KH Ahmad Dahlan : Modemisme, Antara Mitos dan Realitas

SATU hari di awal abad 19, seorang kiai keturunan priyayi KH Dahlan namanya, meneliti langgar dan mesjid-mesjid di sekitar Yogyakarta. Setelah diamati, banyak langgar yang menurutnya tak tepat benar mengarah kiblat. Hatinya terpanggil agar berbuat sesuatu. Semula sang kiai hendak merombak arah kiblat Mesjid Sultan Yogyakarta, tempat ia bekerja sebagai khotib di sana. Niat itu gagal lantaran mengundang banyak protes. Lalu ia buat langgar sendiri yang menurutnya cocok benar ke arah Ka’bah. Sayangnya -menurut kebanyakan orang Islam waktu itu- letak langgar KH Dahlan terasa aneh karena posisinya beda benar dengan langgar-langgar lain.

Posisi langgar yang musykil ternyata menimbulkan kontroversi. Kaum muslimin dibuatnya resah. Mereka menuduh KH Dahlan hendak membangun madzhab baru dalam Islam. Sementara yang lain menuding Dahlan sesat, membingungkan umat dan memecahkan persatuan Islam.

Demi menjaga stabilitas umat, seorang kiai lain -KH Muhammad Halil namanya- tampil guna menghabisi perkara. “Binasakan langgar itu!” Selesai. Fatwa sang kiai segera mendapat sambutan hangat masyarakat setempat. Orang Islam pun berbondong-bondong penuh gempita membinasakan langgar KH Dahlan.

Menurut cerita, betapa gundah hati sang kiai menyaksikan langgarnya dimusnahkan oleh saudara-saudaranya yang muslim juga. Ingin rasanya ia lari dan tanah kelahirannya, Yogya. Hati siapa yang tak gundah jika kehadirannya ditampik dan dicampakkan. Tapi begitulah nasib seorang pembaru sebagaimana kita dengar dari beberapa riwayat sejarah. Sang Nabi sendiri -Muhammad SAW- ditampik, dicampakkan dan bahkan dikejar-kejar oleh kafir Quraisy tatkala pertama mengajarkan Islam. Watak dasar manusia umumnya gampang curiga pada sesuatu yang baru. Tak salah jika ada pepatah Arab menyatakan : Al-nas a’da’u ma jahilu (manusia sering jadi musuh terhadap apa yang tidak diketahuinya).

Saya tak tahu, apa KH Dahlan ingat pepatah itu atau tidak. Yang jelas ia terus melanjutkan misi perjuangannya, meski pada saat-saat berdakwah sering diboikot dan dikejar orang. Dengan dukungan keluarganya, ia dirikan langgar yang baru sebagai tempat mengajarkan Islam barunya.

Tahun berikutnya KH Dahlan pun aktif di Budi Utomo. Di organisasi itu Dahlan mendapat tempat dan dukungan, sehingga para anggota Budi Utomo menyarankan agar Dahlan mendirikan berbagai sekolah yang didukung sebuah organisasi yang rapi. Inspirasi internal inilah agaknya yang mendasari kelahiran Muhammadiyah di tahun 1912 M.

Sementara inspirasi eksternal tumbuh ketika ide-ide pembaruan Islam Jamaluddin al-Afghani, Abduh dan Rasyid Ridla sedang menjadi trend baru di Mesir yang pada waktu itu menjadi pusat pemikiran Islam dunia. Kelahiran Muhammadiyah menurut Solichin Salam (1965 : 54) dilandasi oleh misi guna membebaskan orang-orang Indonesia dari kolonialisme, konservatisme, dogmatisme, formalisme, tradisionalisme dan isolasionisme. Karena itu gerakan pertama Muhammadiyah ialah menyerang bid’ah, khurafat dan taqlid. Masyarakat diajak agar kembali kepada Quran dan Sunnah sebagai sumber hukum Islam utama. Watak pembaruan Islam Muhammadiyah semakin tipikal ketika para pendirinya menggemakan pentingnya ijtihad. Isu-isu semacam inilah yang membuat orang menisbahkan Muhammadiyah sebagai gerakan modernisme Islam.

KH Dahlan barangkali akan terkesima, jika sempat menyaksikan besarnya Muhammadiyah sekarang. Ia tidak menyangka bahwa organisasi yang didirikannya bakal sehebat ini.*** (Ddm/Iqbal1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: