Insert : Sholat Hadiyah untuk Mayit

Maret 21, 2012

Kematian bagi makhluk hidup adalah suatu kemestian. Meskipun berbeda cara dan penyebabnya sakit, tua, kecelakaan, dan seterusnya. Jasadnya pun, bisa dimana saja, atau musnah sama sekali tanpa bekas. Kematian lambat atau cepat adalah mutlak bagi makhluk termasuk manusia.

Manusia adalah makhluk yang terbebani tanggung jawab dalam hayatnya, terutama terhitung sejak baligh. Perbuatan manusia akan dibalas menurut baik dan buruknya. Pertanggungjawaban mereka akan dihisab kelak di hari Kiamat. Allah sebagai hakim yang adil, takkan keliru dalam menghitung dan mengadili amal setiap orang. Namun, sebelum pembalasan hari Kiamat, nikmat dan siksa kubur benar adanya. Manusia yang telah terpisah jiwa dari raganya, akan didatangi malaikat untuk pertanyaan tentang Tuhan, rasul, pedoman hidup dan seterusnya. Malaikat ini akan bersikap sesuai perintah. Menyiksa dan memberikan nikmat bagi mayit.

Manusia, kecuali para rasul, dalam hidupnya tak lepas dari dosa. Dosa inilah yang lalu mesti ditebus dengan siksa kubur oleh yang bersangkutan. Jerit pedih mereka yang sudah mati memang tak didengar oleh manusia yang hidup. Dalam keterangan Rasulullah, hanya hewan hidup lah yang mendengar jeritan mayit yang tersiksa. Mayit pun harus menanggung kelakuan buruknya di dunia. Mereka hanya bisa menerima siksa tanpa bisa melakukan sesuatu apapun.

Mengingat itu, kita yang masih hidup mesti mengambil satu langkah agar dapat meringankan siksa kubur mayit. Lebih istimewa lagi, kita lakukan terhadap orang yang kita kenal, cintai atau yang sangat berjasa dalam kehidupan kita, orang tua, guru, atau kiai.

Diantaranya dengan memberikan hadiah kepada mayyit. Hadiah itu bisa berupa shalat dua rakaat atau berupa sedekah yang pahalanya ditujukan kepada mayyit. Seperti yang diterangkan Rasulullah SAW dalam sabdanya :

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال لا يأتى على الميت أشد من الليلة الأولى, فارحموا بالصدقة من يموت. فمن لم يجد فليصل ركعتين يقرأ فيهما: أي في كل ركعة منهما فاتحة الكتاب مرة, وآية الكرسى مرة, وألهاكم التكاثر مرة, وقل هو الله أحد عشر مرات, ويقول بعد السلام : اللهم إني صليت هذه الصلاة وتعلم ما أريد, اللهم ابعث ثوابها إلى قبر فلان بن فلان فيبعث الله من ساعته إلى قبره ألف ملك مع كل ملك نور وهدية يؤنسونه إلى يوم ينفخ فى الصور

Diriwayatkan dari Rasulullah, Ia bersabda ; “Tiada beban siksa yang lebih keras dari malam pertama kematiannya. Karenanya, kasihanilah mayit itu dengan bersedekah. Siapa yang tidak mampu bersedekah, maka hendaklah sembahyang dua raka‘at. Di setiap raka‘at, ia membaca surat Alfatihah 1 kali, Ayat Kursi 1 kali, surat Attaktsur 1 kali, dan surat Al-ikhlash 11 kali. Setelah salam, ia berdoa, -“Allahumma inni shallaitu hadzihis shalata wa ta‘lamu ma urid. Allahummab ‘ats tsawabaha ila qabri fulan ibni fulan (sebut nama mayit yang kita maksud)”-, Tuhanku, aku telah lakukan sembahyang ini. Kau pun mengerti maksudku. Tuhanku, sampaikanlah pahala sembahyangku ini ke kubur (sebut nama mayit yang dimaksud). Niscaya Allah sejak saat itu mengirim 1000 malaikat. Tiap malaikat membawakan cahaya dan hadiah yang akan menghibur mayit sampai hari Kiamat tiba.”  [Syekh Nawawi Albantani, Nihayatuz Zain, (Bandung, Almaarif) Hal. 107].

Hadiah semacam ini dalam tradisi Islam Nusantara dikenal dengan berbagai sebutan sesuai kaedah local masing-masing. Ada yang menyebutnya ‘tahlilan’, ada yang menyebutnya arwahan, ada yang menyebut samadiahan dan lain sebagainya. Semua itu merupakan perilaku terpuji yang telah me-tradisi dalam wacana Islam Nusantara. Begitu pula dengan shalat hadiah dua rakaat untuk mayit, yang kesunnahannya dilakukan saat malam pertama mayit meninggal. Walaupun taka apa pula jika dilakukan setelah jauh-jauh hari sepeninggal si mayit.

Pahala dari berbagai hadiah itu juga mengalir bagi kita yang masih hidup dan melakukannya, seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits :

أن فاعل ذلك له ثواب جسيم منه أنه لا يخرج من الدنيا حتى يرى مكانه فى الجنة

“Siapa saja yang melakukan sedekah atau sembahyang itu, akan mendapat pahala yang besar. Di antaranya, ia takkan meninggalkan dunia sampai melihat tempatnya di surga kelak.”

Sejumlah ulama menganjurkan akan baiknya sembahyang 2 raka‘at ini. Ringan dan mudah dilakukan, “Beruntunglah orang yang melakukan sembahyang ini setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk mayit kaum muslimin.”

Sebagai umat Islam, kita dipanggil untuk peduli dan menanam bibit kasih sayang terhadap alam, hewan dan manusia baik hidup maupun sudah meninggal. Hanya saja, bentuk kasih yang dipersembahkan mesti disesuaikan bagi penerimanya. Untuk saudara kita yang sudah meninggal, kita bisa melakukan sedekah dan sembahyang 2 raka‘at di atas.

Inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW para ulama dan kiai mengawetkan ajaran luhur Rasulullah dengan menuliskan, mengajarkan, menyontohkannya kepada masyarakat luas. Dengan demikian, ajaran Nabi Muhammad SAW akan lestari hingga hari akhir kelak.

Semoga salinan tulisan ini bermanfaat untuk memperbanyak amal kita.  Wallohu a’lam *** (Ref. Nihayatu Zein).

Iklan

Catatan : Cara dan Do’a Shalat Istikharah

Januari 13, 2012

Istikharah menurut Imam Nawawi dalam kitab al-adzkar sangat dianjurkan (sunnah) pada semua perkara yang memiliki beberapa alternatif. Rasulullah dalam sebuah hadits riwayat Sayidina Jabir Ibn Abdillah ra bersabda :

اذا هم أحد كم بالأمر فليركع ركعتين ثم ليقل : أللهم … الخ ; رواه البخاري  

Jika diantara kalian hendak melakukan perkara/urusan, maka rukuklah (shalatlah) dua rakaat : kemudian berdoa… (HR. Bukhori).

Redaksi dalam hadits tersebut menggunakan kata ‘al-amr’  yang berarti perkara atau urusan yang mengandung makna umum. Meski demikian berbagai perkara wajib tidak perlu di-istikharahi. Sebab kita tidak punya pilihan lain. Yakni yang wajib harus dilakukan dan yang haram harus ditinggalkan. Tidak perlu istikharah apakah akan mengerjakan shalat atau tidak misalnya. Demikian juga dengan mencuri, berzina dan sejenisnya.

Istikharah adalah upaya memohon kepada Allah swt agar memberikan pilihan terbaik kepada kita akan hal-hal yang memang kita punya hak untuk memilih antara mengerjakan dan meninggalkan. Seperti pekerjaan misalnya, kita diperbolehkan bekerja sebagai pedagang, petani, pengusaha dan sebagainya.

Shalat istikharah sangat mudah, yaitu shalat dua rakaat dengan niat istikharah :

أصلى سنة الإستخارة ركعتين لله تعالى

Aku berniat shalat istikharah dua raka’at karena Allah Ta’ala

Rakaat pertama setelah membaca surat al-Fatihah memabaca surat al-Kafirun. Dan rakaat kedua setelah al-Fatihah membaca surat al-Ikhlas. Kemudian setelah salam membaca do’a :

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْتَخِيْرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيْمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوْبِ. اَللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ -وَيُسَمَّى حَاجَتَهُ- خَيْرٌ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاقْدُرْهُ لِيْ وَيَسِّرْهُ لِيْ ثُمَّ بَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا اْلأَمْرَ شَرٌّ لِيْ فِيْ دِيْنِيْ وَمَعَاشِيْ وَعَاقِبَةِ أَمْرِيْ فَاصْرِفْهُ عَنِّيْ وَاصْرِفْنِيْ عَنْهُ وَاقْدُرْ لِيَ الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِيْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta pilihan yang tepat kepadaMu dengan ilmu pengetahuanMu dan aku mohon kekuasaanMu (untuk mengatasi persoalanku) dengan kemahakuasaanMu. Aku mohon kepadaMu sesuatu dari anugerahMu Yang Maha Agung, sesungguhnya Engkau Mahakuasa, sedang aku tidak kuasa, Engkau mengetahui, sedang aku tidak mengetahuinya dan Engkau adalah Maha Mengetahui hal yang ghaib. Ya Allah, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini -(orang yang mempunyai hajat hendaknya menyebut persoalannya)- lebih baik dalam agamaku, dan akibatnya terhadap diriku sukseskanlah untuk ku, mudahkan jalannya, kemudian berilah berkah. Akan tetapi apabila Engkau mengetahui bahwa persoalan ini lebih berbahaya bagiku dalam agama, perekonomian dan akibatnya kepada diriku, maka singkirkan persoalan tersebut, dan jauhkan aku daripadanya, takdirkan kebaikan untuk ku di mana saja kebaikan itu berada, kemudian berilah kerelaanMu kepadaku.”

Setelah shalat istikharah, biasanya di dalam hati timbul rasa tenang dan mantap terhadap salah satu alternative yang ada. Bisa juga hasil istikharah diketahui lewat mimpi, dengan isyarat dan simbol-simbol tertentu. Kalau masih ragu, istikharah dapat diulang dua atau tiga kali. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1 ; Al-Adzkar).

Sumber : KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat.


Menambah Lafad Sayidina

Oktober 12, 2011

قال الشمس الرملى فى شرح المنهاج  الافضال الا ثيان بلفظ السيادة لان فيها الا تيان بما امرنا و زيادة الاحبار بالواقع الذي هو ادب  فهو افضل من تركه  وقال السحيمي ايضا ولا يقال امتثال الا مر افضل من الادب لانا نقول فى الادب امتثال الامر وزيادة والظاهر ان الافضل ذكره قى غيرنبينا ايضا. انتهى  وا كمل الصلاة على النبي وافضلها سواء في الصلاة و خرجها كما نص على ذلك الرملى  اللهم صل على سيدنا محمد و على ال سيدنا محمد …. الخ

امام الحظرمى ؛ كالشفةالسجا في الشرح سفنةالتجا ؛ صحفة  ٦١

Perkara menambah lafad –sayidina- sebelum menyebut nama Nabi Muhammad SAW, perlu juga diutarakan supaya memahami duduk persoalan. Menghindarkan kekwatiran akibat tidak mafhum. Menjadi menimbulkan pertanyaan atau ragu-ragu dalam beramal.

Telah mengemukakan Imam Syamsu Ar- Romli dalam Syarah Al-Minhaj, bahwa  yang lebih utama, -yaitu ketika menyebutkan nama Nabi Muhammad SAW-  adalah mendatangkan kepada lafad –siyadah- (kepemimpinan/sayidina). Sebab sesungguhnya dalam lafad –siyadah- terkandung  beberapa faktor sesuatu perkara yang telah diperintahkan kepada kita semua memenuhinya.

Perkara menambahkan lebih terhadap sesuatu –ahbar-, yaitu konteks penyebutan Nabi Muhammad SAW dari buktinya dengan mendatangkan lafad –sayidina- merupakan tatakrama yang benar. Memakai tatakrama, adalah lebih utama daripada meninggalkannya.

Telah mengemukakan juga Imam Suhaemi, bahwa jangan diungkapkan melaksanakan perintahan itu lebih utama daripada tatakrama. Sebab kita semua telah berpendapat tetap dalam tatakrama melaksanakan perintahan, dengan menambahkan kelebihan atas –ahbar- dari buktinya. Sesungguhnya utama juga menyebutkan sayidina kepada selain nabi kita.

Kesimpulan : Adalah lebih sempurna dalam sholat dan di luar sholat, seperti perkara yang sudah di –nash- oleh Imam Romli atas kelebihan penambahan –ahbar- sebagai tatakrama. Yaitu menambahkan sayidina di depan nama Nabi Muhammad SAW seperti berikut : “Allohumma SholIi  ‘aala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aali Sayyidina Muhammad. Kama shollaeta ‘alaa Sayyidina Ibrohiem, wa ‘alaa aali Sayyidina Ibrohiem, dst…. (Lihat Kitab Kassyifatus-saja Fie Syarhi Safinatun-najaa, Imam Hadhromi, Halaman 61).

Ketiadaan lafad –sayidina- dalam konteks matan hadits, mesti disikapi sebagai keengganan Kangjeng Nabi Muhammad SAW menyombongkan atau membanggakan diri. Tetapi hal ini bukan menunjukan sebagai larangan menyebut nama beliau dengan sayidina.

Nabi sendiri dalam beberapa hadits yang lain menyebut dengan jelas dirinya sebagai -sayidina- ; “Ana -sayyidu- waladi aadama yaomal qiyamati” (Hr Muslim) ; “Ana -sayyidul- mursalien wa khotamien nabiyyien”. “Ana -sayyidu- waladil aadama wa laa fahroo”.  (Lihat Hasyiyah Bajurie, hal 14).

Dalam pendapat Madhab Imam Syafii telah mu’tamad menambah lafad sayidina ketika menyebut nama Nabi Muhammad SAW sebagai -afdhol-. Menyebut dalam sholat ataupun di luar sholat. Sebagaimana dikukuhkan -nash- hukumnya oleh Imam Syamsu Ar-Romlie atas perkara itu ; “Allohummaa shollie ‘alaa sayidina Muhammad wa ‘alaa aali sayyidina Muhammad, kama sholaita ‘ala sayidina ibroohiem wa ‘alaa aali sayidina ibroohiem .. dst.. ” ; sebagai bacaan takhiyat akhir dalam sholat.

Keterangan lihat Kitab Imam Hadromi, Kasysyifaatus Sajaa fie syarh Safinatunn najaa, halaman 61. Penjelasan ini ditashih juga ashab-ashab kaol Imam Syafii yang lainnya, seperti dalam Kitab Hasyiyah Bajurie. Ada juga dalam Taqrieb. Atau Kitab Ghoyatul Ihtisar, atau At-Tadhib. Hukumnya sudah begini jadi nash qoth’i.

Syeikh Ibrahim bin Muhammad Al-Bajuri menyatakan :

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

Yang lebih utama adalah mengucapkan sayidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau). (Hasyisyah Al-Bajuri, Juz I, Hal 156).

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi SAW :

عن أبي هريرة قا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at. (Shahih Muslim, 4223).

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi SAW menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad SAW menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau SAW menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Sayid Muhammad bin Alawi Al-Maliki Al-Hasani :

Kata sayyidina ini tidak hanya tertentu untuk Nabi Muhammad SAW di hari kiamat saja, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang dari beberapa riwayat hadits -‘saya adalah sayyidnya anak cucu adam di hari kiamat’-. Tapi Nabi SAW menjadi sayyid keturunan ‘Adam di dunia dan akhirat. (Dalam kitabnya Manhaj As-Salafi fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat Tathbiq, 169)

Ini sebagai indikasi bahwa Nabi SAW membolehkan memanggil beliau dengan sayidina. Karena memang kenyataannya begitu. Nabi Muhammad SAW sebagai junjungan kita umat manusia yang harus kita hormati sepanjang masa.

Lalu bagaimana dengan “hadits” yang menjelaskan larangan mengucapkan sayidina di dalam shalat ?.

لَا تُسَيِّدُونِي فِي الصَّلَاةِ

Janganlah kalian mengucapakan sayidina kepadaku di dalam shalat

Ungkapan ini memang diklaim oleh sebagian golongan sebagai hadits Nabi SAW. Sehingga mereka mengatakan bahwa menambah kata sayidina di depan nama Nabi Muhammad SAW adalah bid’ah dhalalah, bid’ah yang tidak baik.

Akan tetapi ungkapan ini masih diragukan kebenarannya. Sebab secara gramatika bahasa Arab, susunan kata-katanya ada yang tidak sinkron. Dalam bahasa Arab tidak dikatakan   سَادَ- يَسِيْدُ , akan tetapi سَادَ -يَسُوْدُ  , Sehingga tidak bisa dikatakan  لَاتُسَيِّدُوْنِي

Oleh karena itu, jika ungkapan itu disebut hadits, maka tergolong hadits maudhu’. Yakni hadits palsu, bukan sabda Nabi, karena tidak mungkin Nabi SAW keliru dalam menyusun kata-kata Arab. Konsekuensinya, hadits itu tidak bisa dijadikan dalil untuk melarang mengucapkan sayidina dalam shalat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menambahkan lafad sayidina ketika membaca, menulis sholawat, dsb. kepada Nabi Muhammad SAW boleh-boleh saja, bahkan dianjurkan. Demikian pula ketika membaca tasyahud di dalam shalat. Wallohu a’lam. *** (Iqbal1).


Catatan : Ubudiyah / Ibadah di Hari Raya Iedul Fitri

September 9, 2011

Ketika bulan puasa telah usai maka datanglah hari kemenangan bagi orang-orang yang berpuasa yaitu hari raya. Oleh karena itu umat islam disunahkan untuk merayakan kemenangan tersebut dengan berbagai amalan sunah sebagai berikut :

  1. Mengumandangkan takbir mulai dari terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan sampai dilaksanakannya shalat ied.
  2. Mandi sebelum melaksanakan shalat ied.
  3. Memakai pakaian yang bagus.
  4. Memakai wewangian.
  5. Makan sebelum berangkat shalat.
  6. Jalan yang dilewati pada saat pergi dan pulang dari shalat ied adalah berlainan.
  7. Menjalankan shalat ied dengan berjamaah.
  8. Takbir tujuh (7) kali pada rakaat pertama setelah membaca iftitah, dan takbir lima (5) kali pada rakaat kedua sebelum membaca surat fatihah.
  9. Mengangkat kedua tangan dikala takbir.
  10. Membaca tasbih sebelum takbir tujuh atau lima kali pada tiap-tiap rakaat.
  11. Pada rakaat pertama setelah membaca surat fatihah membaca surat al-Qaf atau surat al-A’la, dan pada rakaat kedua setelah membaca surat Fatihah membaca surat al-Qamar atau al-Ghasyiyah.
  12. Imam membaca surat Fatihah dan surat-surat setelahnya dengan suara yang nyaring.
  13. Melaksanakan dua khuthbah setelah shalat ied dengan ketentuan sebagai berikut :

Dua khuthbah iedul fitri dimulai dengan membaca takbir ;

– Pada khuthbah pertama membaca takbir sebanyak sembilan (9) kali berturut-turut.

– Pada khuthbah kedua membaca takbir sebanyak tujuh (7) kali berturut-turut. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan membaca Hamdalah dan seterusnya sampai selesai khuthbah.

A. Lafadz Takbir pada hari raya :

 اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ . اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةَ وَاَصِيْلًا لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ اِلَّا اِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ وَصَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَخْزَابَ وَحْدَهُ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

B. Lafadz Niat Shalat Iedul Fitri :

Lafadz niat bagi seorang imam

 اُصَلِّى سُنَّةَ عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ اِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Lafadz niat bagi seorang makmum

اُصَلِّى سُنَّةَ عِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

C. Bacaan tiap-tiap setelah takbir. Setiap selesai takbir, baik takbir tujuh kali dalam rakaat pertama maupun takbir lima kali dalam rakaat kedua, disunnahkan membaca :

 سُبْحَانَ اللهُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

D. Hikmah Iedul Fitri. Di antara hikmah iedul fitri adalah sebagai berikut :

  1. Munculnya kesadaran diri akan hakikat hamba Allah s.w.t. karena hari raya iedul fitri adalah sebagai titik awal seseorang dalam memulai kehidupan. Setelah bulan Ramadhan seseorang menjadi bersih tanpa dosa, maka kebahagiaan iedul fitri adalah kebahagiaan terhapusnya dosa-dosa.
  2. Iedul fitri sebagai sarana untuk mengeratkan hubungan dengan Allah s.w.t. dan hubungan dengan sesama manusia. Hubungan dengan Allah terwujud dalam bentuk amalan-amalan dalam hari raya ied dan hubungan dengan manusia terwujud dengan saling memaafkan. dll. *** (Ref. NU Online)

Catatan : Diperbolehkannya Sholat Sunat dengan Cepat termasuk Sholat Taraweh

Oktober 14, 2010

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى قَالَ مَا أَخْبَرَنَا أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى الضُّحَى غَيْرُ أُمِّ هَانِئٍ ذَكَرَتْ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ اغْتَسَلَ فِي بَيْتِهَا فَصَلَّى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ فَمَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلَاةً أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Bahwa Ummu Hani ra melihat Nabi saw melakukan shalat dhuha, beliau saw mandi di hari fatah makkah (saat itu) lalu shalat 8 rakaat, dan tidak pernah kulihat Rasul saw shalat secepat itu, namun beliau menyempurnakan rukuk dan sujud.
(Shahih Bukhari Bab Al Jum’ah). hadits yg sama teriwayatkan pada shahih Bukhari Bab Al Jum’at pula, hadits yg sama teriwayatkan pada Shahih Bukhari Bab Al Maghaziy.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَخْبَرَتْنِي حَفْصَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اعْتَكَفَ الْمُؤَذِّنُ لِلصُّبْحِ وَبَدَا الصُّبْحُ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ تُقَامَ الصَّلَاةُ

Dari Hafshah ra sungguh Rasul saw menanti muadzin untuk subuh, dan melakukan shalat qabliyah subuh dg ringan (cepat) sebelum shalat subuh.
(Shahih Bukhari Bab Adzan).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَمَّتِهِ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى هُوَ ابْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخَفِّفُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ الصُّبْحِ حَتَّى إِنِّي لَأَقُولُ هَلْ قَرَأَ بِأُمِّ الْكِتَابِ

Dari Aisyah ra berkata : Rasul saw sangat cepat melakukan shalat qabliyah subuh, hingga aku berkata dalam hati apakah beliau saw membaca fatihah atau tidak (dari cepatnya) ( Shahih Bukhari Bab Al Jum’ah).

Hadits diatas dari aisyah ra yg menyaksikan shalat Nabi saw sedemikian seakan tidak membaca fatihah teriwayatkan pula pada shahih Muslim pada Bab shalatul musafirin wa qashriha), teriwayatkan dua hadits yg sama pada bab yg sama.

Jelas sudah diperbolehkannya shalat sunnah dengan cepat, demikian teriwayatkan pula pada Jami’ul ulum walhikam oleh Ibn Rajab bahwa diantara ulama salaf melakukan shalat sunnah 1.000 rakaat, (Jami’ul ulum walhikam hadits kedua dan hadits no.50).

Bagaimana seorang melakukan shalat 1000 rakaat ?, kecuali ia melakukannya dg cepat.

Jelas sudah diperbolehkannya shalat sunnah dg cepat, namun yg dimaksud menyempurnakan rukuk dan sujud adalah tumaninah, kadar tumaninah adalah sekadar seorang membaca 1x subhanallah, (kurang dari 1 detik), maka jika seorang melakukan shalat, pada i’tidal, rukuk, duduk, dan sujud ia harus berdiam segenap tubuhnya sekadar minimal kadar diatas, jika kurang dari itu maka tidak sah shalatnya.

Sebagaimana beberapa hadits shahih bahwa Rasul saw menegur orang yg shalat cepat dan mengatakan kau belum shalat, karena ia terus bergerak tanpa berhenti sekadar tumaninah. ***

Sumber Habib Munzir Al Musawwa


Ubudiyyah : Hari Raya di Hari Jum’at

November 30, 2009

Sebetulnya tidak ada pembahasan khusus terkait hari raya, baik Idul Fitri maupun Idul Adha, yang jatuh pada hari Jum’at. Hari raya adalah satu hal, dan hari Jum’at adalah hal lain. Akan tetapi ketika kita membicarakan seorang yang rumahnya sangat jauh dari masjid, apakah ia harus kembali lagi untuk menunaikan shalat Jum’at setelah di pagi harinya ia telah menunaikan shalat hari raya?

Seperti di zaman awal Islam, ada sahabat yang jarak rumahnya dengan Madinah sejauh 4 km, bahkan lebih dari itu, dan harus ditempuh melewati padang pasir dan ditempuh dengan jalan kaki. Apakah ia harus kembali lagi ke Madinah tanpa kendaraan untuk menunaikan shalat Jum’at? Kalaulah ia harus kembali menempuh perjalanan dari rumah ke masjid dan sebaliknya, sungguh melelahkan. Pertanyaan berikutnya apakah Islam tidak memberikan solusi?

Di sinilah kemudian timbul perbedaan pendapat. Pendapat pertama mengatakan, tidak perlu kembali ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Shalat Jum’atnya dapat dikerjakan di rumah dan menggantinya dengan shalat Dzuhur. Ini termasuk rukhshah atau keringanan dalam beragama.

Pendapat kedua mengatakan, kasus di Madinah di awal Islam itu bisa dijadikan alasan, tetapi apakah kita di Indonesia benar-benar mengalami nasib seperti itu? Bagi kaum Muslimin di Indonesia yang mayoritas NU, hampir di setiap dusun ada masjid, rata-rata kurang dari 1 km dan tidak melewati padang pasir.

Pendapat kedua inilah yang dipilih sebagian besar orang NU. Karena itu seorang Muslim harus kembali ke masjid untuk mengerjakan shalat Jum’at setelah paginya menunaikan shalat hari raya atau shalat Id.

Meskipun demikian, tidak sedikit yang mengikuti jejak golongan pertama. Dengan mengajukan kasus di Madinah, tidak perlu mengajukan alasan apapun seperti perbedaan geografis dan cuaca suatu negara. Yang jelas rukhshah itu patut disambut.

Imam Syafii seperti dikutip dalam Al-Mizan lis Sya’rani Juz I, mengatakan, jika kebetulan hari raya bertepatan dengan hari Jum’at maka bagi penduduk perkotaan kewajiban menjalankan shalat Jum’at tidak gugur dikarenakan telah menjalankan shalat Id. Lain halnya dengan penduduk desa (yang amat jauh), kewajibannya mengerjakan shalat Jum’at gugur, mereka diperbolehkan untuk tidak Jum’atan.

Dalam kitab yang sama disebutkan, pendapat Imam Syafii ini sama dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Sedang Imam Ahmad mengatakan, tidak wajib Jumatan bai penduduk desa maupun kotadan gugurlah kewajiban Jum’atan sebab mereka telah mengerjakan shalat Id, hanya saja mereka tetap wajib mengerjakan shalat dzuhur. Malah menurut Imam Atha’ Jum’atan dan shalat dzhuhurnya gugur sekaligus, dan pada hari itu tidak ada shalat setelah shalat Id kecuali shalat ashar.

Hadits tentang rukhsah ini diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam berikut ini :

قال: صَلَّى الْعِيْدَ ثُمَّ رَخَصَ فِي الْجُمْعَةِ، فَقَالَ: مَنْ شَاءَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيُصَلِّ

Rasulullah menjalankan shalat Id kemudian memberikan rukhshah untuk tidak menjalankan shalat Jum’at, kemudian beliau bersabda,” Siapa ingin shalat Jum’at, Silakan!” (HR Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ad-Darami serta Ibnu Khazimah dan Al-Hakim).

Oleh : KH Munawir Abdul Fattah, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak – Yogyakarta. (Persoalan ini diulas oleh penulis dalam buku “Tradisi Orang-orang NU”)