Thoharoh : Syarat Tayamum

Lanjutan Bab Thoharoh :

 فَصْلٌ ؛ وَشَرَائِطُ التَّيَمُمِّ خَمْسَةُ اَشياَءَ ؛ وُجُوْدُ الْعُدْرِ بِسَفَرِ اَوْ مَرَضٍ وَدُخُوْلِ وَقْتِ الصَّلاَةِ وَطَلَبُ الْمَاءِ وَتَعَذُّرِاسْتِعْمَالِهِ وَاِعْوَازُهُ بَعْدَ الطَّلَبِ ؛ وَالتُّرَبُ الطَّاهِرُ لَهُ غُيَارٌ. فَاِنْ خَالَطَهُ جِصّ ٌ اَوْ رَمْلٌ لَمْ يُجِزْ ؛ التذهيب

(Adapun ini adalah sebuah Fasal/Pemisah buat menerangkan perkara Tayamum). Syarat-syarat tayamum ada 5. Yaitu : Adanya udzur karena bepergian atau sakit 1). Telah masuk waktu shalat dan telah berusaha mencari air 2). Berhalangan memakai air 3). Berhajat memakai air (untuk keperluan makan, minum dan lain-lain) setelah memperoleh air 4). Tanah (yang dipakai untuk  bertayamum) suci dan berdebu. Apabila debu bercampur dengan kapur atau pasir, tidak cukup memenuhi syarat 5). *** (Matan Taqrieb/Syarah At-tadzhieb). 

Penjelasan :

1). Firman Alloh Ta’ala :

وَاِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى اَوْ عَلىَ سَفَرٍ اَوْ جَاءَ اَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ اَوْ لاَمَسْتُمُ النِِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُواْ مَاءً فَتَيَمَّمُواْ ؛ المائدة ٦

“Dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayamumlah”. (Q.S. Al-Maidah 6).

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Imran bin Husin ra. ia berkata. Kami ada bersama-sama Rasululloh SAW dalam suatu perjalanan. Maka beliaupun lalu shalat bersama para sahabat. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang memisahkan diri. Lalu sabda beliau : “Apa yang mencegah engkau melakukan shalat?”. “Saya janabah, dan tidak ada terdapat air (untuk mandi)”.  jawabnya. Sabda beliau :

عَلَيْكَ بِااصَّعِيْدِ فَاِنَّهُ يَكْفِيْكَ

“Ambillah debu, sesungguhnya debu itu mencukupi engkau”.

2). Al-Bukhari meriwayatkan dari Jabir ra. bahwasanya Nabi SAW bersabda :

 وَجُعِلَتْ لِيَ الاََرْضُ مَسْجِداً وَطَهُوْراً فَاَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ اُمَّتِيْ اَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ قَلْيُصَلِّ. وعند احمد ؛ اَيْنَمَااَدْرَكَتْنِيْ الصَّلاَةُ تَمَسَّحْتُ وَصَلَيْتُ

“Bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan mensucikan. Maka siapa saja dari umatku menjumpai (waktu) shalat, maka shalatlah !”. Dan dalam riwayat Ahmad : “Di mana saja aku menjumpai shalat, maka aku mengusap dan shalat”.

Dua riwayat di atas menunjukkan tayammum dan shalat dilakukan bila tidak menemukan air, setelah masuk waktu shalat. Wallohu a’lam *** (Iqbal1 ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: