Wacana : Upaya Pengembangan Teknologi di Indonesia

Keinginan menguasai teknologi telah lama dicita-citakan bangsa Indonesia. Paska kemerdekaan, sejumlah orang Indonesia berusaha keras mempelajari teknologi di berbagai perguruan tinggi teknik.

Pada zaman Belanda, tujuan orang Indonesia belajar ilmu teknik adalah untuk menjadi pegawai dalam instansi pemerintahan dan perusahaan-perusahaan Belanda. Dalam prosesnya, yang dibentuk adalah teknisi atau pelaksana tangguh yang bisa bekerja keras. Tetapi tidak untuk menjadi pemimpin atau enterpreneur.

Lain halnya dengan Ir. Soekarno yang sedikit menyimpang. Meskipun mendapat keinsinyurannya dari Technische Hoogeschool (THS) Bandung (Sekarang Institute Teknologi Bandung / ITB), jiwa kepemimpinan dan enterpreneurship-nya didapatkan dari kegiatan di luar THS.

Sejak angin kemerdekaan berembus, jumlah orang Indonesia yang belajar keteknikan tumbuh sangat pesat. Tak sedikit dari kalangan pemudanya memperoleh kesempatan belajar teknologi di luar negri. Hanya saja lantaran tergolong mahal, pertumbuhan pendidikan di bidang ini agak terhambat dan tidak sekencang pertumbuhan ilmu-ilmu sosial.

Disamping jalur pendidikan, pengembangan kemampuan teknologi bisa ditempuh melalui dunia perusahaan. Bahkan, pimpinan ITB mengakui bahwa dunia perusahaan telah memasukkan teknologi lebih maju ketimbang teknologi di laboratorium ITB. Untuk itulah kerja sama antara dunia industri dengan dunia pendidikan menjadi sangat penting bagi pengembangan kemampuan teknologi nasional Indonesia.

Presiden ke 3 Republik Indonesia, Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie, sewaktu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi, yang juga Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) secara jelas menyebutkan bahwa kebijakan nasional di bidang pengembangan kemampuan teknologi harus menempuh 4 tahapan, yaitu :

  1. Tahap I : Technology assimilation, yakni mengembangkan kemampuan untuk bisa membuat teknologi yang sudah dikenal.
  2. Tahap II : Improvement innovation, yakni menciptakan teknologi baru melalui perbaikan atau penggabungan beberapa teknologi yang sudah dikenal.
  3. Tahap III : New technology innovation, yakni menciptakan teknologi terbaru.
  4. Tahap IV : Melakukan penelitian dasar dan menemukan pengetahuan baru. Langkah ini disebut pengembangan teknologi oleh negara lain.

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Wallohu a’lam. *** (Ref. : Grand Techno-Economic Strategy, Mathias Aroef dan Jusman SD ; Hal. 149-150 ; Mizan – 2009).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: