Insert : Sekitar Ilmu Tasawwuf

Sekitar Ilmu Tasawwuf dan ahli tasawwuf

Ilmu tasawwuf merupakan salah satu cabang dari lmu-ilmu Islam yang utama dan cukup penting meliputi diantara yang lainnya. Yaitu ilmu tauhid, ilmu fiqih dan ilmu ahlak. (KH. Siradjuddin Abbas : 3 ; 30).

Ilmu tauhid bertugas membahas soal-soal i’tiqod, seperti i’tiqod mengenai ketuhanan, kerasulan, hari akhirat, dlsb. Ilmu fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji, dlsb. Ilmu tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti ; bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu, muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. dlsb.

Ringkasnya, tauhid takluk kepada i’tiqod, fiqih takluk kepada amal ibadat, dan tasawuf takluk kepada ahlak. Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya ber-i’tiqod sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid, supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih, dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawwuf.

Sudah mafhum difahami adanya ilmu-ilmu tersebut dalam agama kita.

Tentang dalil atau dasar-dasar landasan bahwa ilmu tasawwuf sebagai ilmu atau bagian dari tradisi islam awal (masa rasululloh SAW dan para sahabat), antara lain dapat diketahui dari mabadi :

1. Adanya ulama-ulama besar yang menjadi tokoh dalam ilmu ini, seperti Syeikh Hasan Bashri (wafat 110 H), Syeikhah Rabiah Adawiyah (wafat – 135 H), Syeikh Sufyan Tsauri (wafat – 161 H), Syeikh Ibrahim bin Adam (wafat – 161 H), Syeikh Syaqiq Al Balkhi (wafat – 195 H), Syeikh Ma’ruf Karkhi (wafat – 200 H), Syeikh Siri Siqthi (wafat – 297 H), Syeikh Dzin Nun Al-mishri (wafat 245 H), Syeikh Junaidi Al-baghdadi (wafat 297 H), Syeikh Abu Yazid Al-bushtomi, Syeikh Abu Thalib Al-makki (wafat 386 H), Syeikh Al-qusyaeri (wafat 465 H), Hujatul Islam Abu Hamid bin Muhammad Al-ghozali (wafat 505 H), dll.

Beliau-beliau ini yang menggodog, merumuskan dan langsung membukukan ilmu2 ini secara sistimatik. Serta sesudah kewafatan beliau2, munculah ulama2 islam yang mengikuti jejak beliau2 itu dengan mengarang buku2 atau kitab2 yang bertalian. Sehingga sampai  sekarang kita dapat menikmati karya beliau2 itu dengan membaca kitab2nya dan mempelajari pendapat2nya.

2. Sanad atau guru-guru tokoh tsb tiada lain dari masa tabi’in adalah dari para shohabat seperti sayidina Ali KW, Sayidina Utsman ibnu Affan ra, Sayidina Umar ibnu Khotob ra, Sayidina Abu Bakar ra, dll,  dari Rosululloh SAW, dari Malaikat jibril dan dari Alloh SWT.

3. Adanya kitab-kitab yang tersiar dalam bidang ilmu tasawuf yang mu’tabar, al : Ihya ‘Ulumuddin (Imam Ghozali), Mukhtasar Ihya ‘Ulumuddin (Al-Qasimi), Risalah Al-Qusyairiyah (Al-Qusyaeri), Al-Hikam (Ibnu Atho’illah), dll.

4. Adanya -pengamal- atau pengikut ajaran ilmu tasawwuf ini yang sangat ta’at. Antara lain yang mengikuti faham ahlussunnah wal jamaah dalam hal i’tiqod, syari’ah dan ahlak.

5. Bidang kajian teori ilmu ini seperti yang disebutkan di atas adalah bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan ahlak dan budi pekerti. Bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadu, muroqobah, mujahadah, sabar, ridho, tawakkal. dlsb. Landasan nya tiada lain Al-qur’an dan sunnah Nabi SAW (Aqwal/hadits. Af’al, dan Taqrirot) serta atsar sohabat.

6. Hakekat Ilmu tasawwuf antara lain seperti yang dikemukan Syeikh Ahmad Amin (Dzuhrul Islam IV ; 151), yang mengutif pendapat Ibnu Khaldun (wafat 1406 M), beliau berkata ; “Asal pokok dari ajaran tasawwuf itu adalah bertekun beribadat, berhubungan langsung kepada Tuhan, menjauhkan diri dari kemewahan dan kemegahan duniawi, tidak suka pada harta dan tuah/pengaruh yang diburu orang banyak, dan bersunyi-sunyi diri dalam melaksanakan ibadat kepada Tuhan”.

Dari keterangan Ibnu Khaldun yg ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang tasawwuf itu adalah orang yang :

  1. Tetap bertekun beribadat kepada Tuhan
  2. Memutuskan pergantungan hatinya selain kepada Alloh taala
  3. Menjauhkan diri dari kemewahan-kemewahan duniawi
  4. Menjauhkan diri dari berfoya-foya dengan harta benda dan pengaruh/tuah
  5. Berkhalwat atau bersunyi-sunyi dalam melaksanakan ibadat.

Lalu Ibnu khaldun melanjutkan keterangannya : “Hal ini dilaksanakan oleh sahabat-sahabat Nabi SAW dan orang-orang Salaf, tetapi kemudian pada kurun ke 2 hijriyah, setelah orang-orang berebut-rebutan mengejar dunia, dan orang2 sudah enak-enak dalam masyarakat keduniaan, maka orang2 yang tetap tekun beribadat sebagai sediakala dinamai dengan orang-orang Tasawwuf”.

Dari pandangan Ibnu Khaldun yang diberikannya secara global ini dapat diambil kesimpulan dan beberapa pengertian :

  1. Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau beramal atau berbudi pekerti sesuai dengan Tasawuf dan bahkan amal dan akhlak orang Tasawuf bersumber kepada amal Nabi dan sahabat-sahabat beliau.
  2. Ajaran dalam Tasawuf adalah ajaran-ajaran yang berdasarkan Qur’an dan Hadits dan amal-amal sahabat Nabi, tidak ada yang menyimpang dari itu.
  3. Dan pada kurun ke 2 H –orang-orang Islam boleh dikatakan sudah ada yang lupa daratan, sudah mewah-mewah, sudah berfoya-foya, sudah menumpuk-numpuk harta, sudah sombong menyombongkan diri, sudah banyak yang takabur-.
  4. Sebagai reaksi dari keadaan itu banyak pula orang-orang Islam ingin tetap sebagai sediakala, sebagaimana yang diwariskan dari zaman Nabi SAW dan zaman sahabat-sahabat, yakni kehidupan sederhana.
  5. Orang-orang inilah yang dinamakan orang Tasawuf atau orang sufiyah.

Ilmu tasawwuf itu tidak bertentangan dengan Al-qur’an dan Sunnah Nabi, dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya. Juga tidak bertentangan dengan syari’at lahir, tetapi berlainan lapangan. Andaikata ada kelihatan orang2 tasawwuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke masjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang tasawuf. Tetapi tasawuf pura-pura, kalau tidak akan dikatakan orang sinting.

Berkata  Dzun Nun Al-Mishri : “Ciri-ciri orang yang mencintai Alloh ialah siapa yang mengikuti kekasih Alloh Nabi Muhammad SAW dalam ahlak, perbuatan, suruhan dan sunnah beliau“. (Risalah Qusyairiyyah ; 8).

“Kalau kamu melihat seseorang yang diberi karomah sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”. (Risalah Qusyairiyyah ; 14).

Maka ahli Sufi yang tulen mesti menuruti ahlak, perbuatan, dan sunnah Nabi SAW. Andaikata kelihatan seorang Sufi melanggar syari’at, maka ia bukanlah ahli sufi. Ajaran ilmu tasawwuf sudah jelas, tiada lain yaitu meliputi tiga hal unsur penting ; Islam, Iman dan Ihsan / ahlak. Landasannya sebagaimana sabda Nabi SAW ;

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ  : رواه مسلم

Artinya : Dari Sayidina Umar bin Khottob ra, beliau berkata : “Pada suatu hari ketika kami bersama-sama Rasululloh SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tetapi tidak nampak bahwa ia orang musafir dan kami tidak seorangpun yang kenal dengan orang itu. Ia duduk berhadapan dengan Nabi SAW dengan mengadu lututnya dengan lutut Nabi SAW dan meletakkan tangannya di atas pahanya. Lalu ia bertanya ; Hai Muhammad, coba ceritakan kepadaku tentang Islam, Nabi menjawab ; Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad itu Rasululloh, engkau kerjakan sholat, engkau tunaikan zakat, engkau lakukan puasa bulan ramadhan, engkau naik haji kalau kuasa. Laki-laki itu menjawab, benar. Kami heran, kata Umar bin Khottob ra, Ia bertanya dan ia pula yang membenarkan.

Lalu ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tentang Iman!, Nabi menjawab ; Iman ialah supaya engkau percaya kepada Alloh, Malaikat-Nya, Rasul-Nya, hari akhirat dan percaya dengan takdir buruk baiknya. Ia menjawab, benar. Ia bertanya lagi ; Apa ihsan itu ?. Nabi menjawab ; Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya, maka IA melihat akan engkau. Ia bertanya lagi ; Kapan hari kiyamah ?. Nabi menjawab ; Yang bertanya lebih tahu dari yang ditanya. Ia bertanya lagi ; Coba ceritakan tanda-tandanya!. Kalau sudah melahirkan budak akan tuannya dan kalau sudah bermegah-megah dengan rumah-rumah tinggi si penggembala kambing yang miskin.

Kemudian laki-laki itu berjalan, kata Sayidina Umar. Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami : hai Umar, tahukah engkau orang yang bertanya itu ?. Jawab saya ; Tuhan Alloh dan rasul-Nya yang lebih tahu. Nabi menjelaskan ; Itulah Malaikat Jibril, ia datang untuk mengajarkan agamamu’. (HR Imam Bukhari dan Muslim ; Syarah Muslim 1 ; 157-160).

Dalam memberi komentar Hadits ini, Imam Bukhari mengatakan bahwa ketiga-tiganya, yakni Islam, Iman dan Ihsan adalah Agama. (Kitab Hadits Bukhari 1 ; 15). Hadits ini mengisyaratkan pada tiga unsur yang terdapat dalam agama Islam, yaitu Islam, Iman dan Tasawuf. Porsi Ihsan adalah ajaran muroqobah, tahalli, tajalli ; yang ada dalam tasawwuf. Upaya mensucikan diri, jiwa dan pikiran agar senantiasa dekat dicintai Alloh SWT.

***

Beberapa ajaran tasawuf menurut Imam Al-Qusyaeri dalam risalah Al-Qusyaeriyyah diantaranya : Taubat (menyesal atas kesalahan2). Mujahadah (ber-sungguh2 beribadah), Khalwat dan Uzlah (ber-sunyi2 dalam melaksanakan ibadat), Taqwa (bertakwa kepada Tuhan), Wara’ (menjauhkan diri dari maksiyat dan subhat), Zuhud (anti keduniaan yang ber-lebih2an), Shamat (pendiam), Khauf (takut kepada siksa Alloh), Roja’ (mengharap rohmat Tuhan), Hazan (membiasakan berduka-cita), Ju’wa Tarkus Syahwat (membiasakan lapar dan menahan syahwat), Khusyu’ dan Tawadhu (tenang hati dan berendah diri), Mukhalafatun nafsi (melawan hawa nafsu), Qana’ah (mencukupkan yang ada), Tawakkal (hanya bergantung kepada Tuhan), Syukur (berterimakasih kepada Tuhan), Yakin (keyakinan yang teguh), Sabar (tahan menderita), Muroqobah (berhadapan dengan Tuhan), Ridho (senang hati menerima ketentuan Alloh), Ubudiyah (mengabdi kepada Alloh), Iradah (kemauan), Istiqomah (tetap), Ikhlash (ihlas karena dan untuk Alloh), Shiddiq (benar), Haya (pemalu), Dzikir (ingat Alloh), Al-futuwah (mempersiapkan diri untuk berkorban), Firasah (firasat), Khulq (ahlak yg baik), Jud was sakha (pemurah tdk kikir), Gairah (cemburu), Wilayah (kewalian), Du’a (mohon kepada Tuhan), Fiqr (kemiskinan), dll.

Untuk salah satu contoh ajaran tasawuf nomor satu ialah Taubat : 1. Menyesal diri atas dosa yang telah dibuat, 2. Menghentikan perbuatan maksiat itu kalau sedang dikerjakan, 3. Berjanji dengan Tuhan bahwa dosa itu tidak akan diperbuat lagi, 4. Menyelesaikan apabila ada masalah yang  berkaitan dengan hak adami, 5. Seketika berubah dg memperbanyak amal ibadah, 6. Dikerjakan sebelum meninggal.

Firman Alloh ta’ala ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا

Terjemah : “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Alloh sebenar-benarnya taubat (Taubatan Nashuha)”. (At-tahrim / QS : 66 ; 8).

Contoh taubat ini dilakukan oleh Nabi SAW sendiri. Walaupun beliau ma’shum, yakni tidak pernah berbuat dosa, tetapi beliau senantiasa taubat juga kepada Alloh SWT ;

وَعَنِ الاََ ءغَرِابْنِ يَسَارٍالْمُزَنِّيِّ رضي الله عنه قَالَ ؛ قَالَ رَسُوْلُ الله ص م ؛ يَاَيُّهَاالنَّاس تُوْ بُواْ إِلىَ اللهِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ فَاءِنِّيْ اَتُوْبُ فِي الْيَوْمِ مِاءَةَ مَرَّةٍ ؛ رواه مسلم ~ دليل الفالحين ١ ص ٨٣

Artinya : Dari Sohabat Agar bin Yassar Al-Muzannie ra beliau berkata. Berkata Rosululloh SAW ; “Hai Manusia, taubatlah kamu dan minta ampunlah kepada Alloh ta’ala. Sayapun tobat 100 kali dalam sehari”. (HR Imam Muslim, dalilul falihin 1 ; 83).

Ada gubahan sya’ir dari ulama ahli tasawwuf yang amat populer diamalkan tiap ba’da sholat jum’at dalam masalah pertaubatan ini :  

الهي لست للفردوس أهلا ~ ولا أقوى على نار الجحيم
فهب لي توبة واغفرذنوب ~ فإنك غافرالدنب العظيم

(Contoh Audionya Dapat Klik di teksnya/Lirik oleh Gus Dur)

Artinya (Kira-kira) : Ya Tuhanku, rasanya aku tak pantas menjadi masuk ahli surga ; Tetapi rasanya akupun tak kuat masuk neraka jahim. Maka oleh sebab itu terimalah taubat dan ampunilah dosa saya ; Maka sesungguhnya Engkau ya Tuhanku yang sanggup mengampuni dosa bagaimanapun juga besarnya. (Nihayatuz-zein / Ka Syifatu Sajaa ; h 93 ; b 26-27).

Nasihat : 

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُوا لَايَسْخَرْقَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ

Terjemah : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang meremehkan (merendahkan) kumpulan yang lain. Boleh jadi yang diremehkan itu lebih baik dari yang meremehkan” (Al-hujurat / QS 49 ; 11).

يا أيها الذين امنوا أطيعوا الله وأطيعوا الرسول وأولي الأمر منكم فان تنازعتم في شيء فردوه إلى الله والرسول إن كنتم تؤمنون بالله واليوم الآخر ذلك خير وأحسن تأويلا

Terjemah : “Wahai orang-orang yang beriman patuhlah kalian kepada Alloh, dan patuhlah kalian kepada Rosul serta Ulil amri diantara kamu sekalian. Kemudian  jika kalian berselisih paham tentang sesuatu, maka kembalilah kepada Alloh dan Rosul-Nya, jika kamu sekalian benar-benar beriman kepada hari kemudian. Yang demikian ini lebih utama dan lebih baik akibatnya. (An-nisa / QS : 4 ; 59). –Walloohu subhaana wa ta’alaa bil a’lam– *** (Iqbal1).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: