Catatan : Perspektif “Balanced Scorecard”, Kompetensi Karyawan dan Strategi Perusahaan

Segala citra perusahaan yang telah dibangun melalui berbagai media iklan dan promosi sebagai sebuah perbelanjaan yang megah dan berkelas dengan didukung oleh orang-orang kompeten, langsung hilang tak berbekas di benak pelanggan. Hal ini terjadi karena orang-orang kuncinya tidak bisa membedakan arti lips service dengan service excellence. Pelanggan sangat kecewa , tidak hanya karena dicurangi oleh petugas gugus depan, tetapi juga tidak merasa terlayani oleh manajer yang kompeten.

Konsep strategi performance manajemen menggunakan balanced scorecard (BSC), telah diperkenalkan Kaplan dan Norton pada tahun 1992 dan terus menerus berkembang sampai saat ini. Konsep tersebut mengatakan bahwa mencapai tujuan perusahaan dengan menggunakan konsep BSC dibutuhkan empat perspektif.

Keempat perspektif tersebut adalah prespektif keuangan, prespektif pelanggan, prespektif proses bisnis internal, dan prespektif pembelajaran.

Ada cause-effect didalam keempat prespektif belanced scorecard. Prespektif keuangan dihasilkan dari pengelolaan prespektif  pelanggan yang baik. Prespektif pelanggan yang baik dihasilkan dari pengelolaan prespektif proses bisnis internal yang baik . Sementara itu, prespektif proses bisnis internal yang baik hanya bisa terjadi  jika didukung oleh prespektif pembelajaran yang baik pula.

Artinya, untuk menghasilkan prespektif keuangan yang baik, tanpa di dukungan prespektif pembelajaran yang berkesinambungan hampir mustahil dilakukan, kecuali perusahaan dalam keadaan mendapatkan  -windfall-  atau keberuntungan. Sementara itu, tidak ada satu perusahaan pun yang bisa mendapatkan windfall secara terus menerus.

Ketika perusahaan melupakan membangun kompetensi karyawan, -dimana membangun kompetensi karyawan merupakan salah satu bagian penting dari prespektif pembelajaran-, maka akan sulit bagi perusahaan untuk mencapai tujuan strategis secara sustainable .

Selain itu, bisa saja investasi dan biaya yang telah dikeluarkan perusahaan untuk mencapai tujuan strategisnya menjadi terbuang sia-sia. *** 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: