Tokoh : Allamah Muhammad Iqbal

Allamah Muhammad Iqbal, Nama Yang Selalu Dikenang

Allamah Muhammad Iqbal Lahori, lahir pada tanggal 22 Februari tahun 1873 M di kota Sialkot, Punjab. Ayahnya bernama Nour Muhammad. Ia dikenal memiliki kecerdasan yang tinggi. Hubungannya dengan kawan ayahnya yang bernama Mir Hossein (Syamsul ‘Ulama’) membuat Iqbal merasakan bakat di dalam dirinya untuk menggubah syair. Pertama-tama ia menyusun syair-syair dalam bahasa daerah.

Setelah memasuki Universitas Lahore, Iqbal terus mengembangkan bakatnya dalam menggubah syair. Kedekatan dengan Sir Thomas Arnold membuatnya cenderung kepada pemikiran Barat, dan hal itu membuka pintu bagi Iqbal untuk mempelajari filsafat. Ia mempelajari filsafat semasa berada di Universitas Lincoln’s Inn. Disanapula ia mempelajari bahasa Jerman.

Iqbal meyakini bahwa nasionalisme Barat adalah faktor utama pemicu peperangan. Sementara keterasingan dunia Islam menurutnya telah membuat kaum muslimin mudah ditindas. Karena itu ia menolak nasiolisme Barat dan keterasingan dunia Islam. Iqbal sempat mengalami masa kehidupan Sayid Jamaluddin Asad-abadi (Afghani). Beberapa tahun setelah wafatnya Sayid Jamaluddin, Iqbal terjun secara langsung ke medan untuk melakukan reformasi pemikiran. Pemikiran-pemikirannya dengan cepat menyebar ke seantero negeri India. Iqbal wafat pada tanggal 21 April tahun 1938 setelah menderita sakit.

Iqbal dan Gelanggang Politik

Allamah Muhammad Iqbal Lahori memiliki pandangan politik yang khas. Ia menentang nasionalisme yang mengedepankan sentimen etnis dan kesukuan. Iqbal juga dikenal anti pati terhadap segala bentuk nasionalisme, kesukuan dan rasialisme. Hal lain yang ditolak Iqbal adalah sikap mengekor kepada budaya Barat. Ia menyatakan bahwa kepribadian manusia akan tumbuh dewasa dan matang di lingkungan yang bebas dan jauh dari sentimen nasionalisme.

Iqbal mengatakan bahwa hak-hak asasi manusia harus dihormati tanpa memandang perbedaan suku dan golongan. Antara tahun 1930-1931, Muhammad Iqbal Lahori beberapa kali mengikuti konferensi dan pertemuan di London. Ia ikut andil dalam merumuskan piagam atau konstitusi bagi India. Dalam aktivitas politiknya, Iqbal memegang prinsip bahwa umat Islam harus meningkatkan pengetahuannya dan mendapatkan kembali identitas diri sebagai pengikut agama Islam.

Iqbal pernah mengatakan kepada pemimpin Italia, Benitto Mussolini bahwa satu-satunya jalan untuk menyelamatkan Italia adalah dengan meninggalkan budaya Barat dan menggantinya dengan peradaban Timur. Iqbal tidak pernah duduk secara resmi sebagai pejabat politik. Namun ia memenuhi kehidupannya dengan berpolitik. Menurutnya tugas yang paling besar dan penting adalah membuat perubahan dan reformasi budaya dan pemikiran. Hal itulah yang selalu diupayakan oleh Iqbal.

Melawan Barat

Bagi Iqbal Lahori, budaya Barat bukan hal yang tak dikenal. Ia memandang budaya Barat sebagai budaya imperialisme, materialisme, tak beretika, anti spiritual, serta jauh dari norma insani.

Tak heran bila lantas Iqbal tampil sebagai tokoh yang menentang budaya Barat. Iqbal meyakini bahwa faktor terpenting bagi reformasi dalam diri manusia adalah jatidirinya. Dengan berbekal pemahaman yang dalam akan masalah ini dan berdasarkan pada ajaran agama Islam, Iqbal berjuang untuk menguatkan rasa percaya diri dan identitas keislaman di tengah umat Islam. Dengan cara itu, kaum muslimin dapat melepaskan diri dari belenggu imperialis. Menurut Iqbal masalah paling besar yang dihadapi umat Islam adalah keminderan dan rasa rendah diri dalam menghadapi budaya Barat.

Iqbal dan Persatuan Dunia Islam

Persatuan adalah sebuah keniscayaan bagi umat Islam untuk memperoleh kekuatan. Hanya saja dalam mewujudkan persatuan banyak rintangan dan hambatan yang ada di tengah jalan baik yang muncul karena faktor internal maupun eksternal. Muhammad Iqbal membagi hambatan persatuan Islam ke dalam dua kategori ; 1) Faktor eksternal sebuah negara, dan 2) Faktor internal.

Di antara faktor yang masuk ke dalam kelompok pertama adalah penjajahan asing, nasionalisme gayabaru, ketergantungan ekonomi, dan globalisasi budaya. Sementara yang termasuk kategori kedua adalah krisis jati diri umat Islam, kecenderungan kepada budaya Barat, keterasingan kaum muslimin dari budaya Islam, dan tidak berkembangnya ilmu dan sains di tengah masyarakat muslim pada umumnya.

Menurut Muhammad Iqbal Lahori, persatuan dan persamaan adalah dua landasan utama bagi kekompakan masyarakat muslim. Iqbal percaya bahwa demokrasi dan penafsiran yang sesuai dengan ajaran Islam dapat melahirkan masyarakat yang ideal. Cendekiawan besar muslim ini menegaskan bahwa semakin kita dekat dengan spiritual, kebenaran dan ajaran murni Islam, kebesaran, kekuatan dan persatuan kaum muslimin akan nampak.

Ungkapnya, persatuan Islam tak dapat dipisahkan dari prinsip tauhid. Bagi Iqbal, persatuan dan pengetahuan adalah dua hal yang saling terkait. Sementara kebodohan dan minimnya pengetahuan adalah faktor utama bagi munculnya perselisihan.

Iqbal meyakini bahwa persatuan dapat diwujudkan dengan dua bentuk ; 1) Kesepahaman para penguasa dan pemimpin negara-negara Islam, dan 2) Meningkatkan pemikiran dan pengetahuan umat.

Untuk mewujudkan persatuan ada tiga cara yang bisa ditempuh. Pertama dengan membentuk sebuah kepemimpinan yang satu bagi negara-negara Islam. Kedua membentuk federasi Islam yang dianggotai oleh seluruh negara Islam. Dan ketiga adalah andil secara aktif dalam seluruh perjanjian, kesepakatan, asosiasi, serta perluasan hubungan budaya, politik dan sosial di antara negara-negara Islam.

Iqbal dan Reformasi Pemikiran Agama

Allamah Iqbal senantiasa berupaya mereformasi pemikiran agama dengan menanamkan dan membudayakan rasionalitas. Menurutnya, rasionalitas sudah menyatu dengan Islam sejak zaman kenabian. Iqbal yang menguasai ilmu-ilmu logika lantas mengkritisi metode logika ala Yunani kuno. Al-Qur’an menyeru kita untuk menuntut ilmu. Sayangnya, umat Islam lalai akan seruan itu.

Allamah Muhammad Iqbal meyakini bahwa tertutupnya pintu ijtihad yang merupakan ajang pengembangan dari pemikiran Islam yang sebenarnya telah mengakibatkan stagtansi pemikiran di tengah masyarakat Islam. Karena itu, jika pintu ijtihad yang benar dibuka khususnya dalam kasus-kasus yang disepakati oleh umat Islam, akan terbentang jalan bagi umat Islam menuju ke arah kemajuan. *** (Ref. Taghriblial-wahdahal-ummah).

Satu Balasan ke Tokoh : Allamah Muhammad Iqbal

  1. muhammad iqbal mengatakan:

    ini sangat membuat saya terinspirasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: