Figure : Ajengan Sanusi, Mufassir Sunda

Mufassir Sunda
Salah satu karya KH.Ahmad Sanusi yang banyak dikenal masyarakat sunda adalah kitab Raudhah al-Irfan fi ma’rifah al-Qur’an. Kitab itu bisa disebut sebagai kitab tafsir sunda. Tak banyak orang mengenal KH.Ahmad Sanusi sebagai ahli tafsir dari Sunda (Jawa Barat). Orang Sunda memanggilnya Ajengan Sanusi, Ajengan Cantayan, atau Ajengan Genteng. Ulama yang pernah hampir sebelas tahun meniti ilmu di Tanah Suci ini juga dikenal sebagai pendiri Persatuan Ummat Islam (PUI).
Sebaliknya ke Tanah Air, saat usia remaja, ia lebih banyak terlibat dalam dunia pendidikan dan menulis 125 buku. Buku karyanya meliputi berbagai bidang agama yang ditulis dalam bahasa sunda maupun Indonesia. Kelak sosok ulama Sunda ini dipenuhi aktivitas sosial keagamaan, plus mewariskan karya berharga kebanggaan masyarakat sunda.

Ia salah satu dari tiga ulama Sunda yang produktif menelorkan kitab-kitab ajaran Islam. Selain Sanusi ada pula Raden Ma’mun Nawawi Ibn Raden Anwar yang menulis berbagai risalah singkat, serta ulama penyair terkenal ‘Abdullah bin Nuh dari Bogor yang banyak menulis tentang ajaran-ajaran sufi.

Martin Van Bruinessen (Kitab Kuning, Mizan 1996), sarjana Belanda, menyebut tiga tokoh itu sebagai penulis karya orisinil dan bukan pen_syarah_(penyempurna) atas kitab-kitab tertentu, sebagaimana umumnya dilakukan para ulama Indonesia abad ke-19. Kitab Raudhatu al-Irfan fi Marifati al-Qur’an bisa dikatakan sebagai starting point di tengah tradisi tulis baca dunia pesantren yang belum cekatan dalam menelorkan karya tafsir yang utuh.

Banyak pesantren di ranah Parahyangan menggunakan kitab tafsir ini untuk proses belajar mengajar. Begitu pula pengajian kampung di lingkungan masyarakat yang dibimbing para alumni pesantren di Jawa Barat. Dan dengan mudah kita dapat menemukan kitab Tafsir ini di toko-toko kitab di pasar tradisional. Naik cetaknya juga sudah tak terhitung sejak diterbitkan oleh banyak penerbit berbeda tanpa tahun penerbitan pertama.

Kitab ini terdiri dari dua jilid. Jilid pertama berisi tafsir juz 1-15 al-Qur’an, dan jilid keduanya berisi tafsir juz 16-30. Kitab ini mepergunakan tulisan Arab dan bacaan Sunda, dilengkapi keterangan di sisi kiri dan kanan setiap lembar halaman sebagai penjelasan tiap-tiap ayat yang telah diterjemahkan.

Model penyuguhan ini, bukan saja membedakan kita tersebut dari tafsir yang biasa digunakan di pesantren atau masyarakat Sunda umumnya, melainkan untuk memberi pengaruh pada daya serap para peserta pengajian. Tulisan ayat yang langsung dilengkapi terjemahan di bawahnya dengan tulisan miring, sangat membatu pembaca untuk mengingat arti tiap ayat. Terlebih dengan adanya kesimpulan yang tertera pada sisi kiri dan kanan setiap halaman.

Keterangan sisi kiri dan kanan ini juga berisi penjelasan tentang waktu turunannya ayat (asbab nuzul), jumlah ayat, serta huruf-hurufnya. kemudian disisipi dengan masalah tauhid yang cenderung beraliran Asy’ari dan masalah fikih yang bermadzhab Syafi’i. Banyak pendapat mengatakan kedua madzhab dalam Islam tersebut memang dianut oleh kebanyakan masyarakat Muslim di Jawa Barat. Dari sini terlihat bagaimana KH.Ahmad Sanusi mempunyai cara tersendiri dalam menyuguhkan ayat-ayat teologi dan hukum yang erat berkait dengan paham masyarakat umumnya.

Pengertian perkata yang ada dalam tafsir ini tampaknya diilhami oleh Tafsir Jalalain karya Jalaluddin al-Suyuthi dan Jalaluddin al-Mahalli yang banyak digunakan di Lingkungan pesantren di Jawa. Ini terlihat dari awal penafsiran surat Al-Fatihah sampai surat-surat sesudahnya. Model tafsir mufradat (tafsiran kata perkata) yang lekat pada Tafsir al-Jalalain telah banyak memengaruhi KH.Ahmad Sanusi dalam meracik tafsir setiap kata al-Qur’an.

Mungkin ini yang bisa dilakukan dalam menulis tafsir yang memang sengaja dibuat untuk konsumsi kebanyakan masyarakat Muslim sunda yang belum memiliki kesadaran sempurna akan teks Kitab suci. Pada kenyataannya, pengguna tafsir ini memang terpikat berkat gaya penafsiran tersebut.

Faktor lain yang menyebabkan kitab ini banyak digunakan masyarakat Muslim Sunda, bisa jadi adalah ketokohan penulisnya. KH.Ahmad Sanusi dikenal sebagai pendiri organisasi al-Ittihadiyyatul Islamiyah yang bergabung ke dalam Persatuan Ummat Islam (PUI) pada 1952. Ia juga dikenal sebagai salah seorang pengikut tarekat Qadiriyah yang banyak dianut masyarakat pra-kemerdekaan. Bahkan, para pemuda yang berjuang untuk kemerdekaan, kerap meminta ajaran dan kekebalan kepada Kyai Sanusi berkaitan dengan terjemahan Manaqib Abdulqadir Jailani yang disusunnya, yang kemudian menjadi pedoman tarekat Qadiriyah.

Meski menggunakan tulisan Arab dengan bacaan Sunda, tapi para peserta pengajian dapat menyerapnya dengan mudah. Padanan kata yang digunakan pun sesuai dengan kosakata keseharian yang tidak menyita waktu maupun tenaga untuk menyerap isinya. Begitu pula pengalihistilahan arti yang disesuaikan dengan simbol-simbol makna bahasa Sunda. Seperti mengartikan kata dzarrah dengan biji sawi, yang memang diakui dan dikenal sebagai benda yang terkecil dalam tradisi bahasa Sunda.

Kitab Tafsir ini merupakan karya monumental seseorang yang bergelut lama di dunia pesantren. Bacaan atas teks-teks tafsir arab yang ada di lingkungannya telah menginspirasi KH.Ahmad Sanusi untuk membuat sebuah karya yang hingga kini masih layak dijadikan contoh oleh para pengkaji tafsir.***(FB)

Ref. :
http://www.pppui.blogspot.com/
http://ypibaniyasincantayan.blogspot.com/

2 Balasan ke Figure : Ajengan Sanusi, Mufassir Sunda

  1. mubarokatan mengatakan:

    seorang ahli tafsir yang tersembunyi….semoga dengan tulisan ini kita bisa mengenal dan meneladani beliau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: