Inilah Akar Zionisme

Mei 3, 2012

REPUBLIKA.CO.ID, Tidak ada perbincangan serius mengenai masalah Timur Tengah tanpa mengaitkannya dengan ideologi Zionisme. David Vital, profesor pada University of Tel Aviv dalam bukunya The Origins of Zionism (1975) menulis bahwa Zionisme modern (sering disebut juga Zionsime politik) pada mulanya merupakan impian seorang wartawan Theodore Herzl setelah menyaksikan pengadilan pengkhianatan Kapten Dreyfuss di mahkamah militer Paris. Zionisme modern lahir setelah Kongres Basle pada 29-31 Agustus 1897, seratus tahun yang lalu.

Sebelum lahirnya gerakan Zionisme modern, ide tentang Zion sudah cukup kuat mengakar dalam kehidupan masyarakat Yahudi, khususnya kalangan Ashkhenazi (Yahudi Eropa). Di antara gerakan Zionis pra-Kongres Basle yang secara umum disebut sebagai proto-Zionisme, yang terpenting ialah Hovevei-Zion, Hibbat-Zion, dan Poalei-Zion. Semua gerakan Zionisme tersebut sering juga dikenal sebagai gerakan ”utopia”, dan baru setelah Kongres I di Basle, gerakan Zionisme menemukan jati dirinya sebagai gerakan politik yang mempunyai program jelas.

Semula Theodore Herzl ingin menggelar Kongres di Muenchen, Jerman. Namun dia mendapat tantangan keras dari kalangan pemuka agama Yahudi setempat dan kelompok pro asimilasionis yang khawatir Kongres Zionis dan kegiatan yang terkait dengannya hanya akan meningkatkan rasa kebencian masyarakat Jerman terhadap mereka. Oleh karenanya, Herzl terpaksa memindahkan tempat kongres di kota kecil Basle yang terletak di wilayah Swiss tapi masih berbatasan dengan Jerman. Kongres dibuka pada Ahad pagi tanggal 29 Agustus 1897 dengan mengambil tempat di gedung Kasino milik pemerintah kotapraja Basle.

Sungguh aneh sekalipun agama Yahudi mengharamkan perjudian, pelaksanaan kongres yang memperjuangkan kembalinya mereka ke tanah leluhur itu dilakukan di tempat judi. Ini bisa dimaklumi karena sebenarnya Theodore Herzl penggagas dan aktor utama kebangkitan Zionisme adalah seorang sekuler. Persiapan kongres dilakukan dengan matang dan rapi. Beberapa bulan sebelumnya Herzl sibuk melobi ke berbagai tokoh Yahudi di London, Paris, Polandia, Rusia, dan lain-lain tempat agar bisa mengirimkan wakilnya atau datang sendiri. Meski demikian, hanya sekelompok kecil yang berani ke Basle. Israel Zangwill, adalah sedikit dari intelektual terkemuka yang memberanikan diri hadir di kongres.

Kongres tersebut dihadiri antara 200 sampai 250 wanita dan pria yang datang dari 24 negara. Jumlah yang tampak tidak pasti ini karena beberapa delegasi khususnya yang datang dari Rusia meminta agar namanya tidak dicantumkan secara resmi. Dengan kata lain mereka datang secara ilegal. Beberapa delegasi tidak mau repot dengan mendaftar secara resmi karena mereka mungkin tidak menyadari sedang menghadiri kongres yang sangat bersejarah. Sebab, lima puluh tahun kemudian cita-cita mendirikan negara Israel berhasil diwujudkan dengan -mengusir dan merampas tanah dari bangsa Palestina-.

Pintarnya Herzl mengorganisasi Kongres I Zionis di Basle ini terlihat dari rapinya administrasi maupun agenda acara yang dibicarakan. Semua peserta yang hadir sebelum memasuki arena kongres sudah mendapatkan materi yang tercetak rapi. Masing-masing delegasi mendapatkan badge yang dirancang oleh Bodenheimer. Badge ini merupakan lingkaran biru dengan garis tepi merah dengan lambang singa dan bintang david sebanyak 12 buah. Di tengah-tengahnya terdapat kata-kata: ”Berdirinya negara Yahudi merupakan satu-satunya jawaban yang masuk akal bagi penyelesaian masalah Yahudi”.

Sebagai wartawan profesional yang bekerja untuk koran Neue Freie Presse, Herzl mengerti benar pentingnya media massa dalam menyebarkan ide-idenya. Jauh sebelum orang menyadari pentingnya PR (public relations), Herzl sudah mengetahui pentingnya memanfaatkan media untuk kepentingannya. Koran Die Welt yang saat itu tirasnya cukup besar mendapat layanan khusus. Sebagai imbalannya, koran ini pun memuat edisi khusus Kongres I Zionis tersebut. Publikasi mengenai kongres juga terdapat pada koran-koran Eropa lainnya, seperti The Times of London, The Daily News, The Daily Mail, The Spectator, dan Pall Mall Gazette di Inggris. Koran Jerman yang memberitakan secara besar-besaran ialah Frankfurter Zeitung, Kolnische Zeitung. Koran-koran besar di sejumlah negara lain juga memuat berita kongres itu, misalnya di Hongaria, Rusia, Polandia, Swiss, Amerika Serikat, dan Prancis. Dengan demikian dari segi propaganda dan perebutan opini publik, Herzl sukses besar.

Kongres yang berlangsung selama tiga hari itu bisa berlangsung mulus karena sejumlah masalah pokok sudah diselesaikan dalam pertemuan pra-kongres yang berlangsung selama dua hari. Dalam pertemuan khusus ini berhasil ditunjuk 7 orang komite pelaksana yang diketuai Max Nordau. Mereka bertanggung jawab atas lancarnya sidang-sidang yang dilaksanakan. Meski demikian Herzl semula sempat ragu bahwa dia akan mampu menggelar kongres dengan baik.

Untuk memberi kesan bahwa kongres bukan dihadiri oleh orang-orang ”gembel” saja, Herzl meminta semua delegasi yang akan memasuki ruang sidang memakai baju resmi, yakni jas panjang dan dasi putih. Ketika Nordau sebagai ketua pengarah sidang muncul di arena kongres hanya dengan mengenakan jaket biasa, Herzl memaksanya balik ke hotel dan mengganti dengan stelan resmi itu. Nordau berhasil dirayu Herzl agar ganti pakaian dan dia kemudian dipeluk pendiri Zionis itu dengan hangat. Seperti yang diharapkan Herzl, kongres berjalan lancar dan khususnya acara pembukaan berlangsung khidmat.

Konon, para peserta banyak yang mencucurkan air mata. Mereka terharu, untuk pertama kalinya warga Yahudi yang terserak-serak di berbagai negara dan berbeda bahasa bisa berkumpul dengan tujuan yang sama : memperjuangkan berdirinya Israel. Meski masih banyak yang sangsi akan mampu mendirikan negara khusus bagi bangsa Yahudi, tetapi langkah positif sudah mereka laksanakan yakni dengan menyatukan tekad dalam cita-cita yang sama.

Konspirasi zionisme

Jika kita mendikusikan masalah Israel dan Zionisme dengan orang Arab atau mereka yang kurang dalam pemahamannya soal Timur Tengah, akan sangat mudah sekali kita terjebak ke dalam teori konspirasi. Banyak dikesankan bahwa Zionisme merupakan konspirasi kaum kolonial untuk melemahkan dunia Arab atau Islam. Tidak pernah dikaji secara mendalam bahwa gerakan Zionisme sukses karena kerja keras para pendukungnya ditambah dengan lemahnya atau cerai berainya bangsa Arab sendiri.

Hal ini bisa dilihat dari daftar siapa yang hadir dalam Kongres I di Basle tersebut. Dari 200 sampai 250 peserta yang hadir, hanya 162 orang yang berani mendaftarkan kehadirannya secara terbuka. Di antara mereka ini, selain Theodore Herzl maka yang mempunyai reputasi internasional hanyalah Israel Zangwill (intelektual Inggris) dan profesor Herman Schapira, pakar matematika dari Universitas Heidelberg, Jerman. Secara umum para delegasi Kongres I adalah kaum kelas menengah Yahudi, seperempat di antaranya kaum pengusaha, industriawan, dan keuangan. Kelompok terbesar ialah sastrawan, mahasiswa, dan kaum profesional seperti pengacara, wartawan, dokter, dan sebagainya. Juga terdapat 11 orang rabbi, seorang penjaga sinagog, seorang petani, seorang pemahat, dua orang ahli stenografi, dan seorang tukang cetak.

Mayoritas dari hadirin ialah kaum modernis dan liberal dalam pandangan agamanya. Ini untuk membedakan dari kelompok Orthodoks yang saat ini mendominasi kehidupan politik Israel. Bahkan, ada pula Yahudi yang ragu-ragu dalam kepercayaannya kepada Tuhan (agnostic). Bisa dikatakan hampir tidak ada kelompok ekstremis seperti kaum messianik karena mereka percaya bahwa kembalinya bangsa Yahudi dengan cara politik merupakan pengingkaran terhadap hukum Tuhan. Bangsa Yahudi, kata mereka, hanya akan kembali ke tanah suci dengan mukjizat.

Dari asal negara, sebagian besar dari Eropa Timur, terutama Rusia, Rumania, Serbia, Bulgaria, Austria, Polandia, Lithuania, dan Latvia. Beberapa kelompok datang dari Eropa Barat, Prancis, Inggris, Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat. Mungkin yang pantas dicatat ialah tidak tampak wakil Yahudi dari negara-negara Arab atau Islam yang dikenal sebagai kaum Sephardim. Dengan demikian, sebenarnya Kongres I Zionis adalah Kongresnya Yahudi Ashkhenazi atau Yahudi Eropa.

***

Fakta ini menunjukkan bahwa ”masalah Yahudi” (the Jewish question) adalah masalah Eropa. Bangsa Yahudi di dunia Arab atau Sephardim yang hidup berabad-abad lamanya dengan umat Islam tidak menghadapi masalah yang serius. Persoalan antara Yahudi dan Arab baru muncul justru setelah lahirnya Israel. Edward Said, intelektual Amerika terkemuka kelahiran Yerusalem mencatat bahwa di masa kecilnya sebelum adanya Israel, hubungan masyarakat Islam, Kristen, dan Yahudi di Palestina cukup baik. Memang sekali-kali muncul ketegangan tetapi masih dalam batas-batas yang wajar. Setelah gelombang Zionisme memasuki tanah Palestina dengan Deklarasi Balfour 1921, kerusuhan antara komunitas makin memuncak.

Setelah melalui perdebatan yang cukup seru, Kongres yang berlangsung selama tiga hari ini memutuskan empat pokok program kerja. Hal yang terpenting ialah disepakati bahwa Zionisme merupakan suatu gerakan yang bertujuan mendirikan ”perumahan” bagi bangsa Yahudi di Palestina melalui jalan hukum. Untuk itu dirumuskan empat tujuan pokok sebagai berikut :

Pertama, memajukan tanah Palestina dengan hasil karya petani, seniman, dan pedagang Yahudi. Kedua, mengorganisasikan dan mempersatukan semua bangsa Yahudi dengan berbagai cara yang tepat sesuai dengan kondisi lokal dan sesuai dengan aturan umum yang berlaku di masing-masing negara. Ketiga, memperkuat rasa kebangsaan dan rasa kesadaran nasional Yahudi. Keempat, mempersiapkan berbagai tindakan dalam upaya mendapatkan izin pemerintah yang diperlukan bagi dicapainya tujuan Zionisme.

Semua program ini menjadi tanggung jawab kongres yang dalam sehari-hari ditangani oleh sebuah badan eksekutif di bawah pimpinan Herzl. Dialah, dengan pengalamannya sebagai wartawan internasional mulai menggarap beberapa politisi dan pejabat pemerintah di Barat untuk memberikan dukungan bagi Zionisme.

Manipulasi sejarah

Tidak ada manipulasi sejarah yang lebih dahsyat dari pada yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina. Kongres Zionis I di Basle merupakan titik balik dari sejarah usaha perampasan tanah Palestina dari bangsa Arab. Namun hebatnya, para perampas ini tidak dianggap sebagai ”perampok” tetapi malahan dipuja sebagai ”pahlawan” dan bangsa Arab yang melawannya dianggap sebagai ”teroris” dan penjahat yang perlu dihancurkan.

Salah satu kunci untuk memahami semua ini ialah karena sejak Kongres I kaum Zionis sudah mengerti kunci perjuangan abad XX yakni : diplomasi, lobi, dan penguasaan media massa. Herzl sebagai seorang wartawan yang berpengalaman dengan tangkas memanfaatkan tiga senjata andal dalam perjuangan politik abad modern ini. Sejak Kongres I, dia sangat rajin melobi para pembesar di Eropa, mendekati wartawan, dan melancarkan diplomasi ke berbagai negara. Hasilnya sungguh luar biasa. Zionisme lantas diterima sebagai gerakan politik yang sah bagi usaha merampas tanah Palestina untuk bangsa Yahudi.

Tokoh-tokoh Yahudi banyak terjun ke media massa, terutama koran dan industri film. Hollywood misalnya didirikan oleh Adolf Zuckjor bersaudara dan Samuel-Goldwyn-Meyer (MGM). Dengan dominasi yang luar biasa ini, mereka berhasil mengubah bangsa Palestina yang sebenarnya adalah korban kaum Zionis menjadi pihak ”penjahat”.

Edward Said, dalam bukunya Blaming The Victims secara jitu mengungkapkan bagaimana media massa Amerika menciptakan gambaran negatif bangsa Palestina. Sekitar 25 persen wartawan di Washington dan New York adalah Yahudi, sebaliknya hampir tidak ada koran atau TV Amerika terkemuka yang mempunyai wartawan Arab atau Muslim. Kondisi ini berbeda dengan media Eropa yang meskipun dalam jumlah terbatas masih memiliki wartawan Arab atau muslim. Dengan demikian laporan tentang Palestina di media Eropa secara umum lebih ”fair” daripada media Amerika.

Edward Said yang terkenal dengan bukunya Orientalism (Verso 1978), menguraikan apa yang dilakukan kaum Zionis terhadap bangsa Palestina merupakan praktik kaum Orientalis yang sangat nyata. Pertama, sejarah ditulis ulang, yakni Palestina sebelum berdirnya Israel ialah : wilayah tanpa bangsa untuk bangsa yang tidak mempunyai tanah air. Kedua, bangsa Palestina yang menjadi korban dikesankan sebagai bangsa biadab yang jadi penjahat. Ketiga, tanah Palestina hanya bisa makmur setelah kaum Zionis beremigrasi ke sana.

Yerusalem dan tanah Palestina tampaknya akan semakin panas. Zionisme yang semula dimaksudkan sebagai pemecahan terhadap masalah Yahudi (Eropa) ternyata malahan menimbulkan masalah yang baru : yakni persoalan Palestina yang sampai sekarang tidak pernah selesai. ***

(Dikutip dari artikel berjudul Akar Zionisme karya Djoko Susilo dari Koran Republika edisi  Kamis, 13 Mei 2004 ; Republika Online).


Wacana : Fungsi Teritorial TNI Mendampingi Satu Dekade Reformasi

April 5, 2012

Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan RI Letjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin mengatakan, makna reformasi adalah perubahan dari suatu sistem yang tadinya otoritarian kepada demokratis, yaitu dalam perubahan sistem tersebut TNI diminta untuk memposisikan diri dalam suatu tatanan yang disebut dengan paradigma baru TNI. Dalam hal ini TNI harus menjaga pengertian reformasi dibidang pertahanan negara maupun TNI, bahwa perubahan ini tidak diartikan sebagai suatu revolusi, namun merupakan suatu perubahan rasional secara bertahap dalam upaya menghilangkan yang buruk dan memperbaiki yang rusak. Artinya, dalam menjalankan reformasi, harus dilaksanakan secara gradual sistematis, tidak dengan melakukan perombakan secara total.

Dari sisi manfaat reformasi bagi TNI, harus dilihat dari sisi introspeksi dan antisipasi, dengan istilah lain “mawas diri dan waspada”. Berdasarkan itu dapat dilihat bahwa pengertian introspeksi diri yaitu dalam melaksanakan tugas tidak ada lagi pelaksanaan tugas yang berjalan secara otomatis, tetapi semua pelaksanaan tugas harus berdasarkan legalitas dan legitimasi sesuai dengan pengaturan konstitusi. TNI tidak dapat lagi berbuat semaunya.

Bagi TNI, era reformasi telah menyediakan lebih banyak waktu untuk membenahi dan menata diri serta menambah bobot intelektual bagi prajuritnya. Dan yang paling penting bahwa reformasi ini harus memberikan kontribusi dalam mengembangkan civil society dan demokratisasi, tanpa harus merubah jati diri TNI. Pemahaman yang keliru di masyarakat bahwa, apabila TNI tetap dalam suatu prinsip mempertahankan jati diri itu seolah-olah status quo.

Selain itu bagi TNI, masa depan telah menuntut TNI untuk meningkatkan profesionalisme demi meraih kepercayaan publik. Pada masa otoriterian dulu, kelemahan TNI tidak terlihat karena kita ditutupi. Namun diera civil society saat ini, kekurangan-kekurangan TNI sangat terlihat. Apabila seorang perwira tidak mempunyai kemampuan dan gagal megembangkan diri serta tidak memiliki daya saing, maka akan menjadi bahan tertawaan.

Menurut Sekjen Dephan, reformasi TNI itu sebaiknya tidak dibatasi, karena organisasi itu dinamis. Apabila reformasi dibatasi, maka ketika selesai batas tersebut semua orang akan tertidur. Jadi TNI tidak pernah mengatakan reformasi itu bertahap, tetapi reformasi itu gradual. Artinya tidak secara drastis, tidak revolusioner tetapi, seperti evolusi. Lebih baik dikatakan sebagai perkembangan profesionalisme miliiter, yang mengarah kepada bagaimana militer beradaptasi dengan perubahan dunia. Dan yang dilakukan oleh TNI adalah perubahan implementasi secara rasional yang dipandang lebih produktif.

Sekjen Dephan juga mengatakan bahwa dalam melakukan reformasi-militer, TNI harud patuh pada Undang-Undang yang berlaku, sesuai dengan Undang-Undang TNI dan Undang-Undang Pertahanan. Kemudian implementasinya ada pula pada UU Peradilan Militer, yang saat ini sedang menunggu waktu untuk diratifikasi. TNI telah setuju untuk membawa prajurit TNI yang melakukan pelanggaran hukum umum diadili di pengadilan umum. Hal itu menjelaskan bahwa TNI tidak pernah menolak untuk patuh pada hukum atau prinsip Hak Asasi Manusia.

Sementara itu mengenai civil society yang diharapkan TNI, Sekjen Dephan menjelaskan, sebelum era reformasi, TNI dan Pemerintah itu identik. Hal ini tidak dapat dihindari mengingat kondisi konstitusi saat itu menuntut demikian. TNI melakukan dwi fungsi karena ada dasar hukumnya dan TNI terlibat dalam pengambilan keputusan sebagai bagian dari pemerintah. Maka menjadi keharusan bagi civil society (masyarakat madani) yang telah merubah keadaan itu. Pada saat itu pula TNI adalah alat menyelesaikan masalah nasional, tetapi sekarang hanya memberikan kontribusi dalam pengembangan civil society yang diwujudkan dengan mengabdikan tenaga dan pikiran kepada pengembangan profesionalisme sebagai alat pertahanan negara. TNI tidak lagi diidentikkan dengan pemerintah, karena keberadaan TNI telah diatur dalam Undang-Undang.

Kaitannya dengan supermasi sipil, Sekjen Dephan menegaskan bahwa adanya dikotomi antara sipil dan militer, dapat membuat terjebak kepada pemikiran-pemikiran sempit yang keluar dari koridor kebangsaan dan kenegarawanan. Seharusnya sudah tidak ada militerisme di Indonesia. TNI telah melawan militerisme sejak dalam pendidikan. Selain itu, sangat tidak tepat jika saat ini terus membicarakan mengenai supermasi sipil. Masyarakat sipil dan militer bekerja sama untuk membangun civil society. TNI adalah warga negara yang kebetulan bekerja sebagai profesi militer. Keduanya, masyarakat sipil dan mereka yang bekerja sebagai militer adalah sama sebagai warga negara Indonesia.

Ditegaskan Sekjen, diera globalisasi ini hanya akan membuang-buang waktu saja apabila terus berdebat mengenai dikotomi sipil-militer. Semua negar yang berpikir secara global tidak akan mempertimbangkan perdebatan mengenai masalah tersebut, karena masyarakat sipil dan militer sama-sama berkontribusi dalam pembangunan negara. Namun demikian Sekjen mengakui pada awalnya adanya pemisahan antara sipil dan militer, lebih dikarenakan sebagai proses pencarian format ideal, karena itu untuk saat ini sangat tidak tepat membicarakannya lagi.

Mengenai Komando teritorial, dijelaskan Sekjen, harus disadari bahwa fungsi teritorial bukan hanya menjadi tanggung jawab TNI, tetapi juga Pemerintah. Pada masa lalu TNI terlihat memonopoli fungsi teritorial sebagai bagian dari Pemerintahan. Sebagai sebuah organisasi, TNI melakukan pembinaan teritorial, tetapi hanya bagian kecil dari keseluruhan pembinaan teritorial pemerintah. Sebagai contoh Departemen Pekerjaan Umum turut menjalankan fungsi terotorialnya. Dalam melaksanakan tugasnya, Departemen Pekerjaan Umum selalu mengadakan pemeliharaan terhadap semua aspek-aspek infrastruktur yang menyokong kepentingan pertahanan negara. Jadi pembinaan teritorial itu dilaksanakan oleh semua aparat negra pemerintah, untuk menjaga kelangsungan hidup negara terhadap berbagai kemungkinan gangguan keamanan.

Komando Terotorial TNI dalam bentuk penggelaran kekuatan TNI sebagai alat pertahanan negara. Karena itu, jika fungsi ini dihancurkan berarti TNI kehilangan gelar kekuatan. Kehadiran Komando Teritorial dibutuhkan sepanjang mereka tidak mengerahkan fungsi teritorial seperti yang dilakukan pada masa lalu. Apabila dianggap perlu, maka TNI dapat melakukan penggelaran operasi kemanusiaan atau untuk membantu pemerintah daerah.

Menyinggung keberadaan TNI Angkatan Laut kaitannya dengan Indonesia sebagai negara kepulauan Sekjen Dephan menjelaskan, TNI tidak mengenal sistem pertahanan matra, tetapi dikenal Tri Matra Terpadu, tidak ada salah satu angkatan yang dominan. Ketiga angkatan merupakan kesatuan guna mempertahankan negara dari ancaman dan bertugas memelihara integeritas teritorial. Doktrin pertahanan saat ini adalah mengkombinasikan antara pertahanan militer dan pertahanan nir militer.

Meskipun sebagian besar wilayah Indonesia terdiri dari perairan, hal itu tidak membuat kita memfokuskan kepada TNI Angkatan Laut. Namun demikian diakui Sekjen bahwa benar pemeliharaan TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara membutuhkan anggaran yang besar karena alutsista yang dimilikinya. Sebaliknya TNI Angkatan Darat yang sarat dengan jumlah personel juga membutuhkan alokasi anggaran yang sesuai.

Sumber : Humas Dephan


Kedaulatan Energi : Bung Karno dan Politik Minyak (The Power of Oil)

Maret 30, 2012

kilas balik atas antisipasi runtuhnya kedaulatan energi“Jangan Dengarkan Asing..!!”

Itulah yang diucapkan Bung Karno di tahun 1957 saat ia mulai melakukan aksi atas politik kedaulatan modal. Aksi kedaulatan modal adalah sebuah bentuk politik baru yang ditawarkan Sukarno sebagai alternatif ekonomi dunia yang saling menghormati, sebuah dunia yang saling menyadari keberadaan masing-masing, sebuah dunia co-operasi, “Elu ada, gue ada” kata Bung Karno saat berpidato dengan dialek betawi di depan para mahasiswa sepulangnya dari Amerika Serikat.

Pada tahun 1957, perlombaan pengaruh kekuasaan meningkat antara Sovjet Uni dan Amerika Serikat, Sovjet Uni sudah berani masuk ke Asia pasca meninggalnya Stalin, sementara Mao sudah ambil ancang-ancang untuk menguasai seluruh wilayah perbatasan Sovjet Uni dengan RRC di utara Peking.

Bung Karno sudah menebak Amerika Serikat dan Sovjet Uni pasti akan rebutan Asia Tenggara. “Dulu Jepang ngebom Pearl Harbour itu tujuannya untuk menguasai Tarakan, untuk menguasai sumber-sumber minyak, jadi sejak lama Indonesia akan jadi pertaruhan untuk penguasaan di wilayah Asia Pasifik, kemerdekaan Indonesia bukan saja soal kemerdekaan politiek, tapi soal bagaimana menjadiken manusia yang didalamnya hidup terhormat dan terjamin kesejahteraannya” kata Bung Karno saat menerima beberapa pembantunya sesaat setelah pengunduran Hatta menjadi Wakil Presiden RI tahun 1956.

Saat itu Indonesia merobek-robek perjanjian KMB didorong oleh kelompok Murba, Bung Karno berani menuntut pada dunia Internasional untuk mendesak Belanda menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia “Kalau Belanda mau perang, kita jawab dengan perang” teriak Bung Karno saat memerintahkan Subandrio untuk melobi beberapa negara barat seperti Inggris dan Amerika Serikat.

“Gerak adalah sumber kehidupan, dan gerak yang dibutuhkan di dunia ini bergantung pada energi, siapa yang menguasai energi dialah pemenang”. Ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan energi sebagai puncak kedaulatan bangsa Indonesia, pada peresmian pembelian kapal tanker oleh Ibnu Sutowo sekitar tahun 1960, Bung Karno berkata “Dunia akan bertekuk lutut kepada siapa yang punya minyak, heee….joullie (kalian =bahasa belanda) tau siapa yang punya minyak paling banyak, siapa yang punya penduduk paling banyak…inilah bangsa Indonesia, Indonesia punya minyak, punya pasar. Jadi minyak itu dikuasai penuh oleh orang Indonesia untuk orang Indonesia, lalu dari minyak kita ciptaken pasar-pasar dimana orang Indonesia menciptaken kemakmurannya sendiri”.

Jelas langkah Sukarno tak disukai Amerika Serikat, tapi Moskow cenderung setuju pada Sukarno, ketimbang harus perang di Asia Tenggara dengan Amerika Serikat, Moskow memutuskan bersekutu dengan Sukarno, tapi perpecahan Moskow dengan Peking bikin bingung Sukarno. Akhirnya Sukarno memutuskan maju terus tanpa Moskow, tanpa Peking untuk berhadapan dengan kolonialis barat.

Di tahun 1960, Sukarno bikin gempar perusahaan minyak asing, dia panggil Djuanda, dan suruh bikin susunan soal konsesi minyak “Kamu tau, sejak 1932 aku berpidato di depan Landraad soal modal asing ini? soal bagaimana perkebunan-perkebunan itu dikuasai mereka, jadi Indonesia ini tidak hanya berhadapan dengan kolonialisme tapi berhadapan dengan modal asing yang memperbudak bangsa Indonesia, saya ingin modal asing ini dihentiken, dihancurleburken dengan kekuatan rakyat, kekuatan bangsa sendiri, bangsaku harus bisa maju, harus berdaulat di segala bidang, apalagi minyak kita punya, coba kau susun sebuah regulasi agar bangsa ini merdeka dalam pengelolaan minyak” urai Sukarno di depan Djuanda.

Lalu tak lama kemudian Djuanda menyusun surat yang kemudian ditandangani Sukarno. Surat itu kemudian dikenal UU No. 44/tahun 1960. isi dari UU itu amat luar biasa dan memukul MNC (Multi National Corporation). “Seluruh Minyak dan Gas Alam dilakukan negara atau perusahaan negara”.

Inilah yang kemudian menjadi titik pangkal kebencian kaum pemodal asing pada Sukarno, Sukarno jadi sasaran pembunuhan dan orang yang paling diincar bunuh nomor satu di Asia. Tapi Sukarno tak gentar, di sebuah pertemuan para Jenderal-Jenderalnya Sukarno berkata “Buat apa memerdekakan bangsaku, bila bangsaku hanya tetap jadi budak bagi asing, jangan dengarken asing, jangan mau dicekoki Keynes, Indonesia untuk bangsa Indonesia”.

Ketika laporan intelijen melapori bahwa Sukarno tidak disukai atas UU No. 44 tahun 1960 itu, Sukarno malah memerintahkan ajudannya untuk membawa paksa seluruh direktur perusahaan asing ke Istana. Mereka takut pada ancaman Sukarno. Dan diam ketakutan.

Pada hari Senin, 14 Januari 1963 pemimpin tiga perusahaan besar datang lagi ke Istana, mereka dari perusahaan Stanvac, Caltex dan Shell. Mereka meminta Sukarno membatalkan UU No.40 tahun 1960. UU lama sebelum tahun 1960 disebut sebagai “Let Alone Agreement” yang memustahilkan Indonesia menasionalisasi perusahaan asing, ditangan Sukarno perjanjian itu diubah agar ada celah bila asing macam-macam dan tidak memberiken kemakmuran pada bangsa Indonesia atas investasinya di Indonesia maka perusahaannya dinasionalisasikan.

Para boss perusahaan minyak itu meminta Sukarno untuk mengubah keputusannya, tapi inilah jawaban Sukarno “Undang-Undang itu aku buat untuk membekukan UU lama dimana UU lama merupaken sebuah fait accomply atas keputusan energi yang tidak bisa menasionalisasikan perusahaan asing. UU 1960 itu kubuat agar mereka tau, bahwa mereka bekerja di negeri ini harus membagi hasil yang adil kepada bangsaku, bangsa Indonesia”.

Mereka masih ngeyel juga, tapi bukan Bung Karno namanya ketika didesak bule dia malah meradang, sambil memukul meja dan mengetuk-ngetukkan tongkat komando-nya lalu mengarahkan telunjuk kepada bule-bule itu. Sukarno berkata dengan suara keras :”Aku kasih waktu pada kalian beberapa hari untuk berpikir, kalau tidak mau aku berikan konsesi ini pada pihak lain negara..!”.

Waktu itu ambisi terbesar Sukarno adalah menjadikan Permina (sekarang Pertamina) menjadi perusahaan terbesar minyak di dunia, Sukarno butuh investasi yang besar untuk mengembangkan Permina. Caltex disuruh menyerahkan 53% hasil minyaknya ke Permina untuk disuling, Caltex diperintahkan memberikan fasilitas pemasaran dan distribusi kepada pemerintah, dan menyerahkan modal dalam bentuk dollar untuk menyuplai kebutuhan investasi jangka panjang pada Permina.

***

Bung Karno tidak berhenti begitu saja, ia juga menggempur Belanda di Irian Barat dan mempermainkan Amerika Serikat, Sukarno tau apabila Irian Barat lepas maka Biak akan dijadikan pangkalan militer terbesar di Asia Pasifik, dan ini mengancam kedaulatan bangsa Indonesia yang baru tumbuh.

Kemenangan atas Irian Barat merupakan kemenangan atas kedaulatan modal terbesar Indonesia, di barat Indonesia punya lumbung minyak yang berada di Sumatera, Jawa dan Kalimantan sementara di Irian Barat ada gas dan emas. Indonesia bersiap menjadi negara paling kuat di Asia.

Hitung-hitungan Sukarno di tahun 1975 akan terjadi booming minyak dunia, di tahun itulah Indonesia akan menjadi negara yang paling maju di Asia , maka obesesi terbesar Sukarno adalah membangun Permina sebagai perusahaan konglomerasi yang mengatalisator perusahaan-perusahaan negara lainnya di dalam struktur modal nasional. Modal Nasional inilah yang kemudian bisa dijadikan alat untuk mengakuisisi ekonomi dunia, di kalangan penggede saat itu struktur modal itu diberi kode namanya sebagai ‘Dana Revolusi Sukarno”.

Kelak empat puluh tahun kemudian banyak negara-negara kaya seperti Dubai, Arab Saudi, Cina dan Singapura menggunakan struktur modal nasional dan membentuk apa yang dinamakan Sovereign Wealth Fund (SWF) sebuah struktur modal nasional yang digunakan untuk mengakuisisi banyak perusahaan di negara asing, salah satunya apa yang dilakukan Temasek dengan menguasai saham Indosat.

Sukarno sangat perhatian dengan seluruh tambang minyak di Indonesia, di satu sudut Istana samping perpustakaannya ia memiliki maket khusus yang menggambarkan posisi perusahaan minyak Indonesia.

Suatu hari saat Bung Karno kedatangan Brigjen Sumitro, yang disuruh Letjen Yani untuk menggantikan Brigjen Hario Ketjik menjadi Panglima Kalimantan Timur, Sukarno sedang berada di ruang khusus itu, lalu ia keluar menemui Sumitro yang diantar Yani untuk sarapan dengan Bung Karno, saat sarapan dengan roti cane dengan madu dan beberapa obat untuk penyakit ginjal dan diabetesnya, Sukarno berkata singkat pada Sumitro : “General Sumitro saya titip rafinerij (rafineij = tambang dalam bahasa Belanda) di Kalimantan, kamu jaga baik-baik” begitu perhatiannya Sukarno pada politik minyak.

Kelabakan dengan keberhasilan Sukarno menguasai Irian Barat, Inggris memprovokasi Sukarno untuk main di Asia Tenggara dan memancing Sukarno agar ia dituduh sebagai negara agresor dengan mengakuisisi Kalimantan. Mainan lama ini kemudian juga dilakukan dengan memancing Saddam Hussein untuk mengakuisisi Kuwait sehingga melegitimasi penyerbuan pasukan Internasional ke Baghdad.

Sukarno panas dengan tingkah laku Malaysia, negara kecil yang tak tau malu untuk dijadikan alat kolonialisme, namun Sukarno juga terpancing karena bagaimanapun armada tempur Indonesia yang diborong lewat agenda perang Irian Barat menganggur. Sukarno ingin mengetest Malaysia.

Tapi sial bagi Sukarno, ia justru digebuk Jenderalnya sendiri. Sukarno akhirnya masuk perangkap Gestapu 1965, ia disiksa dan kemudian mati mengenaskan. Sukarno adalah seorang pemimpi, yang ingin menjadikan bangsanya kaya raya itu, dibunuh oleh konspirasi. Dan sepeninggal Sukarno, bangsa ini sepenuhnya diambil alih oleh modal asing, tak ada lagi kedaulatannya dan tak ada lagi kehormatannya.

Sukarno menciptakan landasan politik kepemilikan modal minyak. Inilah yang harus diperjuangkan oleh generasi muda Indonesia, kalian harus berdaulat dalam modal. Bangsa yang berdaulat dalam modal adalah bangsa yang berdaulat dalam ekonomi dan kebudayaannya. Ia menciptakan masyarakat yang tumbuh dengan cara yang sehat.

Bung Karno tidak hanya mengeluh dan berpidato di depan publik tentang ketakutannya seperti SBY, tapi ia menantang. Ia menumbuhkan keberanian pada setiap orang Indonesia. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa manusia Indonesia berhak atas kedaulatan energinya. Wallohu a’lam *** (Dari seorang teman ; the global review).


Paradigma : Dialog Pesantren

Maret 20, 2012

Paling tidak, memasuki dunia pesantren harus memiliki niat dan kesiapan untuk mengenal berbagai hal yang berkaitan dengan barokah. Hanya di sebuah kelembagaan pesantren inilah istilah unik tersebut dapat ditemukan. Sebuah nilai tambah kebaikan dan keutamaan yang dipercaya tumbuh sebagai manfaat dari berjuta pengorbanan Kyai maupun kelembagaan pesantren itu sendiri.

Untuk selanjutnya, nilai tambah kebaikan tersebut dapat diusahakan untuk terraih siapa saja -santri-, dengan ketulusan dan pengabdian terhadap kyai dan pesantren, yang telah secara bulat  mengabdikan seumur hidupnya untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa, agama, dan negara.

Selain tentang nilai tambah dan keutamaan tersebut, ada beberapa hal yang turut mewarnai kebertahanan lembaga kepesantrenan di Indonesia, terutama pesantren-pesantren yang bernaung di bawah kekuatan jamiyah Nahdlatul Ulama (NU). Pesantren hadir dengan pola-pola tersendiri sesuai dengan kebutuhan waktu di mana dia hadir dan mengabdi.

Pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang misalnya, pesantren mampu mewujud sebagai benteng perlawanan bangsa terhadap kolonial. Pesantren merupakan kekuatan dan lambang penolakan terhadap segala bentuk penjajahan dan penindasan. Beberapa catatan sejarah perjuangan bangsa Indonesia menunjukkan bahwa perlawanan rakyat terhadap penjajah yang sangat terrekam heroik itu kerap terinisiasi oleh kekuatan komunikasi jaringan pesantren.

Di Zaman awal republik, pesantren hadir sebagai suatu kesatuan yang terus mengawal kemerdekaan dari gangguan-gangguan yang masih tersisa, maupun ketidak-stabilan internal bangsa dengan diwarnai pemberontakan-pemberontakan di daerah.

Di periode Orde Baru, pada mulanya pesantren masih tetap dalam prinsip yang sama, yakni tetap mengawal kemerdekaan dan merancang pembangunan bangsa bersama pemerintah. Namun dalam perjalanannya, akibat beberapa temuan yang kurang berpihak kepada rakyat, pesantren mengambil posisi sebagai lembaga kontrol pemerintah dan negara untuk kembali memiliki keberpihakan kepada rakyat. Meskipun di beberapa catatan, akibat posisi tersebut pesantren justru mengalami pendiskriminasian karena dianggap mengganggu dan berseberangan dengan hasrat pemerintah pada masa itu.

Dan di era reformasi hingga sekarang ini, selain tetap sebagai kontrol negara yang mesti dipertimbangkan, pesantren juga memiliki PR lain yang tidak kalah mendesaknya, meski tentu hal tersebut tetap menyangkut dengan nasib dan masa depan keutuhan bangsa, yakni dampak globalisasi dan geliat-geliat intoleransi yang mulai tumbuh di mana-mana. Terutama tentang maraknya tindak kekerasan yang mengatas-namakan agama.

Untuk era ini, pesantren mampu menerapkan satu jurusnya kembali untuk tetap berdiri tegak memperjuangkan kepentingan rakyat dan keutuhan bangsa, yakni melalui sebuah tradisi dan kekhasan pesantren melalui seri dakwah dan dialog keagamaannya yang ramah dan mempertimbangkan keberagaman dalam tubuh Indonesia.

Dialog Pesantren: Dakwah di Negeri Multikultural

Di sudut persoalan globalisasi, dakwah dihadapkan pada persoalan tentang bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat global yang ditandai dengan makin sempitnya sekat-sekat antar kultur dan sekat masyarakat etno-religius.

Jika dulu dakwah masih sangat memungkinkan untuk bersikap apriori terhadap luar dunia muslim misalnya, maka saat ini di mana istilah dunia muslim menjadi kelihatan kabur batas-batasnya oleh fenomena globalisasi, maka jalur dakwah tentu tidak dapat berdiri sendiri tanpa menjalin interaksi yang lebih intens dan persuasif dengan banyak komunitas etnis dan etno-religius di seluruh dunia, terlebih di dalam kehidupan bangsa itu sendiri.

Di Indonesia yang beragam dan sangat perlu pertimbangan mengenai gambaran di atas, sejak munculnya, pesantren tidak memiliki banyak masalah dengan hal-hal tersebut. Sebab, pesantren memiliki catatan panjang sejarah yang hangat dan romantis dengan keragaman budaya dan etnik di tengah masyarakat.

Konteks keIslam-an yang ditawarkan oleh dunia pesantren adalah pemahaman agama yang merespon baik kekayaan budaya dan tradisi lokal. Bahkan, mengadopsinya sebagai kekuatan ritual keagamaan yang sangat bersahabat dengan jati diri bangsa. Tahlil, syukuran-syukuran dalam event-event sakral keluarga seperti Nujuh Bulanan, atau yang lainnya misalnya.

Memahami alur dakwah yang seperti ini, maka dirasakan sangat perlu jika pesantren kembali mempertimbangkan konsep-konsep dasar dakwahnya tersebut sebagai solusi untuk tetap menjaga kelanggengan agama dalam di era globalisasi. Dari sana kita dapat memahami ternyata seri dakwah pesantren memiliki karakter tersendiri dengan beberapa sub.

Pertama, dakwah pesantren menghargai keunikan dan keragaman etno-religio. Kedua, mengakui adanya beberapa titik kesamaan dalam keragaman etno-religio, meskipun tentu tidak secara keseluruhan. Ketiga, paradigma keberagaman sebagai fenomena kultur. Keempat, sebuah keharusan dalam progressivisme dan dinamisme dalam memahami agama.

Metode Dakwah Pesantren

Terdapat beberapa hal yang mesti dianalisis kembali mengenai  metode-metode  dakwah yang biasa dilihat dalam masyarakat, dari hal tersebut maka akan dengan mudah apa dan bagaimana dakwah pesantren, terutama alur yang representatif untuk memunculkan peran keagamaannya dalam konteks masyarakat kekinian.

Pertama, dalam Hidayat al-Mursyidin ila thuruq al wa’zi wa al irsyad (Kairo : Dar al I’tisam, tt). Syeikh Ali Mahfuz yang diakui sebagai berotoritas dalam ilmu dakwah membedakan dakwah itu sendiri dalam tiga ranah. Dakwah antar individu muslim, dakwah antar golongan umat muslim, dan dakwah umat muslim kepada non-muslim.

Yang menarik adalah dalam perkembangannya justru dakwah hanya berkutat pada ranah yang terakhir, yakni dalam pengertian sederhana gerakan dakwah adalah gerakan meng-Islamkan umat non-muslim.

Di sinilah metode dakwah pesantren akan sedikit mengambil posisi yang lebih bermanfaat. Pesantren tidak menganggap bahwa konversi iman sebagai  inti dari sebuah gerakan dakwah. Lebih dari itu dakwah pesantren mengusulkan agar target dakwah dikonsentrasikan pemberdayaan umat dalam ranah internal. Dakwah memiliki titik sasaran pemberdayaan untuk kemandirian masyarakat muslim, membuka kesadaran untuk bangkit, dan menawarkan jalinan silaturrahmi yang kuat antar komunitas dengan kebersamaan menguatkan bangsa.

Kedua, dalam ranah kebijakan publik dan politik, dakwah pesantren adalah dakwah yang menawarkan gagasan ide tentang kesetaraan hak-hak warga negara –civil right-. Sesuai dengan ciri khas gerakan pesantren yang tumbuh kembang bersama rakyat lapis bawah secara langsung, maka gerakan dakwahnyapun harus mengikuti dan menjawab kebutuhan masyarakat akar-rumput.

Ketiga, dalam ranah sosial, gerakan dakwah pesantren lebih memilih pendekatan dakwah kultural dibanding militan. Pesantren lebih cenderung memberikan gagasan pengembangan Islam sebagai sistem moral –al Islam huwa al nizham al akhlaqiyah -. Pesantren menolak segala bentuk kekerasan dan penindasan, terlebih dengan mengatas-namakan agama dan gerakan dakwah.

Keempat, dalam konteks -komunikasi global-, dakwah pesantren justru memberikan peluang dialog antara budaya dan keyakinan –intercultur faith understanding-. Pesantren melalui kelembagaan yang lebih formalnya yakni Nahdlatul Ulama (NU) menjadi sebuah tampilan sistem keagamaan yang ramah sekaligus sangat bersikap universal. Berusaha hadir dengan melindungi siapa saja, dan mengembalikan pengertian Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Gerakan dakwah pesantren seperti ini tentu memilliki konsentrasi dan cita-cita mempertahankan kesatuan dan keutuhan bangsa, dan ini dipandang lebih penting dan sesuai dengan konteks ke-Indonesiaan, dibanding hanyut dalam romantisme sejarah kejayaan Islam yang memiliki perbedaan yang tajam dengan kondisi sekarang.

Jika digali dan dikaji lebih lanjut, mungkin masih banyak hal yang menarik dapat ditemukan dari tradisi dakwah ala-pesantren yang benar-benar dibutuhkan oleh bangsa Indonesia sekarang ini. Namun paling tidak, keempat narasi besar metode gerakan dakwah pesantren tersebut cukup mewakili sebuah prinsip bahwa gerakan dakwah pesantren lebih cenderung bersifat dialogis.

Sebuah gerakan dakwah yang responsif terhadap fenomena dan kebutuhan zaman, memiliki pertimbangan kuat terhadap budaya dan tradisi lokal, beriringan dengan prinsip-prinsip perjuangan hak-hak dan nasib masyarakat, serta sebagai corak keagamaan yang ramah dan peka terhadap keberagaman. Wallohu a’lam *** (Oleh : Sobih Adnan. Alumni Pondok Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek Cirebon, dan Mahasiswa Pemikiran Islam di Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon / NU-online).


Catatan : Perspektif “Balanced Scorecard”, Kompetensi Karyawan dan Strategi Perusahaan

Maret 17, 2012

Segala citra perusahaan yang telah dibangun melalui berbagai media iklan dan promosi sebagai sebuah perbelanjaan yang megah dan berkelas dengan didukung oleh orang-orang kompeten, langsung hilang tak berbekas di benak pelanggan. Hal ini terjadi karena orang-orang kuncinya tidak bisa membedakan arti lips service dengan service excellence. Pelanggan sangat kecewa , tidak hanya karena dicurangi oleh petugas gugus depan, tetapi juga tidak merasa terlayani oleh manajer yang kompeten.

Konsep strategi performance manajemen menggunakan balanced scorecard (BSC), telah diperkenalkan Kaplan dan Norton pada tahun 1992 dan terus menerus berkembang sampai saat ini. Konsep tersebut mengatakan bahwa mencapai tujuan perusahaan dengan menggunakan konsep BSC dibutuhkan empat perspektif.

Keempat perspektif tersebut adalah prespektif keuangan, prespektif pelanggan, prespektif proses bisnis internal, dan prespektif pembelajaran.

Ada cause-effect didalam keempat prespektif belanced scorecard. Prespektif keuangan dihasilkan dari pengelolaan prespektif  pelanggan yang baik. Prespektif pelanggan yang baik dihasilkan dari pengelolaan prespektif proses bisnis internal yang baik . Sementara itu, prespektif proses bisnis internal yang baik hanya bisa terjadi  jika didukung oleh prespektif pembelajaran yang baik pula.

Artinya, untuk menghasilkan prespektif keuangan yang baik, tanpa di dukungan prespektif pembelajaran yang berkesinambungan hampir mustahil dilakukan, kecuali perusahaan dalam keadaan mendapatkan  -windfall-  atau keberuntungan. Sementara itu, tidak ada satu perusahaan pun yang bisa mendapatkan windfall secara terus menerus.

Ketika perusahaan melupakan membangun kompetensi karyawan, -dimana membangun kompetensi karyawan merupakan salah satu bagian penting dari prespektif pembelajaran-, maka akan sulit bagi perusahaan untuk mencapai tujuan strategis secara sustainable .

Selain itu, bisa saja investasi dan biaya yang telah dikeluarkan perusahaan untuk mencapai tujuan strategisnya menjadi terbuang sia-sia. *** 


Ta’abud : Cara Jin Beragama

Maret 5, 2012

Salah satu diantara nama-nama Allah SWT dari yang berjumlah 99 (Sembilan puluh Sembilan) atau yang dikenal dengan sebutan -Al-Asma’ Al-Husna- adalah -Al-Khaliq-, artinya Dia-lah yang menciptakan.

Ciptaan-Nya meliputi segala sesuatu, baik itu berupa hal-hal yang nampak oleh mata seperti manusia, hewan, tumbuhan dan alam seisinya ini, maupun keberadaan yang tidak bisa dilihat oleh mata seperti malaikat, surga, neraka dan lain-lain. Termasuk dari makhluk-Nya yang tidak terlihat oleh mata adalah jin.

Jin adalah makhluk ciptaan Allah Swt. Yang berbeda dengan manusia dari asal ciptaanya. Jin dicptakan oleh Allah Swt. Dari api sedangkan manusia diciptakan dari tanah. Allah SWT berfirman dalam surat Ar-Rahman ayat 15 :

وخلق الجان من مارج من نار

Artinya : “Dan dia telah menciptakan jin dari nyala api” (QS. Ar-Rahman ayat: 15)

Demikian pula dalam surat Al-Mu’minun ayat 12 Allah SWT. Menegaskan :

ولقد خلقنا الانسان من سلالة من طين

Artinya : “Dan sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari suatu sari pati dari tanah” (QS. Al-Mu’minun:12)

Sebagai salah satu makhluk Allah Swt. yang tidak terlihat, jin memiliki berbagai kemampuan yang tidak dimiliki oleh manusia, antara lain kemmpuan untuk mengubah wujudnya menjadi berbagai macam bentuk menyerupai manusia dan binatang seperti ular, keledai, unta, sapi dan lain-lain. Hal itu seperti sebuah kisah yang dialami oleh sayyidah Aisyah bahwa beliau melihat seekor ular dalam rumahnya. Kemudin beliau memerintakan untuk membunuh ular tersebut. Akhirnya ular itu pun terbunuh, dan tak lama kemudian beliau diberi tahu bahwa:

إنها من النفر الذين استمعوا الوحي من النبي

(ular tersebut adalah termasuk dari golongan yang pernah mendengarkan wahyu dari nabi (golongan jin).

Setelah mengerti akan hal itu beliaupun mengutus seseorang pergi ke Yaman untuk membeli 40 (empat puluh) budak guna memerdekakan.

Juga ada jin yang mampu memindahkan sesuatu dalam waktu yang singkat. Hal itu seperi yang diceritakan dalam Al-Quran pada masa Nabi Sulaiman bahwa Ifrit yang termasuk salah satu jin sanggup untuk memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum Nabi Sulaiman berdiri dari tempt duduknya.

Meskipun jin itu berbeda dalam hal asal penciptaanya, tetapi dia juga mkhluk Allah Swt. Yang tujuan dari penciptaannya sama dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu tidak lain supaya beribdah kepada Allah. Hal itu sesuai dengan firman Allah Swt.dalam surat Adz-Dzariyat, 56:

وماخلقت الجن والإنس إلا ليعبدون

Artinya : “Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Oleh karna itu seperti manusia, jin juga mukallaf (dibebani) untuk menjalankan perintah Allah dan menjahui segala yang dilarang-Nya Dalam hal ini mereka juga mendapatkan pahala apabila melakukan perbuatan sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Allah Swt. Dan akan disiksa apabila melanggar aturan yang di gariskan.

Jadi, karena mereka semua mukallaf seperti manusia, Allah Swt. Juga mengutus kepada mereka utusan yang akan menyampaikan wahyu.

Para ulama mempunyai pedapat yang sama bahwa risalah nabi kita Muahammad Saw. Tidak hanya terbatas pada manusia saja, melainkan juga mencakup jin, bahkan ada yang mengatakan sampai kepada semua makhluk hidup.

Dalam Al-Quran surat A-Jin di jelaskan. Artinya : “katakanlah telah diwahyukan kepadaku (Nabi Muhammad) bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan Al-Quran menakjubkan(yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan tuhan kami” (QS. Al-Jin: 1-2).

Dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair juga disebutkan :

والنبي صلى الله عليه وسلم مرسل اليهم

Artinya: “Bahwasanya nabi Muhammad diutus kepada mereka (bangsa jin)

Jadi, diantara mereka  (bangsa jin) juga ada yang melakukan shalat dan syariat-syariat  lain yang telah dibawa Nabi Muhammad Saw.

Kesimpulan akhirnya bahwa jin yang beriman kepada Allah SWT. Sebagai Tuhannya  dan Muhammad SAW sebagai utusan-Nya yang terakhir sekaligus menyempurnakan risalah-risalah utusan sebelumnya akan berpegang pada Al-Quran dan Hadis sebagai pedoman hidup.

Semoga dengan tulisan ini meningkatkan kita senantiasa ta’at beribadah, tidak kalah oleh jin. Memang lebih berat, amin. Wallohu a’lam. ***

Sumber: KH.MA. Sahal Mahfudh. Dialaog Problematika Umat. Surabaya : Khalista & LTN PBNU.


Wacana : Pengertian Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Februari 27, 2012

KHR. Muhammad_Nuh_Addawami_Iqbal1

Oleh : KH. Muhammad Nuh Addawami / Wkl. Rois Suriyah PWNU Jabar. Pengasuh Pesantren Nurulhuda, Cisurupan – Garut.

بسم الله الرحمن الرحيم – الحمد لله الملك الحكيم – الجواد الكريم – العزيز الرحيم – الذى خلق الانسان فى احسن تقويم – وفطر السموات والارض بقدرته – ودبر الامور فى الدارين بحكمته – وما خلق الجن والانس الا لعبادته – فالطريق اليه واضح للقاصدين – والدليل عليه لائح للناظرين – ولكن الله يضل من يشاء ويهدي من يشاء وهو اعلم بالمهتدين – والصلاة على سيد المرسلين – وعلى اله الابرار الطيبين الطاهرين – وسلم وعظم الى يوم الدين – اما بعد

Maka sesungguhnya semenjak pertama berdiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama menegaskan diri sebagai penganut, pengemban dan pengembang ajaran islam ‘ala thariiqah ahlussunnah waljama’ah.

Arti Ahlussunnah Waljama’ah

A. Arti menurut Lughot :

Arti Ahli menurut lughat adalah : isteri, keluarga, tukang, pakar, penghuni dan penganut.

Arti As-sunnah menurut lughat adalah :

السيرة , الطريقة, الطبيعة والشريعة

Arti Al-jama’ah menurut lughat adalah :

الفرقة من الناس

(kelompok manusia) dan dikatakan juga terhadap binatang-binatang, umpanya dikatakan jama’ah an-nahl = kelompok tawon).

B. Arti As-sunnah dalam istilah Ahli Hadits :

اقوال الرسول صلى الله عليه وسلم وافعاله واقرارته المفصلة لما اجمل فى القران من الحكم والاحكام

Artinya : perkataan-perkataan Rasul SAW dan perbuatan-perbuatannya dan taqrir-taqrirnya yang menjelaskan pada apa-apa yang global di dalam Al-Quran daripada hikmah-hikmah dan hukum-hukum.

Arti As-sunnah menurut ushuliyyin :

قول النبي صلى الله عليه وسلم وفعله وتقرير

Artinya : perkataan Nabi SAW dan perbuatannya dan taqrirnya.

Adapula para ulama ahli hadits dan ahli ushul fiqh mendefinisikan kata As-sunnah sebagai berikut :

ما جاء عن البي صلى الله عليه وسلم من اقواله وافعاله وتقريره وما هم بفعله

Artinya : apa-apa yang datang dari Nabi SAW berupa perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya dan taqrirnya dan apa-apa yang beliau cita-citakan untuk mengerjakannya.

Yang dimaksud dengan taqrir Nabi SAW adalah perbuatan seorang sahabat Nabi SAW yang diketahui beliau dan beliau tidak menegur atau menyalahkannya.

Arti As-sunnah dalam istilah para fuqaha :

ما يثاب على فعله ولا يعاقب على تركه

Artinya: apa-apa yang mendapat pahala karena mengerjakannya dan tidak akan mendapat siksa karena meninggalkannya.

C. Arti Ahlussunnah waljama’ah dalam dunia Islam adalah :

فرقة الحق من فرق امة محمد صلى الله عليه وسلم

Artinya : kelompok yang benar dari beberapa kelompok umat Nabi Muhammad SAW.

Tersebut dalam hadits :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: والذى نفس محمد بيده لتفترق امتى على ثلاث وسبعين فرقة فواحدة فى الجنة وثنتان وسبعون فى النار قيل: من هم يا رسول الله؟ قال: اهل السنة والجماعة  ; رواه الطبرانى

Artinya : Telah berkata Rasulullah SAW ; Demi Tuhan yang memegang jiwa muhammad sesungguhnya akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah. Yang satu masuk surga dan yang lainnya masuk neraka. Beliau ditanya: siapakah firqah yang masuk surga itu ya Rasulallah? Beliau menjawab : Ahlussunnah waljama’ah. (HR. At-Thabraani).

وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فانه من يعش منكم من بعدى فسيرى اختلافا كثيرا فعليكم بسنتى وسنة الخلفاء المهديين الراشدين تمسكوا بها وعضوا عليها بالنواجذ ; رواه ابو داود

Artinya : Dan telah berkata Rasulullah SAW ; Maka bahwasannya siapa yang hidup (panjang umur) diantaramu setelah meninggal aku niscaya ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka pegang teguhlah sunnah-ku dan sunnah khalifah-khalifah al-mahdiyyin ar-rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu. (HR. Abu Dawud)

وقال النبي صلى الله عليه وسلم: ان بنى اسرائيل تفرقت على ثنتين وسبعين ملة وتفترق امتى غلى ثلاث وسبعين ملة كلهم فى النار الا ملة واحدة. قالوا:ومن هي يا رسول الله؟ قال: ما انا عليه واصحابى. ; رواه الترميذى

Artinya: Dan telah berkata Nabi SAW ; sesungguhnya bani Israil telah pecah atas 72 millah, dan akan pecah umatku atas 73 millah, semuanya masuk neraka kecuali millah yang satu. Para sahabat bertanya: siapakah millah yang satu itu ya Rasulallah? Nabi menjawab: ialah millah aku dan sahabat-sahabatku atasnya. (HR. At-Tirmidzi).

Dari tiga riwayat hadits tersebut dihasilkan pengertian bahwa As-sunnah waljama’ah itu :

ما عليه النبي صلى الله عليه وسلم واصحابه, سنة النبي صلى الله عليه وسلم وسنة الخلفاء الراشدين, ملة النبي صلى الله عليه وسلم واصحابه

Maka dari itu arti Ahlussunnah waljama’ah dalam dunia islam adalah :

اهل ملة النبي صلى الله عليه وسلم والخلفاء الراشدين واصحابه

Pada prinsipnya Ahlussunnah waljama’ah itu adalah : orang-orang yang menerima risalah Rasulullah Muhammad SAW dengan baik dan benar secara kaaffah (aqidah, ibadah dan akhlaq).

***

Risalah Rasulullah SAW itu semuanya tertuang dalam Al-Quran dan As-sunnah secara tersurat dan tersirat. Diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Rasulullah SAW pernah berkata :

تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ نَبِيِّه

Artinya : aku telah meninggalkan pada kalian dua perkara, sepanjang kalian berpegang padanya maka tak akan sesat selamanya, ialah kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.

Di masa hidup Rasulullah SAW menerima risalah Rasulullah SAW tersebut relatif mudah, tidak sulit sesulit pada masa setelah wafatnya, apalagi setelah inqiradh para sahabatnya. Di masa Rasulullah SAW masih hidup di dunia, bagi yang ingin menerima risalahnya hanya tinggal bertanya kepadanya dan mengikuti langsung apa-apa yang dikatakan, dikerjakan dan direstuinya.

Sedangkan pada masa setelah wafat beliau SAW terutama setelah inqiradh para sahabatnya apalagi dalam masalah baru seiring dengan perkembangan zaman, kesulitan menerima risalah itu amat terasa sulit sekali, sehingga para penerimanya memerlukan kecermatan yang kuat dalam memahami al-quran dan as-sunnah, berijtihad dan beristinbath yang akurat menurut metoda yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya menurut ukuran prinsip-prinsip risalah Rasulullah SAW itu sendiri dengan logika yang benar, berbekal perbendaharaan ilmu yang cukup jumlah dan jenisnya, berlandaskan mental (akhlaq) dan niat semata-mata mencari kebenaran yang diridhai Allah SWT.

Hal semacam itu diperlukan karena keadaan kalam Allah SWT dan kalam Rasulillah SAW itu adalah kalam yang balaghah sesuai dengan muqtadhal hal dan muqtadhal maqam, keadaan lafadz-lafadznya beraneka ragam, ada lafadz nash, ada lafadz dlahir, ada lafadz mijmal, ada lafadz bayan, ada lafadz muawwal, ada yang umum, ada yang khusus, ada yang mutlaq, ada yang muqoyyad, ada majaz, ada lafadz kinayah selain lafadz hakikat. ada pula nasikh dan mansukh dan lain sebagainya.

Oleh karena itu bagi setiap sang penerima risalah Rasulullah SAW pada masa setelah wafat beliau SAW dan setelah inqiradh para sahabatnya RA memerlukan :

a. Mengetahui dan menguasai bahasa arab sedalam-dalamnya, karena al-quran dan as-sunnah diturunkan Allah dan disampaikan Rasulullah SAW dalam bahasa arab yang fushahah dan balaghah yang bermutu tinggi, pengertiannya luas dan dalam, mengandung hukum yang harus diterima. Yang perlu diketahui dan dikuasainya bukan hanya arti bahasa tetapi juga ilmu-ilmu yang bersangkutan dengan bahasa arab itu seumpama nahwu, sharaf, balaghah (ma’ani, bayan dan badi’).

b. Mengetahui dan menguasai ilmu ushul fiqh, sebab kalau tidak, bagaimana mungkin menggali hukum secara baik dan benar dari al-quran dan as-sunnah padahal tidak menguasai sifat lafad-lafad dalam al-quran dan as-sunnah itu yang beraneka ragam seperti yang telah dikatakan tadi yang masing-masing mempengaruhi hukum-hukum yang terkandung di dalamnya.

c. Mengetahui dan menguasai dalil ‘aqli penyelaras dalil naqli terutama dalam masalah-masalah yaqiniyah qath’iyah.

d. Mengetahui yang nasikh dan yang mansukh dan mengetahui asbab an-nuzul dan asbab al-wurud, mengetahui yang mutawatir dan yang ahad, baik dalam al-quran maupun dalam as-sunnah. Mengetahui yang sahih dan yang lainnya dan mengetahui para rawi as-sunnah.

e. Mengetahui ilmu-ilmu yang lainnya yang berhubungan dengan tata cara menggali hukum dari al-quran dan as-sunnah.

Bagi yang tidak memiliki kemampuan, syarat dan sarana untuk menggali hukum-hukum dari al-quran dan as-sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah padahal dia ingin menerima risalah Rasulullah SAW secara utuh dan kaffah, maka tidak ada jalan lain kecuali taqlid kepada mujtahid yang dapat dipertanggungjawabkan kemampuannya. Diantara para mujtahid yang madzhabnya mudawwan adalah empat imam mujtahid, yaitu:
– Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit;
– Imam Malik bin Anas;
– Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i ; dan
– Imam Ahmad bin Hanbal.

Mengharamkan taqlid dan mewajibkan ijtihad atau ittiba’ dalam arti mengikuti pendapat orang disertai mengetahui dalil-dalilnya terhadap orang awam (yang bukan ahli istidlal) adalah fatwa sesat dan menyesatkan yang akan merusak sendi-sendi kehidupan di dunia ini. Memajukan dalil fatwa terhadap orang awam sama saja dengan tidak memajukannya. (lihat Hasyiyah ad-Dimyathi ‘ala syarh al- Waraqat hal 23 pada baris ke-12).

Apabila si awam menerima fatwa orang yang mengemukakan dalilnya maka dia sama saja dengan si awam yang menerima fatwa orang yang tidak disertai dalil yang dikemukakan. Dalam artian mereka sama-sama muqallid, sama-sama taqlid dan memerima pendapat orang tanpa mengetahui dalilnya.

Yang disebut muttabi’ “bukan muqallid” dalam istilah ushuliyyin adalah seorang ahli istidlal (mujtahid) yang menerima pendapat orang lain karena dia selaku ahli istidlal dengan segala kemampuannya mengetahui dalil pendapat orang itu. Adapun orang yang menerima pendapat orang lain tentang suatu fatwa dengan mendengar atau membaca dalil pendapat tersebut padahal sang penerima itu bukan atau belum termasuk ahli istidlal maka dia tidak termasuk muttabi’ yang telah terbebas dari ikatan taqlid. Pendek kata arti ittiba’ yang sebenarnya dalam istilah ushuliyyin adalah ijtihad seorang mujtahid mengikuti ijtihad mujtahid yang lain.

Khusus di bidang al-‘aqaid ad-diniyyah dari kalangan ahli al-kalam ahli an-nadzri al-‘aqli wa shana’at al-fikriyah (ahli logika), yang disebut ahlussunnah waljama’ah itu adalah para pengikut al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan para pengikut al-Imam Abu Mansur al-Maaturiidi.

Dikatakan oleh al-‘allamah as-sayyid Muhamad bin Muhammad al-Husaini Az-Zabiidi (wafat tahun 1205 H) begini :

اذا اطلق اهل السنة والجماعة فالمراد بهم الاشاعرة والماتريدية

Artinya :  tatkala disebutkan nama Ahlussunnah waljama’ah, maka maksudnya adalah para pengikut al-imam Al-Asy’ari dan para pengikut al-imam Al-Maaturiidi. (Ittihaaf as-saadah al-muttaqiin, jilid II hal. 8). Wallohu a’lam *** (Iqbal1).