Fiqih : Perkara yang Mewajibkan Mandi

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فصل ؛ والذي يو جب الغسل ستة اشياء ؛ ثلاثة تشترك فيها الرجل والنساء ؛ وهي التقاء الختانين وانزال المني والموت ؛ وثلاثة تختص بها النساء ؛ وهي الحيض والنفاس والولادة ؛ التذهيب ص ٢١~٢٣

(Adapun ini adalah sebuah Fasal untuk Menerangkan Perkara yang Mewajibkan Mandi) ; Adapun hal-hal yang mewajibkan mandi ada 6 (enam) perkara. Tiga diantaranya bersamaan ada pada beberapa laki-laki dan perempuan, yaitu ; Bertemunya dua kemaluan/senggama 1), Keluarnya sperma/mani 2), dan Mati 3). Sedangkan tiga perkara lagi adalah khusus ada pada perempuan, yaitu ; Haid 4), Nifas 5), dan Melahirkan 6).

Penjelasan :

1). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Huraeroh ra, dari Nabi SAW, beliau bersabda :

اذا جلس بين شعبها الاربع ثم جهدها فقد وجب عليه الغسل ؛ وفي رواية مسلم وان لم ينزل

“Bila seseorang duduk diantara empat anggota tubuh wanita (dua paha dan dua  betis) kemudian menggerak-gerakannya, maka wajib baginya mandi”. Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan : “Walaupun tidak sampai mengeluarkan (mani)”.

Hadits di atas menunjukkan wajibnya mandi karena persetubuhan itu sendiri, walaupun belum sampai mengeluarkan sperma ;  sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Muslim.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Ummu Salamah ra, ia berkata : Ummu Sulaim datang kepada Nabi SAW katanya : “Wahai Rasululloh, sesungguhnya Alloh tidak malu terhadap barang yang haq. Apakah wajib bagi wanita bila ia bermimpi (mimpi disetubuhi) ?”. Bersabda Rasululloh SAW :

نعم ؛ اذا رات الماء

“Ya (wajib mandi), bila ia melihat (telah mengeluarkan) air”.

Yakni air mani, yaitu cairan yang keluar dari kemaluan wanita saat ia bersenggama.

Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata. Rasululloh SAW ditanya tentang seorang laki-laki yang menemukan basah-basah (pada pakaiannya), dan ia tidak ingat/merasa bermimpi ?. Sabda beliau : “Ia (harus) mandi”.

Dan ketika beliau ditanya tentang seorang lelaki bermimpi tetapi tidak menemukan “basah-basah” pada pakaiannya. Sabda beliau : “Ia tidak wajib mandi”.

Ummu Sulaim bertanya : “Bila seorang wanita melihat yang demikian itu, apakah ia wajib mandi ?”. Sabda Nabi SAW

نعم ؛ النساء شقا ئق الرجال

”Ya, wanita adalah bagian dari orang-orang lelaki”.

Maksudnya, wanita adalah sama dengan lelaki dalam bentuk dan tabiatnya. Sepertinya mereka dibentuk dari potongan-potongan lelaki.

3). Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ummu Athiyyah Al-anshoriyah ra. Ia berkata : Rasululloh SAW datang kepada kami ketika putri beliau meninggal, sabdanya :

اغسلنها ثلاثا

“Mandikanlah ia tiga kali…”

Imam Bukhori dan Muslim juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Adalah seorang lelaki dilemparkan oleh untanya dan terinjak lehernya (sampai mati). Dan saat itu kami ada bersama-sama Rosululloh SAW sedang berihrom. Lalu Nabi SAW bersabda :

اغسلوه بماء وسدر؛ وكفنوه في ثوبين

“Mandikanlah ia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah ia dengan dua lapis pakaian”.

4). Firman Alloh Ta’ala :

فاعتزلوا النساء في المحيض ولا تقربوهن حتي يطهرن ؛ فاذا تطهرن فأتوهن من حيث امركم الله ؛ ان الله يحب التوابين ويحب المتطهرين ؛ البقرة ~ ٢٢٢

“….. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci *). Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Alloh kepadamu. Sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”. (QS ; Al-Baqoroh 222).

*) ia sudah mandi

Imam Bukhori meriwayatkan dari Aisyah ra bahwasanya Rasululloh SAW bersabda kepada Fathimah binti Abu Hubaisy ra :

اذا اقبلت الحيضة فدعي الصلاة ؛ واذا ادبرت فاغتسلي وصلي

“Apabila haid (datang bulan) datang, maka tinggalkanlah shalat. Dan bila haid telah pergi (habis), maka mandilah dan shalatlah”.

5). Diqiaskan dengan haid, karena pada hakekatnya darah nifas adalah darah haid yang terkumpul.

6). Karena anak/bayi yang keluar itu adalah bentukan dari air mani. Dan biasanya keluarnya disertai darah.

(Note🙂 : Mohon maaf apabila ada istilah yg seperti vulgar, seperti itulah fiqih membahas permasalahan thoharoh. Jazakallohu khoeron katsiro. Wallohu a’lam *** Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb 21~23).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: