Humor : Kaum Sarungan

September 13, 2012

“Mengikuti kebiasaan kaum Muslimin itu penting!” kata Kyai Maemoen Zubair, “Contohnya: sarung. Dari asal-usulnya, itu merupakan pakaian tradisional orang Birma yang Buddha. 

“Tapi di Indonesia ini sekarang sudah jadi pakaiannya kiyai dan santri. Ya nggak usah tanya dalilnya. Masak mau pakai sarung saja nyari dalil dulu?” lanjut Kyai Maemoen.

Seorang Mahasiswa Universitas Al Azhar asal Indonesia berkeliaran di kota Thanta, Mesir, dengan tetap mempertahankan kebiasaannya memakai sarung –barangkali penghayatannya akan hal itu telah mencapai taraf “ideologis”. 

Maklum, dia itu murni makhluk pesantren yang tak pernah tersentuh pendidikan lainnya, hatta Sekolah Dasar. Ketika masuk sebuah pasar ia menjadi pusat perhatian semua orang. Mereka bisik-bisik dan ketawa-tawa. Bahkan sekumpulan anak muda meledeknya:

“Belum junub sudah keluyuran ke pasar!” teriak mereka. Santri Kendil kita merasa risih juga, tapi tak paham maksud mereka dan tak perduli.

Baginya, sarung adalah jati diri. Ia pun cuek saja saat Juma’atan seisi masjid memandanginya dengan tatapan penuh keheranan. Sampai kemudian seorang profesor dosennya menghampiri, lalu memberi nasehat,
“Kamu kalau kemana-mana mbok ya pakai celana, jangan pakai sarung,” kata profesor.

“Saya tahu, kalau di Indonesia itu adalah pakaian tholabul ‘ilmi-nya santri. Tapi kalau di sini, itu pakaian jima’!” terangnya.

Berkumpul singa mengaum, berkumpul kambing mengembik.

Tapi, mengaum ataupun mengembik perlu mawas diri juga.

***

Kang Ustad Darkum pegang mata pelajaran Fiqih di Madrasah Diniyah sore. Tapi murid-murid kelas tiga menamai pelajarannya: nonton wayang.

Kenapa?

Pintu ruang kelas itu menghadap ke Barat, menentang matahari sore. Dan Kang Darkum tak pernah mengenakan apa-apa dibalik kain sarungnya. *** (Yahya C. Staquf)


Humor : Akal-akalan Kiai Bisri Mustofa

September 7, 2012

Perbedaan pandangan yang meruncing dua pimpinan NU, antara Kiai Idham Chalid dengan Pak Subhan ZEmembuat para sesepuh prihatin. Mbah Kiai Ma’shum Lasem pun memanggil Kiai Bisri Mustofa.

“Sri, mbok Sampeyan bikin ikhtiar untuk merukunkan Idham sama Subhan!” perintahnya Mbah Ma’shum.

Kiai Bisri garuk-garuk kepala. Ia memahami keprihatinan para sesepuh. Di sisi lain, ia sendiri punya dugaan bahwa mungkin saja “perselisihan” di antara dua pemimpin itu disengaja, paling tidak diperlukan. Kenapa?

Indonesia dan NU sedang dalam masa-masa genting peralihan dari Orde Lama ke Orde Baru. Ada harapan-harapan, tapi tak ada yang bisa memastikan apa yang akan dilakukan oleh Soeharto, si penguasa baru. 

Di depan mata hanya ada pilihan-pilihan sulit. Oleh karenanya, “perselisihan” di antara kedua pemimpin itu ibarat “menyediakan sekoci di tengah badai”.

Kiai Bisri merasa, tidak mudah menjelaskan pikirannya itu kepada Mbah Ma’shum, sedangkan ia terlalu takdim kepada beliau. Maka ia berusaha mengelak:

“Panjenengan yang sepuh kan lebih berwibawa, ‘Yai.”

“Nggak bisa! Ini soal rumit. Harus pakai akal-akalan. Sampeyan kan banyak akal!” Mbah Ma’shum memaksa.

Tak berkutik, Kiai Bisri pun mematuhi perintah Mbah Ma’shum, yakni merancang akal-akalan.

Kiai Bisri lantas beli satu peti Green Spot (soft-drink yang populer waktu itu) dan satu peti sirup Kawis (sirup khas produk Rembang). 

Ia suruh santri mengantarkan Peti Green Spot kepada Pak Subhan ZE dengan pesan: “Dari Kiai Idham Chalid, mohon tanda terima”. 

Pada saat yang sama, santri lain disuruh mengantarkan limun Kawis kepada Pak Idham dengan pesan: “Dari Pak Subhan ZE, mohon tanda terima”.

Maka diperolehlah dua lembar tanda terima:

1. “Telah terima satu peti Green Spot dari KH Idham Khalid. Terimakasih sebesar-besarnya. Ttd: Subhan ZE”

2. “Telah terima satu peti limun Kawis dari Saudara Subhan ZE. Jazaakumullah. Ttd: Idham Chalid”.

Kiai Bisri menghaturkan kedua lembar tanda terima itu ke hadapan Mbah Ma’shum.

“Sudah bisa rukun, Yai”, ia melapor, “lha ini sudah saling kirim-kiriman…”

Mbah Ma’shum sumringah.  (***TerongGosong)


Insert : “Rumah Tanpa Pintu”

April 24, 2012

Abul ‘Ulaa alias Asy’ab nama aslinya Syu’aib bin Jubair, dulunya budak milik ‘Aisyah binti ‘Utsman bin ‘Affan, kemudian dimerdekakan. Ia lantas hidup bergantung pada pemberian atau bersiasat nebeng makanan orang, sampai-sampai dijadikan “ikon” ketamakan. Tamak adalah watak cenderung tergiur pada apa yang ada di tangan orang lain.

Asy’ab memang teramat miskin. Dan tidak berkurang kemiskinannya hingga beristri dan beranak. Suatu hari ia sedang berjalan-jalan dengan anaknya ketika bertemu dengan serombongan orang mengusung jenazah ke kuburan.

“Lihatlah jenazah itu, Nak!” Asy’ab ingin memanfaatkan momentum untuk mendidik anaknya, “mereka membawanya ke rumah yang tak berpintu, tanpa tempat tidur, tanpa makanan, tak ada roti maupun air”.

“Ya ampun, Abah!” anaknya berseru kaget, “jadi mereka akan membawanya ke rumah kita?”.  *** (Terong Gosong).


Anehdot : Komunikasi Alam Gaib Ali bin Abi Tholib RA

Januari 25, 2012

Said bin Musayyab menceritakan bahwa ia dan para sahabat menziarahi makam-makam di Madinah bersama Ali bin Abi Thalib RA.

Ali lalu berseru, “Wahai para penghuni kubur, semoga berkah dan rahmat dari Allah senantiasa tercurah kepada kalian. Beritahukanlah keadaan kalian kepada kami, dan kami juga akan memberitahukan keadaan kami kepada kalian.”

Lalu terdengar jawaban, “Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah dari Allah senantiasa tercurah untukmu, wahai amîrul mukminîn. Kabarkan kepada kami tentang hal-hal yang terjadi setelah kami.”

Ali berkata, “Istri-istri kalian sudah menikah lagi. Kekayaan kalian sudah dibagi-bagi. Anak-anak kalian berkumpul dalam kelompok anak-anak yatim. Bangunan-bangunan yang kalian dirikan sudah ditempati musuh-musuh kalian. Inilah kabar dari kami. Lalu bagaimana kabar kalian?”

Salah satu penghuni kubur menjawab, “Kain kafan telah koyak, rambut telah rontok, kulit mengelupas, biji mata terlepas di atas pipi, hidung mengalirkan darah dan nanah. Kami mendapatkan pahala atas kebaikan yang kami lakukan dan mendapatkan kerugian atas kewajiban yang yang kami tinggalkan. Kami bertanggung jawab atas perbuatan kami.” (Riwayat al-Baihaqi). *** 


Humor : Ketika Wanita Berbagi Cerita

Desember 7, 2011

Alkisah suatu waktu di pusat kota metropolitan. Ada seorang wanita kaya sedang menyusuri trotoar, sambil melihat-lihat barang di etalase pertokoan.

Tiba – tiba muncul seorang wanita pengemis yang lusuh dan kumal. Ia meminta – minta sekeping belas kasih dari setiap orang yang lewat di trotoar itu. Termasuk pada wanita kaya tadi.

Wanita kaya itu mengambil dompetnya, mengeluarkan uang lima ratus ribu rupiah dan bertanya, ‘Jika kamu kuberi uang ini, apakah kamu lebih memilih untuk membeli perhiasan atau membeli makanan?’.

‘Tidak, Nyonya, aku tidak pernah membeli perhiasan seumur hidup saya,’ jawab pengemis itu.

‘Apakah kamu akan menghabiskannya untuk berbelanja?’ wanita itu bertanya lagi.

‘Tidak, Nyonya, aku tidak mau membuang waktu untuk berbelanja,’ jawab pengemis itu. ‘Aku selama ini memakai seluruh waktuku untuk bertahan hidup. sekedar pengganjal perut yang keroncongan’

‘Apakah kamu akan menggunakannya untuk pergi ke salon?’ wanita itupun bertanya sekali lagi.

‘Anda salah?’ jawab pengemis itu. ‘Aku tidak pernah merapikan rambutku selama dua puluh tahun.’

Wanita itu berkata, ‘Oke. Aku tidak akan memberimu uang ini. Sebaliknya, aku akan mengajakmu makan malam di restoran dengan suamiku.’

Pengemis itu terkejut. ‘Tidakkah nanti suami Anda akan memarahi Anda?. Lihat saja, aku kotor dan mungkin berbau sangat busuk.’

Wanita itu berkata, ‘Tidak masalah. Suamiku perlu melihatmu agar dia tahu apa jadinya seorang wanita jika tidak diberi uang untuk belanja, perawatan ke salon, dan membeli perhiasan !!!’.   🙂


Analog : Syafa’at Sandal

Oktober 4, 2011

Kita semua mengharapkan syafa’at Kanjeng Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Bagaimana “mekanisme” syafa’at itu sendiri?.

Kalutnya lautan manusia di hari pemakaman Gus Dur membuat Gus Mus tak sempat mengurus sandalnya sendiri seusai menyalati janazah di masjid. Bersama keluarga Gus Dur, Gus Mus harus langsung menyertai janazah masuk ke area upacara pemakaman, sementara sandalnya tercecer berikut menantunya yang memungut tanggung jawab atas sandal itu.

Menjelang upacara pemakaman dimulai, Rizal, si menantu, kemecer untuk mengikutinya.

“Tapi pasti sudah nggak boleh masuk ni…”, keluhnya.

“Lha kamu kan bawa sandalnya Gus Mus!” Kiyai Mu’adz Thohir mengingatkan.

“Terus?”

“Tunjukkan saja sama yang jaga pintu”.

Rizal mengikuti saran Kyai Mu’adz, dan penjaga pun membiarkannya masuk.

Itulah syafa’atnya sandal.

Sholluu ‘alan Nabiy..!

{Yahya C Staquf}.


Humor Nahwu

September 24, 2011

ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة

وجادلهم بالتي هي احسن

Ma’nahu Wallohu ‘Alam : “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An Nahl : 125).

—–

Disitu ada Fi’il Muta’addi (Ud’u) ; tapi tak disebutkan “Maf’ul bih-nya”. Kenapa ?.

Karena sudah karuan jelas, yang diajak adalah yang belum berada di jalan Allah. Seperti halnya kernet ngajak naik bis, yang diajak yang belum naik.

Ketika ngajak, kernet sudah naik duluan. Dan kernet biasanya tidak memaksa. Yang suka maksa-maksa itu calo.

Calo tidak ikut naik bis.  🙂