Aqidah : Mengetahui Fitnah Dunia, Wajib Hukumnya

Seiring perkembangan zaman, agama Islam mengalami banyak perkembangan di berbagai bidangnya, mulai dari muamalah sampai implementasi aqidah. Namun haruslah diyakini bahwa sesungguhnya nikmat memeluk agama Islam adalah nikmat yang tidak bisa dibandingkan dengan hal apapun yang ada di dunia ini. Walaupun tidak bisa dianggap sepele dan dipandang sebelah mata nikmat-nikmat yang Allah berikan yang sangat besar dan beragam. Apalagi menganggap memeluk Islam menjadi hal lumrah dan biasa-biasa saja. Islam adalah nikmat yang paling besar diantara semua nikmat.

Islam yang diutus pula bersamanya Nabi Muhammad SAW yang tiada lain adalah suatu nikmat pula yang tiada tara. Karena jika dilirik dari ‘alam sebab, beliaulah yang mendatangkan, mengajak dan  menerangkan agama Islam ini (Ali ‘Imran:164). Sehingga manusia tahu mana salah dan jalan menjauhi kesalahan, serta tahu mana yang benar dan jalan melaksanakan kebenaran.

Keistimewaan beliau telihat semenjak lahir. Bahkan dalam al-Barjanji dijelaskan, pemilihan hal-hal tertentu berkaitan dengan beliau bukanlah kebetulan. Misalnya bulan lahir, hijrah, dan wafatnya pada bulan Rabi’ul Awal (musim bunga). Nama beliau Muhammad (yang terpuji), ayahnya ‘Abdullah (hamba Allah), ibuya Aminah (yang memberi rasa aman), kakeknya yang bergelar ‘Abdul Muthalib bernama Syaibah (sesepuh yang bijak), yang membantu ibunya melahirkan adalah asy-Syifa’ (yang sehat), serta yang menyusukannya adalah Halimah as-Sa’diyah (yang lapang dada dan mujur). Makna nama-nama tersebut memiliki kaitan yang erat dengan kepribadian Nabi Muhammad SAW.

Al-Quran menyatakan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani mengenal Muhammad SAW lebih dari anak-anak mereka (al-Baqarah: 146). Bahkan salah seorang penganut agama Yahudi yang kemudian memeluk Islam, ‘Abdullah bin Salaam pernah berkata, “Kami lebih kenal dan lebih yakin tentang kenabian Muhammad SAW, daripada pengenalan kami kepada anak-anak kami. Siapa tahu pasangan kami menyeleweng”.

Akan tetapi, banyak sekali (khususnya di zaman ini) kontroversi dan fitnah besar yang menjauhkan dan memalingkan manusia dari nikmat diutusnya Nabi Muhammad SAW, sehingga terkadang mereka keluar dari agama Islam (jika muslim) dengan menabrak hukum-hukum Islam yang sudah final dan tidak bisa diutak-atik lagi. Dan atau keinginan untuk memeluk Islam menjadi lemah atau bahkan tertutup (jika non-muslim).

Lantas bagaimana caranya menghindarkan fitnah tersebut? Syekh Sholeh Fauzan bin Fauzan mewajibkan ummat untuk mengetahui fitnah dan hal-hal yang dikhawatirkan menggiring ummat jatuh ke jurang kemurtadan itu. Tak ubahnya seperti kewajiban ummat mengetahui perkara yang membatalkan keislaman. Sehingga mereka ngeuh dengan fenomena dan peristiwa yang dapat meruntuhkan aqidah.

Muhammad Syafi’, ulama madzhab Hanafi yang sekaligus menjadi mufti Pakistan menyatakan juga dalam At Tasyrih bima Tawatara fi Nuzul Al Masih, ”Ketika tidak ada nash yang menunjukkan adanya kenabian bagi seseorang setelah Rasulullah, maka orang yang mengaku nabi telah kafir menurut Al Quran, Sunnah mutawatir serta ijma’. ***(Muhammad Istiqlal Pathoni, Khodim Ponpes Khozanaturrohmah).

3 Balasan ke Aqidah : Mengetahui Fitnah Dunia, Wajib Hukumnya

  1. abu hanan mengatakan:

    bahkan sempat terpikir oleh saya adalah alasan nabi muhammad dalam memilih :
    1.jabal nur
    2.gua hira
    apakah kedua tempat tersebut memang bernama seperti itu pra pengangkatan atau baru dinamai setelah diangkat?

    Nur,saya pikir semua orang tahu bahwa artinya adalah cahaya.Tetapi Hira,saya sama sekali gak nyangka kalo terbentuk dari hurrun (merdeka).

    bukan suatu kebetulan jika banyak kebetulan yang terjadi di seputar kehidupan beliau.

    mhn informasi ttg nama gua dan bukitnya mas…
    salam ukhuwah

    • iqbal1 mengatakan:

      Mas Abu Hanan, yg sy baru ketahui ; gua hira di jabal nur pra pengangkatan, memang bernama seperti itu. Sebelum Nabi Muhammad SAW diangkat sebagai Rasul s/d turunnya ayat2 per-tama2 surat Al-‘alaq 1;5, beliau senantiasa bertakhannuts / berkhalwat di sana, kecenderungan mengunjungi gua (yg telah bernama) hira pun atas dasar mimpi yg benar dari Alloh SWT. (Awwalu maa budi-a bihir-rosuu-lillaahi SAW minal wahyi ar-ru’yash-shoolihatu fin naumi fakaana laa yaroo ru-‘yan illaa jaa-at mitsla falaqish-shubhi, tsumma hubiba ilaihil kholaa-u wa kaana yakhluu bi ghoori hiroo-in fayatahannatsu fiehi wa huwa at-ta-‘abbudul layaalaa dzawaatil ‘adadi qobla an-yanzi’a ilaa ahlihi wa yatazawwady lidzaalika tsumma yar-ji’u ilaa khodiejah fayatazawwadu limitslihaa hattaa jaa-ahul haqqu wa huwa fie ghoori hiroo-in, dst… / HR Imam Bukhori dari St. Aisyah. Lihat Kitab Bukhori, bab mula2 wahyu turun, juz 1, hal 3).

      Dasar ini pun al saya baca di Tafsir Al-alamah Imam Ash-showi, Juz 4, hal. 446-447, tentang tafsir dan asbabun nujul Surat Al-‘alaq (ayat 1 s/d 5). (Awwalu maa nuzila minal qur’aani, wa dzaalika bi ghoori hiroo-i / Bukhoori ; Per-tama2 al-qur’an yg diturunkan yaitu di Gua Hiro). Artinya, sebelum malaikat Jibril di utus menurunkan wahyu pertama, tempat itu telah bernama Gua Hiro di Jabal Nur.

      Asal-usul lain tentang nama gua hiro dan jabal nur jauh sebelum nabi Muhammad SAW senantiasa berkhalwat disana / pra-islam, saya belum sempat muthola-ah.

      Tks, salam.

  2. abu hanan abdullah mengatakan:

    jika demikian,memang tidak ada satupun yang bernilai sia2 dari orang mulia tsb.
    uzlah dengan memilih tempat dengan nama yang baik dsb.
    subhanallah

    —————

    Alhamdulillah ; sungguh ada pada diri rosululloh SAW itu tauladan yg baik…
    Tks mas…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s