Profile : RA Lasminingrat

Warta : Garut Usulkan Lasminingrat Sebagai Pahlawan Nasional.

TEMPO Interaktif, Garut – Pemerintah Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengusulkan Raden Ajoe Lasminingrat sebagai pahlawan nasional. Pengajuan gelar pahlawan ini telah dilakukan dua kali oleh pemerintah daerah.

Pengajuan pertama dilakukan pada 2006 dan yang terakhir diajukan pada 2009 lalu. “Kami sangat berharap beliau menjadi pahlawan nasional,” ujar Juru Bicara Pemerintah Kabupaten Garut, Dikdik Hendrajaya, di ruang kerjanya, Selasa (19/10).

Menurut Dikdik, sosok Lasminingrat cukup layak dijadikan pahlawan, karena dia merupakan salah satu figur langka yang berjuang di bidang pendidikan, sekaligus merupakan representasi kaum perempuan dalam memperjuangankan kesetaraan gender yang pada zamannya masih tertinggal. Dia juga dianggap sebagai tokoh perempuan intelektual pertama di Indonesia jauh sebelum lahir Kartini tahun 1879 dan Dewi Sartika tahun 1884.

Raden Ayu Lasminingrat lahir pada 1843. Dia merupakan putri seorang Ulama / Kyai, Penghulu Limbangan dan Sastrawan Sunda yang terkenal pada zamannya, yaitu Raden Haji Muhamad Musa dengan Raden Ayu Ria. Dia juga merupakan istri dari Rd. Adipati Aria Wiratanudatar VII, yang waktu itu Bupati Garut ke empat.

Kecerdasan yang dimiliki Lasminingrat ini bukan tanpa alasan. Dia dimasukan ke sekolah Belanda di daerah Sumedang. Di sana dia belajar membaca, menulis, dan juga mempelajari bahasa Belanda. Selama di Sumedang, Lasminingrat diasuh oleh teman Belanda ayahnya, Levyson Norman. Karena didikan Norman, Lasminingrat tercatat sebagai perempuan pribumi satu-satunya yang mahir dalam menulis dan berbahasa Belanda pada masanya.

Perjuangan Lasminingrat dititik beratkan pada dunia kepenulisan/kepengarangan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Buah karyanya diantaranya mendirikan sekolah Kautamaan Istri yang menjadi cikal bakal berdirinya sekolah seperti sekarang. Selain itu, dia juga menulis beberapa buku berbahasa Sunda yang ditujukan untuk anak-anak sekolah, baik karangan sendiri maupun terjemahan.

Perjuangan Lasminingrat diawali dari dunia kepenulisan. Salah satu buah tangannya dengan menerbitkan buku Carita Erman yang merupakan terjemahan dari Christoph von Schmid, pada 1875. Buku ini dicetak sebanyak 6.015 eksemplar dengan menggunakan aksara Jawa, lalu mengalami cetak ulang pada 1911 dalam aksara Jawa dan 1922 dalam aksara Latin.

Setelah karya tersebut, pada 1876 terbit Warnasari atawa Roepa-roepa Dongeng Jilid I dalam aksara Jawa. Buku ini merupakan hasil terjemahan dari tulisan Marchen von Grimm dan JAA Goeverneur, yaitu Vertelsels uit het wonderland voor kinderen, klein en groot (1872) dan beberapa cerita Eropa lainnya. Jilid II buku ini terbit setahun kemudian, lalu mengalami beberapa kali cetak ulang, yakni pada 1887, 1909, dan 1912, dalam aksara Jawa dan Latin. “Dongeng yang dikarangnya memotivasi kita untuk mandiri,” ujar Dikdik yang mengaku telah membaca buku Carita Erman.

Setelah menjadi istri Bupati Garut, Lasminingrat menghentikan aktivitas kepengarangannya. Ia lalu berkonsentrasi di bidang pendidikan bagi kaum perempuan Sunda. Kautamaan Istri merupakan sekolah pertama khusus perampuan yang didirikan pada tahun 1907 pada masa kolonial Belanda.

Ketika itu ia mendirikan sekolah Keutamaan Istri di ruang gamelan Pendopo Kabupaten Garut. Siswa Kautamaan istri pertama kali hanya terbatas pada anak permepuan kaum menak di Garut saja. Mereka diajarkan membaca, menulis, dan berbagai hal yang harus dipelajari oleh seorang perempuan.

Perkembangan sekolah ini cukup pesat, pada 1911 jumlah muridnya mencapai 200 orang, dan lima kelas dibangun di sebelah pendopo. Sekolah ini akhirnya mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hindia Belanda pada 1913 melalui akta nomor 12 tertanggal 12 Februari 1913. Pada 1934, cabang-cabang Keutamaan Istri dibangun di kota Wetan Garut, Bayongbong, dan Cikajang.

Di sekolah Keutamaan Istri, murid-muridnya diajari cara memasak, merapikan pakaian, mencuci, menjahit pakaian, dan segala hal yang ada hubungannya dengan kehidupan berumah tangga. Tujuannya, supaya kelak saat dewasa dan menikah, mereka bisa membahagiakan suami dan anak, juga mengerjakan sendiri apa saja yang berhubungan dengan rumah tangga.

Lasminingrat dikenal sebagai sosok yang peduli terhadap orang lain. Dalam catatan sejarah, ia merupakan salah seorang tokoh yang mendukung Dewi Sartika untuk mendirikan sekolah bagi kaum perempuan pada 1904.

Ini berawal saat Dewi Sartika kesulitan dalam meminta izin kepada Bupati Bandung RAA Martanagara untuk mendirikan sekolah. Bupati selalu menolak maksud Dewi Sartika tersebut. Bukan tanpa alasan Bupati Bandung menolak keinginan Dewi Sartika.

Menurut sejarawan Universitas Padjadjaran, Nina Herlina Lubis, dalam bukunya Kehidupan Kaum Menak Priangan, ayah Dewi Sartika diasingkan ke Ternate lantaran dituduh terlibat percobaan pembunuhan terhadap Bupati Bandung dan pejabat Belanda di Bandung, pada usianya yang baru sembilan tahun. Karena peristiwa itu, Bupati Bandung menganggap Dewi Sartika adalah anak musuh politiknya. Maka dari itu, permintaannya selalu ditolak.

Melihat hal ini, Lasminingrat turun tangan dengan bantuan suaminya. Ia meminta suaminya memberikan saran kepada Bupati Bandung agar maksud Dewi Sartika yang akan mendirikan sekolah terkabulkan. Setelah berbicara dengan RAA Wiratanudatar VIII, Bupati Bandung memberi izin kepada Dewi Sartika. Pada Januari 1904, Dewi Sartika akhirnya mendirikan Sakola Istri di Bandung. Lasminingrat dan Dewi Sartika memang sering kali berhubungan layaknya seorang ibu kepada anak. Mereka terutama saling memberikan dukungan perjuangan untuk memajukan kaum perempuan.

Lasminingrat meninggal pada 10 April 1948 dalam usia 105 tahun. Jenazahnya dimakamkan di belakang Mesjid Agung Garut, berdampingan dengan makam suaminya. Perjuangan Lasminingrat, kini mulai dikenalkan oleh perintah daerah kepada warganya. Bahkan dinas pendidikan setempat mulai mengenalan sejarah perjuangan RA Lasminingrat (1843 – 1948), sebagai perempuan intelektual pertama di Indonesia kepada siswa dari SD sampai SMA. *** (SIGIT ZULMUNIR / tempo.interaktif).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: