Buku : Haidl (Bhs. Sunda)

September 30, 2014

sampul_haidlDiunggelkeun -pertelaan haidl- dina bahasa Sunda mangrupi buku saku, 70 lembar, anu disusun ku Iqbal, khusus kanggo kalangan internal santri/jamaah pangaosan. Mugia manfaat.

***

Numutkeun kamus Basa Arab, kecap haidl tina fi’il madli. Haadlot al-mar’atu, tahiidlu haaidlon wa mahiidlon wa mahaadlon. Pihartoseunana : Hiji awewe anu haidl (menstruasi). Anapon numutkeun syara’, haidl nyaeta getih tabe’at anu kaluar tina pianakan (rahim) awewe dina waktu cageur.

Dina Qur’an haidl dibabarkeun dina Al-Baqoroh ayat 222 :

 وَيَسْـئَـلُو نَكَ عَنِ الْمَحِيْضِ  قُلْ هُوَ أَذًي فَاُعْتَزِلُواْ النِـّسَآءَ فِى الْمَحِيْضِ وَلاَ تَقْرَبُوْهُنَّ حَتَّى يَطْهُرنَ  فَاءِذاَ تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنُ حَيُثُ أَمَرَكُمُ اللّه إِنَّ اللّهَََ َ يُحِبُّ التَّوَبِيُنََ وَيُحِبُّ الْْمُتَطَهّـريْنَ ~ واللّه أعلم

Hartosna : Maranehna naranyakeun ka anjeun tina haidl. Pek jawab : “Haidl teh kokotor”. Kusabab kitu, anjeun kudu ngajauhan awewe-awewe dina keur zaman haild, tur ulah ngadeukeutan maranehna samemeh suci. Lamun maranehna geus suci, pek datangan maranehna dina tempat anu geus diparentahkeun Alloh ka aranjeun. Saestuna Alloh mikaresep jalma-jalma anu tobat tur mikaresep jalma-jalma anu sarusuci.

Junjunan Rosul ngadawuh kalawan anu diriwiyatkeun ku Imam Bukhori sareng Imam Muslim :

Hartosna : “haidl teh perkara anu parantos dipastikeun ku Alloh ka anak incu awewena nabi Adam”.

Janten haidl teh nyaeta getih tina rahim anu kaluar kalawan proses alamiah, lain kusabab panyakit, tatu, kaluron atanapi babarna orok. Kusabab getih haidl teh kaluar kalawan alamiah, maka aya perbentenan ka unggal awewe.

Anapon ari getih anu kaluar kusabab panyakit mah dingaranan istihadloh. Sedengkeun getih anu kaluar dina saba’da sampurnana ngajuru, dingaranan nifas.

Pianakan (Rahim/uterus), rupana sapertos buah pir anu ngabogaan ruang segi tilu, kalawan bagian ageungna aya di luhur. Ruangan ieu saparantosna kaasupan mani pameget (sperma) bakal terus meureut, saterusna moal bisa narima deui sperma. Sabab ieu tos janten sunnatulloh hiji murangkalih moal dijieun tina campuran dua sperma dua lalaki.

Haidl dina Al-Qur’an disebut-sebut kokotor jalaran warna, ambeu, tur bahaya-bahaya anu sanesna tina getih haidl anu dianggap geuleuh.

Kitu anu dicarioskeun ku Imam Mawardi anu dicutat tina kitab Majmu.  (***Iqbal1).

Iklan

Amalan Menyambut Ramadhan

Juli 13, 2012

Tidak terasa bulan Sya’ban telah bergulir hampir separuh perjalanan. Itu artinya waktu semakin mendekati bulan Ramadhan. Sudah maklum bagi kita semua keistimewaan bulan Ramadhan. Hal ini bisa terasakan pada kehidupan di sekitar kita.Tidak hanya harga sembako yang secara perlahan tapi pasti mulai beranjak naik, tetapi juga semangat beribadah semua orang dari anak-anak hingga nenek-nenekpun semakin bertambah. Bahkan masjid dan mushalla mulai berbenah diri untuk menyambut, tarawih, tadarrus dan buka bersama.

Lantas apa semua amalan-amalan yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menyambut bulan Ramadhan ini?

Pertama, amalan terpenting itu adalah amalan hati, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api nereka.

Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.

Begitu mulianya bulan Ramadhan sehingga untuk menyambutnya saja, Allah telah menggaransi kita selamat dari api neraka. Oleh karena itu wajar jika para ulama salaf terdahulu selalu mengucapkan doa:

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah sampaikanlah aku dengan selamat ke Ramadhan, selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan aku hingga selesai Ramadhan“.

Sampai kepada Ramadhan adalah kebahagiaan yang luar biasa, karena hanya di bulan itu mereka bisa mendapatkan nikmat dan karunia Allah yang tidak terkira. Tidak mengherankan jika kemudian Nabi saw dan para sahabat menyambut Ramadhan dengan senyum dan tahmid, dan melepas kepergian Ramadhan dengan tangis.

Kedua, berziarah ke makam orangtua; mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdo’a merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّـهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S. al-Maidah: 35).

Diriwayatkan pula dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :

اَللَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ

Artinya: Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah  Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.

Ketiga,saling memaafkan. Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersucipun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;

فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)

Menurut sebuah hadis shahih, Nabi Muhammad saw. Pernah menganjurkan agar siapa yang mempunyai tanggung jawab terhadap orang lain, baiknya itu menyangkut kehormatan atau apa saja, segera menyelesaikannya di dunia ini, sehingga tanggung jawab itu menjadi bebas (bisa dengan menebus, bisa dengan meminta halal, atau meminta maaf). Sebab nanti di akherat sudah tidak ada lagi uang untuk tebus menebus. Orang yang mempunyai tanggungan dan belum meminta halal ketika dunia, kelak akan diperhitungkan dengan amalnya: apabila dia punya amal saleh, dari amal salehnya itulah tanggungannya akan ditebus; bila tidak memiliki, maka dosa atas orang yang disalahinya akan ditimpakan kepadanya, dengan ukuran tanggungannya. (Lihat misalnya, jawahir al-Bukhori, hlm. 275, hadis nomer: 353 dan shahih Muslim, II/430).

Dengan kata lain, jika seseorang ingin bebas dari kesalahan sesama manusia, hendaklah meminta maaf kepada yang bersangkutan. Begitu pula jika seseorang menginginkan kesucian diri guna menyambut bulan yang suci maka hendaklah saling memafkan *** (Ref. NU-Online)


Catatan : Puasa Bulan Rajab

Mei 28, 2012

Rajab adalah bulan ke tujuh dari penanggalan Islam qomariyah (hijriyah). Peristiwa Isra Mi’raj  Nabi Muhammad  shalallah ‘alaih wasallam  untuk menerima perintah salat lima waktu terjadi pada 27 Rajab ini.

Bulan Rajab juga merupakan salah satu bulan haram, artinya bulan yang dimuliakan. Dalam tradisi Islam dikenal ada empat  bulan haram, ketiganya secara berurutan  adalah: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan satu bulan yang tersendiri,  Rajab. 

Dinamakan bulan haram karena pada bulan-bulan tersebut orang Islam dilarang mengadakan peperangan. Tentang bulan-bulan  ini, Al-Qur’an menjelaskan :

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”

Hukum Puasa Rajab

Hadis-hadis Nabi yang menganjurkan atau memerintahkan berpuasa dalam bulan- bulan haram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) itu cukup menjadi hujjah atau landasan mengenai keutamaan puasa di bulan Rajab. 

Diriwayatkan dari Mujibah al-Bahiliyah, Rasulullah bersabda “Puasalah pada bulan-bulan haram.” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Hadis lainnya adalah riwayat al-Nasa’i dan Abu Dawud (dan disahihkan oleh Ibnu Huzaimah): “Usamah berkata pada Nabi Muhammad Saw, “Wahai Rasulallah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Rasul menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.'”

Menurut as-Syaukani dalam Nailul Authar, dalam bahasan puasa sunnah, ungkapan Nabi, “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan melakukan puasa di dalamnya.

Keutamaan berpuasa pada bulan haram juga diriwayatkan dalam hadis sahih imam Muslim. Bahkan  berpuasa di dalam bulan-bulan mulia ini disebut Rasulullah sebagai puasa yang paling utama setelah puasa Ramadan. Nabi bersabda : “Seutama-utama puasa setelah Ramadan adalah puasa di bulan-bulan al-muharram (Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan  Rajab).

Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumid-Din menyatakan bahwa kesunnahan berpuasa menjadi lebih kuat jika dilaksanakan pada hari-hari utama (al-ayyam al-fadhilah). Hari- hari utama ini dapat ditemukan pada tiap tahun, tiap bulan dan tiap minggu. Terkait siklus bulanan ini Al-Ghazali menyatakan bahwa Rajab terkategori al-asyhur al-fadhilah di samping dzulhijjah, muharram dan sya’ban. Rajab juga terkategori al-asyhur al-hurum  di samping dzulqa’dah, dzul hijjah, dan muharram.

Disebutkan dalam  Kifayah al-Akhyar, bahwa bulan yang paling utama untuk berpuasa setelah Ramadan adalah bulan- bulan haram yaitu dzulqa’dah, dzul hijjah, rajab dan  muharram. Di antara keempat bulan itu yang paling utama untuk puasa adalah bulan al-muharram, kemudian Sya’ban. Namun menurut Syaikh Al-Rayani, bulan puasa yang utama setelah al-Muharram adalah Rajab.

Terkait hukum puasa dan ibadah pada Rajab, Imam Al-Nawawi menyatakan, telah jelas dan shahih riwayat bahwa Rasul SAW menyukai puasa dan memperbanyak ibadah di bulan haram, dan Rajab adalah salah satu dari bulan haram, maka selama tak ada pelarangan khusus puasa dan ibadah di bulan Rajab, maka tak ada satu kekuatan untuk melarang puasa Rajab dan ibadah lainnya di bulan Rajab” (Syarh Nawawi ‘ala Shahih Muslim).

Hadis Keutamaan Rajab

Berikut beberapa hadis yang menerangkan keutamaan dan kekhususan puasa bulan Rajab : 

  1. Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdo’a:“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik).
  2. Barang siapa berpuasa pada bulan Rajab sehari, maka laksana ia puasa selama sebulan, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya 7 pintu neraka Jahim, bila puasa 8 hari maka dibukakan untuknya 8 pintu surga, dan bila puasa 10 hari maka digantilah dosa-dosanya dengan kebaikan.”
  3. Riwayat al-Thabarani dari Sa’id bin Rasyid: “Barangsiapa berpuasa sehari di bulan Rajab, maka ia laksana  berpuasa setahun, bila puasa 7 hari maka ditutuplah untuknya pintu-pintu neraka jahanam, bila puasa 8 hari dibukakan untuknya 8 pintu surga, bila puasa 10 hari, Allah akan mengabulkan semua permintaannya…..”
  4. Sesungguhnya di surga terdapat sungai yang dinamakan Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari pada bulan Rajab, maka ia akan dikaruniai minum dari sungai tersebut“.
  5. Riwayat (secara mursal) Abul Fath dari al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Rajab itu bulannya Allah, Sya’ban bulanku, dan Ramadan bulannya umatku.” 
  6. Sabda Rasulullah SAW lagi : “Pada malam mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakan sungai ini ?”Maka berkata Jibrilb a.s “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau di bulan Rajab ini”.   *** (Ref. NU-Online).

Insert : Sholat Hadiyah untuk Mayit

Maret 21, 2012

Kematian bagi makhluk hidup adalah suatu kemestian. Meskipun berbeda cara dan penyebabnya sakit, tua, kecelakaan, dan seterusnya. Jasadnya pun, bisa dimana saja, atau musnah sama sekali tanpa bekas. Kematian lambat atau cepat adalah mutlak bagi makhluk termasuk manusia.

Manusia adalah makhluk yang terbebani tanggung jawab dalam hayatnya, terutama terhitung sejak baligh. Perbuatan manusia akan dibalas menurut baik dan buruknya. Pertanggungjawaban mereka akan dihisab kelak di hari Kiamat. Allah sebagai hakim yang adil, takkan keliru dalam menghitung dan mengadili amal setiap orang. Namun, sebelum pembalasan hari Kiamat, nikmat dan siksa kubur benar adanya. Manusia yang telah terpisah jiwa dari raganya, akan didatangi malaikat untuk pertanyaan tentang Tuhan, rasul, pedoman hidup dan seterusnya. Malaikat ini akan bersikap sesuai perintah. Menyiksa dan memberikan nikmat bagi mayit.

Manusia, kecuali para rasul, dalam hidupnya tak lepas dari dosa. Dosa inilah yang lalu mesti ditebus dengan siksa kubur oleh yang bersangkutan. Jerit pedih mereka yang sudah mati memang tak didengar oleh manusia yang hidup. Dalam keterangan Rasulullah, hanya hewan hidup lah yang mendengar jeritan mayit yang tersiksa. Mayit pun harus menanggung kelakuan buruknya di dunia. Mereka hanya bisa menerima siksa tanpa bisa melakukan sesuatu apapun.

Mengingat itu, kita yang masih hidup mesti mengambil satu langkah agar dapat meringankan siksa kubur mayit. Lebih istimewa lagi, kita lakukan terhadap orang yang kita kenal, cintai atau yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, orang tua, guru, atau kiai.

Diantaranya dengan memberikan hadiah kepada mayyit. Hadiah itu bisa berupa shalat dua rakaat atau berupa sedekah yang pahalanya ditujukan kepada mayyit. Seperti yang diterangkan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام : اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور

Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda ; “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah. Siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat Alfatihah 1 kali, Ayat Kursi 1 kali, surat Attaktsur 1 kali, dan surat Al-ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, -“Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahummab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan (sebut nama mayit yang kita maksud)”-, Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud). Niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 malaikat. Tiap malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang akan menghibur mayit sampai hari Kiamat tiba.”  [Syekh Nawawi Albantani, Nihayatuz Zain, (Bandung, Almaarif) Hal. 107].

Hadiah semacam ini dalam tradisi Islam Nusantara dikenal dengan berbagai sebutan sesuai kaedah local masing-masing. Ada yang menyebutnya ‘tahlilan’, ada yang menyebutnya arwahan, ada yang menyebut samadiahan dan lain sebagainya. Semua itu merupakan perilaku terpuji yang telah me-tradisi dalam wacana Islam Nusantara. Begitu pula dengan shalat hadiah dua rakaat untuk mayit, yang kesunnahannya dilakukan saat malam pertama mayit meninggal. Walaupun taka apa pula jika dilakukan setelah jauh-jauh hari sepeninggal si mayit.

Pahala dari berbagai hadiah itu juga mengalir bagi kita yang masih hidup dan melakukannya, seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits :

أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه أنه لا يخرج من الدنيا حتى يرى مكانه فى الجنة

“Siapa saja yang melakukan sedekah atau sembahyang itu, akan mendapat pahala yang besar. Di antaranya, ia takkan meninggalkan dunia sampai melihat tempatnya di surga kelak.”

Sejumlah ulama menganjurkan akan baiknya sembahyang 2 raka‘at ini. Ringan dan mudah dilakukan, “Beruntunglah orang yang melakukan sembahyang ini setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk mayit kaum muslimin.”

Sebagai umat Islam, kita dipanggil untuk peduli dan menanam bibit kasih sayang terhadap alam, hewan dan manusia baik hidup maupun sudah meninggal. Hanya saja, bentuk kasih yang dipersembahkan mesti disesuaikan bagi penerimanya. Untuk saudara kita yang sudah meninggal, kita bisa melakukan sedekah dan sembahyang 2 raka‘at di atas.

Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW para ulama dan kiai mengawetkan ajaran luhur Rasulullah dengan menuliskan, mengajarkan, menyontohkannya kepada masyarakat luas. Dengan demikian, ajaran Nabi Muhammad SAW akan lestari hingga hari akhir kelak.

Semoga salinan tulisan ini bermanfaat untuk memperbanyak amal kita.  Wallohu a’lam *** (Ref. Nihayatu Zein).


Bertayamum Untuk Sekali Shalat Fardhu

Maret 16, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ فَرِيْضَةٍ وَيُصَلِّى بِتَيَمُّمٍ وَاحِدٍ مَاشَاءَ مِنَ النَّوَافِلِِ ؛ التذهيب

Bertayamum (sekali) untuk sekali shalat fardhu 1) ; dan dengan sekali tayammum dapat mengerjakan shalat-shalat sunat sekehendaknya. ***

Penjelasan :

1). Al-Baihaqi dengan isnad yang shoheh meriwayatkan dari Ibnu Umar ra. katanya :

َيَتَيَمَّمُ لِكُلِّ صَلاَةٍ وَاِنْ لَمَْ يُحْدِثِِْ

“Bertayammum (sekali) untuk setiap sekali shalat, walaupun belum berhadats”. Wallohu a’lam *** (Matan Taqrib/Attadzhieb).


Mengusap Pembalut (Perban)

Maret 15, 2012

Lanjutan bab Thoharoh :

وَالصَّاحِبُ الْجَبَائِرِ يَمْسَحُ عَلَيْهَا وَتَيَمَّمُ وَيُصَلِّى وَلاَ اِعَادَةَ عَلَيْهِ اِنْ كَانَ وَضَعَهَا عَلَى طُهْرٍ ؛ التذهيب

Orang yang berpembalut, cukup mengusap pembalutnya, dan bertayammum lalu shalat. Dan tidak wajib baginya mengulangi shalatnya, apabila pemasangan pembalut dilakukan dalam keadaan suci 1). *** (Matan Taqrib).

Penjelasan :

1). Abu Daud dan lain-lain meriwayatkan dari Jabir ra. ia berkata : Kami keluar untuk suatu perjalanan. Tiba-tiba salah seorang di antara kami tertimpa batu dan melukai kepalanya. Kemudian ia berihtilam (mimpi dan mengeluarkan mani), lalu bertanya kepada kawan-kawannya ; “Apakah kalian tahu adakah rukhsah bertayamum untukku ?”. Kawan-kawan menjawab ; “Kami tidak menemukan rukhsah untuk engkau karena engkau masih bisa memakai air”. Maka ia pun lalu mandi, dan ternyata meninggal. Maka ketika kami datang kepada Rasululloh SAW dan mengkhabarkan hal itu kepada beliau, beliau bersabda :

 قَتَلُوْهُ فَتَعَلَهُمُ اللهُ اَلاََ سَأََلُواْ اِذاَ لَمْ يَعْلَمُواْ ؟ ـ فَاِنَّمَا شِفَاءُالُعِيِّ السُّؤَالُ. اِنَّمَا كَانَ يَكْفِيْهِ اَنْ يَتَيَمَّمَ وَيَعْصِرَ اَوْيَعْصِبَ جُرْحَهُ ثُمَّ يَمْسَحَ عَلَيْهِ ـ وَيَغْسِلَ سَائِرَ جَسَدِهِ ـ

“Mereka telah membunuhnya, maka Alloh akan membunuh mereka. Kenapa mereka tidak menanyakan kalau memang belum mengetahui ?. Bahwasanya obat dari kebingungan adalah bertanya. Bahwasanya ia cukup dengan bertayammum dan membalut lukanya, kemudian mengusapnya, dan menyiram seluruh bagian tubuhnya yang lain”.  Wallohu a’lam. *** (Taqrieb / Attadzhieb).


Yang Membatalkan Tayamum

Maret 14, 2012

Lanjutan Bab Thoharoh :

وَالَّذِيْ يُبْطِلُ التَّيَمُّمَ ثَلاَثَةُ أَشْيَاءَ ؛ مَاأَبْطَلَ الْوُضُوْءَ وَرُؤْيَةُ الْمَاءِ  ِفيْ غَيْرِوَقْتِ الصَّلاَةِ وَالرِِّّدََةُ ؛ التذهيب

Perkara-perkara yang membatalkan Tayammum ada 3. Yaitu : Segala yang membatalkan wudhu ; Melihat air di luar waktu sholat 1) ; Dan Murtad. *** (Matan Taqrieb).

Penjelasan :

1). Yakni dalam keadaan tidak sedang menjalankan shalat, dan belum melakukannya. Berdasar riwayat Imam At-Turmudzi dan lain-lain dari Abu Dzar ra. bahwa Rasululloh SAW bersabda :

اِنَّ الصَّعِيْدَ الطَّيِّبَ طَهُوْرُالْمُسْلِمِ وَاِنْ لَمْ يَجِدْ المَاءَ عَسْرَسِنِيْنَ فَاِذاَ وَجَدَالْماَءَ فَلْيُمِسَّهُ بَشَرَتَهُ فَاِنَّ ذَالِكَ خَيْرٌ

“Sesunggunya tanah yang baik (suci) adalah alat pembersih bagi orang Islam, walaupun ia tidak menemukan air dalam sepuluh tahun. Namun bila ia menemukan air, maka berwudhulah. Karena sesungguhnya yang demikian itu lebih baik”.

Hadits ini menunjukkan bahwa Tayammumnya menjadi batal demi melihat air.  Walohu a’lam. *** (Matan Taqrieb /  Attadzhieb).