Ahlak : Fenomena Mencari Ketenangan Hati

Zuhud, menolak kemegahan duniawi, semata-mata menuju kepada Alloh SWT, tawakkal, khauf dan roja’, adalah sedikit dari beberapa pendirian Imam Hasan Albashri dalam tatacara tashawwuf. Sebuah fenomena mencari ketenangan di dalam telaga hati.

Pendapatnya ini diikuti ulama mutashowwifien di kemudian hari. Imam Hasan Al-Bashri (21 H – 110 H) adalah ulama dari kalangan tabi’in (Periode sesudah sohabat) yang termashur kezuhudannya. Beliau termasuk orang yang pertama-tama membicarakan ilmu kebathinan, keluhuran budi dan kesucian hati atau dikenal sebagai perilaku tashawwuf. Perkara yang diperbincangkan dalam ilmu tashawuf, tidak kalah pentingnya dalam Islam kita supaya membuahkan perilaku ahlak terpuji (Ahlaqul mahmudah). Untuk perkara ini Nabi kita bersabda ; “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan ahlak yang mulia”.

Menurut beliau Imam Hasan Al-Bashri, diantara khauf dan roja tidak boleh terpisah. Janganlah hanya semata-mata takut kepada Alloh. Tapi ikutilah ketakutan dengan pengharapan. Takut akan murkanya, tetapi mengharapkan karunia-Nya.

Sebagian dari pesan Hasan Al-Bashri yang senantiasa menjadi buah bibir mutashowwifien antara lain :

Anak Adam. Dirimu, dirimu. Dirimu hanya satu. Kalau dia selamat, selamatlah engakau. Dan orang yang selamat tak dapat menolongku. Tiap-tiap nikmat yang bukan surga, adalah hina. Dan tiap-tiap bala bencana yang bukan neraka, mudah.

Surga, yang diutamakan disini adalah perasaan. Karena menikmati ridho Alloh SWT. Dan neraka, ialah puncak kegelisahan karena merasa murka-Nya.

Syahdan, suatu hari di tepi sungai Dajlah, Hasan Bashri melihat seorang laki-laki sedang duduk dengan seorang wanita muda dan di dekat mereka ada sebotol minuman. Terlintas dalam hatinya : “Alangkah bejatnya orang ini, dan alangkah baiknya bila dia seperti aku”.

Tiba-tiba kelihatan sebuah perahu tidak jauh dari orang itu. Berangsur-angsur perahu itu mengalami tenggelam, sehingga 7 orang yang berada di dalamnya hampir mati kelemasan. Laki-laki yang duduk di tebing sungai itu segera terjun ke sungaai untuk menolong mereka. Namun yang berhasil diselamatkan hanya enam orang.

Kemudian orang itu berpaling kepada Hasan Al-Bashri dan berkata ; “Jika anda lebih mulia dari saya, maka dengan nama Alloh, selamatkan seorang lagi yang belum dapat saya selamatkan. Anda diminta hanya menyelamatkan satu orang, sedang saya telah menyelamatkan enam orang”.

Tetapi sayang, Hasan Bashri tidak dapat menyelamatkan orang yang tinggal satu orang itu. Maka laki-laki itupun berkata kepada Hasan Bashri ; “Tuan, wanita yang duduk disamping saya tadi adalah ibu saya, dan botol minuman itu hanya berisi air putih biasa saja, bukan arak. Hal ini adalah untuk menguji tuan”.

Mendengar kata-kata itu, Hasan Bashri tertegun. Lalu Hasan Bashri pun berkata ; “Sebagaimana tuan telah menyelamatkan enam orang, maka selamatkanlah saya dari tenggelam dalam air kebanggaan dan kesombongan”.

Orang itu menjawab ; “Mudah-mudahan Alloh kabulkan maksudmu”.

Hasan Bashri pun merasa maksudnya sudah terkabul. Sejak itu, beliau sangat merendahkan diri. Bahkan menganggap dirinya lebih hina dari orang lain.

Kematangan ilmu yang dimiliki oleh Hasan Bashri selalu diuji dalam praktek realitas, dan semakin diuji semakin mantap. Kemudian menjadi jiwanya. Demikian pulalah mengenai kezuhudan, khaof dan rojanya.

Diantara kata-kata hikmah dari Abi Sa’id Al-Hasan bin Yasaar Al-Bashri ini yang terkenal adalah :

  1. Carilah manisnya amal dalam tiga perkara. Kalau kamu telah mendapatkannya, maka bergembiralah dan teruslah mencapai tujuan. Dan jika kamu telah mendapatkannya, maka ketahuilah pintu masih tertutup rapat. Tiga perkara itu ialah : Ketika kamu membaca qur’an, ketika kamu berdzikir, ketika kamu bersujud.
  2. Siksa bagi orang alim adalah matinya hati. Ketika beliau ditanya ; “Bagaimana matinya hati itu ?”. Beliau menjawab ; “Mencari dunia dengan amal akhirat”.
  3. Patutlah orang insaf bahwa mati sedang mengancamnya, dan kiamat menagih janjinya dan dia mesti berdiri di hadapan Alloh dan akan dihisabnya.
  4. Akhir dunia, dan awal akhirat ialah di dalam kubur.
  5. Engkau akan mati. Dan semua akan engkau tinggalkan. Hartamu nanti akan dibagi-bagikan kepada ahli warismu yang akan saling cakar-cakaran. Termasuk kepada istrimu yang masih muda belia, ia akan kawin lagi dengan orang lain. Jadi kekayaan itu akan menjadi milik suaminya yang baru. Yang tetap akan terbawa dan tinggal bersamamu hanya amalmulah.

Hasan Al-Bashri inilah zahid yang khaof dan rojanya menjadi suri tauladan para mutashowwifien. Ajarannya dijadikan kitab pedoman utama bagi imam-imam tasawwuf di seluruh penjuru dunia. Bagi dunia sufi namanya tidak asing lagi. Wallohu subhaana wa ta-‘ala bil ‘alam *** (Iqbal1).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: