Ada Udang di Balik Sepakbola

Oleh : Muhammad Istiqlal P.

Kita mungkin masih ingat fenomena panggung drama sepakbola nasional akhir tahun lalu. Terkesima, tersihir, dan tersulut rasa nasionalisme begitu kita melihat perjuangan tim nasional (timnas) sepak bola di ajang Piala AFF. Nasionalisme dan kebanggaan sebagai sebuah bangsa yang selama ini hilang bak tersapu angin, kini datang lagi saat kesebelasan Garuda menjamu kesebelasan Truksmenistan dalam laga pertama kualifikasi Pra-Olimpiade 2012 di Stadion Bumi Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan, Rabu (23/2).

Banyak ilmuan sosial menaruh perhatian kajian mereka pada sepak bola. Michael Novak (1976), mengatakan sepak bola mirip dengan “upacara keagamaan” karena mencakup tata cara yang dianggap suci dan harus dipatuhi. Terdapat lambang-lambang seperti bendera, lagu kebangsaan, kostum, tempat “suci” yang dikhususkan bagi pemain, pelatih, penonton, batasan waktu, dan sebagainya. Sebagai ritual keagamaan, tampaknya sepak bola juga menjadi sebuah keharusan dan kebutuhan manusia, untuk memenuhi identitas diri sebagai individu, sekaligus sebagai anggota suatu komunitas (bangsa), dan sebagai salah satu unsur alam semesta (Deddy Mulyana, 2008).

Masa depan mereka sebagai bangsa bukanlah suatu yang nyata saat itu, melainkan dibangun oleh persepsi dan pikiran mereka. Pada titik ini, sepak bola menjadi sangat simbolik atau lebih tepatnya menjadi mistis yang berbeda atau bertentangan dengan parameter empiris-ilmiah. Memahami pendapat tokoh empirisme Inggris, John Locke (1632-1704), pada waktu menonton sepak bola seolah manusia tidak punya warna kecuali kecintaannya pada club yang dibelanya. Pengalaman ini secara psikologis berarti seluruh perilaku manusia, kepribadian, dan temperamen ditentukan oleh pengalaman inderawi (sensory experience). Maka dari itu, sepak bola dianggap penting bagi mereka, bahkan supporter tak ayal melakukan tindakan pengrusakan dan anarkis jika tim mereka kalah atau dicurangi.

Televisi sebagai perantara sangat berperan aktif dalam menaruh pengaruhnya kepada khalayak, sehingga mereka dapat mendeskripsikan situasi gegap gempita di lapangan tanpa terjun langsung. Bahkan pengaruhnya sangat jelas ketika kita merasakan ada kegiatan pribadi, social, keagamaan, kuliah, bisnis, makan, bahkan aktivitas penting pejabat Negara harus ditunda atau dijadwalkan ulang. Ada kepuasan tersendiri ketika kita menonton kebolehan para pesepak bola saat menari-nari memainkan si kulit bundar di panggung hijau. Kekompakan kolektif tim juga terkadang membuat decak kagum khalayak. Bahkan tak jarang kekecwaan yang diperoleh dari lapangan mengundang tangis dan luka mendalam bagi para supporter.

Deddy juga menambahkan, peristiwa ritual tradisional juga kerap dilakukan di dalam atau di luar lingkungan fisik stadium. Kita mungkin belum lupa saat suatu ormas Islam mengadakan istighasah, memohon agar tim kebanggaan mereka bisa meraih kemenangan agar rasa nasionalisme bangsa ini bisa tetap kokoh terjaga. Makna dasarnya tetap sama, yakni aktivitas sakral yang mengaitkan para pesertanya dengan masa lalu historis mereka dengan posisi mereka di alam semesta. Bahkan sifat irasional kerap ditunjukkan, seperti kejadian Piala Dunia 2002 saat seorang warga korsel berumur 45 tahun yang membakar diri beberapa jam sebelum Korsel dan Portugal bertanding. Ia meninggalkan catatan kepada pecinta sepak bola Korsel : “Keringat dan air mata Gus Hiddink, teriakan gembira para pendukung, kegembiraan dalam kemenangan pertama, semuanya adalah hadiah ulang tahun terbaik bagi saya.”

Sepak bola juga menjadi ajang kampanye politik para kandidat atau partai yang tengah berupaya meraih hati publik. Fenomena ini terjadi lumrah di berbagai Negara. Sebagai contoh, mantan presiden AS George Waker Bush, kanselir Jerman Gerhard Schroeder yang rela bangun pagi dan mengatur ulang jadwalnya untuk menghadiri laga tim negaranya demi mendapatkan simpati publik.

Terlepas dari intrik politik yang kini sedang memanas di dalam tubuh PSSI, anak-anak muda berseragam merah putih ini mampu membuat gegap gempita anak-anak bangsa. Mereka mengajarkan banyak hal kepada kita. Pertama, arti penting nasionalisme. Kedua, kebanggaan sebagai bangsa muncul. Ketiga, mereka mengajarkan arti penting kerja keras tanpa lelah, tanpa pamrih. Keempat, kerjasama utuh telah mereka buktikan sebagai jalan terbaik untuk mencapai tujuan. Sulit dibayangkan jika tim ini tercerai-berai, sudah pasti tidak akan mampu melahirkan hasil terbaik, walaupun hasil akhir yang diperoleh masih belum memenuhi target. (***)

2 Balasan ke Ada Udang di Balik Sepakbola

  1. Penasaran mengatakan:

    kpaan ne ada kemajuan berarti buat PSSI?

    ————-

    He 3x… URL nya… Tks.

  2. abu hanan abdullah mengatakan:

    copi dari kekhalifahan Ustman
    “Kalau belum, maka ketua tim segera mengambil kebijaksanaan. Siapa yang tidak menyetujui apa yang sudah disepakati bunuhlah dia.”
    Suatu petunjuk untuk meniadakan ego dan kawan-kawan.Suatu amanat untuk mematuhi keputusan dengan menimbang kepentinga/kebaikan banyak orang.
    Duh,ruwet banget…😦

    —–

    Tks Mas Abu Hanan atas kebersamaanya…🙂
    Salam,
    Iqbal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s