Fenomenal : Sikap Umat Islam terhadap Rokok

Merokok adalah kegiatan yang lumrah di kalangan masyarakat Indonesia. Akan tetapi, kegiatan ini dipandang jelek dan berbahaya oleh mereka yang memang tahu dampak dan bahaya yang ditimbulkan oleh asap dari tembakau tersebut. Tak ayal, kegiatan yang satu ini menjadi kontroversi yang hangat dan kasusnya sempat klimaks di kalangan masyarakat yang pro dan kontra. Lantas bagaimana kita menyikapi hal ini?. Bagaimana Syari’at memandang kegiatan yang satu ini?.

Perlu kita ketahui bahwa hukum halal dan haram menggunakan dan atau memanfaatkan tembakau ini tidak termaktub dalam nash secara khusus dan shorih. Tidak ada dalam Quran, tidak termaktub juga di dalam hadits Rasululloh SAW. Lantaran tarikh munculnya tembakau ini menurut Al-Imam al-Syarif al-Syaikh ‘Abdulloh bin ‘Alawiy al-Haddad adalah menyimpang. Sedangkan tarikh mencuatnya tembakau digambarkan dalam syi’ir yang ditulis oleh Al-Imam al-Bakariy sebagai berikut :

يا خليلي عن الدخان أجنبي  –  قلت ما فرط الكتاب بشيء

هل له في كتابنا إيماءُ  –  ثم أرخت يوم تأتي السماءُ

Sahabat baikku, sepihak ulama untuk menjauhkannya dari asap (rokok) .  Apakah ada isyarat untuk asap dalam Kitab kita?.  Maka aku menjawab tidaklah akan sia-sia satupun apa yang ada di dalam Kitab. Kemudian aku mentarikhkan (jawabanku) di hari datangnya langit.

Tidak adanya ketetapan dari Nabi Muhammad SAW dalam menetapkan nash untuk menghukumi pemakaian tembakau ini adalah semata-mata karena rahmat bagi kita. Jika tidak demikian, maka Alloh ‘Azza wa Jalla pasti mengetahui akan perlunya kita mendapatkan nash yang jelas dalam memandang hukum tersebut. Rosul bersabda :

عن أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه ، عن رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال : إن الله فرض فرائض ، فلا تضيعوها ، وحد حدودا فلا تعتدوها ، وحرم أشياء ، فلا تنتهكوها ، وسكت عن أشياء رحمة لكم غير نسيان ، فلا تبحثوا عنها . حديث حسن ، رواه الدارقطني وغيره . 

 “Sesungguhnya Alloh ‘Azza wa Jalla mewajibkan berbagai macam kefardluan. Oleh karena itu maka janganlah enkau mempersempitnya. Dan Alloh pula telah menjatuhkan berbagai macam batasan. Maka dari itu jangan pula engkau memperhitungkannya. Alloh telah melarang berbagai hal pula. Maka janganlah sampai engkau melanggarnya. Dan Alloh diam (tidak menyabdakan) beberapa hal untuk kalian bukan karena lupa. Maka dari itu janganlah membahas hal tersebut”.  (Hadits Hasan).

Makna diamnya Alloh , menurut Sayyid ‘Alawiy bin Ahmad al-Segaf adalah sesungguhnya Alloh tidak menurunkan nash shorih dalam menjelaskan hukum-hukum tersebut kepada Nabi kita Muhammad SAW. Sedangkan esensi diam itu rahmat bagi kita adalah sesungguhnya Alloh SWT menashkan haram suatu perkara karena disiksanya kita jika melakukannya. Dan Alloh SWT tidak menurunkan nash wajib suatu hal karena disiksanya kita jika meninggalkannya. Alloh juga tidak menashkan makruh karena akibatnya buruk untuk kita.

Apabila kita telah faham dan mengikrarkan hal tersebut maka perlu kita ketahui bahwa masalah hukum menggunakan tembakau – baik dihisap dan atau dicium baunya – adalah sebagian dari urusan-urusan musytabihat. Yaitu sebagaimana yang ditafsirkan oleh para ulama sebagai urusan yang belum jelas halal dan haramnya dikarenakan masih menjadi perselisihan dan perbedaan penarikan kesimpulan mereka terhadap makna-makna dan sebab-sebab yang melatar belakanginya.

Yang menjadi pangkal permasalahan dalam hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imamain Bukhori dan Muslim dalam kedua kitab shohihnya ; 

عن أبي عبد الله النعـمان بن بشير رضي الله عـنهما قـال: سمعـت رسـول الله صلي الله عـليه وسلم يقول: إن الحلال بين وإن الحـرام بين وبينهما أمور مشتبهات لا يعـلمهن كثير من الناس فمن اتقى الشبهات فـقـد استبرأ لديـنه وعـرضه ومن وقع في الشبهات… الحديث

Dari Nu’man bin Basyir ra, dari Nabi Muhammad SAW, sesungguhnya beliau telah bersabda : “Sesungguhnya halal itu jelas (hukumnya) dan yang haram pun jelas, lalu yang diantara keduanya adalah perkara musytabihat yang kebanyakan manusia belum mengetahuinya”, bacalah keseluruhan haditsnya.

Begitulah para ulama menarik kesimpulan dalam menghukumi pemakaian tembakau, bahwa tembakau merupakan sebagian dari perkara musytabihat.

Dari natijah tersebut, terbagilah pendapat para ulama menjadi tiga bagian madzhab :

  1. Madzhab yang berpendapat mutlak mengharamkan pemakaian tembakau. Bagian ini, berdiri di bawah naungan para ulama pula. Mereka mentarjihkan (red. mengunggulkan) hukum tunggal (haram) dalam menanggapi pemakaian tembakau berdasarkan risalah-risalah yang mereka tetapkan di dalamnya pijakan-pijakan hukum haram. Perbincangan mengenai madzhab ini dipaparkan panjang lebar dalam ‘Alim al-Madinah al-Hadits al-Kabir Muhammad Hayat al-Sanadiy. Sebagian yang lainnya adalah Al-Sayyid al-Jalil Abu Bakar bin Qosim al-Ahdal, dan Al-Qodli al-‘Alim al-Kabir Husain al-Mahalla. Kebanyakan ulama ahli shufi memastikan keharamanny. Sebagian ulama yang berpendapat demikian adalah  Sayyid al-Imam al-Rabbaniy al-Sayyid ‘Abdulloh bin ‘Alawiy al-Haddad rohimahumulloh.
  2. Madzhab yang berpendapat pemakaian tembakau mutlak tidak haram. Bagian ini, berdiri di bawah naungan para ulama yang memiliki berbagai karangan dan ketetapan halal tanpa mengharamkan berdasarkan risalah-risalah yang berusaha menentang pendapat madzhab pertama. Makalah-makalah dan berbagai karangan tersebut adalah karangan dari Sayyid al-Jalil al-Imam al-Syahir Muhammad bin Isma’il, al-Amir al-Imam yang banyak tahu ilmu Ma’qulat dan Manqulat al-Syaikh ‘Abd al-Ghoniy al-Nabalisiy, Syaikh Muta-akhiriy al-Syafi’iyyah al-Jamal al-Zayadiy, dan al-Syaikh Maro’iy al-Hanbaliy rohimahumulloh
  3. Madzhab yang tidak berpendapat apapun, tidak haram maupun halal. Pendapat madzhab ini didasarkan pada wilayah tafshil (masih bisa diperinci). Mereka memandang qo’idah   ان الأطلاق للحكم في مقام التفصيل   ”sesungguhnya ithlaq  bagi hukum ada dalam hukum tafshil” adalah keliru. Mereka berpendapat bahwa hukum itu seluruhnya ada lima ; haram, makruh, wajib, sunat, dan ibahah. Yang lima ini berlaku dalam hukum menggunakan tembakau berdasarkan perincian qodliyah wad’iyyah dan qodliyah syari’ah. Maka dari itu, telah menjadi ketetapan Alloh SWT dalam setiap pekerjaan yang dikerjakan mukalaf, ada dua khitob yaitu ; khitob taklifiy seperti lima yang telah disebutkan tadi. Dan khitob wadl’i seperti mani’, sabab, dan syarat.

Kesimpulannya adalah, tidak ada ketetapan atau sifat-sifat dalam tembakau, juga tidak ada sifat aghlabiy dalam tubuh pengguna tembakau yang madarat secara pasti dan jelas. Seperti orang yang merokok meninggal seketika karena menghisap tembakau (seumpamanya), atau dalam tembakau terdapat zat yang diharamkan (najis, memabukkan, dll).

Karena itu, tidak ada jalan bagi siapa pun untuk menetapkan hukumnya kecuali telah nyata dan jelas khitob wadl’I dan taklifi-nya. Al-Imam al-Syafi’i dalam al-Risalah menyatakan, “seseorang tidak boleh mengatakan ini halal dan ini haram kecuali ia telah mengetahui dalilnya. Sedangkan mengetahui dalil itu didapat dari al-Quran, hadits, ijma’ atau qiyas. (al-Risalah: 36).

Jika kita gegabah dengan memastikan suatu hukum tanpa referensi dan dukungan nash yang soreh maka jangan-jangan kita termasuk kedalam sabda Alloh SWT :

ولا تقولوا لما تصف ألسنتكم الكذب هذا حلال وهذا حرام لتفتروا على الله الكذب إن الذين يفترون على الله الكذب لا يفلحون  متاع قليل ولهم عذاب أليم

“Dan janganlah kamu mengatakan sesuatu menggunakan sifat lidahmu dengan bohong, ‘ini halal dan ini haram’ karena tujuan mengada-ada kepada Alloh dengan berbohong. Sesungguhnya orang yang mengada-ada berbohong kepada Alloh tidak akan bahagia dengan dan bagi mereka adzab yang pedih. (Al-Nahl ; 115).

Wallohu A’lam *** (Iqbal1).

Ref. : Kitab Sab’atu Al-Kutub Mufidah, keterangan lengkap lihat hal. 158.

3 Balasan ke Fenomenal : Sikap Umat Islam terhadap Rokok

  1. apsara villa bali mengatakan:

    merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.

    —-

    Betul, setuju sekali. Ini sisi-sisi madharatnya. Tks telah menyimak.🙂

  2. Maulana Ibrahim mengatakan:

    Ucapan Alloh lah yang paling benar.. selama Alloh nggak pernah mengatakan dalam AlQuran roko itu haram/dilarang , saya lanjut meroko…

    —-

    Betul. Sangat setuju sekali. Ini sisi lain pertimbangan yg ketiga. Tks telah respons.

  3. Samaranji mengatakan:

    Assalamu’alaikum.

    Bukankah kalo makan qt dianjurkan spy tidak trlalu kenyang, sprtiga makanan, sprtiga minuman, sprtiga udara. Mungkin asap rokok utk mengisi sprtiga yang terakhir.

    He,,he,,, yg jelas serangan jantung itu mudah terjadi pd org yg kena kangker, kantong kering kerontang.

    —-

    Wa ‘alaikumussalam wr wb,

    Tks Mas Samaranji; Betul. Sangat setuju…

    He3x.. Gara2 kanker ini, kena semprit semua…

    Salam,-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: