Sastra, Magis Kaum Tradisional

Dahulu di sebuah pesantren, pernah terjangkit wabah penyakit. Sebagian santri sakit sehingga mereka tidak dapat menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasa. Namun tak lama kemudian keadaan kembali normal. Hal ini setelah seluruh santri dikerahkan untuk membaca sebuah doa secara bersama-sama di masjid. Uniknya, doa yang dibaca itu adalah berupa syair. Begini bunyinya “Lî khamsatun uthfî bihâ harral wabâ’il hâtimah, al-mushthafâ wal murtadhâ wabnâhumâ wal fâthimah.”

Jika diartikan kurang lebih demikian; kami memiliki lima senjata yang dapat memadamkan panasnya wabah penyakit; (1) Rasulullah Saw (2) Ali bin Abi Tholib (3) Hasan (4) Husain dan (5) Fatimah. Melalui syair yang memuat nama lima tokoh agung dalam Islam tersebut dipercaya dapat meredakan penyakit seseorang atau kaum.

Di Pesantren Sidogiri Pasuruan, ada tradisi jaga malam. Teknisnya yaitu beberapa santri ditugaskan menjadi satpam malam yang menjaga keamanan pondok. Mereka mengelilingi seluruh kawasan pondok secara berkelompok tanpa tidur semalaman suntuk. Nah, di sela-sela berjaga  itulah mereka membaca Syair karya Imam Bushiri berjudul Burdah al-Mukhtâr. Bait-bait indah sejumlah 160 itu mereka baca sebagai pengamanan diri dari macam marabahaya serta serangan musuh. Selain itu Burdah juga dipercaya mampu mengusir jin atau makhluk halus yang mengganggu.

Kasiat-kasiat magis lainnya yang dimiliki Syair cukup beragam. Di Pesantren Krapyak Yogjakarta, setiap bakda subuh para santri membaca Nazham Asmâ’ al-Husnâ secara bersama-sama. Syair yang memuat 99 nama indah Sang Pecipta itu diduga hasil karangan Kiai Dimyathi Tremas, riwayat lain menyebutkan KH. Ali Ma’shum. Dengan membaca syair itu di setiap pagi, seseorang akan terlindungi dan masalah rizeki akan lancar.

Syair Asmâ’ al-Husnâ juga menjadi budaya bagi para santri Pesantren Leteh, Rembang. Bahkan di sana terdapat tambahan Syair al-Munfarijah yang bisa dibaca kapan saja sesempatnya. Syair karya Imam Tajuddin al-Subki itu dapat menjadi jalan keluar bagi pembaca kala dirubung masalah pelik, seperti kesedihan, kesusahan, rezeki  seret, dst. Seperti halnya Syair Jalîlah al-Kadr yang lekat di hati para santri Pesantren Tebuireng Jombang dan Pesantren Langitan Tuban.

Keampuhan Syair tak cukup sampai di situ, selepas shalat Jumat di banyak pondok salaf seperti Pesantren Paculgowang, para santri senantiasa melantunkan syair Ilâhî lastulil firdausi sebanyak lima kali. Syair karangan Abu Nuwas—demikian nama asli ulama Baghdad yang masyhur di Timur Tengah—itu memiliki kasiat tersendiri. Disebutkan oleh Syaikh Ibrahim al-Bajuri dalam Hâsyiyah-nya yang dinukil dari Imam Abdul Wahhab al-Sya’rani bahwa siapa yang istiqamah membacanya di hari Jumat maka jika ia wafat Allah akan memberinya tetap iman dan Islam.

Mengapa Berkasiat?

Cukup sulit menjawab pertanyaan ”Mengapa syair-syair Arab banyak mengandung kekuatan magis sedemikian hebatnya? Seperti mampu menembuhkan penyakit, melancarkan rezeki, sebagai benteng, dst?”

Setidaknya ada beberapa faktor. Pertama, bahwa setiap perkataan mengandung pengaruh (atsar). Seseorang dapat membeli barang di pasar, misalnya, mungkin saja karena ia tertarik dengan kata-kata promosi dari si penjual. Anak nakal berubah baik karena nasehat orangtua dan gurunya. Tak sedikit pula remaja yang jatuh cinta hanya karena puisi. Termasuk pula, seseorang yang tertipu karena hipnotis pesulap melalui dialog antarkeduanya. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa kata-kata memang mengandung efek, bahkan sihir. Apalagi kalau kata-kata itu syair.

Kedua, kepercayaan yang telah mendarahdaging. Sehebat apapun mantera jika si pembaca ragu-ragu, tidak memiliki keyakinan sema sekali dengan apa yang ia baca maka tidak akan ada efek apa-apa yang timbul. Berbeda dengan seseorang yang amat percaya dengan apa yang ia baca, pasti keajaiban akan muncul. Syair-syair yang dibaca para santri di pesantren pun demikian. Mereka percaya bahwa yang ia baca akan mendatangkan pahala, menambah rasa cinta kepada Rasulullah, sampai membawa kekuatan magis tersebut, tentunya mereka beriktikad bahwa semuanya bersumber dari Allah Swt. Adapun syair hanya sebagai mediator saja.

Ketiga, karena pengarang syair melakukan tirakat atau meditasi yang luar biasa. Sehingga produk yang mereka hasilkan juga berkasiat tinggi. Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il tidak menulis sebuah hadits kecuali ia shalat dua rakaat terlebih dahulu. Sehingga karya Shahîh Bukhâry yang beliau hasilkan bermanfaat luar biasa sepanjang zaman. Bahkan sebagian ulama berkeyakinan, penyakit seseorang bisa sembuh dengan membaca kitab fenomenal tersebut.

Syaikh Ibrahim al-Bajuri mengungkapkan sebuah kasiat bait na’am sarâ dalam Syair Burdah. Beliau menuturkan, bahwa siapa yang membacanya bakda isya’  berulang-ulang kali sampai tertidur maka ia akan berjumpa Rasulullah Saw dalam mimpinya. Tak hanya itu, 19 lainnya juga diungkap dengan jelas oleh Syaikh Ibrahim al-Bajuri.

Penulis sempat menanyakan hal ini kepada Syaikh Muhammad Hidr Ibrahim, dosen Al-Azhar Kairo yang kini menjadi guru tugas di Ma’had Aly Tebuireng. Beliau menjelaskan bahwa hal itu memang tidak berdalil, baik dari al-Quran maupun Hadits. Itu merupakan mujarbat  (sebuah pengalaman pribadi) si Pengarang. Artinya, si pengarang telah melakukannya dan berhasil. Jadi tidak menutup kemungkinan bahwa orang lain pun mampu melakukan hal tersebut.

Menjaga Tradisi Bersyair

Secuplik budaya dan tradisi pesantren di atas hanya sebagian kecil saja yang penulis tampilkan. Sebenarnya masih banyak lagi keterlibatan syair dalam aktifitas peribadatan maupun kesosialan kaum tradisonalis dalam kesehariannya. Seperti tradisi cukur rambut bayi yang baru lahir, pujian menjelang shalat, doa kala belajar, Syair dari Kiai Hasyim Asy’ari yang mampu mengundang hujan, ibtihâlât, maqâmat, tausyaikh, rumus astronomi yang keseluruhannya menggunakan syair berbahasa Arab.

Tradisi semacam ini tidak akan luntur selama di Bumi Nusantara berdiri Pesantren. Karena pesantren lah satu-satunya lembaga pendidikan yang kukuh memegang jati dirinya sendiri. Kita kenal semboyan pesantren yang senantiasa lekat, yaitu menjaga tradisi lama yang baik serta mengadopsi budaya baru yang lebih berkwalitas. Sekalipun pesantren-pesantren banyak mengambil perubahan baru, baik kurikulum, menejemen, fasilitas maupun bangunan fisiknya, tetap saja ia akan menjaga budaya ber-syair yang telah ditanamkan para leluhurnya tempo dulu.

Tradisi semacam inilah yang tidak dimiliki oleh kaum modernis dan radikal. Dengan mudah mereka menganggap ini-itu adalah bid’ah (penyimpangan dalam agama). Hal-hal berbau ”mistik” yang tidak dapat dijangkau nalar, mereka anggap sebagai perusak iman dan akidah. Padahal itu justru memperkuat kepercayaan kita kepada Tuhan bahwa dengan berbagai macam cara, dari banyak jalan, Tuhan dapat dijumpai. Belum lagi, tradisi bersyair sangat erat dalam membangun kokoh istana sosial kemanusiaan. *** WalLahu a’lam (Fathurrahman Karyadi ; Ref. http://www.tebuireng.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: