Catatan : Wacana Santri Liberal

Gambar ini hanya ilusi sajaPENDAHULUAN

Pesantren merupakan fenomena Keislaman yang khas di Indonesia, karena pesantren mengadopsi  pola pendidikan pra-Islam yaitu Hindu dan Budha yang cukup besar pengaruhnya sebelum datangnya Islam di Nusantara.
Dalam sejarah Indonesia, Pesantren banyak memberikan kontribusi nyata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia dengan idealisme yang bersumberkan kepada nilai-nilai Keislaman. Banyak sekali tokoh pejuang kemerdekaan dan pahlawan nasional yang lahir dari dunia pesantren, sebut saja K.H Hasyim Ashari, K..H Mas Mansyur, K.H Zaenal Mustafa, K.H Agus Salim dan masih banyak lagi.

Pesantren secara de facto  harus berhadapan vis a vis dengan pendidikan Barat yang sekuler. Dalam perkembangannya karena minimnya dinamisasi pendidikan pesantren, para santri menjadi golongan yang terpinggirkan dibanding para sisiwa lulusan sekolah umum yang merupakan turunan dari pendidikan sekuler.

Dalam merespon lemahnya daya saing para lulusan pesantren Nurcholis Madjid menyebutkan ada dua kelemahan fundamental dari pola pendidikan di pesantren, yaitu :
Pertama adalah karena lemahnya visi dan tujuan yang dibawa pendidikan pesantren. Hal ini dipahami pesantren sebagai institusi pendidikan  bentukan dari improvisasi tunggal  dalam hal ini adalah para Kiyai yang biasanya adalah pendirinya atau keturunan para pendiri. Sehingga arah dan tujuan hanya hasil pemikiran para Kiyai an sich tanpa melalui proses perumusan yang didiasarkan profesionalitas.
Kedua, pesantren kurang mempunyai kemampuan dalam meresponi dan mengimbangi perkembangan zaman. Hal ini menyebabkan para keluaran pesantren tidak dapat terserap ke dalam dunia kerja karena dianggap memiliki kemampuan yang terbatas.

Dalam ranah Civil Society di Indonesia pesantren merupakan bagian inti dari pembentukan ormas Islam terbesar Indonesia yaitu, Nahdlatul Ulama (NU). Berdiri pada tahun 1926 yang merupakan  kritik atas gerakan pembaruan Islam yang dipelopori oleh Muhammadiyah dan Persis yang menganggap golongan pesantren tidak lagi murni karena dekat dengan unsur tahayul, bid’ah dan khurofat. Namun dalam perkembangan selanjutnya golongan pesantren yang awalnya termarjinaliasi, menjadi kekuatan dominan baik secara politik, sosial, maupun budaya. Hal ini terjadi karena jumalah kaum santri yang cukup banyak dan terebar di seluruh nusantara. Apalagi secara politik semenjak pemerintahan orde lama golongan santri NU yang selalu dihadapkan bertentangan dengan kaum abangan-lewat tipologi Geertz- akhirnya bersatu mendukung pemerintah memberangus Islam modernis yang bersatu dalam wadah Masyumi.   

Selain dianggap cenderung pragmatis dalam berpolitik, sistem pendidikan di pesantren cukup statis. Hal ini dapat dipahami karena pendidikan pesantren berpusat pada Kiyai dan juga kitab-kitab Islam klasik, sehingga seakan-akan enggan menerima perubahan dari luar. Namun pandangan itu mulai redup ketika para pemikir-pemikir muda ’jebolan’ pesantren seperti Almarhum K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Nurcholis Madjid (Cak Nur) mengusung pembaruan pemikiran umat Islam yang melawan mainstream pada zamannya. Mereka mencoba merespon modernitas dan mengadopsi pemikiran liberalisme, demokrasi, pluralisme, dan juga sekularisme yang merupakan produk pemikiran Barat pasca Zaman Pencerahan (Enlightment). Sampai sekarang semakin banyak alumnus pesantren yang mengikuti jejak pemikiran mereka berdua yang tergabung dalam Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan tokohnya ; Ulil Abshar Abdla, Z. Misrowi, Siti Musdah Mulia, dan lain-lain.

Santri liberal menjadi momok bagi para kaum Islam fundamentalis yang memiliki perbedaan tafsir dalam berbagi macam bidang. Kaum santri liberal mengusung persamaan hak warganegara dan perluasan tafsir lewat metode Barat seperti heumenetika yang bertentangan dengan kaidah-kaidah tafsir mainstream di Indonesia. Sehingga tak jarang golongan santri liberal ini dicap kafir atau keluar dari Islam oleh pra muslim fundamentalis termasuk Gus Dur dan juga Cak Nur.
Beberapa pemikiran mereka yang menuai kontroversi antara lain ; membolehkan nikah beda agama, menolak poligami, mendukung keberadan Ahmadiyah, dan juga menolak UU Pornografi dan pornoaksi.
Pergeseran pemikiran kaum pesantren dari pemikiran tekstual-tradisional menjadi kontekstual-modern ini sangat menarik untuk dikaji, karena sebagaimana kita ketahui bahwa peran pesantren dan juga NU begitu dominan dalam ranah pendidikan, politik, sosial, dan juga budaya. Sehingga mengetahui proses pergeseran itu dalam kajian sosiologi agama sangat bermanfaat untuk ditelaah lebih dalam.

Meinggalnya Presiden RI Ke-4 K.H Aburrahman Wahid (Gus Dur) pada tanggal 30 Desember 2009 menjadi berita duka bagi sebagaian masyarakat Indonesia. Bukan hanya kaum pesantren dan kaum muslimin tapi juga bagi seluruh masyarakat Indonseia dri semua agama. Seakan-akan semua kontroversi yang ada di dalam pemikriannya hilang sejenak dalam masa duka tersebut. Namun setelah beberapa hari meninggalnya Gus Dur, kontroversi itu mulai merebak terutama mengenai pluralisme Agama. Karena Gus Dur dianggap tokoh pejuang pluralisme agama yang mencoba membangun hubungan baik antar semua agama dalam bingkai Pancasila dan UUD. Para tokoh Islam liberal yang berlatar belakang dari pesantren khususnya Z Misrowi meminta agar MUI mencabut fatwa haram pluralisme, karena beberapa tahun yang lalu MUI mengeluarkan fatwa haram terhadap liberlisme, sekularisme dan plularisme dalam Islam.

Kasus di atas merupakan fenomena ’gunung es’ dari arus besar pergeseran pemikiran kaum santri dalam merespon modernitas. Gus Dur adalah pelopor modernisasi pemikiran Islam yang mengandung pemikiran liberal, sekuler, dan juga plural. Kasus ini adalah fenomena yang relatif baru bagi kaum pesantren dan warga Nahdliyin, karena tokoh pesantren cenderung memunculkan gagasan-gagasan konvensional yang berpusat kepada tradisi, Kiayi, dan juga kitab kuning. Hal ini disebabkan para tokoh pesantren yang berlajar di luar negeri baik di Barat maupun di Timur Tengah mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran Marxis lama maupun kontemporer dan juga pemikiran kaum liberal dari Barat. Selain itu Univeritas Islam di tingkat nasional difasilitasi oleh negeri-negeri Barat untuk program-program penyebaran ajaran Islam yang moderat sebagai konter atas berkembanganya  paham fundamental.

Bagi umat muslim di tanah air hal ini menjadi kontroversi yang tidak berkesudahan, apalagi sebagian kelompok menjastifikasi sesat dan menyesatkan bagi golongan pembaharu ini dengan segala dalil yang ada dalam Al-Qur’an maupun Hadist. Dalam analisis berikut ini kami tidak akan menilai mana golongan yang benar ataupun salah. Tulisan ini hanya membahas bagaimana proses pembentukan golongan baru dalam dunia pesantren yaitu ; santri liberal. Yaitu golongan yang mulai mengadopsi pemikiran Barat khususnya dalam bidang tafsir yang berasal dari pesantren.       

ANALISIS SOSIOLOGI AGAMA

Dialektika Berger : determinisme Agen-Struktur

Sebagai seorang fenomenolog yang mencoba mengambil berbagai metode dari berbagai paradigma dalam sosiologi, Berger membuat konstruksi relasi antara individu dan masyarakat yang menjadi perdebatan sengit diantara paradigma fakta sosial dan paradigma definisi sosial. Sehingga Ia melakukan terobosan dengan pemikirannya tersebut menurut Berger terdiri dari tiga langkah yaitu ; eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi.
Eksternalisasi merupakan bentuk reaksi manusia terhadap lingkungannya. Sebagai manusia yang memiliki kekurangan secara instingtif, manusia mencoba menaklukan lingkungannya baik yang fisik maupun sosial. Oleh karena itulah manusia membuat ‘dunia manusia’ yaitu usaha-usaha penyesuain lewat penciptaan berbagai stuktur-struktur sosial yang mendukung visi-visi manusia. Di fase eksternalisasi inilah Berger menyebut : masyarakat adalah bentukan manusia.
Objektivasi merupakan kondisi objektif masyarakat sebagai sesuatu yang berada di luar manusia. Stuktur-struktur sosial berhadap vis a vis dengan manusia dan melakukan proses dialektika. Dalam artian saling mempengaruhi satu sama lain. Menurut Berger dalam fase objektivasi masyarakat merupakan suatu kondisi yang dialektis.
Internalisasi merupakan penetrasi stuktur-struktur sosial sebagai sesuatu yang ‘di luar’ manusia untuk mempengaruhi sikap individu-individu. Kesadaran subjektif manusia mencoba menyerap makna-makna yang terdapat dalam struktur-srtuktur sosial tersebut. Sehingga struktur sosial dianggap sesuatu yang mapan bahkan sakral dan melingkupi setiap aktiitas keseharian manusia. Pada Fase internalisasi menurut Berger, manusia adalah bentuk masyarakat.

Skema Pembaharuan Pemikiran Kaum Santri

Dari analisis Berger mengenai proses pembentukan masyarakat, kita dapat menggunakanya pada tataran makro, meso maupun mikro. Dalam hal ini analisis Berger kita gunakan pada unit masyarakat pesantren.
Pada dialektika awal pembentukan pesantren, tentunya para da’i dari luar nusantara termasuk para wali. Dengan mengadopsi pola pendidikan pra Islam mereka membentuk kultur pendidikan yang mudah diterima oleh mayarakat yang baru mengenal Islam. Para penggagas pesantren memutuskan menginternalisasi pesanteran yang identik dengan tradisi pra Islam, Kiyai, kitab kuning, dan doktrin ahlussunah wal jamaah. Sehingga pada suatu saat pesantren dengan segala konsepsinya menjadi  objektivasi yang akan membentuk pesantren serta masyarakat sekitarnya dan menjadi standar bagi pembentukan pesantren di tempat dan waktu yang lain. Proses dialektika itu dalam waktu yang lama dan akan mengalami kemapanan.
Pada waktu yang lain beberapa tokoh pesantren dari generasi yang berbeda merespon keterhimpitan pesantren terhadap arus modernisasi yang seakan-akan tidak dapat bersatu dengan dunia pesantren yang tradisional. Para tokoh pembaharu ini mendapat masukan dari berbagai macam pemikiran filsafat Barat, pengalaman mengunjungi negara Barat dan Timur Tengah serta tentunya kondisi objektif umat Indonesia yang semakin terpuruk. Mereka memunculkan pembaharuan dalam pola pendidikan pesantren yang lebih mau ’menyapa’ dengan dunia modern khususnya di bidang kurikulum pesantren itu sendiri. Selain dalam ranah pendidikan, para pembaharu mulai mentransfer pemikiran mengenai demokrasi, kesetaraan gender, tafsir hermenutika, HAM, dan lain-lain. Sehingga ide pembaharuan ini menjadi objektivasi yang pada dielektika berikutnya akan mungkin menjadi pilar-pilar masyarakat baru, khususnya masyarakat pesantren dan Nahdliyin. Namun ide-ide pembaharuan itu masih pada tingkat objektifikasi, karena masih banyak pro dan kontra terhadap pemikiran pembaharuan tersebut.

KESIMPULAN

Sehingga dalam perjalanan dilektika pembentukan pesantren, santri liberal adalah agen pendobrak struktur yang bukan hanya berwujud tradisi ritual saja tetapi juga sampai pada ide/gagasan pembaruan penafsiran terhadap ajaran agama. Ide pembaharuan itu berdasarkan pengalaman empiris sang pembaharu, kondisi objektif suatu masyarakat, dan juga pergumulan intelektual dengn para sarjana Barat dan Timur.
Dalam kerangka dialektika Berger, revolusi pemikiran adalah hal wajar. Karena pemikiran yang baru itu setelah melalui proses objektivasi dan eksternalisasi akan menjadi proses yang mapan dan akan dikritik oleh pemikiran yang lain untuk mengoreksi permasalahan yang berkembang. Wallohu ‘alam. *** (by Anggoro Yudho Mahendro – Ketum Korkom UNJ)

Daftar Pustaka :
Berger, Peter L. (tt). Sacred Canopy.
Madjid, Nurcholis. (1997). Bilik-Bilik Pesantren : Sebuah Potret Perjalanan. Jakarta : Paramadina
Noer, Deliar. (1973). Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta : LP3ES
Saleh, Fauzan. (2001). Teologi Pembaruan : Pergeseran Wacana Islam Sunni di Indonesia Abad XX. Bandung : Mizan.

Ref. : http://www.hmiunj.org

2 Balasan ke Catatan : Wacana Santri Liberal

  1. abdul kholiq mengatakan:

    bagus banget tulisannya,,,

  2. yudomahendro mengatakan:

    terimakasih tulisan saya sudah dipromosikan, salam, Yudo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s