Fiqih (Wanita) : Hal-hal yang Dilarang sebab Haid dan Nifas

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

ويحرم بالحيض و النفاس ثمانية اشياء ؛ الصلاة و الصوم و قراءة القران و مس المصحف و حمله و دخول المسجد و الطوف و الوطء و الاستمتاع بما بين السرة و الركبة ؛ التذهيب ؛ ص ٣٦~٣٨

Karena sebab haid dan nifas, dilarang (haram) mengerjakan delapan hal, yaitu : Sholat 1), Puasa 2), Membaca Al-Qur’an 3), Menyentuh dan membawa Mushaf 4), Masuk masjid 5), Thawaf 6), Bersenggama 7), Dan bersenang-senang dengan anggota tubuh antara pusat dan lutut 8).

Penjelasan :

1). Berdasarkan hadits riwayat Abu Daud dan lain2 riwayat dari Fathimah binti Abi Hubasy, bahwasanya ia sedang haid. Kata Rasululloh SAW kepadanya :

فانه دم اسود يعرف , فاذا كان ذلك فامسكي عن الصلاة

“Sesungguhnya darah haid itu hitam warnanya, telah dikenali (oleh umumnya wanita). Maka apabila ada darah semacam itu, tinggalkanlah sholat”.

Dan hadits-hadits yang lain.

2). Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri ra bahwasanya Rasululloh SAW bersabda tentang wanita, ketika ditanya tentang kekurangan (wanita) dalam agamanya :

اليس اذا حاضت لم تصل و لم تصم

“Bukankah bila dia haid kemudian tidak melakukan sholat dan tidak berpuasa”.

Namun baginya tidak perlu mengqadla sholat yang ditinggalkan selama haid dan nifas. Sedang puasa harus diqadla.

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Mua’dzah, katanya : Aku bertanya kepada Siti Aisyah ra, kataku : “Apakah wanita haid harus mengqadla puasa dan tidak perlu mengqadla shalat ? “. Jawab Aisyah : “Yang demikian itu (haid) menimpa kami pada masa Rasululloh SAW. Lalu kami diperintahkan mengqadla puasa, dan tidak diperintahkan mengqadla shalat”.

3). Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata. Bersabda Rasululloh SAW :

لا يقرأ الجنب و الحاءض شيءا من القران

“Orang junub dan haid tidak boleh membaca sedikitpun dari Al-Qur’an”.

4). Berdasarkan firman Alloh ta’ala :

لا يمسه الا المطهرون ؛ الواقعة ٧٩

“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan”. (Q.S Al-Waqi’ah ; 79).

Dan sabda Nabi SAW :

ان لا يمس القران الا طاهر

“Hendaknya tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang-orang yang suci”.

Ad-daruqutniy meriwayatkan sebagai hadits Marfu’ , dan Imam Malik dalam Muwatha’ meriwayatkan Mursal.

5). Bila kwatir akan mengotori, maka haram. Sedang bila tidak ada kekwatiran mengotori, maka yang diharamkan baginya adalah berdiam atau mondar-mandir di dalam masjid, bukan masuknya. Berdasar hadits riwayat Abu Dawud dari Aisyah ra dari Rasululloh SAW :

لا احل المسجد لحاءض و لا لجنب

“Saya tidak memperkenankan masjid bagi orang yang sedang haid dan junub”.

Hadits tsb diartikan sebagai keterangan di atas. Sebagaimana ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lain2 dari Siti Aisyah ra ia berkata : Bersabda Rasululloh SAW kepadaku : “Ambilkan aku sajadah di masjid”. “Tapi saya sedang haid”. Jawabku. Lalu sabdanya :

ان حيضتك ليست في يديك

“Sesungguhnya darah haidmu itu tidak di tanganmu”.

Dalam riwayat An-Nasai dari Maimunah ra, ia berkata : Salah seorang dari kami (isteri2 Nabi) membawakan sajadah ke masjid dan membentangkannya, padahal sedang dalam keadaan haid.

6). Al-Hakim meriwayatkan –dan menshahihkannya- dari Ibu Ibnu Abbas ra. Ia berkata, bersabda Rasululloh SAW :

ان الطواف بالبيت مثل الصلاة , الا انكم تتكلمون , فمن تكلم فلا يتكلم الا بخير

“Sesungguhnya Thawaf di Baitulloh itu semisal shalat, hanya saja (di sini) kalian boleh bercakap-cakap. Maka barangsiapa yang bercakap-cakap, janganlah ia bercakap-cakap kecuali percakapannya yang baik”.

7). Berdasarkan firman Alloh SWT :

فاعتزلوالنساء في المحيض و لا تقربو هن حتي يطهرن , فاذا تطهرن فاءتو هن من حيث امركم الله ان الله يحب التوابين و يحب المتطهرين ؛ البقرة ٢٢٢

“Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri *). dari wanita di waktu haid ; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci **). Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu tempat yang diperintahkan Alloh ta’ala kepadamu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (Q.S : Al-Baqarah ; 222)

*).     Maksudnya jangan menyetubuhi wanita itu di waktu haid.

**).   Ialah sesudah mandi.

8). Abu Daud meriwayatkan dari Abdullah bin Sa’ad ra. bahwasanya ia bertanya kepada Rasululloh SAW : “Apa yang halal bagiku dari wanita yang sedang haid ?. Sabda Nabi SAW :

لك ما فوق الازار

“(Halal) bagimu segala yang ada di luar sarung”.

Sarung adalah pakaian yang menutupi bagian tengah tubuh, antara pusat dan lutut biasanya.

Para Ulama telah sepakat (Ijma), bahwa nifas sama dengan haid, dalam segala yang halal, haram, makruh, dan bahkan yang disunatkan. Wallohu a’lam *** (Iqbal1).

Satu Balasan ke Fiqih (Wanita) : Hal-hal yang Dilarang sebab Haid dan Nifas

  1. Mitha mengatakan:

    apakah wanita yg sdg haid boleh berdzikir?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: