Telisik : Syekh Jumadil Kubro (Penyebar Islam dan Teori Keturunannya)

Desember 7, 2011

Syekh Jumadil Kubro

Syekh Jumadil Qubro adalah tokoh yang sering disebutkan dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Ia umumnya dianggap bukan keturunan Jawa, melainkan berasal dari Asia Tengah. Terdapat beberapa versi babad yang meyakini bahwa ia adalah keturunan ke-10 dari Husain bin Ali, yaitu cucu Nabi Muhammad SAW. Sedangkan Martin van Bruinessen (1994) menyatakan bahwa ia adalah tokoh yang sama dengan Jamaluddin Akbar (lihat keterangan Syekh Maulana Akbar di bawah).

Sebagian babad berpendapat bahwa Syekh Jumadil Qubro memiliki dua anak, yaitu Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) dan Maulana Ishaq, yang bersama-sama dengannya datang ke pulau Jawa. Syekh Jumadil Qubro kemudian tetap di Jawa, Maulana Malik Ibrahim ke Champa, dan adiknya Maulana Ishaq mengislamkan Samudera Pasai. Dengan demikian, beberapa Walisongo yaitu Sunan Ampel (Raden Rahmat) dan Sunan Giri (Raden Paku) adalah cucunya; sedangkan Sunan Bonang, Sunan Drajad dan Sunan Kudus adalah cicitnya. Hal tersebut menyebabkan adanya pendapat yang mengatakan bahwa para Walisongo merupakan keturunan etnis Uzbek yang dominan di Asia Tengah, selain kemungkinan lainnya yaitu etnis Persia, Gujarat, ataupun Hadramaut.

Makamnya terdapat di beberapa tempat yaitu di Semarang, Trowulan, atau di desa Turgo (dekat Pelawangan), Yogyakarta. Belum diketahui yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya.[2]

Syekh Maulana Akbar

Syekh Maulana Akbar adalah adalah seorang tokoh di abad 14-15 yang dianggap merupakan pelopor penyebaran Islam di tanah Jawa. Nama lainnya ialah Syekh Jamaluddin Akbar dari Gujarat, dan ia kemungkinan besar adalah juga tokoh yang dipanggil dengan nama Syekh Jumadil Kubro, sebagaimana tersebut di atas. Hal ini adalah menurut penelitian Martin van Bruinessen (1994), yang menyatakan bahwa nama Jumadil Kubro (atau Jumadil Qubro) sesungguhnya adalah hasil perubahan hyper-correct atas nama Jamaluddin Akbar oleh masyarakat Jawa.[3]

Silsilah Syekh Maulana Akbar (Jamaluddin Akbar) dari Nabi Muhammad SAW umumnya dinyatakan sebagai berikut: Sayyidina Husain, Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far ash-Shadiq, Ali al-Uraidhi, Muhammad al-Naqib, Isa ar-Rummi, Ahmad al-Muhajir, Ubaidullah, Alwi Awwal, Muhammad Sahibus Saumiah, Alwi ats-Tsani, Ali Khali’ Qasam, Muhammad Shahib Mirbath, Alwi Ammi al-Faqih, Abdul Malik (Ahmad Khan), Abdullah (al-Azhamat) Khan, Ahmad Jalal Syah, dan Jamaluddin Akbar al-Husaini (Maulana Akbar).

Menurut cerita rakyat, sebagian besar Walisongo memiliki hubungan atau berasal dari keturunan Syekh Maulana Akbar ini. Tiga putranya yang disebutkan meneruskan dakwah di Asia Tenggara; adalah Ibrahim Akbar (atau Ibrahim as-Samarkandi) ayah Sunan Ampel yang berdakwah di Champa dan Gresik, Ali Nuralam Akbar kakek Sunan Gunung Jati yang berdakwah di Pasai, dan Zainal Alam Barakat.

Penulis asal Bandung Muhammad Al Baqir dalam Tarjamah Risalatul Muawanah (Thariqah Menuju Kebahagiaan) memasukkan beragam catatan kaki dari riwayat-riwayat lama tentang kedatangan para mubaligh Arab ke Asia Tenggara. Ia berkesimpulan bahwa cerita rakyat tentang Syekh Maulana Akbar yang sempat mengunjungi Nusantara dan wafat di Wajo, Makasar (dinamakan masyarakat setempat makam Kramat Mekkah), belum dapat dikonfirmasikan dengan sumber sejarah lain. Selain itu juga terdapat riwayat turun-temurun tarekat Sufi di Jawa Barat, yang menyebutkan bahwa Syekh Maulana Akbar wafat dan dimakamkan di Cirebon, meskipun juga belum dapat diperkuat sumber sejarah lainnya.

Syekh Quro

Syekh Quro adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu pesantren Quro di Tanjungpura, Karawang pada tahun 1428.[4]

Nama aslinya Syekh Quro ialah Hasanuddin. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama} asal Mekkah, yang berdakwah di daerah Karawang. Ia diperkirakan datang dari Champa atau kini Vietnam selatan. Sebagian cerita menyatakan bahwa ia turut dalam pelayaran armada Cheng Ho, saat armada tersebut tiba di daerah Tanjung Pura, Karawang.

Syekh Quro sebagai guru dari Nyai Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa penguasa Cirebon. Nyai Subang Larang yang cantik dan halus budinya, kemudian dinikahi oleh Raden Manahrasa dari wangsa Siliwangi, yang setelah menjadi raja Kerajaan Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja. Dari pernikahan tersebut, lahirlah Pangeran Kian Santang yang selanjutnya menjadi penyebar agama Islam di Jawa Barat.

Makam Syekh Quro terdapat di desa Pulo Kalapa, Lemahabang, Karawang.

Syekh Datuk Kahfi

Syekh Datuk Kahfi adalah muballigh asal Baghdad memilih markas di pelabuhan Muara Jati, yaitu kota Cirebon sekarang. Ia bernama asli Idhafi Mahdi.

Majelis pengajiannya menjadi terkenal karena didatangi oleh Nyai Rara Santang dan Kian Santang (Pangeran Cakrabuwana), yang merupakan putra-putri Nyai Subang Larang dari pernikahannya dengan raja Pajajaran dari wangsa Siliwangi. Di tempat pengajian inilah tampaknya Nyai Rara Santang bertemu atau dipertemukan dengan Syarif Abdullah, cucu Syekh Maulana Akbar Gujarat. Setelah mereka menikah, lahirlah Raden Syarif Hidayatullah kemudian hari dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Makam Syekh Datuk Kahfi ada di Gunung Jati, satu komplek dengan makam Sunan Gunung Jati.

Syekh Khaliqul Idrus

Syekh Khaliqul Idrus adalah seorang muballigh Parsi yang berdakwah di Jepara. Menurut suatu penelitian, ia diperkirakan adalah Syekh Abdul Khaliq, dengan laqob Al-Idrus, anak dari Syekh Muhammad Al-Alsiy yang wafat di Isfahan, Parsi.

Syekh Khaliqul Idrus di Jepara menikahi salah seorang cucu Syekh Maulana Akbar yang kemudian melahirkan Raden Muhammad Yunus. Raden Muhammad Yunus kemudian menikahi salah seorang putri Majapahit hingga mendapat gelar Wong Agung Jepara. Pernikahan Raden Muhammad Yunus dengan putri Majapahit di Jepara ini kemudian melahirkan Raden Abdul Qadir yang menjadi menantu Raden Patah, bergelar Adipati Bin Yunus atau Pati Unus. Setelah gugur di Malaka 1521, Pati Unus dipanggil dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. [5]

Teori Keturunan Hadramaut

Walaupun masih ada pendapat yang menyebut Walisongo adalah keturunan Samarkand (Asia Tengah), Champa atau tempat lainnya, namun tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur penyebaran para mubaligh daripada merupakan asal-muasal mereka yang sebagian besar adalah kaum Sayyid atau Syarif. Beberapa argumentasi yang diberikan oleh Muhammad Al Baqir, dalam bukunya Thariqah Menuju Kebahagiaan, mendukung bahwa Walisongo adalah keturunan Hadramaut.

L.W.C van den Berg, Islamolog dan ahli hukum Belanda yang mengadakan riset pada 1884-1886, dalam bukunya Le Hadhramout et les colonies arabes dans l’archipel Indien (1886)[6] mengatakan :

”Adapun hasil nyata dalam penyiaran agama Islam (ke Indonesia) adalah dari orang-orang Sayyid Syarif. Dengan perantaraan mereka agama Islam tersiar di antara raja-raja Hindu di Jawa dan lainnya. Selain dari mereka ini, walaupun ada juga suku-suku lain Hadramaut (yang bukan golongan Sayyid Syarif), tetapi mereka ini tidak meninggalkan pengaruh sebesar itu. Hal ini disebabkan mereka (kaum Sayyid Syarif) adalah keturunan dari tokoh pembawa Islam (Nabi Muhammad SAW).”

Van den Berg juga menulis dalam buku yang sama (hal 192-204) :

”Pada abad ke-15, di Jawa sudah terdapat penduduk bangsa Arab atau keturunannya, yaitu sesudah masa kerajaan Majapahit yang kuat itu. Orang-orang Arab bercampul-gaul dengan penduduk, dan sebagian mereka mempuyai jabatan-jabatan tinggi. Mereka terikat dengan pergaulan dan kekeluargaan tingkat atasan. Rupanya pembesar-pembesar Hindu di kepulauan Hindia telah terpengaruh oleh sifat-sifat keahlian Arab, oleh karena sebagian besar mereka berketurunan pendiri Islam (Nabi Muhammad SAW). Orang-orang Arab Hadramawt (Hadramaut) membawa kepada orang-orang Hindu pikiran baru yang diteruskan oleh peranakan-peranakan Arab, mengikuti jejak nenek moyangnya.”

Pernyataan van den Berg spesifik menyebut abad ke-15, yang merupakan abad spesifik kedatangan atau kelahiran sebagian besar Walisongo di pulau Jawa. Abad ke-15 ini jauh lebih awal dari abad ke-18 yang merupakan saat kedatangan gelombang berikutnya, yaitu kaum Hadramaut yang bermarga Assegaf, Al Habsyi, Al Hadad, Alaydrus, Alatas, Al Jufri, Syihab, Syahab dan banyak marga Hadramaut lainnya.

* Hingga saat ini umat Islam di Hadramaut sebagian besar bermadzhab Syafi’i, sama seperti mayoritas di Srilangka, pesisir India Barat (Gujarat dan Malabar), Malaysia dan Indonesia. Bandingkan dengan umat Islam di Uzbekistan dan seluruh Asia Tengah, Pakistan dan India pedalaman (non-pesisir) yang sebagian besar bermadzhab Hanafi.
* Kesamaan dalam pengamalan madzhab Syafi’i bercorak tasawuf dan mengutamakan Ahlul Bait ; seperti mengadakan Maulid, membaca Diba & Barzanji, beragam Shalawat Nabi, doa Nur Nubuwwah dan banyak amalan lainnya hanya terdapat di Hadramaut, Mesir, Gujarat, Malabar, Srilangka, Sulu & Mindanao, Malaysia dan Indonesia. Kitab fiqh Syafi’i Fathul Muin yang populer di Indonesia dikarang oleh Zainuddin Al Malabary dari Malabar, isinya memasukkan pendapat-pendapat baik kaum Fuqaha maupun kaum Sufi. Hal tersebut mengindikasikan kesamaan sumber yaitu Hadramaut, karena Hadramaut adalah sumber pertama dalam sejarah Islam yang menggabungkan fiqh Syafi’i dengan pengamalan tasawuf dan pengutamaan Ahlul Bait.
* Di abad ke-15, raja-raja Jawa yang berkerabat dengan Walisongo seperti Raden Patah dan Pati Unus sama-sama menggunakan gelar Alam Akbar. Gelar tersebut juga merupakan gelar yang sering dikenakan oleh keluarga besar Jamaluddin Akbar di Gujarat pada abad ke-14, yaitu cucu keluarga besar Azhamat Khan (atau Abdullah Khan) bin Abdul Malik bin Alwi, seorang anak dari Muhammad Shahib Mirbath ulama besar Hadramaut abad ke-13. Keluarga besar ini terkenal sebagai mubaligh musafir yang berdakwah jauh hingga pelosok Asia Tenggara, dan mempunyai putra-putra dan cucu-cucu yang banyak menggunakan nama Akbar, seperti Zainal Akbar, Ibrahim Akbar, Ali Akbar, Nuralam Akbar dan banyak lainnya.

Teori Keturunan Cina

Sejarawan Slamet Muljana mengundang kontroversi dalam buku Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa (1968), dengan menyatakan bahwa Walisongo adalah keturunan Tionghoa Indonesia.[rujukan?] Pendapat tersebut mengundang reaksi keras masyarakat yang berpendapat bahwa Walisongo adalah keturunan Arab-Indonesia. Pemerintah Orde Baru sempat melarang terbitnya buku tersebut.[rujukan?]

Referensi-referensi yang menyatakan dugaan bahwa Walisongo berasal dari atau keturunan Tionghoa sampai saat ini masih merupakan hal yang kontroversial. Referensi yang dimaksud hanya dapat diuji melalui sumber akademik yang berasal dari Slamet Muljana, yang merujuk kepada tulisan Mangaraja Onggang Parlindungan, yang kemudian merujuk kepada seseorang yang bernama Resident Poortman. Namun, Resident Poortman hingga sekarang belum bisa diketahui identitasnya serta kredibilitasnya sebagai sejarawan, misalnya bila dibandingkan dengan Snouck Hurgronje dan L.W.C. van den Berg. Sejarawan Belanda masa kini yang banyak mengkaji sejarah Islam di Indonesia yaitu Martin van Bruinessen, bahkan tak pernah sekalipun menyebut nama Poortman dalam buku-bukunya yang diakui sangat detail dan banyak dijadikan referensi.

Salah satu ulasan atas tulisan H.J. de Graaf, Th.G.Th. Pigeaud, M.C. Ricklefs berjudul Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th Centuries adalah yang ditulis oleh Russell Jones. Di sana, ia meragukan pula tentang keberadaan seorang Poortman. Bila orang itu ada dan bukan bernama lain, seharusnya dapat dengan mudah dibuktikan mengingat ceritanya yang cukup lengkap dalam tulisan Parlindungan [7].

Sumber tertulis tentang Walisongo

1. Terdapat beberapa sumber tertulis masyarakat Jawa tentang Walisongo, antara lain Serat Walisanga karya Ranggawarsita pada abad ke-19, Kitab Walisongo karya Sunan Dalem (Sunan Giri II) yang merupakan anak dari Sunan Giri, dan juga diceritakan cukup banyak dalam Babad Tanah Jawi.
2. Mantan Mufti Johor Sayyid `Alwî b. Tâhir b. `Abdallâh al-Haddâd (meninggal tahun 1962) juga meninggalkan tulisan yang berjudul Sejarah perkembangan Islam di Timur Jauh (Jakarta: Al-Maktab ad-Daimi, 1957). Ia menukil keterangan diantaranya dari Haji `Ali bin Khairuddin, dalam karyanya Ketrangan kedatangan bungsu (sic!) Arab ke tanah Jawi sangking Hadramaut.
3. Dalam penulisan sejarah para keturunan Bani Alawi seperti al-Jawahir al-Saniyyah oleh Sayyid Ali bin Abu Bakar Sakran, ‘Umdat al-Talib oleh al-Dawudi, dan Syams al-Zahirah oleh Sayyid Abdul Rahman Al-Masyhur; juga terdapat pembahasan mengenai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Bonang dan Sunan Gresik.

Diambil dari Blogsport Sohiblagi

Syekh Quro atau Syekh Qurotul Ain Pulobata adalah pendiri pesantren pertama di Jawa Barat, yaitu Pesantren Quro di Tanjung Pura, Karawang pada tahun 1428.

Nama asli Syekh Quro ialah Syekh Hasanuddin atau ada pula yang menyebutnya Syekh Mursahadatillah. Beberapa babad menyebutkan bahwa ia adalah muballigh (penyebar agama) penganut madzhab Hanafi yang berasal dari Makkah, yang berdakwah di daerah Karawang dan diperkirakan datang ke Pulau Jawa melalui Champa atau kini Vietnam selatan.

Dalam menyampaikan ajaran Islam, Syekh Quro melakukannya melalui pendekatan yang disebut Dakwah Bil Hikmah, sebagaimana firman ALLAH dalam Al-Qur’an Surat XVI An Nahl ayat 125, yang artinya : “Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah (kebijaksanaan) dan dengan pelajaran yang baik, dan bertukar pikiranlah dengan mereka dengan cara yang terbaik”.

Sebagian cerita menyatakan bahwa pada Tahun 1409, Kaisar Cheng Tu dari Dinasti Ming memerintahkan Laksamana Haji Sampo Bo untuk memimpin Armada Angkatan Lautnya dan mengerahkan 63 buah Kapal dengan prajurit yang berjumlah hampir 25.000 orang untuk menjalin persahabatan dengan kesultanan yang beragama Islam.

Dalam Armada Angkatan Laut Tiongkok itu rupanya diikutsertakan Syekh Hasanuddin dari Campa untuk mengajar Agama Islam di Kesultanan Malaka, Sebab  Syekh Hasanuddin adalah putra seorang ulama besar Perguruan Islam di Campa yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih ada garis keturunan dengan Syekh Jamaluddin serta Syekh Jalaluddin, ulama besar Makkah.

Bahkan menurut sumber lain, garis keturunannya sampai kepada Sayyidina Husein bin Sayyidina Ali  KRW, menantu Rasulullah SAW.

Adapun pasukan angkatan laut Tiongkok pimpinan Laksamana Sam Po Bo lainnya ditugaskan mengadakan hubungan persahabatan dengan Ki Gedeng Tapa, Syahbandar Muara Jati Cirebon dan sebagai wujud kerjasama itu maka kemudian dibangunlah sebuah menara di pantai pelabuhan Muara Jati.

Dikisahkan pula bahwa setelah Syekh Hasanuddin menunaikan tugasnya di Malaka, selanjutnya beliau mengadakan kunjungan ke daerah Martasinga, Pasambangan, dan Jayapura melalui pelabuhan Muara Jati. Kedatangan ulama besar tersebut disambut baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati putra bungsu Prabu Wastu Kancana, Syahbandar di Cerbon Larang (yang menggantikan Ki Gedeng Sindangkasih yang telah wafat). Ketika kunjungan berlangsung, masyarakat di setiap daerah yang dikunjungi merasa tertarik dengan ajaran Islam yang dibawa Syekh Quro, sehingga akhirnya banyak warga yang memeluk Islam.

Kegiatan penyebaran Agama Islam oleh Syekh Hasanuddin rupanya sangat mencemaskan penguasa Pajajaran waktu itu, yaitu Prabu Wastu Kencana atau Prabu Angga Larang yang menganut ajaran Hindu. Sehingga beliau diminta agar penyebaran agama tersebut dihentikan.

Oleh Syekh Hasanuddin perintah itu dipatuhi. Kepada utusan yang datang kepadanya ia mengingatkan, bahwa meskipun dakwah itu dilarang, namun kelak dari keturunan Prabu Angga Larang akan ada yang menjadi seorang Waliyullah. Beberapa saat kemudian Syekh Hasanuddin mohon diri kepada Ki Gedeng Tapa.

Sebagai sahabat, Ki Gedeng Tapa sendiri sangat prihatin atas peristiwa yang menimpa ulama besar itu, Sebab ia pun sebenarnya masih ingin menambah pengetahuannya tentang Agama Islam. Oleh karena itu, sewaktu Syekh Hasanuddin kembali ke Malaka, putrinya yang bernama Nyai Subang Karancang atau Nyai Subang Larang dititipkan ikut bersama ulama besar ini untuk belajar Agama Islam di Malaka.

Beberapa waktu lamanya berada di Malaka, kemudian Syekh Hasanuddin membulatkan tekadnya untuk kembali ke wilayah Kerajaan Hindu Pajajaran. Dan untuk keperluan tersebut, maka telah disiapkan 2 perahu dagang yang memuat rombongan para santrinya termasuk Nyai Subang Larang.

Sekitar tahun 1418 Masehi, setelah rombongan ini memasuki Laut Jawa, kemudian memasuki Muara Kali Citarum yang pada waktu itu ramai dilayari oleh perahu para pedagang yang memasuki wilayah Pajajaran. Selesai menyusuri Kali Citarum ini akhirnya rombongan perahu singgah di Pura Dalam atau Pelabuhan Karawang. Kedatangan rombongan ulama besar ini disambut baik oleh petugas Pelabuhan Karawang dan diizinkan untuk mendirikan musholla yang digunakan juga untuk belajar mengaji dan tempat tinggal.

Setelah beberapa waktu berada di pelabuhan Karawang, Syekh Hasanuddin menyampaikan dakwahnya di musholla yang dibangunnya dengan penuh keramahan. Uraiannya tentang agama Islam mudah dipahami, dan mudah pula untuk diamalkan, karena ia bersama santrinya langsung memberi contoh. Pengajian Al-Qur’an memberikan daya tarik tersendiri, karena ulama besar ini memang seorang Qori yang merdu suaranya. Oleh karena itu setiap hari banyak penduduk setempat yang secara sukarela menyatakan masuk Islam.

Berita tentang dakwah Syeh Hasanuddin (yang kemudian lebih dikenal dengan nama Syekh Quro) di pelabuhan Karawang rupanya telah terdengar kembali oleh Prabu Angga Larang, yang dahulu pernah melarang Syekh Quro melakukan kegiatan yang sama tatkala mengunjungi pelabuhan Muara Jati Cirebon. Sehingga ia segera mengirim utusan yang dipimpin oleh sang putra mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa untuk menutup Pesantren Syekh Quro.

Namun tatkala putra mahkota ini tiba di tempat tujuan, rupanya hatinya tertambat oleh alunan suara merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan oleh Nyai Subang Larang. Putra Mahkota (yang setelah dilantik menjadi Raja Pajajaran bergelar Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi) itu pun mengurungkan niatnya untuk menutup Pesantren Quro, dan tanpa ragu-ragu menyatakan isi hatinya untuk memperistri Nyi Subang Larang yang cantik itu dan halus budinya.

Lamaran tersebut rupanya diterima oleh Nyai Subang Larang dengan syarat mas kawinnya haruslah berupa “Bintang Saketi”, yaitu simbol dari “tasbih” yang berada di Negeri Makkah.

Sumber lain menyatakan bahwa hal itu merupakan kiasan bahwa sang Prabu haruslah masuk Islam, dan patuh dalam melaksanakan syariat Islam. Selain itu, Nyai Subang Larang juga mengajukan syarat, agar anak-anak yang akan dilahirkan kelak haruslah ada yang menjadi Raja. Semua hal tesebut rupanya disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, sehingga beberapa waktu kemudian pernikahan pun dilaksanakan, bertempat di Pesantren Quro (atau Mesjid Agung sekarang) dimana Syekh Quro sendiri bertindak sebagai penghulunya.

Pernikahan di musholla yang senantiasa menganggungkan asma ALLAH SWT itu memang telah membawa hikmah yang besar, dan Syekh Quro memegang peranan penting dalam masuknya pengaruh ajaran Islam ke keluarga Sang Prabu Siliwangi. Sebab para putra-putri yang dikandung oleh Nyai Subang Larang yang muslimah itu, memancarkan sinar IMAN dan ISLAM bagi umat di sekitarnya. Nyai Subang Larang sebagai isteri seorang raja memang harus berada di Istana Pakuan Pajajaran, dengan tetap memancarkan Cahaya Islamnya.

Putra pertama yang laki-laki bernama Raden Walangsungsang setelah melewati usia remaja, maka bersama adiknya yang bernama Raden Rara Santang, meninggalkan Istana Pakuan Pajajaran kemudian mendapat bimbingan dari ulama besar yang bernama Syekh Dzatul Kahfi di Paguron Islam di Cirebon. Setelah kakak beradik ini menunaikan ibadah Haji, maka Raden Walangsungsang menjadi Pangeran Cakrabuana memimpin pemerintahan Nagari Caruban Larang, Cirebon.

Sedangkan Raden Rara Santang sewaktu di Makkah diperistri oleh Sultan Mesir yang bernama Syarif Abdullah. Adik Raden Walangsungsang yang bungsu adalah laki-laki bernama Raden Sangara atau Pangeran Kian Santang, pada masa dewasanya menjadi Muballigh untuk menyebarkan agama Islam di daerah Garut.

Adapun kegiatan Pesantren Quro yang lokasinya tidak jauh dari pelabuhan Karawang, rupanya kurang berkembangnya karena tidak mendapat dukungan dari pemerintah kerajaan Pajajaran. Hal tersebut rupanya dimaklumi oleh Syekh Quro, sehingga pengajian di pesantren agak dikurangi, dan kegiatan di masjid lebih dititik beratkan pada ibadah seperti shalat berjamaah.

Kemudian para santri yang telah berpengalaman disebarkan ke pelosok pedesaan untuk mengajarkan agama Islam, terutama di daerah Karawang bagian selatan seperti Pangkalan. Demikian juga ke pedesaan di bagian utara Karawang yang berpusat di Desa Pulo Kalapa dan sekitarnya.

Dalam semaraknya penyebaran agama Islam oleh Wali Songo, maka masjid yang dibangun oleh Syekh Quro, kemudian disempurnakan oleh para ulama dan Umat Islam yang modelnya berbentuk “joglo” beratap 2 limasan, hampir menyerupai Masjid Agung Demak dan Cirebon.

Pengabdian Syekh Quro dengan para santri dan para ulama generasi penerusnya adalah “menyalakan pelita Islam”, sehingga sinarnya memancar terus di Karawang dan sekitarnya.

Makam Syekh Quro terdapat di Dusun Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Lokasi makam penyebar agama Islam tertua, yang konon lebih dulu dibandingkan Walisongo tersebut, berada sekitar 30 kilometer ke wilayah timur laut dari pusat kota Lumbung Padi di Jawa Barat itu.

Dalam sebuah dokumen surat masuk ke kantor Desa Pulokalapa tertanggal 5 November 1992, ditemukan surat keterangan bernomor P-062/KB/PMPJA/ XII/11/1992 yang dikirim Keluarga Besar Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII. Surat tersebut ditujukan kepada kepala desa, berisi mempertegas keberadaan makam Syekh Quro yang terdapat di wilayah Dusun Pulobata Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemah Abang bukan sekedar petilasan Syekh Quro tetapi merupakan tempat pemakaman Syekh Quro.

Selain itu, di Dusun Pulobata juga terdapat satu makam yang diyakini warga Karawang sebagai makam Syekh Bentong atau Syekh Darugem, yang merupakan salah seorang santri utama Syekh Quro. Wallohu a’lam *** (Dirangkum oleh Pa’e Daffa dari berbagai sumber. Ref. Bayt Al-Hikmah Institute). 


Sekelumit Tentang Fatimah Putri Nabi

Desember 7, 2011

”Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku.” (Al Hadis).

Kata ‘Fatimah’ berasal dari suku kata ‘Fathama’ yang berarti menyapih atau menghentikan atau menjauhkan. Sebuah riwayat menyebutkan, dinamakan ‘Fatimah’ karena Allah ingin menjauhkan putri bungsu Rasulallah saw dari neraka. Dari cintanya Rasulallah kepada Fatimah, belilau selalu menyebut-nyebut fatimah sebagai contoh dan perumpamaan. Misalnya “ jika anakku Fatimah mencuri, aku akan potong tangannya”. Hadits ini menggambarkan bagaimana Rasulallah saw tidak pilihkasih dalam menegakkan hukum agama, sampai sampai ia bersedia memotong tangan anaknya yang paling dicintainya, Fatimah, jika ia mencuri demi untuk menegakkan keadilan.

Fatimah juga disebut al-Battul yang berarti memisahkan, karena kenyataannya ia memang terpisah atau berbeda dari wanita-wanita lainnya, baik dari segi keutamaan, agama dan kecantikannya. Ada lagi yang mengatakan, karena ia memisahkan diri dari keduniaan untuk mendekat kepada Allah. Di kalangan suku Quraisy, Fatimah dikenal fasih dan pintar.

Fatimah dilahirkan di Makkah tahun 18 sebelum Hijrah Nabi SAW. Dia adalah putri bungsu Rasulallah saw setelah Zainab, Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Saudara laki-lakinya yang tertua Qasim dan Abdullah, meninggal dunia pada usia muda. Fatimah sangat terkenal di dunia Islam, karena ia hidup paling dekat dan paling lama bersama Rasulallah saw. Dari dialah keturunan Rasulallah saw (ahlul Bait) berkembang yang tersebar di hampir semua negri Islam.

Fatimah dinikahkan dengan Ali bin bi Thalib setahun setelah hijrah. Pada waktu itu Tidak sedikit dari orang-orang Quraisy yang ingin menikahinya. Ya maklum, selain cantik rupawan, ia adalah perempuan terhormat, anak Rasulullah saw. Dia pernah dilamar oleh Sayyidina Abu Bakar dan Umar, sahabat terdeket Rasulallah saw, namun ditolak secara halus oleh beliau.

Fatimah sangat sederhana dalam berumah tangga dengan imam Ali ra, bahkan sering kekurangan. Beberapa kali ia harus menggadaikan barang-barang keperluan rumah tangga untuk membeli makanan, sampai-sampai kerudungnya pernah digadaikan kepada seorang Yahudi Madinah. Namun demikian, mereka tetap bahagia sebagai suami istri sampai akhir hayat.

Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah saw. Putri yang sangat dicintai Nabi saw. Suatu waktu Rasulallah saw pernah mengatakan kepada imam Ali ra, ”Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira, maka ia telah membahagiakanku.” Ini dikatakan oleh Rasulullah saw sehubungan dengan keinginan seorang tokoh Quraisy untuk menikahkan anak perempuannya kepada imam Ali ra. Imam Ali tidak menolak tetapi segera dicegah oleh Rasulullah saw.

Pernah Rasulallah saw marah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah ra akan dimadu Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketika mendengar rencana itu, Rasulallah saw pun langsung masuk ke masjid dan naik ke atas mimbar, lalu berseru, “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi aku tidak akan mengizinkan. Sungguh aku tidak izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, dan aku persilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku, apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” Begitulah kurang lebih bunyi hadist Rasulallah saw.

Sekarang, kalau Rasulallah saw melarang imam Ali bin Abi Thalib ra untuk memadu putri beliau, Fatimah ra. Maka saya yakin hampir setiap orangtua di dunia tidak akan rela jika putrinya dimadu. Karena, seperti dikatakan Rasulallah saw, perbuatan itu akan menyakiti hati perempuan, dan juga menyakiti hati orangtuanya.

Hadist di atas juga merupakan bukti kuat akan kecintaan Rasulullah saw kepada putri bungsunya. Memang benar Rasulallah saw sangat sayang kepada Fatimah. Sampai sampai waktu sakit keras menjelang wafatnya, beliau tidak henti hentinya menagis karena berat meninggalkan anaknya yang dicintainya.

Fatimah meninggal enam bulan setelah wafatnya Rasulallah saw dalam usia 28 tahun. Merasa ajal sudah dekat, dia membersihkan dirinya, memakai pakaian yang terbaik, memakai wewangian dibantu oleh iparnya, Asma bin Abi Thalib. Sebelum meninggal ia sempat berwasiat.  Anda tahu apa wasiatnya?. “Hanya Ali, suamiku, yang boleh menyentuh tubuhku”. ***  Wallohu a’lam (Ref. Kado dari Kota Nabi).


Bubur Suro : Membaca Kembali Sejarah Islam

Desember 5, 2011

Bagi sebagian masyarakat Islam di Nusantara bulan Muharram adalah bulan istimewa. Sebagai bulan pertama tahun hijriyah, Muharram menjadi ruang muhasabah (intropeksi diri) akan amal masa lalu guna menjadi pedoman langkah masa depan. Muharram menjadi serambi sebuah rumah yang berisikan sebelas bulan lainnya.

Oleh karena itu Muharram dipercaya memantulkan nuansa peribadatan seseorang dalam satu tahun ke depan. Seperti halnya serambi yang bagus biasanya dimiliki sebuah rumah yang mewah. Begitu pula bulan Muharram, amal yang shalih di bulan ini mencitrakan sebelas bulan lainnya. Dengan demikian Muharram mempunyai kedudukan yang istimewa dibandingkan bulan lainnya. Wajar saja jika umat muslim berbondong-bondong melakukan kebaikan dan sedekah pada bulan ini.

Secara historis, bulan Muharram juga memiliki keistimewaan. Pada bulan inilah Nabi Muhammad saw. memutuskan berpindah dari Makkah menuju Madinah demi kesuksesan dakwah Islam. Bulan ini merupakan waktu yang berharga yang di dalamnya Rasulullah saw menemukan kunci keberhasilan dakwah Islam yaitu hijrah.

Hijrah yang berarti ‘pindah’ tidak semata-mata mencari ruang yang sesuai untuk berdakwah, ruang yang lebih minim bahaya, ruang yang lebih kondusif. Tidak. Karena Rasulullah saw sendiri tidak pernah takut dengan berbagai ancaman kafir Makkah. Namun hijrah memiliki makna lain yaitu berpindah, merubah dan me-upgrade- semangat pada tataran yang lebih tinggi. Secara psikologis, suasana yang baru, kawan baru, tantangan baru akan menjadikan semangat diri dan jiwa seseorang lebih dinamis.

Mengenai semangat hijrah ini Rasulullah saw sendiri dalam sebuah haditsnya pernah bersabda :

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كان هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَن كان هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya : Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah ε bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan (amal) tergantun niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

Dalam asbabul wurud diceritakan ada seorang sahabat yang melaksanakan hijrah dari Makkah ke Madinah dengan niatan mengawini seorang perempuan bernama Ummu Qais. Karena niatnya itulah maka ia tidak mendapatkan keutamaan hijrah. Bahkan proses hijrah sahabat tersebut dijuluki dengan Hijratu Ummu Qais. Ini menunjukkan bahwa niat seseorang sangatlah penting. Niat bukanlah sekedar motivasi belaka, karena di dalam niat itu Allah titipkan sebuah pahala yang secara otomatis akan me-cover segala yang kita lakukan dalam sisi-Nya. Inilah yang membedakan bulan Muharram dengan lainnya. Muharram menjadi berbeda karena di dalamnya ada kejadian yang sangat berharga bagi Agama Islam yaitu Hijrah Rasulullah saw.

Selain itu Muharram menjadi berbeda karena hari ke-sepuluh dalam bulan ini dipadati dengan nilai yang sarat dengan sejarah, yang lebih dikenal dengan hari ‘asyura’ atau hari kesepuluh pada bulan Muharram.

Karena pada hari ‘asyura’ itulah (seperti yang termaktub dalam I’anatut Thalibin) Allah untuk pertama kali menciptakan dunia, dan pada hari yang sama pula Allah akan mengakhiri kehidupan di dunia (qiyamat). Pada hari ‘asyura’ pula Allah mencipta Lauh Mahfudh dan Qalam, menurunkan hujan untuk pertama kalinya, menurunkan rahmat di atas bumi. Dan pada hari ‘asyura’ itu Allah mengangkat Nabi Isa as. ke atas langit. Dan pada hari ‘asyura’ itulah Nabi Nuh as. turun dari kapal setelah berlayar karena banjir bandang. Sesampainya di daratan Nabi Nuh as. bertanya kepada umatnya ; “masihkah ada bekal pelayaran yang tersisa untuk dimakan?”, kemudian mereka menjawab ; “masih ya Nabi”. Kemudian Nabi Nuh memerintahkan untuk mengaduk sisa-sisa makanan itu menjadi adonan bubur, dan disedekahkan ke semua orang.

Karena itulah kita mengenal bubur suro. Yaitu bubur yang dibikin untuk menghormati hari ‘asyuro’ yang diterjemahkan dalam bahasa kita menjadi bubur untuk selametan.

Bubur suro merupakan pengejawantahan rasa syukur manusia atas keselamatan yang selama ini diberikan oleh Allah swt. Namun dibalik itu bubur suro (jawa) selain simbol dari keselamatan juga pengabadian atas kemenangan Nabi Musa as, dan hancurnya bala Fir’aun yang terjadi pada hari ’asyuro juga.

Oleh karena itu barang siapa berpuasa dihari ‘asyura’ seperti berpuasa selama satu tahun penuh, karena puasa di hari ‘asyura’ seperti puasanya para Nabi. Intinya hari ‘syura’ adalah hari istimewa. Banyak keistimewaan yang diberikan oleh Allah pada hari ini diantaranya adalah pelipat gandaan pahala bagi yang melaksanakan ibadah pada hari itu. Hari ini adalah hari kasih sayang, dianjurkan oleh semua muslim untuk melaksanakan kebaikan, menambah pundi-pundi pahala dengan bersilaturrahim, beribadah, dan banyak sedekah terutama bersedekah kepada anak yatim-piatu.

Bagi kelompok syi’ah hari kesepuluh bulan Muharram sangatlah penting. Karena pada hari inilah tepatnya tahun 61 H Sayyidina Husain bin Ali bin Abi Thalib sang Cucu Rasulullah saw terbunuh oleh Yazid bin Muawiyah. Pembunuhan ini lebih tepat bila disebut dengan pembantaian karena tidak seimbangnya dua kekuatan yang saling berhadap-hadapan. Pembantaian ini terjadi di padang Karbala ketika dalam perjalanan menuju Irak.

Tentunya berbagai kejadian sejarah tersebut mulai dari sejarah transcendental yang berhubungan langsung proses penciptaan hujan oleh Allah swt hingga hijrah Rasulullah saw dan terbunuhnya Husain cucu Rasulullah saw. tidak boleh terhapus dari memori kolektif maupun individu generasi Muslim. Kejadian-kejadian dalam sejarah ini harus selalu dipupuk dengan subur sebagai salah satu media pendidikan kepahlawanan dalam Islam.

Berbagai metode perawatan sejarah ini terejawantahkan dalam berbagai tradisi kolaitas. Di Jawa misalnya kita mengenal bubur abang dan bubur putih yang dibagikan dan disajikan pada hari ‘asyura tidak lain untuk merawat ingatan sejarah tersebut secara perlambang.

Bubur putih bermakna rasa syukur akan panjangnya umur hingga mendapatkan tahun baru kembali, semoga kehidupan tambah makmur. Seperti rasa syukunya Nabi Nuh setelah berlayar dari banjir bandang, seperti syukurnya Nabi Musa setelah mengalahkan Fir’aun. Disamping itu Bubur Putih merupakan lambing kebenaran dan kesucian hati yang selalu menang dalam catatan sejarah yang panjang. Meskipun kemenangan itu tidak selamanya identik dengan kekuasaan, seperti Sayyidina Husain sebagai kelompok putihan yang ditumpas oleh Yazid bin Muaswiyyah sang penguasa laknat.

Sedangkan Bubur Abang (bubur merah) adalah pembanding yang selalu hadir dalam kehidupan di dunia berpasang-pasangan. Ada indah ada buruk, ada kebaikan ada kejahatan. Semoga semua hal-hal buruk itu senantiasa dijauhkan oleh Allah dari kita.

Jadi bubur suro ini yang berwarna merah dan putih merupakan representasi dari rasa syukur yang mendalam. Atas segala karunia Allah swt. Dan yang lebih penting dari itu semua, Bubur Suro merupakan wahana untuk merawat ingatan akan adanya sejarah besar dalam Islam. *** Wallohu a’lam (Ref. NU-Online).


ISLAM NUSANTARA DAN BERBAGAI ALIRAN DI INDONESIA (3) : Masa Kekhalifahan Usman Ibn Affan

April 1, 2011

Sepeniggal khalifah Umar, sebenarnya peluang Ali ibn Abi Thalib menjadi khalifah cukup besar sebab hampir semua syarat ideal sebagai seorang khalifah terdapat pada dirinya. Dia adalah salah seorang yang dijamin masuk surga (ahad al-mubasy-syarina bi-aljannah), orang yang pertama masuk Islam dari kelompok anak-anak (awwalu man aslama min al-sibyan), menantu dan sepupu Nabi Muhammad SAW, keluarga terhormat dan ilmunya sangat luar biasa. Ali juga seorang sahabat yang tidak pernah absen dalam peprangan, bahkan ia adalah penjebol benteng Yahudi pada perang Khaibar.

Tetapi, sebelum wafat khalifah Umar berwasiat, “Seandainya Abu Ubaidillah bin al-Jarrah masih hidup, jabatan khalifah akan saya serahkan kepadanya. Karena dia sudah meninggal saya tidak bisa menunjuk seseorang. Masalah ini akan saya serahkan kepada enam tokoh sebagai tim formatur. Anak saya Abdullah ibn Umar masuk dalam tim, namun tidak boleh dipilih. Dari bani Adiy cukup saya saja yang menjadi khalifah. Enam orang tersebut adalah Ali ibn Abi Thalib, Usman ibn Affan, Abdurrahman ibn Auf, Sa’ad ibn Abi Waqaz, Zubair ibn Awwam dan Thalhah ibn Ubaidillah. Selama empat hari sudah harus ada keputusan mengenai pengganti khalifah. Kalau belum, maka ketua tim segera mengambil kebijaksanaan. Siapa yang tidak menyetujui apa yang sudah disepakati bunuhlah dia.

Musyawarah pun berjalan alot. Faktor kabilah menjadi penting. Zubair tidak bisa maju, karena Ali yang sama-sama dari bani Hasyim. Sa’ad ibn Abi Waqqas peluangnya tipis, karena berasal dari Bani Zahrah, suatu kabilah yang tidak punya wibawa dan prestis dibanding lainnya. Thalhah sama dengan Umar dari Bani Adiy, sehingga tidak mungkin maju. Nominator terkuat berarti Abdurrahman ibn Auf al-Zuhriy, Usman (Bani Umayyah) dan Ali (bani Hasyim). Abdurrahman tidak mungkin maju karena ada yang lebih senior, maka calon khalifah tinggal Ali dan Usman saja.  Unsur fanatisme kabilah dalam sidang formatur sangat berperan.

Pada akhirnya, kunci berada pada Abdurrahman ibn Auf yang memilih Usman. Pemilihan ini dilakukan setelah melalui lobi yang ketat dengan kedua kandidat. Saat menemui Ali dia bertanya, “Seandainya engkau tidak termasuk orang yang dicalonkan, siapa yang kamu pilih?”. Ali menjawab “Usman”. Kemudian ia langsung menemui Usman dan menanyakan, “seandainya engkau di luar enam calon, siapa yang kamu pilih sebagai khalifah?”, Usman menjawab “Ali”. Karena keduanya sama-sama kuat, akhirnya Abdurrahman ibn Auf menetapkan Usman sebagai Khalifah.

Penetapan ini (sekecil apapun) ada pertimbangan kabilahnya. Dan sekedar informasi, bahwa istri Abdurrahman ibn Auf (Ummi Kulsum) adalah saudara se-Ibu Usman bin Affan. -Bersambung- *** (Disarikan dari buku Aswaja dalam Lintas Sejarah karya KH. Said Aqil Siradj / NU-Online).


ISLAM NUSANTARA DAN BERBAGAI ALIRAN DI INDONESIA (2) : Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan Umar

Maret 31, 2011

Setelah Rasulullah saw wafat dan Abu Bakar resmi diangkat menjadi pengganti beliau mewakili suku Quraisy, maka stabilitas politik mulai terkoyak. Bila dibincangkan lebih lanjut, maka pemurtadan yang marak terjadi saat itu lebih merupakan pertimbangan politik bukan akidah semata. Inilah tugas berat Abu Bakar yang harus diselesaikan lebih dahulu.

Ibn al-Atsir (wafat tahun 630 H/1232 M) mengilustrasikan suasana politik pasca wafatnya Rasulullah SAW dan dibai’atnya Abu Bakar sebagai berikut : “Semenjak Rasulullah Saw wafat dan berita dukanya sampai ke Makkah dibawa oleh ‘Uttab ibn Usaid ibn Abi al-‘Ash ibn Umayyah, Uttab menyamar dan mengharap penduduk Makkah yang semuanya hampir murtad kembali kepada Islam. Kemudian Suhail ibn ‘Amar berdiri di depan pintu Ka’bah dan berteriak kepada mereka : Berkumpullah wahai penduduk Makkah…….! kemudian dia berpidato : “Janganlah kalian menjadi orang yang terakhir masuk Islam kemudian paling awal murtadnya. Demi Allah, pasti Allah memberi anugrah sebagaimana yang diucapkan Rasulullah SAW. Beliau bersabda : “Ucapkanlah besertaku kalimat la ilaha illa Allah, niscaya kamu akan menguasai orang Arab dan non-Arab. Mereka akan membayar pajak kepadamu”. (Al-Kamil fi al-Tarikh, Juz II, hal.324).

Dr. Hasan Ibrahim Hasan menambahkan, …..pada saat bani Tsaqif di Thaif akan menyatakan kemurtadan, Usman ibn Abi al-Ash menyarankan : wahai warga bani Tsaqif, kamu sekalian merupakan orang yang terakhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi orang yang pertama murtad. Kemenangan Arab merupakana kemenangan keluarga kita. Antara Thaif dan Makkah masih ada tali persaudaraan (qarabah) dan jalur keturunan (nasab). Setelah itu mereka semua mempertahankan ke-Islamannya. (Tarikh al-Islami al-Siyasi wa al-Dini wa al-Tsaqafi wa al-Ijtima’i, juz 1, hal. 346).

Dengan demikian, nampaklah bahwa pada saat itu situasi bangsa Arab hampir seluruhnya murtad, terkecuali penduduk Madinah yang memang memiliki keimanan yang handal. Sedangkan penduduk Makkah bertahan dalam Islam lebih karena harta rampasan perang (ghanimah) dan penduduk Thaif lebih karena pertalian kabilah.

Syukurlah, Abu Bakar cepat memulihkan stabilitas politik dan keamanan negara saat itu. Beliau memutuskan untuk menumpas dan memerangi orang-orang yang murtad, orang-orang yang menolak membayar zakat (inkar al-Zakat) dan para nabi palsu, meskipun ada sebagian sahabat yang tidak sependapat dengan langkah tersebut.

Pada sisi lain, secara politis Islam sudah mulai melebarkan sayapnya melakukan ekspansi keluar semenanjung Arab, seperti ke negara Syam (Syria) dan Persia. Setelah memerintah selama dua tahun, pada tanggal 21 Jumada al-Akhir 13 H (22 Agustus 634 M) Abu Bakar wafat. Sepeninggal beliau tampuk khalifah dipegang oleh Umar ibn Khatab.

Suksesi kepemimpinan kepada Umar ini lebih didasarkan pada pesan (wasiat) Abu Bakar kepada Umar sebagai waliy al-‘ahdi (baca: putra mahkota). Oleh karena itu wajarlah meskipun Umar ibn Khatab sukses memimpin negara, masih juga banyak suara sumbang yang datang dari orang-orang non-Islam yang berkoalisi dengan orang-orang munafiqin. Puncak kebencian mereka itulah yang menyebabkan Umar ibn Khatab terbunuh di tangan Abu Lu’lu’ah.

Abu Lu’luah adalah ahli membuat pedang dari kota Kufah. Sebenarnya, keberadaannya di kota Madinah sejak semula ditolak oleh Umar sebab seorang tawanan kalau sudah menginjak dewasa tidak diizinkan tinggal di Madinah, apalagi dia masih memeluk agama Majusi. Kemudian al-Mughirah sebagai Amir Kufah saat itu menulis surat kepada khalifah dan meyakinkan tentang pentingnya profesi Abu Lu’lu’ah bagi kepentingan umat Islam. Akhirnya Umar menyetujui permintaan al-Mughirah tersebut. Lalu datanglah Abu Lu’lu’ah ke Madinah bahkan ia digaji 100 (seratus) dirham setiap bulan. Namun, karena ia masih beragama Majusi, maka setiap bulannya dikenakan kharaj (pajak kepala).

Dalam kondisi seperti itu Bani Umayyah yang dapat dikatakan sebagai oposisi khalifah Umar (karena Umar tidak berasal dari keturunan Umayyah) menghasut Abu Lu’lu’ah untuk mengajukan dispensasi kepada khalifah agar terbebas dari kharaj sebab jasanya terhadap negara sangat banyak. Abu Lu’lu’ah bergegas mengajukan permintaan tersebut. Namun, khalifah Umar menjawab, “Ini sudah peraturan, lagi pula gajimu sudah cukup besar”.

Permohonan pembebasan kharaj seperti ini dilakukan oleh Abu Lu’lu’ah berulang kali, sehingga karena merasa jengkel dan dendam terhadap sikap Khalifah Umar, ia memberanikan diri membunuh Umar di saat menjadi Imam shalat Subuh. -Bersambung- *** (Disarikan dari buku Aswaja dalam Lintas Sejarah karya KH. Said Aqil Siradj ; NU-Online).


ISLAM NUSANTARA DAN BERBAGAI ALIRAN DI INDONESIA (1) : Babak Pertama, Mencari Pemimpin Pengganti Nabi

Maret 31, 2011

Akhir-akhir ini sering kali muncul berbagai masalah ke-Islaman yang sangat menyita perhatian masyarakat. Mulai dari Nabi palsu, permasalahan Ahmadiyah, hingga tentang faham Syi’ah. Hal ini sangat menyibukkan berbagai lembaga keagamaan. Baik lembaga yang berada di bawah naungan negara seperti MUI, Kementerian Agama, DPR komisi VIII atau lembaga Islam yang mandiri seperti NU, Muhammadiyah dan organisasi-organisasi Islam yang lain.

Tidak sedikit yang menganalisa bahwa kejadian-kejadian itu merupakan bagian dari permainan politik kekuasaan. Ada juga yang mati-matian menyebutkan bahwa fenomena ini murni bersifat ideologis. Dan ada pula yang melihat dari kaca mata ekonomi. Oleh karena itu, sebelum kita ikut-ikutan berkomentar, alangkah baiknya jika kita tahu duduk persoalannya. Kapan, bagaimana dan dimana mereka mulai ada? Konteks sosial seperti apa yang mendorong lahirnya berbagai aliran tersebut? Barulah setelah itu kita bisa memposisikan mereka dalam ruang ke-Islaman Nusantara ini.

Dengan demikian tulisan ini tentunya akan kembali ke masa lalu. Menelisik sejarah awal semenjak kelahiran Islam di Makkah, kemudian perpindahan dari Rasulullah ke khulafaurrasyidin, hingga transformasi kekuasaan ke beberapa khalifah. Dan yang tidak bisa diabaikan adalah berbagai kondisi sosial-politik yang melingkupi perjalanan Islam hingga muncul berbagai perbedaan pemahaman akidah.

Masyarakat Arab dan Lahirnya Islam

Tulisan ini diawali dengan sebuah fragmen kecil yang bercerita tentang kisah Afif al-Kindi. Afif al-Kindi adalah seorang pedagang yang sering datang dan pergi dari dan ke Makkah. Maklumlah Makkah adalah sebuah bandar perdagangan besar pada zamannya (hingga sekarang). Makkah adalah kota strategis untuk berdagang. Karena semenjak zaman Nabi Ibrahim Makkah selalu dikunjungi oleh berbagai suku dari macam-macam bangsa. Selain mempunyai tujuan utama beribadah menziarahi Ka’bah Baitullah, orang-orang itu juga datang dengan membawa berbagai barang dagangan untuk saling ditukarkan.

Suatu hari pada musim haji Afif al-Kindi datang ke Makkah dengan membawa barang dagangan. Ditengah kesibukan dagang ia berjumpa dengan al-Abbas paman Rasulullah saw. dengan asyiknya mereka berdua saling bercengkrama. Membahas berbagai hal dan informasi. Sebagai pedagang luar, Afif al-Kindi banyak mengorek informasi dari al-Abbas, mulai dari masalah perdagangan, wisatawan, hingga isu-isu terbaru di kota Makkah.

Tiba-tiba saja di saat mereka tengah berbincang, mata Afif al-Kindi menatap seorang laki-laki yang sedang shalat menghadap ka’bah lalu disusul seorang perempuan dan seorang pemuda yang turut shalat bersamanya. Sebagai orang asing, Afif al-Kindi melihat hal itu merupakan suatu keanehan. Maka iapun bertanya kepada al-Abbas “agama apakah itu?”. Al-Abbas Menjawab “Itu adalah Muhammad Ibnu Abdullah putra saudara laki-lakiku. Dia menganggap dirinya utusan Allah (rasulullah) yang berobsesi menggulingkan Persia dan Romawi. Sedangkan perempuan itu adalah Khodijah, istri Muhammad, ia percaya dengan apa yang disampaikan suaminya. Dan pemuda itu adalah Ali bin Abi Thalib, ia juga percaya pada apa yang disampaikan Muhammad”. Al-Abbas masih melanjutkan perkataannya “Tak-ku lihat seorangpun (selain tiga orang ini) di muka bumi yang memeluk agama ini”. Kemudian Afif al-Kindi berkata : “Semoga aku menjadi orang yang ke empat”.

Sedari awalnya, Nabi Muhammad saw memang menggandengkan cita-cita perjuangan Islam dengan penggulingan dua kekuasaan dominan, yakni obsesi untuk menaklukkan imperium Persia dan Romawi (Bizantium) sebagai adikuasa dunia saat itu.

Nabi Muhammad saw. melihat penaklukan itu sebagai jalan kesuksesan dakwah Islam di dunia selanjutnya. Kekuasaan bukan tujuan utama, melainkan sebagai wasilah memuluskan jalan penyebaran Islam. Di sisi lain, pemilihan isu penaklukan bangsa Romawi dan Persia yang diangkat oleh Nabi Muahmmad saw. berfungsi untuk menarik perhatian dan menyatukan ambisi politik masyarakat Arab.

Wacaana politik ini ternyata turut menentukan genealogi kemunculan beberapa kelompok (firqah) dalam Islam. Secara sosiologis, karakter dan lingkungan Arab yang dikelilingi padang pasir juga mempengaruhi watak bangsa Arab. Watak alami pasir itu selain susah disatukan juga bersifat tidak stabil atau labil. Ini sesuai dengan kaedah linguistik bahwa kata (عرب ) berarti bergerak, berubah atau labil. Sehingga al-wasith mengungkapkan kata kerobak dengan (عربة.).

Watak ini secara tidak langsung menjadikan bangsa Arab sulit –kalau tidak mustahil- bersatu. Watak itu juga membuat mereka menjadi bangsa yang memiliki fanatisme tinggi sekaligus fatalisme yang mengakar. Tidak mengherankan jika mereka saling bermusuhan antar suku (kabilah) meskipun hanya mengenai urusan sepele. Misalnya hanya karena persoalan salah menghormati tamu berkobarlah perang fijar. Dalam Sirah Nabawiyah Juz I, Ibn Hisyam menerangkan bahwa perang Fijar terjadi ketika Nabi saw berusia 14 tahun atau 15 tahun, perseteruan tersebut antara bani Quraisy yang didukung Kinanah dengan Bani Qais ‘Ailan.

Di tengah-tengah bangsa seperti itulah Allah swt. mengutus Rasulullah saw, untuk membawa misi Islam (risalah Islamiyyah) yang lebih menekankan rehabilitasi moral (akhlaq), persaudaraan (ukhuwah) dan persatuan. Selama kurang lebih 23 tahun beliau mampu meredam fanatisme kesukuan yang telah tertanam dalam diri mereka menjadi fanatisme Islam. Mereka semula bangga dengan gelar kesukuan seperti al-Taymi, al-Adiy, al-Najjariy dan sebagainya, berubah menjadi gelar yang bertalian dengan Islam seperti al-Siddiq, al-Faruq, al-Murtadha dan sebagainya.

Namun, prestasi cemerlang itu tidak bisa dipertahankan terus. Persaudaraan yang tercipta pada masa Nabi Muhammad saw, sebagai manifestasi “semangat keislaman” (ghirah Islamiyyah) mengalami kemunduran.

Sejarah mencatat bahwa setelah Rasulullah SAW wafat bahkan sebelum jenazah beliau dimakamkan, sudah terjadi perdebatan sengit mengenai pengganti (khalifah) nabi sebagai pemimpin Islam. Menurut banyak sumber sejarah, diantaranya Tarikh Ibn Ishak, ta’liq Muhammad Hamidi menerangkan bahwa Rasulullah saw. wafat pada hari Senin tanggal 12 Rabi’ al-Awwal tahun 11 H. dalam usia enam puluh tiga tahun. Namun jenazah beliau barulah dikebumikan pada hari Rabunya. Sehingga dalam waktu tiga hari para sahabat justru sibuk mengurusi soal khalifah.

Begitu juga keterangan Ibn al-Atsir dalam al-Kâmil fi aI-Târikh, Juz II, Perdebatan berlangsung di Saqifah Bani Sa’ad yang melibatkan golongan Anshar (Aus dan Khazraj) dan golongan Muahajirin. Di sana terdengar suara minor, “dari pihak kami ada seorang pemimpin, dari kamu juga ada seorang pemimpin”. Perdebatan di Saqifah bani Sa’ad tersebut berakhir dengan terpilihnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah pertama.

Reaksi atas terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah segera berdatangan. Ada sebagian orang yang menyatakan kesetiaan dengan melantik (membai’at) secara spontan. Tetapi ada juga orang yang tidak bersedia membai’at bahkan tidak sedikit yang menyatakan keluar dari Islam (murtad).

Berikut ini suatu gambaran riddah-nya (kemurtadan) bangsa Arab waktu itu : “ketika Rasulullah SAW, wafat dan Abu Bakar mengirim pasukan yang dipimpin Usamah, maka bangsa Arab murtad. Suasana menjadi panas. Semua suku murtad kecuali suku Quraisy dan Tsaqif. Semakin kuat posisi Musailamah dan Thulhah. Mayoritas suku Thayyi’ dan Asad berkumpul di rumah Thulaihah. Suku Ghathfan murtad mengikuti “Uyainah ibn Hashn. Ia berkata : seorang nabi dari kubu Asad dan Ghathfan lebih aku sukai dari pada seorang nabi dari suku Quraisy….

Fakta sejarah di atas kalau dianalisis secara cermat memberikan indikasi bahwa munculnya fanatisme kesukuan bangsa Arab pasca Nabi sulit dibendung lagi. Sikap bangsa Arab yang susah untuk bersatu kambuh lagi. Kondisi seperti itu masih ditambah lagi dengan keengganan Ali ibn Abi Thalib untuk membai’at Abu Bakar sebagai khalifah. Baru setelah istrinya, Fatimah Zahra binti Muhammad saw, wafat Ali menyatakan bai’at.

Pada saat itu, meskipun umat Islam masih satu dalam masalah aqidah dan syari’ah, namun mereka sudah mulai terkoyak-koyak dalam kehidupan politik (siyasah). Inilah yang nantinya menjadi awal lahirnya berbagai firqah dalam Islam. Bersambung .. *** (Ulil Hadrawi, disadur dan disarikan dari berbagai sumber ; NU-Online)


Tarikh : Catatan Tinjauan Hukum Mencela Sahabat Nabi

Desember 22, 2010
Dalam sebuah majelis jamuan makan, berjalan sebuah diskusi yang cukup menarik tentang peradaban Islam. Tiba-tiba salah satu peserta diskusi berkata : “Abu Bakar, Umar dan Usman itu adalah pengkhianat kekhalifahan setelah Rasulullah. Mereka merebut tampuk kekhalifahan dari Sayyidina Ali ra. Laknat atas mereka!”. Demikian, cacian, makian dan laknat terhadap sahabat itu kerap ditemukan di beberapa majelis yang mengatasnamakan pengajian pecinta ahlul bait.

Dalam akidah Islam yang benar, membenci sesama muslim bahkan memutuskan hubungan dengannya adalah aktivitas yang diharamkan. Mencela seorang muslim adalah sebuah perbuatan fasik dan menghalalkan peperangan dengan mereka adalah perbuatan kafir.

***

Hadis yang cukup menjelaskan topik tersebut adalah hadis yang menceritakan Sayyidina Khalid bin Walid ra ketika bersama Sariyyah (pasukan perang yang dipimpin Rasulullah SAW untuk mendakwahkan Bani Judzaimah ke jalan Islam. Tatkala Khalid sampai pada Bani Judaimah, mereka menyambut kedatangan Khalid, maka berkatalah Khalid kepada mereka : “Berislamlah kalian!”. Mereka menjawab : “Kami ini adalah orang muslim”. Kemudian Khalid berkata : “(kalau begitu) lemparkan senjata-senjata kalian!”. Mereka menjawab lagi ; ”Tidak! Demi Allah kalau kami meletakkan senjata, nanti akan terjadi pembunuhan (pada kami). Dan kami tidak percaya kepadamu dan juga pada pasukanmu”.
Dengan dialog tersebut akhirnya Khalid memtuskan untuk berkata : “(Jika demikian), maka tidak ada jaminan bagi kalian (untuk tidak kami perangi), kecuali kalian bersedia melucuti senjata kalian”. Akhirnya sebagian dari mereka mau melucuti senjata, dan sebagian lagi bercerai-berai.

Dalam riwayat yang lain disebutkan sebagai berikut ; telah sampai Khalid pada kaum itu, dan mereka menyambutnya  (sambil bersenjata). Maka Khalid berkata : “Siapa kalian?”. Mereka menjawab : “Kami adalah orang-orang muslim, kami telah melaksanakan shalat dan kami benarkan Muhammad SAW. Kami juga membangun masjid-masjid di tempat kami, dan juga beradzan untuk memanggil orang untuk shalat”. Ketika Khalid mengucapkan pertanyaan dengan kasar, “Kalian ini muslim atau kafir?”, maka akhirnya mereka tidak berbuat baik terhadap ucapan keislaman mereka dan berkata : “Kalau demikian, kami keluar saja dari Islam”. Khalid menimpali ; “Untuk apa kalian membawa senjata?”.  Mereka menjawab : “Sesungguhnya antara kami dengan kaum yang lain dari kalangan bangsa Arab memiliki permusuhan dan kami khawatir bahwa engkau termasuk dari mereka (bangsa Arab). Oleh karena itu kami sekarang memegang senjata”.

“Jika demikian, letakkan senjata kalian”, perintah Khalid. Akhirnya mereka meletakkan senjata tersebut. Kemudian Khalid berkata : “Menyerahlah kalian untuk menjadi tawanan kami”. Latas sebagian mereka menyerahkan diri seraya meletakkan tangan-tangan mereka di pundaknya (sehingga perasaan jengkel terhdap Khalid bertambah kuat).

Akhirnya Khalid membagi tawanan kepada para sahabat yang ikut dengannya. Ketika waktu menjelang subuh tiba, berserulah ajudan Khalid ; “Barang siapa yang membawa tawanan, supaya membunuhnya”. Maka Bani Sulaim yang ikut rombongan perang Khalid membunuh tawanan yang ikut bersamanya. Sedangkan orang-orang Muhajirin dan Anshar melepaskan tawanan tersebut (tidak membunuh). Ketika kejadian tersebut sampai pada Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Ya Allah, sesungguhnya saya berlepas tangan pada-Mu dari perbuatan Khalid tersebut”. Beliau mengulanginya sampai tiga kali.

Ada yang berpendapat (terhadap peristiwa Khalid tersebut) dengan mengatakan bahwa menurut pemahaman Khalid, perkataan mereka yang berbunyi ”Kalau begitu kami keluar dari Islam” adalah suatu kesombongan bagi mereka yang menganggap diri mereka sudah besar dan kuat. Serta tidak adanya ketundukan terhadap Islam (sehingga akhirnya Khalid memutuskan untuk menawan mereka).

Sedangkan pengingkaran Rasulullah SAW terhadap kejadian tersebut disebabkan karena ketergese-gesaan Khalid dalam mengambil keputusan tanpa ada penelitian terlebih dahulu terhadap perkara yang dialaminya. Padahal pada kesempatan lain, Rasul pernah memuji Khalid dengan mengatakan ; “Sebagus-bagusnya hamba Allah dari rumpun Arab Khalid bin Walid, dia adalah pedang dari sekian pedang-pedang Allah, yang Allah menghunusnya terhadap orang-orang kafir dan munafik”.

Maksud keterangan tersebut adalah, bahwa kesalahan yang dilakukan Khalid bukan merupakan kesalahan fatal, tetapi kesalahan dalam menentukan prioritas. Mana yang terbaik yang seharusnya dilakukan oleh Khalid, dengan indikasi perkataan Rasulullah, bahwa Khalid adalah sebagus-bagus hamba Allah. Sehingga tidak mungkin akan melakukan aktivitas yang kesalahannya fatal dan mengakibatkan ia kufur.

***

Demikian juga kisah Sayyidina Usamah bin Zaid, seorang yang dicintai Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam, dan anak dari sahabat yang dicintai Rasulullah yaitu Zaid bin Haritsah. Seperti yang telah diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Sofyan, ia berkata : “Saya mendengar Usamah bin Zaid berkata ; Rasulullah mengutus kami ke Huraqah. Kemudian kami menyerang kaum itu pagi-pagi sekali, sehingga bisa mengalahkan mereka. (Ketika itu) saya dan seorang laki-laki dari kalangan Anshar mengejar laki-laki kaum itu. Tatkala kami bisa menyergapnya maka ia berkata, Laa ilaha illallah kemudian ia mencegah/menahan supaya laki-laki Huraqah tersebut tidak dibunuh, karena sudah mengucapkan tahlil. Namun saat itu juga saya menusuknya dengan tombak sehingga ia mati.

Ketika berita tersebut sampai pada Rasulullah SAW, beliau bersabda :”Wahai Usamah, adakah engkau membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa ilaha illah?”, saya jawab, “Ia hanya berlindung dari ucapan itu”. Namun Rasulullah selalu mengulang terus pertanyaan tersebut, sehingga saya menganggap bahwa pada hari itu saya bukan Islam lagi (karena melakukan kesalahan).

Dan dalam riwayat yang lain, Rasul bersabda kepadanya, ”Mengapa tidak kamu bedah saja hatinya, sehingga engkau bisa mengetahui apakah ia jujur atau bohong (terhadap ucapan itu). Maka Usamah berkata : “Saya tidak akan memerangi orang-orang yang telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah”.

Riwayat yang juga termasuk menjelaskan topik ini adalah jawaban Ali radhiallahu ‘anhu. Ketika ditanya tentang orang-orang yang menentangnya, apakah kelompok mereka disebut kufur?. Ali menjawab, “Tidak. Karena mereka jauh dan berlari dari sifat kufur”. Apakah mereka munafik? Ali menjawab, “Juga tidak”. Karena orang-orang munafik tidak berdzikir sangat banyak pada Allah”. Kalau begitu, apa posisi mereka?, maka Ali menjawab, “Mereka adalah kaum yang tertimpa fitnah, sehingga mereka buta dan tuli dari kebenaran”.

Taudhih (Penjelasan)

Mencela seseorang muslim adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah. Karena perbuatan tersebut mampu memecah belah ukhuwah Islamiyah yang seharusnya dibangun oleh Abnaul Islam, agar kekuatan Islam bisa menyingkirkan ideologi-ideologi selain Islam, seperti sosialis dan kapitalis.

Ukhuwah yang telah menjadi kekuatan umat Islam tersebut diketahui oleh dunia Barat (sosialis dan kapitalis) dan sekaligus mereka paham akan kelemahan umat Islam. Yaitu, kerapuhan pemikiran umat Islam, sehingga dapat mempengaruhi kerapuhan ukhuwah Islamiyah. Dari kelemahan umat Islam ini akhirnya mereka mengadu-domba dengan berbagai macam dalih. Apakah untuk menjaga perdamaian dunia atau dengan dalih memerangi teroris dan penjahat-penjahat dunia yang kesemuanya itu diarahkan pada negeri-negeri muslim yang tidak bersedia tunduk pada “dajjal modern”, yaitu Amerika. Maka lahirlah peperangan antara negeri-negeri muslim yang semuanya didalangi oleh Amerika dan sekutunya. Penjajahan di Irak, Afghanistan, dan hegemoni Barat hampir mencakup seluruh dunia Islam saat ini.

Mereka menebar benih permusuhan antara negeri-negeri yang ada di Timur Tengah dengan dalih menjadi juru damai antara Palestina dan Israel. Yang berakibat semakin merenggangnya hubungan negara-negara Islam di Timur Tengah.

Demikianlah, makar-makar Yahudi dan Nasrani yang berusaha menghapus ide-ide Islam di dunia internasional ini diawali dengan menghancurkan puing-puing ukhuwah islamiyah. Namun jika umat Islam sadar akan kesalahannya, dan bersedia untuk membangun kembali puing-puing ukhuwah islamiyah tersebut, dan bersungguh-sungguh maka Allah akan menghancurkan makar-makar mereka. Karena Dialah sebaik-baik pembuat makar. Sebagaimana firman-Nya dalam QS.Ali Imran : 54 yang artinya:

‘Mereka itu membuat makar, dan Allah (membalasnya) dengan makar-Nya, dan Allah lah sebaik-baik pembuat makar”.

Allah sendiri telah memberi jalan kepada manusia untuk membangun puing-puing ukhuwah Islamiyah, dengan jalan berikut :

Pertama, Mengadakan Islah, perbaikan di antara yang bertikai, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat al-Hujarat ayat 10 yang artinya :

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman saja yang bersaudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudaramu”.

Sedangkan Islah atau perdamaian tidak akan mungkin bisa terjadi, kecuali mengikuti aturan berikut : Perdamaian itu harus berprinsip adil. Yang dimaksud adil di sini adalah sesuai dengan tuntutan syara` yang di dalamnya pasti mengandung maslahat, sebab di mana ada syara` di situ ada maslahat. Allah telah berfirman dalam surat al-Hujarat : 9 yang artinya ;

“Hendaklah kamu damaikan keduanya dengan prinsip adil dan berlakulah adil. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil”. Dan Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di dunia akan berada di mimbar-mimbar yang terbuat dari permata di hadapan Allah, karena aktifitas adilnya  yang dilakukan di dunia”(HR. Ibnu Hasim dan an-Nasa`i).

Kedua, membangun kesamaan dalam pemikiran (konsep-konsep) Islam yang mendasar, sehingga bisa melahirkan kesamaan akan perasaan berislam, dan juga melahirkan kesamaan perasaan cemburu jika Islam dihina. Sehingga yang terjadi adalah tolong-menolong dalam kebaikan pada diri umat Islam. Inilah yang akan memperkuat ukhuwah islamiyah. Lihat QS. Al-Maidah : 2.

Ketiga, meningkatkan rasa takwa pada Allah, sebab dengan demikian akan membuat manusia (umat Islam) takut untuk melanggar aturan-aturan Allah. Yang akhirnya akan dapat membedakan mana yang seharusnya sebagai lawan dan sebagai saudara. Lihat QS. Al-hujarat : 10.

Keempat, tidak melakukan hal-hal yang bersifat mencela/meremehkan kelompok lain sesama Islam, dan tidak memanggil dengan sebutan yang tidak disenangi, sebab bisa jadi yang meremehkan itu lebih tercela dari pada yang dicela. Lihat QS. Al-Hujarat : 11.

Kelima, menjauhi sifat su`udzan, ghibah, fitnah, memata-matai untuk mencari kelemahan pada orang lain. Lihat QS. Al-Hujarat : 13.

Dari uraian tersebut, bisa disimpulkan bahwa :

  1. Orang yang mengucap kalimat syahadat tidak boleh diperangi.
  2. Orang yang mengucapkan kalimah syahadat (asalkan tidak merusak akidahnya dengan keyakinan lain) dengan keyakinan dan pembenaran yang pasti, maka ia akan masuk surga, meskipun mengerjakan perbuatan maksiat (walau masih `mampir` ke neraka) untuk membersihkan maksiat yang dilakukan karena lalai, lupa atau kebodohannya tentang hukum Allah.

Hal ini berdasarkan hujjah sebagai berikut :

Bahwa Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda : “Dzalim itu ada tiga, yaitu dzalim yang tidak diampuni Allah, dzalim yang diampuni-Nya, serta dzalim yang tidak meninggalkan darinya pada sesuatu apapun”.

Dzalim yang tidak diampuni oleh Allah adalah syirik, menyekutukan Allah dengan yang lain, sesuai firman-Nya Surat Lukman : 13 yang artinya :

“Sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar”. Dan termasuk dalam kategori dzalim di atas adalah bertahkim pada hukum-hukum selain yang dibuat Allah, mencampur sebagian dan membuang sebagian yang lain dari hukum Allah. Dalam kondisi ini tidak diampuni dosa-dosa mereka meskipun mereka shalat, puasa dan haji. Karena mereka telah mensyirikkan dan menentang hukum Allah, Allah SWT berfirman : “Barang siapa yang tidak bertahkim dengan hukum Allah maka mereka termasuk orang-orang kafir”. (QS. Al-Ma`idah : 44).

Dalam surat an-Nisa`: 60 Allah berfirman : ”Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak bertahkim kepada taghut (selain hukum Islam). Padahal mereka diperintah untuk mengikarinya”. Dalam surat an-Nisa`: 150-151 Allah azza wa jalla berfirman: “…Mereka berkata, kami beriman kepada yang sebagian dan kafir kepada sebagian yang lain…” “Mereka itu adalah orang-orang kafir yang sebenarnya…”.

Dzalim yang bisa diampuni Allah adalah dzalimnya hamba terhadap Allah dengan melakukan maksiat karena lalai dan kealpaan atau kebodohannya. Selama tidak menggunakan keyakiannnya pada kalimat Laa ilaha illallah. Maka dzalim seperti ini masih termasuk ahli surga, meskipun harus `mampir dulu di neraka dahulu. Diriwayatkan Syaikhan dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah bersabda : “Tidak seorang hamba pun yang berkata Laa ilaha illallah, kemudian ia mati tetap pada perkataan tersebut, kecuali ia masuk surga. Saya berkata : Meskipun berzina dan mencuri?. Rasulullah menjawab : Meskipun berzina dan mencuri. Saya berkata lagi : meskipun berzina dan mencuri?. Rasulullah menjawab:meskipun berzina dan mencuri (sampai tiga kali). Dan berkata Rasulullah yang keempat kalinya : meskipun Abu Dzar terpaksa yang demikian itu.. Dalam riwayat lain disebutkan : “Barang siapa yang mati dan dia tahu bahwa tiada tuhan kecuali Allah, maka ia masuk surga” (HR.Muslim).

Oleh karena itu, seorang muslim yang sejati harus mentaati perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya secara menyeluruh, sehingga bisa masuk surga tanpa `mampir` ke neraka.

Dzalim yang ketiga adalah berkaitan dengan kedzaliman hamba yang satu dengan hamba yang lain. Sehingga saling menghinakan satu sama lain. Dalam kondisi ini saling memaafkan dan saling menghormati akan menghilangkan dosa dzalim tersebut.

***

Demikianlah hujjah dari kesimpulan di atas, bahwa tidak diperkenankan bagi kita untuk memerangi orang-orang Islam yang masih meyakini Laa ilaha illallah. Namun jika melihat fakta yang ada sekarang ini, banyak sekali orang-orang yang mengaku Islam, meskipun ideologi mereka adalah ideologi kapitalis dan sosialis atau dicampurkan dengan lainnya. Maka sikap kita pada mereka adalah memastikan mereka sebagai orang kufur, karena telah menafikan hukum-hukum Allah serta mencampur dengan hukum mereka. Sebagai hamlud da`wah hendaknya kita berusaha untuk berjidal dengan mereka guna mematikan argumentasi-argumentasinya dan membuat argumentasi yang kuat yang berdasarkan syari`at Islam. Dan tidak melakukan peperangan kecuali :

  • Diperintah oleh Amirul Mu`minin (Penguasa Islam). Hal ini pernah dilakukan oleh Khalifah Abu Bakar untuk memerangi pembangkang-pembangkang yang tidak mau membayar zakat.
  • Jika mereka menyerang kita, maka kita wajib mempertahankan diri dan menyerang balik kepada mereka.

Adapun peperangan yang dilakukan oleh para sahabat (Ali dan Mu`awiyah, Ali dengan `Aisyah) maka dalam hal ini ulama-ulama` Sunni berpendapat agar tidak mengomentari peperangan mereka, sebagaimana yang telah dikatakan Imam Abu Hanifah, Hasan al-Bashri dan Umar bin Abdul Aziz, di antara mereka berkata : “Itulah darah-darah yang telah tertumpah yang Allah membersihkan tanganku dari pada percikannya, maka tidaklah aku suka darah itu melumuri lidahku”. Dan juga ahli hikmah mengatakan : “Dan apa yang terjadi diantara sahabat, kami memilih sikap diam” – Wallohu a’lam. *** (KH/falam)

(Sumber : CD ceramah Posisi dan Peran Sahabat Nabi SAW oleh Prof. DR. Sayid Muhammad Al-Maliki & Jurnal Keislaman Bayan)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 50 pengikut lainnya.