Saatnya Bangkit Bangun ~Industri Dirgantara Nasional~

Desember 6, 2012

Menetap di benua maritim seperti Indonesia, menguasai teknologi dirgantara dinilai bisa meningkatkan persatuan dan kesatuan. Terlebih lagi, mantan Presiden Indonesia Soekarno menggaris bawahi pentingnya penguasaan teknologi dirgantara dengan memasukkan Komando Pelaksana Industri Penerbangan pada 1960-an dalam kabinet pemerintahannya.

Hal itu diungkapkan perintis industri penerbangan modern Indonesia sekaligus mantan Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J. Habibie), saat menyampaikan orasi dalam Peringatan 50 Tahun Pendidikan Teknik Penerbangan Institur Teknologi Bandung di Jakarta Convention Center, Sabtu (1/112/2012). Menurutnya, Indonesia harus bisa memiliki wawasan untuk produk dirgantara dan maritim.

Untuk terus bisa mengimplementasikan visi pengembangan kedirgantaraan Bung Karno itu, Habibie mengungkapkan diperlukannya penerus untuk memajukan teknologi dan industri penerbangan Indonesia. “Saya berkewajiban agar ada estafet, supaya tidak dihentikan oleh kekuatan luar negeri,” tutur Habibie.

Lebih lanjut, diungkapkan Habibie, Indonesia memiliki tantangan untuk mengembangkan teknologi penerbangan. Sebagai benua maritim yang terdiri dari 80 persen perairan, mengembangkan teknologi penerbangan tentu tidak mudah di Indonesia mengingat luasnya Tanah Air.

“Indonesia itu besar dan benua maritim yang 80 persennya air, tentu dari sabang sampai marauke tidak bisa menggunakan kereta api, terlebih lagi jika datang dari negara lain,” jelasnya.

Industi penerbangan bukan hal yang awam bagi Indonesia, terbukti  saat peluncuran N-250 yaitu pesawat regional komuter turboprop rancangan asli IPTN (sekarang PT Dirgantara Indonesia) yang diluncurkan pada 1995 menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng.

“Dibanding negara lain kita sudah mulai sejak tahun 1995 (industri penerbangan), 17 tahun lalu. Kini, kita harus bangkit kembali karena tidak ada “makan siang” secara cuma-cuma, jadi kita harus berkorban dan berjuang,” pungkasnya. (*** Berbagai sumber)


Berita : HABIBIE BAKAL HADIRKAN GENERASI TERBARU N-250

Desember 5, 2012
Teknologi Kebanggaan Bangsa Indonesia

Teknologi Kebanggaan Bangsa Indonesia

Presiden Ke-3 Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie (B.J Habibie) kian mantap menumbuhkan kembali industri penerbangan Indonesia. Optimisme Habibie itu didukung dengan banyaknya orang Indonesia yang memiliki pengalaman dalam industri penerbangan.

Berbekal pengalaman dan keahlian putra-putri Indonesia dalam teknologi dan industri penerbangan, Habibie yakin dalam lima tahun mendatang Indonesia bisa menghadirkan pesawat yang melebihi N-250.

“Banyak anak-anak kita, yang di luar negeri juga memiliki pengalaman dalam industri penerbangan. Saya perkirakan tahun 2013 akan mulai (perkembangan industri penerbangan Indonesia), Insya Allah tahun 2018 kita akan memiliki pesawat yang lebih baik daripada N-250,” kata Habibie di sela-sela acara Peringatan 50 Tahun pendidikan Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Sabtu, 1 Desember 2012.

“Kita akan melihat kembalinya N-250, tapi tentu yang lebih canggih dan perusahaannya juga telah dibentuk,” lanjut Habibie.

Sementara itu, untuk kembali membangun undustri penerbangan Indonesia, Habibie berharap pemerintah melaksanakan dan melanjutkan proses yang nantinya akan dijalani. “Lanjutkan apa yang sudah kita mulai supaya bisa lebih baik daripada sebelumnya, serta harus mengamankan supaya produk dalam negeri lebih baik,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Habibie saat ini tengah berusaha membangun kembali “kerajaan” penerbangan dengan pengetahuan teknologi yang dimilikinya. Pria berusia 76 tahun ini mendirikan perusahaan dirgantara PT Ragio Aviasi Industri (RAI) yang dibentuk bersama PT Ilhabi Rekatama dan PT Eagle Capital.

Dalam manajemen PT RAI, Habibie dipercaya sebagai Ketua Dewan Komisaris. Melalui perusahaan tersebut, Habibie berusaha mengembangkan kembali rancangan pesawat N-250 yang data-datanya saat ini masih dimiliki bangsa Indonesia.

 Strategi Ilham Habibie Membangkitkan N-250

Presiden Direktur PT Ilthabi Rekatama, Ilham Akbar Habibie, yang juga merupakan putra sulung dari mantan Presiden BJ Habibie, menyatakan upaya pihaknya untuk terus membangkitkan kembali N-250 menjelma menjadi pesawat generasi baru, Regio Prop.

Ilham Akbar Habibie tengah mempersiapkan kebangkitan kembali industri pesawat terbang N-250. Ilham bahkan sudah mempersiapkan strategi khusus memasarkan pesawat ini. “Kami akan fokus dulu untuk mengarap pasar Asia Tenggara,” kata Ilham kepada VIVAnews, Selasa 21 Agustus di Jakarta. Dengan strategi itu, diharapkan industri  pesawat yang kini mati suri itu bisa kembali bangkit.

Pasar Asia Tenggara dibidik, kata Ilham, sebab 50 persen pangsa pasar pesawat turborprop atau pesawat baling-baling (propeller) berada di Asia Tenggara. Ini karena pesawat jenis itu cocok digunakan di daerah berkontur geografis seperti Asia Tenggara. Salah satu kelebihan pesawat propeller sejenis N-250 adalah pada kehandalannya dalam penerbangan jarak pendek. Dibanding pesawat jet, pesawat bermesin baling-baling jauh lebih efisien dan hemat.

Daya tampung N-250 pun cukup memadai, karena didesain pesawat ini mampu mengangkut 50-70 penumpang. Oleh karena itu Ilham yakin maskapai-maskapai penerbangan di Asia Tenggara nantinya akan lebih memilih pesawat produksi negara sekawasan ketimbang memesan pesawat buatan Eropa dan Amerika.

Sesungguhnya salah satu pesaing potensial N-250 adalah Fokker-50. Tapi pesawat jenis itu kini  tidak lagi diproduksi oleh Fokker Aviation, Belanda, sebab sudah pailit pada tahun 1996. Jadi pesaing pesawat N-250 pun tinggal dua yaitu ATR 72 pmilik perusahaan Prancis-Italia dan Bombardier Dash-8 produksi Kanada.

Kedua pesawat propeller itu produksi Eropa. Maka N-250 adalah satu-satunya pesawat sejenis yang diproduksi di Asia Tenggara. Ini memperkuat tekad Ilham untuk menguasai pasar sekawasan yang tak asing lagi. Apalagi N-250 terbilang modern di kelasnya.

Direktur Aerostructure PT. Dirgantara Indonesia, Andi Alisjahbana (Sekarang Direktur Teknologi dan Pengembangan), mengatakan bahwa N-250 memang diciptakan untuk merebut pasar jenis pesawat itu.

“Hingga sekarang N-250 merupakan pesawat termodern di kelasnya. Pesawat sejenis yang digunakan Wings Air misal, MA-60 yang mengambil desain dari Antonov, dan ATR-72, didesain tahun 1980-an. Sementara N-250 dibuat tahun 1990-an,” ujarnya.

Ilham menjelaskan bahwa di masa depan produksi pesawat N-250 tidak akan seluruhnya dilakukan di Indonesia, tapi juga disubkontrakkan kepada pabrikan pesawat di negara-negara satu kawasan seperti Malaysia dan Thailand. “Kami tidak bisa berjalan sendiri karena semua pabrik pesawat tidak berdiri sendiri, tapi pasti punya supplier. Jadi punya banyak mitra di negara-negara lain itu wajar,” terang Ilham.

PT. RAI yang 51 persen sahamnya dikuasai PT. Ilthabie Rekatama selanjutnya bakal berperan sebagai perusahaan inti yang merangkul perusahaan-perusahaan lain di satu kawasan. Saham PT. RAI sendiri tidak hanya dimiliki oleh PT. Ilthabie Rekatama, tapi juga oleh PT. Eagle Cap milik Erry Firmansyah, mantan Direktur Utama PT. Bursa Efek Indonesia (49 persen).

Pesawat N-250 adalah pesawat regional komuter turboprop rancangan asli PT. Industri Pesawat Terbang Nusantara (Persero) / IPTN, -yang sekarang telah berubah menjadi -PT Dirgantara Indonesia (Persero)-. Pesawat ini merupakan primadona IPTNdalam usaha merebut pasar di kelas 50-70 penumpang dengan keunggulan yang dimiliki di kelasnya (N-250 saat diluncurkan pada tahun 1995).

Sayangnya N-250 yang menjadi bintang pameran pada saat Indonesian Air Show 1996 di Cengkareng, harus dihentikan produksinya setelah krisis ekonomi 1997. *** (Berbagai Sumber)


Rehat : X-47B DRONE BARU AMERIKA

Desember 5, 2012
Mesin Pembunuh Baru Buatan Negeri Ubcle Sam

Mesin Pembunuh Baru Buatan Negeri Ubcle Sam

Amerika Serikat tengah mengembangkan pesawat nirawak (drone) robot pintar yang dikendalikan dengan kecerdasarn artifisial (artificial intelligence). Pesawat ini dapat berpikir dan menentukan target sendiri, dengan sedikit sekali campur tangan manusia.

Diberitakan Daily Mail, Kamis 29 November 2012, drone tipe X-47B ini tengah diuji di tengah laut. Jika drone ini mampu melewati seluruh ujian yang dilakukan, maka alat pembunuh ini bisa secara mandiri mendarat dan bertugas di kapal induk AS.

Dikembangkan selama lima tahun, drone X-47B dirancang untuk bisa mengudara dan terbang dengan hanya beberapa kali klik pada mouse. Tidak seperti drone model sebelumnya, X-47B tidak akan dikendalikan dengan pengendali oleh manusia.

Drone ini memiliki unit pengendali canggih yang mampu berpikir secara independen, melakukan tugas dengan benar dan menentukan sendiri target selanjutnya. Walaupun X-47B mampu menentukan target sendiri, namun Pentagon menjamin bahwa yang menekan pelatuk untuk menembak adalah manusia.

Pengujian pesawat ini dilakukan di Chesapeake Bay dekat Sungai Patuxent, Maryland, Senin lalu. Dalam pengujian, dilakukan beberapa manuver operasi yang diluncurkan dari kapal induk USS Harry S. Truman.

Pesawat ini dirancang oleh perusahaan Northrop Grumman yang bekerja sama dengan beberapa perusahaan aviasi militer terkemuka AS, seperti Pratt & Whitney dan Lockheed Martin.

Drone menjadi andalan AS dalam menghancurkan musuh, terutama di wilayah-wilayah terpencil di Pakistan atau Afganistan. Menurut data New American Foundation, dalam 337 serangan drone sejak tahun 2004, lebih dari 3.000 orang tewas.

Banyak juga warga sipil dan anak-anak yang menjadi korban serangan drone. Warga Pakistan harus hidup dalam ketakutan karena setiap saat mereka bisa dihantam roket drone AS.  *** (Ref. Indo-Defence-2012)


Warta : PTDI TURUT DALAM RANCANG BANGUN AIRBUS A350

April 13, 2012

Istana_Negara_Iqbal1Jakarta (ANTARA News) – PT Dirgantara Indonesia (Persero), Rabu, mencatat sejarah baru dan “naik kelas” dengan menjadi mitra rancang bangun setara bagi Airbus, dalam pembuatan A350. PT DI bukan lagi sekedar pembuat komponen (manufacturing) seperti sebelumnya.

Langkah maju PT DI itu ditandai penandatanganan memorandum kesepahaman antara PT DI dengan Airbus Industrie di Jakarta, yang menjadi salah satu agenda dalam kunjungan kenegaraan PM Inggris, David Cameron, yang disertai 30 pebisnis utama Inggris, termasuk dari Airbus.

PT DI dalam penandatanganan yang berlangsung di Istana Negara itu diwakili Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI, Ardonni Jafri. Kini, selain mampu membuat komponen untuk pesawat Airbus, PT DI dipercaya untuk berkontribusi dalam rancang bangun pesawat Airbus A350.

Bicara soal Airbus ini, konsep dan praktis pengendalian pesawat terbang dua awak (two men cockpit) berbasis sistem elektronika (fly by wire) jajaran pesawat komersial A-300 buatan konsorsium penerbangan Eropa ini diprakarsai tokoh kedirgantaraan nasional, Wiweko Supomo.

Supomo, yang pernah menjadi direktur utama PT Garuda Indonesian Airways (saat itu) juga sahabat kental Nurtanio, pendiri PT DI, yang kemudian namanya sempat diabadikan menjadi pusat unggulan industri kedirgantaraan satu-satunya di Asia Tenggara itu.

Mengomentari perkembangan pesat PT DI itu, Direktur Utama PT DI, Budi Santoso, menggarisbawahinya sebagai langkah awal menuju status sebagai kontraktor rancang bangun bagi Airbus.

“Pekerjaan rancang bangun ini akan menjadi langkah awal sebagai kontraktor rancang bangun bagi pesawat-pesawat Airbus,” katanya.

Bukan hanya itu, Santoso yakin kesepakatan yang ditandatangani pihaknya dengan Airbus juga berharap PTDI menjadi pemasok tier-1 (tingkat 1) bagi Airbus.

Ardonni, mengatakan kesepakatan itu secara khusus ditujukan dalam rancang bangun pengembangan pesawat Airbus A350, jenis pesawat berbadan lebar berteknologi masa depan, yang dimulai tahun ini juga.

Pesawat A350 itu sendiri kini masih dalam tahap perancangan, dimana PT DI akan menyertakan para insinyurnya sebagai pemikir-pemikir dan penghitung bagian-bagian dari pesawat masa depan tersebut.

“Kami kini masuki tahapan kerja kerah putih, tak lagi kerah biru,” kata Ardonni.

Dia menambahkan, selain mengangkat nama bangsa dalam teknologi rekayasa pesawat terbang, PT DI kini mendapatkan nilai tambah 60 persen lebih besar dari hasil pekerjaaan yang dilakukan para personilnya dalam proyek rekayasa seperti itu

Menurut dia, pengakuan Airbus tersebut bukan hal mudah karena sebelum memutuskan menjadikan PT DI mitra rancang bangun, Airbus telah turun ke PT DI di Bandung dan mengaudit sistem yang digunakan PT DI guna mengukur kemampuan rancang bangunnya.

Sebelumnya, sejak 2002 PT DI telah dipercaya membuat berbagai komponen untuk struktur Airbus A320/321/330/30/350 dan bahkan pesawat berlantai dua dan terbesar di dunia A380 sejak tahun 2002 yang diperoleh lewat Spirit (saat ini BAe System) dan juga dari CTRM Malaysia. *** (Ant/Promosi).


Airbus Military signs contract with Indonesia for nine C295 aircraft

Februari 16, 2012

Airbus Military has signed today a firm contract with PT Dirgantara Indonesia (PT DI) to supply nine C295 military transport aircraft for delivery to the Indonesian Ministry of Defense. The contract between PT DI and the Ministry of Defense of Indonesia was signed simultaneously and witnessed by the Minister of Defense, H. E. Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro and the Chief of Armed Forces Admiral Agus Suhartono at a ceremony at the Singapore Airshow. The Indonesian designation of the aircraft will be CN295.

The aircraft will be operated by the Indonesian Air Force throughout the vast territory of Indonesia, which includes around 17.000 islands. The aircraft will support of a variety of missions including military, logistical, humanitarian and medical evacuation missions. The first delivery is foreseen to start in 2012 and by summer 2014 all aircraft will have been delivered.

Additionally, the plan covers a substantial industrial collaboration between PT DI and Airbus Military for the C295 program, including the manufacturing of the tail empennage, rear fuselage and fuselage panels, as well as workpackages for the development of computer based training systems and the set up of a service, delivery center and a FAL in Indonesia.

“This is a proud moment for our country as well as for the Indonesian aerospace industry. The C295 provides the ideal capacity to respond to Indonesia´s current and future military and humanitarian transport needs and does so very cost-efficiently, with full participation of the Indonesian aerospace industry, creating high skilled jobs and technology transfer,” said H. E. Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro, the Minister of Defence of Indonesia Republic.

“This contract builds on the long and excellent partnership that exists between Airbus Military and the Indonesian aerospace industry. It will provide our country with the right capability for the years to come and allows PT DI to grow its aerospace business as a tier 1 supplier. This will position PTDI on the global aerospace scene and allow us to enhance our skills and workforce,” said Dr. Budi Santoso the President Director of PT Dirgantara Indonesia (Persero).

“Airbus Military is honored that the Indonesian Ministry of Defence has choosen the C295 for its fleet and we look forward to continue our successful partnership with PT DI. We will ensure that we live up to this mark of confidence, which demonstrates the value that the CN295 provides to the armed forces around the world”, said Domingo Urena-Raso, President and CEO of Airbus Military.

Over 85 C295s are in service today with 14 different operators.

About the C295

The new generation C295 is the ideal aircraft for defence and civic mission to the benefit of society, such as humanitarian actions, maritime patrol, and environmental surveillance missions, amongst others. Thanks to its robustness and reliability, and with simple systems, this medium sized tactical airlifter provides wide versatility and flexibility, necessary for personnel, troop and bulky/palletized cargo transportation, medical evacuation, communication and logistic duties or paratroop air-dropping capabilities.

The C295’s excellent versatility also allows it to be configured in special versions to perform specific missions with top efficiency such as Gunship, Ground Surveillance, Search & Rescue, Maritime Patrol, Anti-Submarine Warfare, SIGINT or Airborne Early Warning.

Its mix of dual technology civil/military equipment ensure success on demanding tactical mission, growth potential for future equipment as well as compatibility with the latest civil airspace environment.

C295s in service today have accumulated more than 110,000 flying hours in the most demanding conditions, from extreme cold weather to hot desert areas.

The C295 is part of Airbus Military’s family of light and medium airlifters which also includes the smaller C212 and CN235 platforms.

About PT Dirgantara Indonesia

PT Dirgantara Indonesia (PT DI) manufacturing site is in Bandung, Indonesia. The company main products are aircrafts; aircraft structure component; aircraft services; and engineering. PT DI Assembly Lines produce various types of CN235 under TC for civil / military transport, maritime patrol, surveillance, and coast guard, other than those also produce under licenses the NC212-200, NAS332 Super Puma and NBell412. PT DI has delivered over 340 aircraft to 49 civil  / military operators. PT DI Manufacture produces aircraft parts, components, tools and fixtures for A320/321/330/340/350/380 of Airbus, for MK2 and EC725 of Euro copter and for CN235, C212-400 and C295 of Airbus Military. PT DI Aircraft Services provides maintenance, overhaul, repair, alteration and logistic support for CN235, Bell412, BO-105, NC-212-100/200, NAS332 Super Puma, B737-200/300/400,/500, A320, Fokker 100, Fokker 27. PT DI Engineering provides engineering and analysis and flight simulators. PT DI is an Indonesian state owned enterprise that was established in 1976.

Contacts for the media :

Budiman Saleh :  (+62 22 603 7995 / 605 4669)

Arie Wibowo : (+62 22 600 2572 / 605 4130)


Press Release : Letter of Intent to Purchase N-219

Februari 16, 2012

(Singapore  February 15, 2012) On Wednesday, February 15th , 2012,  Budi Santoso as President Director of PT Dirgantara Indonesia (Persero)/PTDI and Laurens Prawira Nitimihardja acting as President Director of PT Nusantara Buana Air (NBA) agree to sign a Letter of Intent (LOI) at a venue during the Singapore Air Show 2012.

The signing was followed by Memorandum of Understanding  to support financing the program between PT Dirgantara Indonesia, PT Nusantara Buana Air and RTCom Investment Com Ltd.

This ceremony was witnesess by three minister of Republik of Indonesiana from left to right : MS Hidayat  (the minister of industry), Dahlan Iskan (minister of state enterprices) and Gita Wiryawan (minister of Trade).

NBA intents to purchase 20 (twenty) N219 aircraft and additional option of 10 (ten)  N219 aircraft manufactured by PTDI to support its flight armada in the event to develop its operational flight, for the total amount of US$ 120 million.

Both parties agree to create a team to discuss and to negotiate all the technical and business aspects.

In the meantime PTDI is still developing the N219 aircraft and plans to manufacture the aircraft immediately after getting the certification at the first quarter of 2014. 

This twin turboprop engine that accommodates 19 passengers or 3000 kg of cargo is planned to replace old aircraft operated within Indonesian territory, and the proposed specification of the aircraft is as follow :

–     Maximum cruising speed : 213 kts

–     Maximum range : 1580 Nm

–     Take off length (SL,ISA,MTOW) : 1398 ft

–     Landing field length : 1588 ft

–     Maximum take off weight : 16000 lbs

–     Maximum cruising altitude : 10000 ft

–     Maximum ceiling altitude : 24000 ft

–     Maximum payload : 5460 lbs


Karya Anak Bangsa : Dirgantara Combat Helicopter “GANDIWA”

Januari 19, 2012

Atas kehormatan undangan dari Menejemen Komunikasi PT Dirgantara Indonesia (Persero) di Bandung kepada penulis untuk hadir dalam beberapa konferensi persnya beberapa waktu yang lalu, alhamdulillah ada beberapa cuplikan yang  dapat penulis tuangkan disini.

Posting ini antara lain tentang Dirgantara Combat Helicopter “Gandiwa”. Sebuah sarana alat pertahanan keamanan berupa karya dari anak bangsa yang tergolong canggih. Bagi penulis ini sangat menarik dan perlu memberikan apresiasi, dan semoga bermanfaat bagi inspirasi pemerhati. Memang, cinta kepada bangsa dan tanah air dapat dilakukan dengan berbagai cara, -karya teknologi umpamanya-. Atas dedikasi tsb, publik mempunyai kepentingan mengetahui bagaimana akuntabilitasnya. Sebagaimana implementasi Undang-undang Kebebasan Informasi Publik (KIP).

Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA merupakan helikopter militer dengan peran utama sebagai pesawat/helikopter tempur, dengan kemampuan menyergap target di darat, seperti musuh infanteri dan kendaraan lapis baja. Dikarenakan helikopter ini dilengkapi dengan persenjataan berat, kadang disebut juga sebagai gunship helicopter. Karena helikopter ini juga dapat dipakai untuk melakukan penyerangan, maka biasa disebut juga sebagai helikopter serang (attackt helicopter).

Senjata yang digunakan pada helikopter tempur ini dapat mencakup autocannons, machine-guns, roket, dan peluru kendali seperti Hellfire. Selain itu helikopter ini juga mampu membawa rudal udara ke udara, meskipun sebagian besar untuk tujuan pertahanan diri.

Secara umum, Dirgantara Combat Helicopter memiliki dua tugas utama : Pertama, untuk memberikan dukungan udara secara langsung dan tepat bagi pasukan darat. Dan kedua, sebagai anti-tank, dimana tugasnya adalah menghancurkan kendaraan lapis baja miilik musuh.

Design Development

Helikopter tempur GANDIWA adalah helikopter dengan konfigurasi 2 orang crew (1 orang pilot dan 1 orang co-pilot/gunner) dengan posisi tandem. Helikopter ini memiliki dua buah engine dan satu buah dengan empat bilah composite bearingless rotor utama (main rotor) dan satu buah rotor ekor (tail rotor). Helikopter ini dilengkapi juga dengan wing pylon untuk mensupport persenjataan yang dibawanya.

Dirgantara Combat Helicopter GANDIWA dikembangkan dengan memakai base helicopter Bell412. Modifikasi utama dilakukan dengan merubah konfigurasi dari konfigurasi side-by-side, menjadi konfigurasi tandem. Selain itu dilakukan desain support untuk senjata-senjata yang akan dibawa.

Main rotor, tail rotor, engine dan juga gearbox diusahakan tidak dilakukan perubahan besar dari basis helikopter. Avionik dan sistem diubah dan disesuaikan dengan kebutuhan utama dari helikopter ini. Glass cockpit avionic system akan dipakai untuk memudahkan pilot dalam menjalankan misinya. Penambahan sistem senjata dan firing control juga menjadi hal utama yang dilakukan di dalam pengembangan helikopter ini.

Berat dan distribusi berat diusahakan tidak berubah banyak dari basis helikopter. Penumpang dan payload yang biasa dibawa oleh basis helikopter, diganti menjadi senjata dan amunisi pada helikopter tempur GANDIWA.

Sekilas Tentang “Gandiwa”

Andi_Ali_Syahbana_presentasi_Gandiwa_to_Menhan_Panglima_Alpahan_MabesNama GANDIWA diambil dari nama senjata milik Arjuna yang didapat dari Dewa Baruna.

Senjata panah sakti ini dilengkapi dengan tabung yang berisi panah yang tak terhingga jumlahnya.

Ctr. Direktur Teknologi dan Pengembangan PT. Dirgantara Indonesia (Persero) Dr. Andi Alisjahbana memberikan penjelasan ihwal “Gandiwa” ini kepada Menteri Pertahanan, Panglima TNI, Para Kepala Staf Angkatan dan Petinggi TNI lainnya seusai Rapat Pimpinan TNI yang diikuti dengan Static Show Alat Pertahanan di Markas Besar TNI, Cilangkap .

Spesifikasi Teknis

Karakteristik umum

  • Crew: 2 (pilot, and co-pilot/gunner)
  • Length: 56 ft 1 in (17.1 m)
  • Rotor diameter: 46 ft 0 in (14.0 m)
  • Disc area: 1,662 ft² (154.4 m²)
  • Empty weight: 6,789 lb (3,079 kg)
  • Max takeoff weight: 11,900 lb (5,397 kg)
  • Powerplant: 2 × Pratt & Withney Canada. PT6T-3BE Twin Pac Turboshafts, 900 shp (671 kw) each
  • Fuselage length: 43 ft (13.1 m)

Performansi

  • Maximum speed: 140 knots (259 km/h)
  • Cruise speed: 122 knots (226 km/h)
  • Range: 402 nmi (745 km)
  • Service ceiling: 20,000 ft (6,096 m)
  • Rate of climb: 1,350 ft/min (6.86 m/s)
  • Power/mass: 0.2263 hp/lb (437 W/kg)

Persenjataan

  • Guns: 1× 30 × 113 mm (1.18 × 4.45 in) M230 Chain Gun with 1,200 rounds
  • Hardpoints: Four pylon stations on the stub wings.
  • Rockets: Hydra 70 70 mm, and CRV7 70 mm air-to-ground rockets
  • Missiles: Typically AGM-114 Hellfire variants; AIM-92 Stinger may also be carried.

(Iqbal1 ; Ref. Materi Pameran Alpahan dalam Rapim TNI, Cilangkap, Januari 2012 -dan di   Secapa-)