Tanbeh : Sekitar Ilmu Fiqih

Muqodimah : Arti fiqih menurut bahasa ialah “mengerti” atau faham. Sedangkan menurut istilah ialah “mengetahui hukum2 syara’ yang bersifat amaliah (perbuatan lahir) yang diambil dari dalil2 yang terinci”. Adapun pembahasan mengenai amaliah bathin/hati disebut ilmu tasawuf. Pembahasan mengenai amaliah keyakinan disebut ilmu tauhid. Dan fan ilmu lainnya menunjang serta berhubungan erat satu sama lainnya dengan ilmu fiqih ini.

Sumber ilmu fiqih berasal dari Al-qur’an, Hadits, Ijma’ dan Qiyas. Adapun faedahnya adalah untuk melaksanakan semua perintah Alloh ta’ala dan meninggalkan larangan-Nya. Pendapat ini berdasarkan Imam mujtahid Abi Abdillah Muhammad bin Idris Asy-syafi’I Rodhiyallohu Anhu. Semoga Alloh ta’ala merahmati dan meridhoinya, yakni meridhoi pendapat2 beliau dalam melaksanakan hukum2 islam serta berbagai masalahnya.

Masalah Furu’-iyyah

Perlu diketahui, untuk melaksanakan hukum syara’ pada zaman sesudah Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya wafat, kebudayaan dan taraf sosial manusia serta faktor lingkungan strategis lain yang mempengaruhinya, sudah sangat berbeda dengan zaman beliau. Maka kita pada zaman ini, -yakni untuk menyangkut masalah furu’iyyah-, tidak akan mungkin dapat langsung melaksanakan hukum syara secara menyeluruh, kecuali harus melalui madhab/per-pergi-an/perjalanan para ulama mujtahid yang benar2 ahli.

Agar lebih jelas dan yakin, kita perlu meneliti masalah2 furu’iyyah yang terjadi di masyarakat islam sekarang. Apakah mungkin hukumnya, setiap orang dapat langsung dipastikan mengambil sendiri dalil2 dari al-qur’an atau hadits Rasululloh SAW. Padahal sebagian besar orang2 yang ada sekarang itu mempunyai kemampuan terbatas. Tentu sulit untuk dikatakan mudah di zaman sekarang ini. Maka tiada lain kecuali harus melalui/mengikuti ijtihad para mujtahid.

Dalam upaya menetapkan hukum, para mujtahid dengan sangat ber-hati2 menggunakan petunjuk dari Alloh ta’ala dan Rasul-Nya, yaitu dengan melalui ijma’ atau qiyas yang mu’tabar. Pendapat ini dipegang para ulama yang telah di-nash sebagai pewaris perjuangan nabi (mu’tamad).

Penjelasan Singkat

A. Dasar hukum islam itu terbagi dua tahap :

1. Pada zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup, berpedoman hanya pada Al-qur’an dan Hadits Nabi. Sebagaimana firman Alloh SWT.

ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

“Itulah kitab Qur’an, tidak syak lagi ia menjadi petunjuk bagi orang2 yang bertaqwa”. (Al-baqoroh ; 2).

 ُِّوَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْر َلِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِم ْوَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan kami turunkan kepadamu peringatan (Qur’an), supaya kamu menjelaskan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, supaya mereka memikirkan”. (An-nahl ; 44).

2. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, berlaku ijma dan qiyas berdasarkan atas petunjuknya, diantaranya :

a. Sabda Nabi SAW atas pertanyaan Sayidina Ali bin Abi Thalib RA mengenai perkara yang akan datang namun tidak jelas nash-nya dalam al-qur’an dan hadits :

Terjemah : “Hendaklah kamu kumpulkan para ulama untuk membahasnya”, atau “Adakanlah permusyawaratan dengan orang2 ahli ibadah dari kaum mukmin, dan janganlah kamu menetapkan hukum dengan pendapat sendiri”. (Riwayat Ibnu Abdul Barr).

b. Qiyas, bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bertanya mengenai hukum yang tidak di-nash dalam Qur’an atau Hadits kepada sahabat Mu’adz dan Abu Musa Al-Asy’ari RA yang pernah beliau utus untuk memegang pemerintahan di Yaman, lalu jawab mereka :

Terjemah : “Kalau kami tidak mendapatkan hukum dalam Qur’an dan tidak pula dalam Sunnah, maka kami meng-qiyas-kan sesuatu perkara dengan perkara lainnya. Mana perkara yang dianggap paling mendekati kebenaran, itulah yang kami amalkan, lalu cara yang demikian itu ditetapkan oleh Nabi SAW”. (Riwayat Ibnu Abdul Barr).

B. Ber-taqlid : Bertaqlid itu tidak berarti hanya mengikuti pendapat orang lain tanpa mengetahui dalil-dalil yang dipergunakannya. Sedangkan yang ber-taqlid (muqallid) itu terbagi dua, ialah :

  1. Muqallid Pasif, yaitu orang awam yang tidak sempat mempelajari hukum islam secara mendalam karena mereka bekerja di bidang pertanian, perdagangan, industry, produksi, teknologi, jasa, kedokteran, dlsb.
  2. Muqallid Aktif, yaitu yang aktif mengoreksi hukum hasil ijtihad imamnya, adakalanya memperluas pendapatnya, atau ada juga yang tidak sependapat dengan hasil ijtihad imam yang di-taqlidi-nya. Muqallid aktif ini ber-tingkat2, dan merekapun ber-ijtihad juga, hanya cara yang mereka lakukan mengikuti cara yang dipakai imamnya, sehingga mereka tetap disebut muqallid dan juga mujtahid dengan tingkatan yang ber-beda2.

Lima tingkatan mujtahid

    1. Mujtahid mustaqil ; yaitu imam mujtahid yang mampu menyusun kaidah hukum islam sendirian. Seperti Imam Hanafi, Maliki, Syafi’I, Hambali, Sufyan Tsauri, Sufyan bin Uyainah, Muhammad bin Jarir (Ibnu Jarir), Umar bin Abdul Aziz, A’masy, Sya’bi, Ishaq, Abu Laits Dawud Zahiri, dsb. Dari sekian banyak mujtahid mustaqil itu, yang hasil ijtihadnya dibukukan (mu’tabar) hanya empat imam, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hambali RA. Ke-empat mujtahid itulah yang di-ikuti madhabnya, sebab hasil ijtihadnya dibukukan.
    2. Mujtahid Madhab ; yaitu imam mujtahid yang mampu menyusun hukum islam sendirian, hanya caranya mengikuti cara imam mujtahid mustaqil. Seperti Imam Gazhali, Haramain, dan Syairazi.
    3. Mujtahid Muqayyad ; yaitu imam mujtahid yang dapat memperluas hukum islam hasil ijtihad imamnya. Seperti Imam Buwaihi, Muzani, dsb.
    4. Mujtahid Tarjih ; yaitu ulama yang mampu mengoreksi, men-tahrir, dan menyebar luaskan pendapat imamnya. Seperti Imam Rofi’I, Nawawi, Ibnu Hajar, Ramli, dll.
    5. Mujtahid Fatwa atau disebut juga al-hufadz ; yaitu ulama yang menghafal, mengutip dan memahami secara mendalam madhab imamnya. Seperti ulama lainnya di bawah ulama ahli tarjih.

C. Ikhtilaf : Ikhtilaf, adalah paham di kalangan kaum muslim yang pada umumnya hanya dalam masalah furu’ (kecil). Sedangkan dalam masalah asas (yang pokok) tidak banyak.

Oleh karena itu, kalau ada perbedaan pendapat dalam masalah furu’ yang kebanyakan hasil ijtihad ulama mujtahid, atau perbedaan penafsiran mengenai dalil-dalil yang tidak qath’i, atau perbedaan penemuan mengenai ‘rumah rasul’ dan lainnya, tidak perlu dipertajam, asal masing-masing mempunyai dasar hukumnya. Adapun perbedaan pendapat masalah furu’ itu, merupakan rahmat Tuhan, yang berarti memberi kebebasan berfikir kepada kita !.

Jujur pada kemampuan diri sendiri, kritis, konsekuen serta konsisten untuk menjalankan syari’at hukum agama dengan mengikuti ketentuan amaliah yang telah diatur dalam fan ilmu beragama islam ini, akan lebih baik ketimbang melakukan istinbath sendiri. Karena hal itu diluar kemampuan. Laa yukallifullohu nafsan illaa wus-‘aha. Wallohu subhaana wa ta’ala bil ‘alam *** (Iqbal1).

Referensi : Syeikh Zainuddin Al-Malaibari ; Muqoddimah Fathul Mu’in.

Satu Balasan ke Tanbeh : Sekitar Ilmu Fiqih

  1. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,, ajengan anom…

    Seandainya sy bertemu dengan ajengan anom di dunia nyata,,,
    Ingin rasanya sungkem dengan ajengan,,,
    Maafkan segala salah saya selama berinteraksi selama ini,,,
    Baik yang saya sengaja maupun yg tidak
    Baik yang langsung maupun yang tidak langsung
    Skali lagi Mohon Maaf, Ajengan…

    Marhaban Ya Romadhon 1432 H….

    Salam Sungkem dari Semarang.
    Haris Samaranji

    ———-

    Wa ‘alaikumussalam warohmatullohi wa barokaatuh….

    Kang Mas Samaranji, alhamdulillah senantiasa berkenan berkunjung ;
    Sama2 saya juga sungkem kepada Kang Mas Samaranji untuk mohon ma’af yang se-besar2nya atas berbagai kesalahan, kehilafan, kealfaan, dsb.
    Semoga silaturahmi ini jadi wasilah turunnya rahmat, berkah serta ampunan Alloh SWT kepada kita. Amin.

    Terimakasih Kang Mas Samaranji, selamat menunaikan ibadat saum ramadhan.

    Wassalamu ‘alaikum warohmatullohi wa barokaatuh.

    Salam takdhiem,
    Iqbal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: