Fiqih : Mandi-mandi yang Disunatkan

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

 فَصْلٌ ؛ وَالاِْغْتِسَالاََتُ الْمَسْنُوْنَةُ سَبْعَةَ عَشَرَ غُسْلاً ؛ غُسْلُ الْجُمُعَةِ وَالْعِيْدَيْنِ وَالاٍْسْتِسْقَاءِ وَالْخُسُوْفِ وَالْكُسُوْفِ وَالْغُسْلُ مِنْ غُسْلِ الْمَيِّتِ وَالْكَافِرُ اِذاَ اَسْلَمَ وَالْمَجْنُوْنُ وَالْمُغْمَى عَلَيْهِ اِذَا افَاقَا وَالْغُسْلُ عِنْدَالاِْحْرَامِ وَلِدُخُوْلِ مَكَّةَ وَلِلْوُقُوْفِ بِعَرَفَةَ وَلِلْمَبِيْتِ بِمُزْدَلِفَةَ وَلِرَمْيِ الْجِمَارِ الثَّلاَثِ وَلِلطَّوَافِ وَلِلسَّعْيِ وَلِدُخُوْلِ مَدِيْنَةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ اَلتَّذْهِيْبُ فِيْ اَدَلَّةِ مَتْنِ الْغَايَةِ وَالتَّقْرِيْب ؛ ٢٥~٢٧

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mandi-mandi yang disunatkan) ; Mandi-mandi yang disunatkan itu ada 17 (tujuh belas) macam mandi ; Mandi Jum’at 1), mandi dua hari raya 2), mandi istisqo, mandi karena adanya gerhana bulan/matahari 3), mandi setelah memandikan mayat 4), mandinya orang kafir ketika masuk Islam 5), mandinya orang gila dan orang pingsan ketika sadar/siuman 6), mandi ketika ihrom 7), mandi untuk memasuki Mekah 8), untuk wukuf di Arofah 9), untuk bermalam di Muzdalifah 10), untuk melempar tiga jumroh, untuk thowaf 11), untuk sa-i’, dan untuk memasuki Madinatur Rosul SAW.

Penjelasan :

1). Imam Bukhori dan Muslim serta yang lain-lain meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, ia berkata : Bersabda Rosululloh SAW ;

اِذَا جَاءَ اَحَدُكُمْ اِلىَ الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ ؛ ولمسلم اِذَا اَرَادَ اَحَدُكُمْ اَنْ ياَتِيَ….

“Bila seseorang diantara kalian datang menuju Jum’at, maka mandilah”. Dalam riwayat Muslim, “Bila seseorang di antara kalian hendak mendatangi……”

Perintah di atas bukan perintah wajib, berdasar hadits At-turmudzi ;

مَنْ تَوَضَّا يَوْمَ الْجُمْعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ اَفْضَلُ

“Barang siapa wudu pada hari Jum’at, maka ia telah mengamalkan sunnah, dan sebaik-baik sunnah. Dan barang siapa yang mandi, maka mandi itu lebih utama/afdhol”.

2). Imam Malik dalam Al-Muwatha meriwayatkan, bahwa Abdullah bin Umar ra mandi pada hari Iedul Fitri sebelum berangkat ke mushalla.

Iedul Adha diqiaskan dengan Iedul Fitri.

3). Saya tidak mendapatkan dalil naqli yang menjadi dasar disunatkannya tiga macam mandi ini. Mungkin saja para ulama mensunatkannya mengkiyaskan dengan mandi Jum’at dan mandi Hari Raya. Karena ada kesamaan dalam pelaksanaan salat, yaitu dianjurkan dilakukan dengan berjama’ah, dimana kemudian orang-orang berkumpul untuk melaksanakannya.

4). Diriwayatkan dari Abu Huraeroh ra dari Nabi SAW beliau bersabda :

 مَنْ غَسَّلَ مَيْتاً فَلْيَغْتَسِلْ وَمَنْ حَمَلَهُ فَلْيَتَوَضَّاءْ

“Barangsiapa memandikan mayat, maka mandilah. Dan barangsiapa yang mengusung mayat, maka berwudulah” (HR Khamsah, dianggap Hasan oleh At-turmudi.

Perintah di atas tidak wajib, beradsar hadits riwayat Al-Hakim

لَيْسَ عَلَيْكُمْ فَيْ غُسْلٌ اِذَا غَسَّلْتُمُوْهُ

“Tidak ada keharusan mandi atas kalian, dalam memandikan mayat bila kalian memandikannya”.

5). Abu Daud dan At-turmudi meriwayatkan dari Qais bin Ashim ra, ia berkata ; Aku datang kepada Rasululloh SAW untuk masuk Islam. Maka Rosululloh memerintahkan agar aku mandi dengan air dan daun bidara”.

Berkata At-turmudi setelah meriwayatkan haditsnya : Bagi Ahli Ilmu hendaknya berbuat demikian itu, menganjurkan seseorang yang baru masuk Islam agar mandi dan mencuci pakaiannya.

Namun mandi disini tidak diwajibkan, karena tidak semua orang yang masuk Islam diperintahkan oleh beliau SAW agar mandi.

6). Berdasar hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim, dari Aisyah ra, ia berkata : Ketika sakit Rosululloh SAW telah parah, beliau bertanya :”Apakah orang-orang telah shalat”. Kami menjawab, “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rosululloh ?!”. Lalu sabdanya : “Tuangkanlah untukku air dalam baskom”. Kata Aisyah : Maka akupun melaksanakan, dan beliau lalu mandi, kemudian beranjak bangkit dengan susah payah, dan pingsan. Setelah siuman, beliau bertanya ; “Apakah orang-orang telah salat”. Kami menjawab ; “Belum, mereka menunggu engkau wahai Rosululloh ?!”. Sabdanya ; “Tuangkan untukku air dalam baskom”. Kata Aisyah pula : “Aku melaksanakannya, dan beliaupun mandi. Lalu beranjak bangkit dengan susah payah, dan pingsan. Kemudian siuman kembali…. Dst”.

Gila dalam hal ini diqiyaskan dengan pingsan. Karena dalam keduanya ada persamaan dalam hal ketidak sadarannya. Bahkan gila lebih parah.

7). At-turmudi meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ra, bahwasanya dia melihat Nabi SAW mengerjakan ihram semata-mata ; dan beliau mandi (untuk itu).

8). Imam Bukhori dan Muslim dengan redaksinya, meriwayatkan dari Ibnu Umar ra, bahwasanya dia tidak datang ke Mekah kecuali bermalam di Dzi-Thuwa sampai pagi hari, dan mandi terlebih dahulu, kemudian baru memasuki Mekah pada siang harinya. Ia menyebutkan dari Rosululloh SAW bahwa beliau SAW dahulu berbuat seperti itu.

9). Imam Malik meriwayatkan dalam Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar ra, adalah ia (Ibnu Umar) mandi untuk melakukan ihramnya sebelum memulai ihram, dan (mandi) untuk memasuki Mekah, juga untuk wukuf malam di Arofah.

10). Pendapat yang lebih shoheh adalah bahwa mandi di sini tidak disunatkan. (Nihayah).

11). Menurut pendapat yang Mu’tamad bahwasannya mandi untuk (melakukan) thawaf tidak disunatkan. (Al-Iqna). Faslun ; wallohu a’lam. (Iqbal1 ; Ref. Attadzhieb ; 25~27).

Satu Balasan ke Fiqih : Mandi-mandi yang Disunatkan

  1. Safitri sanjaya pratama mengatakan:

    Terima kasih ya … Atas informasinya ….. Jadi saya lebih mendapat pengetahuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: