pun mudah ditebak. Pansus dibentuk untuk menyelesaikan kasus mega skandal bailout Rp.6.7 triliun ke bank Century. Sembilan fraksi di DPR sepakat membongkar tuntas kasus ini.

Pansus merebut kepercayaan publik karena ada kesemantikan, yakni mencari kebenaran. Dalam Pansus semua fraksi direduksi, ketiga puluh anggota Pansus sepakat hanya mengenal satu fraksi saja, yaitu Fraksi Pansus.

Akan tetapi, bulan madu Pansus tersebut tidak lama, semua poin-poin itu hanya menjadi kesepakatan awal. Kini kinerja tim baru ini memasuki bulan ke dua menjelang keluarnya rekomendasi Pansus, dan semua perekat mulai mengelupas. Egoisme dan kepentingan fraksi mengental dan menonjol kembali, kontrak politik dan komitmen koalisi diungkit lagi.

Bersebrangan

Sejatinya Pansus dan koalisi adalah dua hal yang berbeda, bahkan berseberangan. Pansus adalah wahana DPR melakukan penyelidikan untuk mencari kebenaran. Sebaliknya, koalisi adalah kesepakatan sejumlah partai politik untuk sama-sama menopang kebijakan pemerintah, bukan berskongkol untuk menutupi kebenaran. Karena itu, Pansus dilarang keras disertai kepentingan fraksi-fraksi atau yang berkoalisi.

Ketika kepentingan koalisi harus diserap Pansus, maka hilanglah makna Pansus itu, yakni mencari kebenaran. Padahal, Pansus harus bekerja objektif dan jauh dari su’udzan. Yang benar tidak boleh disalahkan, dan yang salah tidak boleh ditutup-tutupi apalagi dibenarkan. Begitu Pansus bertindak, empat fraksi koalisi sudah membuat kesimpulan bahwa tidak ada kesalahan bailout Bank Century. Yang paling tidak indah, sampai detik ini Pansus belum menyentuh aliran dana Century. Padahal, soal aliran dana itulah prasangka dimulai sehingga dibentuk Pansus.

Sungguh sangat disayangkan, semangat koalisi tidak hanya melemahkan Pansus, tapi juga mengaburkan arah Pansus. Ia kembali losecontrol dalam kepentingan sempit fraksi. Kerja Pansus yang terbuka dan disiarkan televisi ke seluruh penjuru negeri akan menjadi boomerang bagi anggota dewan, karena masyarakat telah mempunyai konstruksi dan kesimpulan sendiri atas skandal itu.

Kepercayaan

Di Indonesia, seperti dikatakan oleh Deddy Jamaluddin Malik (1997), komunikasi politik antara suprastruktur dan infrastruktur politik masih ditandai oleh sekurang-kurangnya tiga gejala yang saling berhubungan. Pertama, terlihat dari kondisi pada umumnya media massa yang lebih banyak menampilkan dan menyajikan pesan-pesan politik dari jajaran eksekutif. Kedua, komunikasi politik yang berlangsung di lembaga DPR/MPR juga masih diprakarsai oleh eksekutif, sementara lembaga wakil rakyat lebih banyak melegitimasi sehingga rancangan tersebut berubah menjadi undang-undang. Dan ketiga, dinamika arus politik bawah kurang utuh mengemuka terutama karena self-cencorship media massa. Akibatnya, program pembangunan masih belum melahirkan inovasi dan kretivitas pembangunan dari bawah secara optimal.

Tingkat kepuasan publik atas kinerja Yudhoyono berdasarkan jajak pendapat dan survei Litbang Kompas, LSI, serta Indobarometer, pada Januari 2010, adalah 59,1 persen, 70 persen, dan 74,5 persen. Tingkat kepuasan pada survei sebelumnya dari ketiga lembaga itu secara berurutan adalah 88,2 persen (Juli 2009), 85 persen (Juli 2009), dan 90,4 persen (Agustus 2009). (Kompas, 28/01/2010)

Jika konstruksi dan kesimpulan publik berbeda dengan rekomendasi Pansus, maka kepercayaan rakyat terhadap DPR akan semakin merosot. Tetapi pernahkah DPR sebaliknya peduli terhadap kemerosotan citra yang tergerus oleh ketidakpercayaan publik. Jangan-jangan para anggota DPR tahun ini pun sama saja dengan wakil rakyat sebelumnya. Mungkin . . . *** (Iqbal1 ; Tulisan ini telah muat di Harian Umum “Radar Bandung” pada kolom Opini).

2 Balasan ke Opini : Pansus Kehilangan Arah

  1. mahesa wira mengatakan:

    ….yang di atas bicarain yang sulit dicerna rakyat…
    rakyat tetep makan yang sulit dicerna yang di atas…gaplek nasi basi malah kadang nggak makan…coba 6,7 T buat beli gaplek ya…

    ———–
    Moga2 dg sedikit tulisan2 disini ada manfaat memperbaiki keadaan…
    Salam
    Iqbal

  2. Pesona Muslim mengatakan:

    Postingannya keren..jika tdk keberatan bergabunglah di aggregasi web kami,cukup memasang banner kami,insya Allah setiap postingan sahabat terbaru akan muncul di web kami

    —————
    Tks atas kunjungan serta apresiasi ikhwan.
    Salam,
    Iqbal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: