Jejak : Mukti Ali, Penabur Bibit Toleransi

Terlahir dari keluarga saudagar membuat Boedjono bebas bergelilya mencari ilmu. Selepas dari HIS di Cepu, oleh sang ayah, H. Abu Ali, ia mondok di Pesantren Termas, Pacitan, 170 kilometer di selatan Cepu. Di sinilah Boedjono, yang lahir di Desa Balun Sudagaran, Cepu, 23 Agustus 1923, mulai bersentuhan dengan buku-buku yang diimpor dari Mesir, seperti buku tentang mantiq (logika), tasawuf dan filsafat.

Di kemudian hari, Boedjono sempat menimba ilmu Kyai Hamid Pasuruan dan Kyai Hamid Dimyati. Oleh Kyai Hamid Pasuruan, Boedjono diminta mengganti namanya menjadi Abdul Mukti, yang tak lain nama kecil sang kyai. Boedjono tentu amat tersanjung, ia pun memadukannya dengan nama sang ayah, menjadi Abdul Mukti Ali.

Dari Cepu dan Pacitan, Mukti Ali melakukan lompatan-lompatan yang jauh ; belajar ilmu perbandingan agama (sampai tingkat doctoral) di Universitas Karachi, Pakistan, kemudian melanjutkan pendidikan di Faculty of Divinity & Islamic Studies di McGill University, Kanada. Ia banyak belajar, menyerap dan menularkan ilmunya. Mukti kerap menganjurkan oksidentalisme –gerakan untuk mempelajari Islam dari sudut pandang Barat-.

Sebelum diangkat menjadi Menteri Agama pada November 1971, ia sempat melontarkan konsep “agree in disagreement” –atau sepakat dalam perbedaan- , dalam symposium di Goethe Institut Jakarta. Pandangannya ini berangkat dari kesadaran akan pluralitas agama dan budaya di Indonesia, dilandasi dengan pemahamannya yang mendalam terhadap teks-teks fundamental dalam Islam.

Pentingnya menjaga kerukunan antar umat seagama, kata Mukti, disadari oleh kenyataan satu agama memiliki berbagai kelompok yang memiliki perbedaan. Di Islam setidaknya ada empat madhab besar. Islam di Indonesia juga terdiri atas Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Masyumi, dan Dewan Dakwah. Begitu pula umat agama non-Islam yang memiliki perbedaan dalam satu tubuh. Jika perbedaan ini tak dikelola dengan baik, sangat berpotensi menjadi konflik.

Mukti Ali pula yang menawarkan pemahaman agama secara kontekstual atau bersifat sosio-historis. Suatu metode pemahaman terhadap kepercayaan, ajaran, atau keyakinan yang muncul dengan melihatnya sebagai suatu kenyataan yang mempunyai kesatuan mutlak dengan waktu, tempat, kebudayaan, golongan dan lingkungan tempat kepercayaan, ajaran, atau keyakinan itu muncul.

Sebagai menteri, Mukti Ali tak dikategorikan sebagai ulama sebagaimana pendahulunya, KH. M. Dahlan, tapi sebagai “teknokrat” sejajar dengan Widjojo Nitisastro dan kawan-kawan. Sebagai menteri, ia memperkenalkan program “pengembangan pesantren” dengan pendekatan community development. Juga mengusulkan pendidikan keterampilan dan kewiraswastaan di lingkungan pesantren. Melalui Departemen Agama, Mukti Ali juga mendukung program Keluarga Berencana.

Wartawan senior Syu’bah Asa (alm) menilai sepak terjang Mukti Ali sebagai menteri berhasil mengubah citra Departemen Agama menjadi lembaga yang lebih “bersahabat”. Maklum, sebelumnya Departemen yang dipimpin KH. M. Dahlan ini laksana orang tua yang gemar menghukum anak-anaknya.

Sebagai akademisi, Mukti Ali, yang wafat pada 5 Mei 2004, menulis beberapa karya monumental, seperti Al-qur’an dan Terjemahannya (anggota dewan penerjemah), Al-qur’an dan Tafsirnya (anggota dewan penafsir), Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, serta Beberepa Persoalan Agama Dewasa Ini. ***  (Ref. :  Koran Tempo, C2).  

4 Balasan ke Jejak : Mukti Ali, Penabur Bibit Toleransi

  1. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,,, ajengan

    Sungguh sebuah inspirasi untuk memotifasi kita menebarkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Mohon koreksinya….http://debu-semesta.blogspot.com/2011/08/perbedaan-adalah-rahmat-hanya-orang.html

    ——–

    Wa ‘alaikumussalam wr wb.

    Alhamdulillah, tks Mas Samaranji atas kebersamaannya…

    “Perbedaan Adalah Rahmat, Hanya Orang Culas Yang Berharap Perbedaan Menjadi Laknat” ; setuju. Ummatan wahidatan jangan salah dipersepsikan.

    Semoga di bulan ramadhan ini ber-tambah2 limpahan rahmat Alloh SWT kpd kita, amien.

    Wassalam,
    Iqbal

    • iqbal1 mengatakan:

      Wa ‘alaikumussalam wr. wb.,

      Tks Mas Samaranji atas kebersamaannya.

      Tentang firman Alloh SWT ; Wa Laa Tafarroquu (Dan janganlah kalian berpisah/bercerai-berai), Al-imron 103, dapat disampaikan sbb.

      1. Secara etimologi : (Wa) = Haraf athop/muthlaqul jami, (Laa) = Nahiyatun/perangkat nahyi/larangan, (Tafarroquu) = Fi’lun mudhore-un ma’lumun majzumun bi laa nahiyati, wa alamatu jazmihi hadzfu nuuni liannahu minal ‘af-’alil khomsati. Al-wawu dhomirun barizun fa-‘iluhu.

      Lafadz ‘wa laa-tafarroquu’ ini fi’il nahyi, menunjukkan jamak mudzakar mukhotob. ‘Tafarroquu’ berasal dari lafaz faroqo-yafruqu-farqon/firooqon, artinya ‘pisah’. Dimasukkan kepada wazan tashrif bab ke 2 warna ke 1 tsulatsi majied fih.

      Tafarroquu adalah fi’il mudhore yang maklum (disebut fa’ilnya) serta dijazamkan oleh “laa” nahyi tadi, alamat jazamnya membuang nun, sebab fi’il lima. Wawu yang ada dalam tafarroquu menjadi fa’il-nya.

      2. Syarah/penjelasan atas makna lafadnya adalah al :

      a. “(Wa laa tafarroquu) = ‘anil haqqi bi wuquu-‘i al-ikhtilaafi bainakum, li anna al-haqqo laa yakuunu illaa waahidan, wa maa ‘adaahu yakuunu dlolaalan”.
      (Ref. Marrohu Labied Tafsier Munir ; Juz 1 ; Hal. 112).

      Dan janganlah kalian semua berpisah/bercerai-berai meninggalkan kepada yang haq/kebenaran dengan menimbulkan perbedaan diantara kalian, karena sesungguhnya haq tidak terbukti kecuali hanya satu. Adapun selain daripada yang haq, adalah kesesatan/tersasar.

      b. “(Wa laa tafarroquu) = Ae fadawwimuu ‘alaa al-ijtimaa-‘I wa laa yakunu minkum tafarroqotun”.
      (Ref. Hasyiyah Tafsier Ash-showi, Juz 1, hal. 228)

      Tegasnya yaitu kalian semua harus melanggengkan ijtima (rembugan2/kesepakatan2) dan jangan sampai terjadi diantara kalian semua bercerai-berai/pecah-belah/permusuhan.

      c. Firman Alloh SWT ; “Dan janganlah kalian semua bercerai-berai”, Alloh menyuruh mereka bersatu dan melarang mereka bercerai-berai.

      Berkaitan dengan ini banyak hadits disampaikan. Seperti hadits yang terdapat dalam shahih Muslim yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwasanya Rosululloh SAW telah bersabda : “Sesungguhnya Alloh SWT menyukai dari kamu 3 perkara, dan membenci dari kamu 3 perkara ; Dia ridlo padamu jika kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, agar kamu semua berpegang teguh kepada tali Alloh dan tidak bercerai-berai, dan agar kamu setia kepada orang yang telah diserahi urusanmu oleh Alloh. Alloh SWT murka kepadamu lantaran 3 perkara ; banyak berbicara, banyak bertanya, dan menghamburkan harta”. (HR. Imam Muslim).

      Mereka dijamin oleh ayat itu dengan perlindungan dari kesalahan dan berhentinya perselisihan serta ikhtilaf jika mereka bersatu/ijtima. Sesungguhnya hal itu telah melanda umat ini. Mereka bercerai-berai/firqoh menjadi 73 kelompok. Kecuali diantara ke 73 kelompok itu hanya satu kelompok yang selamat dan masuk surga serta diselamatkan dari azab neraka, ialah orang2 yang berpegang kepada apa yang dijalani oleh Nabi SAW dan para sahabatnya.

      Note : Kaum salafiyah (yg mengikuti kpd apa yg dijalani Nabi SAW dan para sahabatnya) berpandangan, “Kami berupaya sambil berjuang menurut kadar kemampuan untuk menjadi kelompok yang selamat. Alloh-lah yang memberi taufiq, yang akan menolong, dan kepada-Nya-lah kami berserah diri, bukan kepada selain Dia, tanpa sekutu bagi-Nya”.
      (Ref. Mukhtasar Tafsier Ibnu Katsier ; Jilid 1 ; Hal. 558-561)

      Wallohu subhaana wa ta’alaa bil ‘alam.

      (Lain2 : Firqoh = tdk sesuai dg hablillah (tali agama Alloh, pokok agama, islam, qur’an-sunnah, taqwaa). Ini dilarang al-qur’an. Ikhtilaf = dalam koridor ‘hablillah’, masih sesuai kaidah qur’an, sunah, ijma, qiyas. Ini dibolehkan).

  2. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum,,,, Ajengan.

    Duh, makasih banget penjelasannya. Insya-Allah sangat membantu pemahaman saya.

    Oiya,,,semoga berkenan dengan ilustrasi “kartu lebaran” yg sy bikin🙂 …
    http://debu-semesta.blogspot.com/2011/08/minal-aidin-wal-faidzin.html

    Taqobbalallah minna wa minkum
    Minal ‘aidin wal faidzin
    Mohon maaf lahir en bathin.

    —–

    Wa ‘alaikumussalam …

    Mas Samaranji tks., semoga Alloh SWT menambah manfaat ilmu yang kita sampaikan.
    He.he.he ilustrasi kartu yg akan banyak memberikan inspirasi, setuju, bagus… “Bersama kita bangun peradaban Islam. Lawan berfikir, kawan berjuang”.

    Taqobbal ya kariem… Waja’alnakum minal aidzin wal faizin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: