Tauhid : Nabi Isa Alaihissalam Adalah Rasul Allah

Juli 11, 2011

(Lanjutan, sebelumnya klik ini) ; Nabi Isa Alaihissalam Adalah Rasul Allah. Tuhan menyatakan ini dalam firman-Nya :

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

يَا  أَهْلَ  الْكِتَابِ  لَا تَغْلُوا فِي  دِينِكُمْ  وَلَا تَقُولُوا

 عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ

رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَى مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ

فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ انْتَهُوا

 خَيْرًا لَكُم إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ

لَهُ وَلَدٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ

وَكَفَى بِاللَّهِ وَكِيلًا

Artinya : “Hai orang2 keturunan Kitab !, janganlah kamu melampaui batas dalam agama dan janganlah kamu bicara tentang Tuhan melainkan yang benar. Sesungguhnya Al-masih Isa anak Maryam Rasul Alloh dan kalimah Alloh, disampaikan kepada Maryam, dan dengan (tiupan) ruh daripada-Nya. Maka imanlah kamu kepada Alloh dan rasul-Nya, dan janganlah kamu katakana : Tuhan itu tiga. Berhentilah, itu yang lebih baik bagimu. Tuhan itu hanyalah Tuhan yang satu, Maha Suci Tuhan dari mempunyai anak. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Cukuplah Tuhan untuk pelindung”. (An-nisa : 171).

Dan dalam firman yang lain diterangkan, bahwa Tuhan tidak mempunyai anak dan tidak pula diperanakan/dilahirkan oleh ibu bapk. Tuhan berfirman :

قُلْ هُوَاللَّهُ أَحَد – اللَّهُ الصَّمَدُ – لَم ْيَلِدْ وَلَم ْيُولَد

وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوً َأَ أَحَدٌ

Artinya : “Katakanlah (Hai Muhammad) !, Tuhan itu esa, Tuhan itu tempat meminta, Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakan (dilahirkan oleh ibu bapak), dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”. (Al-ikhlash : 1-4).

Adapun tentang kerasulan Nabi Isa Alaihissalam ditegaskan oleh Tuhan di dalam banyak ayat di dalam Al-qur’an. Diantaranya :

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ

  وَمُوسَى وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

Artinya : “Dan ingatlah ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-nabi, dan juga dari engkau (Hai Muhammad), dari Nuh, dari Ibrahim, dari Musa, dari Isa bin Maryam, dan Kami ambil dari mereka perjanjian yang sungguh-sungguh”. (Al-ahzab : 7).

Jadi Nabi Isa bin Maryam, menurut ayat ini adalah Nabi, sama derajatnya dengan Nabi Muhammad SAW, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa Alaihimussalam. Itulah lima orang Nabi yang diberi nama rasul “Ulul Azmi” (Rasul2 yang teguh), sebagai yang diterangkan oleh Tuhan dalam firman-Nya :

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ 

Artinya : “Maka sabarlah engkau (tahanlah dalam percobaan) sebagaimana ketahanan rasul2 ulul azmi”. (Al-ahqaf : 35).

Tegasnya : Nabi Isa Alaihissalam adalah seorang Nabi/Rasul (Utusan Alloh) yang sama dengan Rasul2 yang lain. Beliau Abdi Alloh (Abdulloh). Beliau bukan anak Alloh, karena Alloh tidak mempunyai anak. Apalagi Tuhan. Beliau bukan Tuhan, karena tidak ada sesuatupun yang menyerupai Tuhan. Inilah kepercayaan ummat Islam. Wallohu ‘alam ***. (Iqbal1)


Tauhid : Nabi Isa AS, Manusia Luar Biasa…

Juni 27, 2011

Ummat Islam di seluruh dunia, khususnya di Indonesia selamanya meng-I’tiqadkan bahwa Nabi Isa Alaihissalam adalah seorang Nabi yang mulia dan salah seorang dari Nabi-nabi yang 25 yang tersebut namanya di dalam Al-Qur’an. Nabi Isa lahir luar biasa, yakni berlainan dari kebiasaan manusia. Hanya ditiupkan saja oleh Tuhan ke dalam kandungan ibu beliau, dan lantas lahir kedunia tanpa bapak.

Di dalam kalangan Islam ini tidak ganjil, karena Nabi Adam alaihissalam lahir ke dunia tanpa bapak dan tanpa ibu, sedang Nabi Isa lahir hanya tanpa bapak saja, sedang ibunya ada. Mengadakan Adam menurut akal biasa, lebih sulit dari mengadakan Isa. Tetapi Nabi Adam toh bisa ada dan sudah ada sebagai bapak manusia keseluruhannya.

Isa alaihissalam diangkat menjadi Nabi dan Rasul oleh Tuhan. Beliau dibekali dengan kitab injil oleh Tuhan dan dengan beberapa mu’jizat. Umpamanya beliau bisa menghidupkan orang yang sudah mati, dengan izin Tuhan. Pada akhir masa beliau, beliau dikejar-kejar oleh orang kafir, beliau hendak dibunuh, tetapi Tuhan Yang Maha Kuasa membebaskan beliau dari bahaya pembunuhan itu dan mengangkat beliau kepada-Nya. Menurut kepercayaan ummat Islam, Nabi Isa tidak wafat, tidak mati meninggal dunia menurut pengertian biasa.

Karena itu adalah satu kesalahan besar -dari sisi akidah- kalau dikatakan : “hari ini semua sekolah libur menghormati wafatnya Nabi Isa”. Ini bertentangan dengan kepercayaan ummat Islam, tetapi sesuai dengan kepercayaan orang Nashara, orang Kristen. Kalau terjadi pertentangan paham antara orang Islam dengan orang Kristen itu lumrah, biasa saja karena agamanya berlainan.

Tetapi sayang seribu kali sayang, dalam waktu yang akhir-akhir ini muncul seorang yang dikatakan Ulama Islam dari Kairo (Mesir) namanya Mahmud Syaltut yang berfatwa bahwa Nabi Isa itu benar-benar sudah wafat, sudah mati. Fatwa ini sama dengan fatwa ummat Kristen, yaitu meninggal disalib. Hal ini sangat menggoncangkan ummat Islam. Menjadi anomali dan seolah-olah aqidah yang benar demikian. Setidaknya dalam catatan saya. Lantas  bagaimanakah Nabi Isa tersebut. (Catatan : Posting terdahulu, Klik) :

Nabi Isa Manusia Luar Biasa

Tuhan menyatakan ini dalam Al-Qur’an, bahwa pada suatu waktu datang Malaikat kepada Siti Maryam mengabarkan bahwa ia akan dikaruniai seorang anak.

Firman-Nya (Audzubillaahi minasy-syaithoo-nirrojiem) :

إِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكِ بِكَلِمَةٍ مِنْهُ

 اسْمُهُ الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَجِيهًا

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ – 45

Artinya : “Pada ketika Malaikat berkata ; Hai Maryam !, sesungguhnya Tuhan menyampaikan berita gembira kepadamu dengan “kalimah” dari Tuhan, namanya Al-Masih Isa anak Maryam, orang besar di dunia dan di akherat, dan termasuk orang-orang yang dekat kepada Tuhan”. (Ali Imran : 45).

Menurut tafsir Khozien bahwa Malaikat yang datang membawa kabar ini adalah Malaikat Jibril Alaihissalam (Khazien ; Juz 1 ; Hal. 292). Dan ada ahli-ahli tafsir mengartikan “kalimah” itu dengan “kalimah Alloh”. Nabi Isa itu adalah “kalimah Alloh, yang berarti “jadikan”, lalu jadilah. Tetapi kedua tafsir ini pada hakekatnya sama, karena kejadian Isa dengan cara begitu adalah “kabar suka” bagi Maryam, karena beliau akan melahirkan seorang Nabi dan Rosul yang pilihan.

Tegasnya arti ayat ini adalah, bahwa Malaikat Jibril datang kepada Siti Maryam membawa kabar suka, yaitu mengabarkan bahwa ia akan diberi seorang anak laki-laki yang akan diberi nama Isa bin Maryam.

Perkataan Isa bin Maryam ditegaskan oleh Tuhan agar jangan sampai orang mengatakan bahwa Isa itu anak Tuhan, atau jangan sampai ada orang mengatakan bahwa Isa itu anak seorang laki-laki lain dengan jalan tidak halal. Tuhan tegas dalam soal ini. Isa itu anak Maryam !.

Maka setelah Siti Maryam mendengar kabar suka ini, lantas beliau menyatakan keheranannya kepada Tuhan begini :

 قَالَتْ رَبِّ أَنَّى يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ 

Artinya : “Berkata Maryam ; Wahai Tuhanku !, Bagaimana saya bisa melahirkan anak, sedang saya belum pernah disentuh laki-laki ?”. (Ali Imran : 47).

Dalam ayat ini Siti Maryam menyatakan keheranannya, bagaimana ia bisa melahirkan anak sedang ia belum kawin. Bukan saja belum kawin, tetapi lebih tegas lagi belum pernah disentuh manusia, walaupun suami yang tidak halal.

Jibril menjawab kepada Siti Maryam :

 قَالَ كَذَلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ إِذَا قَضَى

47 – أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

Artinya : “Ya, begitulah keadaannya, Tuhan memperbuat apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Tuhan hendak mengadakan sesuatu maka Tuhan hanya mengatakan “Kun” (Jadilah), lalu jadi (yang dikehendaki-Nya itu)”. (Ali Imran : 47).

Pada waktu itu juga dikabarkan kepada Siti Maryam :

 48 – وَيُعَلِّمُهُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَالتَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ

49 – وَرَسُولًا إِلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ

Artinya : “Dan Tuhan akan mengajarkan Kitab kepadanya, dan Hikmah, dan Taurat dan Injil ; dan akan diangkat menjadi Rosul kepada Bani Israil”. (Ali Imran : 48-49).

Nah begitu kisahnya pertamanya. Nabi Isa AS dilahirkan tanpa bapak, dan kemudian diangkat menjadi Rosul untuk Bani Israil. Nabi Isa Alaihissalam adalah manusia luar biasa dengan syahadah dan pengakuan di dalam Al-Qur’an sendiri. Wallohu “alam. *** (Iqbal1) -Insya Alloh Bersambung-

Referensi : Syaikhonie Almaghfirlahu KHR. Ahmad Djawari, mantan Rois Syuriyah PW NU Jawa Barat. Alumni Mut’allimien Makkatul Mukarromah. Pendiri Pesantren An-nadjah.

http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=3&SuratKe=3#Top

KH. Sirodjuddin Abbas (Alm.) ; 40 Masalah Agama ; Jilid 1, hal. 324-326.


Catatan : Kenaikan Isa Al-Masih dalam Prespektif Al-Qu’ran

Juni 16, 2011

Pembahasan tentang Isa Al-Masih AS mendapat perhatian luas, karena ia menyangkut dua agama yang besar penganutnya di seluruh dunia, yaitu agama Islam dan Kristen. Ada beberapa perbedaan pokok pandangan diantara kedua agama ini menyangkut keberadaan Isa Al-Masih AS. bagi agama Islam, secara tegas bahwa sumber keyakinan mengenai Nabi Isa AS adalah Al-Qur an Al-Karim dan bagi agama Kristen mendasarkan keyakinannya atas keterangan dari perjanjian lama dan perjanjian baru.

Bagaimana tentang Isa Al-Masih AS itu menurut sumber informasi yang bersumber dari Al-Qur an dan diyakini umat Islam, menurut sebagian besar umat Islam di dunia bahwa Nabi Isa Al-Masih AS, belum meninggal sampai sekarang, tapi beliau diangkat oleh Allah SWT. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur an :

 ………. اِذْ قَالَ اللهُ يَعِيْسى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَ رَافِعُكَ

Artinya : Perhatikanlah ! Allah berfirman ” Wahai Isa, Aku akan mengambil engkau dan mengangkat engkau kepadaku dan mengangkat engkau dari kepalsuan orang kafir……. “

Rasulullah SAW bersabda : “Bahwa sesungguhnya Nabi Isa AS  belum meninggal. Dan beliau akan kembali kepadamu sebelum hari kiamat”.

Ini penting  kejelasan secara tepat, karena masalah ini berkaitan secara langsung dengan penjelasan yang ditegaskan dalam al Qur’an serta hadis Nabi SAW. Dan persoalannya selalu bersentuhan dengan keyakinan lain yang bersumber bukan dari kitab – kitab dan ajaran Islam.

Dalam al-qur an di sebutkan : 

اِذْ قَالَ اللهُ يَعِيْسى اِنِّيْ مُتَوَفِّيْكَ وَ رَافِعُكَ اِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ

 مِنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا  وَجَاعِلُ الَّذِيْنُ اتَّبَعُوْكَ فَوْقَ الَّذِيْنَ

 كَفَرُوْا اِلَى يَوْمِ الْقِيمَةِ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاَحْكُمُ بَيْنَكُمْ

 فِيْمَا كُنْتُمْ تَخْتَلِفُوْنَ

Terjemah : (Ingatlah), ketika Allah berfirman ; `Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan di antaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya`. (Al-imron ayat 55).

Di dalam ayat ini “Mutawaffika Wa Rafiuka”  (mewafatkan dan mengangkat),  seakan Nabi Isa AS ini diwafatkan dulu kemudian diangkat. Oleh karena itu di dalam Tafsir al-Qur’an, khususnya di dalam kitab Tafsir ibnu Katsir, di sana ada beberapa pendapat ulama mengenai masalah ini, yang penting untuk dicermati.

 Pendapat & Penafsiran

Argumentasi pertama : Dari Imam Qatadah mengatakan bahwa pada ayat 55 dalam surat Ali Imran, kata-kata Mutawaffika, Wa Rafiuka, karena disitu ada kata Wa (dan) itu dikatakan dalam bahasa arab Mutlakul jam’i, mutlak yang penting sama-sama. Misalnya : Ali dan Amir pergi ke pasar. Itu bisa Ali lebih dulu atau Amir lebih dulu, atau bisa sama-sama. Dilihat dari struktur fashehat atau bilaghahnya, penggalan kata2 itu merupakan struktur yang didahulukan dan dikemudiankan. Asal penggalan itu ialah “Innie raafiuka Wa Mutawaffika’ (Sesungguhnya Aku akan mengangkatmu kepada-Ku, kemudian mewafatkanmu).  Maka menurut Imam Qatadah pengertiannya ayat di atas itu, karena lebih dulu diangkat, maka baru nanti meninggal sebelum hari kiamat.

Argumentasi Ke dua : dari Ali bin Thalhah, dari Imam Ibnu Abbas, beliau berpendapat bahwa pengertian “Mutawaffika” itu memang mati, bimakna mumituka, dengan arti mematikanmu. Imam Muhammad bin Ishak berpendapat bahwa Nabi Isa meninggal dalam tiga jam kemudian di angkat oleh Allah. Orang-orang  Nasrani waktu itu menganggap bahwa Nabi Isa AS atau yang lebih dikenal dengan Al-Masih Ibnu Maryam telah meninggal dalam tujuh jam kemudian di hidupkan kembali, makanya dalam tradisi Kristen ada yang namanya hari besar Kenaikan Isa Al-Masih. Ada yang berpendapat meninggalnya Nabi Isa itu sampai tiga hari.

Pendapat lain mengatakan ; “Diwafatkan dari dunia, namun bukan wafat yg berarti mati”. Ada juga yg berpendapat ; “Mewafatkannya berarti menaikannya”. Mayoritas Ulama berpendapat bahwa kata Mutawaffika bukan meninggal seperti biasa, karena di dalam al-Qur’an ada kata seperti itu yang artinya tidur. Jadi kata-kata “Mati” ada juga pengertiannya bukan mati dalam arti lepas nyawa dari jasad untuk selamanya, tapi “tidur”  (lepas-sebentar nyawa dari badan). Yaitu : tersinyalir dalam ayat yang mengatakan :

وَهُوَ الَّذِيْ يَتَوَفَّكُمْ بِالَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَاجَرَحْتُمْ بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيْهِ

 لِيُقْضَى اَجَلٌ مُسَمَّى ثُمَّ اِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُمْ

 بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ

Terjemah : “Dan Dialah yang membuat kamu mati / menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan pada siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur (mu) yang telah ditentukan, kemudian kepada Allah-lah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan”. (QS. 6:60).

Note : “Dan Dialah yang membuat kamu mati (tidur) malam hari dan mengetahui apa yang kamu kerjakan siang hari….. (Al-An’am 60).

Ini bersesuaian dengan Firman Alloh dalam Surat Az-zumar 42 :

اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ

 فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ

 وَيُرْسِلُ الْأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى

 إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Terjemah : Alloh memegang  jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya. Maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda2 kekuasaan Alloh bagi kaum yang berfikir. (Q.S. 39 ; 42).

Sehingga dalam ajaran Islam kalau baru bangun dari tidur di sunnahkan untuk berdo’a seperti yang senantiasa dicontohkan Rosululoh SAW : 

 اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُوْرِ

“Segala puji bagi Allah, yang membangunkan kami setelah ditidurkan-Nya dan kepada-Nya kami dibangkitkan”. [HR. Al-Bukhari].

Kaum Ahmadiyah menganggap bahwa Nabi Isa itu mati biasa atau normal.

Untuk menjelaskan labih lanjut masalah ini, mari kita lihat cerita tentang kejadian yang menimpa Nabi Isa menurut versi al-Qur an. Di sebutkan dalam al-Qur an : 

وَقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَاالْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللهِ وَمَا قَتَلُوْهُ

 وَمَا صَلَبُوْهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ

 شَكٍّ مِنْهُ مَالَهُمْ مِنْ عِلْمٍ اِلاَّ اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا

Terjemah : “ ……dan karena perkataan mereka : kami telah membunuh Isa Al-Masih putera Maryam. Utusan Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pulah menyalibnya “ (An-Nisa-157).

Selanjutnya An-Nisa’ ayat 158 menentukan : “Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

بَل رَّفَعَهُ اللّهُ إِلَيْهِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزًاحَكِيمًا

Quran Surat An-Nisa’ ayat 157 – 158 tersebut membantah keyakinan orang-orang Yahudi pada waktu peristiwa penyaliban Yesus tersebut, yang merasa telah berhasil membunuh Nabi Isa Al Masih Ibnu Maryam Alaihimassalam.

Dengki Orang Yahudi

Orang-orang yahudi menganggap bahwa mereka merasa bisa membunuh Nabi Isa al-Masih. Pada waktu itu orang-orang yahudi merasa dengki terhadap Nabi Isa, karena dalam pendangan mereka, Nabi Isa tidak lebih layak di angkat menjadi Nabi. Mereka memandang Nabi Isa sebagai orang rendah karena waktu itu orang yang dianggap mulia adalah orang-orang yang dari kalangan Raja yahudi yang berpusat di Damaskus. Pendek kata, mereka hasud dan dengki kepada Nabi Isa. Dengki mereka tak terbendung dan akhirnya mereka mempunyai rencana untuk membunuh Nabi Isa.

Mulanya mereka melapor kepada Raja di Damaskus, bahwa ada seorang rakyat biasa di Palestina yang mengaku sebagai untusan Allah untuk mengajar manusia dengan ajaran yang mengesakan Allah dan berbuat kebajikan. Dalam laporannya mereka bahkan menyatakan bahwa orang dimaksud memiliki rencana untuk membunuh Raja dan merubuhkan kerajaan di Damaskus. Sungguh, ini fitnah yang keji dari mulut orang-orang yahudi.

Mendengar laporan ini, Raja Damaskus langsung mengirim pasukan untuk menangkap dan membunuh Nabi Isa. Pasukan tentara pun mengepung rumah Nabi Isa yang sedang mengajarkan agama Islam kepada murid-muridnya, yaitu yang biasa disebut dengan Kaum Hawariyin.

Di situ diceritakan ada dua belas orang murid Nabi Isa setelah melihat orang yahudi dan orang damaskus akan membunuh Nabi Isa. Nabi Isa mengatakan kepada murid-muridnya ; “Hai para muridku, siapa diantara kalian yang mau bersama saya masuk surga” kata Nabi Isa, kemudian ada seorang murid yang paling muda, namanya Sarjus. Kata Sarjus ; “Saya, ya Rasulullah bersedia bersama Anda”.  Kalau begitu, kamu duduklah di tempt duduk ku, Kata Nabi Isa.

Kebetulan Sarjus mempunyai wajahnya mirip dengan Nabi Isa AS. Ketika Sarjus akan duduk di situ, Nabi Isa diangkat oleh Allah SWT dan yang duduk itu adalah Sarjus. Begitu orang-orang Yahudi dari Damaskus datang menggerebek rumah pengajian Nabi Isa para tentara masuk dan melihat orang yang duduk di situ menempati tempat duduk Nabi Isa dan mirip wajahnya dengan Nabi Isa, maka di tangkaplah Sarjus, lalu di bunuh dg di salib.

Jadi yang di salib itu bukanlah Nabi Isa AS, menurut tafsir ini. Tapi yang wajahnya serupa dengan Nabi Isa AS. Dalam al-Qur an di ceritakan bahwa orang-orang yahudi bangga karena telah mampu membunuh Nabi Isa AS. Mereka mengatakan dengan penuh kebanggan. Kami telah berhasil membunuh Isa.

وَقَوْلِهِمْ اِنَّا قَتَلْنَاالْمَسِيْحَ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُوْلَ اللهِ

 وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ

Terjemah : ……kami telah membunuh Isa Al-Masih putera Maryam, utusan Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya.  (An Nisa : 157).

“Rasulullah itu sudah kami bunuh, kata orang-orang Yahudi. Maka, orang Yahudi banyak mendapat kutukan dari Allah”. Tetapi di katakana dalam al-Qur an :

وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلَكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ

Terjemah : …..padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi demikianlah ditampakkan kepada mereka (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka…… (Surat An-Nisa : 157)

Dan ayat lain juga disebutkan bahwa :

وَاِنَّ الَّذِيْنَ اخْتَلَفُوْا فِيْهِ لَفِيْ شَكٍّ مِنْهُ مَالَهُمْ مِنْ عِلْمٍ اِلاَّ

 اتِّبَاعَ الظَّنِّ وَمَا قَتَلُوْهُ يَقِيْنًا

Terjemah : …. Dan sesungguhnya orang orang yang berselisih pendapat (tentang pembunuhan) Isa, benar-benar dalam tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa  yang di bunuh itu kecuali mengikuti perasangkaan belaka, mereka tidak pula yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.

Catatan kepahaman : Bahwa perselisihan akidah Nasrani dengan Islam merupakan perselisihan final. Bagi umat Islam, dengan tonggak sejarah ketika Nabi Muhammad medeklarasikan Piagam Madinah membentuk Pemerintahan Islam berpusat di Madinah dengan “kontrak sosial” untuk hidup bersama saling melindungi antara umat Islam, Nasrani dan Yahudi. Jadi, Nabi Muhammad pada abad ke-7 lebih dulu mempraktikkan “kontrak sosial”. Oleh karena itu, artikel ini tidak akan diperdebatkan dari sudut keimanan, dengan tetap saling menghormati.

Demikian, semoga ada manfaat dan menambah khazanah ke ilmuan kita. Amin ; Wallohu a’alam *** (Iqbal1).

Referensi :  Syaikhonie KHR. Ahmad Ma’mun Abdul Mu’in (Allohummaghfirlahu), mantan Musytasyar PWNU Jawa-Barat dan Rois Syuriyah PC NU Kota Bandung / Khodim Ponpes An-nadjah ;  AM. Syahrir Rahman, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Sunan Giri Surabaya.

Lihat Juga Muhtasar Ibnu Katsier, Jilid 1, hal 520-523, 834-848. ; Tafsier Marrohu Labied ‘Ala Tafsier Munir, Jilid 1, hal 100-101, 183-184.