Opini : Menimbang Sistem Pendidikan Pondok

Dewasa ini, pemerintah Indonesia tengah gencar sekali mencari dan mencoba sistem pendidikan yang komprehensif. Kebutuhan akan sistem yang demikian itu semakin terasa lebih mendesak lagi oleh tekanan masalah penduduk. Ledakan penduduk berusia muda yang mencari lapangan kerja, arus urbanisasi masyarakat pedesaan yang kian deras menyerbu kota-kota besar, sementara daerah urban belum siap menciptakan pusat-pusat produksi dan industri yang mampu menyerap gelombang angkatan kerja, sementara keluhan tentang krisis nilai-nilai yang mengancam kepribadian bangsa makin sering terdengar.

Tidak-lah bisa dipungkiri bahwa perkembangan masyarakat menghendaki adanya pembinaan anak didik yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan, dan keterampilan, serta kemampuan komunikasi dan kesadaran akan ekologi lingkungannya.

Menyadari kompleksnya hal tersebut, ada baiknya pemerintah lebih memperhatikan dan mengembangkan sistem pendidikan yang dimiliki oleh pesantren.

Sebagaimana termaktub dalam undang-undang yang ditetapkan pada tanggal 27 Maret 1989, bahwa Sistem Pendidikan Nasional ditetapkan melalui undang-undang berupa Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989. Jenis pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional.

Akan tetapi pelbagai alternaif jalur pendidikan ini belum memberikan kontribusi yang besar dalam merubah wajah, sikap dan mental anak didik yang berakhlak. Hal ini terbukti dengan makin maraknya peristiwa-peristiwa yang membuat geleng-geleng kepala dan menimbulkan pertanyaan, di manakah mentalitas dan nilai pendidikan mereka selama ini?.

Agama Islam mengatur bukan saja amalan-amalan peribadatan vertikal, melainkan juga kelakuan orang dalam berinteraksi dengan sesama dan dunianya. Sebagaimana yang diungkapkan Suyoto (Pesantren dan pembaharuan: 61), bahwa pesantren pada mulanya lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan Islam yang dipergunakan untuk pergerakan penyebaran agama. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, gerakan lembaga ini berkembang dengan gerakan-gerakan sosial. Sehingga dapat diakui, pengaruhnya tidak saja terlihat pada santri (baca: murid) dan alumninya, bahkan meliputi kehidupan masyarakat sekitarnya.

Fakta saat ini mengatakan, orang hanya terangsang dan merasa terpanggil terhadap persoalan-persoalan yang secara langsung berakibat pada kepentingannya atau kelompoknya. Di sini-lah makin terasa perlunya pengembangan paradigma dan amaliah secara lebih luas dan menyeluruh. Pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan yang ada sekarang-lah yang mempunyai potensi untuk tujuan pendidikan tersebut.

Pondok pesantren khususnya, sebagai lembaga pendidikan yang berbasis ilmu dan amal mungkin bisa dijadikan pegangan guru-guru dalam usaha mewujudkan tujuan pendidikan.

Kemampuan pondok bukan saja dalam pembinaan pribadi, tetapi bagi usaha mengadakan perubahan dan perbaikan sosial dan kemasyarakatan. Ki Hajar Dewantara mencita-citakan sistem pondok, dan pernah pula melaksanakannya. Beliau menyatakan bahwa sistem ini adalah sistem pendidikan nasional. Bahkan sistem ini ada sejak Republik Indonesia belum bersatu. Pondok pesantren mempunyai fungsi pemeliharaan, pengembangan, penyiaran, dan pelestarian Islam. Dari segi kemasyarakatan ia menjalankan pemeliharaan dan pendidikan mental. Melalui sistem pondok, konsepsi perilaku dasar manusia yang menurut Sigmund Freud terdiri dari tiga sub sistem id, ego dan superego dapat dibentuk dan diarahkan sesuai dengan mental dan tujuan pendidikan. Sehingga ciri-ciri kepribadian positif yang mendasari jiwa (ruh) manusia dapat meresap dan mengakar ke seluruh implementasi kegiatan yang dilakukannya. Kepribadian positif ini dirumuskan oleh KH. Imam Zarkasy, gontor, dengan “Panca Jiwa”, yaitu : keikhlasan, kesederhanaan, persaudaraan, menolong diri sendiri, dan kebebasan.

Menimbang hal tersebut, dengan demikian pendidikan semacam itu tidak lagi sekedar pembinaan kepribadian individu dengan pedoman norma yang telah ditentukan, melainkan meliputi usaha merealisasikan kepentingan sosial, ekonomi dan politik.

Sikap dan pikiran seperti itu adalah keharusan dan menjadi cita-cita nasional agar setiap warga negara tidak sekedar mengetahui dan mementingkan masalah pribadi dan kelompoknya, melainkan mengetahui seluk beluk kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallohu subhaana wa ta’ala bil  a’lam *** (Oleh : Muhammad Istiqlal Pathoni).

Satu Balasan ke Opini : Menimbang Sistem Pendidikan Pondok

  1. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,,

    Alhamdulillah,,,postingan yang memberi kekuatan tersendiri bagi kalangan santri. Terimakasih, sangat memotifasi.

    ———–

    Wa ‘alaikumussalam,
    Mas Samaranji tks telah menyimak, semoga bermanfaat serta mendapat respon semestinya dari pemegang kepentingan.
    Salam,
    Iqbal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: