Insert : Gus Durku, Bung Karnoku…

[ Kamis, 31 Desember 2009 ]

Oleh : Yahya C. Staquf

INI kehilangan tak terperi. Tapi, diam-diam aku merasakannya seperti formalitas saja. Ketuk palu atas sesuatu yang ditetapkan sebelumnya.

Kehilangan yang sesungguhnya telah terjadi dua be­las tahun lalu, ketika suatu hari kamar man­di kantor PB NU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama) di Kramat Raya, Jakarta, tak kunjung terbuka. Kamar man­di itu terkunci dari dalam dan Gus Dur berada di dalamnya.

Orang-orang meng­gedor-gedor pintu, tak ada sahutan. Ketika akhirnya pintu itu dijebol, orang mendapati Gus Dur tergeletak bersimbah darah muntahannya. Itulah strokenya yang pertama dan paling dahsyat yang sungguh-sungguh merenggut kedigdayaan fisiknya.

Sebelum malapetaka tersebut, Gus Dur adalah sosok ”pendekar” yang nyaris tak terkalahkan. Waktu itu, tak ada yang tak sepakat bahwa beliau adalah salah satu tumpuan harapan untuk masa depan Indonesia yang lebih baik.

Tapi, ketika akhirnya memperoleh kesempatan menakhodai bang­sa ini, keruntuhan fisik telah membelenggu beliau sedemikian rupa, sehingga gelombang pertempuran yang terlampau berat pun menggerusnya.

Saya tak pernah berhenti percaya bahwa seandainya yang menjadi presi­den waktu itu adalah Gus Dur sebelum sakit, pastilah hari ini Indonesia sudah punya wajah yang berbeda. Wajah yang lebih cerah dan lebih bersinar harapannya.

Saya telah menjadi pengagum berat Gus Dur dan mendaulat diri sendiri sebagai murid beliau sejak ma­sih remaja. Tapi, Gus Dur memang telampau besar untukku, sehingga aku tak pernah mampu menangkap secuil pemahaman yang berarti dari ilmunya, kecuali senantiasa terlongong-longong takjub oleh gagasan-gagasan serta tindakan-tindakannya

Ketika datang kesempatan ba­gi­ku untuk benar-benar mendekat secara fisik dengan tokoh idolaku, yaitu saat ditunjuk menjadi salah seorang juru bicara presiden, saat itulah pengalaman-pengalaman besar kualami. Bukan karena aku melompat dari san­tri kendil menjadi pejabat negara. Bukan sorot kamera pa­ra wartawan, bukan pula ta’dhim pegawai-pegawai negeri. Tapi, inspirasi-inspirasi yang berebutan menjubeli kepala dan dadaku dari penglihatanku atas langkah-langkah presidenku.

Sungguh, langkah-langkah Pre­siden Gus Dur waktu itu mengingatkanku kembali pada kitab DBR (Di Bawah Bendera Revolusi) yang kukhatamkan sewaktu kelas satu SMP dulu. Mengingatkanku pada ”Nawaksara”, mengingatkanku pada ”Revolusi belum selesai!”

Orang-orang mengecam kegemarannya berkeliling dunia, mengunjungi negara-negara yang dalam pandangan umum di­anggap kurang relevan dengan kepentingan Indonesia. Namun, aku justru melihat, daftar negara-negara yang beliau kunjungi itu identik dengan daftar undangan Konferensi Asia-Afrika.

Brasil mengekspor sekian ratus ribu ton kedelai ke Amerika setiap tahun, sedangkan kita meng­impor lebih dari separo jumlah itu, dari Amerika pula. Karena itu, presidenku datang ke Rio De Janeiro ingin membeli langsung kedelai dari sumbernya tanpa makelar Amerika.

Venezuela mengipor seratus persen belanja rempah-rempahnya dari Rotterdam, sedangkan kita mengekspor seratus persen rempah-rempah kita ke sana. Maka, presidenku menawari Hugo Chavez membeli rempah-rempah langsung dari kita.

Gus Dur mengusulkan kepada Sultan Hassanal Bolkiah untuk membangun Islamic Financial Center di Brunei Darussalam. Lalu, melobi negara-negara Timur Tengah untuk mengalihkan duit mereka dari bank-bank di Singapura ke sana…

Barangkali pikiranku melompat serampangan. Tapi, sungguh yang terbetik di benakku waktu itu adalah bahwa Gus Dur, presidenku, sedang menempuh jalan menuju cakrawala yang dicita-citakan pendahulunya, Pemimpin Besarku, Bung Karno.

Yaitu, mengejar kemerdekaan yang bukan hanya label, tapi kemerdekaan hakiki bagi manusia-manusia Indonesia. Yaitu, bahwa masalah-masalah bangsa ini hanya bisa dituntaskan bila berbagai ketidakadilan dalam ta­ta dunia yang mapan pun dapat diatasi. Yaitu, bahwa dalam perjuangan semesta itu harus tergalang kerja sama di antara bangsa-bangsa tertindas menghadapi bangsa-bangsa penindas.

Hanya, Gus Dur mengikhtiarkan perjuangan tersebut dengan caranya sendiri. Bukan dengan agitasi politik, bukan dengan machtsforming, tapi dengan lang­kah-langkah taktis yang substansial, cara-cara yang selama karir politiknya memang menjadi andalannya.

Yang bagi banyak orang terlihat sebagai kontroversi, bagiku adalah cara cerdik beliau menyiasati pertarungan melawan kekuatan-kekuatan besar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, yang terlampau berat untuk ditabrak secara langsung dan terang-terangan. Gus Dur terhadap Bung Karno, bagiku, layaknya Deng Xiao Ping terhadap Mao Tse Tung.

Tapi, pahlawanku bertempur di tengah sakit, seperti Panglima Besar Soedirman di hutan-hutan gerilyanya. Maka, nasib Diponegoro pun dicicipinya pula…

Banyak orang belakangan bertanya-tanya, mengapa orang tua yang sakit-sakitan itu tak mau berhenti saja, beristirahat menghemat umurnya, daripada ngotot seo­lah terus-menerus mencari-cari posisi di tengah silang-sengkarut dunia yang kian semrawut saja.

Saksikanlah, wahai bangsaku, inilah orang yang terlalu men­cintaimu, sehingga tak tahan walau sedetik pun meninggalkanmu. Inilah orang yang begitu yakin dan determined akan cita-citanya, sehingga rasa sakit macam apa pun tak akan bisa menghentikannya. Selama napas masih hilir-mudik di paru-parunya, selama detak masih berdenyut di jantungnya, selama hayat masih dikandung badannya.

Kini, Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah menyelimutkan kasih sayang paripurnanya untuk hamba-Nya yang mulia itu. Memperbolehkannya beristirahat dari dunia tempat dia mengais bekal akhiratnya. Semoga sesudah ini segera tercurah pula kasih sayang Allah untuk bangsa yang amat dicintainya ini agar dapat beristirahat dari silang-sengkarut nestapa rakyatnya. (**Yahya C. Staquf, mantan juru bicara Gus Dur ; dalam Mutiarahati)

Satu Balasan ke Insert : Gus Durku, Bung Karnoku…

  1. ChristianLouboutin mengatakan:

    One again, your article is very nice

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: