Menambah Lafad Sayidina

قال الشمس الرملى فى شرح المنهاج  الافضال الا ثيان بلفظ السيادة لان فيها الا تيان بما امرنا و زيادة الاحبار بالواقع الذي هو ادب  فهو افضل من تركه  وقال السحيمي ايضا ولا يقال امتثال الا مر افضل من الادب لانا نقول فى الادب امتثال الامر وزيادة والظاهر ان الافضل ذكره قى غيرنبينا ايضا. انتهى  وا كمل الصلاة على النبي وافضلها سواء في الصلاة و خرجها كما نص على ذلك الرملى  اللهم صل على سيدنا محمد و على ال سيدنا محمد …. الخ

امام الحظرمى ؛ كالشفةالسجا في الشرح سفنةالتجا ؛ صحفة  ٦١

Perkara menambah lafad –sayidina- sebelum menyebut nama Nabi Muhammad SAW, perlu juga diutarakan supaya memahami duduk persoalan. Menghindarkan kekwatiran akibat tidak mafhum. Menjadi menimbulkan pertanyaan atau ragu-ragu dalam beramal.

Telah mengemukakan Imam Syamsu Ar- Romli dalam Syarah Al-Minhaj, bahwa  yang lebih utama, -yaitu ketika menyebutkan nama Nabi Muhammad SAW-  adalah mendatangkan kepada lafad –siyadah- (kepemimpinan/sayidina). Sebab sesungguhnya dalam lafad –siyadah- terkandung  beberapa faktor sesuatu perkara yang telah diperintahkan kepada kita semua memenuhinya.

Perkara menambahkan lebih terhadap sesuatu –ahbar-, yaitu konteks penyebutan Nabi Muhammad SAW dari buktinya dengan mendatangkan lafad –sayidina- merupakan tatakrama yang benar. Memakai tatakrama, adalah lebih utama daripada meninggalkannya.

Telah mengemukakan juga Imam Suhaemi, bahwa jangan diungkapkan melaksanakan perintahan itu lebih utama daripada tatakrama. Sebab kita semua telah berpendapat tetap dalam tatakrama melaksanakan perintahan, dengan menambahkan kelebihan atas –ahbar- dari buktinya. Sesungguhnya utama juga menyebutkan sayidina kepada selain nabi kita.

Kesimpulan : Adalah lebih sempurna dalam sholat dan di luar sholat, seperti perkara yang sudah di –nash- oleh Imam Romli atas kelebihan penambahan –ahbar- sebagai tatakrama. Yaitu menambahkan sayidina di depan nama Nabi Muhammad SAW seperti berikut : “Allohumma SholIi  ‘aala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aali Sayyidina Muhammad. Kama shollaeta ‘alaa Sayyidina Ibrohiem, wa ‘alaa aali Sayyidina Ibrohiem, dst…. (Lihat Kitab Kassyifatus-saja Fie Syarhi Safinatun-najaa, Imam Hadhromi, Halaman 61).

Ketiadaan lafad –sayidina- dalam konteks matan hadits, mesti disikapi sebagai keengganan Kangjeng Nabi Muhammad SAW menyombongkan atau membanggakan diri. Tetapi hal ini bukan menunjukan sebagai larangan menyebut nama beliau dengan sayidina.

Nabi sendiri dalam beberapa hadits yang lain menyebut dengan jelas dirinya sebagai -sayidina- ; “Ana -sayyidu- waladi aadama yaomal qiyamati” (Hr Muslim) ; “Ana -sayyidul- mursalien wa khotamien nabiyyien”. “Ana -sayyidu- waladil aadama wa laa fahroo”.  (Lihat Hasyiyah Bajurie, hal 14).

Dalam pendapat Madhab Imam Syafii telah mu’tamad menambah lafad sayidina ketika menyebut nama Nabi Muhammad SAW sebagai -afdhol-. Menyebut dalam sholat ataupun di luar sholat. Sebagaimana dikukuhkan -nash- hukumnya oleh Imam Syamsu Ar-Romlie atas perkara itu ; “Allohummaa shollie ‘alaa sayidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad, kama sholaita ‘ala sayidina ibroohiem wa ‘alaa aali sayidina ibroohiem .. dst.. ” ; sebagai bacaan takhiyat akhir dalam sholat.

Keterangan lihat Kitab Imam Hadromi, Kasysyifaatus Sajaa fie syarh Safinatunn najaa, halaman 61. Penjelasan ini ditashih juga ashab-ashab kaol Imam Syafii yang lainnya, seperti dalam Kitab Hasyiyah Bajurie. Ada juga dalam Taqrieb. Atau Kitab Ghoyatul Ihtisar, atau At-Tadhib. Hukumnya sudah begini jadi nash qoth’i.

Syeikh Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri menyatakan :

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

Yang lebih utama adalah mengucapkan sayidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau). (Hasyisyah Al-Bajuri, Juz I, Hal 156).

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW :

عن أبي هريرة قا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at. (Shahih Muslim, 4223).

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani :

Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits -‘saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat’-. Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat. (Dalam kitabnya Manhaj As-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayidina di dalam shalat ?.

لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

Janganlah kalian mengucapakan sayidina kepadaku di dalam shalat

Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak sinkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan   سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ  , Sehingga tidak bisa dikatakan  لَاتُسَيِّدُوْنِي

Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayidina dalam shalat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menambahkan lafad sayidina ketika membaca, menulis sholawat, dsb. kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: