Fiqih : Mengusap Muzah / Dua Sepatu (Khuffaen) dalam Berwudu

Lanjutan Bab Thoharoh (Kitab Bersuci)

فَصْلٌ ؛ وَالْمَسْحُ عَلَى الْخُفَيْنِ جَائِزٌ بِثَلاَثَةِ شَرَائِطَ ؛ اَنْ يَلْبَدِئَ لُبْسَهُمَا بَعْدَ كَمَالِ الطَّهَارَةِ وَاَنْ يَكُوْنَا سَاتِرَيْنِ لِمَحَلِّ غَسْلِ الْفَرْضِ مِنَ الْقَدَمَيْنِ وَاَنْ يَكُوْنَا مِمَّا يُمْكِنُ تَتَابُعُ الْمَشْيِ عَلَيْهِمَا ؛ التذهيب ٢٧~٢٨

(Ini adalah sebuah fasal untuk menerangkan perkara mengusap sepatu -khuffaen/muzah- dalam berwudu) ; Mengusap sepatu (sebagai ganti membasuh kaki dalam berwudu) hukumnya adalah boleh 1), dengan tiga syarat : Mulai memakai (sepatu) nya setelah dalam keadan suci yang sempurna 2) ; Sepatu (yang dipakai) menutupi seluruh bagian kaki yang wajib di basuh (dalam wudu) ; Dan sepatu tersebut terbuat dari bahan yang memungkinkan (kuat) untuk berjalan terus-menerus.

Penjelasan :

1). Dalil diperbolehkannya mengusap sepatu ini adalah dari banyak hadits, diantaranya adalah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Sohabat Jarir ra, bahwasanya beliau kencing, lalu wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki). Dan ketika ditanyakan kepadanya. “Kenapa engkau berbuat seperti ini ?”. Jawabnya ; “Ya, saya pernah melihat Rosululloh SAW kencing, kemudian wudu dan mengusap sepatunya (tanpa membasuh kaki)”.

Hasan Al-Bashri berkata : “Yang meriwayatkan tentang mengusap sepatu ini ada tujuh puluh orang. Baik berupa perbuatan atau ucapan”.

2). Imam Bukhori dan Muslim meriwayatkan dari Sohabat Al-Mughiroh bin Syu’bah ra, ia berkata : Saya ada bersama Rosululloh SAW pada suatu malam dalam perjalanan. Saya menyiramkan air untuk beliau dari bejana, kemudian beliau membasuh mukanya, kedua tangannya dan mengusap kepalanya. Kemudian ketika aku berjongkok hendak melepas sepatunya, beliau bersabda :

دَعْهُمَا ؛ فَاِنِّيْ اَدْخَلْتُهُمَا طَاهِرَتَيْنِ

“Biarlah, karena ketika aku memakainya dalam keadaan telah suci”.

Lalu beliaupun mengusap kedua sepatunya.

Keterangan : Muzah ialah pakaian semacam kaos kaki yang lazim dipakai, tetapi bahannya dibuat  dari kulit. Perkataan Kyai Mushonif “Jaiz” / Boleh itu memberikan pengertian, bahwa sesungguhnya membasuh -kedua kaki itu- adalah lebih baik daripada mengusapnya. Syarat, rukun, perbatalan dan ketentuan2 lainnya tentang fasal ini sebagaimana diuraikan dalam syarah fathul qorieb. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1 ; Taqrib ; Attadzhieb 27~28).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: